This is an Indonesian version of a book about the historical legends and stories of the family trees and connection between kings and rulers of Java, the most populated island in Indonesia.
W.L Olthof, a Dutch historian, translated this from an ancient Javanese script punika serat babad tanah jawi wiwit saking nabi adam doemogi ing taoen 1647. Many ancient Javanese script were located in Netherland, due to several hundred years of colonialism. This book only recently translated by Indonesian historian, H.R Soemarsono.
kecewa dengan versi yang pernah ada, saya nekad beli ini langsung ke penerbitnya di olanda.
judul dan sedikit pengantar disajikan dalam bahasa belanda, sedangkan isinya sepenuhnya berbahasa jawa. BABAD TANAH [D]JAWI ini disajikan dalam bentuk prosa, bukan dalam tembang sebagaimana aslinya. ini adalah versi prosa yang dilakukan oleh bei KERTAPRADJA dari EDISI JJ MEINSMA.
judul di dalam tertulis POENIKA SERAT BABAD TANAH DJAWI WIWIT SAKING NABI ADAM DOEMOEGI IN TAOEN 1647. KAECAP WONTEN ING TANAH NEDERLAN, ING TAOEN WALANDI 1941.
masih tergolong baru. terbit di tahun ketika belanda mau meninggalkan indonesia oleh kedatangan jepang. mungkin juga tahun-tahun ketika banyak bacaan dari khasanah kraton yang disebarkan keluar menjadi milik publik.
dicantumkannya beberapa peta, memperlihatkan buku ini memang diniati untuk diedarkan di kalangan priyayi baru, para intelektual, yang haus akan pengetahuan modern mengenai bangsanya sendiri. peta, foto, gambar, diagram adalah sarana representasi yang digemari di kalangan media massa karena lebih bisa dipercaya, lebih ilmiah, tidak mitologis...dsb.
penjajahan tetap berlangsung, dengan aktor yang berbeda dan kurban yang berbeda pula.
Ketika membaca Musashi, seingat saya sebagai cerita bersambung di harian Kompas, dan lalu membaca bukunya, sempat terpikir bahwa rakyat Jepang menjadi begitu maju, dan berani mati, karena dibesarkan oleh sejarah konflik berdarah yang sangat panjang.
Pikiran yang sama juga terbersit tentang China, jauh sebelum China berkembang sedemikian pesat seperti sekarang ini. Negeri tirai bambu ini, yang sekarang sudah menjadi tirai dollar karena simpanan mata uang dollarnya yg triliunan, juga memiliki sejarah konflik perebutan kekuasaan bergelimang darah yang sangat panjang.
Membaca buku Babad Tanah Jawi versi Olthof ini, saya sungguh kenyang disuguhi sejarah panjang pergulatan kekuasaan Jawa, yang di sana-sini dibumbui mistik (yang disukai kebanyakan orang Jawa), terkait dengan perebutan tahta, harta, wanita.
Kemuliaan sesaat yang diperjuangkan dengan darah dan air mata, termasuk derita yang harus ditanggung rakyat desa yang selalu menjadi jarahan pasukan yang berperang padahal tidak tahu menahu dengan urusan kekuasaan segala macam, pada akhirnya pun harus dibayar lagi dengan darah dan airmata lagi.
Pada akhir kira-kira seperempat bagian akhir buku, digambarkan bagaimana konflik yang tidak berkesudahan itu membuat Kompeni pelan tetapi pasti memperluas dan memperkuat cengkraman kekuasaannya di tanah Jawa.
Di masa lalu, raja-raja di tanah Jawa dikenal gemar memamerkan silsilah atau asal usul garis keturunannya sebagai alat legitimasi untuk melanggengkan kekuasaannya. Babad Tanah Jawi yang dikumpulkan di masa pemerintahan Raja Paku Buwana I pada awal abad ke-18 hingga masa pemerintahan Paku Buwana III, dipercaya oleh beberapa ahli sebagai salah satu sarana yang digunakan kerajaan untuk keperluan legitimasi tersebut.
Teks asli Babad Tanah Jawi memuat silsilah raja-raja Jawa dari Nabi Adam, dewa dewi dalam agama Hindu, tokoh-tokoh dalam Mahabharata, Cerita Panji Masa Kediri, Masa Kerjaaan Pajajaran, Masa Majapahit hingga Masa Demak yang kemudian dilanjutkan lagi dengan silisah Kerajaan Pajang, Mataram dan berakhir pada masa Kartasura.
Babad Tanah Jawi adalah salah satu naskah kuno warisan budaya Indonesia. Isinya tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa. Bacaan ini cukup bisa memberikan gambaran perjalanan kerajaan di Jawa serta sedikit 'membuka tabir' tentang posisi dan kondisi sosiokultural masyarakat Jawa pada saat itu. Misalnya bagaimana masyarakat 'memuja' raja yang dianggap ditunjuk langsung oleh Tuhan - dasar feodalisme. Walaupun sekarang ini kita menganggap feodalisme adalah produk 'kuno' yang menentang kebebasan persamaan hak, di sini saya bisa melihat 'keindahan' dan kebahagiaan bawahan ketika berbakti pada rajanya. Satu ketenangan dalam penerimaan dan penyerahan diri.
Babad Tanah Jawi dapat dijadikan salah satu sumber referensi sejarah namun tidak sepenuhnya. Penceritaan kebanyakan dipengaruhi unsur politis untuk 'membaik-baikan' penguasa pada saat itu. Penulis naskah mungkin dipengaruhi oleh feodalisme pada saat itu. Namun sebagai karya sastra warisan budaya Indonesia, buku ini pantaslah harus dibaca. Banyak nilai-nilai keluhuran yang dapat kita ambil untuk memperkaya diri kita sebagai bangsa Indonesia.
Sejarah tanah jawa dalam bahasa jawa berjudul Punika Serat babad Tanah Jawi Wiwit Saking nabi Adam Domoegi ing Taoen 1641 dan disusun dalam edisi Belanda oleh W.L. Olthof di Leiden pada 1941. Buku ini sejarah versi kerajaan Mataram. menarik karena dalam kosmologi Jawa ternyata orang Jawa juga mempunyai pemikiran mengenai manusia pertama di dunia, yaitu Nabi Adam, yang berbeda dengan versi-versi yang sering kita dengar. Dalam satu kutipan: "Inilah babad para raja di tanah jawa, mulai dar Nabi Adam, berputra Sis, Esis berputra Nurcahya, Nurcahya berputra Nurasa.Nurasa berputra Sanghyang Wening.Sanghyang Wening berputra Sanghyang Tunggal.Sanghyang Tunggal berputra Batar Guru. Batara Guru berputra lima bernama Batara Sambo,Batara Brama,Batara Maha-Dewa,Batara Wisnu,Dewi Sri.Batara Wisnu menjadi raja dipulau Jawa bergelar Prabu Set. Kerajaan Batara Guru ada di Sura-Laya." Sangat kaya dengan mitologi. Bagaimana dari Nabi Adam hingga bisa sambung ke dewa-dewa jaman Hindu. Kisah menarik lainnya adalah ketika Mataram menaklukan Sura-Baya (demikan cara menulisnya). Mataram kagum dengan keberanian orang Sura-Baya. Ada kisah pertempuran di Wana-Krama dimana Mataram dibantu Belanda (3 bregada -- mungkin ini dari kata brigade) harus hancur menghadapi keberanian orang Surabaya. kelemahan dari sejarah versi babad adalah perodesasi. Tanpa tahun yang tertulis
Kalau bukan dibaca sebagai buku sejarah, namun referensi sekaligus tambang ide cerita, buku ini cukup memanjakan fantasi. Raden Rangga yang bisa menghancurkan kepala orang dengan sekali tempeleng, misalnya. Di lain masa ada Raden Sukra yang tampan luar biasa sampai bikin cemburu raja lalim.
Perhatikan juga bahwa semakin modern maka kisah-kisah mistis pun menghilang dengan sendirinya, menguatkan hipotesa bahwa segala kegaiban tersebut bisa jadi hanya efek distorsi dari kisah-kisah masa lalu yang disampaikan secara verbal tanpa verifikasi dari sudut-sudut pandang lain.
Lelah betul kalau kita memperdebatkan mana versi sejarah raja-raja Jawa yang lebih benar. Sebenar-benarnya sejarah tetaplah sebuah fiksi; penuturan ulang sebuah kejadian menurut versi, sudut pandang dan kepentingan mereka yang punya stempel kerajaan. Atau kepresidenan.
Awal cerita agak bingung namun setelah bab ketiga dan seterusnya bisa mengikuti dengan lebih paham. Buku yang lumayan utk pemula yang ingin tau sejarah kerajaan masa lampau seperti saya :)
Di masa lalu, raja-raja di tanah Jawa dikenal gemar memamerkan silsilah atau asal-usul garis keturunannya sebagai alat legitimasi untuk melanggengkan kekuasaannya. Babad Tanah Jawi yang dikumpulkan di masa pemerintahan Raja Paku Buwana I pada awal abad ke-18 hingga masa pemerintahan Paku Buwana III, dipercaya oleh beberapa ahli sebagai salah satu sarana yang digunakan kerajaan untuk keperluan legitimasi tersebut. Teks asli Babad Tanah Jawi memuat silsilah raja-raja Jawa dari Nabi Adam, dewa-dewi dalam agama Hindu, tokoh-tokoh dalam Mahabarata, Cerita Panji masa Kediri, masa kerajaan Pajajaran, masa Majapahit hingga masa Demak yang kemudian dilanjutkan lagi dengan silsilah kerajaan Pajang, Mataram dan berakhir pada masa Kartasura. Naskah Babad Tanah Jawi ini pun telah diterbitkan dalam berbagai versi. Salah satunya adalah Babad Tanah Jawi yang disusun oleh W.L Olthof tahun 1941. Isinya adalah babad para raja tanah Jawa, mulai dari Nabi Adam, hingga tahun 1647. Dengan penulisan yang naratif, buku ini dapat menjadi bacaan yang menarik bagi khalayak luas. Cuma membaca buku ini terkadang kita jadi bertanya-tanya apakah penulisan buku ini didasarkan pada suatu studi atas fakta sejarah? ataukah semata-mata oral history? ataukah didasarkan pada telaah dokumen2 yang bisa dipercaya kevalidannya......???
Sebuah buku "sastra sejarah" legendaris yang berasal dari abad ke-18. Menceritakan tentang kisah kerajaan di tanah jawa sejak turunnya Nabi Adam hingga keruntuhan Mataram, walaupun sebagain besar cerita lebih difokuskan ke kerajaan Mataram. Meskipun bernuansa sejarah, tak jarang juga buku ini menceritakan hal-hal berbau mistis dan terkadang tak masuk akal. Terlepas dari hal tersebut para sejarawan sepakat bahwa buku ini merupakan salah satu sumber sejarah karena memuat tokoh, tanggal, dan peristiwa. . Meski buku "sejarah", membaca bukun ini dapat menyebabkan tertawa. Karena naskah asli buku ini merupakan bahasa jawa, terjemahan kedalam bahasa Indonesia membuat struktur kalimat menjadi cukup berbeda dengan karya sastra berbahasa Indonesia pada umumnya sehingga terdengar agak lucu. Cerita yang terkadang terkesan ngawur dan dilebih-lebihkan juga memberikan kesan humor tersendiri terutama bila dianalogikan dengan logika zaman sekarang. . SANGAT direkomendasikan untuk semua kalangan, terutama bagi penikmat sejarah atau pencaru bahan hiburan selain novel. Rating Personal: 8.5/10
Jujur, saya sudah punya Babad Tanah Jawi cukup lama, tapi ini salah satu buku yang saya tarsok tarsok. Takut berat dan gak sanggup bacanya karena kalau menimbang judul, kesannya filosofis, menggunakan bahasa jadul yang ujung-ujungnya menggoda untuk tutup mata. Eits, ternayata saya salah besar.
Menurut saya, Babad Tanah Jawi ini lebih mirip dengan kitab-kitab perjanjian lama. Berisi silsilah dan cerita perang raja-raja Jawa. Dan memanglah seperti kitab-kitab, raja-raja jaman sebelum Mataram memiliki kesaktian dan raja-raja Jawa era Mataram awal dikisahkan bisa mengetahui takdir suksesi raja-raja langsung dari Gusti Allah. Sama seperti raja-raja di perjanjian lama bisa mendengar suara Tuhan. Tapi makin ke sini jembatan tersebut makin pudar.
Yah, itu salah satu sisi Babad Tanah Jawi. Sisi-sisi lainnya tentu banyak dan setiap bagiannya pasti berbicara kepada pembacanya masing-masing, tergantung persepsi.
Saya bayangkan membaca lantang Babad Tanah Jawi ini sebagai dongengan menjelang tidur. Cocok sih, karena satu kisah satu judul dan tidak terlalu panjang. Mungkin itu juga yang dilakukan orang-orang tua kawula alit jaman dulu ya. Mendongengi anak-anaknya dengan kisah kehebatan junjungannya, dibumbui petuah-petuah sederhana seperti sesama saudara tidak sebaiknya berseteru dan tentang semua sudah ada takdirnya masing-masing. Bedanya tidak dibacakan tapi berdasarkan ingatan dan kisah mulut ke mulut.
Babad Tanah Jawi menjadi salah satu literatur terpenting dalam sejarah kerajaan jawa. Buku dimulai dengan asal muasal tanah jawa. Mulai dari nabi adam, dewa-dewa hindu, tokoh pewayangan mahabharata, sampai raja-raja jawa di Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, dan terakhir di Kartasura.
Meski menjadi salah satu sumber literatur penting, mungkin kredibilitasnya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara utuh. Pasalnya, Babad Tanah Jawi ini banyak dilebih-lebihkan dan notabene digunakan untuk usaha-usaha legitimasi kekuasaan.
Banyak cerita tersebar tentang raja-raja jawa. Bahkan mungkin seorang kawula kecil jawa juga dapat menceritakan. Tapi, acapkali itu adalah rekaan belaka. Sedangkan Babad Tanah Jawi menjadi sumber referensi fundamental, sehingga apa yang tak sesuai atau lebih tepatnya berlebihan dalam penuturan cerita daripada orang-orang, sebaiknya tidak langsung percaya. Dari buku inilah kita mengembangkan riset tentang kebenaran cerita-cerita berbagai versi tadi.
Buku ini sangat bagus untuk diketahui oleh generasi milenial agar lebih memahami sejarah para leluhur dengan segala kedigdayaannya, dengan demikian akan timbul rasa cinta nasional, khususnya budaya agung leluhur.
Akan lebih baik lagi jika digunakan tata bahasa Indonesia dengan baik dan benar, sehingga alur cerita mudah difahami. Penyebutan nama2 tokoh pelaku sejarah agar lebih sering disebut. Di setiap topik, nama tokoh hanya disebut di awal, selebihnya diganti dengan gelar, seperti Sang Prabu, Sang Nata tanpa menyebut nama beliau, hal ini mengganggu penalaran alur cerita, bahkan sulit mengingat nama2 tokoh yg seharusnya sangat perlu diingat.
Naskah babad tanah jawi karangan Olthof ini bukan satu-satunya melainkan versi karangannya sendiri dengan menggabungkan beberapa naskah yang terinspirasi dari pujangga jawa (misal Yosodipuro dan Ranggawarsito), dan masih bisa diperdebatkan isinya karena hanya tulisan naratif tanpa merujuk ke teks asli (sumber primer). Isi buku ini adaah babad/cerita kuno para raja di tanah jawa diurutkan dari silsilah awal Nabi Adam, asal muasal tanah jawa, para misionaris islam di jawa (Wali Songo), lahirnya Majahpahit berturut - turut sampai keruntuhan Mataram. seluruh alur cerita maupun epos kepahlawanan diceritakan secara singkat tanpa ada telaah lebih lanjut.
Buku Babad Tanah Jawi ini salah satu naskah kuno warisan budaya Indonesia. Isinya menarik karena bercerita tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa, raja-raja nya dan garis keturunan nya. awal nya buku ini lama di cari oleh orang tua saya, tapi akhir nya pas ketemu di gramedia dengan stock pun tinggal tersisa 1. saya mulai baca dan tertarik...
Kalau ingin tahu mengenai persebaran islam di tanah jawa, babad tanah jawi bisa di jadikan referensi. Untuk cross-reference bisa membaca Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga karya Achmad Chodjim dan juga Kitab Darmagandhul karya Dimas Shashangka.
Then after read those 3 books, you will see the red line!
1/4 buku menarik, seperti diajak masuk ke dunia dongeng dengan cerita-cerita fantastis. 2/4 buku hingga akhir sangat melelahkan karena terjemahan yang kurang asyik, belum lagi banyak sekali nama dan alur yang sering lompat. Hingga akhir tetap terasa seperti dongeng kisah-kisah fantastis. Tapi itulah mengapa saya menyukai sejarah dan buku-buku semacam ini.
Buku ini menjelaskan silsilah Raja-raja Jawa. Ceritanya memang tidak sangat rinci, seperti dipotong dan sifatnya naratif tapi alurnya dapat dipahami dengan baik, tokoh-tokoh yg dicantumkan menjadi patokan.
As a person who is bad at remembering names, this book is nightmare I think a picture of family tree will help. But then again, sometimes they often picked same name for different people 😵💫
[Writer; Agus Purwanto] Bangsa ini telah meninggalkan sejarah. Apa yang dikatakan Bung Karno : “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jas Merah)” telah terabaikan. Padahal yang terjadi saat ini merupakan hasil dari perjalanan sejarah. Dan apa yang terjadi saat ini telah diprediksikan oleh para leluhur kita diantaranya Prabu Jayabaya dan R.Ng. Ronggowarsito, yang mana hasil karya mereka merupakan ayat-ayat Allah.
Perlu kiranya saya sampaikan cuplikan terjemahan bebas dari karya : >> Prabu Jayabaya (Kitab Musarar)<< :
-> Nama rajanya Lung gadung rara nglikasi kemudian berganti gajah meta semune tengu lelaki. Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan. Waktu itu pajaknya rakyat adalah. Keterangan : Lung Gadung Rara Nglikasi: Raja yang penuh inisiatif dalam segala hal, namun memiliki kelemahan suka wanita (Soekarno). Gajah Meta Semune Tengu Lelaki: Raja yang disegani/ditakuti, namun nista (Soeharto). -> Uang anggris dan uwang. Sebab saya diberi hidangan darah sepitrah. Kemudian negara geger. Tanah tidak berkhasiat, pemerintah rusak. Rakyat celaka. Bermacam- macam bencana yang tidak dapat ditolak.
-> Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka. Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram. Keterangan : – Bupati berdiri sendiri-sendiri : Otonomi Daerah. – Jaman Kutila : Reformasi – Raja Kara Murka : Raja-raja yang saling balas dendam. – Panji Loro semune Pajang Mataram : Dua kekuatan dalam satu kubu yang saling ingin menjatuhkan (Gus Dur – Megawati ).
-> Nahkoda ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana tidak ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu, randa loro nututi pijer tetukar. Keterangan : – Nakhoda : Orang asing. – Sarjana : Orang arif dan bijak. – Rara Ngangsu, Randa Loro Nututi Pijer Atetukar : Ratu yang selalu diikuti/diintai dua saudara wanita tua untuk menggantikannya (Megawati).
-> Tan kober apepaes, sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/ memahami lambang tersebut. Keterangan : Tan Kober Apepaes Tan Tinolih Sinjang Kemben : Raja yang tidak sempat mengatur negara sebab adanya masalah-masalah yang merepotkan (SBY/Kalla).
-> Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak membuat kenyang. Hasilnya berkurang. Orang jahat makin menjadi-jadi, orang besar hatinya jail. Makin hari makin bertambah kesengsaraan negara.
-> Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Perintah berganti- ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang melupakan Tuhan dan orang tua.
-> Wanita hilang kehormatannya. Sebab saya diberi hidangan Endang seorang oleh ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada tanda negara pecah.
-> Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian raja Kara Murka Kutila musnah.
-> Kemudian kelak akan datang Tunjung Putih semune Pudak kasungsang. Lahir di bumi Mekah. Menjadi raja di dunia, bergelar Raja Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan. Keterangan : – Tunjung Putih semune Pudak Kesungsang : Raja berhati putih namun masih tersembunyi (Satriya Piningit) . – Lahir di bumi Mekah : Orang Islam yang sangat bertauhid.
-> Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa. Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia. Keterangan : – Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa : Orang Islam yang sangat menghormati leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa.
-> Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi hidangan bunga seruni oleh ki Ajar. Waktu itu pemerintahan raja baik sekali. Orangnya tampan senyumnya manis sekali.
Terjemahan dari buku Punika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi ing Tahoen 1647, disusun oleh W.L. Olthof di Leiden 1941.
Memuat sejarah tentang raja-raja di tanah Jawa.. silahkan sebut yang mana.. semestinya sih ada di babad ini ;p
Yang saya masih tidak mengerti dari babad ini.. kisah – kisah tersebut darimana berasal? Dokumen kuno? Atau kisah yang turun temurun diceritakan kembali secara lisan? Ataukah hasil dari pengkajian terhadap benda-benda peninggalan sejarah yang terkadang memang merekam peritiwa pada suatu masa? … pengen tau dech..
This book contain many legends and folks stories that helps created the cultural norm troughout javanesse island. it was nice reading, but the stories often not compatible with the facts gathered by history scientists.
The effort was greatly admirer, but without proper attribution and the lack of detailed data, this book fit only for reading and broaden your view on antrophological aspect of folk stories.