It has long been a central conviction of western humanistic thought that reason is the most godlike of human traits, and that it makes us unique among animals. Yet if reason directs what we do, why is human behavior so often violent, irrational and disastrous?
In Within Reason , leading neurologist Donald B. Calne investigates the phenomenon of rationality from an astonishingly wide array of scientific, sociological, and philosophical perspectives--and shows that although reason evolved as a crucial tool for human survival, it is an aspect of mind and brain which has no inherent moral or spiritual qualities and one whose relationship to our thoughts and actions may not be as central as we want to believe. Learned, lucid, and always illuminating, Within Reason brings together the latest developments in the science of mind with some of the most enduring questions of Western thought.
Nalar sering kali dianggap dapat membawa ke arah kebajikan. Semakin bernalar seseorang semakin baik dia. Buku ini menunjukkan bahwa dugaan itu keliru. Dengan menggunakan pendekatan multidisiplin, mulai dari biologi evolusioner, psikologi sampai neurologi, Calne memperlihatkan bahwa nalar ternyata tidak berperan dalam menentukan kebajikan atau tujuan manusia. Nalar hanyalah piranti semata, sehingga tidak berdasar bila dianggap bermuatan moral. Itulah mengapa kaum cendikiawan Jerman yang bernalar pun, misalnya, bisa berbondong-bondong mendukung Nazi Jerman.
Itulah sekelumit isi buku ini.
Sesuai Prinsip 20/80, esensi buku ini terdapat di 20% isi buku, sisanya yg 80% berisi uraian yang menurut saya tidak terlalu penting dan kadang2 terlalu detail terutama tentang bagian2 otak manusia.
Saya lebih berharap bahwa buku ini dalam terjemahannya ke bahasa Indonesia menggunakan kata-kata dalam bahasa Indonesia yang lebih populer ketimbang memilih kata-kata seperti: Senyampang, Mendaku, Sulawan, dubuk, dll.
Saya tertarik dengan pertanyaan awal yang diajukan dan yang menjadi alasan Calne menulis buku ini: Bagaimana mungkin Jerman, yang merupakan negeri Bach, Beethoven, Brahms, Goethe, Leibniz, dan Kant, bisa menjadi negara yang dipacu oleh kebencian dan terlibat dalam kejahatan paling ganas terhadap kemanusiaan sepanjang sejarah? Jawaban sekaligus premis buku ini: Nalar cuma produk biologis, sekadar sarana yang terbatas pada kemampuannya. Nalar telah meningkatkan mutu cara kita melakukan sesuatu; tetapi nalar tidak mengubah mengapa kita melakukannya. Calne menerapkan penelitian multidisiplin. Tiap bab punya kutipan di awal yang sangat menarik.
Buku ini memiliki spektrum yang luas karena bahasan yang ia pilih menyangkut hampir seluruh aktivitas manusia sehingga paparan yang terdapat di dalamnya cenderung kompleks dan berundak-undak.
Kita sering menggunakan nalar dalam beberapa percakapan sehari-hari, namun mungkin hanya sedikit yang mengetahui "nalar" secara utuh. Ruang yang menganga tersebut diambilalih oleh buku ini dengan menceritakan proses lahirnya nalar, naik turun objek ini di dalam beragam masyarakat, sampai pengaruh nalar sampai pada hal-hal yang kita sadari sebagai sesuatu yang terjadi secara alamiah.
Secara garis besar memang penulis lebih menganalisis nalar dan pengaruhnya melalui kacamata neurologis, namun cukup berimbang dengan ditambahkan beberapa definisi nalar dari perspektif filsafat, sosio-antropologi, dan berbagai disiplin ilmu yang lain.
Hm, buku yang lumayan serius, tentang asal-usul nalar (agak ribet juga mengikuti sang penulis melacak asal-usul nalar dan mengaitkannya dengan bahasa...), perannya dalam kehidupan, seni, pemerintahan, agama, peradaban, kemajuan, dan banyak hal... Fakta bahwa dunia modern ini tumbuh karena penggunaan logika dengan efisien seringkali membuat orang punya ekspektasi berlebihan terhadap nalar, menganggapnya sebagai pangkal segala kebaikan, dan menjadikannya ukuran dalam semua hal... lha padahal (kata penulisnya nih), hitler itu kan kejam ya? apa dia nggak punya nalar? Bukan, bukan karena nggak punya nalar, bahkan seandainya dia jadi lebih bernalar pun bukan berarti dia akan jadi insyaf, malah mungkin lebih pintar menciptakan mesin pembunuh. Bom atom juga produk nalar, tapi nalar tidak mencegahnya digunakan untuk membumihanguskan jepang. Semua itu, kata sang penulis, karena, baik-buruk, tujuan dan hakikat di balik perbuatan, ada di luar kuasa nalar. nalar itu cuma alat, banyak hal yang di luar jangkauannya... yang menentukan tujuan sebuah perbuatan, ya hati, nurani, naluri...yang asal-usulnya lebih "tua" lagi dari nalar... kalau kata kutipan di buku itu... "Reason can not tell us where to go, but it can tell us how to get there... it is a gun for hire for anything we want...wether it is good or bad..."
Premis utama buku ahli neurosains ini adalah bahwa nalar hanyalah piranti bagi manusia untuk melakukan suatu pekerjaan lebih efektif dan cepat, bukan alat untuk menakar baik buruk sebuah ide. Bagi Calne, nuranilah yang berperan untuk menentukan moralitas sebuah perbuatan. Saya tidak sepenuhnya sepakat sengan kesimpulan beliau, sepertinya saya perlu baca buku lain mengenai tema ini.
Nalar (reason) ternyata tidak selalu mengarah pada kebajikan. Nalar hanyalah pembeda manusia dengan spesies lainnya. Ada begitu banyak faktor yang dapat mengalahkan manusia untuk bertindak tidak sesuai dengan nalar, sebagian besar perang yang terjadi di muka bumi adalah contohnya. Ada beberapa hal menarik yang Calne sampaikan yang berkaitan dengan latar belakangnya yakni neurolog. Seperti contohnya ketidakmampuan manusia dalam bernalar berkaitan dengan kelainan otak dalam hal ini termasuk dalam penyakit mental dan penderita gangguan bahasa. Sayangnya terjemahan dalam bahasa Indonesia dalam buku ini agak kurang pas meski tidak sampai level yang mengganggu.
Salah satu buku yang di rekomendasi untuk dibaca ketika saya membaca Novel Dunia Shopie. Buku yang sangat menarik, kolaborasi antara biologi, filsafat dan teologi. Kita bisa mengetahui bahwa nalar mendahulukan observasi terhadap teori dan mendahulukan kesederhanaan terhadap kompleksitas, dan nalar juga menuntut konsistensi, koherensi dan efisiensi.
Namun, terlepas dari itu semua, nalar tidak kuasa mengarahkan cita-cita dan tindakan kita karena kodrat akan keterbatasannya itu sendiri.
Ekspektasi yg saya pribadi dapat melalui judul, dan bahkan penjelasan di bagian belakang buku, tidak cukup terpenuhi dengan maksimal. Menurut saya pribadi, pembahasannya terlalu melebar dan historis.
Banyak orang mengira semakin bernalar seseorang, semakin bajik dia. Buku ini memperlihatkan bahwa dugaan itu keliru. Nalar tidak berperan dalam menentukan kebajikan atau tujuan manusia.