What do you think?
Rate this book


218 pages, Paperback
First published June 1, 2008
Pemenang Desember 2008
Juri: Ronny Agustinus, Amang, Ninus
Alasan para juri:
Ronny - Banyak pengulas mengatakan kualitas cerpen2 Wulan masih naik turun, namun tidak menunjukkan apa alasannya dan di mana naik turunnya. Namun ulasan Windry menganalisa hal itu dg membedakan antara cerpen2 Wulan th 2005 dan sesudahnya. Tiap2 periode tersebut ditunjukkan kelebihan2nya. 2005: tema cerita yang sangat kuat namun bahasa yang tidak semua orang bisa paham. 2006 dst: bahasa yang lebih "ramah pembaca" namun tema-temanya lebih keseharian.
Ninus - Bingung milih antara Amang, Vera, atau Windry. Ulasan Mbak Vera dan Windry ngasih banyak informasi tentang segi-segi yg menarik (dan penting) dalam penulisan fiksi. Sementara yg Amang punya lebih singkat tp penyampaiannya menarik. Tapi setelah kupikir2 lagi aku pilih Windry aja, soalnya paling fokus
Amang - Beda dengan Ronny dan Ninus, aku pilih reviewnya Vera Damiri. Meskipun ada kritik yang begitu panjang tentang latar budaya, bahasa lokal, dan benang merah yang melulu sama, Vera tetapi bisa obyektif memberi penilaian secara utuh. Kutipan kalimat "Secara keseluruhan, buku ini bisa mengajak kita bertenggang rasa. Betapa beragamnya pilihan dalam hidup manusia dan tiap-tiapnya punya rahasia yang tak akan diketahui kalau tak dialami" yang membuat reviewnya aku pilih.
***
(2.5)
Cari Aku di Canti merupakan kumpulan cerpen milik Wulan, salah satu teman baru yang saya temui di Bengkel Novel DKJ. Kami biasa menyebut Wulan sebagai Si Jenius yang Tidak Pernah Mengerjakan PR (Wulan sedang mengurus skripsi pada waktu itu). Saya juga tidak mengerjakan PR tapi itu karena saya malas dan bukannya jenius. Buku ini merangkum karya-karya Wulan yang ditulis sejak 2005 sampai 2007, terdiri dari beberapa cerpen yang memenangkan berbagai sayembara (bravo, Wulan). Pada buku-buku serupa, Bibir Dalam Pispot misalnya, cerpen-cerpen yang termuat akan memperlihatkan suatu perjalanan, terkadang pencarian. Itulah yang terbaca juga dari buku Wulan ini.
Ada perbedaan yang cukup mencolok antara cerpen-cerpen awal Wulan (2005) dan cerpen-cerpen baru (akhir 2006 dan 2007). Cerpen-cerpen awal Wulan padat muatan lokalitas dan tema perempuan. Wulan konsisten menggunakan begitu banyak istilah daerah dalam cerpen-cerpen yang mengangkat isu adat. Gaya bahasa yang ia gunakan cenderung puitis, ramai metafor dan kosa kata tidak biasa. Wulan sangat suka menggunakan sudut pandang orang pertama, tetapi justru inilah yang kemudian mengganggu saya karena antara satu cerita dengan cerita lain sulit dibedakan. Suara narator sama, apakah dia laki-laki atau perempuan, dan apapun karakternya, sehingga saya mudah bosan. wulan juga lebih banyak menggunakan dialog dan melakukan banyak perpindahan adegan dengan cepat dan terkadang tidak cukup halus, sehingga membingungkan pembaca (saya). Cerpen-cerpen Wulan pada masa ini saya nilai kaya dalam segi tema (sungguh, menarik sekali apa yang dia angkat dalam cerpen Perempuan Nokturia), namun tidak ramah kepada pembaca.
Justru cerpen-cerpen Wulan selanjutnya (yang agak-agaknya tidak diikutsertakan dalam sayembara manapun), jauh lebih nyaman dibaca. Pembaca bisa mengikuti jalan cerita dan memahami situasi dengan lebih mudah, sehingga pembaca cenderung lebih dekat dengan cerpen-cerpen tersebut. Dalam cerpen-cerpen ini, Wulan mengurangi gaya puitisnya (menjadi jauh lebih modern) dan tidak terlalu genit lagi memakai istilah daerah. Tema cerpen-cerpen tersebut tidak sebesar tema-tema pertama, Wulan banyak mengambil hal-hal sepele dan keseharian yang tampaknya lebih dekat dengan kehidupannya (cerpen Meja Gembol), dan entah kenapa menjadi begitu biasa, flat, tidak memikat.
Sedikit catatan untuk Editor buku ini, beberapa kata dan kalimat perlu ditinjau ulang agar cerpen-cerpen Wulan bisa semakin cantik.