Nia, seorang perempuan muda enerjik, ceria, manja, sekaligus sensitif. Rissetyo, seorang eksekutif muda dengan pembawaan yang cool, tampang mirip michael Bubble, pintar, kaya namun terkadang penuh rahasia. Berawal dari perjodohan yang direncanakan oleh kedua belah pihak, mereka dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Nia yang sejak awal tidak setuju dengan "cara" perjodohan, terpaksa menerima pinangan Rissetyo dengan hati penuh protes. Perbedaan karakter, usia yang jauh, serta penerimaan mereka terhadap pernikahan, menimbulkan konflik yang khas penuh intrik namun tak jarang diselingi dengan dialog yang lucu. Belum lagi masa lalu menjadi ujian berat bagi pernikahan mereka. Silih berganti orang-orang dalam kenangna mereka datang tanpa diduga, menambah umit perjalanan cinta mereka. Akankah akhir bahagia menghampiri? Atau justru kesedihan yang datang? Novel karya Ifa Avianty ini mencoba menyadarkan kita akan pilihan terbaik yang Allah kirimkan untuk kita.
Saya lupa apa yang mendorong saya untuk membeli novel ‘tipis’ ini. Mungkin harganya yang ‘murah-banget’ menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi keputusan saya. Tapi, paling tidak satu yang saya ingat, gaya bahasa Ifa memang memikat saya dari awal saya meng'observasi’ novel ini sebelum deal dengan kasir dan membayarnya.
Untuk ukuran sebuah novel berlabel Islamic Novel, novel ini cukup ciamik dalam hal tata bahasa, sesuai dengan selera saya. Tidak terlalu membingungkan, mengalun sempurna dalam modernisasi kota besar, meskipun membuatnya menjadi terlalu ‘dangkal’ tergabung dalam lingkup novel bertema Islam. Ciri Islam hanya ditempelkan pada cerita tokohnya yang sering digambarkan salih-salihat, pintar mengaji, atau lontaran salam pada setiap kesempatan, plus aksesoris ‘kerudung’ dan jilbab pada tokoh wanitanya. Bisa bayangin nggak seorang cewek berjilbab, terus maen piano dalam sebuah resital piano akbar? Gue nggak bisa nih.
Cerita yang dibangun Ifa sebenarnya sangat menarik karena dibuat dengan tumpukan konflik yang bergulung-gulung bak benang kusut yang susah diuraikan. Hidup serasa berwarna dengan ragam masalah pelik yang menghampiri tiap-tiap tokohnya. Dari mulai perjodohan yang terpaksa hingga isu poligami. Namun, daya tahan saya untuk menerima gunungan konflik ini ternyata tidak terlalu bagus. Saya malah mati bosan di tengah masalah-masalahnya. Kisah tragis salah satu karakter kuncinya pun tak mampu membangkitkan rasa iba yang biasanya gampang sekali hadir dalam setiap kesempatan saya membaca novel dengan tokoh kunci hidup bergelimang sengsara. Waktu baca Bidadari-bidadari Surganya tere-liye aja gue nangis bombay hampir sampai akhir novel. Huhuhuhuhu....
Keribetan yang diciptakan Ifa nyatanya gampang sekali terurai di hampir pengujung novel, yang membuat saya mengerenyit heran. Mengapa masalahnya jadi mudah sekali ya? Mungkin kendala sedikitnya halaman membuat jalan cerita tidak dibuat dengan ending yang memadai dan terkesan dipaksakan untuk selesai. Keinginan penulis untuk mengakhiri segalanya dengan emosional justru terasa mengada-ada, menurut saya. Yah, cuman gini doank? sungut saya.
Kelemahan lain yang menyertai novel ini adalah point of view karakter yang digunakan sedikit kedodoran. Sudut pandang orang pertama ‘aku’ sedianya dihadirkan dengan independensi tiap tokohnya, seluruh tokoh menggunakan kata ganti orang pertama. Saya memang pengagum cerita dengan ciri khas begitu tetapi khusus untuk novel Ifa ini, penggunaan kata ganti orang pertama untuk hampir seluruh tokohnya malah membuat plot menjadi berantakan. Bahkan yang sangat saya sesalkan adalah tokoh ‘pinggiran’ yang sebelumnya tidak punya peran besar tiba-tiba ikut ‘berbincang’ dan mengambil porsi dalam jalinan cerita. Hal tersebut, menurut saya, kurang bagus dan sedikit ‘menghancurkan’ cerita yang telah dibangun sebelumnya. Kekurangan lain yang agak terlihat nyata adalah penggunaan kata ganti orang pertama ini cenderung lemah karena antara satu karakter dengan karakter lain ‘terasa’ sama saja. Tidak teraba perbedaan pada masing-masing tokoh. Nggak mungkin kan semua orang sama?
Yeah, maaf kalau saya sepertinya jago ‘kritik’ sekali, padahal membuat cerita sendiri saja saya tidak bisa. Namun, rasanya saya punya hak, karena saya toh sebagai pembaca memiliki kesempatan untuk berkomentar atas setiap karya yang saya ‘beli’ kan? But, like I said before, saya suka gaya bahasa yang digunakan Ifa. Chic. Simple. And, lovely.
Novel ini bertutur dengan bahasa yg unik, ringan, lucu, menarik dan segar dalam mengikuti alur ceritanya sejak awal hingga akhir. Ceritanya simple dan bermakna namun tetap punya pesan2 moral buat pembacanya.
Seperti judulnya, hemm...siapa yg tdk ingin?? ^^..Meski sudah selesai membacanya, rasanya masih ingin mengulang lagi..dan lagi..just read and find by ur self..:)
Selalu berkarya yah mbk Ifa, have a nice read everyone;)
Bahasanya ringan... Ceritanya nggak klise berenti pas mereka jadian, tapi berlanjut ketika mereka udah nikah. *duh, siapkah daku menghadapi masalah2x rumah tangga semacam itu? :p
Mencintai isi buku ini sepenuhnya :D peajaran kesetiaan, ikhlas, dan juga cinta. Juga pelajaran bahwa jodoh bukan di tangan manusia, tapi di tangan sang Khalik, Allah SWT :)