Di volume kedua inilah perjalanan Shuurei sebagai pegawai pemerintahan perempuan pertama di Kerajaan Saiunkoku dimulai.
Shuurei Kou telah bercita-cita menjadi pegawai pemerintahan sejak perebutan kekuasaan oleh para putra dari mendiang raja membawa kesengsaraan pada rakyat Saiunkoku 9 tahun lalu. Hasrat itulah yang mendorong Shuurei belajar setiap hari untuk persiapan ujian pegawai negeri sipil. Sayangnya ada satu penghalang besar bagi mimpi Shuurei: perempuan tidak diperbolehkan mengikuti ujian.
Setelah sukses sebagai "permaisuri sementara" dan membuat raja muda Ryuuki Shi tergugah untuk menjalani tugas pemerintahannya di buku pertama, sejenak Shuurei kembali ke kehidupan yang "tenang" (jika mengabaikan banjir kiriman hadiah yang nyentrik dari Ryuuki). Namun, orang-orang di sekitar Shuurei ternyata tidak membiarkannya kembali menjalani hari sambil terus mendekap mimpi yang mustahil. Harapan muncul ketika si raja muda (dengan motif terselubung) mengajukan usulan untuk mengizinkan perempuan mengikuti ujian sipil. Sementara itu Kouyuu Ri, wakil Departemen Administrasi Sipil sekaligus pendamping utama raja, menawarkan Shuurei untuk kerja sambilan di pemerintahan pusat dengan menyamar sebagai laki-laki. Akankah usulan Ryuuki diterima oleh para menteri? Bagaimana Shuurei menjalani pekerjaannya dalam penyamaran?
Volume ini fokus pada usaha Shuurei mendobrak gerbang yang bertahun-tahun menghalanginya menyusuri jalan menuju mimpi. Ternyata selain gerbang berupa undang-undang mengenai ujian sipil, ada gerbang lain yang muncul dari dalam diri Shuurei. Perjuangan Shuurei melewati gerbang-gerbang ini adalah sesuatu yang menginspirasi dan memberi semangat.
Dalam usahanya Shuurei tidak sendiri. Tokoh-tokoh lama maupun baru saling membantu Shuurei melalui perannya masing-masing. Hubungan keterkaitan ini membuat penambahan tokoh-tokoh baru ke dalam cerita berjalan mulus.
Yang tak kalah menarik dengan perjuangan Shuurei menjadi pegawai pemerintah adalah kisah cintanya. Namun, kisah cinta ini tidak berjalan semulus kisah lainnya. Ryuuki telah menunjukkan bahwa Shuurei-lah wanita untuknya. Kali ini Ryuuki juga menunjukkan betapa tulus perasaannya dengan menghargai keinginan Shuurei dan tidak menyalahgunakan kekuasaannya untuk mendapatkan Shuurei. Sedangkan sejauh ini tidak tampak tanda-tanda bahwa Shuurei mempunyai perasaan yang sama. Jelas sekali Ryuuki perlu berjuang lebih keras, apalagi dengan munculnya orang-orang yang berpotensi jadi rival.
Secara keseluruhan volume ini mampu membangun perkembangan karakter dan cerita serta menggabungkannya dalam plot yang menarik, sambil meninggalkan petunjuk-petunjuk yang membuat pembaca penasaran akan kelanjutannya. Yang berharap kisah cinta yang manis mungkin harus bersabar agak lama. Namun, buku kedua ini mampu meyakinkan pembaca bahwa kesabaran itu nantinya akan terbayar.
Very enjoyable, interesting story line that embedded with lots of imagination and freshness. Really like it, no negatives that I could see. Well written, no editorial issues.
Di volume kedua inilah perjalanan Shuurei sebagai pegawai pemerintahan perempuan pertama di Kerajaan Saiunkoku dimulai.
Shuurei Kou telah bercita-cita menjadi pegawai pemerintahan sejak perebutan kekuasaan oleh para putra dari mendiang raja membawa kesengsaraan pada rakyat Saiunkoku 9 tahun lalu. Hasrat itulah yang mendorong Shuurei belajar setiap hari untuk persiapan ujian pegawai negeri sipil. Sayangnya ada satu penghalang besar bagi mimpi Shuurei: perempuan tidak diperbolehkan mengikuti ujian.
Setelah sukses sebagai "permaisuri sementara" dan membuat raja muda Ryuuki Shi tergugah untuk menjalani tugas pemerintahannya di buku pertama, sejenak Shuurei kembali ke kehidupan yang "tenang" (jika mengabaikan banjir kiriman hadiah yang nyentrik dari Ryuuki). Namun, orang-orang di sekitar Shuurei ternyata tidak membiarkannya kembali menjalani hari sambil terus mendekap mimpi yang mustahil. Harapan muncul ketika si raja muda (dengan motif terselubung) mengajukan usulan untuk mengizinkan perempuan mengikuti ujian sipil. Sementara itu Kouyuu Ri, wakil Departemen Administrasi Sipil sekaligus pendamping utama raja, menawarkan Shuurei untuk kerja sambilan di pemerintahan pusat dengan menyamar sebagai laki-laki. Akankah usulan Ryuuki diterima oleh para menteri? Bagaimana Shuurei menjalani pekerjaannya dalam penyamaran?
Volume ini fokus pada usaha Shuurei mendobrak gerbang yang bertahun-tahun menghalanginya menyusuri jalan menuju mimpi. Ternyata selain gerbang berupa undang-undang mengenai ujian sipil, ada gerbang lain yang muncul dari dalam diri Shuurei. Perjuangan Shuurei melewati gerbang-gerbang ini adalah sesuatu yang menginspirasi dan memberi semangat.
Dalam usahanya Shuurei tidak sendiri. Tokoh-tokoh lama maupun baru saling membantu Shuurei melalui perannya masing-masing. Hubungan keterkaitan ini membuat penambahan tokoh-tokoh baru ke dalam cerita berjalan mulus.
Yang tak kalah menarik dengan perjuangan Shuurei menjadi pegawai pemerintah adalah kisah cintanya. Namun, kisah cinta ini tidak berjalan semulus kisah lainnya. Ryuuki telah menunjukkan bahwa Shuurei-lah wanita untuknya. Kali ini Ryuuki juga menunjukkan betapa tulus perasaannya dengan menghargai keinginan Shuurei dan tidak menyalahgunakan kekuasaannya untuk mendapatkan Shuurei. Sedangkan sejauh ini tidak tampak tanda-tanda bahwa Shuurei mempunyai perasaan yang sama. Jelas sekali Ryuuki perlu berjuang lebih keras, apalagi dengan munculnya orang-orang yang berpotensi jadi rival.
Secara keseluruhan volume ini mampu membangun perkembangan karakter dan cerita serta menggabungkannya dalam plot yang menarik, sambil meninggalkan petunjuk-petunjuk yang membuat pembaca penasaran akan kelanjutannya. Yang berharap kisah cinta yang manis mungkin harus bersabar agak lama. Namun, buku kedua ini mampu meyakinkan pembaca bahwa kesabaran itu nantinya akan terbayar.