Reread, dan terpaksa kuturunkan jadi 3,5 ⭐️
Sebenarnya masih seru. Gaya tulisannya lincah, sedikit mendayu tapi tetap ringan dan enak banget dibaca. Plotnya juga rapih, dan karena jedanya lumayan lama, aku berasa kayak baca novel baru.
Yang sedikit mengganggu adalah interaksi Claudia dengan Alva dan Kenzo. Di review awal, aku sebutkan bahwa aku suka gimana Claudia punya keresahan sehingga dia nggak mau milih antara Kenzo dan Alva, padahal sinyal mereka berdua suka sama Clau udah sejelas lampu lalu lintas. Wkwk. Sehingga kesannya Clau jadi serakah. Sekarang, aku masih suka bagian itu, karena alasan Clau juga manusiawi, nggak pengin kehilangan salah satunya. Yang bikin nggak nyaman adalah gestur fisik di antara mereka bertiga. Kalau Clau tahu perasaan kedua sahabatnya--ditambah lagi kalo gak salah mengartikan, sebenernya Clau ini udah tahu siapa yang dia pilih sejak malam prom--kok bisa dia seenteng itu pelukan sama si ini, lalu gandengan sama si itu, dan bahkan sama keduanya sekaligus 🤣 pas scene Claudia datang ke acara peringatan marla gandengan sama Kenzo dan Alva sekaligus itu sungguh aneh. Mereka yang gandengan bertiga, aku yang malu 🙈 terlebih si Clau ini seolah menyalahkan Jessica yang menganggapnya sebagai two-timer. Come on Clau, emangnya orang lain yang ngelihat bakal mikir gimana lagi, sih? 🙄 Kayaknya Claudia ini tipe orang yang love-language nya physical touch, dan aku sampe merasa dia punya ketergantungan besar sama hal ini.
Kedua, aku nggak masalah sih Claudia bakal sama siapa, tapi menurutku pilihan Claudia ini sedikit terkesan ujug-ujug. Yang namanya hati udah punya pilihan, meski bilang sayang dua-duanya, pasti bakal ada tendensi lebih ke si itu. Apalagi ini pake pov orang pertama, semestinya perasaan Claudia semacam "dikuliti" habis-habisan. Tapi yang kurasakan sepanjang buku perasaan Claudia nggak ada kecenderungan ke mana pun. Nggak ada petunjuk misalkan momen istimewa yang hanya milik mereka berdua, atau sesuatu yang bikin pembaca nih merasa "oh, iya, emang mereka lebih cocok". Sepanjang buku, Claudia cuma takut kehilangan keduanya, takut meninggalkan salah satunya. Seolah-olah, skenario pilihan Claudia itu bisa aja buat si yang satunya, tinggal ganti nama aja beres.
Tapi terlepas itu semua, ini bacaan yang menyenangkan. Terlebih, layout-nya enak dan ramah mata. Hehehe
¤¤¤¤¤¤¤¤
Dear ALVA Bramantyo, you had me at "Salam, kawan-kawan."
Claudia trauma berat sejak teman SMA-nya, Marla, gantung diri di sekolah saat Prom. Saat Clau sudah mulai bisa menyembuhkan traumanya, tiba-tiba muncul surat dari Marla.
Aku bingung novel ini genrenya apa ya? Mungkin lebih ke novel misteri ya? Pokoknya, seru banget menyimak kisah Claudia membongkar teror demi teror yang dia terima, dengan bumbu kisah romantis dan konflik dengan sahabat baiknya. Jadi horornya dapet, deg-degannya dapet, keponya dapet, bapernya dapet juga.
Aku baca buku ini nggak sampe 5 jam. Awalnya cuma buat teman makan malam (yup, aku paling nggak bisa cuma makan doang, kudu disambi ngapain gitu) eh malah keterusan sampe dini hari.
Penulisannya rapi banget dan interaksi Marla dengan Claudia itu pure banget sih. Tapi aku merasa ada yang kurang dijelaskan soal lipstik ungu Claudia. Kupikir ini sebuah clue, dan sempat membuatku berpikir tentang sebuah skenario yang menyeramkan sih. Tapi ternyata ... Eh apa ini emang sebuah clue untuk sesuatu yang lain tapi gagal kutangkap? Entahlah.
Di bagian akhir juga sangat bikin ketar-ketir. Aku suka banget konflik sampingan tentang masalah Claudia yang "serakah" dan nggak mau milih itu. Tapi aneh banget, baru kali ini aku baca novel dan nggak masalah si tokoh utama akan berakhir dengan siapa. Mau Alva mau Kenzo mau nggak sama siapa-siapa, it's OK Clau.
Di luar soal lipstick ungu, aku bisa menebak siapa pelakunya. Clue-nya cukup jelas sih. Tapi ya nggak apa-apa. Tetep seruuu. Semoga buku kedua dan buku-buku selanjutnya segera terbit.