di sana, ada cita dan tujuan yang membuatmu menatap jauh ke depan di kala malam begitu pekat dan mata sebaiknya dipejam saja cintamu masih lincah melesat jauh melampaui ruang dan masa kelananya menjejakkan mimpi-mimpi
lalu disengaja malam terakhir engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu melanjutkan mimpi indah yang belum selesai dengan cita yang besar, tinggi, dan bening dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati
teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang menebar kebajikan, menghentikan kebiaaban, menyeru pada iman walau duri merantaskan kaki, walau kerikil mencacah telapak sampai engkau lelah, sampai engkau payah sampai keringat dan darah tumpah
tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum di jalan cinta para pejuang
Salim A. Fillah adalah seorang penulis buku Islami dari Yogyakarta, Indonesia. Hingga 2014, ia telah menulis beberapa buku, 'Agar Bidadari Cemburu Padamu' (2004), 'Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan' (2004), 'Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim' (2007), 'Jalan Cinta Para Pejuang' (2008), 'Gue Never Die' (2006), 'Barakallahu Laka: Bahagianya Merayakan Cinta' (2005) dan 'Dalam Dekapan Ukhuwah' (2010), Menyimak Kicau Merajut Makna (2012), dan Lapis-Lapis Keberkahan (2014). Buku-buku ini diterbitkan oleh Pro U Media, dan telah menjadi best-seller. Karya terbarunya, Lapis-Lapis Keberkahan, harus masuk cetak ulang hanya 3 hari sesudah diluncurkan, 13 Juli 2014.
Jikalau ada sepuluh bintang untuk memberi makna dari segi markah akan hasil sesebuah penulisan, pasti buku ini adalah buku pilihan saya untuk mendapatkan 10 bintang itu. Di dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang ini, Ustaz Salim A. Fillah telah menggarap maksud pejuang secara menyeluruh sekali. Dan satu bonus juga bagi para pembaca kerana garapan ini dibuat dengan bahasa yang sangat indah dan berseni, seindah kisah nama-nama manusia yang dicoretkan di dalam buku.
Bermula dengan perbahasan mengenai definisi cinta menurut pandangan dunia barat seperti Romeo, epic Laila dan Majnun, serta teori-teori Saintifik hasil kajian para ilmuan, beliau membawa kita perlahan-lahan merungkai dari mana datangnya cinta yang begitu agung iaitu Cinta kepada Pencipta yang bahkan lebih hebat dari kecanduan cinta sesama manusia.
Pada bahagian kedua iaitu dinamakan langkah kedua Ustaz Salim turut membincangkan tentang kekuatan yang ada pada pemberian makna yang membezakan cara kita melihat sesuatu situasi. Bahagian ini bagi saya, antara bahagian yang saya gemari kerana ianya mengingatkan saya bahawa kita semua punya keterbatasan yang sama iaitu, keterbatasan dalam takdir. Kita berusaha selayaknya tetapi takdir itu adalah limit kepada jalan cerita yang kita coretkan. Namun, kita kadang-kadang lupa, kita masih punya satu kebebasan, tidak kira di dalam situasi apapun, tak kira dibawah takdir apa sekalipun, iaitu kebebasan memberi makna kepada takdir yang berlaku itu sendiri. Jika berbaik sangka, manislah takdirnya, tetapi jika buruk sangka, terpaksalah menelah kepahitan itu.
Buku ini juga dihiasi dengan coretan sirah Rasulullah saw, kisah sahabat-sahabat Rasulullah dalam berjuang menegakkan islam. Masing-masing melakukan sesuatu untuk menegakkan agama dalam erti kata perjuangan walaupun kadangkala lorong perjuangan itu tidak sama. Kesemua kisah ini sangat meruntun hati, namun memberi sejenis perasaan bersulam kekuatan untuk tidak lelah dan kalah dalam berjuang meninggikan agama Allah. Tiupan nafas perjuangan ini juga sangat kuat terutamanya apabila hikmah-hikmah disebalik Kisah seperti ketabahan Nabi Ibrahim dan keluarganya, Ummu Sulaim dan lain-lain dicungkil secara kritis.
Salim tidak hanya menyelitkan kisah-kisah ini secara total, sebaliknya dikaitkan dengan misi perjuangan generasi pertama dan lain-lain generasi termasuk kita pada hari ini. Inilah yang menjadikan buku ini istimewa dan sangat sesuai untuk mereka yang sama ada sudah berjiwa pejuang atau mahu mencambahkan jiwa pejuang di dalam nurani masing-masing.
Akhir kata, buku ini bukan sekadar buku biasa yang membawa kita mengembara di satu daerah, kemudian kembali ke tapak asal tanpa apa-apa beza, sebaliknya menarik kita ke satu zaman, satu era, satu dunia yang asing di mata, cinta adalah segala-galanya, Cuma bezanya, ini cinta pada yang Esa.
Fikirku ia adalah sebuah buku tentang para pejuang di jalan cinta Illahi. Tetapi lebih dari itu, ia adalah sebuah buku tentang apa itu, siapa itu dan bagaimana jalan cinta para pejuang itu sebenarnya. subhanallah. ada waktu-waktu aku ternganga mendapati kisah-kisah hebat para sahabat; kagum dan terasa amat jauh bagi diri yang mengaku pejuang di jalan-Nya.
permulaan bab banyak mengambil contoh-contoh dari karya-kaya agung psikolog barat, pun begitu sebagai perbandingan. membuatkan aku pantas mengingat kembali syarah-syarah guruku sewaktu belajar pskologi dan psikiatri di tahun2 awal pengajian.
di setiap bab, ada banyak benda baru dan erti baru yang bisa diambil belajar. cuma kadang-kadang akan mendapati diri payah menangkap maksud dan menyimpannya kemas-kemas dalam benak otak. samada bahasa indonesianya atau penyampaiannya yang laku bersahaja. tetapi setelah dapat memahami dengan baik, InshaAllah akan membawa terkesan dalam diri.
selalu ada cara, bagi para pejuang menemukan cinta nya.. dimulai dari kisah roman pisican ala laila dan majnun, Salim A fillah menuliskan bagaimana umat terdahulu menemukan cinta nya yang berliku, penuh haru bahkan terlihat bodoh sekalipun...
tidak lain, itu adalah karna keterbatasan manusia dalam mencari Cinta Hakiki nya, yaitu Tuhan nya :)
seperti biasa, kata2 Salim A Fillah selalu mengagumkan. Indah tanpa menggurui. Buku ini 'menyentil' keikhlasan kita, dalam perjuangan dalam ranah apapun, dan DIA menjadi alasan atas segala perjuangan itu.
Buku Salim A Fillah selalu membugar cara saya melihat hal. Cinta itu, sebagaimana secara lebih segar mampu dilihat.
Antara hal yang saya simpan untuk hal sendiri adalah tentang istikharah. Kata Ustaz Salim A Fillah, istikharah ini bukan semata tentang kita diberi Allah atau tidak diberi oleh-Nya, tetapi istikharah adalah bagaimana Allah menyampaikannya kepada kita; Adakah Allah mencampakkan kenyataan (meski manis) itu dengan kasar atau perlahan mengalirkan kenyataan (meski pahit) untuk kita?
Istikharah adalah soal keberkatan.
Lain hal yang membugar rasa adalah kala ditulisnya betapa kita ini semua milik Allah. Kala Salman al-Farisi ditolak lamarannya bahkan yang dipilih si gadis adalah sahabatnya yang menjadi wakil, dia bahkan senang dan meredhai.
Ah, betapa kita ini miliknya cuma Allah. Kita pun tidak bisa memiliki selain untuk Allah jua. Kala dibaca ayat-ayat Ustaz Salim, hati menjadi sejuk. Kalaupun kita ini tidak bisa memiliki, nyata ia tidak begitu perit kerana kita tahu jika halnya untuk Allah, maka semuanya akan jadi baik.
Buku Salim A Fillah belum gagal buat saya habiskan pembacaan dengan kelesuan. Sebenarnya buku dan tulisan Ustaz Salim memang membantu saya akhir-akhir ini. Menyampaikan harapan untuk tuntas, ya, katanya manusia, memang rebah dan bangkitnya kadang sesaat pun tidak terjarak.
Habis dibaca Alhamdulillah di tengah malam yang sudah tidak dipanggil 'malam' melainkan 'pagi'.
mengambil hikmah dari cerita salman al Farisi dan Abu Darda(salah satu cerita dalam buku ini); Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah. Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan.. Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis..
This entire review has been hidden because of spoilers.
The more I read it, the more I fell in love with this book, can't believe I actually finished reading it today alhamdulillah. A very good book, especially when you started to familiarize with Salim A Fillah's style of writing. I highly recommend people to read the preface first, for me its important in order to understand the flow of this book. I wonder how many books has he read, and how he managed to include a LOT of stories and references from sirah as well as modern books in his writing, mashaallah. A number of time I found myself nodding in agreement of the points, slapped by his words, shed tears, think and reflect, laughed.
At the end of the day, words will remain words without amal.
Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.
Buku ini ibarat mind setting dan motivation untuk mereka yang ingin melangsungkan perkahwinan. Mungkin orang yang berada di jalan TnD boleh memahami dengan baik.
Ada satu teori yang menarik dalam buku ni. Teori ni ciptaan seorang psikologis barat - Triangular Theory of Love. (Sila google)
Commited - Passion - Intimacy
Ah, saya tak banyak masa untuk taip panjang-panjang. Anda beli dan bacalah!
seperti judulnya, buku ini ditulis dengan cinta. sangat terlihat dari penulisannya beliau. Dan ternyata banyak arti cinta disini, bukan cinta layaknya Layla Majnun dan Qais, jauuuuuhhhh lebih dari itu makna cinta yang sesungguhnya. Masha Allah ga akan ga nangis baca buku ini.
Buku ini terdiri dari 3 langkah, langkah ketiga dibagi menjadi 4 tapak.
Langkah pertama: dari dulu beginilah cinta, akar sesat pikir dalam cinta yang menyengsarakan jiwa. Langkah kedua: dunia kita hari ini, bingkai jalan cinta. Langkah ketiga: jalan cinta para pejuang, 4 mata cinta.
Dalam buku ini banyak sekali kutemui syair-syair indah diantaranya:
Yang paling indah ketika manusia beramal shalih karena seruan dan ajakan kita hingga pahalanya terus mengalir menjadi bekal bertemu Allah.
Cinta berjalan di hadapan kita dengan mengenakan gaun kelembutan. Tapi sebaian kita lari darinya dalam ketakutan, atau bersembunyi dalam kegelapan. Dan sebagian yang lain mengikutinya untuk melakukan kejahatan atas nama cinta. [Kahlil Gibran]
Aku tidak tertarik siapa dirimu, atau bagaimana kau tiba disini. Aku ingin tahu apakah kau mau berdiri di tengah api bersamaku dan tak mundur teratur. Aku tidak tertarik dimana atau dengan siapa kau belajar. Aku ingin tahu apakah kau bisa sendirian bersama diriku dan apakah kau benar-benar menyukai temanmu disaat-saat hampa. [Jean Houston, A Passion For The Possible]
Di hutan, kulihat 2 cabang jalan terbentang. Kuambil jalan yang jarang dilalui orang. Dan itulah yang membuat segala perbedaan. (Robert Frost, The Road Not Taken)
Kata siapa cinta itu melulu murni tentang perasaan mendayu-dayu yang tidak pantas dalam syariat? Cobalah baca buku ini dan kita akan terhanyut dalam penuturan Salim A. Fillah tentang kalimat cinta yang selama ini diindahkan orang-orang. Jalan Cinta Para Pejuang. Bahwa cinta bukanlah sesuatu hal yang hanya berkisar tentang perasaan merah jambu yang kini sering diobral dengan murahnya.
Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka. Melampaui batas cinta dan benci. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas.
Tetapi yakinlah di jalan cinta para pejuang, Allah lebih tahu tentang kita, Dan Dialah yang akan menyutradarai pentas kepahlawanan para aktor ketaatan. Dan semua akan berakhir seindah surga. Surga yang telah dijanjikanNya…
Kisah yang banyak bersetting ketika zaman sahabat-sahabat Nabi ini bener-bener mengajarkan bagaimana seharusnya seseorang yang mempunyai visi dan misi besar di jalan Islam mengaplikasikan cintanya.
Dengan gaya bahasa yang indah, Salim A. Fillah benar-benar bisa membuat saya terhanyut dengan kisah-kisah di dalamnya.
Membaca buku ini seperti mengalami sendiri tiap kisah yang ada di tiap bagiannya.
"...karena cinta bukan sekadar pelukan hangat, belaian lembut, atau kata-kata penuh dayu. Kita belajar apa itu cinta dari apapun yang ada di muka bumi. Dari cahaya matahari. Dari sepasang merpati. Dari sujud dan tengadah doa. Dari kebencian musuh, dari dengki dan iri para lawan. Dari ketidaktahuan orang yang ingkar, dan degilnya pikiran si munafik. Dari apapun! Karena inilah jalan cinta para pejuang...."
Jika kita menghijrahkan cinta: dari kata benda menjadi kata kerja, maka tersusunlah sebuah kalimat peradaban dalam paragraf sejarah. Jika kita menghijrahkan cinta: dari jatuh cinta menuju bangun cinta, maka cinta menjadi sebuah istana, tinggi menggapai surga
"Jadikan cintaku Ya Allah Berhenti di titik ketaatan Meloncati rasa suka dan tak suka
Karena aku tahu, mentaatiMu dalam hal yang tak ku sukai Adalah kepayahan, perjuangan, dan gelimang pahala Karena seringkali ketidaksukaanku, hanyalah bagian dari ketidaktahuanku"
Salah satu buku yang sangat bagus menurutku, kata-katanya mengalir indah tapi tidak membuai. Banyak pelajaran yang bisa didapat dari setiap bagian di buku ini.
Dibandingkan analisa teori tertentu, saya lebih suka jika Salim A. Fillah bercerita mengenai kisah-kisah inspiratif sahabat atau tafsir Alquran. Rasanya lebih jleb. Hehe
Ini adalah buku pertama yang saya beli dengan uang hasil PKL semasa SMK. Saya sudah mengincar buku ini sejak kali pertama saya mencari tahu buku-buku karya Salim A. Fillah. Alasannya sederhana, karena buku ini membahas tentang cinta. Yah, sebuah alasan yang mencerminkan jiwa merah muda ala anak remaja.
Namun, ternyata isinya sungguh luar biasa. Saya sangat terkesan dengan bagaimana penulis menjabarkan sudut pandangnya tentang cinta. Tentunya sebagaimana buku karya Salim A. Fillah lainnya yang dikemas dengan diksi indah nan puitis, buku Jalan Cinta Para Pejuang ini pun demikian. Selain itu, pembahasan tentang cinta yang ditawarkan buku ini bukanlah cinta sebagaimana yang dipikirkan oleh anak muda zaman sekarang. Bukan cinta yang menye-menye, bukan cinta yang menjadikan seseorang budak cinta, bukan pula cinta yang melemahkan. Namun sebaliknya, sudut pandang yang hendak ditawarkan tentang cinta adalah cinta yang menguatkan, cinta yang abadi, cinta yang tidak menjadikan kita budak melainkan majikannya.
"Inilah kami yang bebas dari penyakit cinta. Karena kamilah majikannya. Kami bukan budak cinta!" Mereka yakin, jalan cinta ala Qais dan Romeo sungguh tak cukup untuk menghadapi zaman ini sebagai manusia utuh.
Di masa sekarang, kita kerap menemukan banyak karya fiksi yang meromantisasi sesuatu dengan begitu mudah dan indahnya, bahkan pada hal-hal yang tidak seharusnya. Melalui buku ini saya mulai menyadari arti cinta yang sesungguhnya. Bahwa cinta adalah sebagaimana emosi lainnya, merasakannya bukanlah dosa, tetapi cara mengekspresikan emosi itulah yang kelak kita akan ditanya.
Definisi cinta yang dibahas dalam buku ini bukan saja tentang romansa antara dua lawan jenis manusia, ada juga pembahasan cinta pada Allah, cinta pada Rasulullah, rasa cinta dalam ikatan ukhuwah antar sesama muslim. Intinya, buku ini sangat cocok dibaca oleh anak-anak muda yang tengah dimabuk cinta, agar bisa lebih memahami hakikat cinta dan tentunya tidak terjerumus menjadi budak cinta.
Cinta itu, mata airnya adalah niat baik dari hati yang tulus Alirannya adalah kerja yang terus menerus (Hal. 184)
Buku ini membedah kata 'cinta' yang membuat saya menemukan perspektif baru, bahwa cinta itu jika diartikan kata kerja, maka ia bergerak, mengalir, menjadi jalan dan semangat juang yang memberikan makna, dan itu semua bermuara pada kecintaan kita kepada Allah dan berhilir menjadi hamba yang muhsinin di jalan dakwah.
Bab pertama buku ini Ustadz Salim membahas tentang cinta yang keliru dan menyengsarakan jiwa yang disebabkan oleh sesat pikir dan pandangan yang salah tentang cinta, seperti kisah Layla Majnun dan Romeo & Juliet, keduanya berakhir tragis. Bab kedua tentang definisi cinta yang berkembang seiring zaman dan bagaimana kita sebagai seorang muslim ikut turut serta tapi tidak terjerumus. Dan bab ketiga adalah ikhtiar mendefinisikan cinta yang diuraikan menjadi 4 bab yaitu Visi, Gairah, Nurani, Disiplin.
Di bagian tapak Visi, kita akan diajak menjernihkan visi/pandangan ideal jangka panjang tentang cinta. Di tapak Gairah, kita mengupayakan visi dengan gairah agar lebih hidup. Di tapak Nurani kita mencoba untuk mendengarkan dan jujur pada hati kita. Dan di tapak Disiplin, kita melatih taat pada apa yang tak kita sukai.
Gaya bahasa Ustadz Salim yang halus, lincah dan berani, bukan hanya mengajarkan tapi juga menyadarkan saya makna cinta dan perjuangan yang sesungguhnya. Dengan piawai memadukan kisah dan hikmah, lalu mengaitkannya dengan konteks dan konsep yang ingin beliau sampaikan kepada pembaca.
Selain kisah-kisah penuh hikmah, Ustadz Salim juga banyak mengutip dari penulis Barat seperti Malcolm Gladwell, Sigmund Freud, Victori E. Frankl dll sebagai pelengkap teorinya.
Di akhir bab banyak tertulis kalimat "di jalan cinta para pejuang..." seakan mengajak pembaca untuk sadar, ambil bagian, dan ikut serta dalam tugas mulia para rasul yaitu dakwah, yang tentu didasari dengan cinta.
Rada-rasanya akan baca ulang terus buku ini karena isinya adalah kisah-kisah hikmah yang bisa dibaca kapanpun saat merasa iman turun.
Bismillahirrahmaanirrahiim Jalan cinta para pejuang, sekali lagi buku salim a fillah menjadi salah satu buku yang menyentuh dengan lembut jauh ke sanubari. Sebenarnya sudah dari awal buku ini keluar, aku ingin membacanya, namun baru sekarang terealisasikan.
Salim a fillah, jika dia bicara cinta rasanya tak ada mata hati yang tak tergugah dengan gaya bahasa yang beliau bawa. Halus dan penuh pesona. Tak hanya mengajarkan namun menyadarkan.
Dalam buku ini Salim a fillah akan memaparkan cinta lebih runut dan mendalam. Menjadikan bahasan cinta tidak hanya biasa-biasa saja, namun menjadikannya sesuatu yang beda, dengan cita rasa ‘Perjuangan’.
Bagaimana buku ini ditulis diawali dengan bab membahas cinta itu sendiri dalam kacamata lama yang masih sering kita gunakan hingga hari ini, dalam bab Dari Dulu beginilah Cinta. Dan dilanjutkan pada bab Dunia Kita hari ini, hingga bab ketiga menjadi inti sari Jalan Cinta para pejuang. Pada ketiga ini akan dibagi dalam empat tapak, yakni : Visi, gairah, Nurani, dan Disiplin. Membaca buku ini berulang kali, ataupun melompat-lompat pada bab yang kita inginkan menjadi hal yang tak bermasalah, karena sekali lagi, Salim a fillah selalu bisa membuat tulisannya berkomunikasi dengan pembaca.
Cinta menjadi rumit ketika salah diterjemahkan. Bukan dalam bentuk pendefinisian yang begitu banyak bermunculan oleh setiap orang. Sebagaimana menurut Erich Fromm memandang bahwa percintaan adalah bentuk produktif antara diri sendiri dengan orang lain. Bagi Erich cinta mencakup tanggungjawab, perhatian, rasa hormat dan pengetahuan serta hasrat agar yang kita cintai tersebut dapat tumbuh dan berkembang. Lajut Erich Fromm, bahwasanya cinta adalah ungkapan kemesraan antara dua insan dalam keadaan saling menjaga integritas. Intinya dalam pandangan Fromm ini, cinta itu adalah tugas indah. Namun bagi seorang abraham maslow dalam Hierarchy of needs, cinta mengandung aspek kegembiraan, keceriaan, kesenangan, perasaan sejahtera dan kenikmatan. Tentu saja keduanya mencakup apa-apa yang ada di dalam cinta. Tak ada yang salah dalam menerjemahkan cinta. Lalu apa yang salah?, seringkali yang salah adalah kita yang memperlakukan cinta, memandangnya sebagai sinonim dari keinginan menguasai dan memiliki. Mungkin perlulah kita selami kalimat indah dari Anis Mata dalam serial cintanya, bahwa “Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah, maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya, pengejawantahan cinta yang paling hakiki : selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang yang kita cintai”. Yak, disini cinta didefinisikan sebagai memberi bukan memiliki atau meminta. Seringkali kita merasa sakit karena posisi jiwa kita yang salah dalam melihat cinta itu sendiri.
Cinta bagi para pejuang adalah bagaimana bangun ketika bermimpi dan mewujudkannya dalam alam nyata, cinta bagi para pejuang bermodalkan visi yang dibuat secara sadar, sadar akan diri yang seorang muslim yang menjadi rahmat semesta alam, cinta dijalan para pejuang adalah keberanian memilih dalam ketakwaan yang membawa kebarokahan, cinta dalam jalan pejuang adalah wadah berisi visi-visi besar untuk kejayaan agama Allah, cinta di jalan para pejuang adalah ketika cita tak merasuk menjadi nafsu, dijalan cinta para pejuang tak ada visi dan tujuan yang tak jelas, di jalan cinta para pejuang penuh rencana kebaikan dan membiarkan Allah yang lanjut menentukan, di jalan cinta para pejuang selalu ada gairah yang membangkitkan bukan merusuhkan, gairah surga. Cinta di jalan ini, jalan cinta para pejuang selalu kita diajarkan untuk bertanggungjawab dengan setiap perasaan kita, di jalan cinta para pejuang Cinta akan selalu menjelma menjadi kata kerja dan membiarkan segala kerja cinta dalam refleksinya pada amal shalih kita menjadi imam akan perasaan hati. Di jalan cinta para pejuang kita sadar sesadarnya bahwa semua yang kita cintai, semua yang pernah ada bersama-sama di jalan ini hanyalah titipan dari Allah yang suatu hari akan kembali pula padaNya, Di jalan cinta para pejuang cemburu menjadi letupan gairah yang padanya kita belajar namun bukan untuk cemburu itu sendiri. Cinta di jalan para pejuang nurani menjadi kawan pada hatihati yang mensuci, di jalan ini, jalan cinta para pejuang kita melestarikan nilai-nilai nazhar, melihat, berbaik sangka pada Allah menjaga pandangan dalam batas-batas dan selalu mencari hal yang menarik bukan sebaliknya, di jalan cinta para pejuang yang terpenting bukanlah seberapa banyak engkau tahu, tapi bahwa engkau mengetahui yang memang bermakna bagimu, di jalan ini sudah semestinya kita hanya melihat keagungan iman, menyadari sepenuhnya Allah selalu bersama kita. Cinta bagi pejuang akan mampu merantas segala logika jahili dengan nalar iman yag terus bekerja. Di jalan cinta para pejuang berbakti pada Allah dalam kerja-kerja da’wah dan jihad, menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban, menyeru pada iman. Berjalan di jalan cinta para pejuang artinya menyadari seutuhnya bahwa ikhlas pun adalah sebuah perjalanan yang terus berproses untuk kita temukan, di jalan cinta para pejuangsabar dan syukur menjadi pilihan wajib, di jalan cinta para pejuang kita harus terus berhati-hati terhadap jebakan syaitan, karena yang tampak indah harus selalu diperiksa dengan ukuran kebenaran, ketika kita tersadar arah kita salah, kita harus segera mengubah arah kemudi kita, cerdas mengelolakemudi diri, hingga cinta kita terus sujud dalam ketaatan dalam kecintaan padaNya tak bisa melebihi kecintaan pada yang lain. Di jalan cinta para pejuang kita tak hany aasekedar menyadari namun juga meyakini sesungguhnya Allah lah yang lebih tahu tentang kita. Astrada paling bijaksana. Dia lah yang berhak atas akhir dari tiap cerita kita, yang selalu diharapkan seindah surga. Di jalan cinta para pejuang kita berlatih untuk terus taat meski kondisi tak mudah. Dengan tekad pribadi dan dukungan sepenuh jiwa orang-orang tercinta. Di jalan cinta para pejuang kita yakini tiada daya taat dan tiada kekuatan untuk menjauhi maksiat kecuali dengan pertolongan Allah. Sekuat tenaga kita melangkah terus berjuang. Di jalan cinta para pejuang kestiaan sejati bukanlah padamu, bukan pada manusia, namun pada Allah subhanahuwata’ala dan syari’atnya. Di jalan cinta suci ini kata tak lagi bermakna, manusia memberinya makna dengan Amal dan tindakan nyata. Muaranya pembuktian. Di jalan cinta para pejuang menutup pintu-pintu kerusakan menjadi tradisi, kehatihatian adalah pakaian. Di jalan ini, jalan suci jalan cinta para pejuang, tak ada cinta yang lemah lagi kerdil, tak ada cinta yang super melankolik, tak ada cinta yang menghanyutkan, tapi yang ada adalah cinta yang melapangkan, cinta yang tegak, cinta yang berani dan bertanggungjawab, serta cinta yang terus mengarahkan pada kebajikan. Cinta yang kuat. Kuat karena landasan cintanya ada pada Sang Maha Cinta. Bi'idznillah, Allah bersama kita..:)
Untaian nasehat dari Ustad Salim al Fillah selalu menggugah. saya menemukan defenisi yang berbeda tentang ikhlas dan khusuk dalam buku ini. kalo selama ini iklas selalu di sandingkan dengan keringan hati melakukan sesuatu amalan di buku ini justru Ustad Salim merombak semua pemahaman lama itu. iklas itu bukan lagi keterpautan hati. iklas adalah kerelaan melakukan ibadah meski berat atau terpaksa.
anekdot tentang ikhlas selama ini yang kufahami atau sebagian besar orang lainnya seprti Ustad Salim paparkan adalah "lebih baik bersedekah seribu dengan ringan hati dibanding bersedekah sejuta tapi berat hati" namun dalam buku ini kembali lagi pemahaman itu direkonstruksi ulang. bersedakah sejuta dengan berat hati bisa jadi itulah wujud keikhlasan sebenarnya. kita mampu mengalahkan hawa nafsu kita untuk menyedekahkan harta kita sebanyak itu. bandingkan dengan jika hanya bersedekah seribu. semua juga mampu, anak kecil juga mampu. ikhlas itu seperti dikatakan dalam Al Qur'an “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (at-Taubah [9]: 41). lakukanlah meski dengan berat hati sekalipun.
Jalan cinta para pejuang Awalnya saya berpikir buku ini bercerita mengenai bagaimana kita sebagai individu berjuang dalam kehidupan masing-masing. Beberapa halaman muka yang saya baca terdapat beberapa pemikiran ilmiah yang cukup membuat pembaca berpikir. Namun, setelah membaca lebih dalam lagi, buku ini menggambarkan betapa indahnya jalan para pejuang pada zaman Rasulullah SAW . Mulai dari keberanian perjuangan, kisah cinta, keberhasilan dan kegagalan yang sempat dialami. Bukan happy ending maupun sad ending, setiap potongan bab yang dituliskan memberikan makna kehidupan yang islami, yang menyegarkan kita akan kisah-kisah yang terjadi pada zaman Rasulullah. Betapa menggetarkan hati, kita yang hidup sudah dengan teknologi yang canggih seharusnya bersyukur atas perjuangan beliau-beliau.
Adakah salah saya berproses? Adakah salah saya belajar? Bukan berarti sudah benar atau sudah baik. Hanya saja berusaha menghindarkan dari kegelisahan yang selama ini tersemat.
"Di jalan cinta para pejuang, yang terpenting bukanlah seberapa banyak engkau tahu, tapi bahwa engkau mengetahui yang memang bermakna bagimu." (hal 238)
Maaf dan terima kasih kepada yang sedang berusaha mencoba dan masih tetap berupaya. Semoga tujuannya selalu dalam lindungan dan dimudahkan. Semoga do'a dan ikhtiarnya berbuah penerimaan.
Jarak sementara hanyalah ruang bagi bayang-bayang haram agar tidak jatuh menimpa kita yang masih sama-sama berproses. Semoga :")
Buku ustadz Salim A. Fillah pertama yang saya baca. Ekspektasi awal saat melihat judul dan membaca sinopsisnya adalah bercerita tentang cinta, tapi buku ini menceritakan lebih dari itu. Makna 'cinta' oleh penulis yang tersemat di judulnya sulit terbayang oleh saya di awal.
Banyak sejarah yang diceritakan dalam buku ini. Banyak nama-nama penting yang tersemat di halamannya. Buku ini menimbulkan keinginan saya untuk lebih dan lebih mengulik sejarah-sejarah yang diceritakan, menimbulkan keinginan untuk membaca buku-buku lainnya.
Ya Rahman, ajarkan kami untuk tiada pernah putus asa dari kasihMu. ajari kami untuk selalu berharap yang terbaik dariMu. ajari kami untuk berani bercita-cita dan merencanakan hidup yang indah bersama orang-orang yg mulia. ~ Jalan Cinta Para Pejuang Hlm. 157
buku ini berisi shirah dan tarikh para sahabat maupun shalafus shalih yang diikat dengan untaian hikmah di tiap akhir kisah. bahasa khas Ust. Salim yg bernuansa sastra, membuat setiap kisah dan hikmah yg disampaikan mengena di hati pembacanya.