Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sawerigading Datang dari Laut

Rate this book
Dengan kalimat-kalimat pembuka yang menyentak dan kerap sureal, cerita-cerita di buku ini membuhul kepiawaian mendongeng Faisal Oddang dengan kepekaannya untuk menciptakan gambaran-gambaran yang seolah-olah berada di ambang antara dunia nyata dan tak nyata yang berlatar Sulawesi. (Ronny Agustinus)

Sawerigading Datang dari Laut memikat bukan lantaran Faisal menulis Kisah tentang Yang Lain, yang selama bertahun-tahun keberadaan mereka ditumpas dalam senyap oleh negara (dan kadang kadang oleh masyarakat); yang informasi tentang mereka sedikit sekali diketahui; terkubur begitu dalam; tapi terutama karena cerita-cerita tersebut berhasil menularkan kegetiran dan kengerian, membuat siapa pun yang membaca akan terancam. (Azhari Aiyub, penulis novel Kura-kura Berjanggut)

192 pages, Paperback

Published January 20, 2019

9 people are currently reading
115 people want to read

About the author

Faisal Oddang

33 books112 followers


Faisal Oddang was born on 18th September 1994. He finished his study in Universitas Hasanuddin, focusing on Indonesian Literature. His books are: Poetry Collection Perkabungan untuk Cinta (Mourning for Love) and Manurung was shortlisted for Khatulistiwa Literary Award 2018, Novels: Tiba Sebelum Berangkat (Arriving Before Departing) was shortlisted for Khatulistiwa Literary Award 2018, Puya ke Puya (From One Heaven to Another) won 4th place in Jakarta Art Council Novel Competition 2014 and was chosen as the best novel in 2015 by Tempo Magazine.

He achieved: Robert Bosh Stiftung and Literary Colloquium Berlin Grants 2018, Iowa International Writing Program 2018, Asean Young Writers Award 2014, Best Short Stories Writers 2014 by Kompas Daily, Prose Writer of The Year 2015 by Tempo Magazine, Best Essayist in Asean Literary Festival 2017. He was invited as a speaker in Ubud Writers and Readers Festival 2014, Salihara International Literary Biennale 2015 and Makassar International Writers Festival 2015, and participated in writer’s residency 2016 in Netherland by Indonesian National Book Committee.

Email: faisaloddang@gmail.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
37 (23%)
4 stars
83 (53%)
3 stars
34 (21%)
2 stars
2 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 38 reviews
Profile Image for Awal Hidayat.
195 reviews36 followers
February 17, 2019
Sejak membaca tulisan Faisal Oddang lewat Tiba Sebelum Berangkat, saya berkeyakinan kalau kakek dan nenek saya mewujud pada dirinya meski kami sebenarnya bisa dibilang sebaya. Penuturan ceritanya sangat mengingatkan pada kisah sebelum tidur yang tak pernah absen didongengkan sebelum tidur semasa saya masih kecil. Bukan berarti Faisal benar-benar menggantikan mereka, tetapi Faisal merupakan pendongeng ketiga terbaik setelah kakek dan nenek.

Kemiripan kisah kakek dan nenek dengan cerita Faisal karena memiliki keterikatan seputar masa mempertahankan kemerdekaan di Indonesia, khususnya pergolakan di Sulsel. Tak hanya Tiba Sebelum Berangkat, kumpulan cerita Sawerigading Datang dari Laut juga membawa pesan serupa. Tentang Bissu, korban 40.000 jiwa, pasukan gurilla (KGSS), siri', jugun ianfu, adat Toraja, dan latar Sulawesi Selatan lainnya.

Unsur proximity yang disampaikan Faisal diperkuat pula dengan diksinya yang kuat. Tak hanya sekadar indah, ia menyentak, menghipnotis, dan membuat saya terpukau. Dari judul cerpennya saja, Bagaimana Mereka Memotong Lidahmu? atau Gelang Tali Kutang. Tidak usah ragukan dengan isi ceritanya.

Tokoh dan cerita-ceritanya pun saling berkelindan di semesta yang sama. Barangkali, beberapa cerpen ini juga menjadi tonggak awal dari beberapa cerpen, puisi, atau novel Faisal yang lain. Prinsipnya, berakhir tragis. Entah mengapa, keseluruhan cerita di buku ini selalu ditutupi dengan paragraf pilu. Mungkinkah nasib orang Bugis, Toraja selalu semenyedihkan itu? Apalagi, bagi Bissu yang sebenarnya begitu dielu-elukan sebelum isu komunisme dan penistaan agama mulai bergejolak.

Terima kasih banyak untuk Faisal yang tak berhenti menyebarkan cerita tentang mereka Yang Lain, tentang Yang Terpinggirkan, tentang Yang Terasing di rumahnya sendiri. Waiting for others magnificent works!
Profile Image for Miftahul Rizka.
28 reviews1 follower
January 27, 2019
Novel pertama dari Faisal Oddang yang pertamaku baca dan langsung suka dan penasaran buku karya dia lainnya.

Ku sndiri asli keluarga Bugis tapi setelah membaca ini banyak beberapa informasi yang tdk ku ketahui sebenarnya banyak cerita seru dari tanah Sulawesi yg masih belom ku telusuri.

Kumpulan cerita yang mengulas keyakinan dan dongeng leluhur tanah Sulawesi. Dan ini mencakup tanah Sulawesi bukan sekedar Sulawesi Selatan saja. Pemetaan wilayah di Sulawesi yg detail kejadian disetiap wilayah yang kurang adanya perlindungan untuk warganya dan kurang rasa keadilan
sangat terasa dan menyentuh. Rasa cerita Frontalisme dengan bahasa yang tidak frontal langsung itu yg membuatku penasaran dengan cerita lainnya di setiap cerpen yg tertuang dibuku ini dan buku selanjutnya. Memang ini ciri khas dari penulis dan gaya penulisannya ini yang membuatku penasaran apa cerita selanjutnya yang penulis bisa tuangkan kembali di buku lainnya.
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
January 19, 2019
Sejak membaca Tiba Sebelum Berangkat yang masuk shortlist KLA tahun lalu, aku sudah menyukai tema dan gaya penceritaan penulis ini. Belum sempat mencari karya2 sebelumnya malah kumcer yang baru terbit ini yang lebih dulu menarik perhatianku. Jadilah demikian.

Ada 16 cerpen di sini. Rata-rata pendek saja, 6 sampai 10 halaman, atau lebih banyak sedikit. Tapi hampir semuanya dibuka dengan menghentak. Kalimat pertama yang menggambarkan keseluruhan cerita. Semacam foreshadowing atau mimpi-mimpi yang membawa pertanda. Lalu dari situ cerita bergulir, berbalik ke belakang sebelum maju perlahan-lahan membangun emosi, dan bum, akhir yang kembali mengejutkan.

Beberapa kisah (Mengapa mereka berdoa kepada pohon, Orang-orang selatan harus mati malam itu, Jangan tanyakan mereka yang memotong lidahku, Peluru siapa yang kami temukan ini?, Siapa suruh sekolah di hari minggu, Di sana lima puluh tahun yang lalu dan Gelang tali kutang) kurasa adalah dari benih-benih yang sama dengan novel Tiba Sebelum Berangkat. Semuanya mengangkat tema tragis yang sama, dalam cerita yang berbeda-beda.

Cerita-cerita yang lain lebih menarik bagiku. Di tubuh tarra, dalam rahim pohon misalnya, menceritakan tentang arwah-arwah yang dititipkan dalam tubuh tarra dan seseorang yang mengkhianatinya. Kisah bernuansa magic realism ini sangat pas dengan seleraku. Di atas geladak adalah cerita cinta di zaman kolonial yang berakhir tragis. Cantik sekali. Bisa jadi novel panjang ini. Sebelum berangkat ke surga mengangkat adat yang memberatkan ekonomi. Sudah bbrp kali kutemukan tema ini, tapi masih cukup menarik. Sedangkan cerpen yang judulnya dijadikan judul buku, Sawerigading Datang dari Laut kok malah kurasa tidak terlalu menarik ya, maksudku unsur surealis pangeran Luwu ini okelah premisnya, tapi terus kok terus ceritanya beralih ke perempuan terpasung. Uhm....

Catatan akhir, sampulnya cantiiiique sekalee. Aku suka ilustrasinya, pemilihan warnanya yang sangat kontras, juga tekstur kertasnya dan judulnya yang dicetak timbul. Keren. 👍
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book268 followers
March 22, 2021
Sawerigading Datang dari Laut adalah kumpulan cerpen karya Faisal Oddang. Masih dengan tema-tema kisah dari Sulawesi Selatan. Beberapa di antaranya pernah saya baca, seperti "Di Tubuh Tarra, Dalam Rahim Pohon" dan "Siapa Suruh Sekolah di Hari Minggu?".
Kisah-kisah lainnya masih terasa istimewa, mungkin saya subjektif karena saya berasal dari Sulawesi Selatan, dan merasa girang membaca cerita dengan kearifan lokal tempat saya. Total ada 15 cerita pendek.
Profile Image for Puterica.
138 reviews21 followers
January 26, 2022
4.5/5!

Cerita-cerita di dalamnya bagus banget. Tulisan Faisal Oddang memang nggak perlu diragukan lagi. Tapi banyak tema yang diulang, dan bagiku yang sudah membaca Puya ke Puya dan Tiba Sebelum Berangkat jadinya bosen sih. Tapi untuk cerpen2 baru yg temanya segar, menurutku bagus bgt!
Profile Image for Nila Pratiwi.
120 reviews6 followers
March 29, 2019
setiap kali saya membaca tulisan faisal oddang saya merasa seperti ditarik ke masa lalu; serupa mengenang ketika mendengarkan nenek saya bercerita pada suatu sore yang hujan, atau serupa membaca dongeng yang meninggalkan perasaan takjub. seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, buku yang baik adalah yang bisa memberikan manfaat bagi pembacanya, dan faisal oddang tentu saja berada di jalur itu. terlebih gaya penulisannya yang frontal saya temukan ketika pertama kali membaca buku 'tiba sebelum berangkat', yang membuat saya ingin membaca tulisannya yang lain.

di buku sawerigading datang dari laut ini berisi cerita-cerita yang memikat. tulisan faisal oddang tidak pernah jauh dari cerita yang menyoroti isu tentang keyakinan, adat dan tradisi, perampasan kebebasan, mitos yang dipercaya hingga kini, dan bahkan isu orientasi seksual juga kerap dihadirkan. dari tujuh belas cerita, empat di antaranya adalah favorit saya (orang-orang dari selatan harus mati malam itu, sawerigading datang dari laut, perempuan rantau, dan siapa suruh sekolah di hari minggu?).

tulisan lebih lengkap bisa dibaca di blog saya >> https://ohsvgar.blogspot.com/2019/03/...
Profile Image for Mangku Parasdyo.
83 reviews5 followers
August 9, 2021
Kumpulan cerpen dengan latar Sulawesi yang kuat. Namun latar sulawesi yang diangkat bukanlah sekedar lokasi atau masyarakatnya secara umum saja saja, namun lebih spesifik lagi yaitu tentang orang-orang yang termarjinalkan.

Konflik-konflik yang diangkat merentang luas mulai dari adat, politik, hingga permasalahan gender; mulai dari masa kolonial hingga masa kini. Konflik yang selalu meninggalkan para liyan ini dengan sebagai korban dan orang-orang yang kalah yang penuh dengan rasa kehilangan yang sangat mendalam, kehilangan fisik mulai dari anggota tubuh, kehormatan, nilai yang dianut, orang yang tercinta, hingga nyawa.

Faisal Oddang lihai memanfaatkan bentuk cerpen dengan memberi kalimat pembuka yang menghentak, memainkan sudut pandang dan ambivalensi dari karakter-karakter yang terlibat sehingga membuatku harus mundur sedikit untuk memastikan apakah tokoh ini laki-laki atau perempuan, masih hidup atau sudah mati, berada di realita dunia atau realita lainnya. Pelintiran sering muncul dengan cara yang menyesakkan. Perulangan nama kadang membuat bingung, apakah cerita ini masih satu kesatuan pada rentang masa yang sama dan terkait atau lepas satu sama lain. Aku tak tahu ada statistik yang bisa membuktikan ini atau tidak, namun aku merasa cerpenis laki-laki lebih sering menggunakan kembali nama-nama yang sama pada cerpen-cerpen mereka.
Profile Image for Gita Swasti.
324 reviews40 followers
August 12, 2020
Sawerigading Datang dari Laut

Andrei Codrescu dalam esainya yang berjudul The Devil Never Sleeps menulis "kapitalisme mencuri keluguan anak-anak Rumania."

Saya menemukan keluguan dalam cerpen-cerpen ini. Salah satu yang membuat saya tidak berhenti mengagumi Faisal Oddang adalah ia selalu membuat hentakan kuat di kalimat pembukanya, tapi tidak luntur begitu saja. Kekuatannya tetap ada hingga di akhir kalimat. Tidak hanya di buku ini, cerpen-cerpen Faisal Oddang yang saya baca di Kompas maupun media lainnya pun penuturannya selalu demikian. Itulah ciri khasnya.

Dari sini saya bisa mengetahui budaya orang Bugis, memberikan kelapa, beras, dan ayam untuk anaknya ketika ingin merantau. Kelapa adalah simbol kebermanfaatan bagi sesama, beras adalah simbol kemakmuran, dan ayam adalah simbol ketepatan waktu.
Profile Image for linath.
83 reviews20 followers
May 12, 2024
Kumpulan cerita kompas, penulis adalah lulusan sastra UI. Penulisan begitu apik. Berisi kumpulan cerpen. Kisah-kisah yang ditulis adalah sejarah yang tidak ada didalam buku-buku sejarah.
Profile Image for Intan Windah.
7 reviews
October 28, 2024
"Aku mencintaimu, Runduma. Kuyakin kau tak mendengarnya"
Ini kali pertama bagiku baca kumpulan cerita pendek karya Faisal Oddang, berawal dari aku cari buku beliau "Tiba Sebelum Berangkat" yang sudah langkah dimana-mana akhirnya saya memutuskan baca karya beliau yang satu ini. Setelah baca cerpen ini aku tahu kenapa banyak yang suka tulisan beliau hingga buku-bukunya yang lama masih saja diburu. 
Membaca cerpen ini seperti saya memasuki daerah yang asing, daerah yang belum pernah kukenal sebelumnya. Aku tidak banyak tahu tentang budaya di Sulawesi Selatan, jadi ketika aku lagi baca sering kali bolak balik google. 
Faisal Oddang sangat lihai sekali dalam membuat cerita, setiap cerita memiliki alur yang kuat, konflik yang menarik, tulisan yang indah sehingga membuat pembaca penasaran. Dari judulnya saja sudah membuat saya terpukau, Mengapa Mereka Berdoa Kepada Pohon?, Jangan Tanyakan Tentang Mereka Yang Memotong Lidahku, Kapotjes dan Batu Yang Terapung, Gelang Tali Kutang, menarik bukan? Dan beliau juga lihai sekali dalam memainkan sudut pandang, kadang aku bingung harus menebak-nebak siapakah yang sedang bermonolog. 
Ada satu persamaan dalam 16 cerita pendek itu, adalah akhir yang tragis. Seakan-akan penulis ingin menyampaikan bagaimana leluhur di tanah Toraja dulu ketika mereka berjuang sebelum dan sesudah Indonesia merdeka. Apalagi tentang keadaan seorang Bissu yang dulu dituduh sebagai penistaan agama dan dipaksa harus masuk dalam agama lain. 
ah, kalian harus banget baca ini supaya kalian juga ikut merasakan kesedihan-kesedihan yang ada didalam cerita. Aku juga rekomendasikan kepada kalian yang ingin sekilas mengetahui tentang sejarah-adat-budaya-politik di Sulawesi Selatan harus banget baca ini, karena Faisal Oddang mengemas cerita-cerita pendek ini dengan apik.
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
January 22, 2019

Sepertinya tepat sekali yang dituliskan Azhari Aiyub dalam komentarnya untuk buku kumpulan cerpen terbaru Faisal Oddang ini. Sawerigading Datang dari Laut memang membawa kisah dari mereka Yang Lain, kisah orang-orang yang terpinggirkan karena keadaan--yang paling kentara adalah karena alasan politis. Kita yang terlalu normal hidupnya ini mungkin tidak pernah merenungkan betapa beruntungnya kita tidak berada di posisi liyan. Lewat kisah-kisah pendek di buku ini, penulis muda asal Sulawesi Selatan ini sepertinya hendak mengingatkan kita pada nasib kurang beruntung yang dialami oleh beberapa gelintir warga negara Indonesia. Mereka harus kehilangan rumahnya, harta benda, kebebasaan, bahkan jiwanya. Semua penderitaan itu dikarenakan alasan yang sepertinya sepele tetapi sejatinya sangat keji: perbedaan pandangan politik dan agama.

https://dionyulianto.blogspot.com/201...
Profile Image for Ramdani Tonga.
43 reviews4 followers
March 6, 2019
Redaktur Seni pengasuh rubrik cerpen di Kompas pernah mengatakan kira kira seperti ini: kalau mau dimuat di Kompas, pelajari cerpen cerpen yang pernah dimuat.

Pertanyaan itu adalah jawaban dari para calon penulis cerpen. Kira kira begitulah intinya.


Jadi buku Oddang ini adalah salah satu yang wajib dibaca para calon penulis cerpen Kompas.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews40 followers
March 15, 2019
Gaya bercerita Faisal Oddang selalu menarik. Terkadang agak susah diikuti dengan metode baca cepat, jadi harus dibaca ulang pelan-pelan. Dalam kumpulan cerpen ini saya membagi judul-judul dalam 2 kategori: cerita yang pernah dipublikasikan dan cerita yang baru. Kategori yang kedua kurang begitu menarik. Tema terasa diulang hanya dengan tokoh dan konflik yang sedikit berbeda.
Profile Image for tiq's.
10 reviews1 follower
December 17, 2024
Saya lebih terkesan dengan catatan penulis dibanding cerpen-cerpen di dalamnya. Semua cerpennya bagus, namun format antologi ini sepertinya mengurangi kesannya. Saya membaca buku ini selama 5 hari, dengan satu, dua, atau tiga cerpen perharinya. Lama kelamaan, semua cerpen jadi memiliki kesan yang mirip, pasti kisahnya berisi cinta, fiksi sejarah, dan budaya lokal Sulawesi Selatan. Saya mengagumi bagaimana Faisal Oddang mengangkat kisah mereka yang terlupakan. Semua cerpen bagus, tapi karena semuanya bagus, semuanya jadi terasa biasa. Aneh ya? Kesannya seperti tidak bersyukur ahahaha.

Gaya bahasanya sungguh puitis penuh cinta, tapi rasanya sama semua. Plot twist memang ada, namun tidak banyak yang menggugah hati, semua cerita seperti 'diusahakan' ada plot twistnya, saya jadi tahu kan? Tidak ada yang mengagetkan, semuanya pasti berakhir tragis. Sudut pandang pencerita bisa membingungkan, harus dibaca pelan-pelan, seringnya penulis (walau menggunakan pov orang pertama) akan menyebut kata 'kau' duluan, dibanding 'aku'. Pembaca bisa bingung menempatkan diri, tapi menarik kok. Pemilihan dan penyusunan katanya, sungguh irit! Nama tokohnya pun ada yang sama, entah itu mereka atau mereka yang lain. Alurnya banyak yang maju mundur. Jadi, sekali lagi, bacanya harus pelan-pelan!

Sebagai orang berdarah Bugis-Makassar, budaya-budaya dalam buku ini cukup akrab dengan saya. Tak ada masalah, mengingat saya pernah menulis tentang Bissu juga. Namun saya rasa bagi orang luar, akan sedikit membingungkan, apalagi soal bissu dan cintanya yang terlarang. Sisi sejarah juga begitu, mengingat peristiwa yang diangkat tidak dikenal luas. Saran saya bagi yang awam, cari tahu lebih lanjut sebelum dibaca. Berkat buku ini, saya jadi tahu lebih banyak hal tentang tanah tempat saya lahir. Terima kasih ^^

☆ 4 (sebaiknya dibaca satu-satu fren)
Tersedia di Ipusnas
Profile Image for Wahyudin Opu.
2 reviews
November 11, 2025
Buku Sawerigading Datang dari Laut karya Faisal Oddang merupakan kumpulan cerpen yang menggali sejarah, tradisi, dan ingatan kolektif masyarakat Sulawesi Selatan. Dengan bahasa yang puitis dan tajam, Faisal menulis tentang hal-hal yang sering terpinggirkan dari arus besar sejarah: luka, keyakinan, dan ritual yang membentuk identitas budaya Bugis, Makassar, dan Toraja. Ia menempatkan tradisi sebagai sumber pengetahuan yang hidup, bukan sekadar peninggalan masa lalu.

Kisah tentang tragedi 40 ribu jiwa di Bacukiki membuka luka sejarah yang lama tertutup. Sementara Orang-Orang Selatan Harus Mati Malam Itu menyingkap keyakinan Tolotang yang bertahan di bawah tekanan kekuasaan dan "agama resmi". Dalam Sebelum Berangkat ke Surga, kematian hadir sebagai perjalanan spiritual menuju asal, bukan akhir. Cerpen tentang Bissu, penjaga naskah La Galigo, memancarkan makna penyatuan antara dunia manusia dan dewa, maskulin dan feminin. Faisal juga menulis tentang upacara kematian Rambu Solo’ dan konflik tambang nikel di Toraja. Menggambarkan benturan antara adat, alam, dan modernitas, aktivitas destruktif yang kian ramai melanda Sulawesi dan kawasan timur lainnya.

Karya yang paling memukau saya adalah Di Tubuh Tarra dalam Rahim Pohon, kisah penuh simbolisme tentang perempuan dan alam. Tana Toraja mengenal tradisi pemakaman bayi di tubuh pohon. Melalui imaji magis, tubuh manusia dan pohon menyatu sebagai lambang kesuburan, penderitaan, dan kekuatan hidup. Cerpen ini menjadi pertemuan antara mitos, ekologi, dan spiritualitas—sebuah narasi yang menegaskan kedekatan manusia dengan alamnya.

Melalui Sawerigading Datang dari Laut, Faisal Oddang menulis ulang ingatan kolektif dengan penuh empati. Ia menghadirkan suara-suara yang lama dibungkam, menjahit kembali sejarah dari laut, tanah, dan tubuh manusia yang terus mencari makna.
Profile Image for kasmawithbooks.
26 reviews1 follower
July 25, 2025
"Perahunya tenggelam ratusan tahun yang lalu ketika meninggalkan Luwu menuju Cina. Sekarang, dia muncul kembali dari dasar lautan dan alih-alih disambut ibarat juru selamat yang ditunggu-tunggu, dia malah tidak dikenali bahkan dianggap orang gila." (Hal.59)

Setelah membaca Puya ke Puya dan kumpulan cerita ini, saya bisa bilang bahwa Faisal Oddang adalah Pencerita Ulung🔥

Setiap saya memulai membaca sebuah buku, biasanya saya akan membaca kata pengantar dari penulis untuk mengetahui arah dan tujuan karya yang akan saya baca. Nah, ketika membaca pengantar berjudul "Beberapa Cerita, Beberapa Buku, Beberapa Orang", saya diliputi rasa penasaran, " kepahitan" Indonesia manakah yang akan diangkat oleh penulis dan apakah ia akan berhasil menyampaikannya dalam bentuk cerpen? Dan WOW, @faisaloddang bagi saya berhasil🤩. Membaca buku ini membuat saya teringat novel "I Must Betray You."

Dengan menyajikan 15 cerita berlatar Sulawesi, Penulis mengingatkan saya sebagai pembaca tentang pentingnya mengetahui "Sejarah" kelam rumah sendiri😖

Dari ke 15 cerita, saya paling dibuat tercengang oleh :
1. Mengapa mereka berdoa kepada pohon?
2. Peluru siapa yang kami temukan ini?
3. Kapotjes dan Batu yang terapung
4. Siapa suruh sekolah di hari minggu? dan
5. Sebelum berangkat ke surga (kisah lengkapnya dapat kalian baca di buku Puya ke Puya)

Yang ingin mengenal sejumput sejarah kelam di Sulawesi dalam bentuk cerpen, buku ini sangat saya rekomendasikan, siapa tau setelah membaca buku ini, kalian makin tertarik mencari tahu kisah-kisah tersembunyi di daerah kalian😌
Profile Image for Widia Kharis.
47 reviews
April 10, 2021
Sebenarnya saya ingin baca Tiba Sebelum Berangkat, tapi kumcer ini justru jadi buku Faisal Oddang yang pertama kali saya baca, dan saya tidak menyesal. Faisal Oddang menyuguhkan tema sejarah, sosial budaya, dan politik pada masyarakat Sulawesi—khususnya Bugis dan Toraja—yang sejujurnya tidak begitu familier bagi saya. Ada yang agak surealis, ada yang mengangkat isu-isu adat, ada yang membuka ingatan tentang sejarah kelam.

Dari 15 judul, hampir semuanya dimulai dengan kalimat pembuka yang 'wah' dan bikin penasaran. Kebanyakan ditulis seperti sebuah surat, seakan si tokoh utama sedang bercerita kepada orang lain. Sayangnya, pada beberapa cerpen saya rasa alurnya agak tergesa-gesa.

Beberapa judul seperti Kapotjes dan Batu yang Terapung; Siapa Suruh Sekolah di Hari Minggu?; dan Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon yang jadi favorit saya, pernah saya baca di koran. Dan membaca cerpen-cerpen itu untuk yang kedua kalinya, ternyata masih menghadirkan hawa magis yang sama. Judul-judul lain kesukaan saya: Gelang Tali Kutang yang jadi kisah penutup yang tragis, dan Di Atas Geladak yang menghadirkan gejolak romansa dan balas dendam di zaman Belanda.

Secara keseluruhan, saya suka. Jadi semakin penasaran untuk baca karya-karya Faisal Oddang yang lainnya.
52 reviews7 followers
January 15, 2024
Cerita pendek, kebanyakan mengambil latar zaman setelah kemerdekaan dengan isu agama. Saya kira tidak akan ada yang lebih menyedihkan selain menunggu seseorang yang bahkan kita tidak tau, hidup atau mati. Agama menjadi topik utama, perlawanan pada penjajah bahkan pada masyarakat itu sendiri. Benar-benar setiap cerita punya keindahan dalam susunan kata tragis.

"Jika sudah selesai belajar, kamu pulanglah jadi imam, kami jual sawah dan ternak untuk bangunkan kau masjid. Belajarlah yg benar untuk berguna bagi orang bodoh seperti ayah ini."

Memang benar di kampung kami tidak ada masjid, bukan karena tidak ada yang menyumbang, melainkan tidak ada yang percaya diri menjadi imam. — hlm. 84

Dalam cerita 'Siapa Suruh Sekolah di Hari Minggu?' dari sudut pandang anak kecil, ironis melihatnya melakukan kejahatan karena keegoisan orang dewasa.

Setiap cerita saya langkahi dengan rasa puas, setiap bab berakar pada kemalangan tak berujung namun menyulut kemanusiaan untuk menyala lagi. Menggagumkan melihat cerita dengan kebanyakan latar Sulawesi, dapat saya terima tanpa masalah. Hadirnya isu politik, sosial, serta agama melengkapi kekelaman dalam tiap konflik yang anehnya masih relavan sampai hari ini.
Profile Image for Achmad Renhoran.
5 reviews
April 14, 2025
"Sawerigading Datang dari Laut" adalah kumpulan cerpen yang ditulis oleh Faisal Odang, seorang penulis yang dikenal dengan gaya penulisannya yang unik dan kaya akan metafora. Buku ini terdiri dari beberapa cerita pendek yang mengambil inspirasi dari mitologi Bugis dan pengalaman hidup sehari-hari.

Cerita-cerita dalam buku ini memiliki tema yang beragam, mulai dari cinta, kehilangan, hingga pencarian identitas. Faisal Odang berhasil menciptakan atmosfer yang magis dan misterius, yang membuat pembaca merasa seperti sedang berada di dalam dunia yang lain.

Gaya bahasa Faisal Odang dalam buku ini sangat khas dan menarik, dengan penggunaan bahasa yang kaya akan metafora dan simbolisme. Cerita-cerita dalam buku ini seringkali membuat pembaca merasa seperti sedang mengalami perasaan yang sama dengan tokoh-tokoh dalam cerita.

Secara keseluruhan, "Sawerigading Datang dari Laut" adalah sebuah buku yang menarik dan memikirkan. Faisal Odang telah berhasil menciptakan sebuah karya yang unik dan orisinal, yang pasti akan disukai oleh pembaca yang suka dengan cerita-cerita yang mendalam dan memikirkan. Buku ini sangat direkomendasikan bagi pembaca yang ingin menikmati karya sastra yang kaya akan metafora dan simbolisme.
Profile Image for Yuliana Martha Tresia.
66 reviews19 followers
December 29, 2020
Ini kali pertama saya membaca kumpulan cerita pendek Faisal Oddang dan sangat terkesan. Faisal Oddang sangat lihai dalam menyusun cerita dengan konteks budaya-sosial-politik Sulawesi, khususnya dalam latar budaya suku Bugis & Toraja yang kuat dalam buku ini. Cerita pendek "Di Tubuh Tarra, Dalam Rahim Pohon" dan "Sebelum Berangkat ke Surga" adalah yang paling mengesankan saya: sangat direkomendasikan untuk disimak baca.

Keunikan lain yang saya temukan dalam buku kumpulan cerita pendek ini adalah bagaimana Faisal Oddang mengulang penamaan karakter yang sama, meski berbeda cerita. Beberapa cerita pendeknya juga ditulis dengan sudut pandang orang pertama dengan tokoh utama seorang perempuan, mengangkat kisah kekerasan seksual. Tetap saja, semuanya berlatar Sulawesi.

Jelas sekali, Faisal Oddang berhasil merangkul kekayaan kultur-sejarah-sosial-politik Sulawesi dalam satu buku ini. Menjadi kekhasannya sebagai seorang penulis. Buku ini adalah salah satu buku kumpulan cerita pendek yang harus dibaca jika ingin 'mengunjungi Sulawesi' dalam kesusastraan Indonesia.

Ah ya, buku ini jadi buku pertama yang saya baca di aplikasi IPusnas dari Perpustakaan Nasional RI. Buku ini versi digital bisa dipinjam dan dibaca gratis disana.
Profile Image for nuhakhr.
61 reviews2 followers
July 2, 2021
Buku kumpulan cerpen ini kubeli karena ada nama Sawerigading di judulnya. Saat itu, aku sedang berurusan dengan tugas kuliah yang sedikit menyinggung legenda masyarakat Bugis ini. Dalam cerita-ceritanya, Faisal Oddang banyak menyisipkan aspek kebudayaan masyarakat Sulawesi—yang ternyata merupakan tanah kelahirannya—dan menuturkannya dengan cara memikat.

Kejutan bertubi-tubi datang seiring perjalanan dari satu judul ke judul berikutnya. Ada perasaan aneh saat membaca tulisan-tulisan Faisal Oddang. Perasaan seperti tersesat di antara ruang khayali dan kenyataan. Caranya mengawinkan latar historis dengan imajinasi yang sedikit liar, serta masih menyertakan sedikit pembicaraan terkait isu sosial. Sedikit mengingatkan pada versi yang lebih halus dari surealisme Eka Kurniawan, sekaligus kelugasan Okky Madasari dalam corak yang lebih lembut.

Dua cerita dalam buku ini yang begitu membekas di ingatan adalah "Sawerigading Datang dari Laut" yang menabrakkan dua kisah dongeng dan "Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon" yang menguras air mata. (Cerpen yang disebut terakhir merupakan Cerpen Terbaik Kompas Tahun 2014).

Satu lagi, membaca buku ini rasanya seperti sedang menyelam di perairan dalam yang dipenuhi makhluk-makhluk dengan rupa tak terduga. Sunyi dan magis, tapi begitu penuh dengan kejutan.
48 reviews
October 24, 2023
Tiba Sebelum Berangkat merupakan karya Faisal Oddang yang pertama kali saya baca. Dari sana, saya tertarik membaca karyanya yang lain. Bertemulah saya dengan buku ini, yang ternyata berisikan kumpulan cerita pendek yang ditulis olehnya.

Tema yang menjadi latar setiap cerita masih mirip dengan novel yang saya baca sebelumnya. Biasanya seputar kultur Bugis dan peristiwa sejarah paskakemerdekaan yang terjadi di Sulawesi Selatan. Cerita dengan tokoh utama seorang bissu berkali-kali muncul. Begitu juga dengan kisah dengan latar terjadinya pemberontakan DI/TII. Yang jelas, setiap kali ada tokoh tentara, sudahlah pasti orang tersebut memerankan karakter antagonis.

Hampir semua (atau memang semua?) cerita dalam buku berakhir tragis. Kita dibawa ke dalam narasi yang membuat penasaran. Mendekati akhir, kita mendapati kejutan betapa menyedihkannya nasib tokoh dalam cerita.

Sekali lagi tulisan-tulisan Faisal Oddang tidak mengecewakan. Hanya mungkin saya sedikit bosan dengan tema yang itu-itu saja. Di lain sisi, tema yang itu-itu saja mungkin saja menjadi cara penulis agar kita tidak pernah lupa peristiwa sejarah yang kelam dan adat budaya asli yang semakin tenggelam.
Profile Image for tuesdayat7am.
27 reviews1 follower
April 6, 2021
Saya dulu pertama kali terpikat oleh tulisan Faisal Oddang yang berjudul Manurung 13 Pertanyaan untuk 3 Nama dan langsung terpikat dengan gaya penceritaannya yang memikat. Saya seperti dibawa menuju ke dunia lain yang indah sekaligus kelam dalam satu waktu. Seperti cerita tentang Hana, tentang Zelle, tentang Tarra, dan tentang setiap tokoh dalam masing-masing cerita dalam buku ini.

Pembelajaran pertama untuk saya dari seorang Faisal Oddang: usia memang hanya angka. Saya seperti melihat jiwa tetua dalam setiap tulisan Faisal Oddang. Ada ‘penyihir’ yang mampu memikat pembaca bahkan sejak dari kalimat pertama. Seperti “Bagaimana cara mereka memotong lidahmu?” dalam cerita yang berjudul Jangan Tanyakan tentang Mereka yang Memotong Lidahmu. Sepertinya tulisan-tulisan Faisal Oddang memang menolak untuk diabaikan begitu saja. Pertama memikat, lalu menjerat. Tidak membiarkan pembaca melewatkan satu pun kata.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,356 reviews43 followers
July 23, 2021
Sebagai kumcer sosiohistoris tentang Sulawesi Selatan, buku ini banyak informasi "orang dalam" tentang budaya suku-suku bangsa di Sulawesi Selatan. Ada masyarakat Bugis, Makasaar, juga Toraja. Latar waktu cerita terentang sejak zaman kolonial, hingga era setelah merdeka.

Tapi ini bukan buku untuk menghibur hati atau menambah imun di masa pandemi. Semua ceritanya getir, tokoh-tokohnya punya selintas dendam tak terbayarkan, bahkan setelah jasad mereka mulai termakan tanah.

Sangat sedikit pengetahuan saya tentang masyarakat dan budaya Sulsel, saya pun baru sekali menjejak Sulawesi. Cuma, saya cukup yakin, jelang akhir abad ke-19 pada kisah "Di Atas Geladak" belum ada plastik bening dijumpai di kawasan pelabuhan Semarang, yang digunakan Daeng Beddu untuk membungkus dokumen berkop surat VOC, dan diperlihatkan kepada Arimbi. Apakah itu semacam plastik laminating, atau keyakinan saya salah?
Profile Image for Meilany.
84 reviews3 followers
October 30, 2021
4.7⭐
Ini adalah kumpulan cerpen fiksi sejarah yang pernah ditulis sebelumnya kemudian dijadikan satu buku. Beberapa cerita di antaranya ada yang pernah terbit di media massa seperti Koran Tempo, Kompas, dan Majalah MAJAS.
Selalu suka dengan gaya narasi setiap cerita. Seperti buku-bukunya yang lain, Faisal Oddang selalu menambahkan budaya-budaya suku Bugis, Toraja, dan adat istiadat yang ada di Sulawesi Selatan. Kalo kalian sudah baca bukunya yang berjudul Puya ke Puya atau Tiba Sebelum Berangkat, pasti tidak asing dan tidak akan bingung lagi dengan beberapa istilah suku Bugis/Toraja yang ada di setiap cerpen. Nama-nama tokohnya juga ada beberapa yang sama namun ditulis dengan kisah dan alur yang berbeda.
Profile Image for Lidia.
91 reviews
November 3, 2022
Sawerigading Datang dari Laut merupakan kumpulan cerpen Faisal Oddang yang berlatarkan Sulawesi Selatan. Cerita-cerita di buku ini membawa saya sebagai pembaca menerawang kehidupan tempo dulu, di masa masih ada penjajahan Belanda, sangat miris ya tentara Belanda waktu itu.

Ada juga cerita tentang tolotang yang dipaksa mengikuti peraturan pemerintah untuk meninggalkan ajaran dewata, jika tidak mau akan dibunuh beserta keluarganya, benar-benar mengerikan, padahal itu hanya dibaca bagaimana seandainya menyaksikan, ngeri.

Karena buku inilah, saya jadi tahu cerita-cerita Sulawesi Selatan tempo dulu, baik itu tentang perang, budaya, percintaan, juga keyakinan yang dianut.
Profile Image for Nahdatunnisa.
3 reviews
July 19, 2023
Saya menyukai karya Faisal Oddang sejak selesai membaca Puya ke Puya dan sejak saat itu pula saya tertarik dengan bacaan yang berlatar belakang adat suatu daerah dan peristiwa sejarah yg terjadi disaat yg sama. Sawerigading Datang dari Laut banyak mengingatkanku pada Tiba Sebelum Berangkat, penceritaan yg menarik. Saya dari Makassar dan banyak bagian-bagian di dalam buku ini ku baca dengan logat Makassar jadinya makin menarik. Jika seandainya penulis mau menulis buku sejarah Sulawesi dengan gaya penulisan seperti ini mungkin banyak orang yang tertarik, termasuk saya 😄
Profile Image for ami ☆ ⁺‧₊˚ ୭.
156 reviews18 followers
March 24, 2021
ada beberapa cerita yang bikin bingung karena penggunaan nama yang sama di cerita sebelumnya, juga ada yang bikin bingung "ini dari sudut pandang mana, sih?" belum pernah sebelumnya baca buku sampai habis tapi sampai habis juga masih bingung. ceritanya sendiri sebenarnya cukup menarik, ada beberapa yang peristiwa sejarah. dari beberapa cerita mungkin suka dua-tiga. bahasa yang dipakai pun "cantik", beda dari buku yang udah pernah dibaca sebelumnya.
8 reviews
January 20, 2022
"Nama saya Rahing, usia delapan tahun lebih. Saya baru saja membunuh kakak saya. Lehernya saya potong pakai parang milik gerombolan."

Kumpulan cerita fiksi historis sarat budaya (khususnya Bugis, Makassar, dan Toraja). Latar dan topik sejarahnya kuat: jugun ianfu, guerilla [KGSS], Bissu, dll. Ceritanya unik dan kebanyakan gelap.
Ini karya pertama Faisal Oddang yg saya baca. Semoga dipertemukan dengan karya lainnya.
Profile Image for le..
42 reviews9 followers
March 5, 2022
4/5

15 kumcer dengan latar seputar sulawesiㅡkhususnya bugis dan toraja. dikemas dengan narasi yang apik. sayangnya di beberapa cerita sempet kebingungan ini pakai pov siapa ya? dan beberapa cerita terkesan diceritakan berulang-ulang.

jangan tanyakan tentang mereka yang memotong lidahku, kapotjes dan batu yang terapung dan siapa suruh sekolah di hari minggu jadi kumcer yang paling menarik di buku ini.
Displaying 1 - 30 of 38 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.