Jump to ratings and reviews
Rate this book

Lubang dari Separuh Langit

Rate this book
Novel ini bagi penulisnya adalah dunia dimana manusia memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam ususnya dan meledakkan dengkulnya menjelang tidur. Dunia yang terlibat dalam berbagai bentuk pencarian diri dari masing-masing tokoh yang hidup di dalamnya. Keinginan yang bisa menjerat saya ke dalam alur rumit hubungan dan keputusan-keputusan yang di ambil manusia.

152 pages, Paperback

First published January 1, 2004

5 people are currently reading
106 people want to read

About the author

Afrizal Malna

50 books70 followers
Pendidikan akhir Sekolah Tinggi Filsafat Dri-yarkara (tidak selesai).
Buku yang pernah terbit:

1. Abad Yang Berlari, 1984 (mendapat penghargaan Hadiah Buku Sastra Dewan Kesenian Jakarta, 1984)
2. Yang Berdiam Dalam Mikropon, 1990;
3. Arsitektur Hujan, 1995 (mendapat penghargaan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebu-dayaan RI, 1996).
4. Biography of Reading, 1995.
5. Kalung dari Teman
6. Museum Penghancur Dokumen, 2013

Karya yang terbit dalam antologi bersama:

1. Perdebatan Sastra Kontekstual (Ariel Heryanto, 1986);
2. Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (Linus Suryadi, 1987);
3. Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (Suratman Markasan, Kuala Lumpur, 1991);
4. Dinamika Budaya dan Politik (Fauzie Ridjal, 1991);
5. Traum der Freiheit Indonesien 50 jahre nach der Unabhangigkeit (Hendra Pasuhuk & Edith Koesoemawiria, Köln, 1995).
6. Ketika Warna Ketika Kata (Taufiq Ismail, et.all, 1995);
7. Pistol Perdamaian
8. Cerpen Pilihan Kompas 1996;
9. dalam Frontiers of World Literature (Iwanami Shoten, Publishers, Tokyo, 1997)
10. dalam bahasa Jepang; jurnal Cornell University (Indonesia, Ithaca, Oktober, 1996);
11. dan Anjing-anjing Memburu Kuburan, Cerpen Pilihan Kompas 1997.

Penghargaan lain yang pernah diperoleh:

1. Kincir Perunggu untuk naskah monolog dari Radio Neder-land Wereldomroep, 1981.
2. Republika Award untuk esei dalam Senimania Republika harian Republika, 1994.
3. Dan esei majalah Sastra Horison, 1997.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
22 (28%)
4 stars
23 (30%)
3 stars
21 (27%)
2 stars
9 (11%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 17 of 17 reviews
Profile Image for Ellena.
21 reviews8 followers
September 12, 2012
Tulisan-tulisan Afrizal Malna menciptakan pengalaman penjelmaan rasa-rasa di tiap aksara, kata yang berdiri sendirian namun penuh keutuhan. Membebaskan diri dalam membaca Afrizal Malna seperti membiarkan diri menjelma dalam benda benda yang dimaksudkan untuk bereksistensi (atau mempertegas eksistensi manusianya?). Membaca seperti sedang melebur dengan semesta.
Sungguh menarik untuk tenggelam dalam Lubang dari Separuh Langit. Jika sebelumnya saya mengenal Afrizal Malna lewat Teman-Temanku dari Atap Bahasa yang menciptakan refleksi realitas lewat penjelmaan ke dalam setiap benda melalui interpretasi prismatis dari puisi-puisinya, Lubang dari Separuh Langit menamparkan realitas itu lewat penjelmaan bukan hanya ke dalam benda-benda, tapi juga ruang, waktu, hingga manusia. Si 'aku' yang berlompatan dalam narasi yang bertumpang tindih menarik pembaca untuk mengikuti penjelmaan segala kondisi tentang realitas sosial dari kelompok masyarakat marjinal, yang selama ini hanya menjadi tontonan di televisi. Hiperealitas begitu lentur memproyeksi realitas dalam tatanan yang rasa yang saling bertabrakan. Kondisi hidup yang didominasi ketidakadilan ditelanjangi sepanjang tulisan, begitu detil dan menyakitkan; tapi di sisi lain, celah-celah puitik hadir menjarakkan tuntutan keadaan itu ke dalam tuntunan rasa yang nisbi.

Hal lain yang menjadikan Lubang dari Separuh Langit menarik adalah titik tolak Afrizal yang memposisikan perempuan-perempuan seolah menjadi sentral perspektif, seperti 'Aku' pada bagian awal buku yang 40 tahunnya dihabiskan sebagai lelaki lalu terbangun menjadi perempuan. Atau penuturan lewat Candi tentang Neneng, tentang ibu-ibu yang progresif untuk mempertahankan kehidupan lewat aksi-aksinya. Seolah terangkum apa yang Afrizal sebutkan dalam satu kalimat: "Revolusi akan datang dari para perempuan yang mengeluarkan api dari rahimnya."

Lubang dari Separuh Langit adalah tuturan yang luar biasa, sebab ia tak hanya mencatat, namun juga menjerat pembaca untuk terlibat dalam kehidupan yang dituturkan itu: realitas yang begitu lekat dalam keseharian - realitas yang bukan fiksi namun begitu berjarak di masa sekarang ini. Lubang dari Separuh Langit seperti kekecewaan yang ditumpahkan dengan puitik (meski di bagian akhir, kekecewaan itu menjadi jauh lebih puitik dengan paparan kalimat yang gamblang, tanpa metafora) tentang hukum, negara, perang kelas, perempuan-perempuan dan tubuhnya yang menjadi korban segala kekuasaan lewat pelacuran dan perkosaan, anak-anak jalanan - tentang kehidupan.

Jika lubang menjadi sebuah jawaban (baik lubang, sebagaimana ia akan mengeluarkan api yang berasal dari rahim perempuan yang akan mendatangkan revolusi; maupun lubang sebagai sebuah ngangaan), Lubang dari Separuh Langit begitu apik mengeruk lubang besar di diri saya sebagai pembaca, yakni sebuah lubang kepahitan tentang realita sosial itu, juga upaya untuk menutupinya. Mungkin dengan "potongan kuku untuk membuat sebuah kampung halaman."
Profile Image for Ragil Suprapto.
16 reviews7 followers
August 12, 2018
Jujur saya kurang memahami alur dan detail ceritanya. Tapi Afrizal memang selalu meminta untuk dinikmati saja semua ceracaunya. Dan saya sangat menikmatinya.
Profile Image for Asri Pratiwi Wulandari.
22 reviews8 followers
July 28, 2020
Awalnya memilih buku ini karena sudah lama tertarik baca karya Afrizal Malna, dan premis cerita tentang kampung kota juga selalu menggugah minat saya. Karya ini kaya dengan metafora, terutama metafora mengenai tubuh, serta ledakan pemikiran si penulis mengenai penggusuran kampung. Sesungguhnya ada konsep dan emosi yang terasa baru bagi saya, yang saya temui di dalam cerita, tetapi ada juga ada berbagai pemikiran mengganggu, terutama mengenai ketubuhan perempuan, yang tak bisa saya terima. Tidak bisa bilang suka, tapi tidak berarti tidak akan membacanya lagi. Bikin dilema.
Profile Image for htanzil.
379 reviews150 followers
July 7, 2009
Afrizal Malna dikenal sebagai seorang penyair terkemuka Indonesia yang puisi-puisi, prosa dan essai-essai seninya telah diterbitkan, selain itu ia juga banyak menulis teks pertunjukan teater, dan aktif mengikuti berbagai kegiatan seni baik di dalam maupun luar negeri. Kini Ia bergabung dalam kegiatan Urban Poor Consortium (UPC) yang dikomandoi oleh Wardah Hafid.

Novelnya kali ini menceritakan seorang pria yang telah menjalani kehidupannya selama 40 tahun dan memiliki kegemaran mengumpulkan potongan kukunya dalam sebuah stoples. Suatu ketika pria tersebut tiba-tiba berubah menjadi seorang wanita. Dengan tubuh barunya tersebut ia tinggal di dekat perumahan kumuh disebuah bantaran sungai. Kehidupan di sekitarnya membuat dia menyaksikan realita yang dialami penduduk miskin di sekitar tempat tinggalnya.

Novel ini sarat dengan gambaran ketakberdayaan masyarakat miskin kota dan kritik sosial sehingga membuat pembaca dapat mengetahui apa yang sebenarnya dialami dan dirasakan lapisan masyarakat bawah yang selalu ‘kalah’ tapi tak pernah menyerah berjuang untuk mempertahanka hidupnya.
Profile Image for Fandy Hutari.
Author 10 books13 followers
October 5, 2012
Nah, ini salah satu novel "tergoblog" yang pernah saya baca. Dapat rekomendasi dari temen Sastra Indonesia UPI Bandung, yang waktu skripsi meneliti novel ini. Bercerita tentang satu tokoh yang "dipecah" menjadi beberapa karakter (tokoh), saling berdialog dan terlibat konflik masing-masing.
Profile Image for Tria Nin.
6 reviews12 followers
January 7, 2011
Di dalam novel ini , novel adalah dunia dimana manusia seperti memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam ususnya dan meledakkan dengkulnya menjelang tidur -Afrizal Malna- , Mengagumkan :)
Profile Image for dini.
247 reviews1 follower
September 7, 2020
sumpah menangis banget bukunya keren banget gila 😭😭 di bukunya ada cerita tentang becak dimana gila itu relate banget sama saat ini dimana banyak mata pencaharian yang ilang gara2 adanya campur tangan dari yang berkuasa bahkan kadang yang berkuasa tutup mata ga lihat yang di bawah 😭😭 terus gila keren banget bab akhir yang dari sudut pandang candi ga mau banyak cerita takut spoiler tapi yang pasti bukunya rekomendasi banget 😭😭 gila belum bs move on😭😭
Profile Image for Manshur Zikri.
3 reviews1 follower
May 11, 2019
Ceritanya membuat saya mengernyit daripada membuat saya mangguk-mangguk. Di satu sisi, ada kesan seperti narasi-narasi surealistis, dan cukup cerewet dengan isu-isu politik mutakhir, tapi metafora-metafora yang dinarasikan berkisar pada hal-hal ketubuhan. Baru pada novel Afrizal Malna saya mengetahui bahwa tempurung kakimu bisa menjadi penjara dan lubang pada perut atau dadamu bisa menjadi peta.
Profile Image for Aliff Awan.
Author 6 books19 followers
February 7, 2020
Idea menarik, tapi garapan Afrizal tidak berapa menerujakan.
Profile Image for Ruhadyan.
8 reviews
May 12, 2013
Beberapa minggu yang lalu, aku bertemu sebuah makhluk. Yang berkepala polos seakan pohon-pohon lebat enggan menghijaukan kembali bukit gersang itu. Makhluk itu bernama Afrizal Malna. Seorang penyair yang juga penulis dari novel yang sedang kubaca saat ini, Lubang dari Separuh Langit. Begitu kubuka halaman pertama, kepalaku dan isi di dalamnya serasa ditonjok bertubi-tubi oleh Afrizal- karena aku mengata-ngatainya tadi, mungkin, dengan diksi-diksi rumit bin njelimet sebagai narasi ceritanya.

Aku pikir, kebiasaan seorang penyair dalam mengutak-atik kata menjadi alunan lagu yang indah bernama sajak sering kali terbawa dalam tulisan di luar persajakan. Sebut saja novel atau cerpen misalnya. Afrizal pun begitu. Novelnya sendiri sebenarnya sederhana ceritanya. Tentang kehidupan orang-orang di kampung bantaran sungai. Tentang lika-likunya yang sering kali luput oleh mata orang kota, karena ketutupan kacamata hitam mereka. Yang dibawakan oleh tokoh-tokoh seperti Candi, Neneng, Salim, Jejak, Bayang, Sarpan, juga satu tokoh unik di mana merupakan Afrizal sendiri yang masuk ke dalam cerita novel dalam wujudnya yang ‘nyata’ dan bisa bercakap-cakap dengan tokoh-tokoh novelnya sendiri. Afrizal sendiri memakai nama Bayang besar sebagai identitas novelnya.

Tapi, apa sesederhana itu? Tidak. Afrizal menggali dalam dan begitu dalam cerita ini, sehingga banyak hal yang tadinya gak terpikirkan olehku, menjadi bahan yang mengisi pikiran saat membacanya. Dan, selang berpuluh-puluh halaman, aku menemukan sebuah keasyikan dalam membaca novel ini. Banyak diksi yang menuntutku membuat gundukan tanah berderet-deret di dahiku. Disertai gelombang-gelombang laut yang meluluhlantakkan gundukan tanah di dahiku yang baru kubuat. Contohnya saja dari judul novelnya, Lubang dari Separuh Langit. Awalnya aku tidak paham. Dan setelah baca, sungai deras dari otak Afrizal mengalir ke samudra pikiranku. Oh, ternyata ini maksudnya. Atau oh, maksudnya itu toh. Kata-kata demikian yang terlontar saat aku menafsir diksi-diksi rumit khas Afrizal itu.

Secara keseluruhan, cerita dalam novel ini cukup biasa kalau tidak memakai diksi yang khasnya Afrizal. Dan berkat hal itu pulalah, keasyikan mulai tumbuh di dalam tubuhku, untuk menggali sedikit demi sedikit maksud Afrizal di balik novelnya ini. Ya, cukup berhasil. Berhasil untuk membuat roda-roda yang diselimuti debu dan jaring laba-laba di ruang bawah atap rumahku, untuk berfungsi kembali, bekerja keras pada hakikatnya. Dan sungguh, ini suatu hal yang mengasyikkan!
Profile Image for upiqkeripiq.
79 reviews4 followers
August 16, 2013
selalu menyenangkan membaca novel yang ditulis oleh seseorang yang lebih terkenal karena menuliskan puisi. hasilnya bisa prosa dengan bahasa yang puisi atau puisi dengan wujud yang prosa. entahlah, seorang mahasiswa jurusan komputer seperti saya tidak begitu paham teori tentang sastra dan bahasa indonesia. yang bisa saya lakukan cuma jadi penikmat yang tidak banyak omong. saat membaca novel ini saya bisa menjalankan tugas menikmati itu dengan cukup baik. :)
Profile Image for Kholid.
6 reviews21 followers
September 1, 2013
sebuah jalan untuk masuk, lalu menjelma jadi aku
Profile Image for Pris.
451 reviews38 followers
October 16, 2015
Surreal + kritik sosial yang tajam + bahasa estetik. Suka banget.
Displaying 1 - 17 of 17 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.