Albert Camus pernah berkata bahwa “seluruh karya Kafka menggoda pembaca untuk membaca lagi karya itu.” Karena penafsiran tentang Kafka berlimpah dan pencarian akan makna cerita-ceritanya tampak seperti tak berakhir, pembaca akan kembali ke cerita itu sendiri dengan harapan memperoleh panduan langsung dari dalam cerita.
Maka, pembacaan kedua diharapkan akan menjadi komentar atas pembacaan yang pertama, dan pembacaan selanjutnya diharapkan juga menerangi pembacaan sebelumnya. Tujuan dari buku ini adalah menyediakan akses cepat ke seluruh corpus cerita Kafka. Cerita-cerita inilah, dan bukan novel-novelnya, yang merupakan inti dari karya dalam hidup Kafka yang singkat.
Buku ini adalah himpunan fiksi pendek (atau fiksi mini) yang berasal dari koleksi literer yang dipilih oleh Max Brod untuk diterbitkan setelah kematian Kafka.
Franz Kafka was a German-speaking writer from Prague whose work became one of the foundations of modern literature, even though he published only a small part of his writing during his lifetime. Born into a middle-class Jewish family in Prague, then part of the Austro-Hungarian Empire, Kafka grew up amid German, Czech, and Jewish cultural influences that shaped his sense of displacement and linguistic precision. His difficult relationship with his authoritarian father left a lasting mark, fostering feelings of guilt, anxiety, and inadequacy that became central themes in his fiction and personal writings. Kafka studied law at the German University in Prague, earning a doctorate in 1906. He chose law for practical reasons rather than personal inclination, a compromise that troubled him throughout his life. After university, he worked for several insurance institutions, most notably the Workers Accident Insurance Institute for the Kingdom of Bohemia. His duties included assessing industrial accidents and drafting legal reports, work he carried out competently and responsibly. Nevertheless, Kafka regarded his professional life as an obstacle to his true vocation, and most of his writing was done at night or during periods of illness and leave. Kafka began publishing short prose pieces in his early adulthood, later collected in volumes such as Contemplation and A Country Doctor. These works attracted little attention at the time but already displayed the hallmarks of his mature style, including precise language, emotional restraint, and the application of calm logic to deeply unsettling situations. His major novels The Trial, The Castle, and Amerika were left unfinished and unpublished during his lifetime. They depict protagonists trapped within opaque systems of authority, facing accusations, rules, or hierarchies that remain unexplained and unreachable. Themes of alienation, guilt, bureaucracy, law, and punishment run throughout Kafka’s work. His characters often respond to absurd or terrifying circumstances with obedience or resignation, reflecting his own conflicted relationship with authority and obligation. Kafka’s prose avoids overt symbolism, yet his narratives function as powerful metaphors through structure, repetition, and tone. Ordinary environments gradually become nightmarish without losing their internal coherence. Kafka’s personal life was marked by emotional conflict, chronic self-doubt, and recurring illness. He formed intense but troubled romantic relationships, including engagements that he repeatedly broke off, fearing that marriage would interfere with his writing. His extensive correspondence and diaries reveal a relentless self-critic, deeply concerned with morality, spirituality, and the demands of artistic integrity. In his later years, Kafka’s health deteriorated due to tuberculosis, forcing him to withdraw from work and spend long periods in sanatoriums. Despite his illness, he continued writing when possible. He died young, leaving behind a large body of unpublished manuscripts. Before his death, he instructed his close friend Max Brod to destroy all of his remaining work. Brod ignored this request and instead edited and published Kafka’s novels, stories, and diaries, ensuring his posthumous reputation. The publication of Kafka’s work after his death established him as one of the most influential writers of the twentieth century. The term Kafkaesque entered common usage to describe situations marked by oppressive bureaucracy, absurd logic, and existential anxiety. His writing has been interpreted through existential, religious, psychological, and political perspectives, though Kafka himself resisted definitive meanings. His enduring power lies in his ability to articulate modern anxiety with clarity and restraint.
--perjumpaan kembali dengan bayang-bayang Kafkaesque--
Beberapa tahun lalu Franz Kafka berdiri di ambang pintu kegemaran membacaku. Ia mengulurkan tangan dari balik remang-remang dan, aku, sedikit ragu, menyambut tangannya. Tangan kami bersentuhan dan memercikkan ke udara kisah seorang lelaki bernama Josef K. yang ditangkap dan diadili karena sesuatu hal yang tidak ia ketahui, yang juga tak kuketahui sampai purna sentuhan tangan kami dan percikan cahaya kehitaman itu reda.
Kafka surut, meninggalkanku dalam kebingungan yang memagut kantuk. Yang kuketahui hanyalah bahwa Kafka menulis "The Trial" sebagai alegori opresi ayahnya yang tirani. Ajaibnya, ia semacam meramalkan pemerintahan dan birokrasi yang tirani itu benar terjadi kemudian.
Kini, aku hendak menagih penjelasan atas kebingungan yang ia tanamkan dalam telapak tanganku. Maka, kuraba-raba dalam kegelapan, dan aku menemukan percikan-percikan yang lebih tipis dari kisah-kisahnya yang lain, tapi tetap memiliki aroma Kafkaesque dan oedipus complex serupa dengan "The Trial". *** Ketidakberdayaan seseorang terhadap kekuasaan yang lebih tinggi, seperti dalam "The Trial", kali ini terbaca lagi, antara lain dalam cerita pendek berjudul "Poseidon". Kafka merekacipta kisah dewa laut Yunani itu, tapi dari sisi muramnya: bagaimana sebenarnya ia begitu lelah mengurusi segala macam urusan di laut, tapi tak berdaya untuk tak melakukannya, karena bagaimana pun, sedari awal ia telah ditunjuk menjadi dewa laut.
Tema serupa menggentayangi lebih gelap lagi dalam cerita berjudul "Ketukan di Gerbang Puri". (Hanya) Sebuah ketukan yang mungkin dibuat oleh adik perempuan si tokoh utama di gerbang sebuah puri membuat si tokoh utama dijebloskan ke penjara. *** --tentang kesendirian dan pintu serta jendela--
Bagaimana kesialan orang lajang menurut Kafka? Salah satunya adalah "harus mengagumi anak-anak orang lain dan bahkan tak diizinkan untuk kemudian mengatakan: 'Aku sendiri tak punya anak'" (hlm. 35). Fenomena ini mungkin sekali terjadi, misalnya dalam acara kumpul keluarga saat lebaran.
Bicara tentang lebaran, coba bayangkan bagaimana pedihnya mudik bagi seorang lajang yang sendirian. Ia hanya berdiri di depan pintu tanpa berani mengetuk.
"Aku telah tiba. Siapa yang akan menyambutku?" (hlm. 138, "Mudik")
Sementara itu, seorang lelaki lajang mengalami kesialan dalam "Penolakan". Seorang gadis yang ia ajak kencan hanya melintas tanpa menanggapi ajakannya, bahkan tanpa kata-kata penolakan--yang pada akhirnya hanya terjadi dalam fantasinya.
Dalam "Jendela Sepanjang Jalan", Kafka menuliskan bagaimana jendela bisa menyelamatkan seseorang yang sedang ditelan kesendirian. Dan entah bagaimana, bagi saya, gambar di sampul buku merepresentasikan fiksi mini ini.
Namun akan tiba waktunya saat bahkan "membuka jendela lebar-lebar dan menyimak musik yang masih bermain di kebun pun tak membantuku" (hlm. 20, "Jalan Pulang").
Ketika itu tiba, kau mungkin bisa pergi ke luar menemukan keramaian, atau melompat saja dari jendela. *** --TER-KAFKAESQUE--
"Tapi kaum Siren punya senjata yang lebih mematikan ketimbang senandung mereka, yaitu kesunyian." (hlm. 106, "Kesunyian Kaum Siren")
Aku meraba-raba dalam kegelapan dan bertemu kesunyian yang pekat. Kesendirian menelan di beberapa tempat, dan absurditas di tempat lain. Seperti tak punya tujuan dan hadir begitu saja dalam ceritanya. Berjalan ke luar dari kegelapan itu, aku menemukan diriku berbalik kembali. Alam Kafkaesque* yang depresif itu merupakan magnet bagiku. Kutemukan diriku menenggelamkan diri di dalam kegaduhan sunyinya dan benderang gelapnya. Kutenggelamkan diriku berkali-kali; seringkali yang kudapati berubah-ubah, seringkali aku tenggelam makin dalam atau tersangkut di lapisan-lapisannya. Namun aku tetap melakukannya lagi dan lagi. Tapi anehnya, pensil sang seniman yang dilihat oleh Josef K. dalam mimpinya tidak mempan menggores batu nisan dalam benakku. Ia menyentuh saja, coba menggores, tapi nihil, dan pensil itu melayang ke udara lalu hilang.
*Kafkaesque: karakteristik dari karya-karya Kafka yang terasa riil tapi sureal, tidak masuk akal, absurd, opresif; seperti mimpi buruk. ***
Di beberapa bagian terjemahannya terasa kurang enak dinikmati dan dipahami. Aku juga mencemaskan seberapa besar sudut paralaks makna yang terjadi karena buku ini diterjemahkan dari bahasa Inggris, tidak langsung dari bahasa Jerman.
Misalnya, dalam "Pembunuhan Saudara" di adegan terakhir, sebelum Schmar ditangkap oleh polisi, tertulis seperti ini di hlm. 53 (yang di dalam kurung siku adalah catatan saya):
Pallas, yang tersedak karena obat dalam tubuhnya, [obat, memangnya Pallas habis minum obat apa?] berdiri di pintu ganda rumahnya yang terbuka. "Schmar! Schmar! Aku melihat semuanya, aku tak melewatkan apa pun!" Pallas dan Schmar saling menyelidiki [menyelidiki, kupikir ada yang kurang pas dengan pemilihan kata ini]. Hasilnya memuaskan Pallas, Schmar tak menyimpulkan apa pun. [nah, "menyimpulkan" ini kupikir juga kurang pas]
Mari, kita bandingkan dengan terjemahan cerpen yang sama dalam kumpulan cerpen "Seorang Dokter Desa" terbitan Oak, yang diterjemahkan langsung dari bahasa Jerman (dari hlm. 74):
Pallas, seolah sekujur badannya tercemar racun, berdiri di pintu rumahnya yang berdaun dua. "Schmar! Schmar! Aku melihat semuanya, dan tidak melewatkan apa pun." Pallas dan Schmar saling menatap satu sama lain. Itu membuat Pallas puas, namun Schmar tidak mengerti.
Nah, setelah membaca yang kedua, aku baru paham apa maksudnya.
Terlepas dari itu semua, fiksi-fiksi pendek (sekali) karya Kafka di dalam buku ini telah mengisapku setelah bertahun-tahun tak berjumpa dengan karya blio.
Ah iya, aku suka gambar kaver buku ini. Sosok lelaki yang berbaring sendirian dengan kepala terperam dalam rumah itu seperti menggambarkan kesendirian yang berusaha disangkal. Aku tidak tahu apakah dia tidur atau terjaga. Jika yang pertama, ia bisa saja menyangkal kesendirian lewat mimpi. Jika yang kedua, ia bisa saja menyangkal dengan berpura-pura memiliki jendela untuknya melihat ke luar.[ ]
Cerita yg multitafsir. Membuat kita ingin membacanya lagi dan lagi. Takkan habis makna untuk digali dari setiap cerita. Setiap pembacaan melahirkan makna baru. Dan Kafka menyelipkan humornya secara samar dalam beberapa cerita. Humor yg tidak membuat kita tertawa terbahak-bahak tapi mengerutkan dahi dan kemudian tersenyum simpul.
Buku setipis gini baru tamat hampir sebulan?! Aku yg setelah baca self improvement ingin baca buku ringan yg tipis2 aja, lha kok malah milih buku ini yg ternyata bikin tambah mumet..? 😅 Buku ini berisi tulisan fiksi mini karya Kafka yg dikurasi & diterbitkan setelah ia tiada. "Fiksi mini" di sini dalam artian yg sebenarnya, bukan pula cerpen. Satu judul tulisan paling panjang hanya 3-4 lembar, bahkan ada yg hanya 1/2 halaman. Tapi bacanya harus berulang2 supaya paham, itupun akhirnya jadi multitafsir, sebenarnya apa maksud dari cerita Kafka ini? Tapi anehnya, bikin ketagihan. Ada rasa penasaran, apa lagi ya yg dia tulis selanjutnya? Apa cerita berikutnya lebih mudah dipahami atau sama rumitnya? Apakah cerita berikutnya merupakan metafora atau implisit? Dan begitu seterusnya sampai akhirnya buku ini tamat. 😁
Di halaman awal saya sama sekali tidak paham dengan jalan cerita nya, tapi sampai di cerita Secarik Manuskrip Tua, mulai paham dengan isinya. Aku jadi ketagihan untuk membaca karya Franz Kafka karena isinya bisa dimaknai secara multi tafsir. mungkin aku cuma paham beberapa judul karena keterbatasan otakku, jika kalian suka karya Albert Camus mungkin kalian juga bakal suka dengan Franz Kafka sebab gaya penulisannya yang sama.
Ini beberapa judul yang aku suka
• Secarik Manuskrip Tua • Kesialan Orang Lajang • Kutukan Gerbang Puri • Prometheus • Ujian • Burung Bangkai • Fabel Kecil • Mudik • Berankat • Lupakan Saja
Karya Kafka memang tidak mudah untuk dinikmati, dari cerpen yg sama pun sekian kali dibaca, berbagai kesan pula yg didapatkan. Pendeknya cerpen (atau lebih baik disebut flash fictions) bisa jadi pedang bermata dua, saking pendeknya jadi bisa diulang membaca berkali-kali, atau saking pendek dan padatnya, apa yg mau diceritakan malah kurang tersampaikan pada pembaca.
Buku ketujuh RC 52 books in 52 weeks; a nameless narrator
Ceritanya banyak menggunakan narator yang pakai "aku", dan kadang ga jelas si aku ini siapa. katanya sih ini memang flash fiction bukan kumcer. Gw kurang bisa nikmatin terjemahannya, berasa lost in translation gitu. Jadinya ga paham ini cerita maksudnya apa sih. Atau mungkin gw aja yg dodol kali ya. Nanti re-read deh kalo ketemu terjemahan Inggrisnya. Ceritanya sendiri lumayan banyak, mulai dari yang ringan sampai yang berat. Tapi kebanyakan berkeluh kesah tanpa solusi. Ya, mungkin memang si Kafka ga bermaksud menyelesaikan semua ceritanya. Entahlah.
Ini cara awalku mengenal Kafka. Salah besar ketika kukira cerita ini akan mudah ku ikuti. Butuh lebih dari rasa penasaran, pemahaman, dan penafsiran untuk diri sendiri.
Membaca satu judul cerita fiksi di dalamnya saja, aku butuh lebih dari satu kali baca untuk paham. Judul favorite-ku adalah Advokat.
Saya suka judul yang dipilih. Namun, saya tak paham bagaimana cara editor dan penerjemah memilih cerpen yang hendak diterjemahkan ke dalam buku ini. Mungkin cuma kebetulan kalau cerpern-cerpen dalam buku ini banyak yang tidak saya sukai.
dari sekian banyak fiksi mini, cuma ada beberapa tulisan yang masuk ke otak. sisanya? seperti deskripsi di sampul belakang, ini bukan buku yang cukup dibaca satu kali.