Jump to ratings and reviews
Rate this book

Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa

Rate this book
Kau melihat teman-teman dan mereka sudah mendapatkan impian. Sementara kau masih termangu, menggenggam harapan. Pelan, dalam hati kau berujar, “Kapan mimpiku terwujud?”

Selama perjalanan mencapai tujuan, adakalanya kau melihat sekeliling… menakar jauh jangkauan. Atau, kau malah membandingkannya dengan orang lain. Lalu, lupa melanjutkan perjalanan.

Benarkah segala usaha dan upayamu selama ini lebur bersama kecewa yang kau bangun sendiri? Sungguhkah sesuatu yang hanya kau lihat dalam dunia maya menjadikanmu merasa bukan apa-apa?

Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa akan menemanimu selama perjalanan. Buku ini untukmu yang khawatir tentang masa depan. Tenang saja, kau tidak sedang diburu waktu. Bacalah tiap lembarnya dengan penuh kesadaran bahwa hidup adalah tentang sebaik-baiknya berusaha, jatuh lalu bangun lagi, dan tidak berhenti percaya bahwa segala perjuanganmu tidak akan sia-sia. Bukankah sebaiknya apa-apa yang fana tidak selayaknya membuatmu kecewa?

229 pages, Paperback

First published November 30, 2019

240 people are currently reading
2686 people want to read

About the author

Alvi Syahrin

11 books726 followers
Aku menulis sesuatu yang membuatmu merasa seperti, "Terima kasih telah menuliskan ini!" Sama-sama. :)

Temukan aku di:
Instagram: https://instagram.com/alvisyhrn
Twitter: https://twitter.com/alvisyhrn
Wattpad: https://wattpad.com/alvisyhrn
Telegram: https://t.me/alvisyhrn

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
691 (46%)
4 stars
523 (34%)
3 stars
219 (14%)
2 stars
46 (3%)
1 star
22 (1%)
Displaying 1 - 30 of 235 reviews
Profile Image for Alvi Syahrin.
Author 11 books726 followers
Read
November 27, 2019
Aku menuliskan buku ini untuk seseorang yang khawatir tentang masa depannya.

Untuk seorang murid di bangku sekolah, yang ingin membanggakan orangtuanya, tapi tak tahu ingin jadi apa di masa depan. Bahkan tak tahu apakah bisa lanjut kuliah, terjebak gap year yang entah berakhir kapan.

Untuk seorang mahasiswa di bangku kuliah, yang merasa terjebak di jurusan yang salah. Hanya bisa jadi mahasiswa kupu-kupu, tapi ingin sekali sukses di masa depan.

Untuk seorang freshgraduate di tempat tidurnya, yang kesulitan mencari pekerjaan, bingung harus menjadi: pns atau karyawan atau pengusaha, atau memperjuangkan beasiswa di luar negeri, tapi selalu saja gagal dan gagal.

Untuk para pekerja di usia seperempat abad, yang minder melihat kesuksesan teman-temannya, yang mimpinya tak kunjung tercapai, yang lelah dalam jebakan quarter life crisis, yang ingin mengejar passion tapi tak mampu, yang ingin keluar dari zona nyaman tapi takut, yang ingin resign tapi khawatir.

Untuk anak pertama yang tertekan. Untuk anak tengah yang tak pernah terlihat. Untuk anak bungsu yang selalu diremehkan. Untuk anak rantau yang merindukan rumah.

Dan...,

setiap individu
yang selalu direndahkan
dan dibandingkan
dan begitu khawatir...

... tak menjadi apa-apa.

This book is for you.

Selamat membaca.

Terbit: 30 November 2019 (di Pulau Jawa, Sumatera, dan Bali)
Di luar pulau-pulau tersebut, terbit 6 Desember 2019. Insyaallah.

- Alvi Syahrin
Profile Image for Fahri Rasihan.
478 reviews124 followers
October 24, 2020
• Judul : Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa
• Penulis : Alvi Syahrin
• Penyunting : Tesara Rafiantika
• Penerbit : GagasMedia
• Terbit : Cetakan pertama, 2019
• Harga : Rp 88.000
• Tebal : 236 halaman
• Ukuran : 13 × 19 cm
• Cover : Softcover
• ISBN : 9789797809485

Ada satu fase dalam kehidupan saat di mana kita harus memasuki dunia orang dewasa. Fase tersebut diawali dengan masuk universitas dan menjadi seorang mahasiswa. Namun, sering kali muncul rasa khawatir dan takut saat akan memasukinya. Banyak sekali tekanan dan tuntutan yang secara tidak langsung mengarah pada kita. Bagaimana orang-orang di sekitar berharap kita bisa memenuhi ekspektasi mereka. Mulai dari pilihan universitas yang bergengsi, pekerjaan yang mumpuni, hingga kehidupan yang sukses menurut standar banyak orang. Tuntutan-tuntutan tersebut mungkin pada saat kita masih remaja belum terpikirkan. Akan tetapi saat kita sudah meninggalkan bangku sekolah, tuntutan-tuntutan tersebut seakan hadir secara tiba-tiba. Alvi Syahrin menangkap kecemasan tersebut melalui buku ini. Setelah sukses dengan buku pertamanya, Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta, Alvi kembali mengingatkan kita akan kehidupan yang fana dan tidak sempurna tentang menjadi dewasa. Buku ini akan menjadi pengingat yang efektif, khususnya bagi yang baru lulus SMA, agar tidak perlu merasa cemas akan kehidupan yang memang tidak sempurna.

Buku ini dikemas dengan gaya tulisan layaknya sedang berbincang atau curhat dengan sahabat. Penulis hanya memberikan materi yang singkat, ringan, dan relevan di setiap bagiannya. Walaupun terkesan sederhana, tapi makna dan pesan yang coba ditunjukkan penulis berhasil tersalurkan dengan baik kepada pembaca. Terbagi menjadi 45 bagian yang membahas tentang kehidupan kita selepas masa sekolah menuju jenjang selanjutnya. Standar kehidupan yang diciptakan oleh orang lain biasanya membuat kita takut, cemas, dan insecure jika tidak dapat mencapainya. Nyatanya standar-standar tersebut hanyalah sebuah ilusi dari kehidupan di dunia yang fana ini. Di sini kita akan diajak untuk dapat lebih menerima dan mensyukuri apa yang kita jalani. Mungkin teman-teman kita sudah mendapatkan "kesuksesan" dan kita malah begini-begini saja. Tapi, coba pikirkan lebih dalam mungkin kehidupan kita yang begini-begini saja ternyata dapat berguna bagi makhluk lain. Contohnya meskipun kita masih nganggur, tapi setidaknya kita punya waktu dan perhatian untuk memberi makan kucing jalanan. Mungkin ini merupakan hal kecil, tapi di lain pihak kita menjadi penyelamat bagi makhluk berbulu tersebut.

Ada bagian dalam buku ini yang membahas soal kegagalan masuk Universitas Negeri. Di mana biasanya Universitas Negeri merupakan pilihan utama setiap calon mahasiswa untuk menjadi tempat kuliah. Namun, jumlah mahasiswa baru yang masuk ke Universitas Negeri terbatas. Diperlukan usaha dan kerja keras bagi kita agar dapat lulus ujian saringan masuk Universitas Negeri. Dan banyak di antaranya yang gagal dan berakhir kecewa. Padahal banyak orang berharap agar kita dapat kuliah di Universitas Negeri. Masih banyak orang yang malu dan enggan untuk kuliah di Universitas Swasta. Namun, buku ini kembali mengingatkan kita untuk selalu mengambil sisi positif dari segala peristiwa. Status Universitas baik itu Negeri atau Swasta tidak menjamin kesuksesan kita di masa depan. Universitas tidak merepresentasikan siapa diri kita, itu hanya sebuah status yang fana akan penilaian manusia. Buktinya banyak kesempatan yang menunggu kita di luar sana untuk menjadi sukses baik untuk lulusan Universitas Negeri maupun Swasta. Tidak penting kita kuliah di mana, tapi yang lebih penting adalah cara kita memanfaatkannya.

Mungkin ada sebagian orang yang mempertanyakan untuk apa kita susah-susah belajar di sekolah jika ujung-ujungnya hampir semua mata pelajaran tidak terpakai di kehidupan sehari-hari. Jujur saya pun sempat berpikir seperti itu. Buku ini seperti menjawab pertanyaan saya. Pelajaran tentang sejarah atau geografi mungkin memang tidak akan seratus persen kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, tapi siapa yang tahu di masa depan nanti dua cabang ilmu ini akan membantu dalam profesi kita kelak. Kesannya mungkin remeh, tapi siapa yang tahu akan apa yang terjadi di masa depan. Bisa saja ilmu matematika, fisika, atau kimia menjadi dasar dalam pekerjaan kita. Ambil selalu sisi positif dari setiap hal termasuk sekolah. Kita sebagai manusia hanya bisa menerima dan menjalani karena pada intinya dunia yang fana ini memang tidak sempurna. Penjelasan ini mengingatkan saya jika sesungguhnya memang tidak ada ilmu yang tidak berguna. Setiap ilmu yang kita pelajari di sekolah sudah pasti akan berguna, tapi entah kapan akan kita gunakan di masa depan. Jadi sebaiknya kita belajar dengan tekun dan serius agar dapat memanfaatkan ilmu yang kita pelajari.

Secara keseluruhan Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa berhasil menangkap kegelisahan banyak orang, khususnya remaja yang baru lulus SMA, akan standar yang menuntut kita semua. Banyak sekali standar-standar kesuksesan yang ditentukan oleh materi dan popularitas yang sering kali menekankan kita. Tekanan ini membawa kita pada rasa cemas dan takut. Di sini penulis lebih menyoroti soal kuliah dan dunia kerja. Bagaimana kita sering membandingkan diri kita dengan teman-teman yang sudah sukses. Mungkin mereka sudah sukses menurut standar kebanyakan orang, tapi apakah itu membuat mereka bahagia. Masa depan yang tidak pasti dan rancu menjadi penyebab timbulnya perasaan khawatir dan takut. Sebagai manusia kita hanya ingin sesuatu yang aman dan pasti. Namun, hidup tidak berjalan seperti itu. Buku ini mengingatkan kita akan dunia yang fana dan tidak sempurna. Nyatanya kebanyakan orang menuntut kesempurnaan pada hidup mereka. Jika kita menuruti kesempurnaan hidup takkan pernah bahagia. Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa mengingatkan kita untuk sadar akan ketidaksempurnaan tersebut dan cukup dengan menerima serta menjalaninya lewat usaha yang maksimal.
Profile Image for ade.
274 reviews16 followers
December 19, 2019
"Bodo amatlah pada standar kesuksesan yang diagungkan oleh society dan media. We will be something, tanpa perlu standar itu"
.
.
Ini adalah buku Alvi Syahrin pertama yang gw baca. Awalnya gw bahkan ga tau siapa dia.. Hingga suatu hari..beberapa bulan lalu.. Disaat gw sedang mengalami stress dan patah semangat yang luar biasa, secara tidak sengaja gw menemukan sebuah quotes yang di posting di IG nya... Entah bagaimana quotes itu menusuk dan mampu memberikan ketenangan buat gw.
.
.
Dan ternyata, tidak lama ia menerbitkan buku ini. Melihat judulnya membuat gw penasaran, apakah buku ini mampu menghidupkan semangat gw kembali?
.
.
Iya..
.
.
Ada perasaan lega dan bersyukur luar biasa ketika gw selesai baca. Buku ini tidak mengobral janji muluk untuk meraih mimpi setinggi langit. Kebalikan dari itu..justru kita dibuat percaya bahwa semua ada prosesnya, semua ada kekurangan dan kelebihan, begitu realistis. Buku ini juga selalu mengingatkan bahwa tidak ada hal yang sia-sia selama kita yakin pada Allah.. .
.
.
Mungkin awal membaca tiap bab, yang dimulai dari kisah 'perjuangan' saat SMA-Kuliah-Mencari Kerja, kita ga merasa relate karena telah melewati hal tsb. Tapi justru untuk gw, tulisan di awal justru mengingatkan semua perjuangan gw. Jadi kayak yang.. Wah... Gw kayak gini dulu...wah... Ternyata gw masih beruntung... Gw kurang bersyukur.. Gitu..
.
.
Dan yang paling gw suka adalah bagaimana setiap tulisannya tidak menggurui, dan Alvi selalu berusaha sedemikian rupa untuk mengingatkan kita pada Allah SWT, salah satunya melalui beragam hadits yang menghiasi nyaris setiap babnya.
.
.
Terima kasih sudah menuliskan buku ini.. Gw yakin akan ada masa depan indah untuk gw, jika gw terus percaya pada Allah SWT.
Profile Image for Afy Zia.
Author 1 book116 followers
December 26, 2019
3,5 bintang.

[BERISI PENDAPAT PRIBADI!]

❝Bodo amatlah pada standar kesuksesan yang digaungkan oleh society dan media. We will be something, tanpa perlu standar itu.❞ ―Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-apa, Alvi Syahrin

JKTPJAA merupakan buku self-help yang berisi motivasi maupun kisah-kisah pribadi penulis (yang tentunya diharapkan mampu menginspirasi pembaca).

Untuk kover, saya nggak mau komen panjang lebar. Intinya cakep, minimalis, dan elegan. 😂 Layout-nya juga lucu, dengan perpaduan halaman warna oranye tua dan oranye muda. Tapi tentu aja nggak saya rekomendasiin dibaca di tempat yang lampunya remang-remang/oranye. Nanti mata kalian sakit.

Bagi saya, buku ini cepet diselesaiin. Seperti di buku sebelumnya (alias JKTPJC), bahasa penulis nggak rumit atau berbelit-belit. Tiap babnya juga cenderung pendek, jadi enak aja bacanya.

Kalo saya liat, buku ini sebagian besar ngebahas permasalahan yang dialami orang-orang umur 18-30an(?). Isinya rata-rata tentang permasalahan sekolah-kuliah, quarter life crisis, dilema pekerjaan. Dan tentu aja, nuansa Islaminya cukup kental di buku ini (which I couldn't relate, but it was still okay).

Meskipun ada beberapa bab yang terasa kurang ngena seperti bab-bab perjuangan masuk perguruan tinggi yang udah saya laluin (ini menurut saya yaa), tapi ada juga bab yang bikin saya ngangguk-ngangguk setuju. Saya paling suka bab-bab yang ngebahas soal pendidikan, nilai/IPK, sama pekerjaan. Penulis memberikan pandangan-pandangan baru, dan saya setuju dengan apa yang dituturkan.

Secara keseluruhan, JKTPJAA menyenangkan untuk dibaca. Jika kalian pejuang perguruan tinggi, pejuang kuliahan, pejuang pekerjaan, ataupun pejuang hidup, silakan coba dibaca buku ini dan resapi makna tiap babnya. Mengutip kata-kata penulis di bab terakhir: "Sesungguhnya, kita selalu menjadi apa-apa."
Profile Image for Najah Mustapa.
91 reviews5 followers
April 9, 2020
Bagaimana ya mahu saya simpul, jarang rasanya sebuah buku motivasi saya habiskan dengan kadar yang cepat tapi buku ini terkecuali. Buku ini seperti teman akrab yang sangat sangat memahami kita. Mendengar luahan kita dan membantu menaikkan kembali semangat kita yang hilang. Semua isi dalamannya sangat mengena dengan diri ku situasiku. Jadi terima kasih buat penulis.

Buat mereka yang mengalami hal yang sama denganku, jangan menyalahkan dirimu, jangan berhenti berusaha, sukar mencari kesempurnaan di dunia yang tidak sempurna ini. Semangat yaaa!
1 review
July 17, 2021
Kalo ada bintang minus, saya akan memberi rating buku ini minus. Bagus pembahasannya relevan dengan kehidupan sehari-hari, TETAPI kenapa malah mengaitkan ke dalam suatu agama? Juga hanya fokus ke satu agama (agama yang notabenenya abrahamistik)
Please deh, ini genrenya self improve atau cerita nabi sih? heran udah jelas-jelas scientific malah balik ke teologi. Ini era kotemporer bukan Dark Ages!
Profile Image for Wardah.
951 reviews172 followers
January 8, 2020
Pernah gak menyesali keputusan yg kamu ambil dulu? Atau kesempatan yg terlewat?⁣

Aku pernah dan sering. Meski semakin dewasa berusaha untuk menerima dan ikhlas, kadang penyesalan terus hadir.⁣

Makanya pas baca buku Alvi yg baru ini, aku kayak diajak mengenang masa lampau. Ketika masih galau kuliah apa. Ketika pilih jurusan berbekal mapel favorit. Ketika merasa ... salah tempat. Ketika ada banyak tekanan untuk lulus, mandiri, "dewasa".⁣

Menurutku sendiri, jadi dewasa adalah perjalanan seumur hidup. Menerima dan mencintai diri sendiri pun demikian.⁣

Di buku ini, Alvi berbagi ttg keresahan yg dia rasakan. Dia berbagi kisah hidupnya. Nggak detail, tapi cukup memberi gambaran dia dulu merasa galau akan kuliah, khawatir tidak masuk PTN, hingga menganggur 3 tahun.⁣

Di antara 45 bab, aku paling merasa relate sama bab 16 soal salah jurusan. Bukan cuma merasa "salah jurusan" kayak Alvi, aku juga mengalami hal yg sama. Ketika menemukan hal yg kusuka di jurusanku, eh taunya hal itu sulit aku dapatkan di Indo. Nggak dianggap penting. Nggak banyak yg butuh.⁣

Aku suka bagaimana Alvi lalu mengemas penerimaannya dan bercerita hikmah atas segala yg terjadi. Di bab 26 tentang Susahnya Mencari Pekerjaan, Alvi ganti berkisah soal pengorbanannya yang akhirnya berbuah. Dia mendapatkan kesempatan dan ada jeda 3 tahun dari dia lulus.⁣

Buat aku, itu belum lama ini terjadi. Sama lamanya kayak Alvi. Untukmu? Mungkin sudah terjadi. Atau masih di ujung jalan sana. Kapan terjadi, Tuhanlah yg lebih tahu. Jadi marilah percaya pada-Nya. :")⁣

Secara keseluruhan, aku suka buku ini. Gaya menulisnya bagus dan gaya berceritanya asik. Babnya banyak dan mencakup banyaaaak hal. Sayangnya, karena banyak ini aku merasa kurang dieksplorasi. Beberapa bab hanya diisi satu halaman dan pas baca ada aku merasa "yah gini aja?" gitu 😅 Meski emg ada yg bikin aku ikut diam dan merenung, kayak bab 14 soal Aku Cuma Orangtuaku Bangga. Cuma gak sedikit yg meninggalkanku dg perasan menggantung karena aku berharap isinya lebih komprehensif.⁣

Ntar aku coba tulis ulasan panjang di blog. Yg jelas recomendded buatmu yg lg galau soal masa depan apalagi masih kuliah.
Profile Image for Anggita.
8 reviews2 followers
July 12, 2021
Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa secara singkat bercerita tentang keresahan di usia 20-an, ditulis dari sudut pandang orang pertama.

Pertama kali membaca karya Alvi Syahrin, dan tidak ada ekspektasi tinggi.

Beberapa bab awal membuat saya ingin cepat menyelesaikan buku ini. Bukan karena penasaran, namun bosan. Rasanya seperti mendengar motivasi yang hambar, tidak menyentuh emosi saya. Seperti buku motivasi kebanyakan, terdapat afirmasi positif yang repetitif. Mungkin hal tersebut yang membuat saya jenuh membaca buku genre ini. Seperti membaca tweets akun-akun motivasional kebanyakan.

Kisah-kisah inspirasional yang diambil terlalu umum. Bill Gates, Jack Ma, dan lainnya. Meskipun mereka tokoh yang berpengaruh, tapi masih banyak nama lain yang seharusnya bisa diangkat oleh penulis. Memang, ada nama baru seperti Belva & Iman dari Ruangguru. Namun hanya mereka, dan sepertinya semua orang saat ini juga sudah mengenal mereka. Seharusnya, Alvi bisa menceritakan tokoh yang belum begitu populer. Terlebih lagi, tidak ada gagasan-gagasan tokoh yang ditulis dalam buku ini. Seperti kurang riset.

Ada poin-poin yang relatable bagi saya, yang menjadi poin plus untuk buku ini. Bagian tersebut membuat saya mengubah pikiran tentang buku ini -- yang awalnya mengecewakan. Ada kedekatan emosi yang saya rasakan pada bab-bab tertentu, namun tidak begitu signifikan hingga membuat saya harus membaca buku ini saat sedang terpuruk.

Sayangnya, Alvi belum konsisten dalam menyusun bab dan menggunakan surat-surat dalam Quran. Beberapa bab terasa membingungkan, seperti bab ... yang tiba-tiba dilanjut dengan bab Resign. Lalu, penulis seakan mendapat hidayah di bagian akhir buku. And that wasn't really good reading experience. Intinya, beberapa bab buku ini -- khususnya bab-bab akhir -- seperti ditulis terburu-buru.
Profile Image for Dety  Mutiara.
132 reviews6 followers
December 13, 2019
Buku yang aku tunggu-tunggu hahaha... Sengaja nggak mau baca di wattpad gitu deh. Biar lebih sepesial aja sih. *okegapenting*

Yesss! Emang selalu sesuka itu aku sama bukunya Kak Alvi, dan fix aku paling suka sama buku yang ini. Bukan berarti aku gak suka sama yang sebelumnya (jika kita tak pernah jatuh cinta), bukan buku sebelumnya nggak bagus, tapi di buku ini aku lebih merasakan semuanya.

Gimana ya bilangnya ... Well, sebagian kisah di buku ini sudah pernah aku alami, sedang aku alami, dan bisa jadi (mungkin) nggak lama lagi aku akan mengalaminya juga 😂 Related banget sama hidup aku hahaha...

Kadang di beberapa bab tuh kayak lagi baca kisahku sendiri :') nggak boong deh, aku beberapa kali sempet nahan napas, pengen nangis tapi ditahan karena bacanya di ruang tamu 🙈

Setelah baca ini tuh aku semakin yakin kalau semua ini emang udah jalannya. Dan, buku ini bisa dibilang sebagai alarm, pengingat untuk aku agar selalu bersyukur, berjuang, dan gak gampang menyerah walaupun pernah gagal.

Kak Alvi, terima kasih sudah menuliskan ini ❤
1 review
December 2, 2019
Buku pertama dari Kak Alvi yang pertama kali kubaca, buku yang pertama kali aku nantikan pre-ordernya, and it's a great book! Buku ini sangat cocok dibaca mulai dari yang duduk di bangku SMA, sampai yang bingung akan karirnya. Ntahlah hanya aku, atau memang penyampaiannya sangat halus sehingga mudah masuk ke dalam hati dan pikiranku. Ditambah dengan rujukan dalil seperti ayat dan hadits, membuat buku ini sangat menenangkan ketika dibaca.

Kekurangannya, ada beberapa bab terasa menggantung karena berbeda dari bab yang lainnya. Seperti solusi dari permasalahannya belum selesai. Tapi, itu membuat pembaca berusaha memahami pesan tersirat yang ingin disampaikan.

Untuk yang menyukai quotes, buku ini berisi banyak sekali kutipan yang bisa dijadikan pengingat.

At least, buku ini benar-benar membantuku mengatasi segala perasaan insecureku mengenai masa depan. Kebetulan, aku pun baru lulus sekolah, maka kehadiran buku ini sangat membantuku untuk menerima apa yang menjadi takdirku dan mengusahakan yang terbaik yang sudah menjadi jalanku.

Terima kasih Kak Alvi, sudah menuliskan buku ini.
Aku sangat menantikan bukumu yang selanjutnya!
Profile Image for Siqahiqa.
594 reviews106 followers
March 10, 2020
Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa merupakan buku kedua daripada penulis Alvi Syahrin. Buku ini sesuai dibaca oleh dua golongan umumnya. Golongan muda yang masih khuatir mengenai masa depannya, dan golongan dewasa seperti aku yang boleh mengimbau kembali apa yang aku pernah lalui dulu ketika zaman belajar. It was nice to throw back.

Penyampaian dalam buku ini adalah hasil daripada cerita realiti kehidupan penulis. Penceritaannya jelas dan maksud yang mahu disampaikan oleh penulis juga jelas, mengenai pendidikan, pembelajaran dan masa depan. Buku ini mengandungi 45 bab dan semua bab disusun dengan teratur. Buku ini lebih menceritakan mengenai pendidikan di Indonesia, namun begitu, apabila berbicara mengenai pendidikan, apa yang dirasai oleh pelajar semuanya sama walau di negara mana sekalipun terutama mengenai “kenapa aku perlu belajar banyak subjek di sekolah seperti Matematik Tambahan” dan “adakah aku mengambil jurusan yang salah”. Dua persoalan yang sering ditanya oleh mereka yang bergelar pelajar termasuk aku pada suatu ketika dulu.

Dengan membaca buku ini, aku mengerti bahawa semua itu adalah salah satu daripada proses pembelajaran asas kerana kita tak tahu apa yang kita akan jadi pada masa depan. Bab jurusan salah pernah aku alami juga dan lama-kelamaan aku menyukai jurusan itu walaupun aku tidak bekerja dalam bidang berkenaan.

This is really a good book. Buku yang memberi makna bahawa kita selalu pernah jadi apa-apa. Jangan terlalu sedih dengan kejayaan orang lain sehingga membuatkan kita rasa down. Setiap orang mempunyai pace masing-masing. Teruskan usaha dalam pencarian arah hidup. Semoga dipermudahkan segala urusanmu.

Bab akhir sangat sesuai sebagai penutup buku ini. SANGAT. And the last page is really good. Amin for that. InshaAllah. I’ve shared some excerpts from this book on my story and I saved them in Quotes highlight.
__
Rating: 4/5 🌟
__
Terima kasih penulis @alvi kerana memberi buku ini sebagai pertukaran untuk ulasan buku. Dari 🇮🇩 ke 🇲🇾🥰
__
instagram.com/siriusiqa
Profile Image for Bila.
315 reviews21 followers
September 11, 2020
Kita semua bermula dari tak tahu apa-apa.
Namun, kita tidak menyerah.
(hal.24-25)


Rate sebenarnya: 3.75.

Kalau kalian mencari buku yang bisa bikin kalian tenang + butuh dorongan semangat saat kita gagal, kalian bisa aja mengambil buku ini dan membacanya. Ya, yang kurasakan buku ini cukup bikin aku lebih tenang. Gaya tulis penulis terutama di penekanan setiap akhir bab cenderung bisa bikin orang tenang.

Ya, buku ini disajikan dalam banyak bab, tapi kalian bisa baca cuma di bab yang kalian butuhkan. Masalah seleksi masuk perguruan tinggi, kuliah, setelah lulus, pekerjaan, kesuksesan, ada disini. Aku malah baca semuanya jadi ga relate sama sekali dengan bab-bab awal (dan juga beberapa bab terakhir) wkwk.

Memang benar buku ini oke untuk membuat kita jadi tenang. Tapi kalau kalian mencarinya solusi... Rasanya buku ini kurang solutif. Soalnya yang kurasakan, ini buku isinya hanya semacam wejangan berdasarkan kisah orang sukses (yang sebenernya agak basi alias udah bosen dengernya dia lagi dia lagi), kisah si penulis sendiri (yang ternyata cukup oke), dan ayat-ayat Al-Qur'an + hadits. Ya dibilang ga solutif sama sekali sih engga, hanya aja aku ngerasanya buku ini bikin kita tenang dan bangkit lagi, udah, itu.

Selain itu, aku kurang setuju sama beberapa poin di buku ini. Misal, bagaimana penulis menganggap kalau Fujifilm itu sama dengan BB dan Nokia, yang menurutku kurang pas. Atau tentang masalah post keberhasilan ke sosmed.

Ya intinya mah kalau kalian mau coba baca nonfiksi yang bikin tenang, buku ini lumayan lah.
1 review
December 2, 2019
Sebenarnya aku sudah menuliskan di twitter tapi mungkin tidak terbaca :V :V
Setelah bukunya datang, lalu dari 45 sub, 20 bener-bener aku alamin beberapa tahun terakhir. Seolah-olah kaya merasakan kembali kejadian 2014 yang mana aku sama-sama ga kuliah di univ. negeri, yang juga ga lolos SBMPTN, yang sama” harus belajar lagi karena ga boleh kuliah S1 di luar negeri dan harus “salah” jurusan ketika itu ,sampai telat lulus pun kualami. Tapi aku merasa,kalau aku tidak mengalami itu semua aku tidak akan tau bagaimana rasanya bersyukur atas takdir yang sudah digariskan, bahkan aku bisa tau hikmah dari terjadinya itu semua karena Allah tau betul apa yang aku butuhkan itu yang terbaik, dan yang aku inginkan belum tentu baik menurut Allah. Menjalaninya memang sulit, sebab teman-temanku semua kuliah dijurusan yang diinginkan, tp dengan “nyasar” berkuliah di jurusan psikologi bisa membuatku jauh lebih mengerti apa yang harus dilakukan, apa yang sebenarnya diharapkan kedua orang tuaku untukku. Meskipun orang lain merendahkanku karena aku berkuliah dijurusan ini tapi aku menyadari, yang menikmati adalah aku bukan mereka, tapi aku sudah sangat jauh melangkah, kalaupun mau diulang juga sudah tidak bisa. Satu hal yg selalu ku ingat dari buku ini, kita sudah berusaha, kita sudah melakukan yg terbaik untuk diri kita dan orang sekitar yg patut diperjuangkan, Jika orang lain bilang belum sukseslah dan belum belum lainnya, sebab mereka hanya melihat hasil bukan proses yg kita jalani. Mungkin mimpiku kala itu tak bisa atau bahkan belum terwujud, tapi masih banya mimpi-mimpi yang lain yg bisa dicapai untuk kedepannya. Sebab memang betul adanya Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan, karena menurutku apa yang kita inginkan ternyata belum tentu menjadi apa yang kita butuhkan.
Profile Image for Nureesh Vhalega.
Author 20 books151 followers
January 27, 2020
Actual rating: 3.5

Buku ini bagus. Sayangnya aku kurang merasa relate, karena kebanyakan pembahasannya itu sesuatu yang kubutuhkan lima tahun lalu :') seharusnya aku baca buku ini lima tahun lalu huhuhu. Ketika sekarang baca ini, aku pun aahh gini, oooh gitu. Iya, benar.

Because I've been there too. Mungkin nggak sama persis. Tingkatnya pun beda sama Kak Alvi, tapi overall yang dirangkum dalam buku ini sesuatu yang sudah kuketahui. Beda sama buku pertama Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta, itu rasanya nusuk sekale~~ beberapa bab bahkan masih suka kubaca ulang sebagai pengingat.

Tapi serius, buku ini bagus. Terutama buat kalian yang masih menggalaukan masa depan, bingung mau pilih A atau B, sampai bimbang mau lanjut atau bertahan.

Yang paling penting adalah usaha. Dan yakin bahwa nilai kita nggak tergantung dari pencapaian-pencapaian duniawi.

Nunggu banget buku Kak Alvi selanjutnya!

P.S: review yang lebih niat di Instagram wkwk
Profile Image for Alfath F. R..
234 reviews4 followers
March 13, 2020
Kemarin, saya memposting sedikit kesan buku ini di instagram. Saya mengira tidak akan ada respon karena buku ini sudah terbit tahun lalu. Namun ternyata tidak demikian. Beberapa komentar yang tertampung di kolom komentar dan pesan DM instagram menunjukkan kalau teman yang berusia kurang lebih sepantaran saya sangat berminat untuk membeli buku ini. Bukan karena saya tidak merekomendasikan buku ini untuk calon pembaca berusia 30 tahunan, tapi karena saya menyimpulkan buku ini memang cocok dibaca untuk calon pembaca berusia kurang dari 30 tahun.

Kalau ada yang bertanya 'mengapa muncul rekomendasi usia?' Sebenarnya, siapa saja bisa mencoba membaca buku ini, misalnya saya. Setelah membaca buku ini saya seakan ikut menyadari bahwa sebagian besar pertanyaan yang pernah diajukan oleh penulis pernah muncul dalam hidup saya beberapa tahun yang lalu. Hanya saja, tidak semua jawaban yang diberikan penulis sama dengan jawaban saya. Tanpa menghakimi jawaban yang kemudian menjadi bagian dari prinsip hidup penulis, saya tetap menjadikan jawaban dalam buku sebagai referensi yang bisa memperbanyak kemungkinan jawaban atas pertanyaan dalam hidup. Jadi, andai calon pembaca sebaya dengan saya membaca buku ini dan pernah mendapat pertanyaan sejenis dalam buku ini, saya hanya berpesan bersiaplah untuk merasakan kilas balik di masa lalu. Tentu kilas balik tersebut akan membuat Anda mengingat kembali kenapa pilihan-pilihan dalam hidup telah dipilih pada waktu itu.

Secara judul, buku ini menggelitik. Khususnya bagi saya yang sering tergelitik karena judul buku dibandingkan kecantikan cover. Biasanya judul yang menggelitik akan menyajikan konten yang membuat pembacanya merenungkan sesuatu, dan konten buku ini tidak mengecewakan asumsi saya. Secara jelas, judul menawarkan sesuatu tentang 'bagaimana kalau saya menjadi seseorang yang tidak membanggakan (sesuai standar saya)'. Sebuah judul yang membuat saya memberikan kesempatan kepada diri saya sendiri untuk ingin tahu seperti apa isinya. Yang ternyata isinya sebagian besar sangat sesuai untuk para pelajar, dan mahasiswa. Misal, mempertanyakan 'mengapa aku selalu diperbandingkan?', 'mengapa aku belum berkuliah?', atau 'mengapa aku merasa salah jurusan?' dsb. Semua jawaban berisi paparan keadaan yang bisa jadi belum terpikirkan oleh pembaca. Jika pembaca sudah tahu, paling tidak pembaca akan berkomentar 'Ya memang begitu gambarannya' atau kalau tidak setuju akan berkomentar, 'bukan jawaban itu yang saya punya'.

Walaupun pembahasan banyak menyinggung para pelajar, ada juga hal-hal yang bisa saya simpan untuk saya bagikan saat ada yang bertanya:

1). Saya suka jabaran panjang tentang 'pentingnya kuliah' (hal. 47-48).
2). Motivasi untuk terus belajar walaupun tidak mampu berkuliah (hal.53-55).
3). Tak semua kebahagiaan layak dibagikan di media sosial (hal. 62).
4). Orang tua mencintai anak yang berusaha berbakti daripada sekedar berprestasi (hal.79).
5). Setiap orang punya porsi masing-masing. Tak perlu kita...merasa lebih tinggi (hal.101).

Sebuah buku yang sangat bermanfaat untuk menambah kemampuan berargumen kenapa kita perlu memilih begini atau begitu di dalam hidup ini.
10 reviews30 followers
February 14, 2021
Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa-Apa (If We Never Be Something) is a good self help for people in the early 20's. If we look at people in social media that our friends has already become something or achieve something.. Get their first job, get an occupation that you always wish for, go abroad to get his/her Master Degree, your friends who already finally found someone and get married.. And we sit in our room with dim lights, feeling gloomy whenever see all of that posts and feeds.

Alvi Syahrin tells us his experiences about how he struggle to gain his dreamed campus, struggle in college, and after graduation's life like how struggle gain the first job, gain our dreams, passion and success at young age phenomenon. Not just that, he voiced the burdens borne by the first child (which is so relate to me and one of my favorite part hehe).

Alvi tells us.. there are many magical things that can be happen if we never stop trying. Just do as the best as you can, even though it's hard, tiring and torturing. God never sleep and He will give us the best gift in the right time and in the right moment.

Such a great book for my birthday gift this year. Thank you Oppa!
Profile Image for Tami.
4 reviews1 follower
November 30, 2019
suka banget sama isinya 💕
favoritku itu:
—bab 7 (pengin cepat-cepat lulus aja)

"tetap kejar yang terbaik, lakukan yang terbaik, syukuri segalanya. sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana."

—bab 13 (hanya murid rata-rata yang tak penting)

"tak perlu membandingkan dengan rekor masa lalu. tak ada yang berekspektasi. tak ada yang menyaksikan. it's just us and our own story."

—bab 20 (terlambat lulus)

"lulus itu bukan soal waktu saja. kita butuh kematangan ilmu sebelum dilempar ke tahap hidup berikutnya."

dan ...

—bab 41 (tapi aku ingin resign...)

"kita tak pernah tahu akhir kisah seseorang. kita bahkan tak tahu akhir dari diri kita. jadi, tetaplah merendah."

luar biasa. banyak sekali nasihat-nasihat baik di dalamnya. banyak kisah-kisah yang menggugah hati saya dan membuat saya berpikir kembali. "oh, seperti ini baiknya." terima kasih kak Alvi! ditunggu buku-buku selanjutnya 💕
This entire review has been hidden because of spoilers.
1 review
December 28, 2019
Baru pertama kali membaca sampai akhir, dan sudah mempunyai bab-bab paling favorit menurut saya sendiri. Sampai tak sadar, di beberapa bab itu saya menangis tertahan, membenarkan apa yang tertulis di sana. Buku ini benar-benar menjadi penguat saya dalam menjalani sekolah dengan jurusan yang saya rasa tidak cocok dengan saya, tapi tetap berusaha di sana, karena saya yakin, ada sesuatu yang mungkin sudah Allah takdirkan bagi saya di sana.

Bahasa yang mudah dipahami serta kalimat yang langsung ke intinya, membuat saya semakin tertarik dengan dunia tulis-menulis yang sudah ditekuni dalam waktu lama.

Akhirnya, terima kasih untuk bang Alvi, dan saya ingin kakak saya membaca buku ini. Sungguh, dia sangat membutuhkannya saat ini.
Profile Image for Novita Dwi Riyanti .
149 reviews4 followers
July 13, 2020
Rasanya melegakan setelah membacanya. Banyak sekali pesan kehidupan yg dapat diambil dari buku ini untuk kita dalam menjalani hidup. Termasuk aku yg terkadang meragukan diri sendiri setelah melihat pencapaian org lain.

Apalagi dengan kondisi sekarang membuatku semakin khawatir akan seperti apa masa depan. Setelah membaca buku ini aku jadi tak perlu khawatir akan hal itu. Karna semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa sesuai dengan porsinya masing-masing.

Well, buku ini wajib dibaca buat yg sedang berjuang dg kekhawatiran akan masa depan. Jadikan buku ini layaknya teman dekat yg sedang bercerita dan mendengarkan tanpa perlu menghakimi 💕😊🤗
8 reviews
December 27, 2019
judul : Jika kita tak pernah jadi apa-apa
penulis : Alvi Syahrim
Editor : Tesara Rafiantika
Desain : Agung Nurnugroho
Penerbit : Gagasmedia

Buku ini membahas banyak sekali,
Dari membahas tentang kekhawatiran masa depan.
Pemaparan tulisan yang kak alvin bahasa yang mudah dipahami dan tentunya apa yang pernah kita alami ada dibuku ini. Buku ini serasa jadi teman aku guru aku. Yang dulu nya aku terfocus pada sesuatu. Tapi, setelah baca ini aku mulai mengerti dan aku mulai salah langkah.

Di buku ini aku suka banget. Terdapat pemaparan ayat Alqur'an dan hadist. Di sinilah aku merasa tertampar.

Makasih buku ini jadi temanku 😄
Profile Image for Riziq Fauqi.
82 reviews3 followers
January 23, 2020
Well, yang gua suka dari buku ini adalah selain bahasa yang digunakan cukup mudah untuk dimengerti, juga ada beberapa bab yang menurut gua sesuai banget sama keadaan gua sekarang. Yaa.. walaupun pengalaman penulis dalam karir nya tidak pas dengan background gua yang sekarang. Tapi, masih bisa gua ikutin lahh.. hehe.. Yang gak gua suka dari buku ini adalah penggunaan kontras dan perpaduan warna untuk beberapa kalimat yang menggunakan tinta putih dan background jingga yang membuat gua kesulitan untuk membaca kalimat tersebut.
Profile Image for Septiani Ewiantika.
56 reviews5 followers
April 14, 2020
Entahlah..ketika membaca bab akhir dan menemukan tulisan “Terima Kasih sudah menjadikan buku ini sebagai teman”
This part hit me so hard.
Buku pertama maupun buku yg kedua, feelnya beda tapi familiar.
Rasanya seperti bercerita kepada diri sendiri, memahami diri sendiri. Kembali berfikir “oh iya, dulu pernah merasakan ini itu” lalu berfikir lagi apa yang saya lakukan dulu ketika menghadapi hal seperti itu.
Buku ini sukses membuat saya kembali mensyukuri apa yang telah terjadi di hidup saya, entah yang baik maupun yang buruk. Semua butuh proses, pastinya.
Dan Allah yang lebih mengetahui, itu poin pentingnya.

Terima kasih kak Alvi Syahrin telah menulis buku ini.
Semoga ada kesempatan mengunjungi Makassar lagi, hehe.
Profile Image for Sherry Heather.
199 reviews3 followers
November 25, 2021
Setelah baca buku ini, jadi merenungkan: apakah aku sudah maksimal dalam mengerjakan segala sesuatu?
Buku ini ditulis dengan bahasa yang bersahabat dan ringan, jadi mudah banget dibaca dan dicerna. Membaca ini rasanya seperti membaca diary seorang teman, benar-benar lembut dan hangat, juga banyak hal yang dibagikan. Aku juga suka banget alurnya, seakan membaca kisah seseorang dari sebelum masuk kuliah sampai dia bekerja, dengan segala kesulitannya dan kekhawatirannya. Totally recommended kalau kamu masih mempertanyakan cita-cita dan tujuan hidup!
Profile Image for Bieyanaa.
23 reviews
February 26, 2022
My 22-year-old self was struggling with university work and had a slew of problems when I read it.

And I've stumbled upon this book, as well. In spite of my initial scepticism, I came to realise that I needed this book after reading.

I feel like I'm getting advice from a friend when I read this book because the author has been there and done that.

Buku ini, tidak menjadikan kita seorang yang apa-apa, setidaknya, kita berusaha menjadi sesuatu yang membuat kita merasa kita sesuatu, di mata kita sendiri ❤️
Profile Image for Aisya Najma Nadira.
1 review
May 18, 2021
Sebenarnya buku ini bakal disukai kebanyakan orang. Tapi jujur aja, buku ini ga bisa langsung ku baca tiap halaman jadi liat tema dulu biar berasa value nya. Bukan berarti ga bagus, tapi kurasa setengah isi buku ini ga cocok sama aku. Ekspetasi ku buku ini bakal banyak bicara tentang masa depan selain dunia perguruan tinggi negri, cz aku ga akan dan gamau masuk perguruan tinggi negri. Dan ini aja belum cukup buat kenal masa depan^^
1 review
December 2, 2019
Dari halaman pertama udah menohok banget, semakin dibaca semakin paham kalo hidup nggak tentang hitam putih aja, masih ada abu-abu ditengahnya. Apa yang disampaikan cukup dalam, enak banget bacanya kalo sambil diresapi trus tiba-tiba nangis. Bahasanya nggak sok tau juga, ya kayak temen aja gitu. Nyadarin seberapa baiknya Allah sama kita selama ini. Overall keren banget🔥 Terimakasih, kak Alvi✨✨✨
1 review
December 2, 2019
Alhamdulillah setelah tau buku ini bakal muncul, aku buru buru nabung biar bisa beli. Lalu akhirnya kebeli H+1 setelah muncul di gramed. Aku membaca semua selama 2 hari. Bener bener bagus dan sangat memotivasi hidup aku dan mengingatkan ku untuk tetap semangat dan percaya kepada Allah. Ayahku juga berkomentar positif. Semoga kak alvi sehat dan sukses terus dunia akhirat. Aamiin
Profile Image for Edwin Firmansyah.
17 reviews
December 28, 2019
uku ini membahas banyak sekali,
Dari membahas tentang kekhawatiran masa depan.
Pemaparan tulisan yang kak alvin bahasa yang mudah dipahami dan tentunya apa yang pernah kita alami ada dibuku ini. Buku ini serasa jadi teman aku guru aku. Yang dulu nya aku terfocus pada sesuatu. Tapi, setelah baca ini aku mulai mengerti dan aku mulai salah langkah.

Di buku ini aku suka banget. Terdapat pemaparan ayat Alqur'an dan hadist. Di sinilah aku merasa tertampar.

Makasih buku ini jadi temanku
1 review
December 2, 2019
buku ini sudah berlayar ke rumahku, belum ku baca dan akan kubaca
terimakasih telah melahirkan karya yg insyaallah akan menginspirasi banyak orang.
-dari seorang anak sekolahan yang juga anak tengah, dan individu yang pernah direndahkan
✨🌈❤
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for maiii.
26 reviews
January 21, 2021
membaca buku ini membuat sy teringat masa-masa kelas 10-11. penuh pergulatan dengan diri sendiri.
Displaying 1 - 30 of 235 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.