Jump to ratings and reviews
Rate this book

Besok Kita Belum Tentu Saling Mengingat

Rate this book
Saat Kamu Tidak Mencintaiku Lagi


saat kamu tidak mencintaiku lagi
daun-daun kehilangan hijaunya
angin kehilangan desirnya
laut lupa pada asinnya
dan puisiku ditinggalkan aksaranya

160 pages, Paperback

Published November 25, 2019

6 people are currently reading
44 people want to read

About the author

Dopra

2 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
11 (17%)
4 stars
12 (19%)
3 stars
27 (42%)
2 stars
11 (17%)
1 star
2 (3%)
Displaying 1 - 20 of 20 reviews
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews854 followers
January 9, 2020
Dopra
Besok Kita Belum Tentu Saling Mengingat
Gramedia Pustaka Utama
160 pages
4.5

Profile Image for Tamara Fahira.
130 reviews8 followers
December 18, 2021
Puisi-puisi yang terkandung didalamnya ditulis dengan bahasa, dengan makna yang sederhana. Beberapa puisi agak ‘mengena’ bagi saya namun rata-rata tidak begitu berkesan, lebih ditujukan untuk anak SMA yang sedang jatuh cinta mungkin 🤭
Profile Image for raafi.
933 reviews452 followers
November 30, 2019
Sebagai penggemar kata-kata, puisi-puisi dalam buku ini tersusun dari pilihan-pilihan dan struktur yang lumrah. Mereka bisa ditemukan di puisi-puisi lain: kafe, petang, hujan, jatuh, sunyi, sia-sia. Ajaibnya, Dodi si penyair dapat merekonstruksi mereka dengan baik sehingga bait-bait di buku ini terasa lebih baru dan tetap mengena.

Patah hati, kejatuhan, kesepian, kehilangan, kesedihan, kepedihan menjelma dalam bentuk paling absurd nan indah—bikin pikiran dan perasaan melanglang buana.

Buku ini merekonstruksi luka dan hari-hari kelabu,
mengalunkan kata-kata bagai rambu,
bahwa hidup yang jatuh pun masih bisa maju.

Aku suka "Packing" dan "Pakansi".
Profile Image for Nike Andaru.
1,647 reviews112 followers
December 4, 2019
215 - 2019

Kali pertama membaca karyanya Dodi Prananda atau Dopra. Tertarik karena judulnya nih awalnya, tapi ternyata puisinya di sini sendu, bikin galau, sedih, kasihan, dan kayaknya gak cocok dibaca jika kalian sedang dalam perjalanan sendirian, tambah gimana gitu.

Puisi dalam buku ini semua singkat, dengan bahasa yang khas anak muda saat ini puitis galau gitu.
Beberapa judul yang saya suka :
- Jangan Beri Aku Punggungmu
- Kado
- Siapa yang akan Memeluk Diriku?
- Dasar Laut
- Selamat Tidur


jangan beri aku punggungmu
yang berjalan menjauh entah ke mana
dan enggan menoleh sedikit jua

jangan beri aku punggungmu
dan membiarkan muka
menyembunyikan luka

beri aku sampai jumpa
jika itu kata terakhir yang kau punya
Profile Image for Azimah Wiwesa.
3 reviews
December 28, 2019
Setiap membaca karya DoPra membuat kita terhanyut kedalamnya bahkan terseret seret untuk membacanya berulang kali.

Begitupun dengan buku kumpulan puisinya kali ini. Bahkan aku membacanya melebihi dari jumlah buku karyanya yang lain.

Bagiku bukunya kali mampu menjadi 'Insto' buat aku disaat mataku mulai sakit mengerjakan laporan yang berisi angka² tak jenuh dan dikejar deadline.

Semua puisi yang termaktub didalamnya mampu membuat kita lebam, berbekas dan tak akan pudar dalam kotak ingatan. Pilihan kata yang sederhana, lepas, menusuk mampu mengartikan makna cinta dari sisi yang berbeda.

Puisi favoritku diantaranya :
❤️ Pada Larut Malam
❤️ Kangen
❤️Hujan
Profile Image for Septiani Ewiantika.
57 reviews5 followers
December 27, 2019
Ini adalah kalo pertama diriku membaca buku karya Mas Dodi, dan yaaap ku menikmati nya sambil rebahan menunggu ngantuk menghampiri.
Jujur saja ketika membaca judul nya pertama kali terasa agak “jleb” di hati plus covernya yang sangat cantik di mataku. Aku juga suka selipan sketsa pada beberapa bab di buku ini yang menggambarkan isi puisi tersebut.

Overall dari semua kumpulan puisi, ku sangat suka pada bab “siapa yang akan memeluk diriku” ✨👍🏻
Profile Image for Shendi C.
Author 1 book
January 12, 2020
Seperti judulnya, Dopra sedang merespon kehilangan pada puisi-puisinya, bahasa sederhana dan tidak muluk muluk. Berbicara cinta, kehilangan, patah hati, ingatan dan cara yang efektif untuk menyembuhkan luka sendiri. Grafis yang di beri di beberapa halamannya yang menggunakan teknik sketsa ini memperkuat bahwa, kehilangan begitu miskil dalam hidup ini. Seperti puisinya yang berjudul Doa Penutup Musim

Bila Ada umur panjang
Mari Kita Kesepian lagi

jadi. Besok Kita Belum Tentu Saling Mengingat bukan?
Profile Image for Wulandini Nugra.
5 reviews
December 27, 2019
Awalnya saya takut buku ini cuma akan jadi media curhat si penulis, karena beberapa buku sebelum ini kan total fiksi. Ternyata ketakutan saya tak terbukti.
Dodi pintar meramu kata dan kalimat sehingga puisinya tidak cepat basi.
Tetap bisa bikin baper tanpa membuat saya mengucap 'meh!' seperti pada puisi-puisi baru yang bertebaran di media sosial saat ini.
Profile Image for Bambang Suryo.
1 review
December 28, 2019
Sebagai orang yang gak romantis dan spontan, awal membaca buku ini seperti melihat sajak-sajak tak tentu arah. Tapi ketika kita sedang berkontemplasi dan secara acak membuka halaman, baru terasa sentuhan yg menyentil gengsi, malu, dan kekalahan yg tak pernah diungkap.

Terimakasih atas puisi "di tukang cukur" yg membawa saya ke memori kisah cinta saat masih melarat.
Profile Image for P.P. Rahayu.
Author 1 book37 followers
July 20, 2020
Besok Kita Belum Tentu Saling Mengingat
oleh Dopra

3/5 bintang

Bagi saya, puisi-puisi dalam buku ini memang menonjolkan satu tema, yakni pertanyaan-pertanyaan retoris yang tidak membutuhkan jawaban. Akan tetapi, perlu digarisbawahi bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut banyak sekali berhubungan dengan kesendirian dan kasih tidak sampai.

Tidak hanya itu, sejumlah puisi Dopra menyinggung bagaimana suatu cerita kasih telah usai dan tidak ada harapan untuk kembali lagi.

Resensi selengkapnya dapat dibaca di https://www.theredglowofthedawn.com/2...
Profile Image for Autmn Reader.
890 reviews93 followers
dnf
January 6, 2020
Dnf halaman 19. Gak bisa aku baca puisi atau beginian. Cringe sendiri, huhu. Not my cup of tea :(
Profile Image for Nureesh Vhalega.
Author 20 books153 followers
February 19, 2020
Awalannya bagus. Tapi dari tengah ke belakang agak sulit kupahami 😂
Profile Image for Nathalie Indry.
53 reviews8 followers
July 23, 2021
Saya jarang baca buku puisi. Tapi nemu buku ini jadi ketagihan dan penasaran dengan puisi - puisi di dalamnya. Casual tapi dalam. Sebelumnya, saya sempat membaca karya Dodi dan terpikat, tapi dalam medium lain: Cerpen dan novelet bersama penulis lain.

Di dalamnya terdapat rangkaian puisi yang dapat menjadi media refleksi diri, sampai memori kenangan tentang cinta: Baik yang berakhir bahagia atau bertepuk sebelah tangan. Favorit saya adalah saat penulis mengandaikan kekecewaan yang harus dilepas oleh pecinta, adalah sama dengan saat kita menggunting rambut - melepaskannya jatuh dan tidak lagi terikat pada diri.
Profile Image for Arkhan Vinkay.
9 reviews
January 15, 2023
Buku puisi, satu halaman diisi judul, satu halaman selanjutnya diisi puisi. Ada beberapa judul yang disertai ilustrasi. Sayangnya hanya sedikit puisi yang menurutku berkesan. Aku selesai baca ini dalam waktu kurang lebih 1 jam.
Profile Image for Hengki Putra.
18 reviews1 follower
April 3, 2022
Beberapa puisinya baik, sisanya serupa puisi yang dihasilkan dari sebuah rutinitas 'harus' menulis puisi.
2 reviews
January 3, 2023
ini jd buku pertamaku di 2023 >_< isinya puisi gt (krn emang buku puisi) n BIKIN MAU PUNYAAA PARTNER TPP TAKUT KALAU NANTI PISAH :(((
Profile Image for Eka Situmorang-Sir.
172 reviews28 followers
November 15, 2023
Buku puisi dengan kata-kata sederhana namun mengena tentang manisnya cinta dan getirnya patah hati. Cocok dibaca di Minggu siang dengan secangkir kopi.
Profile Image for Mirdell.
193 reviews1 follower
February 25, 2024
Isinya puisi tentang seseorang sedang patah hati dan tetap rindu dengan kekasihnya.
Profile Image for Romzul Falah.
7 reviews
February 2, 2023
Puisi-puisinya ditulis dengan bahasa sederhana tentang cinta yang cocok dibaca remaja pas sedang bucin-bucinnya.

*
beri aku bibirmu
biar kutinggalkan jejak di sana

kelak jika tak lagi kumiliki dirimu
kusentuh dengan jemariku demi mengais sisanya

(Beri Aku Bibirmu, hlm. 26)

*
bila ada umur panjang
mari kita kesepian lagi

(Doa Penutup Musim, hlm. 154)
Displaying 1 - 20 of 20 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.