Semenjak bertemu dengan si Pelaut dan patah hati pada Uni Fatimah, makin tak terbendung tekad Karim—seorang pemuda asal Batang Arau— untuk menjadi bandar dagang kopi ternama. Bujang itu pun nekat merantau ke Parahyangan, sarang mutiara hitam. Dalam perjalanan ke Pulau Jawa, ia bertemu rupa-rupa manusia. Ote—budak kapal dari Nias, Ujang—kusir kereta pos, Euis—tabib perempuan dari Tatar Sunda, Kang Asep—kepala cacah, Raden Arya Kusumah Jaya—administratur perkebunan kopi, dan Satria—mandor perkebunan. Karim melarung dari mulut hikayat kopi dalam putaran candu masuk ke pusaran kisah benih pedih kebun kopi.
“Kelak sajikan untuk awak secangkir kopi yang tersohor itu, buat awak paham mengapa dunia menyetarakannya dengan emas,” ucap Ote saat berpisah dengan Karim.
Musim kikir memanggil para petani mengubur nyawa di bawah rumpun kopi. Musim ketika Karim menginjakkan kaki ke Parahyangan.
Ini bukan sekadar kisah mengenai kopi, ini sejarah kemanusiaan di Parahyangan pada masa Tanam Paksa, zaman saat kopi Jawa berhasil menembus pasar dunia dan menahbiskan minuman gelap tersebut sebagai java.
Badan novelnya bagusss, sarat uraian sejarah tanah parahyangan tanpa terasa berat, beraroma kopi nikmat namun juga pahit nan tragis. Diawali dari si Karim putra minang yang tergila-gila pada rasa kopi sejati yang belum pernah dicecapnya, hingga berpetualang ke tanah jawa. Di sana ia malah terlibat dalam napas sesak para penggarap tanaman kopi dan segala liku-likunya.
Namun begitu, aku tidak terlalu suka prolog dan epilognya, bingkai cerita yang mengelilingi isi novel. Terlalu sedikit hingga terasa seperti tempelan, tanpa karakterisasi jelas ttg kenikir dan kaphi ini, pun tentang bapak-bapak mereka... kecuali jika nanti akan ada spin off-nya, sebuah novel ttg mereka ;)
Nb, baca ini jd teringat Sang Juragan Teh yang sama-sama bercerita tentang tanah subur parahyangan, hanya saja beda aroma sedapnya dan beda sudut pandang penceritaannya. Dua-duanya favku.
Buku terbaik yang saya baca bulan ini. Angkat topi untuk Mbak Evi!
Mengisahkan segala penderitaan petani di Parahyangan dengan cara berceritanya yang indah. Saya rasanya dibawa mengawang dan pergi ke masa lalu. Roman yang cantik luar biasa. Saya juga senang di sini tokohnya adalah seorang pengembara dari tanah Minang, menambah kompleks jalan cerita.
Karim seorang pemuda Minang yang memutuskan untuk merantau setelah mendengar sepenggal kisah tentang biji kopi Parahyangan dari mulut seorang pelaut. Keputusannya merantau juga karena patah hati cintanya ditolak oleh Uni Fatimah, penjual di sebuah kedai kopi. Dalam perjalanan ke Tanah Jawa, Karim mendengarkan kelanjutan kisah tentang kompeni di bumi Parahyangan. Ketika Karim akhirnya tiba di Batavia, dia harus menempuh perjalanan menuju Parahyangan. Petualangan Karim demi mendapatkan biji kopi yang disebut "mutiara hitam" itu cukup berliku. Bahkan melibatkan sengketa antara dirinya, mandor kebun, dan juga patih di wilayah tempatnya mengadu nasib.
Kisah Karim sebenarnya merupakan sejarah tentang perkebunan kopi di Parahyangan, Jawa Barat di masa penjajahan Belanda. Kopi merupakan salah satu hasil bumi yang diekspor ke luar. Rakyat biasa hanya menjadi pekerja, bahkan tidak boleh mencicipi minuman kopi itu. Dalam novel ini juga dikisahkan sekilas tentang buku Max Havelaar karangan Multatuli yang menginspirasi Karim memperjuangkan dirinya dan rekan-rekannya.
Bagian prolog dan epilog tentang Khapo dan Kenikir sepertinya masih misteri. Mungkin akan diceritakan di buku berikutnya, mengingat buku ini adalah bagian pertama dari sebuah tetralogi. Salut untuk riset mendalam yang dilakukan penulis selama 6 tahun lamanya. Kira-kira buku #2 akan terbit kapan ya?
Karim si putra Minang tidak kuasa membendung keinginannya menjadi jurangan kopi ternama. Dia pergi meninggalkan tanah leluhurnya menuju ke sarang mutiara hitam di tanah Parahyangan. Sampai di sana dia malah terperangkap dalam sebuah ironi kehidupan para penggarap tanaman kopi. Karim bergabung dengan para petani kopi, tidak pernah membayangkan akan menjadi budak di bawah perintah mandor kopi pribumi bengis tiada ampun.
Kopi yang kita nikmati saat ini memiliki sejarah yang pahit, sepahit rasa kopi itu sendiri. Dulu kopi menjadi salah satu komoditi primadona yang disetarakan dengan emas. Selain rempah-rempah, kopi turut menjadi incaran kompeni sebagai alat untuk memperkaya diri.
Saya tahu Kak Evi Sri Rizki lewat karyanya yang lebih dominan menyasar cerita remaja. Saya sebetulnya agak kaget saat buku ini muncul di postingan penerbit @marjinkiri sebab Kak Evi muncul dengan tulisan di luar kebiasaan. Ia menulis sebuah novel sejarah tentang kopi yang berlatar abad ke-18/19. Novel yang ditulis karena kecintaannya terhadap kopi. Secara keseluruhan saya suka ceritanya. Apalagi saya memang penyuka cerita beraroma sejarah dan penjajahan zaman dulu. Saya cuma menyayangkan beberapa istilah tanpa catatan kaki. Soal prolog dan epilog yang membingkai novel ini juga saya agak bertanya-tanya. Tentang Kenikir dan Kaphi, juga tentang bapak mereka masih misteri, siapa mereka? Lalu saya ingat katanya novel ini bagian dari tetralogi. Mungkin soal latar belakang Kenikir dan Kaphi, pun dengan bapak-bapaknya akan diceritakan kemudian? Kita tunggu saja.
Penikmat kopi mungkin akan menyukai novel ini. Cobalah.
Saya sedang bosan dengan kisah petualangan remaja. Biasanya sih serba beroleh kemujuran. Begitu pula tokoh si Karim di novel ini yang merantau dari Batang Arau ke tanah Parahyangan. Dia mengenal banyak orang dan kemudian meraih keinginannya bergelut dalam perkebunan kopi.
Saya suka dengan sejarah kopi yang menjadi tema utama novel ini. Ternyata, minuman yang kita sesap sehari-sehari dalam perjalanannya menumbalkan banyak nyawa. Tanam paksa sangat membuat para pribumi sengsara. Undang-Undang Agraria pun ternyata tak berdampak apa-apa.
Tetapi, novel ini terlihat biasa dalam pandangan saya karena alur yang mudah ditebak, penuh dengan kebetulan, emosi yang dibangun pun kurang terasa. Mungkin konflik antara Karim dn Mandor Satria agak diperpanjang akan lebih mengena.
Ada satu saltik yang tidak mempengaruhi cerita, tetapi penting untuk dibenarkan. Penulisan nama latin kopi seharusnya Coffea arabica, bukan Arabica. Nama genus selalu diawali dengan huruf kapital, sedangkan nama spesies dengan huruf kecil.
Saya memang bukan penikmat kopi sejati. Cuma sesekali aja saya teringat untuk minum kopi. Itu sebabnya tidak pernah terpikir untuk mencari tau sejarah kopi di nusantara. Sejarah penuh darah yang ternyata tidak kalah memilukannya dengan sejarah pala di Pulau Banda. Sebagai pecinta novel berlatar sejarah saya sangat bersemangat sekali mencari tau tentang sejarah kopi dan tanam paksa di nusantara, di parahyangan. Apalagi setelah tau kalau penulis tidak main2 dalam melakukan riset. Mulau dari riset literatur, observasi, kunjungan ke perkebunan2 kopi, bahkan sampai rela jadi barista! Luar biasa sekali, applause buat mbak evi untuk dedikasihnya mbak.
Banyak sekali pengetahuan tentang sejarah kopi di parahyangan yang saya dapatkan di novel ini. Mulai dari sejarah masuknya kopi ke nusantara, pergantian kekuasan para penjajah, sejarah kopi luwak (careuh bulan) dan utamanya tentang tanam paksa di parahyangan.Bahkan pemilihan nama dan penokohan punya arti sendiri dalam mengungkapkan sejarah parahyangan.
Untuk kisahnya sendiri menarik dan tidak membosankan. Hanya saja mungkin memang tidak begitu sesuai dengan selera saya. Tipe ceritanya agak seperti membaca kisah pendekar atau cerita silat. Bagi penggemar cerita jenis ini pasti akan sangat menikmati babad kopi parahyangan. Saya merekomendasikan buku ini bagi pecinta novel sejarah dan pecinta kopi, kalian harus tau pengorbanan apa yang terjadi untuk bisa menghadirkan secangkir kopi yang kalian minum.
Semoga novel kedua dari tetralogi ini segera terbit.
Jujur aku tidak pernah tahu sebelumnya buku ini tentang apa, kukira hanya sejarah tentang perkopian. Ternyata buku ini berkisah tentang pahit getirnya perjuangan bangsa kita di bawah tindasan bangsa kolonial demi menyajikan secangkir kopi enak di belahan Eropa sana. Aku jatuh cinta pada gaya penuturan Evi Sri Rezeki yang halus dan terutama terpikat pada detail tentang bentang alam Parahyangan. Duh, membaca bahasa ibu dan deskripsinya tentang Bandung dan Pangalengan membuatku ingin menaiki mesin waktu dan bukan hanya mengunjungi Bandung BC, tapi juga Bandung di masa kejayaan perkebunan kopi.
“Bagi hamba yang jelata ini alangkah kurang masuk akal bila Raden mendapat penglihatan mata batin sebab buku max Havellar. Sepenangkapan hamba, Raden yang sehari-hari hidup di antara para petani, menjejak kaki di bumi Parahyangan sejak dilahirkan seharusnya mengenal rakyat sendiri tanpa perlu perantara. Keadilan yang dituliskan Multatuli semestinya datang dari dalam hati sendiri sebab hubungan antara Raden dan para petani.” -hal. 274
Berkisah tentang Karim, pemuda Sumatera Barat yang berambisi menjadi saudagar kopi terkenal. Tak tanggung-tanggung, ia ingin menjadi Saudagar kopi dari bumi parahyangan yang terkenal cita rasanya.
Mengambil setting tahun 1800an di Indonesia, ketika kondisi warga, terutama di pulau jawa sedang kacau-kacaunya karena project2 gila dari kumpeni dan keharusan tanam paksa, membuat Karim akhirnya berpikir betapa naif dan lugunya ia ketika menginjakkan kaki pertama kali di kebun kopi di selatan Bandoeng; Pangalengan.
- Buku ini menarik sekali!! Ratrku 4.5/5
Sebuah buku yang ku harap ku baca ketika SMA untuk memahami konteks perih dan derita yang ditanggung warga pribumi ketika prengerstelsel diberlakukan di Jawa Barat!
Tokoh favoritku di buku ini adalah Euis! Perempuan buruk rupa yang menyendiri di hutan; dan bertemu Karim saat Karim hampir mati diserang begal. - Nambah satu lagi bacaan Historical Fiction dari Indonesia yang seru!!
Butuh waktu lama bagiku untuk menyelesaikan novel ini, premisnya menarik dan buat penasaran, mengangkat peliknya kehidupan para petani kopi di bumi parahyangan pada masa kolonial. Saat itu kopi adalah sebuah komoditas yang menarik hati orang eropa bahkan sampai disejajarkan dengan emas karena rasanya yang memikat, aromanya yang nikmat dan khasiat yang bermanfaar. Tak pelak lagi bahwa parahyangan dijadikan tempat perkebunan karena tanahnya yang subur dan menghasilkan kualitas kopi yang bagus.
Tokoh utama dalam novel ini bernama karim, seorang bujang berasal dari minang, kecintaannya terhadap kopi membuatnya berkeinginan menjadi bandar kopi ternama. Karena hasratnya itulah ia nekat merantau ke parahyangan. Namun sayangnya sesampainya di parahyangan karim malah terseret ikut dalam tanam paksa. Di sini lah praktik penindasan terhadap petani berkecambuk, mulai dari: - Harus bekerja secara terus menerus sampai target kopi terpenuhi - Tidak boleh menanam komoditi lain kecuali kopi akibatnya lahan garapan yang dimiliki petani tidak terurus - Selain mengurusi perkebunan kopi, petani juga yang mesti mengantarkan hasil panen menggunakan pedati dan akses jalur yang dilewati tidak mumpuni - Dan juga harga yang dipasang untuk sepikul kopi tidaklah begitu adil dengan jerih payah para petani.
Yang membuat saya suka dengan novel ini karena: Pertama, saya lumayan suka kopi dan ingin tahu bagaimana sejarah kopi di nusantara, barangkali dengan membaca novel ini bisa mengantarkan saya pada referensi bacaan lain. Kedua, saya suka latar waktu dan tempat yang bersetting di era kolonial karena di era ini begitu banyak peristiwa yang terjadi dan tidak saya ketahui semasa belajar sejarah di SMA dulu. Jadinya bisa dapat pemahaman dan perspektif baru. Seperti misalnya, penindasan terhadap kaum pribumi yang tidak saja dilakukan oleh belanda tetapi juga oleh kaum priyayi. Ironis sekali. Ketiga, saya suka dengan dialog antar tokohnya yang menggunakan bahasa melayu dan sunda. Yang mana bahasa melayu yang dipakai terasa nyastra dan puitis agaknya. Dan yang keempat, kerap kali disinggung mengenai jalan raya terpanjang di pulau Jawa Jalan Raya Pos dan karya fenomenal yang menggetarkan dataran Eropa yakni Max Havelaar karya Multatuli yang kiranya menambah poin plus dari novel ini.
Saya rekomendasikan novel ini bagi penyuka kopi dan peminat genre historical fiction, kiranya dengan membaca novel ini bisa mengantarkan teman-teman pada referensi lain agar dapat menambah wawasan mengenai sejarah kopi.
"Pada akhirnya kita hanya mampu melawan antar bangsa sendiri." ~ Raden Arya Kusumah Jaya
Sejak tahun 2010-an sudah membaca tulisan Evi Sri Rezeki baik fiksi maupun non fiksi sudah mengenal ciri khas cara menulisnya. Ketika membaca Babad Kopi Parahyangan agak samar mencari letak di mana kekhasannya. Mungkin karena saya juga sudah lama tidak membaca intens lagi tulisannya, atau saya jarang membaca novel tebal-tebal, atau karena tersamarkan oleh aroma kopi yang menguap tiap membuka lembaran demi lembaran.
Sosok Karim sebagai Tokoh utama sangat kuat dengan flat karakternya, dideskripsikan dengan detail hingga minor ekspresinya bagaimana dia meraba janggut tipisnya setiap kali berpikir. Pun tokoh-tokoh lainnya digambarkan sangat kuat dan mempunyai peran yang cukup kuat dalam perjalanan pertualangan Karim hingga akkhirnya bisa sampai menjadi mandor perkebunan kopi yang jauh sekali dari kampung halaman.
Plotnya menarik seperti gelombang saat Karim di tengah laut karena selalu ada konflik di dalam konflik, klimaks di antara klimaks lain yang dinarasikan oleh point of view tokoh yang berbeda.
Sungguh it's amazing novel. Kita semua tahu bagaimana Belanda menjajah Negeri ini, kita semua tahu tentang tanam paksa, tapi tidak semua orang tahu bahwa betapa berharganya mutiara hitam di dalam bagian sejarah.
Inilah novel tentang sang mutiara hitam. Hitam, pekat, pahit yang menyelimuti seluruh rangkaian prosesnya dari memetik, menjemur, menumbuk, menyangrai, hingga akhirnya menyeduhnya menjadi coffee java.
Kisah kenikir dan khapi boleh dibilang sangat bias, mungkin hanya menjadi jembatan untuk Novel kedua. Semoga saja tidak perlu harus pergi ke perkebunan kopi untuk memetik buah kopi sendiri karena stok kopi sudah habis terlalu lama menunggu novel selanjutnya.
“Bagaimana sebuah tekad mampu mengantarkan seseorang pada sebuah perjalanan panjang?” Saya sangat suka dengan pembuka novel Babad Kopi Parahyangan ini menceritakan tentang para pelaut yang mengarungi banyak pelabuhan dari ujung ke ujung sehingga pengalamannya sangat banyak. Kemudian sang pelaut mendongeng dibuka dari pertempuran sengit sampai ke topik kopi dari parahyangan. Karim sangat antusias dan mencatat semua apa yang dia dapatkan dari pelaut tersebut. Disitulah petualangan Karim sesungguhnya dimulai, berbekal cerita dongeng dari sang pelaut dia sungguh-sungguh mencari keberadaan kopi di Parahyangan sambil memulihkan patah hatinya ditolak wanita terkasih. Saya pikir buku ini fokusnya bercerita mengenai sejarah lahirnya kopi atau bagaimana penanaman kopi di Parahyangan ternyata tentang tanam paksa. Sebagai pembaca kita akan diajak menjelajah tentang sejarah masuknya kopi, bagaimana pergantian kekuasaan terjadi dan juga bagaimana bisa awal mulanya kopi luwak itu dikenal. Masing-masing tokoh dalam bukunya memiliki peran penting dan rahasia yang menarik untuk ditelusuri. Hidup sebagai buruh petani kopi membuat Karim mengerti apa yang dirasakan oleh para petani sebelumnya. Banyak ketidakadilan terjadi seperti tempat tinggal tidak layak, makan ala kadarnya bahkan sampai penguburan layaknya hewan. Karim yang cerdik mulai memikirkan cara keluar dari keterpurukan. Kisah yang penuh manipulasi, perjuangan, balas dendam, keserakahan dan permusuhan semuanya jadi satu. Cukup kompeks memang namun penulis mampu menjabarkannya satu persatu. Bagi pecinta kopi saya rasa bisa lebih menghargai secangkir kopi saat menyeduhnya setelah membaca kisah perjuangan untuk bisa menikmatinya melalui bukunya.
Buku fiksi sejarah ke sekian yang aku baca dalam dua bulan terakhir, tapi sama sekali gak buat aku merasa bosan karena buku ini bagus banget. Betul, betul bagus.
Buku ini berkisah tentang Karim──seorang pemuda Minang──yang merantau ke pulau Jawa dengan mimpi untuk menjadi bandar dagang terbesar. Perjalanannya dari tanah kelahiran sampai dengan Parahyangan terasa begitu rumit, penuh cobaan tapi entah kenapa buat juga penasaran sekaligus dagdigdug takut-takut kalau Karim terus-menerus terkena cobaan.
Dari mulai patah hati, hilang perjaka, sampai dengan kembali jatuh hati tanpa sekalipun goyah akan mimpi, menurutku buat cerita buku ini mengalir terus. Di dalam buku ini juga seolah menggambarkan tekad besar orang Minang yang pantang menyerah.
Buku ini bukan sekadar berkisah tentang bagaimana pribumi yang menjalani kehidupan dibawah kekangan Kolonial Belanda, tapi buku ini juga seolah beri pandangan lain tentang bagaimana para penjajah buat pribumi justru saling serang, saling tusuk sampai dengan saling berkhianat. Jahat, memang. Belum lagi peliknya kehidupan sebagai petani tanam paksa buat buku ini meninggalkan rasa perih dan hati tersayat membayangkan bagaimana sulitnya kehidupan pada masa itu.
Dan dari buku ini Kak Evi menggambarkan segalanya dengan baik, jelas, sampai-sampai aku dibuat geleng-geleng kepala karena pedih, ngeri sampai dengan kesal. Buku ini menurutku sangat worth to read. Apalagi dengan latarnya yang berada di Parahyangan serta beberapa kutipan tembang dan bahasa Sunda yang cukup luwes buat buku ini kian menarik.
Sebuah kejutan menarik dan menyenangkan dari penulisnya. Kalau biasanya Evi nulis cerita berlatar remaja yang latarnya milenial, kali ini datang dengan konflik yang berat tapi tetap renyah dan enak untuk diikuti, selayaknya kita menikmati kopi. Perjalanan panjang sejarah kopi yang pahit diangkat dalam kisah roman yang melibatkan Karim dari Minang dan Euis seorang mojang Sunda.
Gaya tutur Evi juga terasa dewasa di sini, serasa membaca novel bergaya Melayu dengan narasi yang detil menarik kita seperti hadir bersama Karim dalam perjalanannya menemukan kopi dari Jawa pada saat itu. Semoga semakin banyak penulis muda di Indonesia yang punya minat dan keseriusans epeti Evi untuk menawarkan novel dengan gagasan yang unik seperti ini.
Baca buku ini seperti nostalgia dengan buku-buku Pram. Ada cara penyampaian dan penulisannya yang terkadang mirip, atau mungkin memang terinspirasi. Pada bab awal masih terasa seperti membaca buku sejarah, karena saking banyaknya informasi yang dibubuhkan. Tetapi cerita begitu mengalir setelahnya. Seperti dibawa masuk ke zaman tersebut dan ikut duduk menonton dengan mata kepala sendiri. Aku suka bagaimana Kak Evi membentuk karakter Euis, begitu kuat di tengah kelemahannya. Euis tidak dibentuk dengan kelemahannya, justru karena keras kepala dan kepintarannya. Keputusan-keputusan yang dibuat Euis tidak semata-mata karena ia ingin melarikan diri, tapi aku melihatnya sebagai usaha melindungi dan melawan. Begitu berani, juga bijaksana.
aku dapat buku ini pas beli lonely reader package dari post press dan kebetulan aku suka banget kopi kan wah jadi penasaran. pas baca wah bener ini buku bikin aku merinding bukuny ceritain tentang petualangan karim dalam mencari mutiara hitam di tanah parahyangan. setting bukunya di jaman belanda dan banyak cerita tentang kompeni dan tanam paksa dan banyak lainnya. fari buku ini juga belajar bahwa tekad dan mimpi akan terwujud selama kita berusaha dan jangan lupa kita harus tetap menjadi "manusia" .
Novel kentara betul ditopang dengan riset yang mendalam. Di tangan Evi, hasil riset itu terjalin menjadi hikayat kopi di tanah Parahyangan lewat tokoh Karim. Menarik bahwa novel ini menunjukkan dengan jelas wajah masyarakat saat itu yang menganggap kopi sebagai biang nestapa mereka. Adalah sesuatu yang berkekebalikan dengan anggapan Kompeni, sebab kopi senyatanya Mutiara Hitam. Kabarnya, novel ini menjadi pembuka dari semesta Kopi yang lebih panjang lagi. Ia akan menulis Tetralogi soal kopi. Menarik. Patut dinanti.
Suka banget sama buku ini!!! Latar sejarahnya dapet bgt feelnya, ceritanya bikin sedih terbayang petani di zaman Belanda dulu pada kasihan bgtt, baca ini berasa pengin coba kopi asli Jawa yang fenomenal di buku ini. Di akhir agak gak nyangka aja kalo kopi Jawa itu bakalan punah masanya karena terkena karat :(. Dan ternyata buku ini 1 dari tetralogi cerita ini, gak sabar utk baca yang berikutnya!!
Angkat topi dengan suara-suara perempuan yang dimenangkan. Misalnya, pada peristiwa Gang Mangga, ada suara laki-laki yang kalah oleh cinta. Suara perempuan lainnya tentu saja tokoh Euis. Dengan tegas memilih bersiasat merusak wajahnya. Tokoh pembantu rumah tangga yang berani menabur racun kepada Tuannya.
Naik turun kisahnya, padahal selain prolog dan epilog, cerita berjalan satu alur. Nyaris nggak ada klimaks sepanjang cerita. Sebagai fiksi berlatar sejarah penanaman kopi di tanah Sunda, fokus masih melebar.
Bagian epilog membuat buku ini menyisakan after taste kisah fantasi ~