Jump to ratings and reviews
Rate this book

Buku Panduan Matematika Terapan

Rate this book
Pertanyaan P-NP (sesuatu yang bisa diperhitungkan-sesuatu yang tidak bisa diperhitungkan) muncul setelah Prima didatangi oleh hantu yang mengajarinya cara berhitung dan berbagai teori matematika di dalam mimpi. Teka-teki itu semakin mengusiknya ketika ia bertemu Tarsa—si cerdas yang juga memiliki pertanyaan sama tentang P-NP. Namun, meski telah mencurahkan seluruh hidupnya, Prima tak juga mampu menemukan jawabannya. Tentu. Karena, siapa pula manusia di dunia ini yang bisa menjawab kapan ia akan dimatikan?

364 pages, Paperback

First published April 30, 2018

111 people are currently reading
668 people want to read

About the author

Henny Triskaidekaman

13 books45 followers
A nonclinical physician. Winner of 2017 Unnes International Novel Writing Contest (Buku Panduan Matematika Terapan, GPU/2018). Content writer in StorialCo. Can be reached via Twitter (@triskaidekaman), Instagram (triskaidekaman), or e-mail triskaidekaman@yahoo.com.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
64 (15%)
4 stars
111 (27%)
3 stars
160 (39%)
2 stars
52 (12%)
1 star
18 (4%)
Displaying 1 - 30 of 115 reviews
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews852 followers
April 25, 2020
Henny Triskaidekaman
Buku Panduan Matematika Terapan
Gramedia Pustaka Utama
364 halaman
5.4

Beberapa minggu yang lalu saya menemukan sebuah metode yang ampuh untuk membuat saya terlelap: mengerjakan persoalan-persoalan yang ada di Brilliant, sebuah media sosial bagi para orang yang gemar mencari perkara. Mungkin sebuah metode yang futile dan sedikit sadis, tetapi ketika saya menerjunkan diri ke dalam soal-soal matematika yang rumit, pikiran saya dipaksa untuk bekerja lebih keras yang mengakibatkan saya lebih cepat mengantuk. Favorit saya adalah soal-soal number theory meski saya tidak terlalu jago dan tak sering saya terjebak dalam persoalan yang membuat saya frustrasi.

Sama seperti yang saya rasakan ketika saya membaca Buku Panduan Matematika Terapan, juara pertama dari lomba menulis yang diselenggarakan Unnes. Bukan, bukan perasaan mengantuk dan puas yang saya rasakan setiap kali berhasil menyelesaikan soal level 4, tetapi perasaan frustrasi yang membuat saya meremas-remas kepala saat menemukan soal geometri level 3. Rasanya tak masuk di akal. Salah seorang teman saya bertanya, "Bagaimana ceritanya?" dan saya hanya bisa mengedikkan bahu dan menjawab, "Oke, tetapi jangan tanya kepada saya apa inti ceritanya karena saya sendiri juga tidak ngerti-ngerti amat."

Kalimat itu kurang lebih merangkum seperti apa novel ini. Oke, tetapi ambisius. Oke, tetapi liar. Oke, tetapi terlalu pretensius. Bisa disebut ambisius karena tak banyak novel yang menginkorporasi matematika sebagai fondasi ceritanya, dua kutub yang saling berseberangan. Keindahan dengan keteraturan. Mahasiswa STEM dengan mahasiswa seni. Salah satu novel senada yang masih segar dalam ingatan saya adalah Teka-Teki Terakhir karya Annisa Ihsani, sebuah teenlit yang tentu saja tak bisa dibandingkan apple to apple dengan juara pertama lomba novel yang dijuri oleh para penggawa sastra Indonesia, tetapi jelas lebih baik dalam meleburkan konsep matematika ke dalam cerita yang renyah dan mudah dibaca, well-researched, dan bagus. Matematika sudah rumit, kenapa perlu membuatnya lebih rumit lagi? Jika ingin rujukan yang lebih "serius", Buku Panduan Matematika Terapan sedikit mengingatkan saya akan cerpen Ted Chiang, Division by Zero . Jika kita berpikir kita tak akan bisa menggabungkan cerita fiksi ilmiah, drama, dan horor berlandaskan matematika yang menjadi satu, Chiang melakukannya tanpa usaha dalam cerpennya itu. Tanpa kata-kata yang sulit, Chiang menceritakan pernikahan sepasang suami istri yang buyar hanya karena sang istri membuktikan bahwa "1=2". Horor karena jika memang pembuktian ini benar, berarti seluruh perhitungan yang ada di dunia ini perlu ditinjau ulang. Buku Panduan Matematika Terapan, menurut saya, masih belum berhasil mengawinkan kedua kutub yang saling bertentangan ini. Seandainya saja setiap subjudul dari sudut pandang Prima saya tukar dengan kata-kata yang lebih amatir, buku ini masih bisa berdiri. Belum lagi, dengan adanya konjektur, dalil, dan hipotesis yang mendadak muncul di tengah-tengah cerita. Saya masih belum bisa menemukan korelasi dengan subbab yang sedang dibahas.

Buku Panduan Matematika Terapan ini juga liar laksana kuda sembrani karena Triskaidekaman mampu menyajikan ide-ide terliar manusia, mengungkap misteri alam semesta yang jawabannya tersembunyi di balik angka-angka yang Triskaidekaman ilustrasikan sebagai problematika P versus NP, salah satu permasalahan dalam millennium prize yang sejak saya masuk kuliah tujuh tahun yang lalu tak pernah berani saya impikan bisa ditemukan penyelesaiannya. Tokoh-tokoh dalam buku ini, precocious dan matang sebelum usianya, berusaha mengusik keteraturan semesta dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak henti-hentinya mereka lontarkan.

Keluhan utama saya dalam novel ini adalah betapa verbose buku ini, membuat Buku Panduan Matematika Terapan terasa pretensius. Deskripsinya terlalu bertele-tele, beberapa paragraf bisa dipangkas menjadi lebih singkat tanpa kehilangan makna apa pun. Jika sang penulis bertujuan agar pembacanya tersesat ke dalam labirin kata-kata yang dia ciptakan, dia berhasil melakukannya. Pemilihan kata dalam buku ini juga patut dipertanyakan, terutama ketika sang penulis menggunakan kata-kata arkais yang sebagian bertujuan untuk membuat kalimatnya berima, beberapa lagi entah apa tujuannya, seakan-akan dia asyik sendiri dan ada beberapa pembaca yang mungkin sedang tersesat di luar sana. Di saat yang bersamaan Buku Panduan Matematika Terapan ini juga menjadi Buku Panduan Menggunakan Tesaurus. Rasanya seperti Triskaidekaman sedang menuntun kita menyusuri sebuah maze yang gelap gulita, tetapi dia berada sepuluh meter di depan. Sementara dia sudah hafal dengan jalan dan belokan mana yang harus dia ambil, pembaca mesti tertinggal di belakang, meraba-raba dan terengah-engah. Sayang sekali, karena seandainya kita mau sedikit berkonsentrasi dan mengabaikan semua aral itu tadi, Buku Panduan Matematika Terapan memiliki cerita yang sangat seru, sebuah bildungsroman yang menawan tentang dua individu yang cerdas dan unik. Seandainya buku ini ditulis dengan kata-kata yang lebih sederhana, Buku Panduan Matematika Terapan mungkin akan bisa lebih dinikmati oleh banyak orang.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
May 6, 2018
Sungguh saya sangat penasaran ketika informasi tentang novel berjudul unik ini muncul di media sosial pertama kali. Dan terima kasih Gramedia Digital premium yang memberikan kesempatan untuk membaca buku ini.

Sampai sepertiga bagian buku ini saya sejujurnya belum paham mau dibawa kemana ceritanya. Saya hanya menangkap latar belakang Mantisa dan Prima yang dikisahkan bergantian setiap bab, berikut kelebihan mereka masing-masing. Sorry to say... novel ini sulit untuk saya cerna. Terlepas dari trivia matematika yang banyak didapat di dalam buku ini, yang memberi wawasan baru, untuk sebuah novel yang kalimat-kalimatnya seringkali berima seperti puisi.

Not my cup of tea... tapi saya salut ada penulis yang membawa sains ke ranah umum. Semoga karya ini bisa membuat pembacanya lebih mengenal indahnya sains.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
August 6, 2018
ulang tahun ya ulang tahun. Pajak progresif, beda lagi urusannya(hal.51)


Saya hendak berkisah lebih dahulu, di Februari lalu ada acara menjadi manusia dengan sastra yang diadakan penerbit noura dengan galeri indonesia kaya. Dihadirkan Mas Seno Gumira Ajidarma dan Pak Budi Darma untuk berkisah perihal tema. Selepas perbincangan seru, Mas Seno ngobrol ringan dan menyebut salah satu novel pemenang sayembara yang sekarang aneh-aneh dengan keliaran cara bercerita anak-anak muda. Nama Ziggy dan penulis novel ini disebut, kala itu belum tahu judulnya hanya disebut-sebut mampu melepas tabunya novel sastra di negeri ini.

Dan setelah merampungkan novel ini entah campuran rasa membuat saya berhenti sejenak. Novel ini secara garis besar menggabungkan matematika, pertanyaan asal-usul manusia, dan juga cara bercerita yang tidak biasa. (Jujur, saya harus mengulang beberapa kali untuk mengerti inti keseluruhan novel). Secara teknik, konsep cerita, dan "acuan ilmu pengetahuan" dalam novel ini harus diacungi jempol. Tampak betul penulisnya mafhum betul perihal matematika, dll.

Oke, secara teknik sangat menjanjikan. Namun, karena ini novel, apakah novel ini menjanjikan cerita yang kuat? Prima, anak tunarungu (ini harus saya temukan perlahan, meski sebenarnya klunya dari awal sudah disampaikan). Kemudian tokoh kedua adalah Mantisa, anak gadis yang kemudian tinggal di semacam panti asuhan. Keduanya dilengkapi kelebihan luar biasa. Mantisa mampu menghitung tetes hujan, dan pertanyaan superbanyak dan bikin jengkel banyak orang. Dan Prima? Ini kubayangkan dia anak genius....

Keduanya kemudian ditautkan oleh sosok Tarsa dan perihal P-NP (Terhitung, dan Tidak Terhitung). Konsep P-NP ini menjadi misteri besar dalam matematika dewasa ini. Namun, penulis menautkan dengan perihal manusia. Sosok manusia punya yang P juga punya sisi NP. Dunia pun demikian, ada yang P ada yang NP.
Kelanjutannya dibaca sendiri.....

Pertanyaan saya: kalau embel-embel matematika di lepas, apakah ceritanya akan masih utuh? Heeheee. Saat di awal, aku bayangin Mark Haddon yang matematika tidak bisa lepas dari cerita. Tapi kalau di novel ini? Entahlah.

Seperti matematika, novel ini agak liat untuk dicerna perlahan. Saya suka sejauh ini. Meski butuh pisau bedah yang lebih tajam untuk ngerti keseluruhan cerita. Matematika, manusia, hidup memang banyak misteri. Pun dengan novel ini, mungkin.


Silakan dibaca juga ulasan lengkap di Jurnal Ruang:
https://jurnalruang.com/read/15256921...#
Profile Image for B-zee.
580 reviews70 followers
May 10, 2018
Sebagai seseorang yang mengaku (dulu waktu di bangku sekolah) menyukai matematika, saya tidak bisa melewatkan buku ini, meski hampir semuanya sudah saya lupakan ketika memilih jalan lain di perguruan tinggi. Buku ini dibuka dengan narasi yang menarik, mungkin karena penulis memberikan siratan hal medis yang, sepertinya, agak sulit dipahami sepenuhnya oleh pembaca nonmedis. Dilanjutkan dengan istilah dan rumus matematika yang ditautkan dengan filosofi kehidupan, dengan cukup kreatif. Matematika, yang adalah ilmu pasti, dikawinkan dengan sastra, yang merupakan seni bebas, menjadi suatu bangunan yang baru, yang tidak pasti dalam kepastian, atau pasti dalam ketidakpastiannya.

Di awal kisah, kita diperkenalkan pada dua sudut pandang yang berbeda, Mantisa--bocah perempuan yatim piatu yang pemberontak, dan Prima--bocah laki-laki tuli yang tinggal bersama ibunya. Keduanya nanti akan disatukan oleh Tarsa, perpustakaan, dan pertanyaan yang tak terjawab.

Sayangnya, bangunan yang sudah menjanjikan di awal ini tidak bisa mempertahankan saya di pijakan yang mapan. Alih-alih semakin masuk ke dalam kisah, saya justru hilang, tak tahu harus mengharapkan bacaan yang bagaimana. Karakter Mantisa dan Prima tidak mewujud manusia, melainkan hanya sepasang otak yang bekerja mencari jawab. Tak terasa adanya emosi manusiawi.

Di satu titik, penulis juga bermain dengan waktu, bahkan berusaha memusnahkannya. Namun, jauh sebelum itu, konsep waktu dan tumbuh kembang kedua bocah, yang entah kapan tiba-tiba menjadi dewasa, ini sudah lepas sebelumnya. Saya merasa pemikiran mereka tak sesuai dengan usia yang ditunjukkan oleh karakter mereka sendiri.

Buku ini memang tidak mudah dinikmati, ada kesan eksklusif di sana, yang membuat buku ini (mungkin) lebih mudah dinikmati oleh orang yang paham matematika. Sebenarnya ada banyak hal menarik yang tertuang dalam buku ini, berbagai pemikiran tentang kehidupan, mendobrak nalar, dan menggelitik imajinasi. Namun, jalinannya terlalu rumit untuk dinikmati secara tunggal.
Profile Image for Ratna Sari.
308 reviews12 followers
May 14, 2018
"Batas itu ada gunanya. Keterbatasanmu pun ada gunanya. Nanti, kamu akan paham." (hlm. 232)
.
Sebelumnya, aku minta maaf bila reviewku ini kurang berkenan diterima. Mungkin ini menjadi keterbatasanku dalam menikmati BPMT. Aku memang bukan anak MTK atau pecinta MTK, tapi aku jugabukan pembenci MTK. Makanya aku sangat excited saat ada buku ini. Aku sangat salut dan mengapresiasi penulis yang menggabungkan fiksi dengan ilmu pasti (dalam hal ini MTK).
.
Kuakui setelah membaca beberapa halaman awal, aku sudah merasa buku ini akan "berat" dimengerti olehku. Banyak kosakata yg masih agak asing untukku (yg ini aku abaikan karna tak mungkin aku bolak-balik buka KBBI 🙈). Pengertian dalam matematika pun seperti terpaksa disambung-sambungkan ke dalam cerita. Bahkan aku pun mengabaikan heksagram I Ching yg berada di pojok kanan atas tiap bab (ya, aku gak mungkin bolak-balik mengintip artinya di halaman belakang buku 😅).
.
Pemilihan penggunaan dua POV yg berbeda pun, menurutku juga mempengaruhi kadar kenikmatan buku ini. Jujur, saat POV orang ketiga (Mantisa) aku cukup memahami tentang keingintahuan Mantisa yg sangat besar. Namun, saat berganti pada POV orang kedua (Prima), rasanya aku dikasih beban yg sangat berat dalam pundakku yg membuatku "ngos-ngosan".
.
Tapi aku masih tetap memaksakan untuk membacanya. Kenapa? Karna aku sangat penasaran dengan kelanjutan kisah Mantisa dan Prima ini. Sayangnya, semakin lama aku baca, semakin aku tidak bisa menikmati buku ini. Bahkan saat mulai memasuki halaman 200an, aku beberapa kali mulai "menyerah" 😪
.
Bila dianalogikan, aku seperti sedang mabok laut dan selama perjalanan itu aku menahan-nahan untuk tidak mengeluarkan "isi perutku", dan saat sampai di tempat tujuan aku sangat lega. Namun aku tidak bs menceritakan seperti apa bagusnya pemandangan dalam perjalanan itu 😩😩 Dan inilah keterbatasanku 🙏
Profile Image for Ayu Lestari Gusman.
121 reviews
May 10, 2018
tidak bisa menikmati... sampai setengah halaman masih belum mudeng mau dibawa kemana cerita ini
Profile Image for Marsha28.
146 reviews9 followers
August 18, 2018
1 of 5 stars
DNF it on 123 pages.

This is the 4th book of Indonesia Independence day reading challenge. So the review will be in Bahasa.

Jujur, yang membuat saya tertarik untuk membacanya adalah judul Buku ini yang begitu menarik. "Buku Panduan Matematika Terapan." dan Jujur saya juga tertarik dengan desain cover, serta imbuhan "1st Winner UNNES International Novel Writing Contest 2017".

Jadi saya langsung mengambil kesimpulan, "Buku ini jelas bagus."

Saya memiliki ekspektasi buku ini mungkin akan mirip film "The Imitation Game." yang diperankan oleh Benedict Cumberbatch atau sejenisnya.

Sayang sekali, saya harus kecewa.

1. Penjelasan dan narasi yang terlalu bertele-tele. Saya kagum dengan kosakata Penulis yang berwarna-warni, bahkan sampai bisa menanamkan permainan bunyi dengan huruf vokal yang sama hampir di setiap narasi (terutama dari sudut pandang Prima). Hanya saja, itu malah membuat saya sebagai Pembaca lupa apa makna sebenernya dari narasi tersebut.

2. Gaya bahasa yang sangat berbeda Antara Prima dan Tisa. Saya paham, bawa pasti ada perbedaan Penulisan karena sudut pandang 2 tokoh yg berbeda. Namun perbadaan ini Bukannya saling melengkapi, hal ini hanya memberikan kesan "jomplang" antara Prima dan Tisa. Karena Tisa diceritakan menggunakan sudut pandang orang ke 3 dan Prima dijelaskan oleh sudut pandang orang ke 2. Gaya Penulisan sudut pandang Tisa terkesan jenaka, dan berapi-api, sesuai dengan kepribadian Tisa. Hanya saja untuk prima, Penulis menggunakan sudut pandang orang kedua, ditambah bahasa yang terlalu puitis dan dramatis. Entah Apakah ini memang disengaja oleh Penulis, agar Prima terkesan mengalami Nasib tragis? Mungkin untuk membuat Pembaca simpatik?

3. Prima sama sekali tidak memiliki karakter yang kuat. Poin ini berhubungan dengan poin ke 2. Karena Prima diceritakan dengan begitu puitis hingga terkesan mengalami sebuah "Nasib Tragis". Selain Nasib tragis yang dia alami, dan tentunya berbagai diskriminasi yang dia alami sebagai kaum difabel, saya bisa mengatakan Prima tidak memiliki karakteristik selain ketertarikannya dengan matematika. Saya bahkan sempat lupa dengan nama "Prima" padahal saya telah membaca 120 halaman buku. Karena Nama Prima sangat jarang disebut di dalam cerita. Saya sering berpikir "siapa sih nama tokoh Bab yg ini?" tiap kali saya membaca Bab dengan Prima point of view.

4. Penulis jarang sekali memasukan deskripsi tokoh. Sering kali saya berpikir "Oh, tokoh ini ternyata laki-laki" dari percakapan Antara tokoh A dan B. (ini terjadi pada kasus Tarsa)

5. Rumus-rumus yang dituliskan kebanyakan hanya sebagai mempercantik dan berkesan filosofis, sama sekali tidak berhubungan langsung dengan Alur cerita.

Sebenernya masih banyak hal yang membuat saya tidak ingin melanjutkan membaca buku ini hingga selesai. Saya tidak akan menjelaskan panjang-lebar karena saya sendiri tidak tahu, mungkin saja Alur cerita menjadi lebih menarik di 200 halaman berikutnya? Atau mungkin Prima memiliki pengembangan karakter di bab-bab berikutnya?
Yang pasti, saya sudah masang ekspektasi terlalu Tinggi untuk buku ini. Mungkin saja banyak orang lain yang menyukai buku ini. Siapa tau?
Profile Image for Wahyu Novian.
333 reviews44 followers
November 30, 2018
Sayang sekali keseluruhan novelnya tidak sesuai dengan harapan (dan selera) saya. Padahal judulnya sudah menggelitik sekali. Mungkin peruntukannya memang untuk pembaca yang suka bahasa puitis penuh majas yang berputar-putar.

Awal-awal mungkin memang menawan. Lama-lama jengah dengan kata-kata yang berputar kesana kemari. Bikin bingung. Sampai akhir pun masih tetap belum paham apa sebetulnya ceritanya.

Pilihan kalimatnya juga bikin poin-poin pentingnya tertutupi. Terlalu mengawang-awang. Membuat keseluruhan ceritanya kurang meyakinkan. Keistimewaan dan keajaiban karakternya yang samar, teori matematika yang mereka cari dan katanya akhirnya ditemukan, sampai plot twist yang seharusnya mengejutkan nyatanya berlalu begitu. Saya ingin tahu apa yang mereka presentasikan. Saya ingin mengerti kenapa mereka spesial.

Bahkan nyinyiran-nyinyiran moral pun tidak mengena secara tegas karena terselubung bahasa yang terlalu njlimet. Ditambah lagi beberapa hal ternyata tidak penting-penting amat dalam cerita (padahal sepertinya seru untuk digali lebih jauh).

Padahal matematika sepertinya tidak serumit itu. Ada pertanyaan, proses berpikir, penyelesaian. Pakai bahasa biasa saja pun bukannya tidak mengurangi keindahan matematika. Atau saya yang kurang pandai saja mengaitkan rumus-rumus matematika di setiap sela paragrafnya?

“Bahasa sudah ditakdirkan bercerai-berai, yang mana benang merah belum tentulah benang merah, karena gelombang kepalsuan menimbul ke permukaan tanpa dinyana.”
Profile Image for Lantip Sukaswanto.
36 reviews10 followers
August 30, 2018
Sebenarnya sangat menarik, hanya saja teks terasa sangat berjarak saat sains dijadikan kendaraan cerita dengan narasi yang esoteris. Meski fiksi yang menggunakan sain, seharusnya tidak semua hal dari awal sampai akhir semua di-sains-sains-in. Ini biku menarik sekali temanya. Mungkin kurang pengendapan saat menuangkan sains ke fiksinya. Menarik cuma saya bacanya tersendat-sendat
Profile Image for Nellaneva Nellaneva.
Author 7 books160 followers
January 15, 2019
4.5 sebenarnya. Tapi, karena mungkin kita takkan menemukan buku sejenis ini lagi di toko-toko buku Indonesia dalam waktu dekat, kubulatkan ke atas.

Jadi, ketika Kak Tris bilang membaca Buku Panduan Matematika Terapan jangan diburu-buru, sarannya memang harus dituruti. BPMT penuh dengan metafora yang mengaitkan kondisi, interaksi, dan pemikiran tokoh-tokohnya dengan persamaan Matematika. Menariknya, ketika kita berusaha menelusuri makna keterkaitan tersebut dan filsafat di baliknya, semakin kita dibuat tertantang. Karena itu, memang tidak bisa tergesa-gesa untuk bisa memahami buku ini. Kalau tidak, bisa-bisa kita hanya dapat pusingnya tanpa dapat maknanya.

Bisa dibilang BPMT ini merupakan bentuk sastra post-modern yang mungkin belum marak beredar di Indonesia. Sebuah karya seni, termasuk sastra, tidak hanya harus mementingkan substansi, tetapi juga bentuknya. Kurasa BPMT merupakan paket komplit, meskipun—seperti yang kutulis di atas—bila kita tidak dapat memahami kaitannya dengan benar, atau kurang memaknainya, ini hanya akan menjadi sains dalam teks puitis.

Yang jelas, ini buku yang unik. Kaya ilmu, tetapi tidak mengesampingkan unsur karya sastra. Tidak kaku, melainkan menyisipkan sisi emosional yang meliputi kasih ibu pada anak serta romansa dua sejoli. Di beberapa bagian, saya berhasil dibuat menangis. Oh ya, ada sentilan humor satir juga seperti celetukan tentang pajak progresif. Juga, ketika saya penasaran ingin dapat penjelasan tentang hubungan antara Teori Relativitas Einstein dengan Hukum Dinamika Newton, narasinya justru mengingatkan saya bahwa novel tersebut toh bukan buku fisika, melainkan buku matematika. Terapan pula, wkwk XD Buku ini sukses membuat saya bolak-balik googling beberapa persamaan Matematika yang telah saya lupakan, pun bikin saya penasaran terhadap heksagram I-Ching.

Yang bikin saya cukup bingung adalah linimasa umur kedua tokoh utamanya serta dua bab tertentu yang terkesan kontradiktif. Ini yang harus saya konfirmasi pada penulisnya kelak, hehe.

Sukses selalu untuk Kak Triskaidekaman Ditunggu karya-karya berikutnya.
Profile Image for Alya.
15 reviews
September 7, 2018
Ada buku-buku yang tidak bisa diselesaikan. Dan bagi saya, buku ini salah satunya. Entah ekspektasi saya yang terlalu tinggi atau kemampuan saya dalam mencerna kalimat-kalimat penulis yang kurang, saya merasa buku ini sangat bertele-tele dan memiliki diksi yang menghilangkan poin penting kalimat. Saya kurang suka membaca novel yang terkesan "banyak pamer" kehebatan penulisnya, baik dari segi diksi, atau seperti indeks lagu, buku, dan film, atau bahkan seperti ensiklopedia.
Profile Image for Tenni Purwanti.
Author 5 books36 followers
March 4, 2020
dari sampul dan judulnya sebetulnya saya ga akan pernah ambil kalau lihat di toko buku karena: judulnya ada kata "matematika" yang horor banget buat saya, lalu tokohnya cowok. Tapi karena ulasan di Buka Buku Narasi serta kalimat klasik "don't judge a book by it's cover", saya putuskan untuk baca karya mba Henny berurutan, dimulai dari buku ini.

Pembagian babnya yang pendek-pendek bikin saya bisa baca buku ini dengan cukup santai, bisa berhenti kapan saja. Dan saya tamatkan hampir satu bulan karena ritme ceritanya memang sangat lambat. Jadi bisa dibaca sebelum tidur, setelah menjalani rutinitas yang (isi sendiri dengan imajinasimu).

Kisah Mantisa, Prima, dan Tarsa yang penuh teka-teki bikin saya pengen baca terus, pengin cari jawaban, meski ternyata di endingnya saya malah dibuat makin pusing. Beruntung, ini kali pertama saya bisa diskusi sama penulisnya setelah baca buku. Dan jawaban penulisnya ga kalah iseng dengan isi bukunya. Top mba Henny!

Meski saya ga suka matematika, yang bikin pusing bukan rumus-rumus matematika dan segala teori matematika yang dijebloskan penulisnya ke dalam cerita, tapi soal plotnya yang sepertinya memang sengaja dibuat rumit oleh penulisnya. Pembaca diajak untuk bikin interpretasi sendiri, menghasilkan kemungkinan-kemungkinan sendiri. Dan penulis sangat menikmati ketika itu terjadi.

Saya sampai baca dua kali dari tengah sampai menjelang akhir untuk memahami ceritanya. Ini kisah yang gelap, sehingga bertolak belakang dengan covernya yang sangat cerah. Ini kisah yang mengajak kita berpikir, bahwa manusia adalah satu entitas yang sama, meski kita memiliki banyak nama. Novel ini juga mengupas tentang kesadaran & alam bawah sadar, universe & alternate universe, juga pertanyaan-pertanyaan yang sering dipikirkan manusia ketika ingin mengungkap misteri alam semesta, termasuk siapa dirinya

"Kamu tak perlu bertanya kenapa. Beberapa hal memang tidak akan pernah kamu temukan jawabannya." (Hal.349)
Profile Image for Uci .
617 reviews123 followers
August 25, 2018
"Seharusnya manusia takkan pernah merasakan rindu kepada sesuatu yang tak pernah ia temui."

Mungkin kalau saya lebih cerdas dan paham tentang matematika, saya bisa lebih menikmati novel ini. Mungkin.

Terus saya tuh jadi kepingin minta bocoran / kunci jawaban ke penulisnya: Penjelasan sederhana tentang jalan cerita dan pertemuan tokoh-tokoh dalam novel ini, jika semua atribut matematikanya dihilangkan. (Ya terus melenceng dari ide awal novelnya dong hehehe. Monmaap, otak saya memang kurang prima 😜)

Cari di mana ya bocorannya? 😁
Profile Image for Alien.
254 reviews31 followers
August 29, 2018
Buku ini orisinil sekali. Saya suka.

Ada dua hal yang mendorong saya untuk membaca buku ini:
1. Judul buku ini.
2. Usaha Gramedia dalam mempromosikan buku ini. Saya perhatikan, Gramedia banyak menggunakan berbagai komentar dari para penggiat sastra mengenai bagusnya buku ini. Hal ini jadi membuat saya penasaran.

Begitu banyak unsur kompleks yang diceritakan dalam buku ini dan sebagai buku pertama seorang penulis, saya sungguh sangat kagum. Salut dengan segala riset dan usaha yang dilakukan sehingga dapat melahirkan buku ini. Ketika tengah membaca buku ini, saya sempat mengintip ulasan-ulasan pembaca lain mengenai buku ini. Saya kaget sekali karena ratingnya cukup rendah. Setelah saya pikir-pikir, saya rasa berbagai unsur kompleks yang membangun buku inilah yang membuat buku ini ratingnya cukup rendah. Padahal jikalau pembaca sabar, sungguh banyak yang bisa didapat dari buku ini. Semoga penulisnya tidak patah semangat hanya gara-gara ulasan orang-orang di Goodreads.
Saya jadi ingat waktu saya membaca buku Ali Smith yang berjudul How To Be Both. Ketika itu saya juga tidak mengerti ke mana jalan cerita akan dibawa. Tapi saya tetap sabar dan menyelesaikan buku itu dan akibatnya saya lebih menghargai sebuah literatur.

Beberapa hal yang saya sukai dari buku ini:
1. Tokoh-tokoh dengan karakter yang kompleks. Mantisa bukan hanya seorang anak kecil yang jenius, tapi dia juga nakal, badung, susah diatur, tapi juga peduli pada orang lain. Prima adalah seorang tunarungu - saya sudah tidak ingat kapan pernah membaca cerita yang tokoh utamanya tunarungu - bravo!
2. Mengingatkan saya pada rumus-rumus matematika. Sebenarnya, secara garis besar, menurut saya unsur-unsur matematika yang ada di dalam buku ini hanya merupakan pemanis. Pemanis yang membuat ini berbeda dan menjadi lebih spesial. Jadi saya senang sudah diingatkan bahwa saya pernah mempelajari rumus-rumus matematika, walaupun sekarang tidak pernah saya gunakan lagi.
3. Bab (?) yang pendek-pendek dan sudut pandang cerita yang berganti-ganti.

Banyak sekali hal-hal yang ingin saya diskusikan mengenai buku ini. Mungkin justru bukan diskusi dengan penulisnya karena saya ingin beberapa misteri dalam buku ini tetap menjadi misteri. Mungkin dengan sesama pembaca?
Salah satu yang saya ingin diskusikan adalah mengenai genre buku ini. Apakah buku ini bisa dikategorikan sebagai buku ber-genre science fiction?
Kalau saya beberkan argumen saya disini, sepertinya akan jadi spoiler. Jadi saya serahkan saja pada pembaca masing-masing. Semoga semakin banyak yang membaca buku ini dengan pikiran yang terbuka.
Profile Image for inas.
392 reviews37 followers
September 30, 2018
Rasanya lega banget bisa nyelesaiin buku ini sampe tuntas. Aku sempet hampir nyerah di dua-tiga bab akhir karena belum bisa ngikutin perkembangannya, tapi akhirnya kelar juga. :")

Di separuh awal buku, aku masih bisa ngebetah-betahin diri sama gaya bahasanya yang entah kenapa njelimet parah. Senjelimet-njelimetnya Persiden (Wisran Hadi), aku masih bisa ngikutin perkembangan tiap tokoh dan bisa nyimak alur cerita. Pas ketemu BPMT... well, kasusnya beda. Banget. Wkwkwk.

Pertama, tiap tokohnya belum punya tujuan jelas. Kupikir bakal dijabarin kayak Semua Ikan di Langit-nya Ziggy Z, tapi ternyata nggak juga. Cuma ada misteri yang disebar beberapa butir (dan untungnya cukup bikin penasaran), plus twist yang termasuk uwow.

Kedua, konsep matematikanya kurang komprehensif, let alone komunikatif. Banyak hal nggak familier, makin nggak familier. Biasanya kan, teori sains apa pun di fiksi, bisa dikemas dan dipahami dengan baik karena bahasanya mudah dicerna. Beda sama BPMT. Rasanya Prima maupun Mantisa kayak ngomong buat diri mereka sendiri, dan buat ditelusuri sendiri. Yang paham makin paham, yang nggak paham IQ-nya pun makin ndoprok makin nggak paham.

Satu hal yang aku suka cuma pembahasan filosofisnya. Masih bisa dicerna dan dinikmati. Bikin setuju dan manggut-manggut.

Selebihnya, ya, dilewatin dengan drama migrain demi drama migrain. 😝


Oh yha. Satu lagi. Ada adegan pas Prima sama ibunya di perpustakaan, trus narasinya bilang pemerintah sering mencekoki rakyat sama buku supaya rakyat nggak sadar sama sistem pemerintah yang bobrok.

Nah, mencekoki di sini mengacu ke koleksi buku di perpus tadi. Tapi, pengunjungnya tuh dikit banget. Nggak yang rame apa gimana gitu. Berarti, segencar apa pun pemerintah mencekoki buku, kalo rakyatnya nggak pernah hadir ya sama aja sia-sia dong. Jadi, ada kemungkinan, rakyat tetep kritis sama sistem pemerintah dan pemerintah tau usahanya berujung nol besar. Just saying. Wkwkwkw. ╰(*´︶`*)╯


Aku sebenernya bingung mau kasih bintang berapa. Tapi karena aku lebih condong ke tengah-tengah, aku kasih bintang tiga.
Profile Image for Alfath F. R..
234 reviews4 followers
February 18, 2019
Terima kasih kepada penulis yang menambah jajaran bacaan berunsur matematika. Saya sangat sulit menemukan sastra atau karya fiksi yang ada matematika-nya dalam bahasa Indonesia. Saat membaca ini, berkali-kali saya teringat pada pengajar-pengajar saya yang selalu mengajak memaknai kalkulus, analisis real, dan beragam ide abstrak dalam kehidupan sehari-hari. Pelajaran yang sangat menguras energi karena perlu membayangkan ide-ide abstrak itu melayang-layang sambil berupaya menjejak bumi. Kelas-kelas yang saya anggap sebagai sarana untuk menyiapkan diri menghadapi beragam orang bertanyaa, 'untuk apa belajar matematika?'

Karya fiksi yang ada matematikanya, seingat saya baru dua yang saya baca yaitu The Housekeeper & the Professor dan Teka-Teki Terakhir. Sisanya ya bentuk bacaan-bacaan ala-ala matematika populer seperti Tuhan Pasti Ahli Matematika! dan lainnya lupa. Saya menduga penulis amat menggemari membaca jenis buku-buku matematika populer, dan dugaan saya terjawab ketika penulis pernah menstrories buku bahan riset untuk novel ini. Salah satunya, ada beberapa buku penulis Ian Stewart.

Oiya, ada satu bagian berkesan (di antara banyak bagian lain yang juga berkesan) adalah bagian pertanyaan bercetak miring di halaman 169:

Apakah matematika memang bersandar pada tiang yang sama sekali bukan matematika?
Apakah matematika cuma kulit luar yang menyelubungi sebuah dunia tersendiri; dunia yang benar-benar baru dan belum terjamah oleh logika manusia; atau dunia lama, yang benar-benar tak disangka oleh manusia bahwa ialah ibu dan moyang dari matematika itu sendiri?


Bagian tersebut mengingatkan saya pada bahasan dalam Where Mathematics Come From: How the Embodied Mind Brings Mathematics into Being, cocok buat siapa saja yang membaca novel Buku Panduan Matematika Terapan (BPMT) dan penasaran tentang 'darimana matematika berasal? Apakah turun dari langit jatuh ke bumi? dst'

Satu lagi, saya merasa kalau dalam cerita terdapat paham reinkarnasi, tapi semakin ke belakang saya menyadari beberapa tokoh dalam cerita mengalami kehidupan ala2 paralel universe. Mirip kejadian-kejadian yang melibatkan tokoh dalam Dark Matter dan Dunia Sophie. Penasaran bagian yang mana? Coba cek ulang, dan teman-teman pembaca bisa mencoba bertanya lebih jauh atau sekedar konfirmasi dugaan yang ada kepada penulis novel BPMT ini. Penulis sangat ramah untuk diajak chat :)
Profile Image for Puty.
Author 9 books1,386 followers
Read
December 1, 2025
Saya impulsif membeli edisi cetak ulang dengan sampul baru karya Wulang Sunu. Buat saya, premisnya menarik; mengimplementasikan konsep-konsep dan rumus-rumus matematika ke dalam cerita fiksi; mulai dari konsep bilangan prima, parabola, dan seterusnya. Walau nilai kalkulus saya selalu bontot semasa kuliah, saya menghargai niatan meromantisasinya.

Sayangnya (atau untungnya?) saya tidak mengecek ulasan goodreadsnya dulu 😂 Saya setuju dengan beberapa ulasan populer di sini:
1) Bahasanya terlalu berbunga-bunga sampai-sampai banyak deskripsi yang malah menyulitkan saya membayangkan rupa, adegan, ataupun situasi yang terjadi.
2) Di awal cukup menjanjikan, tapi semakin ke tengah dan ke belakang, buat saya makin membingungkan memahami arahnya
3) Tidak berhasil menepati 'janji' untuk menghubungkan konsep dan rumus matematika ke dalam ceritanya. Saya merasa rumus-rumusnya menjadi seperti 'tempelan' belaka. Atau mungkin kemampuan matematika saya yang kurang? Tapi bukan seharusnya ini yang dijanjikan untuk disampaikan?
Profile Image for Windi Astuti.
154 reviews19 followers
October 10, 2018
Penasaran dengan novel ini karena saat pertama tahu dari sosial media, katanya, novel ini diawali dengan 2+9+(2×9)=29.

Sesuai dengan judulnya, maka tak aneh jika penulis sering menyisipkan istilah matematika, yang untungnya diberikan footnote supaya pembaca lebih mengerti. Saya jadi tahu beberapa istilah yang sebelumnya asing. Trivia yang menyenangkan.

Namun sayangnya novel ini juga sama seperti judulnya, hanya seperti buku panduan. Menceritakan isi pikiran namun tanpa didukung kehadiran emosi. Pembaca diajak akrab dengan permasalahan P dan NP, namun tak kunjung kenal dengan siapa Prima, Mantisa, Tarsa dan karakter lainnya. Sering kali saya berhenti dan bergumam, "jadi sebenarnya dia siapa?".

Beberapa pertanyaan saya tidak terjawab hingga lembar terakhir. Ada beberapa 'kekosongan' yang mungkin karena saya tidak terlalu paham atau memang sengaja dikosongkan agar pembaca bisa membuat hipotesisnya sendiri dan memilih kesimpulan berdasarkan prinsip occam's razor.
Profile Image for Asti Wisnu.
Author 2 books2 followers
June 11, 2018
Diksi yang indah, cerita yang penuh pemikiran, sudut pandang yang tidak biasa, penggabungan 2 POV serta karakterisasi yang kuat. Mungkin butuh berkali-kali mengulang membaca satu bagian untuk lebih memahami, tapi tidak mengurangi kesenangan melahap buku ini sampai habis.
Profile Image for Truly.
2,764 reviews12 followers
October 30, 2018
Bagaimana jika kamu ternyata sudah hidup dan mati berulang-ulang, namun memori terakhirmu belum terhapus sehingga ayahmu datang dan berusaha memperingatkanmu untuk mati saja
~halaman 281~

Hingga penghujung tahun 2018, bisa dikatakan ini merupakan buku paling "liat" yang saya baca. Bagi saya yang kurang paham mengenai matematika, buku ini terasa agak berat karena banyak mengusung perihal matematika. Lihat saja catatan kakinya, pasti dikaitkan dengan matematika.

Misalnya yang tercetak di halaman 52, tentang kemungkinan seseorang bertemu dengan orang yang memiliki tanggal lahir sama. Paradoxes ulang tahun (Birthday Paradox). Di antara 23 orang, peluang ada dua orang yang berulang tahun di hari yang sama adalah 50%. Peluang naik menjadi 99,9% saat jumlah orang ditambah menjadi 75. Lebih lanjut dapat dibaca di https://betterexplained.com/articles/.... Dalam kisah ini, sang tokoh utama berhasil menemukan jawaban mengenai kesamaan ulang tahunnya dengan salah seorang anggota panti pada Buku Matematika Terapan untuk Pemula yang kedelapan.

Butuh konsentrasi penuh membaca buku ini. Saya tidak bisa seenaknya membaca di kereta api atau ketika di perjalanan. Konsentrasi yang terganggu secara mendadak, bisa membuat saya melupakan bagian yang dibaca. Jelas ini bukan buku yang bisa diselingkuhi, alias dibaca bersama dengan buku lain.

http://trulyrudiono.blogspot.com/2018...
Profile Image for Akaigita.
Author 6 books238 followers
November 25, 2018
Buku ke-39 (3x13) dari tantangan GRC-ku tahun ini. Tadinya ingin menamatkan buku ini lebih awal di urutan 13, tapi kondisi waktu itu membuat Budok melarangku membaca buku ini #lahpiyepenulisnya.

Pertama-tama aku akan membahas aftermath (sebagaimana jika kita baru mengalami kejadian traumatis) setelah membaca buku ini. Luar biasa, lipatan otakku yang semula lurus sekarang jadi keriting! Itu candaan anatomi, tapi mungkin gak lucu.

Sebagai orang yang memiliki sejarah kelam dengan matematika, aku anehnya cukup tertarik mengulik makna di balik rumus-rumus yang muncul di tiap bab. Nggak, aku sama sekali nggak berhasil menemukan makna terselubungnya karena lipatan otakku kurang keriting.

Aku justru ketawa kenceng setiap ketemu pembahasan remeh yang relatable dengan obrolan sehari-hariku dengan Budok. Emang frekuensiku gak kena ke buku ini.

Tapi, tentu saja ini adalah mahakarya yang patut dirayakan karena kalau bukan Budok, rasanya nggak akan ada penulis Indonesia yang mau bersungguh-sungguh menuangkan kegundahannya soal P-NP ke dalam buku fiksi setebal 350 halaman.
Profile Image for Tama Pamungkas.
10 reviews2 followers
May 24, 2018
Semuanya serba unik. Baik dari judul, alur cerita, sudut pandang, diksi kata, konflik, semuanya.

Hanya saja, penggunaan kalimat deskripsi pada buku ini bagiku cukup berlebihan hingga seakan semuanya bergerak lambat. Lalu kemudian, metafora-metafora yang terlalu mengawang-awang. Hingga akhir cerita pun aku jadi bingung sendiri, semacam tidak tuntas. Namun, nampaknya memang begitu yang diinginkan sang penulis.

Aku suka dengan susunan tiap kalimat pada buku ini yang terkesan puitis. Dan juga konflik yang cukup menguras emosi dan pikiran. Hingga menimbulkan "kok begini" dan "kok begitu" yang banyak sekali.

Ekspektasiku awalnya semoga dengan membaca buku ini aku jadi tidak anti lagi dengan matematika, sebagaimana setelah membaca Dunia Sophie aku menjadi lebih tertarik dengan filsafat. Namun, hampir tidak ada istilah matematika dalam buku ini yang aku pahami, karena memang tidak dibahas lebih lanjut. Hanya tentang nilai-nilai filosofis matematika dalam kehidupan.

Suatu sensasi kebingungan yang menarik. Tak bisa hanya dibaca sekali!
Profile Image for Susilo Utomo.
25 reviews
April 14, 2024
Buku dengan premis awal yang menarik. Yaitu bagaimana dengan matematika bisa banyak mengundang pertanyaan-pertanyaan sosial dan filosofi. Juga ada sedikit cakupan soal I Ching, walau tidak mendalam. Namun jalan cerita cenderung hanya sebagai filler, jadi banyak elemen yang kurang sesuai dengan common sense pada umumnya.

Penulis cukup berani dengan mengangkat tema bullying di sekolah, abainya aparatur sekolah, ketidak adilan sosial, penindasan kebebasan oleh pemerintah, kekerasan rumah tangga, manipulasi panti asuhan, fasilitas baca yang terabaikan, dan lainnya. Beberapa tema tema yang jarang dieksplor oleh buku seperti ini.

Buku ini akan menarik dibaca dari sisi diskusi Matematika vs persoalan sehari-hari, tapi kurang mengena jika sebatas renungan filsafat atau yang awam terhadap matematika.
Profile Image for dranavs.
96 reviews
May 6, 2024
sering kepusingan baca ini, tapi diksinya tetep berkesan buat dibaca, dan tetep dibaca sampai tuntas juga
Profile Image for fragaria.
47 reviews27 followers
July 24, 2018
Sudah sangat jarang baca cerita fiksi apalagi novel apalagi novel sastra, lalu informasi tentang buku ini tidak sengaja saya temukan di dunia maya. Judulnya nyentrik, kalau tidak ada tulisan "sebuah novel" pasti tidak jadi bikin gemas.

Setelah akhirnya menemukan buku ini di toko buku, saya makin tertarik lantaran ada nama Seno Gumira Ajidarma di sampul belakangnya. Ternyata novel ini memang sejenis gayanya dengan karya-karya SGA yang surealis. Makanya saya bingung juga kalau disuruh menceritakan ulang isi novel ini, karena memang abstrak. Apalagi separuh terakhir isi buku, semakin abstrak dan kental dengan filsafat.

Secara keseluruhan, novel ini memukau sekaligus menantang. Ilmu matematika menjadi tema penting yang mengisi benak dan kehidupan para tokohnya. Baik yang difabel, yang kidal, maupun yang hobi bertanya. Sayangnya, mulai pertengahan buku saya baru sadar kalau ini novel yang abstrak, sampai membahas dunia transendental segala. Untungnya semua bab di buku ini pendek-pendek, jadi saya bisa sering beristirahat di sela-sela menamatkannya.

Biasanya saya kurang suka novel yang minim dialog dan terlalu banyak monolog atau perenungan. Buku Panduan Matematika Terapan ini beda. Perpaduan matematika dengan sastra menyadarkan saya bahwa matematika itu ternyata sungguh puitis dan berseni, ya. Matematika dan angka dijadikan penulis sebagai "ilustrasi" utama novel ini. Banyak seluk-beluk matematika dan dunia angka dituturkan dengan segar; mulai dari tetrafobia, rasio emas, sampai permasalahan P-NP, suatu Masalah Milenium yang ingin dijawab oleh tokoh-tokoh utama novel ini. Saya menikmati semua penjelasan trivia terkait angka dan matematika, yang selalu bisa dikaitkan penulis dengan konflik-konflik para tokohnya. Petualangan ke dunia angka bahkan sudah dimulai dari halaman yang biasanya dijadikan halaman persembahan; hanya ada angka-angka dan beberapa notasi matematika di sana.

Bukan cuma matematikanya yang bikin saya suka buku ini. Kayanya kosakata penulis juga pantas dipuji. Sepertinya penulis selalu berusaha memakai Bahasa Indonesia biarpun kata-kata dalam bahasa asingnya masih jauh lebih terkenal. Selain "sengkarut" untuk chaos dan "gawai" untuk gadget, masih banyak lagi kata di novel ini yang tadinya saya pikir cuma bisa muncul di soal TPA bagian tes verbal.

Yang juga mencolok ialah penggunaan sudut pandang orang kedua, yang secara langsung menambah keunikan pengalaman membaca novel ini. Saya juga tidak ingat pernah membaca cerita lain yang mengandalkan kata ganti "kamu" untuk menyampaikan kisahnya.

Pada akhirnya, tantangan utama Buku Panduan Matematika Terapan ini bukan matematikanya. Tidak perlu jago matematika untuk paham maksud penulis, toh pembaca tidak diminta menyelesaikan soal matematika apapun. Buat saya, tetap yang bikin buku ini sulit dicerna adalah gaya surealis dan unsur filsafatnya. Mungkin memang perlu dibaca lebih dari sekali untuk paham inti ceritanya. Mungkin juga hanya penyuka fiksi ilmiah atau sastra filsafat yang bisa menikmati buku ini.

Biasanya cerita fiksi ilmiah tidak disertai dengan kata-kata puitis ataupun perenungan filosofis. Sastra yang lain paling banter dibumbui pengetahuan sejarah atau budaya, kebanyakan, bukan dengan teori-teori ilmu pasti. Sedangkan novel ini telah sukses mengawinkan ilmu pasti dengan sastra, jenis novel yang langka khususnya di Indonesia.
Profile Image for Christmas.
267 reviews1 follower
January 21, 2019
Buku ini adalah salah satu dari daftar yang diberikan sebelum saya mengikuti workshop Period akhir bulan lalu. Meski akhirnya tak jadi saya pilih untuk saya ulas, saya berniat untuk menuntaskannya.
Butuh waktu cukup lama, kurang lebih satu bulan, untuk menyelesaikannya. Seringkali tak terbaca, karena kesibukan. Namun pada akhirnya buku ini tuntas dibaca. Yeay!
Buku ini sama rumitnya dengan matematika. Ia berisi rumus yang njelimet tapi juga buat penasaran. Ketika membaca buku ini seperti di kelas Matematika dulu. Saya selalu senang mendapat rumus baru dan lekas ingin menghitung. Tapi selepas kelas, rumus itu menguap, hilang. Lenyap. Sensasi excited yang menyenangkan. Namun kerumitannya sedikit ingin berjarak tak menyentuhnya. Begitulah.
Buku ini menjadi sebuah referensi baru buat saya pribadi. Penggabungan antara matematika dan sastra yang menarik. Imbang dan tertata rapi.
Displaying 1 - 30 of 115 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.