Jump to ratings and reviews
Rate this book

Waktu untuk Tidak Menikah

Rate this book
Kumpulan cerpen "Waktu untuk Tidak Menikah" karya Amanatia Junda ini terdiri dari 14 cerpen dengan tokoh utama perempuan dari berbagai latar belakang dan usia. Ditulis dalam rentang waktu 2012-2017 dan disusun secara acak dalam daftar isi. Beberapa cerpen telah dimuat di beberapa media baik media online maupun media cetak. Benang merah dalam cerpen selain bercerita tentang perempuan, lebih banyak mengajak pembaca menyelami isi kepala tokoh-tokoh yang terkadang random dan melantur dengan ingatan mereka mengenai perkara-perkara personal di masa lalu yang belum terselesaikan dengan baik, atau sesuatu yang tak pernah mereka ungkap di permukaan sebelumnya. Isu-isu yang menjadi konteks sosial beberapa cerita di sini juga beragam, seperti perkosaan, kebakaran hutan, korupsi, perempuan tua jalanan, relasi sepasang kekasih, sepasang kakek nenek, sepasang teman perempuan, sepasang ibu anak, dll.

178 pages, Paperback

First published October 1, 2018

32 people are currently reading
223 people want to read

About the author

Amanatia Junda

5 books3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
28 (12%)
4 stars
76 (33%)
3 stars
105 (46%)
2 stars
11 (4%)
1 star
4 (1%)
Displaying 1 - 30 of 59 reviews
Profile Image for Marina.
2,038 reviews359 followers
July 13, 2019
** Books 72 - 2019 **

Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2019

3,2 dari 5 bintang!


Tertarik sama buku ini karena teman-teman di komunitas Goodreads Indonesia merekomendasikan buku kumcer ini.. Apalagi judulnya cukup provokatif ya aku jadi penasaran sama buku yang berisikan 14 cerita pendek ini XD

Buku ini menceritakan kisah-kisah alasan kenapa ada alasan untuk tidak menikah yang isinya lebih banyak mengambil sudut pandang dari wanita.. aku paling suka sama cerita perkara di kedai serba-serbi yang endingnya tidak aku sangka.. waktu untuk tidak menikah.. Abha.. planet tanpa gravitasi yang ide fantasinya sekilas ngingetin sama Bumi seriesnya Tere Liye tapi yang ini jauh lebih segar dan kisah pisah ranjang.. ternyata cukup sedikit ya dari 14 cerpen hanya 5 cerpen yang aku suka di buku inii..

Terimakasih Dema buku!
Profile Image for Sophia Mega.
Author 4 books136 followers
April 14, 2019
Sebenarnya aku tidak terlalu suka cover baru yang berwarna hijau dan ada perempuan yang rambutnya diikat. Kurang sesuai aja gitu sama isinya, tapi mungkin itu cara agar bisa lebih dekat dengan dedek-dedek yang ingin segera menikah wgwgwg.

Buku ini berisi tentang kisah-kisah perempuan yang sering kita lupakan: buruh, pedagang, aktivis atau sekadar pacar yang duduk dan ngobrol dengan kekasihnya. Ini yang paling aku suka, bahwa perempuan memiliki begitu banyak suara yang sedang ia perjuangkan, tidak melulu topik yang sedang ramai: otoritas badan, sexual harrastment atau adegan kasur.

Aku sangat suka dengan sudut pandang yang diberikan penulis dalam kumpulan cerpen satu ini.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books335 followers
January 18, 2019
Saya baca edisi kedua yang covernya lucu, segar, dan mencuri pandangan. Saya kenal Natia dalam beberapa kali events penulisan dan beberapa kali diskusi soal buku. Selain penulis dia adalah aktivis sosial, jadi harap disadari jikalau ada nada-nada satire, nada-nada kritik dalam cerpennya.
Saya suka malahan cerpen pertama dalam buku ini: Merah, Kuning, Kelabu.

Selebihnya OK!
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews68 followers
April 13, 2019
Semua cerita di buku ini tentang perempuan dan pilihannya akan hidup yang mereka jalani.


Perempuan yang memilih hidup sendiri pasca ditinggal sang suami yang pergi demi perempuan lain.
Yang memilih menanggung derita dan janin hasil pemerkosaan.
Yang rela melakukan apapun demi anaknya bisa terus bersekolah.
Bahkan termasuk perempuan yang berani membatalkan pernikahannya, karena hal lain yang baginya jauh lebih penting.


Amanatia Junda berhasil menunjukkan betapa perempuan itu istimewa dan warna-warni dengan segala keputusannya akan hidup. Betapa perempuan juga punya hak yang setara untuk menjalani apa saja yang mereka mau jalani.

Buku ini juga pantas dibaca para lelaki, demi usaha menyelami isi pikiran perempuan yang (katanya) rumit. Ya, siapa tahu jadi bisa lebih paham isi kepala gebetan atau kekasihmu, Mz~

Endingnya, buku ini semacam pembuktian kalau perempuan itu sama sekali tidak selemah yang seringkali dipikirkan kaum lelaki.
Profile Image for Siska Filawati.
18 reviews
December 28, 2020
Awal-awal cerpen begitu menggelayutkan, dengan ending yang menggantung dan menbulkan pertanyaan. Mencoba menggambarkan pelik kehidupan perempuan dg segala latar belakang, bukan hanya tentang pasangan, cerpen disini ttg persahabatan, anak, mantan, ibu, bahkan korporat perusahaan. sampai pada 4kali judul, pattern cerpen mulai agak mengambang, bukan karena tidak ada penyelesaian cerita, namun, klise yang diberikan terasa sama. Salut buat penulis.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews38 followers
October 2, 2019
Gaya kepenulisannya seperti cerpen-cerpen majalah remaja dulu. Bedanya, Amanatia memasukkan isu-isu terkini yang serius. Meskipun terasa seperti tempelan, topik-topik tersebut memberikan nilai lebih di tiap cerpennya.

Judul buku ini diambil dari judul salah satu cerpennya. Tidak mewakili keseluruhan tema cerpen memang, tetapi cukup menantang jika dibaca di tempat umum. Pembacanya harus siap mental dan tahan pandangan nyeleneh dari khalayak. Sumpah!
Profile Image for Dita N.
3 reviews
May 23, 2021
Ada 14 cerpen yang mengajak saya melewati labirin bernama kehidupan perempuan. Begitu kompleks tikungan dan lika-liku di tiap kisah mereka. Namun, begitu sederhana sehingga saya dapat merasakan kegamangan, rasa sakit, kebahagiaan, hingga kepasrahan yang menjadi ruh cerita-cerita di dalamnya


Ditulis dengan apik oleh Amanatia Junda, kumpulan cerpen ini patut mendapatkan lebih banyak pembaca. Semata-mata agar tiap-tiap dari kita dapat memahami rumitnya kehidupan perempuan dan berbagai aspek di dalamnya.


Latar belakang para tokoh sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Sering lewat di layar kaca atau melalui kasak-kusuk tetangga yang kekurangan hiburan.


Saya sangat menikmati proses melahap kumcer ini dalam 4 hari. Kalau kamu punya waktu senggang dan ingin mendapat perspektif lain dalam melihat perempuan Indonesia, maka kumcer ini adalah salah satu pilihan yang tepat.
Profile Image for KucingGendut.
74 reviews1 follower
March 26, 2020
Buku ini mungkin bagus tapi mungkin bukan buat gue kali ya. Sempat terkecoh dengan deskripsi yg bilang buku ini berisi cerpen tentang kisah perempuan yg gw kira bakal menuju ke arah menguatkan dari sisi feminisme, tapi ternyata setelah dibaca lebih ke permasalahan perempuan yang (mostly) benar-benar random dan di kepalanya saja.

Penulisannya oke tapi mungkin bukan gaya yang gue cari, jadinya guepun agak lambat untuk menyelesaikan buku yg cuma 177 halaman.

Tapi ini pendapat pribadi, bisa jadi pembaca lain menyukainya.
Profile Image for Titisbear.
29 reviews
March 22, 2020
unexpected, ku kira buku tentang pendapat feminis ternyata kumpulan cerpen hehe
beli pas paketan diskon dengan buku2 mojok yang lain.
good, tapi gaya penulisannya bukan aku banget hehe
aku suka cerita tentang abba.
Profile Image for Op.
373 reviews125 followers
July 17, 2019
this is okay, good, but I dont like it.
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
November 30, 2019
Salah satu buku cerpen yang menjanjikan dari penulis muda kita saat ini. Kisah-kisah dalam buku ini adalah suara bagi kaum perempuan yang kerap kali kurang diperhatikan oleh masyarakat. Tokoh-tokohnya adalah orang-orang kecil, berlatar kehidupan yang pelik, semua itu ada di sekeliling kita, tapi mungkin luput dari perhatian kita. Menjadikan cerpen Waktu Untuk Tidak Menikah sebagai judul juga tepat sekali, terlepas dari substansi ceritanya, kadang-kadang kita juga perlu menimbang waktu-waktu seperti ini di tengah gempuran stigma di masyarakat untuk "segera menikah" ketika usia dan waktu sudah mencukupkan.

Segala sesuatu mungkin memang harus dipandang dari dua sudut, jika memang ada yang namanya waktu untuk menikah, kalau begitu ada jua, waktu untuk tidak menikah, seperti tokoh Nusri yang mengalami periode sulit dalam hidupnya tetapi kembali merenungkan waktu itu justru di saat yang paling krusial sekalipun: beberapa jam sebelum akad nikah. Lagi pula, waktu mana lagi yang paling ajaib untuk memutuskan tidak menikah kalo bukan di hari H?

Salah satu yang saya senangi dari buku ini mungkin karena begitu lugas dan enteng sekali penulis bercerita dalam setiap cerpennya. Seolah kita sedang membaca sebuah buku yang ditulis oleh penulis yang sudah malang melintang di dunia tulisan, atau bisa jadi begitu, penulis sendiri sudah menempa diri dengan menulis cerita begitu banyak. Di antara empat belas cerita pendek yang terangkum di sini, saya mencermati cerpen Planet Tanpa Gravitasi yang benar-benar mengolah daya kreatifitas sang penulis dengan tema sains fiksi yang ajaib. Penuh dengan istilah yang nyeleneh tapi benar juga adanya. Bermain dengan kisah cinta tetapi berlatar masa depan yang futuristik dan unik. Tapi saya juga menyenangi kisah Pisah Ranjang yang sederhana tetapi juga menusuk hingga ke hati.

Pada akhirnya kita perlu mengapresiasi buku kumpulan cerpen ini, ditulis oleh penulis wanita yang masih muda, mengangkat kisah-kisah perempuan dengan berbagai dinamikanya tetapi tetap menunjukkan ciri khasnya sendiri sebagai penulis baru di dunia literasi kita. Patut ditunggu karya berikutnya.
Profile Image for Tsaniyatul Husna.
31 reviews3 followers
September 11, 2021
Memperingati hari membeli buku nasional pada 17 Agustus untuk membebaskan jiwa raga, pilihan hati saya selalu tertuju terhadap buku ini. Judulnya amat sangat agresif bukan? Kalau ada waktu untuk menikah, maka memang harusnya ada waktu untuk tidak menikah bukan?

Bukan, buku ini bukan mengajak kita untuk tidak menikah. Lebih besar dari pada itu, Amanatia menawarkan cerita dari beragam lapisan masyarakat, dari sudut pandang wanita, dengan amat kaya raya. Mengeksplorasi sudut pandang buruh, pedagang, aktivis, ibu baru, sahabat hari tua, dan yang paling hebat adalah Nursri. Kapan waktu paling magis untuk memutuskan tidak menikah kalau bukan pas hari H sembari menghapus maskara yang sudah luntur kemana-mana?

Gema suara buku ini amat tegas, wanita memiliki hak berbicara yang sangat luas. Bukan cuma mengurusi “my body is my authority”, lebih besar daripada itu, wanita bebas menjadi siapa saja dalam 14 cerpen ini. Siapa sangka, Rahayu di lantai tiga pasar bringharjo melahap habis Tenggelamnya Kapal Van der Wijk seperti membaca tabloid gadis edisi minggu? Siapa sangka, hal-hal kecil yang kita anggap lumrah, sebenarnya ada saja sudut pandang baru yang bisa lebih luas untuk di nikmati. Amanatia menawarkan keberagaman, untuk mencintai dan memaafkan luka milik diri sendiri.

“Kadang-kadang, memang selalu ada waktu untuk tidak berkasih. Untuk tidak bercinta, untuk tidak menikah. Lagi pula, kisah cinta yang melulu indah itu kata siapa?” - Amanatia Junda pada baris belakang yang membuat saya mengaduh, iya juga ya.
Profile Image for Aya Canina.
Author 2 books44 followers
August 8, 2021
Roti dan selai, bunga dan kumbang, Romeo dan Juliet. Biarkan mereka saja yang mengawini satu sama lain. Perempuan (juga tentu saja laki-laki) berhak mengatakan, "ini saatnya waktuku untuk tidak menikah."

Buku ini ramai sekali di media sosial. Awalnya, kukira Amanatia menulis non fiksi. Semacam tulisan afirmasi diri buat para muda-mudi modern yang belum mau nikah, tapi terbentur budaya dan tuntutan papa mama. Jujur aja, tadinya tujuanku baca ini memang untuk dapat penjabaran dari fenomena itu.

Ketika tahu ini kumpulan cerpen, aku tetap penasaran, meski gak sebanyak awalnya. Akhirnya selesai juga. Rasanya seperti duduk-duduk santai di alun-alun. Menyaksikan macam-macam orang sambil menebak-nebak bagaimana jalan hidup mereka. Misalnya kalau aku memerhatikan si Rahayu itu jalan di depanku. Aku gak akan berpikir dia janda. Aku berpikir dia ibu paruh baya yang belum dikarunai anak. Karena tidak ada anak yang harus diurus di rumah, cara jalannya kalem sekali. Tapi ternyata, dalam cerpen Lantai Tiga Beringharjo, Rahayu adalah seorang janda yang membaca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk.

Mengasyikkan. Amanatia membawa pengamatannya ke dalam cerita-ceritanya. Semuanya terasa ringan saja, bahkan untuk suasana dengan emosi sedih. Yang paling memukau memanglah Waktu untuk Tidak Menikah itu sendiri. Pelik, detail, emosional. Cocok sekali dibuat jadi tajuk utama.

Aku suka, sih.
Profile Image for Justika Imaniar.
11 reviews
May 16, 2021
“Hingga kita pun lupa untuk saling menatap saat kita hendak tidur. Aku ba tu menyadari hal itu saat kamu memutuskan untuk kita pisah ranjang. Aku terus memandangimu di sepanjang satu setengah meter jarak dipan kita hingga terlelap,”

Saya membaca kumcer ini di momen hari raya. Momen dimana orang-orang akan bertanya, “kapan saya menikah?” “Kapan nyusul aku yg udah nikah?” Dan pertanyaan kapan lainnya. Salah satu ekspetasi sebelum membaca buku ini adalah saya akan menemukan alasan saat tidak (cepat-cepat) menikah.

Tapi saya salah, saya tidak menemukan alasan apa pun. Yang justru saya temukan adalah cerpen-cerpen di mana kita harus bisa memaafkan diri kita sendiri. Atas luka yg dibuat orang lain hingga yang dibuat oleh diri kita tanpa disadari.

Best short story : Planet Tanpa Gravitasi dan Pisah Ranjang
Profile Image for Ilari Dawashy.
28 reviews
June 5, 2023
Waktu untuk Tidak Menikah memuat 14 cerpen yang ditulis oleh Amanatia Junda. Buku ini memiliki tokoh utama perempuan dengan berbagai latar belakang.

“… Ada masa ketika manusia harus belajar menerima pencapaian dan kegagalannya sekaligus….” (Hal. 115)

“Kata orang, penyesalan memang selau datang di akhir. Tapi jika rasa kesal itu datang sangat terlambat, jadinya terdengar sangat konyol.” (Hal. 145)

Sebagian cerpen dalam buku ini bertemakan perpisahan dan kehilangan. Penulis menyelipkan pesan-pesan tersembunyi di balik setiap cerpennya.

Membaca buku ini, membuat saya berpikir tentang sisi-sisi lain perempuan. Seperti pengorbanan, keikhlasan, keterbukaan bahkan cara melihat dunia dengan pandangan yang baru.
34 reviews4 followers
February 16, 2019
Jujut saya tertarik sama buku ini karena best seller, cuman mengira-ira dan ternyata isinya bagus. Entah kenapa saya merasakan Amanatia bercerita sangat personal di ceper-cepennya ini, seperti mengigau tentang masa lalu yang dipendam dan belum terselesaikan. Ga melulu soal percintaan beberapa cerita di sini juga beragam, seperti perkosaan, kebakaran hutan, korupsi, perempuan tua jalanan, relasi sepasang kekasih, tentang perempuan, sepasang ibu anak, dll. Pastinya nada-nada kecewa, kecut tapi dihadapi dengan senyuman khas idealisme aktivis lah haha, saya tahu dia siapa. Saya pikir kejujuran adalah nyawa ceper-cerpen ini, fyi.
Profile Image for Nina Savitri.
88 reviews2 followers
January 2, 2020
buku yang dari judulnya saja sudah menggelitik hati banyak pembaca termasuk saya. sekilas pasti yang akan terbayang adalah sebuah buku berisi pembenaran bahwa menikah itu tidak terlalu penting untuk perempuan, namun nyatanya itu salah adanya. buku ini malah meyakinkan saya sebagai pembaca untuk menyegerakan sebuah pernikahan dengan pemikiran yang matang dan merdeka. sebab, untuk memulai sebuah chapter baru dalam hidup perlu di rencanakan dengan baik dan pas untuk membantu kita menghadapi badai ombak kehidupan di chapter selanjutnya. good job amanatia, salah satu buku yang membuatku terkesan berkali kali.
Profile Image for Sosa.
50 reviews3 followers
February 6, 2021
Waktu Untuk Tidak Menikah memiliki judul yang agak agresif, membuat saya terdorong menyembunyikan buku ini. Bukan karena apa-apa, tapi saya sedang pulang ke kampung dan orang rumah cenderung melihat isi buku dari judulnya saja.

Dan ternyata.. Buku ini tidak se-agresif judulnya. Berisi cerita-cerita yang dinarasikan dengan apik dan mengangkat topik random apa yang dipikirkan para tokoh perempuan.

Tapi meskipun apik, saya hanya menikmati dengan sungguh-sungguh beberapa judul saja. Diantaranya Prelude, Perkara di Kedai Serba-Serbi, Baru Menjadi Ibu, Abha, Planet Tanpa Gravitasi, dan Pisah Ranjang.

(3,5 / 5)
67 reviews
June 13, 2021
Judulnya yang mungkin masih dianggap cukup kontroversial bagi masyarakat Indonesia yang cenderung konservatif justru menarik perhatian saya. Setiap cerpen di dalamnya berisi realita, pergulatan nyata perempuan terkait hidup, pekerjaan, cinta, relasi, pernikahan, dan keluarga. Buku ini muncul di waktu yang tepat, di tengah makin tumbuhnya kesadaran bahwa pernikahan tidak selalu seindah cerita dongeng, pernikahan bukanlah satu-satunya jalan untuk mencapai kebahagiaan, hingga realita bahwa cinta bisa datang dan pergi ibarat manusia yang sesuka hati. Cinta akan mati bila tidak selalu dirawat oleh semua pihak yang terlibat di dalam relasi.
Profile Image for Ninnasi M.
28 reviews1 follower
March 17, 2022
"Asal mi instan tetap murah, sama halnya rokok tetap terjangkau, para lelaki akan sangat setia untuk nongkrong di warung melebihi kesetiaan mereka pada pasangan masing-masing "

"Ngomong-ngomong soal bahagia, apakah kebahagiaan manusia itu sebenarnya sekadar bonus dari kesetiaannya selama ini untuk bertahan hidup?"

--

Dah dua itu aja yang sempet bikin jeda pas lagi baca, sisanya hhmm gelap.

Berhenti meneruskan bacaan di halaman 91 karena merasa saya tidak cocok dengan bacaan yang gelap, menderita, dan tetap tidak ada yang bisa dipetik maknanya dan cerpennya.

Ya tapi bukan berarti bukunya tidak bagus.
Hanya bukan jenis buku yang saya butuhkan saja.
Profile Image for Tita Amelia.
74 reviews
April 15, 2024
Buku ini berisi kumpulan cerita pendek yang (saya rasa) berisi keresahan penulis. Setiap ceritanya seperti ironi dari realita yang penulis lihat atau alami sendiri. Konteksnya sangat luas; yang ingin "disentil" macam2: dari isu lingkungan, sosial, keluarga, hingga perempuan.
Sejujurnya saya tertarik membaca ini karena membaca judul dan deskripsi sebagai bentuk justifikasi bagi saya sendiri yang tidak begitu ingin menikah. Yah walaupun ternyata buku ini tidak mampu memenuhi ekspektasi saya, tapi saya cukup puas dengan tulisan author karena memberikan perspektif dan khasanah baru bagi saya yang sedang mengeksplorasi buku-buku karya penulis dalam negeri.
Profile Image for Dyan Eka.
287 reviews12 followers
September 9, 2020
Sudut pandang yang digunakan di semua cerpen di buku ini adalah sudut pandang perempuan dengan beragam status, membuat cerpen demi cerpen menarik untuk dibaca. Menceritakan berbagai emosi dan masalah yang bisa saja dialami oleh siapapun, yang sebenernya membuat buku ini pantas untuk dibaca siapapun, bukan hanya seorang perempuan.
Walaupun ada beberapa cerpen yang perlu waktu lebih lama bagi saya untuk mencerna maksudnya apa, but after all I enjoy read this book.

Btw Pisah Ranjang adalah cerpen favorit saya di buku ini.
Profile Image for Agidia Oktavia.
10 reviews
March 11, 2021
Waktu membelinya yang terpikir adalah sebuah novel. Ternyata di luar perkiraan, ini adalah kumpulan cerpen. Itu pun baru sadar ketika membaca bagian selanjutnya. Hehe

Ada 14 cerpen di sini, ke semuanya memilikinya alur dan konsep berbeda-beda. Ada yang membuatku sangat tertarik dan ada yang disayangkan mengapa selesai dengan tanya. Mungkin begitu sensasi membaca cerpen. Bisa dibilang sekitar 60% menarik untukku dan 40% tidak terlalu. Well, itu selera masing-masing sih. Membaca itu juga terkadang adalah kegiatan merasa. Hehe.

Hal menarik dari kumcer ini, sisi perspektif feminis terasa. Tampak sekali penulis adalah juga seorang aktivis. Ada beberapa aktivisme kental terekam dalam beberapa cerpen di kumcer ini. Ada banyak value yang tersampaikan secara tersirat. Sukaaa!

Yang unik adalah cerpen penutup, Pisah Ranjang, unik, lucu, dan tak terduga. :D
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Alya N.
306 reviews12 followers
May 14, 2021
Salah saya memang, tidak memeriksa Goodreads terlebih dahulu sebelum check out buku ini. Saya nggak tahu ini jenis kumcer. Saya kira ini novel hahaha.
Ada dua cerpen yang memorable, saya lupa judulnya.
Yang jelas, cerpen yang pertama tentang seorang teman kosan yang lenyap demi memperjuangkan nasib bumi. Serta, cerita tentang dokter Abha yang ditemukan bunuh diri di kamar mandi. Dialog konstelasi Dokter Abha dan temannya si aku, yaitu Astri, tentang kehidupan dan kematian, adalah favorit saya di buku ini.
Profile Image for Aida.
35 reviews2 followers
Read
July 1, 2021
Bagi saya yang lebih terbiasa membaca novel, awalnya membaca cerpen-cerpen disini terasa tidak memuaskan, menggantung, terlalu banyak pertanyaan tak terjawab setelahnya.

Buku ini berisi kumpulan cerita tentang warna-warni hidup perempuan dengan berbagai pilihannya. Beberapa sangat serius, beberapa 'sekedar' patah hati. Walau disajikan dengan singkat dan sederhana dalam sebuah cerpen, setiap cerita terasa kompleks dan penuh lika-liku emosi, termasuk yang 'sekedar' patah hati itu tadi.

Favorit saya disini adalah "Planet Tanpa Gravitasi", yang saya tangkap sebetulnya berupa konflik yang cukup klise tapi dikemas dalam cerita yang ajaib, penuh kreatifitas.
Terlepas dari semua cerita yang ada, saya menikmati sekali gaya penulisan Amanatia Junda, tidak nyeleneh tapi bisa menampilkan kedalaman.

Walau begitu, buku ini tidak memenuhi ekspektasi saya yang terlanjur ketinggian. Bukan apa-apa, hanya karena saya tau pertama kali tentang buku ini dua tahun lalu, dari instastory kakak kelas saya. Selama ini buku-buku yang dia rekomendasikan selalu tepat sesuai selera saya. Jadi apa kali ini rekomendasinya mengecewakan?
Tidak, hanya saja, I would say that this is not my cup of tea, karena itu sulit bagi saya menentukan berapa bintang yang pas.
Profile Image for Nabila.
8 reviews1 follower
December 8, 2022
Sebenernya agak sulit buat kasih rating, karena isinya cerpen yang tiap bab beda ceritanya. Lumayan lama juga selesain buku ini karena tiap lanjut bab berikutnya mulai lagi dari nol.

Sekitar 60% isi buku ini aku suka. Lumayan banyak sih bab yg aku suka. Ini beberapa bab yg aku suka:
-Prelude
-Perkara di Kedai Serba-Serbi
-Baru Menjadi Ibu
-Pada Jarak yang Memisahkan Kami
-Abha
-Sepasang Buku Mata Merah
-Rinai di Natuna
-Pisah Ranjang
Sisanya agak bosen buat dibaca atau mungkin karna aku kurang suka aja.

⭐️⭐️⭐️
Profile Image for Tristanti Tri Wahyuni.
193 reviews6 followers
October 18, 2024
Kumpulan cerpen dengan judul yang sedikit provokatif, langsung menarik perhatian para lajang yang mungkin mencari validasi atas pilihan hidup mereka. Namun, isi cerpen-cerpen dalam buku ini jauh lebih luas dari sekadar pernikahan atau status hubungan.

Penulis menyelami isu-isu sosial yang lebih dalam, seperti tekanan dari masyarakat, kebebasan individu, dan kompleksitas relasi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Setiap cerita menggugah pembaca untuk berpikir lebih kritis tentang ekspektasi sosial, sembari menghadirkan sudut pandang yang relevan.
Profile Image for Ummu AM.
22 reviews1 follower
September 3, 2019
Terlalu lama bersama membuat kita lupa untuk berdiri sendiri. Kita lupa kapan terakhir kali menjadi diri sendiri karena semua batas telah bias.

Waktu Untuk Tidak Menikah bukanlah buku yang mengajak kita menunda pernikahan atau bahkan tidak menikah. Ini adalah kumpulan kisah dari orang-orang yang akan dan telah menikah. Memberi kita pandangan bahwa pernikahan bukan penyelesaian satu masalah melainkan hanya satu fase baru dalam hidup.
Profile Image for Fauzi Karo Karo.
22 reviews
July 1, 2019
Kagum pada cerita Planet Sublim yang memiliki peradaban ilmu pengetahuan yang maju, emang ceritanya romansa antara pasangan yang dari dua benua Ceruk Terang dan Ceruk Gelap. Bagaimana bisa berpikir tentang adanya obat pereda nyeri yang bisa menyembuhkan patah hati dan satu lagi di planet Sublim sudah tersedia operasi luka batin. Gagasan ide yang keren.
Profile Image for Basa Nova Siregar.
17 reviews1 follower
February 21, 2020
Beberapa tragis sekali ceritanya, bikin sedih. Ada juga yang bikin mikir ulang buat milih nikah. Tapi sebelum dan sesudah baca buku ini aku tetap teguh dan tak berubah. Masih belum tertarik menikah.

Di luar itu, terima kasih, Amanatia Junda. Terima kasih sudah mengumpulkan dan menuliskan cerita-cerita ini. 😊
Displaying 1 - 30 of 59 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.