Eric Pieters: Lajang, pemilik kafe, tampan, menawan. Elle Rashita: Telah bertunangan, guru sekolah dasar, manis, sederhana.
Mereka selalu bertemu tanpa disengaja. Elle, wanita yang ditemukan Eric dalam keadaan mabuk dan meracau di kafe miliknya, ternyata wali kelas Devon, keponakannnya. Pengkhianatan yang dirasakan Elle membuatnya terlihat sangat menyedihkan saat itu. Tapi, penampilan yang sekarang sangat bertolak belakang. Rasa penasaran dan sikap agresif Eric membuat Elle begitu waswas sekaligus bersemangat. Eric seolah datang membawa harapan dan keberanian. Elle ingin berjuang atas nama cinta dan kesetiaan. Selalu ada kesempatan kedua. Tapi, kali ini, haruskan Elle mengikuti kata hatinya dan melepaska segala rasa takutnya?
Novel ini adalah novel solo ketujuh dan novel kedua yang diterbitkan oleh ElexMedia. Namun, baru di novel ini, saya mencoba menulis dengan premis yang tidak terlalu rumit. POV yang digunakan pun pov 3 secara bergantian oleh kedua lead character. Seperti premisnya yang sederhana dan manis, harapan saya juga sederhana. Semoga kisah Eric dan Miss Elle dapat menghibur dan membawa senyum bagi setiap pembaca. :) :) Salam hangat, Christina Tirta
Ceritanya nggak jelek sih.. cuma not my cup of tea aja. Saya nggak ada rasa simpati sama tokoh-tokohnya wkwk. Aneh ya? Bahkan Elle yang dihianatipun rasanya kaya biasa aja. Bland banget saya baca ini.
After that Night bercerita tentang Eric yang tergila-gila dengan Elle, guru sekolah keponakanya yang bernama Devon. Elle gadis yang sederhana, cantik dan baik hati. Sejak pertama kali melihat, Eric sudah jatuh cinta pada gadis itu. Namun sayang Elle sudah bertunangan. Apakah Eric akan terus mengejar Elle meskipun dia tau peluanganya hampir tidak ada?
Love at the first sight, sebagai seseorang yang nggak suka insta love saya nggak match dengan perasaan Eric. Apa sih yang buat dia sampai tergila-gila banget sama Elle? Masa hanya karena mempesona saat mabuk dan merancau kata-kata yang menurutnya 'ngena jadi langsung jatuh cinta? Kasih alasan yang lebih realistis lagi pleaseee.
Karena sejak awal saya udah nggak cocok dengan si Eric ini, akhirnya baca inipun rasanya bland. Kemistri Eric dan Elle nggak masuk. Nggak bikin saya merasa blushing-blushing gituuu.
Apalagi Eric menggambarkan sosok Elle terlalu WOWW, jadi bikin bete wkwk. Elle bagaikan fatamorgana baginya. Sosoknya bak bidadari dengan mata berbibar. Seperti burung dalam sangkar. HALAHHHH! Macam buaya ngegombal aja lu Ric!
Saya udah bilang di awal kan kalau saya nggak ada simpati buat tokoh-tokohnya. Masalah Eric, masalah Elle, masalah Erin rasanya kaya biasa aja. Nggak buat gregetan.
Masih banyak kalimat repetitif seperti pembahasan Elle kalau pakai baju mirip mahasiswa, atau pembahasan hubungan yang seperti gurun pasir dan penjelasan tentang sebuah komitmen yang entah berapa kali itu diulang-ulang. Terus penggunaan kata "tafakur" yang menurut menurut saya kurang pas.
Terakhir, Devon baru berumur 9 tahun. Tapi gaya bicaranya udah kaya remaja 🙄🙄
NB : jadi Brian sebenarnya selingkuh atau bukan? Dan setelah kejadian itu apa dia masih "berhubungan" dengan Kat? Kit? Alah siapa itu namanya lupaa. Secara setiap skype cewe itu selalu ada di disana.
Cerita yang bagus, dikemas dengan suasana yang simpel, namun cerita ini masih sangat klise, dimana kita dihadapkan dengan pilihan memaafkan penghianatan atau memberi kesempatan kedua terhadap penyesalan.
“Kenapa harus before? Kenapa bukan after? Aku lebih suka menggunakan kata after. Karena bukannya semua dimulai setelah kita bertemu?” (Hal.233)
After That Night adalah novel terbaru Kak Christina yang kubaca, mengisahkan kehidupan Elle Rashita, seorang guru sekolah dasar. Elle memiliki seorang kekasih sejak masih remaja dan setelah bertahun-tahun hubungan mereka pun meningkat menjadi bertunangan. Saat ini kekasih Elle, Bryan sedang melanjutkan kuliahnya di luar negeri dan mereka pun harus menjalani hubungan jarak jauh.
Semuanya terasa baik-baik saja, Elle menikmati hubungannya dengan Bryan yang selalu berjalan lancar dan tanpa konfrontasi. Elle menghargai komitmen antara mereka berdua dan selama ini Bryan tak pernah mengecewakannya. Sayangnya, suatu hari Elle harus menerima kenyataan bahwa kekasih sekaligus tunangannya itu telah mengkhianatinya. Bryan ditemukan berciuman dan berakhir One Night Stand dengan salah satu teman kampusnya.
“Memaafkan dan melupakan adalah dua hal yang berbeda. Aku bisa memaafkan semudah itu. Tapi, mana bisa aku melupakan sesuatu yang sudah tertoreh di sini?” (Hal. 135)
Elle terlalu shock menghadapi kenyataan itu karena dia begitu percaya terhadap kekasihnya. Hingga Elle yang biasa alim dan terkendali, menjadi seseorang yang berbeda. Bersama Manda, sepupunya Elle menghabiskan malam di sebuah kafe. Elle yang hanya ingin minum segelas, malah berakhir mabuk berat. Elle tak menyangka kehadirannya di kafe itu mengundang ketertarikan pemilik kafe, Eric Pieters. Bahkan Eric tak sengaja mendengar curahan hati Elle akan pengkhianatan Bryan.
“After that night, I can’t hardly wait to see you again. After that night, I pray every night to see you again. After that night, I know that I am falling in love with that drunken, broken woman.” (Hal.233)
Eric jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Elle. Eric tak menyangka dia begitu terpana dengan gadis itu. Ternyata itu bukanlah pertemuan pertama keduanya, karena takdir membawa mereka bertemu lagi dan lagi, dan kali ini Eric memilih tak menyerah.
Bagaimana akhir kisah Elle? Akankah Elle memberikan kesempatan kedua untuk Bryan atau malah membuka diri untuk cinta yang baru?
“There’s no excuse for a cheater. Dalam berkomitmen, kita hanya punya dua pilihan. Be loyal or leave it. Tidak ada, setia atau selingkuh. Itu bukan pilihan.” (Hal.134)
Membaca novel ini sungguh menyenangkan sekali, bahkan aku tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membacanya. Ide yang sederhana terasa begitu nyaman dinikmati.
Diceritakan dari sudut pandang Elle dan Eric, aku bisa memahami apa yang dirasakan oleh kedua tokoh ini secara bergantian. Aku bisa memahami bagaimana Elle seseorang yang selama ini sudah terbiasa nyaman dengan hubungannya yang baik-baik saja dan tanpa kendala apa-apa memilih bertahan walau dia sudah tersakiti begitu dalam akibat pengkhianatan Bryan. Elle yang memilih memaafkan, walau hati kecilnya tetap saja sulit untuk melupakan perbuatan Bryan. Elle menggambarkan kondisi perempuan kebanyakan secara umum yang memilih bertahan dalam hubungan yang buruk karena takut kehilangan, takut mencoba hubungan dari awal lagi dan memilih untuk bertahan walau tersakiti.
"Pertengkaran. Konfrontasi. Konflik. Semua itu adalah hal-hal yang ia hindari. Ia benci perasaan itu. Tapi, sekarang ia menyadari satu hal, ia lebih membenci perasaan tertekan karena harus menahan semua emosi dan perasaannya.” (Hal.187)
Hingga di suatu titik, Elle sudah tidak punya kekuatan untuk mengendalikan dirinya lagi dan semuanya akhirnya keluar begitu saja. Disinilah sosok Eric masuk dalam kehidupannya. Eric benar-benar membuatku jatuh cinta. Eric yang melakukan pendekatan-pendekatan yang perlahan-lahan mengusik perasaan Elle, walau kadang-kadang agak sedikit memaksa, tetapi masih dalam batas kewajaran.
Aku suka interaksi Eric dan Elle, terasa sekali chemistrynya apalagi saat mereka berbicara soal Devon. Aku juga suka saat Eric berinteraksi dengan Devon, keponakannya terasa sekali rasa sayangnya. Devon juga menjadi salah satu tokoh favoritku dalam novel ini. Devon yang kekurangan kasih sayang orang tua kandungnya, tetapi bisa tumbuh menjadi anak yang baik dan tingkah lakunya itu kadang-kadang buat aku tersenyum sendiri.
Membaca novel ini akan membuatmu memahami bahwa kesetiaan itu harga mutlak dalam suatu hubungan. Jika kita sudah berani berkomitmen, kita harus memegang teguh komitmen itu. Jangan pernah mengkhianati karena (mungkin) tidak akan ada kesempatan kedua.
Membaca novel ini juga mengingatkan kepada kita bahwa kita harus berani untuk move-on, jangan terjebak dalam suatu hubungan yang buruk, apalagi sampai menyakiti diri kita sendiri bahkan orang-orang yang kita sayangi.
“Mungkin hanya itu yang dibutuhkan untuk memutuskan sebuah hubungan buruk. Keberanian untuk melepaskan dan membela diri sendiri.” (Hal.225)
"There's no excuse for a cheater. Dalam berkomitmen, kamu hanya punya dua pilihan. Be loyal or leave it." (hal. 73)
***
Sejak nyimak blogtour-nya tahun lalu, aku udah penasaran sama novel ini. Ternyata ceritanya emang seru.
After That Night ini memiliki konflik yang luas. Selain tentang Elle-Eric dan kesetiaan, ada juga tentang keluarga. Bahkan aku merasa aspek psikis tokohnya juga cukup kuat. Beruntungnya, penyelesaian konflik cerita di sini cukup jelas dan enggak terburu-buru.
Seperti judulnya, kisahnya diawali oleh satu malam. Ceritanya dituturkan dengan sudut pandang ketiga terbatas menggunakan alur maju. Meskipun begitu, ATN ini enggak monoton karena tetap ada kilas balik yang disisipkan. Penyampaian ceritanya juga bervariasi dengan gambaran setting yang rapi dan enggak membingungkan.
Karakternya pun ngena banget. Elle yang ramah dan cenderung polos, Eric yang bisa kalem tapi kadang jahil, Manda dan Erin yang jiwanya lebih bebas, juga Brian dan mamanya alias Si Nenek Sihir. Pokoknya Brian dan Si Nenek Sihir memang calon mantu dan mertua yang mengerikan. 🙊🙊
Dibanding saat baca Dangerous Games, baca ini jauh lebih enak. Mungkin karena dalam DG ada unsur thriller-nya, jadi bawaannya gelap gitu. Nah, kalau baca ATN ini bisa lebih enjoy, lancar jaya sampai tau-tau udah tamat aja.
Btw, entah sengaja ditulis atau enggak, aku menemukan banyak banget kata 'tafakur' di sini. Kalau hampir setiap penggambaran tokoh yang berpikir atau merenung predikatnya pakai kata 'tafakur', jadinya aneh juga. Mungkin kalau mau pakai kata yang enggak umum enggak harus di semua scene juga kali, ya. Cukup 1-3 buat nambah pembendaharaan kata. 😅😅
Pokoknya, kalau dari segi cerita, ATN ini asyik deh. Kalian suka bacaan romance yang kental membahas kesetiaan, komitmen, dan hubungan masa depan? Novel ini tentu bisa jadi pilihan.
"Jangan benci dan takut pada konfrontasi, Elle. Jangan mengubur mereka dalam-dalam. Mereka akan menggali jalannya keluar dan menyebar menjadi sesuatu yang mengerikan." (hal. 185-186)
Bingung, seriusan mau kasih rating berapa gicuuu. Kalo kasih 2 ya nggak jelek2 amat sih tapi mau kasih 3 juga ceritanya so-so aza. Kemudian ciri novel yang nggak gitu menarik menurut saya sih yang nggak kelar saya baca dihari yang sama, maap ya Ce Chris saya kayanya lebih cocok tulisan cece yang ada thriller2nya ketimbang yang cinta-cintaan begini 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Beklaah... jadi ceritanya sih simple aja benernya. Miss Elle—the Heroine—ini guru/homeroom teachernya si Devon—ponakan Eric, the Hero. Karena Dev yang sedikit bermasalah—in a different way yah, bukan ke nakal atau bocah bikin onar gitu—akhirnya Eric minta bantuan Ms. Elle buat bikin Devon lebih lively lagi. Yah tujuan utama Eric bukan minta tolong sih, lebih ke mau pdkt juga ke Miss Elle yang cantik dan baik itu, meskipun Eric sendiri tahu kalo ibu mungil itu sudah bertunangan. Eric bahkan tahu kalo tunangan Elle itu lucky bastard yang udah nyakitin Elle, yups tunangan Elle itu pernah selingkuh dan ONS sama temen kampusnya di amrik sono. Eric sempat maju mundur juga sih sama niat dia deketin Elle, terlebih respon gadis itu yang terang-terangan nolak dengan alasan dia cinta dan sayang sama tunangannya meskipun tahu apa yang sudah dilakukan lelaki itu—Brandon atau siapa gitu, saya lupa 😂.
Jangan kecewa gaes, perjuangan Eric nggak sia-sia, setelah mempertimbangkan segalanya, setelah berpikir matang-matang Elle akhirnya mengakhiri semuanya dengan si Brandon—anggap aja Brandon ya, LOLs. Yups Elle ngerasa benar-benar lega, kaya ada beban tak kasat mata yang lenyap dari dirinya. Elle dan Eric? Wait wait, jangan kesusu gaes, setelah batalnya pertunangan Elle dia lebih memilih untuk sendiri dulu, but well Eric tetap setia menunggu, utukutuk kan? Dan nggak butuh waktu lama, sekitar 2/6 bulan ya? dengan meminta restu dihadapan semua keluarga mereka Eric meminta Elle buat jadi teman seperjalanan dia, yups Eric asked her be his wife. Then thats it the end. Wakaka mamapin ya kesannya spoiler parah nih, well then babay!
Ada banyak kejadian yang menimpa Elle. Salah satunya adalah keputusan terbesar dalam hidupnya berkaitan dengan kisah cintanya bersama Brian. Terlebih lagi, Eric yang selalu ada di sampingnya, tak pernah berhenti berharap sesuatu hal yang meski itu tak mungkin untuk Elle, namun itu mungkin untuk Eric. Belum lagi tuduhan yang dialamatkan pada Elle dari Brian dan Mamanya, Tante Sarang Burung. Namun, Elle tak sedikit pun merasa takut atau putus asa, karena masih ada keluarga dan teman-teman terdekatnya yang bersamanya . . Apa yang selanjutnya terjadi dalam kehidupan Elle? Apakah dia tetap bersama Brian ataukah akan ada orang lain yang masuk menggantikan Brian? Bagaimana hubungannya dengan Eric dan Devon beserta keluarganya? Penasaran? Jangan lupa yaa buat baca novelnya yang bisa kamu dapatkan di toko buku di kotamu atau toko buku online atau di scoop. So, what are you waiting for? . . Membaca novel ini berasa masuk ke dalam lingkaran permasalahan yang pernah aku jalani. Di satu sisi merasa nyaman, tapi di sisi lain ketakutan. Tapi, tak mampu mengungkapkan. Dipendam sekian lama dan jadilah bom dalam sebuah hubungan. Sebenarnya itu nggak baik, tapi yaa gimana lagi, namanya juga ketakutan. Setidaknya walaupun bisa dibilang terlambat, sudah mau jujur mengungkapkan . . Aku suka dengan cara Eric melakukan pendekatan. Pantang menyerah sebelum janur kuning melengkung. Terlebih modusnya menggunakan Devon, keponakannya. Slow but sure. Apalagi kehebohan Devon dan keluarga Eric. Eric ini tipe kalem-kalem ganas juga. Bikin gemes dehhh . . Banyak hal yang bisa aku ambil dari novel #AfterThatNight ini. Kejujuran, keterbukaan, komunikasi, kepercayaan, pantang menyerah, memaafkan, belajar menerima masa lalu, dan ikhlas. Sebuah hubungan bisa berjalan dengan baik dan lancar jika ada kepercayaan, tapi kalau salah satunya sudah berkhianat, say goodbye. Ide yang sederhana namun eksekusinya yang bikin penasaran.
Buku kedua dari penulis Christina Tirta yang aku baca ini punya vibe berbeda. Jika Dangerous Love dan Dangerous Game punya nuansa gelap, maka yang satu ini nuansanya kalau bisa dibilang sih ya normal-normal saja.
Menceritakan seorang guru SD yang sedang menjalani LDR dengan tunangannya. Niatnya ingin setia dan memaafkan kesalahan si tunangan di ujung benua lain, tapi kehadiran sosok pemilik kafe sekaligus bar membuat Elle merubah pola pikir.
Agak merinding membayangkan ada di posisi Elle. Antara sabar, bodoh, atau polos. Gimana bisa sabar dengan perlakuan tunangan dan calon mertuanya yang slek abis. Untung ada Eric, dan yeah, cowok ini beneran bikin greget haha. Perjuangannya nggak kaleng-kaleng, walaupun karakternya terlalu baik buat ukuran cowok yang berselingkuh.
Anyway, lebih enjoy tulisannya Mbak Christina yang begini ketimbang yang bernuansa misteri atau thriller begitu. 4 bintang untuk kisah Alle dan Eric!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Senelumnya, maaf karena hanya memberikan 2 bintang. Tapi, saya memang kurang 'in' sama novel ini.
Konfliknya sederhana, alurnya mengalir, gaya bahasanya bagus.
Tapi, saya nggak ada chemistry sama novel ini. Kedua karakter utama terasa kurang nyatu, nggak ada chemistry.
Ada beberapa bagian yang bisa dibuang sebenarnya, yang membuat saya men-skip banyak halaman yang menurut saya nggak penting.
Beberapa dialog terasa kaku dan nanggung, pun dengan narasi maupun deskripsinya.
Masih ada kata yang tidak baku dalam beberapa deskripsi maupun narasi. Juga pemenggalan kata yang kurang tepat. Beberapa kata yang harusnya dimiringkan tidak dimiringkan.
Entahlah apa yang membuat saya tidak bisa menikmatinya. Mungkin, memang bukan 'my cup of tea'.
Rating asli 3.5 Masih dengan khas Christina Tirta, walaupun ga se-gelap Dangerous Game dan Dangerous Love sih, tapi tetep kejutannya bikin ga kepikiran walaupun ga terlalu bikin shocked Cerita ini cukup menggambarkan tentang toxic relationship dengan jenis yg berbeda. Yaitu hubungan yg kelewat adem ayem Hubungan yg adem ayem tanpa adanya konflik selama bertahun-tahun itu artinya cuma akan jadi bom waktu aja Getir dan manis di cerita ini juga cukup imbang Nyesek juga pas itu dateng ke.... :'))) Gue juga cukup bisa ngerasain perasaan semua tokoh di cerita ini Lumayan nampol tuh buat kalian yg hubungannya lg goyah
Suka sama alur ceritanya, seru dan kocak. Utk karakter Eric nya sangat mengesankan, aku yg baca jadi ikutan baperrr sama kata2 nya. heheheh. Apalagi ada karakter anak2, makin menggemaskan dehh sama alur ceritanya. aku berharap utk cerita Erin, Devon, Edwin dan Manda ntah kenapa ada sesuatu (apa mgkn bakal ada cerita mereka sendiri yaa *berharap*)..
I gift 3,5 stars. Awal cerita menurutku agak boring sempat ga mau lanjut tapi semakin ke pertengahan alurnya lumayan seru tapi menurutku aku masih penasaran apa alasan Erin gak ngizinin Edwin buat gak nemuin Devon. Well aku suka sama karakter-karakternya cuman menurutku endingnya kurang srek aja.
After That Night adalah karya Kak Christina Tirta yang pertama kali aku baca. Dan aku langsung dibuat jatuh cinta sama tulisannya. Dari prolognya saja aku langsung dibuat tertarik buat lanjut terus ke halaman berikutnya. Iya, After That Night ini page turner banget. Karena aku beneran dibikin penasaran dengan perkembangan kisah Elle dan Eric ini.
Saya menikmati ceritanya. Bagaimana perjuangan Eric untuk menyakinkan Elle. Dan juga keponakan Erik, Devon. Anak ajaib yang bikin alur cerita tambah menarik.