Butuh waktu lama bagiku untuk menyelesaikan novel ini, premisnya menarik dan buat penasaran, mengangkat peliknya kehidupan para petani kopi di bumi parahyangan pada masa kolonial. Saat itu kopi adalah sebuah komoditas yang menarik hati orang eropa bahkan sampai disejajarkan dengan emas karena rasanya yang memikat, aromanya yang nikmat dan khasiat yang bermanfaar. Tak pelak lagi bahwa parahyangan dijadikan tempat perkebunan karena tanahnya yang subur dan menghasilkan kualitas kopi yang bagus.
Tokoh utama dalam novel ini bernama karim, seorang bujang berasal dari minang, kecintaannya terhadap kopi membuatnya berkeinginan menjadi bandar kopi ternama. Karena hasratnya itulah ia nekat merantau ke parahyangan. Namun sayangnya sesampainya di parahyangan karim malah terseret ikut dalam tanam paksa. Di sini lah praktik penindasan terhadap petani berkecambuk, mulai dari:
- Harus bekerja secara terus menerus sampai target kopi terpenuhi
- Tidak boleh menanam komoditi lain kecuali kopi akibatnya lahan garapan yang dimiliki petani tidak terurus
- Selain mengurusi perkebunan kopi, petani juga yang mesti mengantarkan hasil panen menggunakan pedati dan akses jalur yang dilewati tidak mumpuni
- Dan juga harga yang dipasang untuk sepikul kopi tidaklah begitu adil dengan jerih payah para petani.
Yang membuat saya suka dengan novel ini karena: Pertama, saya lumayan suka kopi dan ingin tahu bagaimana sejarah kopi di nusantara, barangkali dengan membaca novel ini bisa mengantarkan saya pada referensi bacaan lain. Kedua, saya suka latar waktu dan tempat yang bersetting di era kolonial karena di era ini begitu banyak peristiwa yang terjadi dan tidak saya ketahui semasa belajar sejarah di SMA dulu. Jadinya bisa dapat pemahaman dan perspektif baru. Seperti misalnya, penindasan terhadap kaum pribumi yang tidak saja dilakukan oleh belanda tetapi juga oleh kaum priyayi. Ironis sekali. Ketiga, saya suka dengan dialog antar tokohnya yang menggunakan bahasa melayu dan sunda. Yang mana bahasa melayu yang dipakai terasa nyastra dan puitis agaknya. Dan yang keempat, kerap kali disinggung mengenai jalan raya terpanjang di pulau Jawa Jalan Raya Pos dan karya fenomenal yang menggetarkan dataran Eropa yakni Max Havelaar karya Multatuli yang kiranya menambah poin plus dari novel ini.
Saya rekomendasikan novel ini bagi penyuka kopi dan peminat genre historical fiction, kiranya dengan membaca novel ini bisa mengantarkan teman-teman pada referensi lain agar dapat menambah wawasan mengenai sejarah kopi.
"Pada akhirnya kita hanya mampu melawan antar bangsa sendiri." ~ Raden Arya Kusumah Jaya