Saya lebih terkesan dengan catatan penulis dibanding cerpen-cerpen di dalamnya. Semua cerpennya bagus, namun format antologi ini sepertinya mengurangi kesannya. Saya membaca buku ini selama 5 hari, dengan satu, dua, atau tiga cerpen perharinya. Lama kelamaan, semua cerpen jadi memiliki kesan yang mirip, pasti kisahnya berisi cinta, fiksi sejarah, dan budaya lokal Sulawesi Selatan. Saya mengagumi bagaimana Faisal Oddang mengangkat kisah mereka yang terlupakan. Semua cerpen bagus, tapi karena semuanya bagus, semuanya jadi terasa biasa. Aneh ya? Kesannya seperti tidak bersyukur ahahaha.
Gaya bahasanya sungguh puitis penuh cinta, tapi rasanya sama semua. Plot twist memang ada, namun tidak banyak yang menggugah hati, semua cerita seperti 'diusahakan' ada plot twistnya, saya jadi tahu kan? Tidak ada yang mengagetkan, semuanya pasti berakhir tragis. Sudut pandang pencerita bisa membingungkan, harus dibaca pelan-pelan, seringnya penulis (walau menggunakan pov orang pertama) akan menyebut kata 'kau' duluan, dibanding 'aku'. Pembaca bisa bingung menempatkan diri, tapi menarik kok. Pemilihan dan penyusunan katanya, sungguh irit! Nama tokohnya pun ada yang sama, entah itu mereka atau mereka yang lain. Alurnya banyak yang maju mundur. Jadi, sekali lagi, bacanya harus pelan-pelan!
Sebagai orang berdarah Bugis-Makassar, budaya-budaya dalam buku ini cukup akrab dengan saya. Tak ada masalah, mengingat saya pernah menulis tentang Bissu juga. Namun saya rasa bagi orang luar, akan sedikit membingungkan, apalagi soal bissu dan cintanya yang terlarang. Sisi sejarah juga begitu, mengingat peristiwa yang diangkat tidak dikenal luas. Saran saya bagi yang awam, cari tahu lebih lanjut sebelum dibaca. Berkat buku ini, saya jadi tahu lebih banyak hal tentang tanah tempat saya lahir. Terima kasih ^^
☆ 4 (sebaiknya dibaca satu-satu fren)
Tersedia di Ipusnas