Jump to ratings and reviews
Rate this book

Cari Aku di Canti

Rate this book

218 pages, Paperback

First published June 1, 2008

6 people are currently reading
67 people want to read

About the author

Wa Ode Wulan Ratna

6 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
11 (11%)
4 stars
28 (29%)
3 stars
44 (46%)
2 stars
10 (10%)
1 star
2 (2%)
Displaying 1 - 21 of 21 reviews
Profile Image for Bunga Mawar.
1,358 reviews43 followers
January 1, 2009
Akhirnya ada ide juga menyelesaikan review untuk buku yang selesai saya baca tanggal 9 Desember ini. Senin sore (29/12) saya baru sempat baca cerpen Kompas, judulnya "Liang Harimau". Pengarangnya Gus Tf Sakai. Iya, bang Gustafrizal, bukan Wa Ode Wulan Ratna.

Lalu?

Lalu, Gus tf Sakai merupakan salah seorang penulis yang bisa membuat saya iri. Cerpen, novelet serta novelnya begitu kental dengan nuansa lokal "daerah". Eh, tapi nggak tahu ya kalau novel remaja yang dulu ditulisnya tahun 90-an. Segitiga Patah Kaki atau apa itu judulnya, saya belum pernah baca. Dia termasuk barisan pengarang novel remaja Gramedia masa itu bersama Hilman Hariwijaya, Zara Zettira, Arini Suryokusumo, Bahrudin Supardi, dll. Huaaa... melantur. Setelah tak remaja lagi Gus tetap mengarang, cukup produktif, dan karya-karyanya punya latar masyarakat yang bukan kota besar (kalau tidak mau disebut "tradisional"). Bukan latar sekedar tempelan, tapi latar yang kuat. Ada gambar keseharian masyarakat. Ada nilai tradisi yang tidak bisa hilang. Ada kegamangan penganut adat menghadapi perkembangan masa. Dalam bahasa Pak Dosen Nanto, cerita-ceritanya begitu ngantrop.

Setiap membaca cerita Gus tf, saya iri tidak kepalang, merasa begitu malang menjadi warga Jakarta sejak lahir. Dalam pandangan saya, Jakarta dan kota besar lain sudah terlalu banyak diekspos, diangkat, dibanting, dipijak-pijak, hingga semua cantik dan lukanya bisa dilihat siapa saja. Tidak lagi menarik untuk jadi bahan tulisan. Dijadikan skrip sinetron saja sampai bikin muntah.

Beda dengan cerita dengan latar kedaerahan. Indonesia begitu kaya, tak hanya Jakarta atau cerita "Cinta Fitri". Dari karya penulis yang memang berasal dari "daerah" macam Marah Roesli dan pujangga-pujangga lain zaman kumpeni, lalu Umar Kayam, Kuntowijoyo, kemudian Gus tf, Korrie Layun Rampan, dan sekarang juga -uhuk...!- Andrea Hirata, kita bisa melihat bagaimana kehidupan masyarakat yang bukan kehidupan kita sehari-hari. "Kehidupan sehari-hari" di sini subyektif ya, pandangan saya sebagai orang Jakarta separo Jawa separonya lagi Betawi campur Cina campur Aceh campur Minang (*genealogi ngasal*) . Tiap masyarakat ternyata punya ciri khas masing-masing, dan sangat menyenangkan jika kita bisa mengenalnya lebih dekat. Walau sedikit-sedikit.

Dan di sini beruntungnya kita berkenalan dengan (akhirnya!) Wulan Ratna dan bukunya, Cari Aku di Canti. Dia ini anak muda kelahiran Jakarta, tapi sudah bikin saya iri juga. Sebabnya karena nampaknya dia rajin sekali menggali literatur demi mencari peri-kehidupan masyarakat di berbagai daerah. Buku ini berisi 12 cerita, setting-nya dari Riau, Lampung, sampai Makassar dan Papua. Tentang masyarakat kota juga ada kok, jangan takut :) Benang merah yang menghubungkan 12 cerita ini adalah pertentangan nilai, ah ya, atau bahasa lainnya konflik dalam masyarakat. Misalnya antara anak dan orangtua dalam "La Runduma" dan "Bula Malino", antara rakyat dan oknum penguasa dalam "Bulan Gendut di Tepi Gangsal" dan "Peluru-Peluru", duri persahabatan dalam "Batavus", perbedaan atau malah konflik batin dalam "Corvifollus". Lagi-lagi bukan konflik sembarang konflik, tapi masing-masing punya latar belakang yang jelas.

Hal menarik, benang merah juga menjalin buah yang hampir sama dari tiap cerita: kasih tak sampai. Di banyak cerita lain, kasih tak sampai terjadi karena beda budaya. Di buku ini, kegagalan cinta justru akibat persamaan budaya. Dalam budaya yang sama, Buton misalnya, La Sinuru yang batua (keturunan budak) tidak bisa bersatu dengan Harima, perempuan kaomu atau bangsawan. Fras juga tersiksa atas cintanya pada Nara yang merupakan istri adiknya. Belum lagi pengkhianatan cinta Marlinah pada Hermanu, ia tergoda kehidupan mapan yang ditawarkan Marsaman karena sadar cinta Hermanu terbatas hanya cukup untuk membelikan sepeda Batavus sebagai mas kawin. Mungkin pengaruh usia Wulan yang relatif muda, hal romantis yang menantang adalah perjuangan cinta yang tak langsung memperoleh restu. Mungkin lagi, nggak ada serunya kalau asmara anak muda hanya tidak disetujui orangtua. Tambah perbedaan kelas sosial sekalian, juga kemuskilan mendobrak tradisi kuno yang masih saja punya pengikut.

Secara keseluruhan, buku ini bisa mengajak kita bertenggang rasa. Betapa beragamnya pilihan dalam hidup manusia dan tiap-tiapnya punya rahasia yang tak akan diketahui kalau tak dialami. Setting-nya di satu sisi terasa asing tapi di sisi lain sayang kalau tak diikuti. Anggap saja jalan-jalan keliling Nusantara. Sayangnya saya tidak cocok dengan gaya tulisan Wulan. Berat ni, saya terbata-bata mengejar puitisasi kata-katanya. Kalau ada yang bilang gaya ini mirip gaya HTR rasanya benar juga. Satu cerita, "Kembang Sri Gading" saya lepas, saya biarkan bermain sendiri karena saya tidak bisa menangkap inti ceritanya. Buat warga Jakarta kontemporer macam saya, cerita seperti "Batavus" dan "Meja Gembol" terasa lebih nyaman. Saya juga sedikit terganggu dengan penggambaran Hans dalam "Catatan Harian Hans Mandosir". Idenya memang bagus, ada anak pedalaman yang terkena virus belajar namun kondisi serba terbatas di kampungnya tidak mendukung. Namun pilihan kata-kata Hans rasanya terlalu tinggi untuk seorang anak SD pedalaman Irian. Isu suratnya kepada Bapak Menteri juga agak-agak mustahil dikarang sendiri oleh si kecil Hans. Tapi ya, sudahlah. Faktanya pendidikan di Indonesia masih belum bisa menyentuh semua kalangan, kok.

Udah, ah. Salah satu resolusi saya tahun ini jangan terlalu banyak mencari kelemahan tulisan orang daripada kelebihannya sebelum saya sendiri bisa membuat karya yang diterima banyak orang. Jadi, mari berterimakasih kepada Wulan (dan Gus tf) untuk mengenalkan kita pada keragaman budaya bangsa.
Profile Image for Windry.
Author 12 books824 followers
January 12, 2009




Pemenang Desember 2008

Juri: Ronny Agustinus, Amang, Ninus


Alasan para juri:


Ronny - Banyak pengulas mengatakan kualitas cerpen2 Wulan masih naik turun, namun tidak menunjukkan apa alasannya dan di mana naik turunnya. Namun ulasan Windry menganalisa hal itu dg membedakan antara cerpen2 Wulan th 2005 dan sesudahnya. Tiap2 periode tersebut ditunjukkan kelebihan2nya. 2005: tema cerita yang sangat kuat namun bahasa yang tidak semua orang bisa paham. 2006 dst: bahasa yang lebih "ramah pembaca" namun tema-temanya lebih keseharian.


Ninus - Bingung milih antara Amang, Vera, atau Windry. Ulasan Mbak Vera dan Windry ngasih banyak informasi tentang segi-segi yg menarik (dan penting) dalam penulisan fiksi. Sementara yg Amang punya lebih singkat tp penyampaiannya menarik. Tapi setelah kupikir2 lagi aku pilih Windry aja, soalnya paling fokus


Amang - Beda dengan Ronny dan Ninus, aku pilih reviewnya Vera Damiri. Meskipun ada kritik yang begitu panjang tentang latar budaya, bahasa lokal, dan benang merah yang melulu sama, Vera tetapi bisa obyektif memberi penilaian secara utuh. Kutipan kalimat "Secara keseluruhan, buku ini bisa mengajak kita bertenggang rasa. Betapa beragamnya pilihan dalam hidup manusia dan tiap-tiapnya punya rahasia yang tak akan diketahui kalau tak dialami" yang membuat reviewnya aku pilih.


***




(2.5)

Cari Aku di Canti merupakan kumpulan cerpen milik Wulan, salah satu teman baru yang saya temui di Bengkel Novel DKJ. Kami biasa menyebut Wulan sebagai Si Jenius yang Tidak Pernah Mengerjakan PR (Wulan sedang mengurus skripsi pada waktu itu). Saya juga tidak mengerjakan PR tapi itu karena saya malas dan bukannya jenius. Buku ini merangkum karya-karya Wulan yang ditulis sejak 2005 sampai 2007, terdiri dari beberapa cerpen yang memenangkan berbagai sayembara (bravo, Wulan). Pada buku-buku serupa, Bibir Dalam Pispot misalnya, cerpen-cerpen yang termuat akan memperlihatkan suatu perjalanan, terkadang pencarian. Itulah yang terbaca juga dari buku Wulan ini.

Ada perbedaan yang cukup mencolok antara cerpen-cerpen awal Wulan (2005) dan cerpen-cerpen baru (akhir 2006 dan 2007). Cerpen-cerpen awal Wulan padat muatan lokalitas dan tema perempuan. Wulan konsisten menggunakan begitu banyak istilah daerah dalam cerpen-cerpen yang mengangkat isu adat. Gaya bahasa yang ia gunakan cenderung puitis, ramai metafor dan kosa kata tidak biasa. Wulan sangat suka menggunakan sudut pandang orang pertama, tetapi justru inilah yang kemudian mengganggu saya karena antara satu cerita dengan cerita lain sulit dibedakan. Suara narator sama, apakah dia laki-laki atau perempuan, dan apapun karakternya, sehingga saya mudah bosan. wulan juga lebih banyak menggunakan dialog dan melakukan banyak perpindahan adegan dengan cepat dan terkadang tidak cukup halus, sehingga membingungkan pembaca (saya). Cerpen-cerpen Wulan pada masa ini saya nilai kaya dalam segi tema (sungguh, menarik sekali apa yang dia angkat dalam cerpen Perempuan Nokturia), namun tidak ramah kepada pembaca.

Justru cerpen-cerpen Wulan selanjutnya (yang agak-agaknya tidak diikutsertakan dalam sayembara manapun), jauh lebih nyaman dibaca. Pembaca bisa mengikuti jalan cerita dan memahami situasi dengan lebih mudah, sehingga pembaca cenderung lebih dekat dengan cerpen-cerpen tersebut. Dalam cerpen-cerpen ini, Wulan mengurangi gaya puitisnya (menjadi jauh lebih modern) dan tidak terlalu genit lagi memakai istilah daerah. Tema cerpen-cerpen tersebut tidak sebesar tema-tema pertama, Wulan banyak mengambil hal-hal sepele dan keseharian yang tampaknya lebih dekat dengan kehidupannya (cerpen Meja Gembol), dan entah kenapa menjadi begitu biasa, flat, tidak memikat.

Sedikit catatan untuk Editor buku ini, beberapa kata dan kalimat perlu ditinjau ulang agar cerpen-cerpen Wulan bisa semakin cantik.

Profile Image for Jimmy.
155 reviews
May 11, 2009
Hmmm....saya selalu membawa buku ini dalam tas ketika keluar rumah, dengan harapan bisa jadi teman perjalanan. Setelah membaca beberapa judul cerpen, kok saya merasa ribet dengan kalimat-kalimat indah yang saya temukan. Maaf, tapi buat saya terlalu indah untuk dimengerti. Saya seolah-olah membaca puisi berbentuk cerpen.

Bagaimana pun, apa yang sudah dimulai harus diselesaikan.

Cari aku di Canti...
Baiklah, aku akan coba...

Cari aku di Canti...
Baiklah, aku mulai...

Cari aku di Canti...
Wow, bahasamu indah sekali...

Terima kasih, cari aku di Canti...
Tapi, terlalu indah untuk aku mengerti...

Cari aku di Canti...
Tidak...aku pusing!!!


Profile Image for Sylvia.
Author 10 books72 followers
December 16, 2008
"Telah kuhapus jejak-jejak cinta
pada pasir sebab ombak
dalam hatiku lebih gemuruh
dari pada rindu"

Kata-kata yang tertulis di cover ternyata banyak menggambarkan isi kumpulan cerpen di buku ini. Awalnya saya sedikit kesulitan membaca buku dengan gaya bahasa sastra yang tinggi ini, membuat saya teringat kembali ketika mencoba (ingat ya, mencoba, bukan berarti sudah) membaca buku karangan Shakespeare. Dan hasilnya? Ya gitu deh.

Anyway, balik ke kumpulan cerpen ini. Kisah-kisah yang diangkat berkisar seputar kejadian yang jarang ditengok penulis, seperti misalnya penebangan liar, pembakaran hutan, pendidikan, juga dana untuk veteran yang semua digambarkan dengan begitu indahnya dan kata-kata yang terjalin begitu cerdasnya mengalir. Ending yang ditawarkan tidak bahagia, sehingga saya tidak bisa menarik nafas plong setiap habis membaca cerpen di buku ini.

Tapi saya suka.
Profile Image for Helvy.
Author 72 books948 followers
November 9, 2008

Favorit saya untuk Khatulistiwa Literary Award, kategori penulis muda.
Profile Image for Rahman.
169 reviews22 followers
January 26, 2024
Aku setuju dengan review yang menyebutkan bahwa kepuitisan diksi pada tiap cerpen membuat penceritaan tersendat-sendat. Aku sejujurnya lumayan menyukai diksi indah, tapi pada cerpen-cerpen di buku ini aku merasa hal itu terasa sangat dipaksakan, penulis terkesan berusaha terlalu keras menggunakan diksi yang tidak biasa dalam gramatika yang melompat-lompat. Hasilnya? Aku tak menikmatinya sama sekali. Aku sangat menjunjung gaya bercerita yang nyaman dan tidak neko-neko, karena hal lain yang harus jadi perhatian lebih adalah ceritanya itu sendiri. Nah, bagaimana jadinya cerita yang sangat predictable diceritakan dalam diksi-diksi yang memusingkan dan deskripsi yang melompat-lompat?

Memang ada beberapa cerita dengan gaya yang lebih sederhana. Itu ditemukan pada cerpen-cerpen yang ditulis setelah tahun 2005. Tapi tetap saja, dengan tema yang mirip-mirip satu sama lain, tak membuat keseluruhan kumcer ini jadi spesial (setidaknya bagiku)

Tapi ada beberapa cerpen yang kusuka:
- Cari Aku di Canti
- Perempuan Nokturia
2 reviews1 follower
July 4, 2012
Wa Ode Wulan Ratna, saya kenal melalui jejaring sosial dunia maya, perempuan kelahiran 23 Agustus dengan ciri khas sikap eksplosifnya ini, adalah perempuan muda berbakat mengekspresikan segala aktivitas kesehariannya secara "terbuka". Cari Aku di Canti, terlambat saya dapatkan bukunya karena sudah habis dan tidak ada di toko buku yang singgahi. Kumpulan cerpen Cari Aku di Canti ini terdiri dari 12 cerpen yaitu La Runduma, Cari aku di Canti, Bula Malino, Bulan Gendut di tepi Gangsal, Perempuan Nokturia, Catatan Harian Hans Mandosir, Kembang Sri Gading, Corfivollus, Meja Gembol, Kering, Peluru-peluru, dan Batavus. Judul kumcer 'cari aku di Canti' merupakan judul salah satu cerpen yang menurutku kurang menarik tapi judulnya cukup catchy. Secara keseluruhan saya suka dengan kumcer ini.

Cerpen-cerpennya mengangkat tema lokal yang menarik untuk dibaca. Pembaca akan diseret untuk mengenal lebih jauh lingkungan terdekat yang sehari-hari kita geluti. Kedekatan dengan lingkungan, pemahaman atas budaya yang membesarkan kita, pengetahuan memadai tentang detil yang memagari budaya itu sehingga mampu menerbitkan kecintaan kepada budaya lokal. Sesuatu yang kini makin jarang diminati lantaran belajar kebudayaan lokal alias budaya sendiri, budaya orang tua dan leluhur kita, bagai berada di tubir labirin gelap. Meski beberapa penulis cerpen masih setia pada pilihannya mempertahankan budaya lokal, nampaknya pilihan untuk setia pada budaya lokal tetap kalah dibanding kecintaan terhadap budaya serapan yang ngepop. Di sinilah kekuatan Wulan bertutur melalui cerpennya.

Selamat dan teruslah berkarya, Wulan.
Profile Image for Azia.
243 reviews11 followers
February 27, 2012
Kumpulan cerpen ini terdiri dari 12 cerpen yaitu La Runduma, Cari aku di Canti, Bula Malino, Bulan Gendut di tepi Gangsal, Perempuan Nokturia, Catatan Harian Hans Mandosir, Kembang Sri Gading, Corfivollus, Meja Gembol, Kering, Peluru-peluru, dan Batavus. Judul kumcer 'cari aku di Canti' merupakan judul salah satu cerpen yang menurutku kurang menarik tapi judulnya cukup catchy. Secara keseluruhan saya suka dengan kumcer ini. Cerpen-cerpennya mengangkat tema lokal yang menarik untuk dibaca.

Cerpen yang paling saya suka yaitu catatan harian hans mandosir. Kisah seorang anak papua dari raja ampat yang suka menulis. Hans berhenti sekolah selain karena keterbatasan ekonomi juga perihal gurunya yang jarang datang karena kendaraan yang sulit. Surat yang ditujukan kepada Bapak Mentri sungguh mengharukan. Ada lagi kisah veteran perang di cerpen 'Peluru-peluru' yang terbiasa makan arang. Di masa tuanya yang pelik,Pak Wadiman berhak mendapat bantuan tunai dari pemerintah. Namun untuk mendapatkan bantuan,ia perlu membayar uang administrasi. Saat pembagian bantuan terjadi kericuhan di kantor kelurahan karena warga berdesakan dan saling dorong.

Profile Image for Arinamidalem.
106 reviews7 followers
December 9, 2008
Alasan awal beli buku ini karna covernya menarik, gambar perempuan dan laki-laki tapi terasa ada yang aneh karna ada yang terpisah..oleh sesuatu..sepintas terlihat seperti dalam satu pigura – semestinya sih begitu – tapi tidak. Jadi bertanya-tanya….
Ditambah lagi untaian puisi…

Telah kuhapus jejak-jejak cinta
Pada pasir sebab ombak
Dalam hatiku lebih gemuruh
Dari pada rindu
….artinya?.... *abaikan saja pertanyaan gak penting ini, maaf*


INDAH
Itu kesan pertama yang saya dapat.
Kata-kata yang tak biasa …namun tidak juga buat sungkan.. justru mengalir .. terus.. lembar demi lembar .. hingga terlintas dalam benak.. “adakah terkait cover tadi dengan kisah-kisah dalam cerpen-cerpen ini.?” ...La Runduma, Bula Malino, Perempuan Nokturia.
Dan…
Jadi percaya kata teman, bahasa Indonesia lebih puitis ketimbang bahasa Inggris, karena bahasa Indonesia itu...INDAH!
yah bahasa Indonesia plus sanak familynya lah.. ;p

Salam.
Profile Image for miaaa.
482 reviews421 followers
December 22, 2008
Wonderful short stories. As a woman, I can identify myself in every stories she wrote.

***

Cerita-cerita pendek yang menawan. Setiap cerita membawa suara dari pelosok negeri, tempat dan budaya yang mungkin belum pernah aku dengar sebelumnya. La Runduma menghasilkan kejutan listrik, tapi bagiku bahkan saat menuliskan review ini pun, cengkeraman Perempuan Nokturia masih terasa. Kisah bumi dan perempuan yang mencintai bumi itu dari mata seorang laki-laki. Hebat!


".. Sungguh perempuan itu tidak bersalah, bukanlah sebenarnya pencerahan datang lewatnya? Orang-orang sepanjang zaman dan sejarah belajar darinya tapi mereka selalu salah paham tentangnya. Padahal mereka juga meniru peradaban yang diciptakan manusia pertama itu. Peradaban tentang bagaimana caranya mereka harus menggumuli perempuan."
Kembang Sri Gading
Profile Image for an.
764 reviews22 followers
February 8, 2010
enak dibaca.....
dah ga tau mesti komen apaan. bahasa na enak, ending na enak. tipe" cerita dengan ending yg...
cara kasih ending yg rhe suka d.
walo berupa kump cerpen, tapi ketara benang halus penghubung dari tiap cerita yg ada d dalam na. cerita dari kisah" cinta yg ga kesampaian, naas.. tapi mang itulah realita kehidupan. ga selalu mulus. dengan bbagai cara pandang dan latar belakang sosial, budaya ma jenis kelamin yang ada.
salut buat penulis na yg.. ntah gimana (menurut rhe) bisa punya banyak literatur untuk menulis itu semua. banyak sumber dan.... ga da kata" lagi buat bilang klo tu kump cerita penuh ragam dan budaya...
Profile Image for Whisnu F. Afrianto.
67 reviews3 followers
May 18, 2011
Saya sepakat bahwa buku ini menyuguhkan mengenai narasi yang cantik. Setiap narasi yang dibuat memang menjadikan cerpen yang ditulis benar-benar cantik. Ketika semua tema tak lepas dari cinta yang dikhianati, cinta yang direbut paksa (pemerkosaan), penantian cinta, kepedihan kehilangan cinta, bla...bla cinta menjadi hidup. Cerita cinta memang sedikit ganjal tanpa sebuah narasi romantis, walau tak selalu harus cengeng. Kelembutan bahasa itu diramu dengan unsur ke daerahan yang kental, terdapat satir tentang lingkungan hidup juga pada beberapa cerita. Selebihnya ini roman yang menang Khatulistiwa Literaty Award( hadiahnya 100 juta kalau saya tidak salah). Hebat oi...
Profile Image for Yosi.
23 reviews10 followers
February 7, 2009
Hebat, itu komentar pertama saya setelah menyelesaikan buku ini. Menurut saya penulisnya benar-benar cerdas karena dia berhasil mengkombinasikan tekhnik bercerita yang indah dengan nuansa budaya kental dan kepedulian-kepedulian akan isu-isu sosial (terutama tentang perempuan, adat dan lingkungan hidup) dengan baik. Saya benar-benar menikmati dari cerpen awal hingga terakhir. Nuansa cerita yang cukup variatif membuat saya tidak bosan dengan parade cerpen yang ditampilkan buku ini. Tidak heran kalau buku ini masuk dalam nominasi KLA 2008.
Profile Image for Muhammad Rajab Al-mukarrom.
Author 1 book28 followers
November 1, 2012
ah, suka sekali membaca narasi-narasi cantik nan puitis dalam tiap cerpen Wa Ode Wulan Ratna ini.
cerpen-cerpannya juga sangat luar biasa.
gaya penulisan yang sangat mempesona, dan ceritanya pun unik, magis, menghipnotis kita untuk terus membaca.
tema-tema yang diangkat dalam setiap cerpennya beragam dan bagus.
saya salut!
tidak heran bahwa kumcer ini menjadi pemenang KLA 2008 untuk kategori penulis muda berbakat.
keren!

paling suka cerpen:
- La Runduma
- Cari Aku di Canti
- Perempuan Nokturia
- dan lainnya :p
Profile Image for Irwan.
Author 10 books122 followers
December 1, 2013
Aku suka tema-tema lingkungan yang diangkat. Prosanya cukup puitik. Teknik penceritaan terasa agak kurang mengalir, kadang tersendat oleh puitiknya kalimat atau tidak jelasnya siapa pencerita. Penggunaan istilah-istilah lokal atau tradisionalnya malah ikut membangun nuansa, tidak membuat tersendat seperti elemen dasar teknik penceritaan yang disebutkan sebelumnya.

Ingin membaca lebih banyak tema-tema lingkungan seperti penebangan hutan dari sudut pandang orang-orang daerah terkait seperti yang disajikan buku ini.
Profile Image for kinu triatmojo.
288 reviews3 followers
September 2, 2008
membacanya cepat-cepat seolah mencium bau Hamsad Rangkuti dan Sutardji *seandainya anda pernah membaca Hujan Menulis Ayam, mungkin anda juga merasakannya?* tapi ini adalah kumcer yang melebihi dugaan saya, yang tak mengenal jejak sang penulis sebelumnya. it's oke lho bibeh.
Profile Image for Ordinary Dahlia.
284 reviews
February 6, 2009
selesaaaaaai...*ngusap keringat*
Si pengarang sebegitu sukanya ma cerita getir keknya.
Bikin manyun nyun nyun nyun!
Profile Image for Lisa Febriyanti.
Author 1 book14 followers
December 25, 2008
suka banget gayanya Wa Ode. Settingnya kental dan menggunakan etnografi dalam penulisanya.
Displaying 1 - 21 of 21 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.