Raymond Carver ditemukan meninggal dalam keadaan telanjang. Dia terkubur mi instan di salah satu kamar Iowa House Hotel di Iowa City. Tiga puluh tahun setelah kejadian itu, Ray— seperti kebanyakan orang memanggilnya—diberitakan meninggal karena kanker paru-paru, tepatnya pada hari kedua bulan Agustus tahun 1988. Namun itu palsu!
Faisal Oddang was born on 18th September 1994. He finished his study in Universitas Hasanuddin, focusing on Indonesian Literature. His books are: Poetry Collection Perkabungan untuk Cinta (Mourning for Love) and Manurung was shortlisted for Khatulistiwa Literary Award 2018, Novels: Tiba Sebelum Berangkat (Arriving Before Departing) was shortlisted for Khatulistiwa Literary Award 2018, Puya ke Puya (From One Heaven to Another) won 4th place in Jakarta Art Council Novel Competition 2014 and was chosen as the best novel in 2015 by Tempo Magazine.
He achieved: Robert Bosh Stiftung and Literary Colloquium Berlin Grants 2018, Iowa International Writing Program 2018, Asean Young Writers Award 2014, Best Short Stories Writers 2014 by Kompas Daily, Prose Writer of The Year 2015 by Tempo Magazine, Best Essayist in Asean Literary Festival 2017. He was invited as a speaker in Ubud Writers and Readers Festival 2014, Salihara International Literary Biennale 2015 and Makassar International Writers Festival 2015, and participated in writer’s residency 2016 in Netherland by Indonesian National Book Committee.
Sekali waktu Faisal Oddang pernah membagikan cuplikan naskah yang sedang ia kerjakan tentang Raymond Carver di instagramnya.
Draf pertama itu menurut saya sangat lucu. Dua hal yang saya ingat begitu komikal adalah ketika Ray —seperti kebanyakan orang memanggilnya— mengomentari penulis lain: ia mengaku sebagai ghostwriter (or ghost who write?) Haruki Murakami. Ray juga memaki kumpulan puisi Neruda sebagai cara terbaik untuk bunuh diri: membaca puisi buruk.
Draf halaman pertama itu yang akhirnya membuat saya antusias memburu novela ini.
Setelah membacanya... hmm, bagaimana ya? Ada banyak sekali yang berubah. Kalau boleh kasih bocoran, intinya novela ini metafiksional.
Kalau dibandingkan dengan draf yang pertama saya baca itu, porsi humornya mungkin dikurangi dan lebih banyak elemen sureal dan metafiksi itu. Masih ada sih beberapa usaha membuat humor-humor pahit, tapi menurut saya itu enggak terlalu bekerja.
Ketika mendekati akhir novela ini sempat menyebut nama Alejandro Zambra yang menulis novela Bonsai. Rasanya enggak bisa dibandingkan, tapi kalau memaksa membandingkannya, paling-paling bisa dilihat dari naratornya.
"Kamu" di novela ini berada dalam universe yang langsung saling memengaruhi, sementara "Julio" di Bonsai pengaruhnya tidak terlalu "langsung" jika kita mau membandingkan keduanya.
Mungkin itu aja. Selebihnya "eksperimen" Faisal ini belum dapat saya nilai, mungkin butuh jeda dalam membaca ini.
Oh iya, terakhir saya sadar ada kesalahan yang lumayan fatal. Di blurb belakang ini (bahkan di deskripsi Goodreads ditulis):
"..Dia terkubur mi instan di salah satu kamar Iowa House Hotel di Iowa City. Tiga puluh tahun SETELAH kejadian itu, Ray-seperti kebanyakan orang memanggilnya-diberitakan meninggal karena kanker paru-paru, tepatnya pada hari kedua bulan Agustus tahun 1988."
Saya pikir otak saya yang enggak beres dalam mencerna kalimat, ternyata blurb tersebut yang memang enggak beres. Mana mungkin 30 tahun setelah kejadian itu tahun 1988, harusnya 2048.
Dan betul saja, di bagian prolog novela ini yang benar ditulis: "tiga puluh tahun SEBELUM kejadian itu," sepele memang, tapi bagi saya dan pembaca lainnya barangkali jadi pertimbangan untuk ogah membaca (dan percaya) pada cerita yang kemampuan matematika dasarnya buruk. Salah satu peringatan bagi editor buku ini dalam cetakan berikutnya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sejujurnya gue bingung mau review apa. Tapi gue coba dulu ya. Soalnya buku ini bikin gue agak bingung wgwg. Btw makasih GD sudah menyediakan buku ini😊
***
Cerita dimulai oleh seorang tokoh yang disapa kamu. Beliau adalah seorang penulis novel, lebih tepatnya penulis novel tabu. Beliau ini merupakan penggemar dari seorang penulis bernama Raymond Carver atau disapa Ray.
Dari cerita diketahui bahwa Ray telah meninggal 30 tahun lalu. Tokoh kamu awalnya tidak mempercayai kalau Ray ini masih hidup. Tapi, dengan bukti bukti yang dibawa oleh Ray, akhirnya dia pun percaya.
Ray meminta kamu untuk membunuhnya karena Ray telah membunuh kekasih yang sebelumnya sempat dicumbuinya. Ray merasa bersalah dan itulah mengapa ia minta ingin dibunuh saja. Ray meminta tolong kamu dengan imbalan materi. Kamu pun menyanggupinya.
Menjelang hari eksekusi, Ray ternyata menyukai makanan mie instant. Ia selalu makan mie instan lebih banyak dan sering daripada biasanya.
Di sisi lain, Kamu sedang dalam proses menulis novelnya yang salah satu tokohnya ia beri nama sama dengan nama tengah Ray.
Lalu, bagaimana cara kamu membunuh tokoh Ray? Baca novelnya langsung aja yaaah.
Menurut gue novel ini cukup seru. Banyak adegan yang mengharuskan kita mikir agak keras. Selama membacanya, gue selalu bertanya-tanya "kok bisa gini?"
Kalo alurnya lumayan gak mudah ditebak. Ada beberapa adegan twist yang bikin kita melongo. Endingnya pun gak berhasil gue tebak (gatau kalian).
Yang gue suka, banyak kalimat di buku ini yang sesuai sama realita kita saat ini. Dari yang humor sampe yang menyindir.
Tapi ya itu. Yang bikin gue bingung adalah konfliknya yang pindah sini, pindah sana.. Bikin agak bingung waktu bacanya. Dan juga buku ini lebih ke dewasa yaa. Karena beberapa cuplikan di buku ini bercerita tentang adegan dewasa.
Kuhabiskan buku ini sambil menyantap mi instan buatan orang lain (karena mi instan buatan orang lain jauh lebih nikmat ketimbang buatan sendiri) yang sudah di-upgrade menjadi "mi instan ayam geprek keju". Sebenarnya aku sudah baca buku ini separuhnya sebelum insiden tab rusak terjadi. Sekarang sih belum baik tabnya 😂 tapi mumpung di hp sudah bisa akses Gramedia Digital, yaaa lanjut baca ini saja.
Bukunya unik dan menarik dan tidak biasa. Raymond Carver yang, maaf aku baru mengenal beliau itu siapa dari buku ini, muncul dalam kehidupan "kamu" dan bercerita bahwa beliau belum meninggal, dan merencanakan kematiannya yang sebenarnya kali ini, di tangan "kamu" si penulis galau yang dikejar-kejar deadline dan editor.
Ceritanya seperti nyata, tapi yaa ini fiksi. Kemunculan beberapa tokoh tak diduga di bagian akhir mengingatkanku kepada Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder 😂
Ini buku unik. Menggabungkan unsur biografi/sejarah tokoh (yang tentu saja adalah pengarang tersohor Raymond Carver) dan fiksi yang dilokalkan (karena unsur mi instan asal Indonesia yang digembar-gemborkan kelezatannya). Selain itu, ada beberapa gambar foto yang diselipkan sesuai dengan jalan cerita yang dibawa.
Sudut pandang orang kedua "kamu" membuat buku ini menceritakan si pembaca itu sendiri. Dan "kamu" menjadi karakter utama yang ceritanya sedang menulis karya fiksi porno. Well, ada apa dengan porno dan pengarang? Mungkin aku harus membaca karya-karyanya yang lain. Lalu, aku bertanya-tanya apakah Raymond Carver adalah idola pengarang. Referensi karya-karya Carver yang diselipkan pada buku ini sungguh buatku penasaran.
Awalnya saya mengira ini hanya novel "B side" Faisal Oddang sebelum meluncurkan karya besar yang lainnya. Ternyata novel tipis ini tetap keren meski membuat sedikit pusing. Tapi rasa pusing itu bisa diurai dengan membaca lebih teliti dan kalau perlu, berulang. Novel ini tetap digarap serius seperti Tiba sebelum Berangkat atau Puya ke Puya. Tema dan cara bertutur seperti bukan Faisal di karya-karya sebelumnya. Ia benar-benar keluar dari zona nyaman.
Sinopsis buku ini bilang bahwa kisah ini palsu. Saya sempat bertanya-tanya, dimana letak "kepalsuan"nya karena sepanjang cerita nampak meyakinkan. Ada satu kata, dan saya rasa kalian harus menemukan itu, yang menunjukkan bahwa 116 halaman ini hanya bualan semata.
Kekurangannya, typo. Ini menjengkelkan. Pertama, betapa kata "setelah" yang tertukar "sebelum" itu sungguh merepotkan. Di sampul belakang ditulis "30 tahun setelah kejadian itu", sedang di dalamnya "30 tahun sebelum kejadian itu". Tapi logika cerita membenarkan kata "sebelum". Kedua, puisi Raymond Carver dalam bahasa Inggris yg salah eja "feel" jadi "fell". Ini mengingatkan saya pada jebakan TOEFL test.
Aku baca buku ini sambil nyalon, dan menikmati sekali isinya. Oddang memunculkan gaya yang segar dengan menggunakan perspektif orang kedua, dan berpuncak pada twist akhirnya.
Raymond Carver adalah tokoh nyata, coba cari aja di google, yang meninggal 30 tahunan yang lalu. Di dalam novel ini diceritakan bahwa ternyata kematiannya itu hanyalah kematian palsu, dan dia masih hidup dengan menggunakan identitas palsu. Hingga pada suatu hari dia mendatangi seorang calon penulis dari Indonesia dan meminta tolong pada si penulis itu untuk menghabisi nyawanya dengan imbalan yang cukup besar (dapat hotel woy!!). Si penulis merasa kaget, bukan hanya karena permintaan aneh itu, tapi juga karena sosok penulis yang dia idolakan ternyata masih hidup dan mendatanginya. Sebelum melaksanakan tugasnya, ternyata si penulis malah menjadi semacam tempat Raymond menceritakan kisah hidupnya, baik cerita sebelum kematiannya yang dulu (ini sih kayanya cuplikan biografi asli) sampai cerita ketika dia hidup dengan identitas barunya (ini pasti fiksi).
Di sela-sela cerita antara Raymond dan si penulis dan kisah hidup Raymond sebelumnya, ada juga cerita tentang si penulis dan novel karyanya yang sedang dia kerjakan. Pada awalnya kupikir novel yang sedang dikerjakan itu gak punya peran penting di cerita inti, tapi ternyata aku salah. Ternyata ada plot twist di belakang yang menghubungakan antara cerita inti dengan novel tersebut.
Ide ceritanya menarik. Dalam novel yang lumayan tipis ini ada 'cerita di dalam cerita'. Kedua cerita itu pada awalnya terpisah, dan bisa ditentukan mana yang 'nyata' dan mana yang hasil 'imajinasi' (meskipun sebenarnya keduanya sama-sama fiktif sih). Menariknya, lama-kelamaan kedua cerita itu semakin terhubung dan di akhir cerita seakan melebur dan batas-batas ceritanya semakin kabur.
Selain ide ceritanya, yang menarik dari novel ini adalah penggunaan sudut pandang orang kedua. Jadi sudut pandng orang kedua ini diambil dari si penulis yang disebut 'kamu', dan sampai akhir tanpa nama. Penggunaan sudut pandang seperti ini sejauh ini masih jarang kutemukan. Ada juga tambahan selipan beberapa foto yang mendukung cerita, yang gambar dan penempatannya sangat sesuai dengan adegan yang sedang terjadi dalam cerita.
Sebenarnya bisa aja sih novel ini selesai kubaca dalam waktu sehari, cuma tidak kulakukan. Aku masih berusaha menyelesaikan membaca buku fisik, dan novel yang kupinjam dari iPusnas ini cuma kubaca sesekali pas lagi gak bisa pegang buku fisik lainnya.
Saya belum pernah membaca karya Raymond Carver. Dan membaca karya Faisal Oddang ini membuatku hendak mencicipi minimal satu cerpennya.
Novel(la) ini unik. Tribut untuk Raymond Carver yang ditulis ketika Faisal mendapatkam beasiswa residensi di Iowa. Membacanya cukup membuat kening berkerut, tapi tidak bisa dihentikan sampai selesai. Mengingatkan saya pada Inception-nya Leonardo Di Caprio.
Lalu ada mi instan sebagai unsur terpenting. Di sini mi instan diidentikkan dengan kemiskinan. Padahal selama ini saya menganggap mi instan itu simbol kepraktisan.
baca bab terakhir beneran bisa bikin pusing, gak panjang tp cukup membolak-balikkan seluruh isi buku dan jadi mempertanyakan hal-hal yang selama ini terjadi, apakah sebuah fakta atau hanya mimpi?
asik banget bacanya, cukup bikin kepo sepanjang baca. tulisan dg orang kedua yang gampang buat dicerna (meski di akhir cerita bikin agak pusing), tp aku suka cerita macam ini.
brilian juga idenya, buat bikin cerita dari event yg dilakukan sendiri, bisa buat kenang-kenangan. recommended, soalnya singkat cuma 100an halaman aja👍
Aku hanya baru membaca buku Faisal Oddang yang Tiba Sebelum Berangkat, aku kira novela ini akan membahas sebuah sejarah yang Indonesia banget hahahah. Ternyata tetep kok, masih ada unsur sejarahnya dong. Tapi diceritakan dengan sebuah kisah... agak susah dijelaskan, ada misterinya, humornya juga ada, yang jelas buku ini bisa dibaca dalam sekali duduk, dan bisa membuat kita nyengir saat membaca :D
RAYMON CARVER TERKUBUR MI INSTAN DI IOWA Faisal Oddang
"Novel bagus cenderung membutuhkan waktu yang bagus pula ditulis lama dan matang."
"A clockwork Orange selesai dalam tiga minggu."
"Anthony Burgess bisa jadi pengecualian. Les Miserables selesai dalam tujuh belas tahun, ya, kan?"
"Ya. Karena HUgo itu pemalas."
Humorku ambyar baca obrolan di atas, entah kenapa. Karena, ya aku juga gak habis pikir sih, kenapa bisa Les Miserables ditulis selama 20 tahun. Hahahaha
Jadi ini adalah karya Faisal Oddang pertama yang kubaca. Duh, kemana aja ya gue? Buku yang Tiba Sebelum Berangkat masih ada di rak buku, menuntut di baca tapi selalu terdistraksi dengan buku lain. Monmaap, Bang!
Pertama, sesungguhnya novela ini kuberi nilai 3.8 dari 5. Tapi akhirnya aku memutuskan naik ke 4.5 dan membulatkannya ke atas jadi 5 dari 5 karena menurutku cerita ini bikin pusing (?). Mungkin aku masokis, suka menyakiti diri sendiri dengan baca buku yang aneh dan bikin pusing. Haaa. Tapi buku ini memang bikin ketawa di akhir. Ngakak sejadi-jadinya karena ya itu, bikin orang puyeng, otak udah pada gak bisa nyambung karena tiba-tiba Oddang memberikan pelintiran di akhir cerita yang membuat kabel-kabel di otak semuanya korslet, dan yang bisa kalian lakukan hanya tertawa keras-keras.
Novel ini menceritakan seorang penulis yang sedang menulis tentang seorang penulis yang sedang menulis tentang seorang penulis. Dan akhirnya mereka berlomba siapa yang membunuh karakter dalam buku mereka duluan. Nah, lho! Mabok, mabok lu bacanya. Take your time, I have all day nungguin kalian mengerti dan memahami dulu kalimat di atas.
Are you done?
Okay, move on.
Kalau dilihat dari ulasan orang lain di sini, mereka sibuk membahas tentang penulisan Oddang yang katanya metafiksional yang mana aku tidak memiliki ilmu untuk mengkritik Oddang di bagian situ, dan kalian bisa cari sendiri apakah metafiksional itu, jadi aku hanya mau mengulas dari sisi yang paling mudah menurutku. Buku ini menyenangkan, membingungkan, so funny in his way, surrealis kalau bisa kutambahkan (dan cerita surrealis itu jenis cerita yang kusuka). Faisal Oddang menunjukkan bahwa dia benar-benar ingin makan mi instan ketika sedang melakukan perjalanan ke Iowa untuk mengikuti International Writing Program. Hahaha. Dan buku ini membuatku penasaran dengan karya Raymond Carver, juga dengan karya Faisal Oddang yang lain.
Recommended book untuk pecinta aliran surrealism sepertiku.
Judul dan blurb di sampul belakang buku ini menggelitik dan membuatku ingin membacanya. Raymond Carver sendiri, aku tidak terlalu akrab dengan karya2nya. Pernah sekali membaca cerpennya, tapi (waktu itu) lalu merasa kurang sreg, dan sampai sekarang belum mencoba lagi. Mungkin setelah ini lalu ada keinginan untuk mencicipi kembali masterpiece-nya.
Novela ini adalah pseudofiction, semacam kisah blawur, gak jelas ujung-pokoknya, mengaburkan karakter nyata dan tidak, sureal serta penuh kekacauan. Anehnya, menarik dari awal hingga akhir. Apa jadinya jika RC yang meninggal di tahun 1988 ternyata masih hidup dan merecoki "kamu", seorang penulis muda di tahun 2018. Apa jadinya jika tokoh fiksi dalam novel "kamu" menjelma nyata dan menghampiri pengarangnya. Batas-batas tipis antara nyata-tidak nyata diruntuhkan, dan karakter-karakter di kedua sisi secara ngawur muncul di sisi seberangnya.
Saya langsung berhenti membaca novel ini saat Faisal menulis bahwa Robert Barry memenangkan Hadiah Nobel Sastra 2018. Setahu saya Olga Tokarzcuk yang memenangkan Hadiah Nobel Sastra 2018 yang baru diserahkan oleh Akademi Swedia pada 2019. Saya cek di bagian hak cipta novel ini kalau novel ini terbit pada bulan Maret 2019. Entah, bagian pemenang Nobel Sastra 2018 ini adalah bagian dari semesta fiksi Faisal atau tidak, saya lantas bertanya-tanya, bagaimana mungkin kesalahan fatal seperti ini lolos dari tangkapan editor. Wah, parah ini mah! Kalau seandainya buku ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris kemudian pembaca global menemukan kesalahan ini bisa-bisa Faisal ditertawakan oleh mereka. Sayang sekali Faisal! Kesalahan fatal mengenai anugerah Nobel Sastra 2018 ini di dalam novelmu menjadikan novelmu cacat secara informasi.
Judul buku : Raymond Carver Terkubur Mi Instand di Iowa Penulis buku : Faisal Oddang Terbitan : Penerbit KPG, Maret 2019 Tebal buku : 116 halaman Sebagai penulis semestinya saya tak perlu mempertanyakan apa itu artinya pengendapan dari sebuah proses menjadi ‘batu yang berhenti bergulir di di sungai deras’. Pandangan ini tidak bisa dikatakan objektif, tanpa melibatkan pengayaan batin penulisnya sebelum dan selama berada di lokasi yang menjadi inspirasinya. “Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa” ini lahir tak seberapa jauh sejak Faisal Oddang mengikuti International Writing Program, Iowa, 2018, layaknya menjadi oleh-oleh dari jauh.
Aku buang prasangka tentang tebal-tipis sebuah karya. Tak perlu kusebutkan sejumlah novela mungil yang begitu kaya, kaya gizi, dan menyasar pada kedalaman cerita. Tapi novela “Min Instan” ini bukan lagi tipis, melainkan mungil bentuknya, dijejali sejumlah poto pula. (Aku ingat mi instan di pojok dapurku). Maafkan.
Aku mengkhayal begini. Semisal saja di tempo datang, Oddang merilis novel baru yang lebih gempal, padat, dan kekar, sehingga bisa menangkis segala kenyinyiranku yang sedang merasa kecewa akan ‘oleh-oleh’ yang serupa tulisian yang memuat absuditas disertai suspense kecil dengan bumbu romansa yang ala kadarnya. Novela ini tidaklah buruk, hanya tidak mencerminkan adanya sebuah ‘isme’ yang akan lahir, tidak juga membuat terobosan yang spektakuler. Kisah penuh teka-teki dan runtukkan tokoh-tokohnya ini memang sengaja dibuat santai (untuk tidak mengatakan ala kadarnya yang penting ada buah tulisan). Seperti ingin menemui pembaca dengan rasa kagok; mau ditujukan untuk pembaca muda, terasa berat, tapi ditujukan untuk pembaca sastra terasa kurang.
Akhirnya kunekatkan diri untuk bicara lancang.
Budi Darma bersekolah juga di program yang sama tahun 1967 (kalau tidak salah). Ia tak lantas membuka mesin ketiknya, dan menuliskan sesuatu. Tapi puluhan tahun berikutnya ia membesut karya yang tak bisa akan luntur sampai kapan pun: kumpulan cerpen (panjang) “Orang-orang Bloomington” (1980), dan novel “Olenka” (1983). Kedua memberikan pandangan bagaimana seorang terasing yang menulis di negeri asing, getir manisnya terasa, kedalamannya dapet pake banget-nget. Dan kita masih bisa menemukan kajian kritis mengenai dua karya sastra itu. Aku membayangkan, jika bukan Oddang yang tertera di dalam draf print out naskah itu, mungkin tidak mudah bagi penerbit untuk mengatakan “OK deal”. Penulis yang sudah mempunyai nama semestinya menjaga brand-nya. Di antara luka-luka dan seok-terseok ratusan penulis baru yang mencari celah penerbitan naskahnya, penulis yang sudah mempunyai jaminan ‘ada pasarannya’ harus menelurkan karya yang lebih segar, ada kebaruan tema dan bentuk dan seterusnya. Dengan premis pasaran: kalau sudah jadi penulis, mau nulis apa aja bisa. Maka sebagai pembaca, kuharapkan orang yang sudah diberikan kemudahan menghasilkan karya yang setidaknya mencitrakan diri dalam karyanya.
Aku hentikan ocehan tak ada guna ini. Maafkan, ini bukan ulasan, hanya menyemak saja. Dan aku berharap kelak di belakang hari, Oddang menelurkan lagi karya baru yang tak harus serupa-rupa dengan dua contoh yang tadi disebutkan itu. Ayo Aoddang, kamu bisa! Tak perlu tergesa. Bikin kasya baru yang membuat pembaca berdarah-darah lagi seperti sejumlah cerpenmu di Kompas tempo lalu. Kutunggu, ya!
Kali pertama aku menemukan novel ini di Gramedia, sampul dan judulnya sudah cukup menarik perhatianku. Well, siapa yang pernah membayangkan sih, sampul dengan warna dan gambar mi instan? Kemudian dari judul yang cukup direpresentasikan oleh sampulnya; Raymond Carver -penggemar sastra harus tahu siapa beliau- yang terkubur 'mi instan' (?) dan di Iowa -yang disebut UNESCO sebagai kota sastra? Setelah sekitar dua tahun mengetahui keberadaan buku ini, hari ini aku berkesempatan untuk membacanya di iPusnas. Tidak butuh waktu lama untuk menamatkan cerita setebal 128 halaman ini.
128 halaman memang terbilang cukup tipis untuk sebuah novel, dan yang membuatnya terasa semakin singkat adalah keberadaan foto-foto yang dimaksudkan sebagai 'penunjang' atau pelengkap imajinasi pembaca selagi membaca narasinya. Terus terang, keberadaan foto-foto ini memang cukup membantu bagiku untuk mendapatkan nuansa Iowa dan latar tempat yang digambarkan Faisal Oddang. Untuk segi penulisan, gaya bahasa yang digunakan mengingatkanku dengan novel-novel terjemahan yang tidak terlalu rigid, namun mengalir dan nyaman untuk diikuti.
Menceritakan tentang tokoh 'aku' dan pertemuannya dengan Raymond Carver alias Ray, seorang pengarang Amerika yang telah dinyatakan meninggal pada tahun 1988. Pertemuan di salah satu hotel Iowa ini terbilang mengejutkan, karena si 'aku', salah satu penggemar Ray, meyakini bahwa Ray sudah meninggal. Namun pertemuan ini mengubah seluruh keyakinannya, terlebih ketika Ray meminta 'aku' untuk membunuhnya dengan beragam alasan. Menariknya, mi instan asal Indonesia (we-know-what) turut 'debut' di sini.
"Anda mau mi instan?". "Setidaknya, aku meninggal dalam keadaan kenyang." (hal.42)
Tidak hanya soal masalah 'aku' yang harus membunuh Ray, novel ini juga menyajikan plot lain yang cukup membuatku sedikit mengerutkan dahi hingga akhir yang merupakan plot twist. Bisa dibilang, ini menjadi salah satu plot yang asik untuk diikuti selain permasalahan soal pembunuhan Ray.
Pada akhirnya, membaca ini membuatku semakin ingin membaca karya Raymond Carver, terlebih bukunya yang berjudul What We Talk About When We Talk About Love. Novel ini juga memberikan banyak pengetahuan soal biografi Raymond Carver, Kota Iowa, dan dunia sastra. Nampak sekali bahwa Faisal Oddang memiliki pengetahuan yang sangat mumpuni tentang hal ini.
ps: perhatikan tag 17+ di sampul belakang novel, ya. Pastikan umurmu sesuai untuk membacanya!
Judul yang menarik memang bikin setidaknya orang jadi ingin tahu ceritanya. Termasuk buku ini. Faisal Oddang menulis buku ini jelas pada saat dia mengikuti program residensi di Iowa. Akhirnya menulis tentang Raymond Carver.
Saya baru membaca buku Raymond yang What We Talk About When We Talk About Love, dan saya merasa kurang suka, mungkin karena saya baca versi terjemahan atau entahlah. Dari sisi cerita pun saya rasa, saya tidak terlalu menyukai. Namun, alangkah kecilnya kalo kita tidak menyukai penulis hanya karena satu karyanya saja, mungkin saya harus mencoba membaca karya Raymond Carver yang lainnya nanti.
Cerita buku ini sendiri menarik karena Faisal Oddang mengkombinasikan biografi Raymond Carver dengan cerita fiksinya sendiri. Pembaca yang tidak tahu siapa itu Raymond Carver akan gampang mengetahui ceritanya dari buku ini. Walau endingnya aneh tapi ya saya tetap bisa menikmatinya. Mi instan Indonesia pasti merujuk ke Indomie goreng kan ya? :D
Saya sempat membaca review buku ini dan mendapati ada seseorang yang memberi satu bintang karena Failsa Oddang mennyebutkan nama Robert Barry sebagai pemenang nobel sastra tahun 2018, padahal memang bukan dia (karena nobel untuk 2018 dianugerahkan di tahun 2019). Saya rasa itu juga bagian dari fiksi yang ditulis Faisal dalam buku ini. Yaaa, walau begitu memang yang gak tahu siapa itu RC bakal mikir semua tentang RC dalam buku ini adalah benar, tentu saja bisa juga fiksi seperti yang dibayangkan penulis. Sebaiknya buat yang pengen tahu soal RC, bisa baca biografinya lah, atau minimal Wikipedia atau info yang berhamburan di internet.
Buku ini memakai pov orang ke-2 yang super jarang dipakai dalam literatur dan punya plot semrawut terunik yang kubaca tahun ini. Seorang penulis beken yang sudah meninggal 30 th lalu Raymond Carver tiba-tiba mendatangi "kamu", seorang penulis muda yang lagi merintis karir dengan novel erotika dan menawarkan segalanya sebagai imbalan jasa misi khusus. Tiga inti cerita saling bersinggungan and berbelit di suatu titik. Masa sekarang, masa lalu Raymond Carver juga cerita Erotika yang sedang "kamu" tulis. Ini bikin cerita ini alurnya liar banget dan gak bisa diduga-duga.
Anehnya, gaya berceritanya lumayan enak diikuti walaupun bahasanya lugas dan gak sopan-sopan amat. Para karakternya masih terasa dua dimensional aja dan gak bisa merasakan koneksi dengan para karakter pas baca jadi ya... Gak merasa terpengaruh dengan nasib yang dialami para karakternya.
Ada beberapa quote nyeleneh yang menggemaskan. Misalnya saat si karakter "kamu" menangis dan dikasi tissu, dia nolak dan kurang lebih menjawab, " Ini bukan air mata tapi keringat yang keluar dari mata karena otakku bekerja keras memikirkan tugasmu." Atau bebetapa sindiran-sindiran tentang karya penulisan terkenal mulai dari ghost writer, karya jelek yang orang beramai-ramai borong atau statement, "membunuh karakter utama itu kerjaan penulis amatir."
Selain typo penting di sinopsis belakang buku, cerita ini pendek aja dan bisa diselesaikan sekali duduk. Gak sengaja ditemukan di Ipusnas karena bawa-bawa nama Indomie hihi..
Yang membuat saya kurang begitu tertarik untuk menyelesaikan buku ini sesegera mungkin karena kurangnya kedekatan dengan diri sendiri. Makanya, buku yang semestinya bisa tandas dalam sekali duduk ini harus disimpan bermalam-malam lamanya. Novela tipis ini agak membosankan, secara pribadi.
Selain karena nama Faisal Oddang yang kini menjadi salah satu penulis Makassar favorit, plot ceritanya tidak begitu mengena di hati. Oke, saya tidak pernah membaca buku Raymond Carver yang dijadikan tokoh sentral dalam bahasan. Sudah setahun lebih pula, saya tidak lagi makan mie instan. Alih-alih bertandang ke Iowa, saya ke negeri jiran saja belum. Jadi agak sulit untuk benar-benar mendalami buku yang memiliki sampul menarik ini.
Teknik penulisannya yang agak eksentrik menjadikan buku teranyar Fai jadi memiliki poin lebih. Absurditas tokoh juga demikian, cukup antimainstream. Bagian akhir adalah inti cerita, setidaknya saya tidak menyesal karena terus membalik halaman hingga bagian belakang.
"Kita kadang berkuasa dan menentukan hidup orang lain tanpa sadar kita melakukannya atau tanpa peduli bahwa sesuatu yang kita lakukan adalah sesuatu yang berarti besar bagi mereka meski hanya hal sepele bagi kita..."
Plot twistnya relatif mengejutkan. You'll never know and really have no idea what people have been thru. So that's the reason why you need to mind your words, mind your actions. Simply because it completely matters, it impacts on others.
After a long time, I finally found a book written in the second-person point of view; "kamu"
Ceritanya seperti kotak di dalam kotak antara penulis dan naskahnya.
Raymond Carver adalah seorang penulis terkenal di New York—ia dikabarkan meninggal 30 tahun lalu akibat penyakit kanker paru-paru—namun tiba-tiba muncul di hadapan 'kamu' dan memintanya untuk dibunuh. Ray menjanjikan penawaran dan harta untuk kamu karena ia ingin terbebas dari kepopuleran dirinya serta ingin menghilangkan rasa bersalahnya karena telah membunuh kekasihnya.
Ray menyuruh kamu untuk merancang skandal kematian dirinya, sementara kamu sendiri juga lagi pusing mikirin kelanjutan naskah novel kamu yang belum selesai. Sebelum proses pembunuhan itu terjadi, kamu mengajak Ray ke sebuah apartemen untuk makan mi instan buatan Indonesia. Ray sangat menyukai mi instan tersebut.
Hari pertama percobaan pembunuhan gagal. Hari kedua Ray berhasil mati dengan cara tragis di bathub kamar mandi dengan tubuh berdarah, telanjang, dan terkubur di bawah tumpukan mi instan.
Tenang, karena plot twist-nya bukan siapa pelaku pembunuhnya, tapi siapa kamu sebenarnya?
Begitu memasuki babak akhir, dimuatlah tokoh-tokoh novel yang sedang kamu garap. Ada Clevie dan sepasang suami istri Monaghan yang selama ini merumitkan kamu dalam menyelesaikan naskah.
Buku ini tipis, absurd, bingung—karena tidak ada pembatas realita dan fiksi—tapi sejauh ini bisa diikuti sampai tuntas.
not my cup of tea sebetulnya, tapi unsur-unsur erotis, satir, dan humor cukup menarik saya. pertemuan tokoh kamu dan raymond carver, yang disapa ray, tak terduga dan sulit dipercaya oleh kamu. karena yang kamu tahu, ray telah lama meninggal berpuluh tahun lalu. tetapi setelah diterangkannya alasan mengapa ray memilih memalsukan kematiannya dahulu, kamu teryakinkan bahwa ia adalah ray betulan. sudah jelas, ray meminta kamu untuk membunuhnya dengan diberikannya imbalan harta kekayaan ray sebagai penulis terkenal, tetapi nyatanya ray meninggal bukan oleh kamu. ray meninggal di dalam kamar mandi hotel dalam tubuh telanjang, mulut berbusa oleh darah, dan terlumuri mi instan. sebelum menuju adegan kematian ray itu, saya suka bagaimana ray menceritakan semua masa lalunya kepada kamu, terutama kenangan akan percintaan dengan mantan istrinya atau kekasihnya dahulu. sebelum kematian ray itu pula, ray memakan banyak sekali mi instan indonesia. mi instan mengingatkan ray akan dirinya dan maryann yang dulu selalu memasak mi instan ketika sedang kesusahan finansial. ini kali pertama saya membaca buku yang terinspirasi dari mi instan. dan faisal odang menulis ini, "bagian terenak dari surga mi instan kering adalah bumbu di dasar kemasannya," yang banyak dari kita mungki menyetujui. oh, ya, bentuk buku novela ini sangat mini, hanya 11,5 x 17,5, menggemaskan!
[ Book Review ] Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa - Faisal Oddang
Sebelum ini aku baca "Tiba Sebelum Berangkat" cerita rumit dan absurd. Begitupun dengan ini.
Bercerita tentang kamu orang indonesia yang tinggal di Iowa pengagum Raymond dan tak sangka akan bertemu dengan Raymond dan diminta untuk membunuh dirinya.
Si "kamu" ini juga penulis, dan cerita yang ia buat diinspirasi dari Raymond itu sendiri.
Dan tokoh tokoh yang ia ciptakan tiba tiba hidup beserta cerita yang ia tulis. Termasuk tokoh Clevie yang terinspirasi dari Raymond Carver.
Alurnya maju kadang flashback berupa penceritaan dari Raymond mengenai alasan alasan ia harus dibunuh.
Juga tokoh utama yang sering bertanya tentang kejanggalan yang sering ia hadapi selama berbicang dengan Raymond.
Klimaksnya bikin aku baca mengulang.
Soal cover mi yang jadi heboh, dalam cerita mi menjadi simbol kemiskinan dan Raymond bernostalgia dengan itu.
Dan tokoh utama yang orang indonesia ini membawa mi dan itu membuat Ray terus memakan mi.
Aku gak bisa bilang untuk merekomendasikan buku ini, sebab ini bukan novel ringan dan bukan bacaan remaja.
Butuh cukup umur dan pembiasaan baca cerita yang rumit dan absurd.
Kalau kamu termasuk pembaca yang kritis. Mungkin kamu akan menyukainya.
Buku ini bercerita tentang tokoh indonesia (kamu, atau aku (?). Haha) yang terlibat sebuah problem kriminal yang unik. Dia harus membunuh seseorang atas permintaan orang tersebut yang sebenarnya sudah dianggap mati bertahun-tahun sebelumnya. Sebagai gantinya, si tokoh akan mendapatkan kekayaan 'korban' yang tidak sedikit.
Dalam perjalannya kemudian banyak hal baru terungkap, beberapa hal malah sangat lucu dan nostalgik. Seperti tentang mi instan indonesia yang mendunia. Haha bagian-bagian mi instan ini bagian favorit saya.
Saya kemudian menyadari, hal yg menarik dari tulisan-tulisan Faisal adalah bagaimana dia mencampurkan fakta-fakta dengan fiksi. Di buku ini bahkan didukung beberapa foto lokasi dan situasi asli. Haha Bisa saja sih saya memilih tidak percaya sepenuhnya, tapi kadang ada hal-hal yg membuat saya merasa kok ini bisa jadi betul ya. Haha dan efeknya, selesai membaca saya menjadi penasaran tentang cerita yang sebenarnya. Karena saya kemudian memilih sedikit percaya pada beberapa cerita masa lalu tokohnya.
Bagian akhir bisa dibilang sebuah keberanian untuk keluar dari kebiasaan. Bukan yang pertama saya menemukan bentuk cerita demikian, tapi yang ini bagus.
Ini novela yang sangat unik. Aku seperti menemukan Faisal Oddang yang baru dengan diksi yang berbeda dari buku-bukunya yang aku baca sebelumnya seperti Puya ke Puya, Tiba Sebelum Berangkat, maupun Sawerigading Datang dari Laut. Tapi menurutku sama gilanya sih.
Di awal buku ini kita disuguhkan cerita seorang penulis terkenal yaitu Raymond Carver yang meminta ‘kamu’ untuk membunuhnya dan memberikan imbalan yang cukup setimpal. Ya, jadi sepanjang buku ini menampilkan sudut pandang orang kedua dengan ‘kamu’ sebagai tokoh utamanya. Menggabungkan biography penulis Raymond Carver dan fiksi yang dibalut unsur lokal yakni ‘mie instan’. Juga menyelipkan foto-foto yang sesuai dengan ceritanya. Buku ini mengingatkanku pada film dokumenter dari Iran ‘Taste of Cherry (1997)’ karya Abbas Kiarostami yaitu juga tentang seorang lelaki paruh baya yang mengendarai mobil berkeliling padang pasir untuk mencari orang yang mau membunuhnya.
Di akhir cerita ada plot twist yang juga sama uniknya meski sedikit membingungkan. Tapi, buku ini semestinya patut dibaca dan jadi rekomendasi buku yang bisa dibaca sekali duduk.
Ketemu buku ini saat lagi ngescroll judul-judul Gramedia Digital. Saat aku lihat nama penulisnya, Faisal Oddang, aku jadi langsung tertarik untuk baca. Aku cuma pernah baca satu karyanya Faisal Oddang yaitu, Dua Alasan untuk Tidak Jatuh Cinta, yang aku kasih 4 bintang bulan Februari lalu. Jadi aku memulai buku ini dengan harapan kembali menikmati karyanya.
Buku ini tentang tokoh Kamu, yang suatu malam kedatangan sosok Raymond Carver, penulis terkenal yang seharusnya sudah mati bertahun-tahun lalu. Dan anehnya lagi Carver datang untuk meminta Kamu membunuhnya.
Sayangnya, this book just isn't for me. Aku sangat menikmati gaya penulisannya dan aku juga bisa menerima twistnya di akhir cerita. Tapi setelah aku menyelesaikan buku ini dalam sekali duduk, aku merasa aku gak mendapatkan apa-apa dari buku ini (termasuk rasa senang ataupun kecewa). Jadi cerita dalam buku ini bagaikan berlalu saja setelah aku membacanya.
Raymond Carver Terkubur Mie Instan di Iowa ini mencampuradukkan sejarah dengan hayalan Faisal Oddang, penulisnya. Sesungguhnya Raymond tidak meninggal karena kanker paru-paru, ia bahkan belum meninggal. Ia memalsukan kematiannya lalu hidup sebagai pemilik hotel dan ghost writer. Sampai suatu saat ia memutuskan ingin mati dan meminta penulis membunuhnya.
Menarik kan?
Tidak sampai di situ saja, novel ini juga menyajikan cerita dalam cerita, membuat bingung pembacanya. Yang dunia nyatanya yang mana sihhhhh?
Bagus lah novelnya. Menarik. Sejarahnya dapat, pengetahuan soal buku-buku bagus lainnya juga dapat. Kreativitasnya apalagi. Meski saya agak kurang sreg waktu penjelasan soal cerita dalam cerita itu. Kalau ga dijelasin kayaknya lebih misterius, seperti Inception.
Lalu banyak adegan dewasa yang kalau dibaca orang visual itu bikin "Eeeeewwww!" Jijik saya. Hahaha.
Baca ga? Baca! Bagus dan bisa habis sekali duduk.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Saya sendiri sudah cukup lama ingin membaca karya dari Raymond Carver tetapi belum kesampaian. Lalu ketika menemukan buku ini di rak buku Gramedia, saya seketika kepincut dengan judulnya. Judulnya pun menarik, terkubur mi instan? Apa maksudnya coba.
Ketika membaca pun saya sedikit terkejut karena penggunaan sudut pandang orang kedua. Seolah-olah pembaca menjadi tokoh utama. Entah apakah hal ini pernah dilakukan sebelumnya atau tidak, tetapi ini pengalaman pertama buat saya. Sungguh menarik.
Hal yang sedikit mengganjal mungkin adalah akhir ceritanya itu sendiri. Agak absurd bisa dibilang. Namun, ceritanya sendiri memang sudah terbilang absurd. Bertemu dengan tokoh literatur ternama yang ternyata masih hidup setelah dianggap mati oleh dunia. Lalu diminta untuk membunuhnya. Apa itu namanya kalau bukan absurd?
Baca buku ini bikin diri mempertanyakan kehidupan dan kenyataan, bahkan bertanya-tanya apakah diri ini ada atau tidak, apakah benar diri yang menulis review ini merupakan identitas sebenarnya atau jangan-jangan aku ini penulis terkenal yang udah berusaha bunuh diri berkali-kali namun selalu ditolak kematian? Mana yang nyata dan mana yang tidak? Ah tapi kata Raymond Carver semua itu omong kosong.
Lalu apakah buku ini penuh omong kosong juga? Mungkin iya mungkin juga tidak. Toh apa pentingnya lagi? Apakah kenyataan itu penting?
Ini buku pertama yang menggunakan sudut pandang orang kedua yang pernah kubaca. Entah betulan sudut pandang orang kedua, atau orang ketiga yang seenaknya aja memberi nama. Kalo mau baca sesuatu yang menarik, unik, tapi juga bikin bingung, buku ini mungkin cocok. Asal siap dipermainkan sama penulisnya aja.
Ini novel pertama yg kubaca pake sudut pandang orang kedua. Jadi main characternya disebut sebagai "kamu".
Latarnya di Iowa sekitar tahun 2018.
Seperti yg diceritakan blurbnya, Raymond Carver penulis terkenal asal Amerika yg meninggal tahun 1988, tiba2 datang menemui Kamu di tahun 2018.
Jadi ceritanya selama ini dia masih hidup, cuma pura2 mati :')
Ray menemui Kamu untuk minta dibunuh. Kali ini dia mau mati beneran.
Mereka berdua lalu membuat rencana2 bgmn harus melaksanakan niat mereka. Mendekati hari H, Ray malah ketagihan sama mie instan Indonesia. Ray berencana makan sebanyak mungkin mie instan sebelum dia mati.
Tapi ternyata rencananya tidak berjalan mulus. Karena akhirnya Ray meninggal terkubur mie instan wkwkwk.
Ini novelnya seru banget. Di akhir cerita juga ada plot twist-nya.