hari-hari mencuri wajahmu esok kita hanya mendengar suara tawa seorang nakhoda pemabuk dari neraka paling celaka dia bawa beribu cerita perihal menemukan seluruh harta karun yang kita cari tapi tak seorang pun akan percaya lagi setelah di museum kehilangan: terpajang cermin, terpasung wajahmu dan kesunyian berabad-abad lamanya.
• Judul : Museum Kehilangan • Penulis : Wawan Kurniawan • Penyunting : Siska Yuanita • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama • Terbit : 13 Juli 2020 • Harga : Rp 45.000,- • Tebal : 88 halaman • Ukuran : 13.5 × 20 cm • Cover : Soft cover • ISBN : 9786020643311
Tepat tanggal 7 September kemarin sudah 17 tahun lamanya kasus pembunuhan Munir masih belum menemukan titik terang. Munir merupakan seorang aktivis hak asasi manusia yang diracun dengan senyawa arsenik di atas pesawat saat dalam perjalanan ke Belanda. Munir diduga memiliki data-data penting yang berhubungan dengan kasus-kasus HAM yang mungkin bisa "membahayakan" beberapa orang penting di Indonesia. Sehingga, Munir dijadikan sasaran pembunuhan untuk menghilangkan bukti. Saya sendiri tahu akan kasus ini, tapi tidak begitu paham akan seluk-beluk di dalamnya. Namun, buku puisi berjudul Museum Kehilangan berhasil memicu rasa penasaran saya akan kasus ini dengan cara yang mengejutkan. Museum Kehilangan mengingatkan kembali akan ketidakadilan dan ketidakjelasan tentang kasus pembunuhan Munir yang terkatung-katung hingga 17 tahun lamanya. Wawan Kurniawan dengan lihai mampu memperlihatkan keresahan, duka, dan kemarahan akan apa yang menimpa Munir lewat bait-bait puisi yang mengundang tanya: "𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘴𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘔𝘶𝘯𝘪𝘳?"
Museum Kehilangan berisi 65 puisi, yang kebanyakan membahas tentang kasus pembunuhan Munir. Bagi saya, Wawan sangat berani dan cerdas dalam membagikan keresahan dan kritiknya akan kasus pembunuhan Munir yang hingga saat ini masih belum jelas ujungnya. Museum Kehilangan berhasil menampilkan isu politik tentang kasus pembunuhan Munir dengan lugas dan menarik. Setiap puisi seakan mampu membawa memori lama yang tidak akan pernah hilang sampai keadilan ditegakkan. Meskipun ada inisial-inisal yang dimasukkan di judul dan bait puisinya, tapi sudah bisa dipastikan ini berhubungan dengan kasus pembunuhan Munir. Bahkan nama istri dan anak Munir turut disertakan dalam dua judul puisi. Dari 65 puisi yang ditulis, ada lima puisi yang saya suka, yaitu; Pada Akhirnya Kita Menjelma Racun, Sebuah Rencana, Racun, Menghitung Kehilangan, dan Diva Suukyi Larasati. Kelima puisi tersebut ditulis dengan jelas, blak-blakan, dan berani tentang ketidakadilan yang menyertai kasus pembunuhan Munir. Salah satu puisi berjudul Diva Suukyi Larasati bahkan dapat mewakili pertanyaan masyarakat selama ini: mengapa abah dibunuh?
Meskipun hampir sebagian besar puisi dalam Museum Kehilangan tidak bisa saya mengerti dan pahami, tapi saya sukses dibuat tertarik untuk lebih mengetahui tentang kasus pembunuhan Munir. Kritik yang disampaikan dalam bentuk karya sastra seperti ini, memang harus diapresiasi. Bagaimana lewat sebuah karya sastra, kita diajak untuk mengenang kembali sebuah tragedi yang harus diperjuangkan. Banyak judul dan diksi yang dengan tegas menunjukkan bagaimana tragedi ini terjadi. Isu-isu politiknya dibuat samar, tapi tidak sulit untuk diterka. Jangan tergesa-gesa selama mencoba meresapi Museum Kehilangan. Baca secara perlahan, atau bahkan coba cari informasi tentang kasus ini, agar semakin paham dengan makna dan maksud dari setiap bait puisinya. Memang Museum Kehilangan termasuk jenis puisi yang berat dan tidak semua orang bisa menikmatinya. Namun, tidak ada salahnya untuk mencoba memahami sebuah tragedi bangsa melalui karya sastra yang dibuat menarik dan artistik. Usahakan kalian dalam kondisi yang prima serta tidak lelah saat membacanya, karena dibutuhkan fokus dan konsentrasi untuk bisa menikmati buku ini.
Aku cinta sekali dengan diksinya! Sempurna! Di dalamnya, tak melulu soal cinta. Bahkan ada perang, pesawat, telepon genggam, kamar, bahkan lainnya.
Ini salah satu puisi yang kusuka, judulnya Kekosongan
"dan puisi ini kutulis demi menyatakan bahwa segala hal tak mampu kukatakan sebagai makna:
dari ketiadaan dan sepilihan masa membangun diri serta bait-bait singkat tentang pernyataan.
aku ingin segera menembus segala— yang tak pernah tulus ditebus kenyataan."
Puisi lainnya yang kusukai di antaranya Suasana Ganjil Sepeninggal Penerbangan, Percakapan Orang-Orang Hilang, Mereka Bertanya Tentang Takdirmu, Kronologi Sebuah Puisi, Kapan, Warisan, Rambu-Rambu Perpisahan, dan yang terakhir ada Menemukan Dokumen Tim Pencari Fakta.
Ini kali pertama baca buku puisi karya Wawan. Tadinya mikir kalo ini tentang kehilangan orang biasa, tapi ternyata bukan, ini adalah beberapa pertanyaan tentang kehilangan aktivis pada masa itu. Munir disebut di awal memang, lalu ditutup dengan puisi berjudul nama anaknya Munir.
Saya mengerti bahwa puisi-puisi di sini tentang negara, hukum, pertanyaan tentang orang hilang, yang mati tanpa tahu siapa pembunuhnya, ada soal aksi kamisan juga. Buku ini menuliskan hal yang berat dan menjadi tak mudah untuk dinikmati.
Menikmati puisi itu tidak bisa tergesa-gesa, begitulah pandanganku. Akhir tahun kemarin, aku menyelami Fragmen karya Goenawan Mohamad, kali ini buku ini menjadi yang pertama di genre sastra/puisi terbaca tahun ini, menemani proses penyembuhanku. Sekaligus menjadi selingan dalam membaca sebuah novel.
Judul buku ini bukan sebuah hal yang melingkupi keseluruhan antologi puisi. Judul buku diambil dari salah satu judul puisi yang ada di dalam buku ini, Museum Kehilangan. Aku hanya menerka bahwa puisi-puisi tercipta sebagai sebuah museum untuk mengabadikan setiap peristiwa menjadi sebuah kata-kata yang tersusun sebagai puisi. Secara tidak langsung memang dapat diartikan judul ini menyiratkan seluruh puisi yang ada, tanpa makna kehilangan.
Terdapat 65 puisi karya Wawan Kurniawan. Gaya bahasa yang digunakan cukup mudah dipahami, tidak sebagai puisi yang ndakik-ndakik atau terlalu memainkan aliran kefilsafatan. Mungkin terkategori sebagai puisi pop, mungkin. Menurutku begitu.
Beberapa kali event promo Gramedia, buku ini didiskon cukup besar. Meski menurutku terlalu besar diskonnya, kita dapat menikmati karya yang terbilang berkecukupan dengan harga yang murah. Puisi ini tidak murahan tapi. Yuk, tunggu apa lagi slur.
Oh, dan ketika kusadar, puisi-puisi ini sungguh tentang M. Kucoba melepas konteks M pada banyak bait, tetapi sepertinya memang tak bisa. Beberapa usahaku mencuplik bagiannya, menikmatinya berkali-kali. Untuk mengambil sisi lain selain konteks M yang sengaja dan sadar selalu menjadi makna dalam setiap puisi milik penulis.
Cuplikannya aku tunjukkan pada slide-slide microblog ini.
🎍Kupikir, penulis benar-benar tegas pada perasaannya tentang M dalam puisi ini. Mungkin karena sudah belasan tahun, kasus itu tak juga mendapat titik terang. Tahun lalu, 7 september, genap 17 tahun kasus itu dibiarkan. Tahun ini, kasus itu serupa anak remaja beranjak dewasa, 18 tahun!
🤷♀️Meski di beberapa puisi, dari 65 puisi yang ada, aku tak terlalu mengerti maknanya, tetapi aku bisa sedikit menikmatinya diantara konteks gelap, bahasa berat, dan sejarah kelamnya. Mungkin, judul 'Museum Kehilangan' memang diambil dari judul salah satu puisi di dalamnya, tetapi kata Museum memang tepat untuk menggambarkan buku ini. Yang berisi kumpulan-kumpulan peristiwa masa lalu yang harus tetap dikunjungi, diingat-ingat, dan ... tentu saja diselesaikan.
🥀Judul terakhir dalam buku ini, benar-benar membuatku merasa ... hampa(?) Atau kosong (?). Entahlah. Tetapi puisi yang judulnya sama dengan nama anak almarhum, yang isinya hanya sebuah pertanyaan, membuatnya justru sarat akan sebuah kepedihan akan kehilangan. Kehilangan yang menyisakan tumpukan pertanyaan.
Buku ini berisi kumpulan sajak, yang saling bercerita tentang kematian — yang bagiku, bukan hanya sekedar kematian — dan bisa dirasakan sesaknya.
Soultan Alief Allende, di bagian ini, awal mula sebuah teka-teki terkait bagaimana cerita ini bermula akan dituliskan secara tersirat.
Percakapan Orang-Orang Hilang, bagian yang berisikan sedikit percakapan yang amat menggambarkan harapan yang begitu gamang, namun kuat.
Ini Bukan Sajak Penghabisan, mari temui kembali sebuah harapan untuk menguak sebuah misteri yang ada pada museum kehilangan.
Diva Suukyi Larasati, nama yang indah — bagian yang akan menutup segala museum yang kau beri nama 'Museum Kehilangan'.
Harapan yang lantang diucapkan : "beritahu aku sebuah doa perjalanan untuk selamat!"
Ulasan pribadi : Sajak-sajak yang penulis sertakan di dalam buku ini sangat hidup, mereka hidup untuk saling menjadi bagian cerita yang utuh untuk sama lain. Selagi baca bukunya, aku merasakan banget kehilangan yang dituangkan di sini. Sesak sekali, tapi lebih ke kosong, yang entah bagaimana sulit untuk dijelaskan secara jelas. Intinya, bagi kamu yang suka membaca sajak, buku ini jadi salah satu buku yang layak untuk dibaca.
Alternatif judul buku ini bisa menggunakan “Racun” atau “Jendela”, karena dua kata ini muncul terus minimal setiap 2 atau 4 halaman :))
Kasih 3 star karena meskipun kumpulan Puisi, tetap expect ada story line yang membantu kita untuk menikmati tulisannya. Bahkan untuk topik sekeren ini, sayang sekali ga ada pendahuluan/preambule/pengantar dan sejenisnya, yang menjelaskan kenapa topik ini dipilih, bisa jadi bahan edukasi juga untuk pembaca muda yang mungkin ga “relate” :))
Tapi, saya juga ada part favorite. Kategori pertama untuk judul paling fenomenal “Mencari Buku Merah”. Kalau bahasa gaulnya sekarang, ytta ygy, yang tau tau aja ya ges ya haha. Walaupun rasanya, isinya ga sefonemenal judulnya yah.
Part terfavorit yang kedua, ada di judul “Suasana Ganjil Sepeninggal Penerbangan” :
“segala yang bertualang segeralah tiba pada terang!”
Di part ini bikin terdiam dan khidmat banget rasanya. Cuma bisa berdoa yang baik-baik, semoga terang juga pulang kita 😊
Penulis mengekslorasi sosok munir lewat orang-orang yg ditinggalkannya. Bagiku, Wawan adalah sosok penulis yg sangat berani sekaligus cerdas dalam membagikan keresahan dan kritiknya terhadap kematian Munir dan hukum yg tak pernah menemukan titik terang.
Jika kau ingin menyelami puisi ini, coba bacalah perlahan dan resapi jg setiap kalimatnya.
Memilih buku puisi untuk selingan, ternyata tidak selalu berhasil meskipun dari judulnya yang sangat menggoda untuk dibaca. Seperti kali ini, aku tidak mendapatkan 'feel' ataupun pemaknaan yang pas meskipun sudah dibaca pelan-pelan dan berulang. Mungkin karena momen dan kondisi hati dan perasaan yang sedang tidak tepat. Ditambah lagi, puisi yang ditulis bukan tipikal puisi yang aku suka.