Alwin Eljas Hakkinen, berdarah setengah Finlandia, pendiri salah satu gaming company terbaik di dunia, kehilangan kepercayaan terhadap cinta setelah kekasihnya menikah dengan kembarannya. Tidak hanya itu, Alwin harus menyaksikan keduanya menjadi pasangan sehidup semati. Kepergian mereka membuat Alwin harus berurusan dengan Edna Atalia. Atas desakan sang ibu, Alwin menikah dengan Edna. Namun, Alwin lebih dulu memastikan pernikahannya dengan Edna hanya didasari perjanjian yang saling menguntungkan.
Setelah kehilangan kedua orangtua dan saudara kandungnya, Edna semakin paham bahwa keluarga adalah segalanya. Apa pun akan dia lakukan demi terus bisa menjadi ibu bagi Mara—keponakannya—dan mengembangkan bakery peninggalan kakaknya. Termasuk menikah dengan laki-laki berhati batu seperti Alwin.
Dalam permainan cinta ini, Edna tidak tahu apakah ada cara untuk melindungi perasaannya. Mungkinkah Edna bisa hidup serumah dengan laki-laki luar biasa tanpa menaruh hati kepadanya? Bisakah seorang wanita menjalankan peran sebagai istri tanpa jatuh cinta kepada suaminya?
Ika Vihara merupakan lulusan Fakultas Teknologi Elektro dan Komputer Cerdas, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, yang terus berusaha menaikkan romance genre satu level lebih tinggi. Dalam buku-bukunya, Ika Vihara menggabungkan romansa yang manis, romantis, dan realistis; dengan STEM—Science, Technology, Engineering, and Mathematics yang logis dan kesehatan mental.
Pada tahun 2021, novel karya Ika Vihara yang berjudul Sepasang Sepatu Untuk Ava memenangkan kompetisi The Watty’s Award kategori Romance. Dua cerita pendek terbaiknya, Sebaik-baik Pelajaran dan Sebaik-baik Manusia, masing-masing menjadi juara pertama pada Lomba Teman Tulis 2021 dan 2022. Karya-karya Ika Vihara yang telah terbit di antaranya My Bittersweet Marriage, When Love Is Not Enough, The Game of Love, A Wedding Come True, The Perfect Match, The Promise of Forever dan Right Time To Fall In Love.
Selamanya Ika Vihara akan selalu percaya bahawa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua dan akhir yang bahagia. Ingin kenal lebih jauh mengenai Ika Vihara? Atau mendiskusikan apa saja dengannya? Kunjungi, ikuti, baca, dan tinggalkan komentar atau pesan di blog www.ikavihara.com dan Instagram/Facebook/Twitter/Tiktok ikavihara. Koleksi bab ekstra novel-novel Ika Vihara bisa dibaca di karyakarsa.com/ikavihara.
Edna kehilangan kakaknya, Elma yang meninggal karena kecelakaan bersama suaminya, Rafka. Mereka berdua meninggalkan seorang anak bernama Mara, yang kemudian diasuh oleh Edna. Supaya bisa terus mengasuh Mara, Edna harus menikah dengan Alwin, kembaran Rafka. Masalahnya Alwin masih mencintai Elma, dan belum bisa memaafkan Rafka yang merebut kekasihnya. Alwin kemudian memilih "menyingkir" ke luar negeri, dimana dia menjadi seorang developer game yang sukses.
Long story short, Edna dan Alwin menikah. Edna ingin memanfaatkan sebaik-baiknya waktu pernikahannya. Termasuk memenangkan hati Alwin. Karena sebenarnya Edna sudah menyukai Alwin sebelum Alwin pacaran dengan Elma. Tapi Alwin tidak ingin ada cinta dalam pernikahannya. Dia akan bertanggungjawab atas Edna dan Mara, menjadi suami dan papa yang baik. Lagipula siapa yang tidak tertarik dengan wanita secantik Edna.
Ok itu inti ceritanya. Tapi yang bikin saya nyaris DNF, karena Edna yang panas dingin. Kadang manja banget ke Alwin, kadang jutek, kadang sinis, pokoknya sesuka2nya dialah. Trus bolak - balik diceritakan betapa Edna ini tinggal sebatang kara di dunia. Soal bakery milik Elma yang ditinggalkan ke Edna. Giliran dia bertengkar dengan Alwin, dia pake Mara sebagai tamengnya. Pake curhat ke Mara juga. Anak kecil mana ngerti sih.
Alwin sendiri mungkin karena kelamaan di luar negeri, jadi ya dia bisa saja pakai prinsip "aku bisa ngasih seluruh hidupku, tapi nggak hatiku". Prinsip yang nggak bisa dipahami Edna.
Untungnya saya masih penasaran sama endingnya, jd berusaha bertahan sampai habis.
The Game of Love merupakan novel kesekian Mba Ika Vihara yang kubaca. Sejak berkenalan dengan tulisan Mba Ika lewat My Bittersweet Marriage, aku sudah jatuh cinta dengan tulisannya ...
Semua tulisan Mba Indah mengangkat kisah romansa, tapi selalu ada cerita berbeda untuk setiap tokoh yang dibuat. Tokoh-tokoh yang selalu mudah untuk diingat karena terlalu berkesan untuk dilupakan.
Seperti kisah Edna dan Alwin. Bagaimana 2 orang yang terjebak dalam sebuah pernikahan tanpa cinta, karena alasan yang berbeda. Bagaimana mereka berusaha mempertahankan pernikahan mereka dengan cara masing-masing.
Salut banget dengan Edna yang luar biasa. Sosok wanita yang tangguh. Yang mau mengemban tanggungjawab begitu besar untuk menjadi Ibu dari Mara. Padahal Mara bukanlah anak kandungnya. Kasih sayangnya terpancar dari interaksinya dengan Mara ...
Mara, si malaikat kecil yang benar-benar memukauku dengan kehadirannya. Entah kenapa aku selalu suka dengan tokoh anak-anak, mungkin karena karakter mereka yang polos dan mudah untuk dicintai.
Sedangkan untuk Alwin, bingung mengatakannya. Kadang gregetan dan jengkel dengan sikapnya, tapi kadang dibuat meleleh dengan semua kata-katanya ...
Secara keseluruhan, aku suka dengan kisah Edna dan Alwin
Ketika pertama kali melihat sampul buku terbaru dari Ika Vihara, saya langsung dibuat terpikat. Bagaimana perpaduan warna, gambar, judul, dan nama penulis berhasil dikombinasikan dengan baik. Gambar kaki sepasang sejoli dengan dua ekor anak anjing menciptakan nuansa romantis dan hangat. Apalagi efek salju yang tampak semakin menguatkan unsur romance di dalam sampulnya. Sebuah sampul yang memicu pembaca untuk membeli buku ini. Untuk ke dua kalinya saya menikmati cerita yang ditulis oleh Ika Vihara. Kisah pernikahan yang diangkat selalu memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Dibalut dengan elemen negara Skandinavia---meskipun kali ini hanya sedikit---dan profesi engineer semakin menguatkan cita rasa cerita seorang Ika Vihara. Saya suka dengan kedua elemen ini karena seperti pembeda dalam tulisan Ika Vihara dengan penulis-penulis novel romance lainnya. Namun, sayangnya sampul buku dan isi ceritanya tidak terlalu sinkron.
Kali ini penulis menyuguhkan tema cerita pernikahan yang dibalut unsur "perjanjian" layaknya kawin kontrak. Meskipun cerita seperti ini bukanlah hal baru, tapi penulis cukup berhasil menulis kisah Edna, Alwin, dan Mara ini dengan baik. Bagaimana Edna yang sudah membesarkan Mara harus rela dinikahkan dengan Alwin agar hak asuh Mara bisa dipertahankan. Di balik pernikahan ini Alwin juga memiliki niat dan keperluan tersendiri. Edna dan Alwin pun sepakat untuk menikah dengan beberapa persyaratan dan perjanjian yang mereka sepakati. Saya suka dengan tokoh Mara sebagai penyambung hubungan antara Edna dan Alwin. Di mana kepolosannya berhasil menghipnotis saya untuk terus membaca agar mengetahui kelanjutan hubungan Edna dan Alwin. Ceritanya tergolong lebih ringan dan sederhana jika dibandingkan dengan My Bittersweet Mariage. Di sini kita tidak hanya akan melihat gejolak hubungan antara Edna dan Alwin yang dibayang-bayangi oleh masa lalunya, tapi juga bagaimana cara mereka dalam menghadapinya.
Ada dua tokoh utama yang menjadi fokus cerita novel ini, yaitu Edna dan Alwin. Tokoh Edna merupakan seorang gadis muda yang harus menerima nasib menjadi sebatang kara. Untungnya ada Mara, anak kakaknya, yang menjadi penyemangat dalam hidup Edna. Edna ini merupakan sosok gadis muda yang mandiri, pekerja keras, dan penyayang. Seluruh karakternya terbentuk akibat nasib yang menuntunnya untuk membesarkan Mara sebagai anaknya sendiri. Kemudian ada tokoh Alwin yang diceritakan sebagai kembaran dari Rafka, kakak ipar Edna. Alwin bekerja sebagai pembuat game online yang sukses dan kaya raya. Alwin juga sempat memiliki masa lalu yang buruk dengan Elma, kakak Edna. Alwin memiliki sifat yang tertutup, pekerja keras, dan bertanggung jawab. Hubungan asmaranya yang kandas dengan Elma cukup banyak memengaruhi kepribadian Alwin. Selain kedua tokoh tersebut ada satu tokoh yang berhasil mencuri perhatian saya, yaitu Mara. Mara merupakan anak Elma dan Rafka yang harus diurus oleh Edna. Mara ini merupakan balita yang menggemaskan dengan semua tingkah laku polosnya. Saya rasa penulis berhasil menjadikan Mara sebagai magnet yang bisa menarik simpati pembaca pada hubungan kedua tokoh utamanya. Walaupun latar belakang kedua tokohnya cukup banyak diceritakan, tapi entah kenapa saya masih merasakan kurangnya karakter yang muncul pada tokoh Edna dan Alwin. Saya rasa mungkin penulis bisa lebih menggali karakter mereka lebih dalam lagi.
Sudut pandang orang ketiga dipilih penulis sebagai narasi untuk kedua tokoh utamanya, Edna dan Alwin. Penyampaian sudut pandang ini cukup efektif dalam menggambarkan perasaan Alwin dan Edna akan hubungan mereka. Latar tempat yang digunakan kebanyakan terjadi di rumah, toko kue, dan rumah sakit. Sayang sekali tadinya saya kira akan ada latar di negara Finlandia, tapi sepertinya Finlandia hanya diijadikan pemanis saja dalam cerita kali ini. Alur ceritanya berjalan sedikit lambat karena memang penulis sepertinya ingin memperlihatkan chemistry yang terbangun antara Edna dan Alwin. Chemistry antara Edna dan Alwin cukup terasa dan tidak memaksa. Gaya bahasa yang dipakai penulis masih sama seperti novel My Bittersweet Mariage. Di mana gaya bahasa yang ringan dan sederhana dikombinasikan dengan beberapa kalimat berbahasa Inggris. Terakhir yang saya suka dari tulisan Ika Vihara adalah gaya berceritanya yang sangat mengalir dan nyaman untuk diikuti. Sehingga meskipun terdengar klise di beberapa bagian, tapi saya tetap bisa menikmatinya.
Konflik yang paling menonjol dalam novel ini adalah bagaimana Edna yang harus menikahi Alwin melanggar perjanjian pernikahan mereka. Edna ternyata jatuh cinta terhadap Alwin sedangkan Alwin sebaliknya. Dia masih merasa jika pernikahan ini berupa "perjanjian" tanpa cinta. Di sinilah konflik mulai muncul, bagaimana Edna yang berusaha mempertahankan hak asuh Mara harus bertahan dengan sikap Alwin yang baik dan romantis, namun tanpa cinta. Menurut saya konfliknya masih realistis dan tidak berlebihan. Pernikahan tanpa cinta yang menjadi sumber konflik tergambarkan dengan cukup baik. Alasan Alwin yang masih takut dan trauma dengan masa lalunya, ditambah Edna yang mulai memakai hatinya dalam "perjanjian" pernikahan ini. Semuanya dikemas dengan gaya dan cara yang berhasil membuat saya tersedot dalam konflik yang terjadi.
The Game of Love adalah sebuah kisah pernikahan dengan tema yang sudah usang, namun dikemas dengan gaya yang segar ala Ika Vihara. Saya setuju dengan pendapat penulis yang menyatakan jika dalam hidup ini masalah memang sering hilang dan timbul. Naik turunnya kehidupan terlihat dalam kehidupan Edna yang harus ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya. Namun, dibalik semua masalah yang dihadapinya terdapat anugerah lewat sosok Mara. Mara ini menjadi daya tarik yang dapat memikat pembaca untuk ikut bersimpati pada tokoh Edna dan Alwin. Interaksi antara Edna, Alwin, dan Mara menjadi bagian yang paling saya sukai. Bagaimana tanggung jawab menjadi orangtua bukanlah hal yang mudah. Kekurangan dalam novel ini mungkin terletak pada karakter Edna dan Alwin yang masih kurang keluar dan menonjol. Walaupun saya bisa melihat usaha mereka dalam menghadapi masalah yang membentuk karakter mereka, tapi masih ada potensi untuk lebih mengeluarkan karakter mereka. Secara keseluruhan The Game of Love menunjukkan kisah pernikahan yang bahagia terkadang datang di saat masalah menerjang.
Keingat unggahan salah satu penulis yang bilang kalau reviu pembaca bisa jadi memengaruhi minat orang yang belum baca buku terkait. Ya kalau reviunya bagus sih, nggak masalah. Tapi, kalau kurang, kayaknya takut juga bakal berpengaruh (itu pun kalau ada yang menjadikan reviu-reviuku sebagai patokan).
Intinya, aku nggak mau reviu panjang lebar alasan kenapa kasih rating segitu, takut nimbulin penyakit hati juga. Emang bukunya bukan seleraku aja. Yang suka romansa dengan vibe ala-ala HQ, bisa dicoba baca ini.
55-2019 Iseng nyomot ini tadi pagi di gramed Digital karena bingung mau baca apa. Kovernya cantik, imut dan lucu. Membaca Finlandia, kujadi bayangin seting di negara itu. Namun, rupanya tak ada main salju-salju cem yg kupikirkan 😁 Awal membaca, kubiasa saja. Namun makin ke dalam, kumerasa semacam memasuki labirin yang semakin lama semakin membuatku tersesat tak mengerti. Aku agak kesal dan bingung dengan tokohnya. Maafkan aku tidak bisa memahami mereka dengan baik. Sukses untuk penulisnya. 🌱🌱🌱
This entire review has been hidden because of spoilers.
"Jalan hidup yang benar di mata masyarakat, ketika kita sudah berada pada usia yang cukup, ... , baik secara terang-terangan maupun tidak, menginginkan kita menikah. We will be gently reminded about marriage. And just about time we will get sick and tires of that societal pressure." (hlm. 27)
Aku suka: 💕Cover buku yang unyu lucu. Covernya tuh gemesin dengan gambar kaki dua orang yang saling berhadapan. Seperti menggambarkan Edna dan Alwin yang selalu hampir berdebat tiap ketemu.
💕Bukunya nggak terlalu tebal tapi banyak banget mengandung nilai-nilai pemahaman untuk pembaca sepertiku. Dari mulai ucapan Note From The Author aja hatiku udah dibuat terharu dengan inspirasi Kak Ika Vihara menulis buku ini. Stereotip masyarakat juga cukup banyak diangkat di novel ini.
💕Konflik yang diangkat nyaris umum. Tapi cara Kak Ika mengeksekusi kisah Edna, Alwin, dan Mara ini beda. Bagaimana pertemuan dan kedekatan Edna dan Alwin dibuat natural dengan tujuan yang jelas. Perjanjian pranikah mereka juga bukan perjanjian yang umum.
💕Tokoh-tokoh dibuku ini loveable banget. Nggak sulit untuk jatuh cinta dengan Mara, seperti yang dibilang Alwin. Tapi juga sedikit susah untuk membenci Alwin. Walau sedikit pemaksa, tapi tingkat pemaksa Alwin tuh bukan dalam level toxic gitu lhoo. Karakterisasi tokohnya juga kuat dan berkembang seiring berjalannya cerita. Semua tokoh pendukung juga mengambil bagian yang pas.
💕Penggunaan alur maju juga bikin buku ini terasa segar dan makin seru. Setiap baca satu bab, aku dibikin nggak sabar untuk baca bab selanjutnya.
"Anak-anak mengajari orang dewasa banyak hal. Salah satunya, tidak apa-apa menangis sebentar ketika terjatuh, tapi setelah itu langsung bangkit untuk berlari lagi. Rasa sakit yang dirasakan tidak ada apa-apanya dibanding dengan kesenangan yang didapat. If only we were as fearless when it comes to things as an adult now." (hlm. 49)
Sebenernya sih apa yang aku harapkan ada di sebuah novel sejauh ini sudah ada tersedia disini. Dimana dari mulai hal-hal kecil seperti menemani anak main sampai hal-hal besar yang menyangkut pernikahan. Hanya saja aku merasa untuk ukuran novel yang banyak mengangkat topik sensitif seperti strata sosial kehidupan Edna dan Alwin, stereotip masyarakat tentang pernikahan, sampai perjodohan, novel ini terlalu tipis. Dan aku merasa menuju ending terlalu terburu-buru. Apalagi dibagian Alwin ngaku cinta, aku kayak kehilangan feel gitu😭
Aku juga sebenernya berharap ada satu kota di luar negeri yang bakal menjadi setting novel ini seperti di dua novel Kak Ika sebelumnya. Sayangnya novel ini hanya terfokus di setting Indonesia saja.
"Tidak ada pernikahan yang sempurna. Akan ada hari-hari tidak indah, .... Tapi inti dari pernikahan adalah ketika salah satu ingin menyerah, yang lain memaksanya berdiri dan berjalan bersama lagi. Jangan sampai, ketika salah satu tidak mau berjuang, yang lain membiarkan." (hlm. 109-110)
Satu hal yang awalnya bikin aku tertarik dengan novel ini karena novel ini termasuk ke dalam lini seri Le Marriage. Dan seperti dua novel Le Mariage Kak Ika sebelumnua, aku tetap di buat terpesona dan jatuh cinta terhadap karyanya. Tokoh-tokoh yang dihadirkan Kak Ika meskipun terlalu mengharapkan cinta, tapi mereka juga punya sesuatu yang pantas dibanggakan. Seperti Edna yang mengharapkan pengakuan cinta dari Alwin, walaupun terkesan lemah tapi sikap Edna yang keibuan dan mandiri bikin dia nggak lemah sama sekali.
Walaupun Kak Ika mengangkat tema pernikahan, tapi ini bukan buku pernikahan menye-menye dimana tokohnya nggak worth it buat mendapatkan cinta, malah ini jadi sebaliknya❤
"Marriage is not a game you can just play until you are tired or bored." (hlm. 138)
Aku pikir aku sukaa banget sama novel ini terlepas dari beberapa kekurangan yang masih bisa aku maklumi. Aku udah baca dua karya Kak Ika yang bertema sama dengan yang ini, dan menurutku novel ini yang nyaris penuh dengan "bunga-bunga bermekaran". Menurutku, walau dieksekusi dengan beda, konflik dibuku ini tergolong ringan dan nggak menguras air mata banget. Bisa dinikmati hanya sekali duduk kalau fokus (aku bacanya disambi, jadi dua hari baru kelar🤭).
Chemistry dan interaksi antar tokoh juga pas dan nggak terlalu berlebihan. Aku suka banget gimana Edna, Alwin, dan Mara tiap berinteraksi. Gemesin abiisss.... Dan aku tuh paling inget bagian Mara nyanyi "The Wheel On The Bus" bareng Alwin, aku ngakak dong, wkwkwkw... Trus karena ponakanku dengerin itu juga jadi aku kebayang selalu Mara nyanyi🤭
Baca kisah antara Edna, Alwin, dan Mara ini mengajarkan aku banyak hal. Salah satunya bagaimana cara berkompromi dengan takdir, kepergian, dan kehilangan. Edna mengajarkanku bahwa menjadi ibu nggak sesederhana kelihatannya. Banyak perjuangan yang harus dilakukan. Dan aku semakin bangga banget menjadi satu kaum dengan Edna ini❤.
"Hidup memang tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan dan menemukan kebahagiaan di dalamnya." (hlm. 213)
Jadi sebenernya buku ini tuh gimana ya? Wkwkwk. Kalau dari buku sebelumnya (yang ternyta itu cerita Alesha adiknya Alwin. Pantesan aku ngerasa familiar sama Alesha) aku lebih menikmari buku ini sih. Karena buku ini bikin aku geleng-geleng tidak habis pikir, wkwkwk.
Apa ya? Yah sebenernya aku bisa dibilang cepet baca ini karena enggak tahu juga. Tapi aku nggak tahu apa yang kusuka dari buku ini. Mungkin pertengahan pas waktu hubungan mereka baik-baik aja aku menikmati baca bukunya? Entahlahya. Aku juga enggak yakin. Tapi menurutku nih ya:
1. Buku ini terlalu banyak agenda. Menurutku, banyak yang mau penulis sampaikan di buku ini. Tentang keluarga, tentang cinta, tentang kesetian dan komitmen, tentang memaafkan, tentang ikhlas. Banyaklah pokoknya daaaan narasinya itu menggurui sekali. Kayak, pernah nggak baca sesuatu terus kamu ngerasa buku itu terlalu sok tahu? Nah mungkin itu yang aku rasain waktu baca buku inu. Well, yaaah, bukan hal yang aneh sih karena dari duku aku emang nggak suka story telling dari penulisnya, so "It's me" problem.
2. Karakter yang tidak jelas. Mari kita bahs dulu Edna. Edna ini diawal digambarkan sebagai cewek yang kuat tapi vulnerable tapi smart. Tapiii tiba-tiba dia jadi cewek clingy yang post hal2 pribadi di media sosial??? Dia juga jadi needy banget. Okelah kalau misal itu mau dibuat layer karakternya, tapi menurutku rada nggak nyambung. Kemana Edna yang katanya classy itu? Kok malah jadi kekanakan tidak jelas? Dan dia mau nyerahin anaknya, yang dia lahirkan sendiri, ke ibu mertua dan calon mantan suaminya???? Plis deh, bener kata Alwin, Adna ini diluar nalar. Terus ada Alwin. Dia ini juga mauny apa deh? Di awal dia digambarkan dengan cowok dingin, tapi ke sini kok jadi cringe dia ini? Terus tiba-tiba dia berubah jadi si mulut jahat, terus tiba-tiba lagi nggak mau kehilangan, terus tiba-tiba lagi jatuh cinta????? Kenapa segalanga tiba-tiba?
3. Manipulatif. Ibunya manipulatif parah. Ibu mana yang jual cucunya supaya anaknya nikah sama cewek yang jagain cucunya? Ibu macam apa sih dia yang menyerahkan cucunya buat dijaga sama bibinga tapi tiba-tiba mau diambil balik??? Terus ini nelas banget nih ibunya emang pembohong dengan nawarin Alwin sesuatu yang jelas-jelas ibunya nggak ada niat buat itu? Terus ibunya nyuruh Alwin bilang cinta walaupub itu bohong? Dih mit amit. Oh, terus tiba-tiba dia nyesel? Ini ibu emang pilih kasih sih, karena semua harus tentang dia dan anak cowknya si Rafka yang sama aja manipulatifnya.
Kalau dipikir-pikir, ini yag jadi korban Alwin sih. Apes punga kakak yg jadi bayang2 dia terus dan rebut semu perhatian, apes punya ibu yang manipulatif, dan apes juga istrinya maksa2 dia bilng cinta. Yaah, karena kalau gk bilang gitu nanti istrinya pergi dan ninggalin anaknya ke dia semua. Like?????
Yaah, intinya buku ini bukan buatku aja sih. As simple as that.
Kisah Alwin dan Edna yang menikah karena perjodohan dan terpaksa ini emang bikin gregetan. Terlebih, Alwin yang gagal move on dari kakaknya Edna emang bikin sebel sih ya. Tapi ya itu dia, Alwin pun gak bisa disalahkan juga.
Menikah nggak ada dalam rencana hidup Alwin, ya dia udah nggak mau jatuh cinta. Tapi saat mamanya meminta menikahi Edna, Alwin bikin syarat. Pernikahan mereka berjalan mulus, meski Edna kurang yakin untuk membuat Alwin jatuh cinta.
Yang paling penting sih, Edna masih bisa mengasuh Mara. Harapan Edna harus pupus gegara omongan Alwin yang menyakitkan 😭.
Aku suka gaya bercerita kak Ika, gaya berceritanya menarik. Tema umum yang dikemas dengan baik, bikin gregetan.
Aku sebel sama Alwin, sikapnya yang kaku dan nyebelin bikin emosi, tapi ada sikap lainnya juga yang bikin meleleh, dia tuh manis! Family man banget meski awalnya ragu. Edna, kukira dia tuh kalem gitu kan pas awal, eh pas dia marah ke luar tuh tanduknya bikin ngakak sih. Kusuka sikap dia yang mandiri dan kuat. Sikap keibuannya ini, bikin orang nyaman. Apalagi si kecil Mara ini gemesin banget dong 🥰🥰. Karakter tokohnya berkembang dengan baik.
Memakai sudut pandang orang ketiga, aku memahami apa yang para tokohnya rasakan. Apalagi kesakitan yang dialami Alwin dan Edna, nyesek sih sedih.
Gaya bahasa yang ringan dan mengalir, enak banget buat diikuti.
Interaksi antartokohnya ini hangat, apalagi keluarga Alwin. Chemistry mereka pun, dapet banget feelnya. Aku suka liat mereka 😍.
Dan untuk konflik tentang pernikahannya ini ngena banget, ya meski sudah ada komitmen dan rasa percaya tapi klo cinta belum ada kadang emang buat ragu ya. Apalagi banyak hal yang emang mesti disesuaikan. Konflik batin Edna dan Alwin juga kuat banget, Alwin dan Edna ini sama-sama menyimpan luka 🥺🥺. Eksekusinya rapi dan apik, aku suka banget endingnya meski bikin deg-degan takut nggak sesuai ekpektasi 😂.
Overall yang suka tema marriage life, bolehloh dibaca mana tau cocok buat nemenin #dirumahaja.
Entahlah. Aku gak ngerti lagi sama novel ini. Alurnya terlalu dipaksakan. Emang ada orang tua yang paksa anaknya nikah sama saudara dari perempuan yang mengkhianatinya? Membiarkan anaknya terbayang-bayang sosok yang dulu dicintainya tapi pada akhirnya tega mengkhianatinya. Memaksa seorang gadis menikah dengan laki-laki yang terjebak dengan bayang-bayang cinta masa lalunya. Emang ada? Kayaknya nggak deh. Aku rasa apa yang dilakukan keluarga Alwin begitu kejam, gak cuma untuk Alwin, juga untuk Edna.
Terus karakternya juga gak konsisten. Awalnya Edna digambarkan sebagai gadis lugu, pemalu, tapi kuat (karena tinggal sendirian tapi rela membesarkan anak Elma seorang diri). Tapi di tengah-tengah ternyata dia berubah jadi perempuan yang berani pakai baju seksi, selfie, lalu mempostingnya di media sosial. Lalu dia jadi tipe perempuan yang agresif. Lalu dia berubah jadi tipe perempuan yang menjengkelkan. Sumpah, bingung aku sama Edna ini. Aku rasa karakter awalnya yang polos, lugu, pemalu, dan kuat malah berubah jadi kekanak-kanakan,over thinking, menyebalkan, lebay, mencla-mencle..
Alwin juga gitu. Tadinya ogah-ogahan, terus tiba-tiba jatuh cinta dengan Edna, terus entah kenapa jaga jarak. Kenapa sih orang-orang di sini tuh. Aku gak ngerti... Maafkan aku penulis. 😭
Novel ini bagus, cuma mungkin emang yang salah akunya aja. Mengingat ratingnya bagus banget gini.. tapi kok aku gak kuat baca sampai akhir..
Such a relief! Buku pertama Ika Vihara yg gue baca dan engga mengecewakan. But wow ya, kayanya baru kali ini baca buku contemporary romance lokal yg lumayan smutty, lol. Apa buku2 Ika Vihara yg lain juga seperti ini?
Terlepas dari cons yg akan gue mention di bawah, sejujurnya gue menikmati perkembangan hubungan Edna-Alwin ini, selain karna marriage with benefits salah satu trope favorit gue.
Cons gue dengan buku ini : - Alwin yg heartless. Ada 1 momen yg buat ikut nangis karna pada saat itu pasti sakit menjadi Edna. - Narasi yg berlebihan menyebut Elma dan Edna cantik se-kota, dan Edna yg disebut cantik ratusan kali. - Inkonsistensi Edna yg bertekad bikin Alwin jatuh cinta di awal sebelum pernikahan mereka, tapi setelah itu engga ada upaya lebih lanjut. Tau2 malah dia sendiri yg jatuh ke lubang yg dia buat. - Edna yg beberapa kali cari perkara lebih dulu dengan ungkit Elma dalam kesehariannya dan Alwin setelah menjadi pasutri. Past should be past, shouldn't it?
"Lalu ... siapa yang mencintaiku? Kalau aku sibuk mencintai kalian, siapa yang akan mencintaiku?" (Hal. 241)
Kenapa kalian harus membaca buku ini?
Menurut aku sebagai pembaca novel-novel ka Ika, novel ini tuh seakan berbeda. Dari kisah2 sebelumnya yang biasa berlatar tempat luar negeri kali ini hanya di Indonesia. Tapi tetap bagus di nikmati
Proses dalam cerita ini yang cukup memuaskan. Walau mungkin endingnya cukup singkat tapi karena aku dapat buku special part nya jadi lebih puas hehe
Cerita yang diangkat cukup beda. Bukan tentang perjodohan semata. Melainkan pernikahan yang terbilang cukup memaksa dan mengandalkan dua orang yang baik untuk dipersatukan dengan konflik yang cukup klimaks
Balutan romance dan gabungan STEM yang seperti biasa Ka Ika membuat aku perlahan mengetahui pekerjaan-pekerjaan yang bisa dibilang WOW dengan penjelasan yang cukup mendetail sih
Kalian akan langsung dibuat jatuh cinta sama sosok Mara yang aku sendiri merasa peran Mara justru kayak tokoh utama dalam cerita ini.
Tokoh perempuannya juga selalu menginspirasi yang bukan semata bucin wkwk apalagi sosok Edna ini duh kuat dan tegar abis pokoknya
Penggambaran karakternya kurang jelas dan tidak konsisten. Awalnya kukira Edna itu perempuan yang pemalu, agak tertutup, dan tegas. Sifat tegasnya ada sih, tapi sifat lain Edna di bab lain entah kenapa jadi berubah. Aku ngga nyangka aja Edna berani pakai baju renang sunbathing(?) dan berpakaian modis. Ekspektasiku sih Edna orangnya pemalu dan pakaiannya ngga se-berani itu. Aura orang kaya nya ngga keliatan. Terus, penulis ngga konsisten menceritakan kisah Alwin & Edna. Awalnya Edna membenci, tapi semudah itu langsung dibuat jatuh cinta. Bahkan Edna dibuat terlalu ceplas-ceplos ingin melakukan malam pertama. Padahal Alwin sendiri berpikir matang-matang buat melakukan malam pertama. Terus Edna juga terkesan suka maksa Alwin. Di bab awal dikatakan pernikahan tanpa cinta. Kemudian, di bab pertama dikisahkan si Edna pernah jatuh cinta kepada Alwin tapi dia mengalah demi kakaknya. Menurutku informasi ini kayak sia-sia gitu. Kenapa ngga sekalian menjelaskan perasaan Edna saat Alwin bersama kakaknya dan saat pernikahan? Apakah ada perubahan atau apa.
The Game of Love menceritakan tentang Edna dan Alwin yang menikah karena ‘harus’ dan saling menguntungkan walau mengorbankan perasaan mereka yang tanpa cinta. Edna ingin menikah dengan Alwin karena diminta oleh Ibu Alwin juga agar ia tidak kehilangan Mara. Sedang Alwin, dengan perasaan sakit yang belum pulih dari masa lalu menerima pernikahan itu juga karena permintaan ibunya yang disertai imbalan ia tidak akan diminta untuk terlibat dalam menguruskan bisnis keluarga.
Pernikahan mereka berlangsung. Anw, Edna dulunya cinta loh sama Alwin. Tapi dalam pernikahan mereka Alwin sudah memperingatkan untuk tidak jatuh cinta dengannya. Dan di sini Edna mengatakan sudah tidak ada lagi perasaan suka pada Alwin yang ada benci! Pernikahan mereka berjalan sekiranya rumah tangga pada biasanya, tapi yang ngga ada cinta. Heran aku giman mereka ngga ada cinta, tapi masih ada manis-manisnya juga wkkwk.
Setelah membaca novel ini, aku sukaa! Well, ini memang ngga jauh jauh dari romance rumah tangga yang menikah karena dijodohkan kemudian timbul cinta. Eits, tapi tidak semudah itu. Yang membuat aku heran, mereka masih manis walau tanpa adanya cinta. Manis banget, bahkan.
Selain perasaan manis, rasa kesal membaca ini juga dominan sih. Paling ngeselin Alwin deh. Dia itu ‘pembangkang’ banget alias tukang denial. Kurang ngerti cewek baanget, kerjaannya asik sama komputer dan game. Ada satu part yang bikin Edna marah-marah dan nerobos masuk ke ruang kerjanya Alwin. Sumpah itu ngakak banget. Ngebayangin muka Alwin yang cengo, LOL banget, sumpah!
Ada banyak karakter baik dalam novel ini, dan konfliknya tidak termasuk berat. Walau perasaan yang dibawa Edna dalam pernikah dengan Alwin itu berat, tapi tidak terasa menjadikan alur novel ini berat. Aku bahkan menyelesaikan membaca novel ini dalam sekali duduuk. Karakter yang paling gemesin di sini sudah pasti Mara.
Dengan adanya Mara, Edna menjadi ibu yang luar biasa. Aku suka banget interaksi Mara dan Edna. Sebenarnya, semua yang beriteraksi dengan Mara jadinya menyenangkan loh.
Selain itu, aku juga senang dengan field pekerjaan dua karakternya. Alwin dengan dunia teknologynya dan Enda dengan bakery nya. Jujur banget, aku paling senang dengan novel yang ngambil latar belakang pekerjaan karakternya technology. Suka banget.
Apa yang aku pelajari dari novel ini? Belajar dari Edna. Menjadi perempuan tangguh dan penuh kasih sayang. Juga, ngga lama larut dalam kungkungan cobaan. Karakternya juga menyenangkan dan tegas.
Kisah cinta Edna & Alwin yang membangkitan selera saya membaca terbitan Elex Media. Alwin yang menikah dikarenakan permintaan ibunya dan Edna yang menerima tawaran tersebut karena ingin keponakan nya memiliki keluarga yang utuh.
Ah lagi-lagi Mba Ika ini berhasil menyelipkan nilai2 kehidupan di ceritanya Nampol banget dah Walaupun di tulisannya masih nemu beberapa typo hehe Entah harus kecewa atau bersyukur karena tidak berlinang air mata selama baca ini Aseli sih ini tulisannya solid dan strong banget Lagi2 meyakinkan gue kalo cinta bukan segalanya demi membangun pernikahan, selama pasangan kita berlaku baik dan bertanggung jawab kepada kita, everything should be fine And now I know, kalimat "aku mencintaimu" is such a strong sentence yang ga bisa diucapkan gitu aja Teruntuk kalian yg menikah tanpa diawali dengan cinta, good luck, this book is good for you guys, seriously And I do believe, marriage without love but commitment is hard but not impossible
Ide ceritanya yang bikin aku tertarik buat baca. Cuma karakternya agak ngehampain. Alwin nih gak ngerti banget maunya apa dah. Rese banget karakternya. Gaya penulisannya dah enak banget dibaca. Suka. Karakter-karakternya yang mengada-ada banget. Kesel sampek'an aku
The Game of Love menceritakan tentang Edna yang 'terpaksa' menikah dengan Alwin, yang tadinya adik kembar dari kakak iparnya yang menikah dengan kakaknya, Elma. Waktu Elma dan suaminya meninggal, mereka meninggalkan seorang anak bernama Mara yang kemudian diasuh Edna selayaknya anak sendiri. Karena satu dan lain hal, supaya Edna bisa terus bareng sama Mara, Edna harus menikah dengan Alwin, saudara kembar dari kakak iparnya tersebut. Konfliknya dimulai ketika Alwin adalah mantan pacar Elma yang ditinggalkan untuk menikah dengan kakaknya sendiri, yakni Rafka.
Overall, saya suka sama gaya penulisan dari penulisnya. Ada beberapa dialog maupun narasi yang witty sebagai selingan di tengah-tengah bacaan. Premis awalnya cukup menarik, bikin orang bertanya-tanya 'oh iya, gimana ya kalau gitu?' Meskipun begitu, dengan berat hati harus ngasih bintang cukup tiga aja untuk buku ini. Alasan-alasannya mungkin personal ya, tapi buat saya:
1. Banyak detil-detil yang terlalu 'impossible' untuk dibayangkan. Misalnya Alwin masuk ke dalam jajaran 50 orang terkaya di seluruh dunia. Budi sama Michael Hartono aja rangking 50 ke atas jadi susah ngebayangin ada yang lebih kayak dari mereka - kalau buku ini settingnya memang di Indonesia. Selain itu, beberapa kali juga disebutkan bahwa Elma dan Edna merupakan dua perempuan paling cantik di kotanya. To me personally, kalimat ini agak lebay karena saya ga percaya there is such thing as 'perempuan paling cantik di kota x' karena ranking kecantikan itu subyektif /tsahhh
2. Jalan ceritanya kurang smooth. Kalau romance, biasanya kan either salah satunya udah jatuh cinta di awal, atau jatuh cinta sepanjang perjalanan. Tapi di buku ini, baik Edna maupun Alwin perjalanan jatuh cintanya seperti kurang jelas. Alwin yang awalnya masa bodo mau nikah sama siapa aja termasuk Edna, dan bitter di awal karena masih sakit hati sama Elma-Edna tiba-tiba jadi bucin tanpa sebab. Mungkin saya yang skip ya, tapi kayak nggak nemu aja kenapa Alwin nya bisa jadi bucin begitu.
3. Di awal buku, ekspektasi saya udah bagus karena saya pikir wah ini bukan cerita pernikahan kontrak gitu. Tapi ke belakangnya, saya berdoa dalam hati 'aduh plis jangan jadi cerita pernikahan kontrak dong' tapi ternyata cuma nyenggol dikit aja.
Tapi terlepas daripada itu, bukunya enak dan mengalir untuk dibaca. Belakangan sulit nyari buku yang enak di baca di toko buku, tapi The Game of Love ini lumayan worth it untuk dibaca. Kalau disuruh rekomendasi, mungkin saya akan coba baca buku penulisnya yang lain.
"Orang tidak hanya menekan wanita lajang untuk segera menikah. Tetapi mereka juga menekan pasangan pengantin baru untuk segera punya keturunan." (Hlm 156).
Edna terpaksa menikah dengan Alwin, cinta pertamanya yang sayangnya mencintai Elma, kakak Edna. Alwin juga terpaksa menerima perjodohan antara dia dan Edna. Patah hati membuatnya tidak ingin menikah dan ibunya khawatir akan hal itu. . Apa yang membuat cerita ini berbeda dengan cerita perjodohan-perjodohan yang lain? Alur, walaupun perjodohan tapi tidak unsur nikah kontrak seperti yang biasa dipaparkan oleh salah satu di antara kedua belah pihak karena merasa bukan ini yang mereka inginkan. Alwin juga merasakan hal yang sama, tapi baginya menikah lalu cerai adalah hal yang membuang-buang waktu.
Karakter, kalau biasanya karakter si laki-laki akan bertindak semena-mena karena tidak mencintai istrinya, Alwin berbeda, walaupun ia tidak mencintai Edna tapi ia punya prinsip untuk memperlakukan wanita dengan baik. Orang-orang yang melihat hubungan mereka pasti mengira kalau mereka saling mencintai.
Tidak ada unsur menye-menye lain, seperti Alwin yang tiba-tiba menyadari perasaannya saat melihat Edna kecelakaan, semuanya berjalan dengan wajar. . Tema pernikahan dari novel ini menarik, karena tidak hanya menggambarkan tentang kebahagiaan, tetapi juga menguraikan resiko dari menikah, pasti akan ada waktu di mana salah satu atau bahkan kedua belah pihak terluka. Ada masa-masa bertengkarnya. . Pekerjaan Alwin yang berhubungan dengan pembuatan game membuat novel ini lebih menarik, karena walaupun tidak banyak tetap ada gambaran-gambaran mengenai kesulitan membuat aplikasi game. Begitu pun dari sisi Edna, pekerjaannya sebagai baker menambah pengetahuan baru. . Banyak quotes yang merujuk ke realitas dan sebagian potongan kalimat dari isi part tersebut.
"Karena tidak mungkin menemukan laki-laki yang sempurna, wanita menikah dengan laki-laki yang dianggap baik." (Hlm 53). . Penyesalan selalu akan ada di akhir, seperti Alwin yang menyesal karena tidak komunikasi lagi dengan Rafka setelah saudaranya itu mengkhianatinya. Tapi dari penyesalan itu perlahan-lahan Alwin membuka matanya bahwa apa yang ia perkirakan selama ini adalah salah, ia tidak seharusnya hanya melihat dari sudut pandangnya.
One of my favorite novel. Jadi mengidolakan Kak Ika Vihara 😍. Suka banget dengan gaya penulisan kak Ika. Quote2 dan penyusunan kata menjadi kalimat bagus, rangkaian kalimat bagus. Quote bagus2, ada yang tentang Plato Socrates, dll. Dengan membaca novel ini, jadi tahu beberapa istilah baru.
Suka banget sama tokoh wanita di novel kak Ika. Baru baca dua judul, tapi suka banget dengan Alesha dan Edna. 😍😍😍😍 Wanita strong, cantik, berpendidikan, mandiri financial, keibuan, pokoknya paket lengkap deh 🤣.
Di cerita The Game of Love ini, diceritakan Edna kehilangan seluruh keluarga (ayah dan ibu sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya, kemudian kakak dan kakak iparnya meninggal krn kecelakaan, meninggalkan keponakan perempuan yang baru berusia 2 bulan), Edna harus mengasuh keponakan semata mayang, Mara. Edna bisa bangkit dan berhasil membuat hidupnya lebih baik. Edna digambarkan seorang perempuan yang cantik, cerdas, mandiri (mengasuh keponakan, sambil mengelola bakery dan kuliah magister), seorang ibu yang hebat -sudah terbukti bahkan sebelum dia punya anak sendiri, bisa memasak dan baking yang hasilnya enak, bisa mencari uang sendiri (sebagai seorang pengusaha bakery), seorang istri yg bisa mengimbangi passion suaminya, Alwin. Semua hal yang diharapkan oleh seorang laki-laki ada pada dirinya. 😍😍😍😍😍 Namun sayang, Alwin sulit mencintai Edna.
Di novel ini, juga membahas ada prinsip 'kalau bukan anak siapa lagi yang melanjutkan', Alwin tidak sanggup menolak permintaan ayahnya meneruskan perusahaan keluarga, tetapi dia tidak ingin melanjutkan, dan enggan menolak secara tegas kepada ayahnya secara langsung, Edna berani berpendapat tentang ketidakinginan Alwin di hadapan kedua mertuanya (Mai dan Em). 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻. Seorang wanita cerdas dan pemberani.
Mara yang aktif, cerewet, polos, meramaikan cerita ini. Mara merupakan sosok yang membuat cerita ini lucu, terutama saat Mara pertama kali seharian diasuh oleh Alwin. One day parenting 🤣. Bikin Alwin bernyanyi bersama Mara di mobil, "The wipers on the bus go swish, swish, swish" 🤣🤣🤣, dll.
Thank you kak Ika Vihara telah menuliskan cerita ini, cerita ini recommended banget untuk dibaca 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
This entire review has been hidden because of spoilers.
📚 Le Mariage: The Game of Love ✒️ Ika Vihara 🎡 iPusnas 🥨 Elex Media Komputindo 🎖️ 4/5
Review: Menurut aku, buku ini adalah buku terseru dari Kak Ika. Sebelumnya aku sempat baca buku Kak Ika dan itu terlalu mendayu-dayu dan slow burn parah. Tetapi, buku ini BEDA. Aku suka dinamika hubungan Alwin dan Edna dimana mereka ada berantemnya, rukunnya, dan romantisnya. Aku suka gimana Kak Ika gak membuat tokoh Alwin maupun Edna terlalu banyak memiliki luka. Jadi ya gak terlalu menyedihkan😂. Walau tokoh Alwin menurutku out of reach ya tapi masih acceptable kok🫰🏻malah aku cinta mati sama tokoh Alwin... He is a damn typical HOT NERD BOY🥵
Aku merasa buku ini juga konfliknya masih napak tanah ya. Kenapa aku bilang begitu? Karena sebelumnya aku baca buku Kak Ika tuh apa ya narasinya terlihat over gitu. Kayak mau menunjukkan kalau tokoh FL tuh pinter, bijak, dll intinya too good to be true wkwkwk. Tapi kalau di buku ini ya dua-duanya biasanya aja (versi Kak Ika). Edna as FL ya biasa aja. Terlihat kuat dan pintar namun dalam porsi yang cukup.
Untuk gaya penulisannya, ya tipikal Kak Ika lah. Walau agak mendayu-dayu juga tapi masih oke dan gak slow burn. Alurnya sat set sat set. Konfliknya gak dibikin muter-muter. Mungkin agak kesal dengan endingnya yang gitu aja. Cuma di rumah sakit setelah Edna melahirkan. Like??? We need ending yang lebih grande wkwkwk. Tetap happy ending sih😂 terus aku mikir coba Alwin dibikin sakit juga atau terluka kayak Edna. Biar gak hanya Alwin yang merasakan penyesalan tapi Edna juga. Karena menurut aku Edna juga salah loh disini. Orang kayak Alwin yang punya trauma dikhianati tuh susah sembuhnya. Ditambah ortunya juga nyuruh dia mengalah. Yang melakukan pengkhianatan juga mantan pacar sama saudara kembarnya. Aku agak sedikit sebel dengan tingkah Edna yang memaksa Alwin untuk cinta sama dia.. but overall this book was good!!!!!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Judul: The game of love Penulis: Ika Vihara Penerbit: Elex Media Komputindo Dimensi: 273 hal, cetakan pertama 2019, edisi digital ipusnas ISBN: 9786020499932
Edna menjadi ibu di usia 24 tahun, tanpa pernah menikah, hamil, atau melahirkan. Tiba-tiba saja ia menjadi sebatang kara setelah orangtuanya meninggal saat naik haji, lalu disusul kakaknya Elma dan suaminya Rafka yang kecelakaan. Hanya tersisa dirinya dan Mara, anak Elma dan Rafka yang baru berusia dua bulan. Fokus membesarkan Mara, kuliah, dan mengurus bisnis bakery, membuat Edna tidak memikirkan pernikahan hingga Tante Em memintanya menikah dengan Alwin, kembaran Rafka, mantan pacar Elma, cinta pertama Edna. Masa lalu Alwin dan Elma yang buruk membuat Edna tidak nyaman, namun bila tidak ingin kehilangan hak asuh Mara, ia harus menjadi istri Alwin. Bisakah pernikahan mereka berjalan normal seperti pasangan lainnya, atau malah menjadi sebuah permainan dengan Alwin pemegang kendalinya?
Saya penasaran membaca karya² penulis sebab ingin mendalami kisah tiap tokoh yang pendukung di karya lain, menjadi tokoh utama di karya berikutnya. Namun dalam karya ini, karakter Edna dan Alwin begitu ambigu, tidak ada kemistri, dan kurang mengalir. Konfliknya pun tidak terasa klimaks dan ending kurang berkesan. Tidak seperti dua buku sebelumnya yang menarik. Meski begitu, saya masih penasaran dengan 4 karya penulis lainnya.
Cocok dibaca untuk kamu yang suka genre lemariage, kisah tentang pernikahan, dan tentu romance.
"We all hurt and get hurt at some point of life. All you have to do is apologize when you hurt her and learn from your mistakes." - Pg. 111 The Game of Love bukanlah buku pertama karya Kak Ika yang kubaca. Kisah Afnan-Hessa lah yang membuatku klik dengan tulisan Kak Ika. Membaca tulisan Kak Ika menyenangkan buatku & aku menyukai kisah yang dituliskan Kak Ika. Kisah Alwin-Edna ini aku suka. Membacanya seru sekali. Sejenis buku page turner. Tamat hanya dalam hitungan jam. Di sini aku menyukai sekali karakter Edna. Wanita kuat, tangguh, memiliki kasih yang luar biasa terhadap keponakan satu-satunya Mara, sehingga Edna rela melepas masa mudanya demi mengambil tanggung jawab mengasuh Mara dan menjadi ibunya. Edna juga bukan tipe yang mementingkan materi karena Edna bahkan tidak sadar kalau Alwin adalah lelaki dengan penghasilan yang fantastis. Alwin juga luar biasa. Cerdas dan mampu membuktikan dirinya disaat semua membandingkannya dengan Rafka. Lelaki yang perhatian walaupun dia sulit memaafkan Rafka & Elma yang telah tiada. Awalnya Alwin tidak mau terlalu berurusan dengan Edna apalagi Mara, tetapi ketika menghabiskan waktu bersama Mara, dia tidak bisa tidak menyayangi keponakannya itu. Hanya saja Alwin sempet membuat kesal dengan sikapnya yang hobi sekali memiliki kontrol terhadap apa pun 😂 Konflik yang dihadirkan Kak Ika menarik sekali. Konflik seputar kehidupan setelah menikah, komunikasi, kepercayaan dan kejujuran saat menjalaninya. Bagaimana hal tersebut berproses dalam hubungan Alwin-Edna yang rumit pada awalnya.
Karya kedua Ika Vihara yang aku baca dan karena ini genrenya Le Mariage jadi aku merasa dipaparkan pada realita yang akan di hadapi saat being adult.
"But we are expected to get married. This is part of our society and is the right thing to do." -Alwin, 27-
Selama membaca ini aku banyak refleksinya and guess what? Aku nangis. Vibes karya penulis, kalau aku ibaratkan gradasi warna ada pada warna orange lembayung. Pokoknya ga afdol rasanya kalau baca ga di selingi refleksi dan nangis :")
Wahh terima kasih aku jadi banyak berpikir tentang banyak hal. Kalau kata Edna "There's the right one out there for everyone." -hlm 37-
Berbicara alur, belum ada hal istimewa yang aku temukan karena endingnya sudah pasti expected tapi yang bikin unik dan menarik adalah gaya berceritanya dan narasi tokoh dari sudut pandang penulis.
Kalau aku sendiri gaakan memandang hitam ataupun putih gimana karakter Alwin, Edna, Rafka, Elma ataupun Mamanya Alwin-Rafka. Manusia itu rumit baik perilaku dan lain-lainnya dan keputusan-keputusan yang diambil itu ada alasannya.
Tapi ya aku agak terganggu karena tuntutan Edna tentang mencintai dan dicintai juga di inkonsistensi karakter Edna. Ini selera saja sebenarnya, dan Mara.. aku selalu suka cerita yang melibatkan anak-anak dan gimana mereka memperlakukan si anak itu. Anak-anak selalu magis memang.
Ada satu kutipan yang aku suka; "We all hurt and get hurt at some point of life. All you have to do is apologize when you hurt her and learn from your mistakes." -Hlm 111-
Seperti novel Ika Vihara yang kubaca sebelumnya, aku juga menyukai The Game of Love. Pada cerita ini kita ketemu sama Edna, umur 28 tahun, menjalankan bakery warisan kakaknya dan menjadi ibu untuk Mara, keponakannya. Tiga tahun setelah kakak dan kakak iparnya meninggal, Edna mulai bisa menjalani hidupnya dengan lebih baik. Sampai ibu mertua kakaknya, menyarankan agar Edna menikah. Mara memerlukan ayah dalam hidupnya. Sebab Edna tidak punya calon, ibu mertua kakaknya meminta Edna supaya menikah dengan anak laki-lakinya. Kalau Edna tidak mau, maka ibu mertua kakaknya akan mengambil-alih pengasuhan Mara. Alwin adalah pendiri entertainment software berbasik di Amerika, yang sedang berusaha memperbaiki hubungan dengan keluarganya di Indonesia. Ibunya baru akan memaafkan kesalahannya di masa lalu kalau Alwin mau menikah dengan Edna. Aku menghabiskan 1 malam paling menyenangkan bersama buku ini. Romatika, karakter, perdebatan, dan semuanya di dalam buku ini sangat enak dinikmati. Edna dan Alwin sama-sama kehilangan dua orang yang paling mereka cintai dan mereka harus bisa memaafkan masa lalu lebih dulu kalau ingin maju. Ketangguhan dan determinasi Edna sangat terlihat di sepanjang cerita. Kalau aku di posisinya, aku belum tentu bisa sekuat dia. Sedangkan Alwin, keras kepalanya mengacaukan hidup dan hati Edna. The Game of Love menghangatkan hatiku dan memberiku banyak senyum.
Dibandingkan buku Ika Vihara yang lain, buku ini pendek dan easy to read. Jadi sedih karena cepat habis. Aku menikmati 'permusuhan' Edna dan Alwin. Edna menuduh Alwin belum bisa memaafkan Elma, mantan pacar Alwin sekaligus kakak kandung Edna, dan Alwin yang sudah pernah disakiti Elma, selalu curiga Edna akan melakukan hal yang sama. Banyak pemikiran dan pendapat Edna dan Alwin yang berbeda dan perdebatan mereka menarik buat diikuti. Edna tidak takut untuk menyampaikan pendapatnya walaupu kadang sama Alwin cuma didengarkan, nggak dilaksanakan. Yang paling menarik adalah bagian Edna menguji Alwin, apakah klaimnya bahwa Alwin memaafkan Elma bohong atau benar, dengan meminta Alwin menghabiskan waktu dengan Mara, anak almarhum Elma yang sekarang dibesarkan Edna. Seorang anak berusia 3 tahun benar-benar bisa membuat laki-laki tinggi besar berpendidikan tinggi kelimpungan. Selama pernikahan, Alwin ngotot nggak boleh ada cinta didalamnya. Kengototan Alwin dalam nggak mengakui cinta kepada Edna itu bener-bener bikin gemes. Tiap balik halaman pasti membatin apa di sini Alwin bakal menagkui cintanya. Edna dan Alwin tanpa mereka sadari saling membantu dan menyembuhkan. Mereka berbagi luka di masa lalu dari sumber yang sama yaitu Elma. Buku ini benar-benar bekesan buatku dan memberiku satu senyum bahagia di bagian endingnya.