Jump to ratings and reviews
Rate this book

Muslimah yang Diperdebatkan

Rate this book
Mengapa perempuan selalu salah? Mengapa ia tak boleh bicara? Mengapa perempuan harus menjadi pihak yang paling ikhlas, paling sabar, dan paling tak boleh melawan?

—Tubuh Perempuan dan Penghormatan Kepada Hidup

***

Kalis Mardiasih mulai dikenal publik ketika tulisannya yang berjudul “Sebuah Curhat Untuk Girlband Hijab Syar’i” terbit di situs Mojok.co dan dibagikan lebih dari 17 ribu kali. Sejak saat itu Kalis rajin menulis dan tulisannya tak pernah bergeser dari isu keperempuanan.

Narasi yang ditulis Kalis dalam buku ini berfokus kepada tubuh, kerudung, kemanusiaan, dan relijiusitas perempuan. Akhir kata, selamat membaca!

202 pages, Paperback

Published April 1, 2019

79 people are currently reading
976 people want to read

About the author

Kalis Mardiasih

7 books24 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
347 (49%)
4 stars
292 (41%)
3 stars
60 (8%)
2 stars
5 (<1%)
1 star
2 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 153 reviews
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,037 reviews1,963 followers
May 7, 2019
Nggak tahu kenapa, pas kuliah ini saya justru lupa ajaran kitab yang pernah saya kaji masa kecil: kitab Ta'limul Muta'alim yang mengajarkan untuk berhati-hati dalam memilih guru, termasuk yang harus jelas sanad keilmuannya hingga ke Rasulullah saw.


Kalimat tersebut ada di halaman 7 dari Muslimah yang Diperdebatkan. Sesuai dengan judulnya, Kalis sebagai penulis mengangkat isu-isu yang baginya seharusnya menjadi bahan diskusi. Bukannya diterima begitu saja atas dalih kepatuhan terhadap agama. Tulisan Kalis yang menjadi kutipan dalam resensi ini seakan menjadi pengingat baginya (dan untuk pembaca) bahwa dalam belajar, terkadang kita masih melakukan kesalahan dalam memilih guru. Di situlah sebagai manusia, dituntut untuk berpikir kritis terhadap ajaran yang disampaikan oleh guru.

Bagi Kalis, agama memang merupakan sebuah keyakinan individu. Akan tetapi, bukan berarti agama menjadi sesuatu yang tidak terbantahkan. Malah, kehadiran agama dan akal sehat manusia seharusnya dipertemukan dalam kajian-kajian yang bisa memberikan penjelasan yang runut maupun diterima dalam konteks kehidupan manusia saat ini. Tetapi yang terjadi di masyarakat malah sebaliknya. Hal itu yang mendorong Kalis untuk mulai menulis fenomena-fenomena yang ada di masyarakat (terutama yang terkait dengan agama Islam) dan mencoba menelaahnya dengan keilmuan.

Misalnya saja pada tulisan yang berjudul Kerudung di Negeri Ini dan Tafsir yang Dilekatkan pada Kami. Kalis mengajak pembaca untuk melihat lagi bagaimana simbol kain yang menutup kepala itu identik sebagai kelembutan wanita. Padahal, label tersebut tidak sepenuhnya benar. Kalis merasa ada hal-hal yang mengganjal di dalamnya.

Muslimah yang Diperdebatkan merupakan kumpulan tulisan Kalis yang pernah dimuat di Mojok.co. Sebuah situs berisi esai atau opini yang mengajak pembacanya mengkritisi fenomena menggunakan pendakatan-pendakatan tertentu. Dalam tulisan-tulisan yang ada di buku ini, terlihat sekali bahwa Kalis paham dengan apa yang ia sampaikan. Tulisannya tidak dibuat berlebihan untuk mengimpresi pembaca. Melainkan begitulah penguasaan Kalis terhadap materinya dan ia ingin pembaca jadi teredukasi. Atau, lebih baik lagi jika bisa ikut mengkaji dan menelaah fenomena itu.

Menyenangkan rasanya membaca tulisan Kalis. Aku seperti diajak membahas hal yang bagi sekitarku merupakan sesuatu yang sensitif, yang sebaiknya tidak menjadi topik perdebatan. Kalis juga mengingatkan kalau kepemilikan manusia terhadap otak dan akal hendaknya bisa digunakan untuk mencari tahu lebih jauh tentang firman, sabda, atau hadis. Tidak sekadar "iya-iya" saja ketika mendengar dari orang lain (bahkan dari ustaz sekalipun).

Muslimah yang Diperdebatkan layak sekali mendapat pujian. Bahkan aku rasa, setiap orang harus membacanya.

Mereka memakai "judgement" syar'i hingga menentukan satu-satunya model pakaian perempuan yang benar menurut Islam sesuai dengan produk-produk yang mereka jual. Padahal, Alquran bukanlah kitab mode.
Profile Image for Fadilla Dwianti Putri.
83 reviews63 followers
September 11, 2019
Saat saya membaca buku ini, saya banyak menemukan kisah dan pembicaraan di media sosial tentang baby blues, postpartum depression, dan hal-hal lainnya yang sebagian besar dirasakan perempuan. Sungguh, pengalaman perempuan sangatlah berbeda dan tidak akan dapat dibaca oleh ego seorang laki-laki yang tidak pernah mengalaminya.

Tulisan Kalis dalam buku ini sangatlah ringan, meskipun berbicara tentang topik yang berat. Buku ini benar-benar menjadi konter narasi yang menyenangkan bagi kaum Muslim yang 'bersebrangan' dan menganggap pengalaman perempuan tidaklah penting. Bagi kaum Muslim yang menganggap bahwa derajat laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, perempuan yang suka selfie itu perempuan tercela, perempuan bekerja itu tidak sayang keluarga, perempuan melahirkan melalui caesar itu dirasuki jin... Dan sederet pemikiran absurd lainnya yang mengatasnamakan agama untuk mengopresi perempuan.

Kita butuh buku-buku seperti ini lebih banyak lagi di Indonesia. Kita butuh lebih banyak lagi konter narasi untuk melawan pandangan patriarkis berbalut dasar agama.
Profile Image for ikram.
241 reviews642 followers
June 25, 2020
Salah satu buku yang wajib dibaca oleh setiap perempuan sebelum mereka menikah. Kenapa? Sebab buku ini membahas ototiritas serta hak-hak seorang Muslimah, juga kesetaraan perempuan baik dalam lingkungan maupun keluarga. Sebagai salah satu perempuan yang hidup di lingkungan dengan budaya patriarki dan Muslim eksklusif yang kental, membaca buku ini seperti membaca isi hati yang ingin disampaikan kepada orang-orang tersebut. Buku ini dikemas dengan bahasa sehari-hari yang tak luput dengan fakta-fakta nyata yang bisa kita lihat dengan mata kepala sendiri.

Selama membaca, saya berpikir; target pasar dari buku ini sebenarnya siapa? Apakah perempuan seperti saya yang sering dicap abc oleh sesama Muslim atau justru untuk laki-laki yang gemar mengurusi persoalam wanita? Atau untuk kelompok Muslim eksklusif yang gemar mengurui orang lain? Saya rasa, buku ini dapat dibaca oleh semua orang yang mempunyai kapasitas untuk membuka pikirannya terhadap hal-hal diluar pandangan mereka.

Worth to read!
Profile Image for Khaira.
34 reviews19 followers
December 13, 2020
Udah tau buku ini dari duluuu banget, tapi baru berkesempatan untuk baca sekarang. "Muslimah yang Diperdebatkan" ini ternyata berisi kumpulan essay tentang opini penulis mengenai fenomena muslimah dan isu kesetaraan gender dalam perspektif Islam di Indonesia. Topik-topik yg penulis kritisi terbilang cukup sensitif jika tidak bisa melihatnya dengan pikiran terbuka. Walaupun topik yang dibahas tidak bisa dibilang ringan, namun penulis dapat menyampaikannya dengan bahasa sehari-hari yang cukup merakyat sehingga tidak sulit untuk dimengerti. Nggak jarang juga saya dibuat tertawa oleh narasinya yang woles.

Such a great book. Mungkin butuh keberanian yg cukup besar bagi saya untuk bisa menyuarakan pendapat mengenai isu-isu yang diangkat dalam buku ini, namun penulis berani menyuarakannya dengan lantang sembari tetap bersahabat. Senang bisa menemukan buku yg secara tidak langsung dapat merefleksikan sedikit banyak keresahan terpendam saya.

Buku ini tidak hanya harus dibaca oleh perempuan, tetapi juga laki-laki untuk bisa lebih memahami perempuan. Karena yang paling tahu tentang perempuan ya perempuan itu sendiri, ego laki-laki saja tidak akan pernah cukup untuk memahami apa yang perempuan butuhkan. Dalah hal ini, pengalaman perempuan sendiri adalah kuncinya.
Profile Image for yun with books.
715 reviews243 followers
December 6, 2020
"Seharusnya memang begitu. Terlalu remeh menyetarakan kesalehan dengan selembar kain tipis di kepala. Masalah yang datang silih berganti dalam hidup, dalam konteks pemecahannya yang terkait spiritualis, tidak ada kaitannya dengan jilbab."


Membaca buku ini sangat membuka mata saya, sangat insightful. Dibuka dengan berbakal tulisan kocak nan cerdik,Muslimah yang Diperdebatkan membuat saya penasaran dan bikin pengen terus membaca sampai halaman terakhir. Mungkin kalo saya bisa simpulkan, Muslimah yang Diperdebatkan adalah buku feminis-Gusdurian . Gusdurian ini yang menurut saya, satu-satunya "pandangan" Islam yang paling cocok diaplikasikan di Indonesia dengan budayanya yang bervariasi.
Jadi, membaca buku ini dengan sentuhan feminisme di dalamnya, semakin saya mengerti bahwa Islam eksklusif yang digembor-gemborkan oleh ustadz/ulama "itu" TIDAK PENTING

"Belajar memang sulit dan enggak semua bisa paham, tapi seenggaknya, jangan pura-pura tuli dan sengaja menutup mata."


Hal yang sangat saya sukai lainnya dari buku ini adalah bagaimana Kalis Mardiasih mendeskripsikan realita perempuan di lapangan dengan lugas dan mudah dipahami. Esainya apik dengan research yang mumpuni. Jadi tidak asal "membela hak-hak wanita" ala SJW yang keras kepala. Tapi tentu dengan data-data yang mantap!
Buku kumpulan esai ini WAJIB dibaca oleh siapapun, tidak peduli gender apapun. Buku ini sangat sarat pengetahuan. Tidak hanya membahas tentang isu-isu feminis, buku ini juga mengajarkan tentang toleransi dan kesetaraan. Basic knowledge dari hidup berkemanusiaan.

Akhir kata, hats off buat buku ini. Tentu akan saya baca karya-karya dari Mbak Kalis Mardiasih lainnya.
Profile Image for Gita Swasti.
323 reviews40 followers
August 12, 2020
"Perempuan tidak butuh disetarakan. Ia hanya perlu dimuliakan."
Saya ketawa. Seandainya ia ketemu perempuan-perempuan tangguh itu, dia pasti akan berpikir ulang. Perempuan-perempuan ini tidak terlalu melambung jika diberitahukan soal dimuliakan. Sebab, tanpa dimuliakan, mereka sudah yakin banget kalau mereka sudah pasti mulia. Mereka yakin Allah rida dan membersamai setiap usaha mereka. (hlm. 158)



Sejak maraknya Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran, saya merasa urusan pernikahan ini malah dijadikan komoditas. Promosi melalui kata-kata "jihad fii sabilillaah", "ukhuwah", dsb yang digadang-gadang menjadi penyemangat supaya kian bersemangat menikah. Tidak perlu jauh-jauh memikirkan bagaimana menyiapkan jasmani rohani untuk melahirkan putra putri yang saleh, pernikahan dianggap sebagai solusi atas setiap permasalahan. Muara dari pernikahan adalah keturunan, sementara Kalis menyinggung peran guru dengan kuasa penuh memberi beban standar moralitas kepada siswa sebagai pengikut. Informasi ini tidak mentah-mentah Kalis dapatkan melalui obrolan kopdar saja, melainkan dari laporan soal guru yang dirilis oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah.

Lebih jauh lagi, Kalis menyinggung isu-isu perempuan yang tidak dilihat berdasarkan realitas. Selalu saja peran perempuan dianggap sebagai komplementer. Sebutan "ustaz Youtube" yang terlalu banyak jumlahnya, sama sekali tidak satu pun dari mereka yang menyajikan dalil ramah perempuan. Ustaz-ustaz itu, tidak pernah menyinggung betapa besar tantangan gerakan perempuan menghadapi khotbah Jumat karena perempuan sendiri tidak bisa menginterupsi ide dan gagasan di dalamnya. Narasi perempuan pada sebagian besar laman Islami adalah seperangkat teks yang menjelaskan kewajiban perempuan untuk tunduk, mengalah, dan bersabar. (hlm. 125) Sayang sekali, laki-laki masih banyak yang terlalu takut jika istrinya tidak mengenakan hijab karena dirinya sendiri tidak ingin masuk neraka, padahal yang justru harus lebih ia takutkan adalah jika ia sebagai suami tidak mampu berlaku adil dan zalim pada keluarganya.

Relevansi keseluruhan tulisan terhadap isu-isu sekitar dalam buku ini menjadi resep kuat dalam karya Kalis. Bukunya tidak mengajakmu untuk menghakimi sesuatu, melainkan untuk membuka mata lebih jauh, mana yang menjadi urgensi dan mana yang lebih logis. Buku ini tidak mengajakmu untuk membenci laki-laki. Buku ini mengkritisi sederet realita yang tampak baik-baik saja di lingkungan kita, tetapi sesungguhnya menjadi ironi jika dikupas lebih dalam. Akan banyak kamu, yang sedang terpikirkan untuk membaca buku ini, menjadi lebih ingin tahu sejauh mana muslimah diperdebatkan. Apakah hanya di meja makanmu saja atau sampai pada hal-hal lain yang tidak kamu duga sebelumnya?
Profile Image for Stef.
590 reviews190 followers
December 9, 2019
Baca nya tadi pagi jam 1 nan habis ke bangun iseng-iseng ngambil buku ini. Isi buku nya lebih ke kumpulan essay nya mbk kalis yang mengambil topik muslimah dan kesetaraan gender yang di indonesia dan negara asia masih minim. Beberapa essay nya sangat inspiratif dan jadi mau nyari lebih jauh lagi macam soal RUU PKS itu. Namun, beberapa lebih kayak pengulangan topik-topik yang sama.
Profile Image for Andika Pratama.
43 reviews5 followers
August 24, 2021
Rasanya sudah lama sekali aku enggak dengar atau baca suatu dakwah Islamis yang enggak menyudutkan berbagai macam kaum, terakhir mendengar dakwah Habib Jafar di YouTube. Narasi yang kerap kali kutemukan di internet sering kali adalah narasi penuh kekerasan, seperti bagaimana orang lain mudah sekali mengkafir-kafirkan orang lain.

Kalis Mardiasih, sebagai seorang terpelajar muslimah, hadir di tengah-tengah arus narasi yang serba otoriter itu. Kalis tampak memiliki sudut pandang yang khas dalam menanggapi segala macam fenomena sosial budaya di Indonesia. Aku enggak kenal dengan Kalis selain daripada di sosial media Twitternya, dan mungkin bukan kapasitasku untuk mengatakan ini, tapi menurutku Kalis adalah salah satu wajah feminism Islam Indonesia.

Essai-essai yang ia himpun dalam buku ini tampak memperlihatkan sudut pandang lain daripada permasalahan mengakar pada perkembangan budaya yang dihadapkan pada hukum agama (dalam konteks ini, hukum Islam). Pertanyaan-pertanyaan Kalis mengenai permasalahan kebudayaan dan agama, dua hal yang sering kali bertabrakan ini, tampak filosofis dan mendasar. Lucu rasanya ketika kita membaca gaya essai-essai ini, sarkastik, namun menohok. Secara keseluruhan essai-essai ini bisa sekali dibaca sambil lalu (aku sering kali membacanya di kedai kopi, sore hari).
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Kalis bukan berarti tidak berdasar. Kalis dengan segala refrensinya berupa hadits dan dalil berusaha memberikan wacana tandingan untuk menggerus budaya patriarkis yang kerap kali dilanggengkan oleh otoritas keagamaan. Terutama, dalam otoritas Islam.

Hadits dan juga dalil yang dipakai Kalis untuk mendukung argumentasinya, tentu saja, kebanyakan berasal dari Ulama yang tidak hanya menitikberatkan permasalahan keagamaan, namun juga menitikberatkan asas humanisme. Nama-nama besar yang beberapa kali disebut Kalis, tentu saja, adalah Ulama yang menyikapi segala hal dengan sudut pandang penuh toleransi: Quraish Shihab, Gus Dur, dan masih banyak lagi.

Aku kebetulan tidak punya cukup refrensi untuk mengomentari kitab, hadits, maupun dalil yang dipakai Kalis. Tapi dari situ, tampak sebuah wacana tanding yang benar-benar Rahmatanlilalamin. Menyejukan diri dengan siraman-siraman Islam yang teduh, sejuk, menenangkan. Memberikan kita gambaran yang lebih jelas mengenai bagaimana Islam yang toleran.

Pokok yang digugat oleh Kalis sebenarnya sederhana: berhenti menitikberatkan permasalahan keagamaan hanya pada permasalahan keperempuanan. Seperti yang kita tahu, sering kali banyak ceramah-ceramah yang menganggap perempuan sebagai objek, seolah pengalaman tubuh dan keperempuanannya bukan suatu hal yang valid dan patut didengar. Ini sebenarnya yang berusaha Kalis gugat dalam essai-essainya. Mulai dari masalah ketaatan seorang muslimah yang diukur dari selembar kain hijab, sampai hal-hal yang jauh lebih kompleks seperti akses pendidikan dan pekerjaan. Rasanya kita sering sekali dengar permasalahan-permasalah serupa itu sehari-hari, tapi kita tidak pernah memikirkannya lebih jauh; Kalis hadir menjembatani apa yang ia pikirkan sebagai seorang Muslim yang toleran (mengamini apa yang sering kali umat Muslim gaungkan, Agama penuh kedamaian, penuh cinta, penuh kasih sayang, juga toleransi).

Ini yang membuat argument Kalis tampak berani, karena melawan arus wacana besar di Indonesia dengan semangat feminism yang tinggi. Kalis tidak bermaksud berusaha menjelaskan bahwa “perempuan ini lebih begini, lho!” seperti yang biasa kita dengar dalam narasi feminism-feminism internet yang cukup ekstrim. Alih-alih demikian, Kalis justru menjelaskan bahwa jauh sebelum kita, junjugan umat Islam, yaitu Nabi Muhammad SAW sudah berhasil mengsejajarkan posisi perempuan, dan kita umat Islam terkurung pada suatu penafsiran dalil, hadits, ayat yang tidak kontekstual dengan situasi-budaya tempat kita berpijak.

Berkeberatan, kah, Mbak Kalis kalau saya katakan bahwa sampeyan adalah feminis Islam yang membawa pesan keteduhan? Saya berharap tidak, sebab saya sangat berharap buku sampeyan ini sampai ke tangan-tangan pria untuk dapat lebih bijaksana dan memahami apa itu kesetaraan dalam relasi antara lelaki-perempuan. Dan juga, saya sangat berharap buku ini sampai ke tangan-tangan perempuan agar mudah memahami posisi diri sendiri, nilai, dan martabat berdasarkan Islam yang toleran—yang rahmatanlilalamin.
Profile Image for putri.
274 reviews45 followers
September 6, 2020
Sejujurnya pengen banget nulis ulasan yang bagus sebagai rasa terima kasih untuk Kalis Mardiasih karena sudah melahirkan buku ini ke dunia, tapi belum bisa. Alasannya karena aku sendiri masih perlu membaca ulang dan memahami lagi buku ini, serta mencari lebih banyak referensi. Ketika baca ini, aku sadar, aku sering menutup mata dari kasus-kasus opresi perempuan berdalih agama. Aku pun belum cukup ilmu dan perlu mengedukasi diri lagi.

Jadi yang aku dapat dari pengalaman pertama membaca buku ini adalah awareness. Buku ini membuka pikiran aku dan membuat aku ingin membaca lebih banyak tentang opresi terhadap perempuan, semata-mata untuk melindungi diri sendiri. Aku ngga mau sesuatu yang ku gunakan untuk melindungi diri justru dijadikan senjata oleh orang lain (laki-laki, misalnya?) untuk menyerang aku.
Profile Image for Marina.
2,038 reviews359 followers
April 25, 2020
** Books 55 - 2020 **

Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2020

4,4 dari 5 bintang!


Saya sangat menyukai tulisan Kalis yang mengangkat tema-tema perempuan muslimah dimasa kini. Banyak sekali pandangan Kalis yang membuat saya menjadi tercerahkan dan bangga ketika ada perempuan indonesia yang bisa memiliki pendapat seperti yang dituangkan didalam buku ini.

Terutama saya suka dengan bagian "Gerakan Indonesia tanpa pacaran dan konten seminar pranikah yang basi"

"....Perempuan yang mulia mampu menghargai dirinya sengan memiliki laki-laki yang berpengetahuan. Ketika dihampiri seorang lelaki, perempuan yang memuliakan dirinya tidak hanya melihat dari simbol-simbol keagamaan yang melekat pada tubuh laki-laki tersebut, tetapi wajib mengajaknya berdialog. Dialog pertama adalah tentang pandangan dan penghargaan laki-laki itu terhadap tubuh perempuan. Bagaimana pandangan si laki-laki tentang seks yang konsensual dalam pernikahan? pemerkosaan tidak hanya terjadi di luar lembaga perkawinan, tetapi juga di dalam lembaga perkawinan yang sering kali berujung kekerasan seksual kepaada perempuan?

Perempuan juga perlu bertanya bagaimana visi si laki-laki tentang anak yang meliputi proses kehamilan dan proses menyusui yang diharapkan. Setelah atau sebelum kelahiran, pasangan harus bersepakat soal alat kontrasepsi. Sering kali, laki-laki tak peduli bahwa obat dan alat kontrasepsi memiliki efek buruk untuk tubuh perempuan. Aktivitas mengendalikan kehamilan dinilai sebagai urusan perempuan sehingga tubuh perempuan adalah satu-satunya yang bertanggungjawab untuk memakai kontrasepsi. Padahal, kegiatan reproduksi dalam lembaga perkawinan adalah tanggung jawab perempuan dan laki-laki (Halaman 143)


Ini salah satu jawaban yang saya cari selama ini. Saya melihat disekitar lingkungan saya budaya patriarkisme masih kental sehingga perempuan masih dianggap tidak memiliki suara dan harus mengalah diatas kekuasaan laki-laki. padahal sejatinya Dalam relasi rumah tangga yang berdasar pada prinsip kesalingan (mubadaadalah) dan keadilan hakiki yang dimiliki baik perempuan maupun laki-laki.

Adalagi yang saya patut garisbawahi disini saya mengutip ulang kata-kata Kalis. "Kita tidak bisa menghakimi amal seorang perempuan lebih banyak atau lebih sedikit dari kerudung yang ia pakai"

Buat saya setiap orang punya waktunya masing-masing begitu juga kadar keimanannya pula yang tidak bisa dipukul rata sama. Jadi karena dia tidak memakai kerudung dia tidak beriman? Kenapa sih manusia selalu menghakimi keputusan orang lain dengan dalih "sekadar mengingatkan" yang ujung-ujungnya membuat sakit hati. Jangan sampai kita menjadi korban tren-tren hijrah kebablasan ya teman-teman merasa lebih superior terhadap teman-teman muslimah lainnya. Ingat kita punya pergulatan hati dengan iman masing-masing. Kita bukan Tuhan yang bisa menghakimi manusia lainnya. :')

Terimakasih Kak Icha atas bukunya!
Profile Image for Tiw.
66 reviews
January 7, 2022
Selalu menyenangkan ketika membaca sebuah buku berisi pandangan-pandangan penulis terhadap suatu topik tertentu, begitupun ketika membaca kumpulan esai yang ditulis oleh mba Kalis ini.

Buku yang dikemas dengan bahasa yang luwes ini mampu menyajikan bahasan-bahasan sensitif dengan narasi yang tenang, terkadang juga penulis menarasikan dengan terkesan sinis tapi diselipi bumbu kelucuan.

Aku suka gimana penulis selalu menyisipkan pengalaman pribadi yang dicocok kan dengan topik yang sedang dibahas. Research yang mumpuni dalam menyajikan fakta di lapangan juga patut diacungi jempol👍

Ketika membaca setiap esai, aku menemukan beberapa esai yang di dalamnya memuat cerita yang sama dengan esai sebelum"nya, dari segi kalimat juga sama, gaada bedanya. Aku cukup terganggu dengan itu.

Lagi-lagi masih ada beberapa diksi yang sulit dipahami orang awam modelan aku ini, jadi kudu sering" buka KBBI😴
Profile Image for Dian Kartika.
5 reviews
January 8, 2021
Buku dari Mbak Kalis Mardiasih ini menjawab beberapa kegelisahan dan pertanyaan yang sudah bertahun tahun ada dikepala. Bukan selama ini tidak mencari jawaban, sudah mencari namun jawaban yang aku dapet tidak sejelas dan semudah ini masuk ke otak seperti yang mbak kalis tulis. Buku yang berisi lebih dari yang perlukan terkait perempuan dan agama islam ditambah dengan fenomena terbaru yang waktu itu membuat aku kebingungan. Namun dalam buku ini menjawab keraguan dan pertanyaanku. Terima kasih Mbak Kalis. Bukunya juara sekali ❤️
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Lia.
515 reviews12 followers
October 15, 2020
Buku ini ditulis dengan bahasa ringan namun tegas, serta didukung data dan observasi penulis sendiri membuat buku ini bagus.

kumpulam esay pendek yang dituliskan Kalis disini membuatku kagum dengan sosok perempuan yang tidak takut menyuarakan opininya, apalagi yang diangkat fenomena 'muslimah' 'wanita' 'perempuan' di Indonesia, serta isu yang sampai saat ini masih hangat dibicarakan dalam forum perempuan. UU PKS, KDRT, kesetaraan gender, pranikah, tren hijrah, dll. Baca buku ini kalau ga geli sendiri, yaa angguk-angguk kepala membenarkan realita yang ada disekitar. Banyak referensi familiar, beberapa yang asing, dan ini yang membuatku ingin terus belajar sekaligus mengajak kita lebih peka dengan lingkungan sekitar.

👏👏
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
May 7, 2020
Dalam banyak ayat al-Qur'an terimplikasi betapa laki laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang setara. Pahala dan hukuman diberikan bukan karena seseorang laki laki atau dia perempuan, tetapi karena keimanan, perbuatan baik, atau dosanya. Di lapangan, kesetaraan ini masih jauh dari ideal. Dominasi patriaki yang kadang telah menjadi tradisi lebih sering menempatkan perempuan menjadi korban sekaligus sumber dosa. Padahal, dalam Islam disepakati bahwa wanita wajib menutup aurat dan laki laki wajib menundukkan pandangan. Kewajiban ini berjalan dua arah alias berlaku untuk pria maupun wanita, tapi betapa sering kita melihat hanya wanita yang disalahkan ketika terjadi tindak pelecehan seksual. Sebagai laki laki, membaca buku ini sama sekali tidak merusak maskulinitas apalagi harga diri kaum lelaki. Sebaliknya, kita jadi lebih bisa memahami apa apa yang selama ini luput dari pandangan kaum laki laki tentang hak hak perempuan. Sebagai muslim seklaigus sebagai manusia.

buku ini mengajak wanita untuk lebih berani bersuara dan mengajak laki laki untuk lebih menundukkan pandangan patriakis mereka. Karena laki laki dan perempuan diciptakan tidak sama tetapi keduanya setara. Buku ini ibarat sebuah suara kecil yang saya yakin gaungnya akan semakin besar untuk masa depan yang lebih baik. Pokoknya bagus bukunya.
Profile Image for Shaffira.
60 reviews20 followers
July 8, 2019
“Saya bertumbuh dengan keyakinan bahwa Islam tidak bertentangan sama sekali dengan ide-ide humanisme. Islam memang agama langit, akan tetapi, ia diturunkan untuk kebaikan-kebaikan manusia yang, oleh sebab itu, ide-ide Islam harus membumi. Tugas manusia pada setiap zaman justru harus membumikan nilai-nilai Islam agar dapat menjawab situasi kebudayaan sesuai ruang, waktu, dan kemanusiaan saat ini.”⁣ — Kalis Mardiasih⁣

Buku ini adalah kumpulan 26 esai dengan beragam topik terkait Islam dan perempuan: jilbab (pasti!), pernikahan, ulama perempuan dan tafsir berperspektif keadilan gender, politik tubuh, kekerasan seksual, disamping beberapa topik lain terkait agama yang belakangan sedang “panas” di masyarakat.⁣

Dengan bahasa yang luwes dan humoris, Kalis mengkritisi dan mempertanyakan banyak hal yang mungkin selama ini luput dari mata — mulai konstruksi sosial tentang bagaimana seharusnya menjadi perempuan (terutama perempuan Muslim) sampai tren masyarakat yang mengedepankan simbolisasi agama dan “kesalehan visual” ketimbang kontekstualisasi atau menjiwai substansi ajaran agama yang menjunjung nilai-nilai egalitarian dan keadilan.⁣

Meskipun sebetulnya beberapa esainya pernah saya baca di Mojok sebelumnya, tapi saya tetap sangat menikmati membaca buku ini, terutama karena kepiawaian Kalis merajut berbagai fenomena sosial, kasus-kasus teranyar, dan teori-teori akademis “berat” menjadi tulisan yang santai, mudah dicerna, dan mengalir. Wajib dibaca!

4,5/5
Profile Image for Alien.
254 reviews31 followers
May 8, 2020
Buku yang sangat bagus. Penulis beropini menggunakan berbagai data dan buah dari observasinya pribadi, serta hasil kerjanya bersama tim riset. Penyampaiannya dalam bahasa sehari-hari, mudah dicerna sehingga cepat dibaca.
Kagum sekali dengan penulis yang pengetahuannya luas dan terasa intelektualitasnya.

Membaca buku ini membuat saya berpikir betapa tetap ada gap antara saya dan penulis, yang usianya sama dengan adik saya. Saya jadi berpikir betapa beda umur yang hanya beberapa tahun bisa melahirkan anak-anak muda yang sangat woke (termasuk adik saya ya) dan saya bangga sekali.

Lalu, kenapa enggak 5*?
Karena saya merasa buku ini bukan untuk saya.
Membaca buku ini membuat saya tertawa dan sesekali mengangguk-angguk. Tetapi hampir semua pemikiran sudah pernah saya baca dan dengar. Hampir semuanya sejalan dengan pemikiran saya dan saya hampir tidak menemukan hal baru dalam tulisan-tulisan dalam buku ini.
Beberapa essai juga terasa repetitif - apa mungkin buku ini bisa dikurangi ketebalannya untuk mengurangi kesan repetisi ini? Entahlah.

Sebagai penutup, saya rasanya ingin menekankan bahwa buku ini sebaiknya dibaca oleh berbagai kalangan, terutama kalangan teman-teman saya yang baru saja hijrah.
Profile Image for Nike Andaru.
1,638 reviews111 followers
April 14, 2020
62 - 2020

Ini kali pertama saya membaca bukunya Kalis.
Buku ini adalah kumpulan tulisan Kalis yang sepertinya banyak dimuat di beberapa media online juga.

Semua tulisan dalam buku ini tentang perempuan, islam, muslimah dan bagaimana pandangan Kalis untuk ketiga hal besar tesebut. Sebagai seorang muslim, yang sedari kecil sudah menggunakan jilbab, Kalis banyak beropini tentang bagaimana era saat ini, saat tiba-tiba jadi tren muslimah berhijab, hijrah, kontest mencari perempuan berhijab, tak pelak tulisan ini mengambil banyak contoh artis. Gak cuma itu, urusan gender hingga RUU Penghapusan Kekerasan Seksual juga dibahas di sini.

Saya bisa bilang saya menyetujui semua pandangan dan opini Kalis yang ditulis dalam buku ini, itu sebabnya saya kok banyakan manggut-manggut setuju daripada menemui pandangan-pandangan lain. Satu aja sih yang saya catat, bahwa buku ini banyak sekali menggunakan kata-kata 'keren' yang mungkin sekali banyak orang gak paham apa artinya, contohnya ; diseminasi, diskursus, misogini. Saya pikir jika buku ini bisa ditulis dengan kata yang mudah dipahami, saya rasa, ibu saya juga anak saya bisa lebih memahaminya tanpa perlu buka kamus bahasa.
Profile Image for Dennisa Hasanah.
87 reviews22 followers
April 26, 2021
Setelah rampung membaca buku ini memang kita sebagai manusia sering sekali melabelkan sesuatu. Aku jadi paham makna mengenai hijrah itu sendiri dan sadar produk-produk berlabel "syariah" itu sendiri lama-lama merujuk juga kepada kapitalisme.

Hal ini mengingatkanku kepada seorang kakak tingkat di kampus yang mengomentari aku dan teman-temanku dari organisasi semi rohis karena karaoke-an dan dia mengomentari kami "sekarang anak-anak *nama organisasi* jadi kapitalis ya" padahal kita mau release stress kita aja :( jujur aku ngga habis pikir kenapa dia melabeli kami seperti itu dan dianggap bukan menjadi contoh yang baik bagi adik-adik di organisasi kami.

Di kumpulan esai ini aku juga lebih paham lagi bagaimana banyaknya salah tafsir dari orang-orang pada suatu pemahaman atau ayat Al-Quran. Aku jadi lebih kenal Islam lebih dalam lagi. Memang benar ya, perjalanan spiritual seseorang memang perjalanan diri.

Intinya perjuangan untuk kesetaraan gender yang digaungkan di kumpulan esai ini masih panjang, ngga hanya perempuan saja yang berjuang, laki-laki pun juga ~ Buku ini juga menurutku ngga berbatas buat kalangan perempuan saja.
Profile Image for Riri.
24 reviews5 followers
October 23, 2020
4.5/5

Buku ini membahas isu-isu perempuan khususnya muslimah yang sebenarnya kalau dipikir-pikir selalu itu-itu saja yang dipermasalahkan oleh kaum yang saya berani bilang sama sekali tidak bisa menghormati perempuan.

Posisi perempuan sebagai seorang diri, posisi perempuan sebagai istri, cara berpakaian perempuan, hak berbicara perempuan, kekerasan terhadap perempuan, dan sebagainya dibahas tuntas di buku ini.

Ini kali pertama saya membaca buku Mbak Kalis Mardiasih. Gaya bahasa Mbak Kalis yang ringan, berani, dan nyeleneh membuat buku ini nyaman untuk saya baca. Namun, ada beberapa repetisi yang saya jumpai dalam buku ini yang membuat saya sedikit terganggu. Satu dari banyak hal yang saya sukai dari buku ini adalah banyak sekali observasi yang dilakukan oleh Mbak Kalis untuk mendukung opini-opini beliau dan itu membuktikan bahwa beliau memahami betul apa yang beliau tulis.

Merupakan sebuah buku yang membuka mata dan pikiran. Layak untuk dibaca!
Profile Image for Echa.
285 reviews78 followers
April 17, 2021
Membaca buku ini dalam rangka menyambut bulan Ramadhan, untuk memperkuat keyakinan saya yang goyah karena pertanyaan, "Kenapa sih Islam patriarkis banget? Segitu kejamnya dengan perempuan."

Melalui buku ini, saya kembali diingatkan bahwa masalahnya bukanlah Islam sebagai agama dengan nilai-nilai kebaikannya, melainkan para lelaki yang menjalankan institusinya, dan bagaimana mereka mengambil translasi potongan ayat yang secara politis memperkuat posisi mereka dalam relasi kuasa dibanding perempuan. Dengan ayat-ayat yang menyeramkan, perempuan dipaksa tunduk dan patuh, merasa cukup dengan dimuliakan tanpa harus disetarakan.

Kumpulan esai yang ringan, humoris, tapi tetap menyentil. Pop banget, tapi tetap ngena.
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews68 followers
July 9, 2019
Dalam kondisi gaung feminisme yang sedang ramai diperjuangkan, sangat menyenangkan membaca tulisan Kalis. Bukan hanya berbobot, karena menyajikan banyak sekali keilmuan dari segi agama, tapi juga karena Kalis tetap santun dalam menyampaikan isi pikirannya. Kalis sanggup untuk tidak menghujat, bahkan mencaci mereka yang (bisa dikatakan) tidak mendukung feminisme.

Tulisan di buku ini, menurut info, sudah diposting di laman Mojok. Dari semua tulisannya, Kalis konsisten menuliskan kegelisahannya perihal perempuan yang sering dianggap masyarakat kelas dua, hanya sebuah beban keluarga, dan makhluk yang dipandang sebelah mata. Konsisten juga sama sindirannya yang satir dan straight to the point.

Last but not least, berharap mereka yang sedang ramai menyoroti feminisme, mau belajar mencontoh cara Kalis yang santun, alih-alih mencaci dengan makian yang kejam.
Profile Image for lilgirl &#x1f495;.
137 reviews9 followers
December 2, 2020
Kalau beli buku terbitan Mojok pasti harus siap dengan segala kesatiren dan sarkasme dan buku ini tanpa pengecualian. Tapi tetap saja segala sarkasmenya dibungkus dengan cerdas dan dengan fakta-fakta serta realita sosial yang begitu dekat di sekitar kita namun sayangnya sering diabaikan. Dalam buku ini, Kalis Mardiasih dengan begitu apik menulis beberapa keresahan wanita yang sering diabaikan dan mungkin tidak diangap karena jarang dibicarakan di ruang publik. Saya setuju dengan hampir semua kata-kata beliau dan saya menemukan lagi satu penulis favorite baru.
Profile Image for Ela.
20 reviews4 followers
January 15, 2022
Keresahan saya terhadap suatu hal terjawab. Ajaran kemuliaan dalam islam untuk perempuan, sering kali mengabaikan realitas masalah yang ada seperti janda yang menafkahi anak sehingga keluar rumah, kasus istri menuntut suami karena pemerkosaan dalam pernikahan dan hal lainnya. Perlunya menafsirkan ayat dengan kaitan makna ayat lainnya dan perlunya kesesuaian dgn kondisi yg ada. Jangan membabi buta memaksakan mengikuti perintah ayat. Bisa merugikan diri dan sekitar. Kalau sudah begitu mana yang lebih berdosa?
Profile Image for Sukmawati ~.
79 reviews34 followers
June 16, 2022
Kumpulan esai dalam buku ini menghadirkan perspektif baru seputar peran perempuan (muslimah), kemanusiaan dan relasi gender dalam kerangka berpikir feminis. Sangat tepat jika judul yang diangkat adalah "Muslimah yang Diperdebatkan" sebab suguhan narasi dari Mbak Kalis cenderung mengundang pertentangan bagi segelintir kalangan yang dalam buku ini disebut golongan "eksklusif" dan "ekstremis". Terlepas dari pro-kontranya, setidaknya kehadiran buku ini menjadi pemantik bagi pembaca perempuan agar lebih kritis dalam membaca situasi dan keadaan.
Profile Image for Shanya Putri.
347 reviews160 followers
March 8, 2021
Happy International Women's Day!
👸🏽👰🏼👩🏾‍🚀👷🏻‍♀️🕵🏻‍♀️👩🏽‍✈️👩🏽‍🔬👩🏻‍⚕️👩🏿‍🔧👩🏼‍🏭👩🏻‍🚒👩🏻‍🌾👩🏿‍🏫👩🏻‍🎓👩🏻‍⚖️👩🏼‍💻👩🏾‍🎤👩🏻‍🎨👩🏻‍🍳🧕🏼

Buku ini pas banget dibaca untuk merayakan hari ini. Berisi kumpulan esai tentang isu perempuan. Aku gak sengaja mulai baca ini tadi malam sebelum tidur dan malah kebablasan baca sampai jam 3 pagi 🌞. Isinya mudah dipahami dan mudah dibaca.
Profile Image for Nad..
188 reviews18 followers
June 27, 2021
Aslinya 3.75 bintang

Sebagai seorang perempuan muslim, aku ngerasa sangat dekat sama buku yang berisi pemikiran-pemikirannya Mbak Kalis ini. Ditambah banyak fenomena sosial yang sering kutemui di kehidupan sehari-hari disoroti disini, walaupun jujur ada beberapa opini yang aku merasa kurang sreg dan malah berlawanan dengan apa yang disampaikan penulis di kanal sosial medianya.
Profile Image for Faizah Andi.
20 reviews
May 26, 2019
Buku ini menjawab berbagai kegelisahan perihal intoleransi yang dibalut dengan agama dan saat ini kian marak terjadi. Argumen Khalis sangat berani dan tajam. Buku ini sangat bagus untuk dibaca karena bahasanya sangat ringan dan kadang nyeleneh. Bintang 5 untuk buku ini!
Profile Image for Safara.
413 reviews69 followers
February 28, 2021
Buku bagus buat belajar perspektif feminisme dalam Islam, khususnya di Indonesia. Masih ada beberapa penggunaan istilah yang mungkin sulit dipahami oleh orang awam, tapi kontennya bagus.
Profile Image for Dea.
154 reviews4 followers
April 14, 2024
so apparently I'd read and rate 5 stars anything Kalis Mardiasih produces on feminism in islam and why it's ridiculous that muslim men feel threatened by it
Displaying 1 - 30 of 153 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.