"Enggar sayang, tahu nggak apa yang kulakukan kalau teringat kamu saat malam hari? Aku akan memandangi toples kaca yang aku bawa saat pindah dari pesisir kita. Masih ingat kan ceritaku tentang toples kaca itu? Aku mengisinya dengan enam genggam pasir dari pantai kita, dua macam kerang dan karang laut, sebuah bintang laut kemerahan yang kutemukan telah terdampar mati di pasir, serta sepotong ranting hanyut yang suka kamu pungut kalau kita sedang berjalan di pantai. Ehmm, ternyata melihat pantai kita dalam toples kaca itu memang mujarab. Keajaiban cinta yang tersimpan di dalamnya telah berhasil membantuku melewati tahun-tahun berlalu tanpa kamu."
***
Di pesisir indah itu Enggar dan Mariena pertama kali bertemu, bertengkar, lalu jatuh cinta. Dan di pesisir indah itu juga mereka harus berpisah. Lalu waktu berlalu. Mereka bertemu kembali.
Namun, Enggar telah berubah. Labirin kegelapan yang menyeliputinya kini, membuat sosok cowok itu menjadi pesimis.
"Dan ingatlah Enggar, apa pun yang terjadi, kamu akan selalu bisa pulang ke dalam hatiku."
Itulah yang ingin Mariena lakukan. Meyakinkan Enggar untuk pulang ke dalam hatinya. Selamanya.
Menjadi penulis adalah satu dari sekian banyak kepingan mozaik impian yang pernah memenuhi kepala seorang Karla M. Nashar di masa kecilnya. Telah mencintai buku sejak kanak-kanak, namun kesempatan untuk menuangkan minat menulisnya secara serius baru datang beberapa tahun yang lalu di sela-sela kesibukan pekerjaan dan menyelesaikan pendidikan pasca sarjananya.
Untuk saat ini, penulis yang memiliki sapaan akrab Lala ini, lebih memilih untuk menulis dengan gaya bahasa ringan yang mudah dicerna pembaca. Secara garis besar, karya-karyanya dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu metropop/drama untuk pembaca dewasa, dan teenlit untuk pembaca remaja.
"ingatlah selalu Enggar, apapun yang terjadi, kamu selalu bisa pulang ke hatiku."
Enggar dan Mariena. udah lama banget gak baca novel sedih kayak gini. kisah dua manusia yang berbeda karakter, latar belakang, dan mimpi2. enggar yang keras kepala dan gak terbiasa mengeluarkan isi hatinya, dan Mariena yang lembut malah bisa bikin aku sebel saking "baiknya" dia. si enggar nih suka jahilin Mariena, trus jadiin Mariena "pesuruh" gitu, tapi akhirnya mereka malah jatuh cinta. gak kebayang deh cinta masa SMA tuh bisa sekuat dan seabadi cinta kayak Enggar dan Mariena ini..
pertemuan mereka pertama kali di pantai pesisir, kejahilan Enggar, ungkapan perasaan mereka, sampai akhirnya Enggar harus ninggalin Mariena dan kampung halamannya demi mengejar mimpi2 dia. mariena slalu ngingetin Enggar kalau ia akan dan selalu menunggu Enggar kembali apapun yang terjadi, walaupun sampai 8 tahun kemudian Enggar sama sekali nggak memberi kabar kecuali kabar kebakaran yang mencantumkan nama Enggar sebagai korban.
Mariena mulai menutup hati untuk yang lain. ia kembali mewujudkan mimpinya sebagai penulis dan tanpa diduga bertemu kembali dengan Enggar. Enggar yang saat ini menjadi pesimis dan menyerah dengan mimpi2nyaa.. termasuk mimpi dia untuk bersama Mariena..
novelnya emang terkesan biasa. tapi aku gak nahan pas baca kata2 Mariena. gilaaak nih cewek, bener2 cinta berat ama Enggar. huhu~
Saya dibuat kaget saat membaca halaman pertama. Disana dikatakan berkali-kali kata yang sama, kampret. Sampai pada pertengahan, saya lumayan tertarik mengikuti alur cerita ini. Tapi untuk karakter mariena tidak terlalu berbentuk ya. Saya pikir ini cewek polos, baik hati, atau tolol ya?? Hehe.
Buku ini benar2 menyentuh....cara Mba' Lala menggambarkan semua kondisi Enggar membuat kita tahu bagaimana sebuah kecelakaan bisa membuat orang membumikan semua impiannay dan berniat melepaskannya meski seharusnya dia th,MAriena adalah salah satu impianny.Great book.....
Enggak nyangka ada songfic dalam bentuk buku. Aduh, kapan ya terakhir dengar istilah songfic, yang dulu sukanya nyatronin fanfiction.net pasti katam banget wkwkwk.
Oiya, buku ini memang ditulis berdasarkan penafsiran penulis terhadap lirik lagunya (cmiiw). Menurutku sih, hampir sama alurnya kayak di storyline MV-nya. Kalau buat arti tersirat sendiri malah setahuku lebih luas (yang banyak disebut di komentar video klipnya begitu). Jujur, pas denger lagunya sekarang langsung nangis. Niatnya mau penghayatan dulu sebelum baca bukunya, eh malah beneran nusuk banget. Lirik sama melodinya dalem banget, gitu.
Eh, kok jadi bahas lirik. Jadi, buku ini ceritanya tentang cowok yang balik ke kampung halaman setelah mengalami kecelakaan. Meski nggak bisa lihat apa-apa lagi, Enggar menolak buat menyerah. Dia kerja seadanya, asal bisa bertahan hidup. Gladly, orang-orang sekitar menerima dia banget dan nggak meremehkan kondisinya.
Pas lagi merenung masa lalu, eh, masa lalunya beneran muncul. Enggar nggak nyangka Mariena bakal muncul jelas kaget dan berusaha buat menghindar. Ya namanya juga cowok, mana ego dia ini agak tinggi, jadi ya berdua kejar-kejaran. Plus ditambah bumbu salah paham. Makinlah sedap.
Memang bagian tarik ulurnya suka bikin greget, tapi ini tulisan penulis favoritku. Apa pun jadi indah. Macam lagi jatuh cinta gitu wkwk. Ke depannya, reviuku bakal subjektif banget kalo menyangkut beliau.
Well, kayaknya nggak bisa lanjut reviu gimana-gimana karena ceritanya menurutku tuh pendek (tapi indah wkwk) dan bisa-bisa malah kebablasan spoiler isi cerita. Baca aja sih, saranku. Buku-buku Karla M. Nashar tuh less stress plus bikin greget.
Awalnya aku sempet ragu mau baca buku ini, jujur karena covernya keliatan bukan tipeku. Tapi ternyata pas mulai baca, aku nemu pengalaman baru yang unik banget.
Buku ini tentang Enggar, seorang tunanetra yang masih keingat sama masa lalunya, Mariena. Sampai akhirnya, masa lalu itu benar-benar datang lagi. Dari surat dan sikap Mariena, kelihatan banget kalau dia cinta banget sama Enggar.
Enggar yang keras kepala kadang bikin geregetan, tapi justru itu yang bikin ceritanya terasa nyata dan manusiawi. Walaupun konfliknya nggak besar-besar banget, aku suka karena tetap hangat dan bikin mikir soal cinta, mimpi, dan kesabaran.
Gara-gara buku ini aku langsung nyari lagunya Letto. Dulu aku nggak pernah benar-benar menghayati liriknya, tapi sekarang pas dengerin jadi sedih banget.
Buku ini kubeli sudah hampir setahun yg lalu, tetapi cuma duduk manis di rak buku hingga akhirnya kubaca juga sekarang. Maklum... Pembaca moody. :P Saya selalu suka dengan karya2 Karla M Nashar. Sebelum Cahaya pun kubeli karena pengarangnya beliau. Dan susah setengah mati waktu itu untuk mendapatkannya. Karena terbitnya sudah cukup lama.
Ini cerita yang terinspirasi dari lagu Letto yang berjudul sama. Menceritakan tentang Enggar, seorang pemuda buta yang tinggal di pesisir pantai. Kondisinya membuatnya pesimis (realistis menurutnya) akan kehidupan dan mimpi-mimpinya, termasuk mengenai cintanya terhadap kekasih lamanya, Mariena.
Sementara di sisi lain, Mariena masih merindukan Enggar. Sekalipun ia sudah menjadi gadis kota yang cantik dan cerdas, serta menerima lamaran dari bosnya, Randy. Mariena memutuskan untuk kembali ke pesisir pantai, tempat tinggalnya dulu untuk memikirkan lamarannya sekaligus mewujudkan impiannya menjadi penulis.
Sudah dapat ditebak, mereka akhirnya bertemu.
Karla menceritakan kisah ini dengan teknik alur maju-mundur. Cukup mengena sekali. Masuk dengan sangat pas dan halus. Narasinya pun membuai (kalau saya tidak bilang lebay :P), menghanyutkan.
Hanya saja, agak tergelitik dengan karakterisasinya. Mariena diceritakan adalah seorang gadis tipikal. (Mungkin) tipe gadis sempurna impian para cowok (kali? :P) dia sama sekali ngga keberatan dijahili Enggar. Hanya karena merasa Enggar orang baik. Dari sini, saya merasa ini kisah tentang Enggar, bukan Enggar dan Mariena. Nyaris tidak ada konflik batin Mariena. (Nyaris! Bukannya tidak ada).
Mungkin karena ini cerita ringan, jadi tidak ada konflik umum yang berarti. Misalkan ayah Mariena yang tidak setuju anaknya pacaran dengan berandalan pantai. Kurasa sudah seharusnya sedikitlah dimasukkan konflik begini. Kalau tidak ada, malah jadi tidak wajar. Tak seperti buku-buka Karla sebelumnya, buku ini terasa kurang realistis bagiku. Mungkin karena buku ini merupakan salah satu dari buku-buku pertama Karla...
Sekalipun begitu, overall, buku ini menarik. Ringan dan menghibur. Saya selesai membacanya hanya dalam 3 jam. Hahahaa..! Buat Mbak Karla, saya menantikan karya-karyamu selanjutnya :)
Labirin kegelapan yang di alami Enggar karena kebalkaran tidak menutup cinta Mariena kepada Enggar. Seberapapun Enggar menolak dirinya hanyut kembali pada cinta ia tak kuasa untuk tidak kembali kepada cinta Mariena yang tetap ada untuknya.