Awalnya, saya ingin membaca buku ini karena buku ini terbitan Faber & Faber, sebuah lini penerbitan besar di Inggris yang saya tahu yang beberapa penulisnya menerbitkan buku di penerbit ini seperti Orhan Pamuk dan T.S. Elliot. Dan intuisi saya terhadap buku ini enggak mengecewakan.
Buku ini terbagi menjadi 5 bab besar dengan beberapa sub bab kecil setelah 5 Bab besar tersebut. Bab pertama mengisahkan seorang wartawan fashion bernama Erica yang merasa dirinya sebagai "penjahat" nomor satu di Britania Raya yang sebenarnya dia gak pernah berbuat kriminal apa2. Ia merasa dirinya sebagai penjahat dikarenakan waham paranoidnya dalam buku ini Erica disebut seringkali mengalami waham rujukan atau delusion of reference, ia merasa dirinya diinteli oleh badan intelejen Inggris M15 yang memasukkan sebuah chip ke dalam mesin faks miliknya. Dan setiap kali dia membaca berita yang ada di media massa hal itu merujuk kepada dirinya. Selama bergulat dengan penyakit skizofrenia, Erica sempat tidak mengkonsumsi obat-obatan dari dokter, ia menganggap dirinya memiliki kekuatan super seperti dukun atau seorang shaman dan hal itu tentu saja memperburuk kondisi mentalnya. Dalam istilah psikologi dan psikiatri yang disebut dalam buku ini, Erica dianggap masuk dalam kategori asonogsia dimana ia merasa tidak sakit tapi realitas di sekelilingnya yang sakit. Dalam akhir Bab pertama ini, akhirnya Erica bisa berdamai dengan penyakitnya dan memiliki pemahaman yang lebih baik dari sebelumnya tentang penyakitnya tersebut. Setelah melewati kisah Erica di bab pertama, ada 2 sub bab kecil yang menjelaskan mengenai pemahaman penyakit skizofrenia dan sub bab lainnya adalah mengenai stigma dan diskriminasi sosial kebanyakan orang pada penderita skizofrenia. Dari keseluruhan kisah yang ada di dalam buku ini, kisah mengenai Erica mungkin adalah yang menjadi favorit saya.
Pada Bab Besar kedua, ada kisah mengenai seorang tentara bernama James yang memiliki delusion of grandeur atau waham kebesaran. James memiliki waham kalau dirinya semacam messianic figure yang memiliki misi tertentu di dunia ini. Saya sebenarnya banyak menskip bagian kisah James ini dan langsung masuk ke dalam bagian diagnosa penyakitnya, karena saya menemukan banyak kata2 kasar yang dinarasikan oleh penulisnya, maklum saya agak enggak kuat dengan kisah cerita bahkan itu novel dan cerita pendek yang menggunakan kata-kata yang kasar. Kalau saya melihat kasus tentara bernama James ini, mungkin saya jadi teringat dengan salah satu cerita pendek yang pernah ditulis Mas Yusi dalam kumpulan cerita pendek Muslihat Musang Emas, perihal seorang nabi yang ingin memegang payudara seorang perempuan. Untuk melihat kajian yang mungkin bisa saya rujuk kepada pembaca, ada buku non-fiksi tulisan Ahmad Fauzi dengan judul Skizofrenia dan Asal-Usul Agama. Mungkin bagi sebagian pembaca, buku Ahmad Fauzi dan (saya sendiri pun demikian) agak kontroversial, tapi sepertinya gak ada salahnya juga untuk mengetahui opini penulis lokal negeri ini mengenai pendapatnya tentang skizofrenia.
Pada Bab Besar ketiga, Inti cerita berpusat pada hubungan Ibu dan Anak. Ibu Clare dan anaknya Joe. Salah satu anak laki-laki Clare yang bernama Joe didiagnosa menderita skizofrenia hebefrenik. Sebelum didiagnosa menderita skizofrenia hebefrenik, Joe seringkali meminum-minuman keras dan beberapa kali memakai kanabis. Secara kejiwaan, Joe sangat tidak stabil. Periode Joe menenggak minuman keras dan mengkonsumsi kanabis ini masuk dalam kategori usia young adult atau dewasa muda. Mark, suami Clare tak mampu merawatnya, dan Joe akhirnya dimasukkan ke dalam lembaga rehabilitasi mental di kawasan Huntington. Banyak penelitian skizofrenia menunjukkan orang-orang dengan usia 18-40 tahun adalah orang-orang yang paling rentan terkena penyakit skizofrenia. Walaupun ada orang yang menderita skizofrenia juga lebih muda atau lebih tua daripada hasil penelitian itu, tergantung stressor negatif yang dialami individu tersebut. Dalam istilah psikologi Freudian ada yang disebut dengan schizophrenogenic mother, yaitu sebuah gaya pola asuh seorang Ibu yang bisa mengembangkan kepribadian skizofrenia kepada anak yang diasuhnya. Namun setelah mengalami banyak gugatan oleh para ahli psikologi dan psikiater, konsep schizophrenogenic mother ini dianggap sebagai pandangan misoginistik dari Sigmund Freud. Gugatan para ahli tentang schizophrenogenic mother ini juga diulas dalam buku Nathan Filer ini.
Pada Bab besar keempat, menceritakan seorang Ibu penderita skizofrenia bernama Brigid yang memiliki empat orang anak. Brigid tidak mampu merawat anak2nya dengan baik pasca ia didiagnosa menderita skizofrenia. Fokus dalam Bab besar keempat ini terutama hubungan Brigid sebagai seorang Ibu penderita skizofrenia dan Kate sebagai seorang anak. Untungnya dengan ketidakberfungsian Ibu dalam keluarga ini tak lantas membuat anak-anaknya juga menderita penyakit mental, bisa dikatakan keempat anak Brigid "survive". Sama seperti Erica dan James, Brigid didiagnosa penyakit skizofrenia paranoid, ia memiliki delusion of persecutory dimana ia merasa dirinya akan dicelakakan oleh orang lain. Dan selama puluhan tahun hidup dalam penyakit skizofrenia ini, Brigid akhirnya meninggal dengan kondisi kanker yang boleh dikatakan sebagai kegagalan total organ tubuh. Dokter mendiagnosa Brigid menderita kanker yang sudah menjalar kemana-mana, mulai dari paru-paru, ovarium, liver dan hampir semua bagian tubuhnya yang lain.
Pada Bab besar kelima dalam buku ini, menceritakan kisah Jasper yang pengalaman penyakit skizofrenianya agak mirip dengan Erican terutama perihal waham rujukan. Ia merasa dirinya sering diledek atau dicemooh ole tetangga di sekitarnya. Dalam kisah ini, Jasper yang diwawancarai oleh penulisnya mengatakan kalau sebenarnya ia termasuk seorang yang berpikir rasional namun entah mengapa setiap kali dihadapkan dengan waham rujukan dan suara bisikan-bisikan yang dialaminya, ia selalu kalah. Dan yang sebenarnya bikin agak unik ialah, suara bisikan-bisikan dalam pikirannya yang diterima oleh Jasper mirip seperti suara Peter Parker (tokoh fiktif dalam film Spiderman). Saya gak mau kasih spoiler lebih banyak tentang bab ini.
Tapi secara keseluruhan, saya bukan hanya menekankan lima kisah penderita skizofrenia dalam Bab ini, tapi saya menemukan beberapa hal baru yang saya ketahui tentang penyakit skizofrenia. Misalnya tentang ketidak adaan gen 22q11 di beberapa kromosom penderita skizofrenia. Menurut penelitian biologi yang diungkap oleh penulisnya, ketidak-adaan gen 22q11 cenderung membuat individu tersebut mengidap skizofrenia. Lalu, ada perihal penyakit Williams Syndrome yang biasa dialami oleh anak-anak. Williams Syndrome ini adalah sebuah gangguan dimana seorang anak memiliki perkawanan yang berlebih dengan teman-temannya yang lain. Orang dengan Williams Syndrome ini rata-rata memiliki ekspresi wajah yang berbeda dengan orang normal, bisa dicek di Wikipedia. Di Wikipedia saya lihat orang dengan gangguan Williams Syndrome ini memiliki IQ yang rendah dengan para penderitanya cuma memiliki IQ dari 40 sampai 112 dengan rerataan nilai 69,32 yang berarti sudah masuk kategori mild idiocy. Orang-orang dengan gangguan Williams Syndrome ini bisa mengembangkan kepribadian pencemas dan phobia. Nah, Williams Syndrome ini berkaitan dengan child abuse di masa kanak-kanak yang dibahas Nathan Filer sebagai pemicu terjadinya penyakit skizofrenia di masa dewasa. Kalau memperhatikan beberapa penderita skizofrenia di masa dewasa, ada beberapa penderitanya yang juga memiliki raut wajah yang tidak sesempurna orang kebanyakan, entah itu pengaruh secara genetik atau obat-obatan anti depresan yang mereka konsumsi.
Ada benang merah yang menjadi daya tarik tulisan Nathan Filer di buku ini yaitu tentang penghapusan stigma kepada penderita skizofrenia. Nathan Filer yang memiliki latar belakang sebagai seorang perawat di lembaga rehabilitasi mental mengatakan kalau mayoritas penderita skizofrenia jarang melakukan tindakan kekerasan kepada orang lain, bahkan kadang-kadang justru orang dengan gangguan skizofrenia yang menjadi korban kekerasan. Misalnya, saja, saya ingat dengan novel Eka Kurniawan tentang Seperti Dendam Rindu, Harus Dibayar Tuntas tentang seorang janda berpenyakit mental yang akhirnya diperkosa karena tidak waras.
Di bagian2 paling terakhir buku ini, saya juga mendapat pemahaman kalau orang-orang dengan gangguan skizofrenia menurut penelitian lebih banyak yang "survive" di negara2 dunia ketiga dimana keberfungsian sosial masih bisa diusahakan dalam artian penderita skizofrenia bisa sembuh secara sosial (bukan secara medis) karena mereka bisa berinteraksi dengan banyak orang yang jarang ditemukan di negara2 dengan sistem kapitalis-industrialis. Pembaca tentu sudah banyak tahu kalau di negara2 dengan sistem kapitalis-industrialis, kasus bunuh diri adalah hal yang jamak ditemui.