Dari awalnya, cuplikan buku ini sudah menarik minat bacaku. Pasalnya, penulisnya memilih jalan hidup yang tidak biasa. Pratiwi Juliani lahir dan besar di Amuntai, Kalimantan Selatan. Sebuah kabupaten yang mungkin beberapa kali pernah kulewati ketika naik bus antarpropinsi dari Balikpapan ke Banjarmasin. Di kampung halamannya, ia mendirikan sebuah toko buku untuk menarik minat baca masyarakat setempat yang masih kurang dari segi literasi. Sungguh sebuah ide yang mungkin tak pernah terbayangkan di benakku, walaupun aku juga berasal dari sebuah kota di pelosok Kalimantan. Dan seketika, rasa hormatku tumbuh pada sosok PJ yang memilih tinggal dan mengembangkan kampung halamannya, daripada kabur ke ibukota seperti diriku.
Cerpen-cerpen PJ dalam buku ini kebanyakan mengangkat tema kehidupan sehari-hari. Perspektifnya pun bermacam-macam, ada yang diceritakan dari sudut pandang orang dewasa, maupun anak kecil. Ia cukup banyak bereksperimen dengan konsep ruangnya yang begitu detail menjelaskan suasana khas daerah yang hanya ada di Kalimantan Selatan, seperti desa yang gelap hanya beberapa saat setelah isya, repotnya berbelanja dari desa ke kota, hingga mistisisme lokal. Beberapa cerpennya mengambil tempat di desa, dan beberapa yang lain bertempat di kota besar. Aku suka dengan perumpamaannya tentang konsep konflik dalam cerpen 'Film', yang kurasa sangat menggambarkan cara PJ membangun atensi pembaca. Kekuatan PJ bukanlah pada penggambaran konflik yang tajam bak penulis yang sedang kerasukan, namun dengan menjahit jaring-jaring seperti laba-laba yang sedang membangun sarangnya.
Seperti yang banyak dikatakan oleh review-review lain di sini, tulisan PJ sangat tenang. Ia menyampaikan gagasannya dengan pelan, tidak berapi-api. Namun di balik ketenangan itu, ada suatu ide yang ribut minta digaungkan pada daun-daun kuping pembaca. Membaca cerpen-cerpennya seperti sedang melihat potret-potret foto dalam sebuah album foto. Tidak boros kata-kata, namun langsung mengena tepat pada sasarannya. Hanya beberapa menit setelah mencerna cerpen pertama dalam kumcer ini, aku langsung terpana pada kemampuan PJ menyihirku untuk tetap membaca. Dan kurasa tak salah kalau PJ dinobatkan sebagai satu-satunya penulis Indonesia yang masuk dalam kategori Emerging Writers pada Ubud Writers and Readers Festival 2018.