"Kita pernah menjadi sebuah ketentuan pada pertemuan yang saling mengisi hingga saling meniadakan. Namun pada langkah yang saling menjauhi, ketentuan terasa seperti sebuah perjudian antara waktu dengan detaknya sendiri. Karena pada detik ke sekian kita sadar bahwa penerimaan akan membuat kita merasa utuh jika sudah sepenuhnya." -AMOR FATI-
AMOR FATI adalah sekuel kedua dari novel KALA: Kita adalah Sepasang Luka yang Saling Melupa
Saya kasih 4 bintang! Sama seperti buku sebelumnya yaitu KALA. Amor fati adalah buku yang tepat bagi kalian pecinta novel dan prosa. Karena di dalamnya masih sama seperti KALA terdapat banyak prosa tanpa melupakan sebuah dialog.
Masih dengan dua sudut pandang, Saka dan Lara. Karena memang mereka kembali berkolaborasi. Berbeda dengan KALA, di Amor fati kehadiran Riana dan Rio yang semakin menambah gemas masing-masing tokoh utama.
Kemudian untuk gaya tulisan, lebih bisa dimengerti ketimbang KALA karena di sini si penulis tidak menggunakan diksi yang menurut saya terlalu sulit.
Untuk konflik, kembali membuat saya gereget dan gemas tampak cerita begitu direncanakan sedemikian rupa hingga terbentuk kebetulan-kebetulan yang akan membuat debar tersendiri untuk segera terjadi. Memang kali ini saya benar-benar tidak sepenuhnya dibuat terkejut oleh ending yang menurutku mencari aman (sudah bisa saya tebak) dan tergolong sama seperti KALA (mengambang). Tapi, setidaknya cerita ini sukses membuat diriku gemas untuk kedua kalinya dan tersenyum sendiri. Waspada! Emosimu akan di naik turunkan! Bila harus memilih, aku lebih suka Amor fati dari pada KALA. Tapi, haram hukumnya baca Amor fati tanpa KALA.
Untuk cover, aku suka! Masih dengan ke eleganannya dan ke keceannya. Sekian reviewnya!
Stefani Bela dan Syahid Muhammad lagi-lagi di persatukan untuk membuat karya lanjutan dari buku pertama mereka yaitu Kala. Amor Fati adalah pelengkap cerita Kala. Yang merasa kalau ending Kala ada yang sedikit menganggantung, maka baca Amor Fati.
Buku ini benar-benar aku tunggu setelah selesai membaca Kala beberapa bulan lalu, setelah aku tau ada sequelnya, aku langsung cek di gramedia dan ternyata Hop!! Ada 😊. Di awal, aku udah mulai di bawa penasaran dengan hubungan mereka, kita seolah secara perlahan diajak untuk mengenal tokoh-tokoh itu jauh lebih detail.
Di pertengahan cerita aku dibuat gemass dengan Saka dan Lara, btw, aku suka Saka. Aku suka dengan sudut pandang cowok itu, entah bagaimana jelasnya. Bagiku, Saka adalah 1/2 dari diriku (azekkk,😆) dia cuek, keras kepala, dan nggak suka diatur. Okay, it's me. Kembali lagi ke cerita, di pertengahan aku benar-benar pingun uyel-uyel pipi Lara dan betapa ingin memberika tepukkan yang meriah untuk tokoh pendatang baru, sebut saja itu perempuan dan namanya nggak akan aku sebut (biar penasaran)
Di akhir, aku dibuat kaget, benar-benar kaget dengan perasaan kedua tokoh pendatang baru dan toko utamanya sendiri.
Untuk buku ini aku kasi 4 bintang!!! (horre😆🙆) karena si penulis tahu bagaimana cara menguatkan tokoh untuk lebih hidup, si penulis tau bagaiman membuat diksi yang tidak terlalu rumit namun ngena untuk di baca, si penulis memberikan narasi dengan rapi saat menjelaskan perasaan si tokoh. Aku dibuat menangis saat kedua tokoh utama kembali ditemukan, lalu dibuat ketawa dan dibuat mejadi dewasa dengan sendirinya. Cerita ini memberikan pelajaran perihal menjadi dewasa, dan bagaimana agar kita mencoba bermaaf'an dengan masa lalu kita. Jika dibandingkan dengan buku pertama, aku lebih suka buku kedua. Tapi kita nggak akan tau bagaimana cerita mereka dengan lengkap kalau nggak baca buku pertama. Untuk cover bagiku ini menarik.
I don't know, buku ini bener-bener speechless! Terharu, seneng, sedih, gregetan semua campur aduk sampe mau meledak. Baca buku ini seperti diajak ke ruangan luas yang isinya bermacam-macam hal.
Kalo di Kala semesta gampang banget pertemuin mereka tapi di Amor Fati jangan harap, sampe rasanya gemes sendiri.
Amor Fati punya banyak hal yang bisa diambil, yang awalnya ga terima jadi menerima karna selalu ada penjelasan yang dapat dipahami.
Saya belajar banyak dari Saka-Lara terlebih dari Ana. Pesan-pesan di buku ini benar-benar tersampaikan. Saya kasih bintang lima:) ditunggu karya selanjutnya.
"Karena, saat kamu enggak tahu harus percaya sama siapa, percaya aja sama diri kamu sendiri. Enggak usah berusaha menjelaskan agar orang percaya sama kamu. Karena pada akhirnya nanti, saat sebuah makna akhirnya terungkap, mereka enggak punya pilihan lain, selain percaya sama kamu." hlm 350
Oke, saya akan memulai ulasan ini dengan kilas balik dari buku sebelumnya, KALA. Kalau sebagian dari kalian belum membacanya, boleh lah mampir ke sana dulu sebelum melanjutkan membaca ini. Karena ini benar-benar jadi buku yang mengesalkan buat saya, tapi tetap merasa relate. Sialan memang.
Bentar, saya akan membuat ini agak teratur dengan membahas seputar sampulnya yang masih juga berwarna hitam. Jujur, saya suka banget sih, entah kenapa. Belum lagi lambang si bulu ayam eh atau bulu apa sih ini? Pokoknya bulu yang terpisah ini saya nggak tau maknanya apa, tapi dengan kesotoy-an saya setelah baca buku ini, ya itu sepasang bulu yang akan bersinergi dengan perasaan yang ringan.
Yha, nggak nyambung emang si Tiwi. Maapin, jangan diprotes. Tapi bookmarknya lucu, bentuknya juga bulu. Hehe
Nah, yuk masuk ke ulasan. Setelah ending yang gantung di buku KALA. Btw, saya jadi inget lagunya Melly Goeslaw yang beberapa hari lalu saya putar gara-gara salah seorang teman lagi galau digantung oleh perasaannya sendiri. Oke, ini nggak penting. Lanjut, ya. Jadi, ending di buku KALA super ngeselin, tapi sebuah epic ending yang bagus karena berpeluang untuk jadi buku lanjutan.
Dan, hadirlah Amor Fati sebagai pereda dahaga akan kisah Lara dan Saka yang entah bagaimana. Kak Indi, salah seorang teman saya, ternyata benar soal keegoisan Saka dan Lara. Saya berkali-kali bilang “kampret” ketika sedang membaca buku ini. Kenapa sih kenapa saya harus merasa sedemikian relate sama kisah Saka dan Lara? Kenapa, Tuhan?
Si dua orang keras kepala ini ternyata masih saling cinta. Walaupun mereka tidak menutup pintu hati masing-masing untuk keberadaan orang baru yang hadir di kehidupan mereka. Saka bertemu Riana, Lara didekati Rio. Gila, ini kenapa sama persis kayak… ah sudahlah.
Buku setebal 440 halaman ini membawa saya pada kejutan-kejutan yang sederhana, tapi mengoyak emosi. Kalau bisa dibilang, semesta jahat banget mempertemukan mereka dengan cara-cara yang tak terduga. Lebih jahat lagi karena membiarkan gengsi mereka yang terlalu tinggi untuk saling mengabari satu sama lain. Padahal katanya sudah baik-baik saja dengan perasaannya.
Chapter-chapter awal buku ini masih menceritakan kehidupan Saka dan Lara secara masing-masing. Masih dengan konsep dua sudut pandang, Kak Bella dan Mas Syahid menuturkannya secara luwes. Nggak kayak bab awal buku pertama, di sini Mas Syahid udah lebih enak nih story tellingnya. Udah nggak bikin mumet pas ngebacanya.
Saya agak lama membaca buku ini karena awal-awal bosan aja, tapi tetap bisa menikmati karena perjalanan pasca Saka dan Lara bertemu orang baru di kehidupannya bikin saya berkaca dan berandai-andai, apakah semesta akan membuat jalur hidup saya seperti dalam cerita ini? Ah, tapi enggak usahlah.
Setelah membaca setengah bukunya, barulah saya mulai menemukan percikan-percikan emosi kemarahan karena ini sungguh di luar nalar. Kok ya Saka dan Lara jahat banget sama orang-orang di sekitar mereka. Jahat dalam artian mereka secara tidak langsung menyakiti perasaan Rio dan Riana. Dua orang yang pada akhirnya menjadi support system mereka tanpa meminta balasan. Sial, aku tidak sanggup bersedih-sedih.
Udah, pokoknya itu dua orang keras kepala.
Di sisi lain, karakter yang saya suka, baik dari buku KALA maupun Amor Fati adalah Kevin (sahabatnya Saka) dan Kanaya (sahabatnya Lara). Nggak tau kenapa karakter mereka tuh pencair suasana banget, tapi kadang bisa ngasih solusi yang pas.
Contohnya ini, pas Lara cerita soal pertemuan tak terduganya sama Saka. Then Kanaya said,
“Kalem, kalem. Api kayaknya berkobar banget pas lu cerita. Hahaha. Terus lu jedotin enggak kepalanya? Pasti enggak, kan? Ra, sekarang lu pikir deh. Saka tuh mungkin banget buka kedai kopi di Bandung. Ya elah, temen doi lebh banyak di sana. Tapi, kenapa dia milih di Jogja? Karena lu, Ra. Karena dia mau ngejar lu. Jangan bego kenapa, peka dikit.” (Hlm 339-340).
Atau kalimat Kevin ke Saka yang super bodor tapi bener.
“Eh, gilak. Meskipun iya, enggak maksud gitu lu tetep enggak bisa seenaknya, tahu. Gue paham sih elu enggak suka sama hal yang begituan. Ngehubungin buat ngasih tau lu di Jogja karena lu juga ngerasa buat apa lu ngabarin doi. Atau, lu juga enggak pengen bikin kejutan. Tapi cewek enggak sesimpel itu pikiran lu, Sakaaa… Ganteeeeng… Gue aja lakik gemes sama lu!” (Hlm. 279).
Jujur, saya nggak berharap akan ada lanjutan dari kisah Saka dan Lara. Karena… udahlah saya capek sama drama-drama kalian. Udah cukup. Tapi nggak tau ya, saya belum ngulik apakah emang ada lanjutannya apa enggak. Jadi, mari menikmati saja segala drama ini sambil minum kopi kayak nama kedai kopinya Saka: Coffee and Drama. Kalo tu kedai kopi beneran ada di Jogja, mau deh ke sana.
Amor Fati adalah cerita tentang "kamu" dan "hatimu" ya tentu saja, para pembaca akan setuju, bahwa separuh ceritanya tentang "aku" atau mungkin saja keseluruhannya tentang "kita".
Masih dibawakan dengan sistem dua sudut pandang Saka dan Lara,
Saka masih dengan pemikiran rumitnya, tapi bisa dibilang 'sedikit' lebih dewasa dibanding sebelumnya.
Lara yang masih sama (?) ehm, tidak juga sih, Lara adalah penggambaran yang cukup apik antara wanita tegar sekaligus rapuh,
pergerakan dalam Amor Fati tidak lagi terasa lambat seperti waktu Kala, lebih santai dan lumayan menyenangkan.
Mengangkat ide cerita yang terhubung dengan buku sebelumnya, pastinya lumayan menarik.
Memiliki alur maju dan melegakan karena premisnya jelas. Karakter-karakter yang di angkat pun memiliki kapasitas peranan masing-masing yang menyatu dengan baik untuk membentuk kesatuan cerita.
Jika dibandingkan dengan Kala, Amor Fati lebih bersahabat, masih dengan selipan prosa tapi lebih ringan menurut saya.
Kemunculan tokoh-tokoh baru juga menjadi daya tarik baru untuk #Amorfati, ya, Riana dan Rio, 😁 penasaran bagaimana peranan mereka? boleh dong yang belum punya beli dan baca bukunya dulu. 😌
Beberapa hal yang menjadi fokus dalam catatan saya:
Untuk konflik menurut saya cukup dan tidak tergesa-gesa, namun di akhir sepertinya terlalu cepat, hmm. Jika boleh jujur saya sejujurnya kurang puas dengan akhir ceritanya, untuk konflik yang diusung demikian, (opini saya pribadi) saya butuh "Ledakan" entah itu semacam twist atau apa karena Amor Fati memiliki potensi lebih baik lagi jika saja bagian akhir ceritanya lebih explore lagi (tapi bisa jadi karena keterbatasan waktu dan halaman yang membuat buku ini terbatas). Tapi kembali lagi itu keputusan dari para penulis yang memilih untuk mengantarkan cerita sebagaimana mesti(versi mereka)nya. Karena Amor Fati bagi saya "terlalu aman". But overall it's fine. Saya berbesar hati dengan pilihan para penulis. :')
And sorry to say, saya lagi-lagi lebih nyaman mengikuti bagian Lara yang lebih on point. Bukan berarti bagian Saka tidak bagus, bukan seperti itu, sejujurnya perasaan Saka cukup—sampai kepada pembaca (saya) tapi sayangnya, sama seperti waktu Kala, walaupun di Amor Fati tidak se'melelahkan' Saka yang di Kala, saya tetap merasa sedikit terganggu dengan narasi/deskripsi yang cenderung bertele-tele,
saya berasumsi jika hal yang demikian dipangkas pun sebenarnya tidak jadi masalah. Walaupun saya paham novel ini memilih diksi semacam prosa. Tapi tetap saja, beware of this; deskripsi yang terlalu detail, pengulangan makna dalam kalimat, jelas tidak baik jika digunakan secara terus-menerus, (plak! icha sotoy) (habis ini dipanggang sama ka iid) (habis ini digaplok sama mbak editornya) (habis ini diunyeng-unyeng sama pimrednya, ampuni icha mas tepe *dari hati yang terdalam*) (habis ini ditatap jutek sama bella) 😂😂😂😂
Saya tidak akan membahas typo, karena itu memang problem yang sulit dihindari.
Terlepas dari apa pun komentar saya tentang buku ini, saya senang dengan keberadaan Amor Fati yang hadir dengan cerita baru tidak hanya sebagai pelengkap dari Kala.
Karena tidak ada karya yang benar-benar sempurna bukan?
Akhir kata, terima kasih banyak kepada para pihak yang telah menghadirkan Amor Fati, buku ini begitu manis dan memberi makna "aku", "kamu", "kita" yang tidak lagi bermakna sesederhana itu.💕
Akhir kata versi 2: Icha #TeamLaraRio #TeamSakaJomlo #TeamSakaLaraEnggakBalikan 😂😂😂
Sedikit berbeda dengan buku sebelumnya, di Amor Fati ini kesannya lebih berwarna walaupun duo ini masih memasukkan prosa dan dialog di dalamnya. Dan entah kenapa aku memang lebih menyukai Amor Fati ketimbang Kala.
Kenapa aku bilang lebih berwarna? Karena selain ada tambahan karakter yang membuat cerita ini makin hidup, ritmenya pun dinamis. Kalau di Kala aku diharuskan untuk memahami kesedihan Lara, dan berusaha untuk menyelami karakter Saka, di Amor Fati lebih mengalir dan aku suka banget sama Lara di sini. Ayo tim Lara manaaa angkat tangan.
Prosa-prosa yang diselipkan pun masih sama, masih menyentuh hati. Setiap kata yang ditulis oleh Ka Iid dan Bella memang selalu membuat hati bergetar(?)
Alur cerita Amor Fati pun lebih cepat jika dibandingkan dengan Kala. Setiap konflik pun cukup tertata rapi, dan tiap tokoh tambahan dalam buku ini juga mengambil peranan yang pas. Sayangnya, aku sedikit 'tidak terima' dengab endingnya yang terasa seperti, "ohh.. Udah? Gini aja?" nggak ada ledakannya gitu lho! Jika di Kala, endingnya seolah ada yang belum terselesaikan walaupun sudah jelas jalan takdir mereka kemana, ini yang ini kok ngambang? Perasaan pembaca sepertiku mau dibawa kemanaaaaa gaes? Aku masih butuh sedikit kejelasan. Lebih tepatnya sedikit siksaan untuk Saka sih *smirk* 😏
Jika di atas aku lebih banyak membahas plusnya buku ini, di sini aku akan membahas sedikit saja kekurangannya, karena pada dasarnya aku sependapat sama temanku si @alineafajr bahwa, untuk bagian Saka itu terlalu banyak hal yang bertele-tele dan sebenarnya bisa untuk dipangkas. Jujur, aku sedikit bosan jika membaca part Saka *sorry to say Ka Iid, but i still love you kok kalo ka iid udah mandi trus pake setelan jas kaya kemarin. ugh banget! 😄* Okay, back to the topic. Dan, entah kenapa aku jadi makin sulit memahami jalan pikiran Saka. Apa karena Saka lagi pusing? I don't know... Yang jelas dari Saka aku tau, kalo jalan pikiran cowok itu cukup rumit. Btw, Kak Iid juga gitu, mirip Saka? 😂
Dan pada akhirnya aku memang lebih nyaman waktu membaca part Lara. #TeamWanitaTegartapiRapuh 😂😂
Typo pun masih cukup banyak, fan sepertinya hal ini itu menjadi permasalahan sejuta umat, baik penulis, editor, dan pembaca yang suka ngetik seperti saya 😄
Terlepaa dari setiap kekurangan yang aku sebutkan di atas, Amor Fati ini oke banget buat pecinta prosa, sajak, syair, puisi, sastra atau apapun lah yang cukup ringan tapi tidak membuatmu lelah dan berpikir keras. Toh, tak ada karya yang sempurna kan? sama halnya dengan manusia. Hanya tinggal bagaimana kita menyikapi setiap kekurangan itu menjadi sesuatu hal yang positif.
And last but not least, i give 4 from 5 stars for Amor Fati. Terima kasih Ka Iid, Bella, dan Gradien Mediatama sudah menghadirkan Saka dan Lara, sepasang luka yang mungkin selamanya tak kan pernah bisa terlupa. Sukses untuk kalian kedepannya, dan sukses untuk karya-karyanya.
"Cinta juga termasuk menerima segala luka yang pernah disebabkan. Dan bagiku, cinta adalah saat di mana aku kembali berani bersitatap denganmu. Seperti saat ini, saat semua damai dari maaf yang tercipta di antara kita, mampu membuat semesta cemburu." - hal. 80 - Lara yang kini bekerja di Jogja dan Saka yang dikelilingi oleh segala keajaiban yang telah disiapkan semesta. Membuat paduan kisah yang lebih menarik tanpa ada lagi perulangan-perulangan pada setiap pertemuan, tetapi tidak menghapus sudut pandang yang berbeda antar keduanya.
Rio dan Riana adalah tokoh lainnya yang muncul di dalam kisah ini. Melengkapi seluruh pemahaman dari masing-masing kisah yang harus mereka hadapi.
Saka dan Lara bersama kisahnya pada Kala sebelumnya menurutku sudah menjadi kisah yang cukup untuk memberi pemahaman yang baik perihal meninggalkan dan ditinggalkan.
Tetapi, Amor Fati melengkapi seluruh pemahaman yang ada menjadi pengertian-pengertian yang menggugah nurani akan rasa kehilangan dan memiliki. Membuat kisah ini utuh dan menjadikan Saya sebagai pembaca juga merasa lebih dari cukup menerima seluruh pemahaman yang baik atas semua peristiwa yang telah terjadi. Menurutku, sekuel dari Kala ini sangat-sangat melengkapi dan juga memperbaiki apa-apa kekurangan dalam buku sebelumnya. Sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh semua anak muda zaman now! Ehehe. Luv Saka & Lara!
Ceritanya sukses bikin aku ngakak baper, nangis sedih senang pokoknya campur aduk deh, pada awal bacanya aku dibawa perlahan oleh penulis untuk berkenalan pada mereka walau mungkin nggak sedetail yang di kala. Kebetulan cumana punya Amorfati.
Btw lagunya keren banget aku suka apalagi saat reff, ya ampun aku bahkan kepikiran buat bikin lagu dari puisi puisinya.
Amorfati itu paket lengkap bagi pencinta sastra buat kalian yang pengen belajar nulis juga terselip benerapa tips, dan semangat menulis, kalau kalian pengen humor di sini ada ibu saka Dan lara yang sangup bikin kalian terteguh plus tertawa. kalau kalian pengen cerita patah hati di sini juga tempatnya. Intinya buku ini tuh paket lengkap yang di di tulis seperti sudah do rencanakan oleh sang penulis bahwa ceeita ini bakalan membuat orang orang jatuh hati.
yang paliang aku suka itu kata kata bosnya Lara dan perdebatan Lara yang mengartikan kata "Terserah" lalu obrolan obrolan manis saka dengan sebuah komunitas yang membuatku terteguh juga tentang mimpi.
pokoknya buku ini keren parah deh! kalian semua wajib banget bacanya
Pertama beli novel ini karena aku masih penasaran dengan kisah saka dan lara. Iya! Ku kira kisah mereka dibiarkan menggantung begitu saja dan kita diberi kesempatan untuk menerka nerka apa yang terjadi di kemudian hari. Tapi ternyata kita di bikin tambah gemes sama mereka berdua. Di amorfati ini banyak kejadian yang bikin kita mikir keras dan apa yang kita terka terka biasanya tidak sesuai dengan cerita nya. Di novel ini kita di beri kesempatan buat senyum senyum sendiri gemes sendiri sampai gedek sendiri sama sifat mereka wkwkwkw, terlebih saat pertemuan pertama mereka yang benar-benar bikin gak habis pikir kok bisa gitu ya, ternyata tak ada yang bisa menenangkan semesta saat diajak bermain dengannya. Intinya di novel ini bagaimana pun kita mencoba untuk menjauh dri kehidupan nya, seberapa kita berusaha menghadirkan orang lain untuk mengisi hati kita jika hakikatnya rasa kita milik dia pasti hati kita akan tetap kembali padanya , karena hati kita tau dimana ia harus pulang. Dan berjuang tidak sebercanda itu berjuang tidak bisa diterka terka tapi bisa dirasakan. Pokoknya sukses buat karya selanjutnya, sukaaa banget sama ini novel 💖💖💖
Bought this without knowing that it was a sequel haha.. Fortunately, I can keep up and actually caught up with the story between Lara and Saka. Was quite a bit confused at first, tried figuring out what it was about. But yeah, now that I finished reading it, it kinda ignite my dream and passion to seriously writes again. Hopefully it will be a dream come true. Just never stop doing it. Doing it consistently. That's what the book taught us about. But I feel there's something lacking about the characters. Rasanya agak diburu2in perkembangan cerita dan karakter nya, tau2 uda balikan aja.
Saya malas berkata. Mereka yang sudah membaca KALA harus membaca buku ini sebagai kelanjutan kisahnya. Saya terlalu terbawa cerita sampai sudah tidak bisa kritik apa yang kurang dan lebih. Intinya,buku ini menyediakan rasa nyaman membalikkan halaman hingga akhir.
Ini adalah sajak favorit saya. Sajak paling terakhir di halaman buku ini. Buku ini masih sama dengan KALA, yang berisi sajak serta prosa. Namun tentunya dengan banyak sekali perubahan yang baik. Seperti adanya jeda dan keterangan dari setiap percakapan antar tokoh dan percakapan melalui ponsel sehingga tidak membingungkan pembaca dalam membacanya. Walaupun masih banyak typo, namun saya sangat puas membaca novel ini karena sudah tidak ada grammar error lagi seperti pada buku KALA yang saya temukan (bikin gengges sih bacanya).
Alur ceritanya unik. Sebuah buku fiksi yang terinspirasi dari fiksi. Namun sangat memuaskan walaupun banyak gemasnya. Membaca buku ini dan buku KALA tentunya, membawa saya pada pemahaman-pemahaman yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Sehingga terasa seperti sedang diceramahi langsung oleh penulisnya.
Ending nya bikin mau garuk-garuk tembok saking gemasnya. Amor Fati sendiri adalah pemikiran dari Nietzsche yang artinya adalah cinta terhadap takdir. Setidaknya itulah yang disuguhkan dalam novel ini terkait bagaimana takdir dapat mempertemukan, memisahkan dan menyatukan kembali dua orang manusia.
Saya mungkin terlalu telat untuk membaca KALA dan AMOR FATI pada tahun 2020. Tapi saya harap tidak terlalu telat untuk mengapresiasi buku ini.
PS: saya beneran iseng cari coffee shop Kyotown Coffee sama Coffee and Drama di instagram dan ternyata beneran ada! Kyotown beneran ada di bandung sedangkan Coffee and Drama beneran ada di Jogja! Jadi pengen mampir 😂😂
"Pada sebuah kembali yang seutuhnya, ada sebuah penerimaan yang sepenuhnya."
Semua impian Saka perlahan terwujud. Namun, dia tidak menyangka akan benar-benar di pertemukan oleh Lara. Bahkan saat keadaan semua sudah berubah. Dimana tiap masing-masing sudah ada seseorang yang sedang didekati bisa dibilang PDKT. Mungkin.
Lantas bagaimana perasaan mereka yang sebenarnya. Saka dan Lara apa sungguh sudah berdamai?
Wagelaaaa. Itu kata yang aku lontarkan pas kelar baca novel ini. Eh nggak ding. Ditengah-tengah bahkan geleng-geleng kepala dan nganga karena novel ini bikin aku jatuh cinta.
Sebenarnya aku tuh bingung awalnya mau review apa. Iyalah bingung. Efek ceritanya bagus. Iyah bagus loh. Sini aku jabarin deh biar nggak pusing bacanya.
Gini lohhh guys, awalnya aku tuh bingung "ini novel atau buku sajak dan puisi?" Abisan duluuuu teman-teman reviewers isinya yah puisi atau bahkan bikin video gituh. Nah ternyataaa pas baca ini aseli novel tapian emang diselipin entah puisi, sajak atau aksara aku sendiri masih bingung bedainnya.
Dari segi cerita? Udah jelas beda dari yang lain. Secar novel ini kolaborasi dari dua orang yang berbed kepala pasti beda ide. Buat nyatuinnya? Nggak tau gimana sampe novel ini jadi dan keren.
Tokohnya?nggak usah ditanya deh. Feelnya dapet abis bahkan gemesin sampe greget mau unyel-unyel si Saka deh 😂😂
Ide cerita emang sederhana. Dimana tentang sebuah "luka dan belajar berdamai" tpiiii itu nggak sesederhana teori emang kan yaa klo praktek? Terlebih dari segi kata puitis abis bikin baper deh
Banyak pelajaran yang Kaka Inosa bisa ambil hikmahnya dari cerita ini. Nggak mulu soal cinta terhadap pasangan kok. Cinta yang lebih luas. Cinta keluarga, sahabat, bahkan orang disekitar.
Wahh aku udah panjang lebar toh. Sampe caption hampir maximal. Intinya novel ini keren dan ah sayang aku belum baca KALA jadi nggak tahu kenapa Saka dan Lara kayak gini huhu
"Pada jarak yang sempat tercipta, sebuah renung seharusnya berkuasa" Hal. 319 . Kisah pada novel Kala di tutup dengan akhir yang menurut saya sudah cukup,namun rupanya banyak dari pembaca yang masih berpikir ataupun merasa kisah Lara dan Saka harusnya masih berdentum,masih perlu berjalan.Kemunculan novel Amor Fati ini kemudian membuat saya merenung lalu berunding kembali dengan perasaan cukup itu sehingga hangat menjalari pikiran untuk kembali mengikuti kisah Saka dan Lara. * ↕ Bagian akhir dari novel amor fati ini, sejujurnya dapat memberi saya pemahaman baru mengenai pentingnya berproses dengan perasaan,pikiran, dan kehidupan masing-masing hingga kamu telah dinilai siap oleh semesta untuk bertemu dan menuntaskan permasalahan yang melibatkan orang lain.
↕ Secara pribadi saya menganggap Amor Fati menjadi kolaborasi mas Iid dan kak Stefani Bella yang berhasil menyimpan makna yang indah di dalam alur ceritanya sebelum kemudian pecah juga membuat saya merenung (atau menghayal?) sampai pukul 3 dinihari😅
↕ Kesyukuran yang lain saat membaca amor fati ini selain karena merasakan tokoh yang semakin bertumbuh juga puisi yang sedikit berkurang.Saya menduga kehadiran puisi dalam novel sebelumnya yang cukup banyak bertujuan memberi semacam penjelasan kepada pembaca namun saya pribadi justru merasa alur cerita dalam novelnya sudah cukup mendeskripkan mengenai Saka dan Lara.
↕ Pada novel amor fati ini dan juga di novel kala, bagian yang menggambarkan tokoh Saka menjadi favorit saya.Selalu seperti itu😁
↕ Kehadiran tokoh lainnya dalam novel Amor Fati ini menurut saya terasa pas porsinya dan membantu kedua tokoh utama dari novel ini menemukan banyak pemikiran baru juga membantu kedua karakter ini menyelesaikan bagian yang mungkin dianggap belum selesai
"Pada sebuah kembali yang seutuhnya. Ada sebuah penerimaan yang sepenuhnya."
Membaca novel Amor fati rasanya seperti ada euforia tersendiri bagiku. Kalau Saka & Lara berhasil dipermainkan oleh semesta. Kalau aku berhasil terbawa suasana. Gemas dengan keduanya yang tak saling menurunkan ego dan merasa bahwa dialah yang sudah tersakiti. Padahal mereka sama-sama saling melukai.
Jujur aku suka dengan sosok Saka, tentang bagaimana dia yang semula nggak punya mimpi, sampai dimana dia memiliki mimpi. Dan bagaimana dia menyikapi tentang apa itu pemahaman baru dalam hidupnya.
Masih dengan diksi yang indah, dan mampu memikat pembaca dengan dua sudut pandang yaitu Saka & Lara. Membaca novel ini nggak akan ada yang namanya konsfirasi hati wkwkkk. Hmm aku nggak nyesel ngikutin kisah Saka & Lara. Bukan hanya Saka & Lara saja yang gagal move on, ternyata aku juga :)
Overall novel ini cocok untuk kalian yang hidupnya di lungkupi o9leh kemelut masa lalu alias gagal move on. So tunggu apalagi yuk baca novelnya.
🍂Amor Fati🍂 Kita adalah sepasang salah yang menolak pasrah 🎡Stefani Bella (@hujan_mimpi ) 🎡Syahid Muhammad (@iidmhd 436 halaman
Lanjutan kisah dari buku Kala. Tentang Saka dan Lara. Dua orang yang terlanjur penuh oleh duka dan luka, tetapi menolak untuk saling lupa. Apalagi saling berhenti berusaha.
Buku kedua ini berbeda dari buku sebelumnya. Kalau buku pertama itu seperti senandika panjang. Puisi-puisi puitis yang disusun dalam paragraf membentuk alur kisah. Buku ini lebih ke novel. Alur kisahnya mudah dibaca. Rentetan kejadiannya mudah untuk dipahami, tanpa harus mengerutkan dahi.
Kisahnya manis. Kali ini tanpa banyak bumbu-bumbu lucu. Serius. Dan masih lumayan pekat dengan kesedihan. Tapi, cerita ini jauh dari kata picisan.
Tokoh Saka dan Lara di buku ini juga jauh lebih jelas. Karakternya semakin kuat karena kalimat-kalimat dialog yang mewakili mereka.
Salah satu puisi yang membekas adalah puisi "Di sepertiga malam". Entah kenapa aku merasakan ruh dalam tulisan itu. Ruh yang juga mewakiliku.
Ini akan subjektif bgt. Tapi aku terganggu dan gk suka dgn narasi yg dibangun perihal hubungan dgn lebih satu lawan jenis di novel ini.
Kenapa Saka yg awalnya cm chatingan sama Ana dinarasikan sbg playboy, jerk, buaya dsb. Sedangkan di sisi lain ada Lara yg jauh lebih “lacur” yg ngasih harapan palsu ke Rio, di sini malah kyk dinormalisasi dgn alasan si Lara gk peka, dgn alasan dia gk mau kegeeran & cm gk mau nolak kebaikan Rio. Dih, apaan dah, lacur mah lacur aja buk! Gak usah sok nyuci tangan. Meskipun ini relate dgn kejadian nyata dan ada bbrp perempuan yg kyk gini, tapi aku gk suka aja.
Kalau dari sudut pandang objektif, Ana baper ke Saka itu masih bisa dibilang karena dia yg baperan. Tapi ini Rio ke Lara udah sampai kencan bbrp kali loh. #KasianRio
Tapi untuk lain2nya, bagus2 aja kok, meski entah kenapa aku ttp gk bisa ngasih nilai sama dgn Kala. Mungkin karena sejak awal Amor Fati ini gk direncanain dan cm jadi proyek aji mumpung, makanya aku gk seterikat waktu baca Kala dulu. Soulnya beda aja.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Well the ending was unpredictable. Very classic but really twist. Kurang suka dengan bagaimana para penulis menuangkan seluruh pikiran mereka dalam tulisan ini. I mean they are tried to be santai but puitis at the same time jadinya kaya agak conflicted gitu bacanya “ini gua kudu chill atau nyesek nih bacanya” kurleb seperti itu.
Dari segi pov nya mungkin agak bikin pusing karna kayak tbtb kita dibawa flashback sekian hari tapi gaada warningnya. Minimal dibikin kek beda chapter gt ga sih? Krna jadi mikir “lah perasaan tadi posisinya ga disini” gitulohh. Ga yg sesulit itu untuk dipahami but kinda exhausting ajah
But so far so good, i can enjoy it. Good luck bang syahid dan ka stefani!
untuk pembaca yang menyukai prosa pasti terbuai oleh semua kalimat prosa yang diuntai satu demi satu oleh kedua penulis. sederhana, tapi ngena. narasinya pun gak ditulis dalam bahasa yang berbelit, walau ada beberapa kosakata yang sekiranya jarang didengar. namun, ya hitung-hitung nambah kosakata baru. sejujurnya, menurut saya sendiri di awal-awal agak membosankan. namun, sepertinya alur cerita yang lambat itu diperlukan untuk penguatan karakternya masing-masing, karena saya tidak membaca buku yang sebelumnya. over all buku ini memuaskan ❤
Kisah yang sangat nyata. Aku merasa sedang diceritakan suatu kisah romansa, alih-alih membaca buku. Setiap untaian katanya begitu indah, dengan pemilihan diksi yang menggugah. Aku terperangah membacanya. Hebat betul Bang Iid dan Mba Bella ini. Kalian pasti penasaran dengan endingnya, tapi coba dengarkan kataku ini, proses, alur dan percakapan dibuku ini jauh lebih hebat dibanding sekadar menebak akhirnya. Nikmatilah keindahan ini wahai para pembaca yang budiman.
Amor fati merupakan sekuel dari buku sebelumnya Kala. buku ini masih menceritakan tentang saka dan lara bagaimana semesta selalu punya cara mempertemukan mereka. cara semesta yang tak terduga membuat perjalanan mereka selalu bersinggungan. tentang bagaimana melihat penerimaan dari dua sudut pandang yang berbeda bagi mereka yang ditinggalkan dan mereka yang meninggalkan, bahwa akan selalu ada alasan yang harus saling dipahami dan diterima
Dari awal baca KALA sudah merasa bahwa kisah ini bakalan beda dari yang lain. Simple tapi ngena pesannya. Langsung. Diksinya juga bagus. Bagi para pecinta prosa dan senandika, buku ini sangat cocok untuk dibaca. Akhir cerita sama sekali tidak bisa tertebak. Selalu diberi kejutan-kejutan tak terduga di buku ini.
Gw udah beli bukunya semuanya, dari kala bikin gw bosen, dari sudut pandang dua orang, tp malah mencettkan yang sudah diceritakan. Lalu amor fati , gak ada specialnya, alurnya flat, gak ada bikin pensaran, ceritanya kurang kuat. Not really recomended, seriuosly.!!!
Lebih suka Amor Fati daripada Kala walaupun sebenarnya sebuah sequel cerita tapi di Amor Fati perasaan lebih campur aduk banyak tebakan-tebakan yang tidak sesuai dan berhasil membuat senyum-senyum sendiri.
This book got my all attention. The setting of this book is in my favourite place; Yogyakarta. Kota kenangan memang dan sedikit subjective. But overall, ini adalah buku yang buat saya ingin belajar menulis. Untuk yang masih terbelenggu dengan masa lalu, buku ini pas bangeeeettt buat nemenin kamu.
I am so sorry but this is a somewhat confusing sequel? I expected a closure or some sorts from Saka and Lara and yet all it was is the story about a new character in between and it is still unclear about Saka and Lara? Yeah
aku suka sama pola pikir kedua penulis disini, apalagi tentang sudut pandangnya. buat yang belajar relationship ini bagus gitu sih. cuma mungkin emang bukan gaya bahasa yang bisa aku nikmati, jadi kaya agak kurang gitu sihhhh. segitu aja bisa nilainya. kalo bisa nilai mah 3,5 kokk