Dapat kubayangkan kedua orang tuaku mengunjungi rumah itu. Mengagumi pendapa lindung adem oleh naungan dahan-dahan pohon sawo yang tumbuh di empat penjuru halaman. Kemudian dengan Khidmat mengusapkan alas kaki pada keset sabut di ujung anak tangga, masuk ke dalam bangunan, menyelidik serta mengamati ruangan-ruangan tengah dan kamar tidur yang di tunjukan oleh penjaga.
Setiap orang pastilah menyimpan kenangan yang berasal dari masa kanak-kanaknya, baik kenangan yang manis maupun kenangan yang pahit. Akan tetapi, tidak semua orang mampu mengungkapkannya kembali secara tertulis, seperti yang dilakukan Nh. Dini. Dalam Sebuah Lorong di Kotaku ini, Dini mengisahkan kembali peristiwa-peristiwa yang dialaminya pada tahun-tahun terakhir zaman penjajahan Belanda hingga masuknya tentara Jepang. Diceritakan antara lain ramai-ramai menyerok ikan di belakang rumah ketika banjir, mengunjungi kakek-nenek (dari pihak ayah + ibu), pertama kali masuk sekolah, ikut mengungsi, dan lain-lain. Buku ini adalah buku pertama dari seri "cerita kenangan" Nh. Dini.
Nh. Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin) started writing since 1951. In 1953, her short stories can be found in most of national magazines like Kisah, Mimbar Indonesia, and Siasat. She also writes poems, radio play, and novel.
Bibliography: * Padang Ilalang di Belakang Rumah * Dari Parangakik ke Kampuchea * Sebuah Lorong di Kotaku * Jepun Negerinya Hiroko * Langit dan Bumi Sahabat Kami * Namaku Hiroko * Tirai Menurun * Pertemuan Dua Hati * Sekayu * Pada Sebuah Kapal * Kemayoran * Keberangkatan * Kuncup Berseri * Dari Fontenay Ke Magallianes * La Grande Borne
Saya tidak menyangka kalau buku setipis ini menyimpan makna begitu dalam. Mengisahkan kehidupan masa kecil sang penulis sendiri di masa peralihan pendudukan Belanda-Jepang, Dini kecil bercerita tentang kehidupannya bersama kedua orang tua dan kakak-kakaknya berliburan ke Tegalrejo, kakek-nenek dari pihak ayah, dan Ponorogo, kakek-nenek dari pihak ibu. Juga pengalaman pertamanya masuk sekolah, dan akhirnya, kesibukan keluarga mereka mempersiapkan datangnya perang. Sederhana memang, segala hal itu dilihat dari sudut pandang seorang gadis kecil. Tapi penggambarannya yang mendetail dengan gaya bahasa favorit saya; baku tetapi jauh dari kaku, membuat saya terhanyut dan terlena. Rasa-rasanya sudah jarang saya temui buku dengan gaya bahasa dan isi cerita semacam buku ini. Favorit saya tentunya kisah Dini kecil di desa Tegalrejo, dalam hati saya membatin, inilah sebenar-benarnya liburan ke rumah nenek! Puas rasanya saat menamatkannya, seperti menemukan harta karun terpendam. “Orang dewasa lebih tinggi dan lebih besar, lebih bisa berbuat sekehendaknya. Begitu banyak yang tidak boleh diperbuat oleh kanak-kanak, sehingga aku berpikir bahwa dunia ini diciptakan hanya untuk orang dewasa.” –hal. 62
“Sabar dan lapangkanlah dadamu. Jangan selalu mau cepat marah. Ambillah bumi ini sebagai contoh. Dia kita injak, kita ludahi, kita belah, kita tusuk dan kita lukai dengan berbagai alat. Tetapi dia selalu sabar dan diam, selalu memberi kita makanan lezat dan berguna.”
Satu hal lagi yang amat sangat berkesan untuk saya, betapa di usia itu Dini kecil sudah punya pikiran begitu liberal, memberontak terhadap segala sesuatu yang dapat menekan kebebasannya. Dan ia tidak takut untuk mengungkapkannya.
Karya Nh. Dini pertama yang kubaca. Bab-bab awal novel ini amat sederhana. Menceritakan keseharian anak kecil. Kegiatan di rumah, perjalanan ke rumah kakek, dan kegiatan bersama saudara-saudara.
Buku ini membuatku iri akan kehidupan Dini. Sempurna, dia hidup di keluarga dan lingkungan yang menurutku sempurna. Tidak terlalu menekan, fleksibel dengan perubahan zaman, interaksi antar anggota keluarga yang tidak kurang maupun berlebihan, masa kecil yang sungguh bahagia meskipun di tengah penjajahan. Kepandaian orang tua Dini dalam mengajarkan filosoofi hidup pada anak-anaknya sangat patut diapresiasi. Orang tua Dini mampu membawa anak-anaknya dalam melewati masa penjajahan dengan baik. Entahlah, aku terlalu sering membaca novel fantasi dan fiksi yang penuh dengan hal-hal yang dibuat-buat “kebetulannnya”. Aku senang membaca buku ini karena terasa sangat alami. Meskipun sebagian besar dari novel adalah cerita keseharian Dini tanpa konflik yang benar-benar berarti namun kesederhanaan cerita itulah yang menghanyutkan.
“Berisi kegaduhan alam pikiran seorang gadis kecil yang senantiasa berusaha mengurai kesukaran dan kemeranaan. Di matanya, dunia ini diciptakan hanya untuk orang dewasa. Tenteram dan permai.”
Disana semauanya kusukai: benda, binatang, manusia. Yang semula tidak kukenal, mulai kuketahui dan kumengerti, hingga sesudah beberapa hari berubah menjadi kawan karib sebagai bagian hidupku.
Begitulah kenangan NH. Dini kecil ketika menghabiskan liburan bersama keluarganya di rumah Kakeknya di desa Tegalrejo. Bersama Pamannya, Dini merasakan berbagai pengalaman pertama dalam hidupnya; memetik buah kelapa, menguak rahasia kebun, berkunjung ke kandang ternak, menelusuri sawah,belajar berenang di sungai. Di desa itu, dia merasakan keterbukaan dan keakraban dengan keluarganya. Bertolak belakang dengan perasaannya ketika menginap di keluarga Ibunya di Madiun, Dini tak merasakan keakraban sebagai sebuah keluarga.
Buku ini, merupakan buku pertama dari seri "cerita kenangan" NH.Dini. Kenangannya menghabiskan masa kecilnya bersama keluarga. Tentunya pengalaman itu sangat berarti, kebahagiaan menghabiskan waktu bersama keluarga menyerok ikan di belakang rumahanya ketika banjir tiba, pengalamannya menghabiskan bulan Puasa di desa bersama Kakaknya Maryam, perasaan yang campur aduk ketika pertama kali sekolah, ketakutan yang mendera ketika harus mengungsi dan berlindung dari bom dan peluru musuh, rahasia kecilnya antara Maryam dan Bapaknya. Buku ini juga memuat berbagai petuah dan pelajaran yang didapatkan dari orangtua dan Kakek-neneknya didesa. Salah satu petuah dari Ibunya yang mengingatkan Dini akan kehidupan di desa : Sabar dan lapangkanlah dadamu. Jangan selalu mau cepat marah. Ambillah bumi ini sebagai contoh. Dia kita injak, kita ludahi, kita belah, kita tusuk dan kita lukai dengan berbagai alat. Tetapi dia selalu sabar dan diam, selalu memberi kita makanan lezat dan berguna.. (hal.76) Kakek dan Nenenkanya yang mengajarinya ..untuk mengerti bahwa kita tidak bisa hidup bersendiri, karena seseorang memerlukan orang lain untuk merasakan gunanya kehadiran masing-masing. Kelakuan yang sama harus pula ditunjukkan kepada semua makhluk, termasuk binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Sebagai anak terkahir dari lima bersaudara (Heratih,Nugroho, Maryam dan Teguh), Dini merasa selau diperlakukan sebagai anak kecil yang tidak bisa apa-apa, terutama oleh Kakaknya Nugroho. bagiku orang dewasa adalah makhluk yang seringkali berkata, “Kamu masih kecil, belum boleh begini, tidak boleh begitu!” Orang dewasa lebih tinggi dan lebih besar, lebih bisa berbuat sekehendaknya. Begitu banyak yang tidak boleh diperbuat oleh kanak-kanak, sehingga aku berpikir bahwa dunia ini diciptakan hanya untuk orang dewasa". Dini kecil selalu jujur dengan apa yang dirasakannya.
Membaca buku ini, membuat saya terlempar berpuluh-puluh tahun silam, merasakan kebahagian dan kedamaian sebuah keluarga, juga ketakutan akan kondisi yang tak menentu akibat perang. Membaca buku ini, membuat saya menelisik kembali kenangan-kenangan saya di masa kecil dulu...
Penggambaran melalui kata-kata yg dilakukan Nh Dini membuatku secara otomatis membayangkan kira-kira seperti apa kondisi, suasana yang digambarkan saat membaca buku ini.
Sebuah Lorong Di Kotaku berisi pengamatan seorang anak perempuan berusia menejelang kelas nol atas peristiwa publik dan peristiwa privat di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada masa akhir pendudukan Belanda dan masa awal pendudukan Jepang di Indonesia.
Anak itu adalah Dini, seorang bungsu dari empat bersaudara. Bapaknya adalah seorang komis di perusahaan kereta api. Ibunya ibu rumah tangga. Mereka adalah keluarga yang cukup berada karena bisa mempekerjakan pembantu. Mereka tinggal di Sekayu, Semarang. Kakek-nenek dari pihak ibunya adalah kalangan menak yang tinggal di Ponorogo, sementara kakek-nenek dari pihak bapaknya adalah kalangan ahli spiritual yang tinggal di Tegalrejo.
Peristiwa privat yang dialami Dini adalah menangkap ikan bersama bapak dan kakak-kakaknya dari bendungan banjiran sungai Semarang yang masuk ke halaman rumahnya dan mengunjungi kakek-neneknya di Tegalrejo dan Ponorogo. Sementara itu, peristiwa publik yang dialaminya adalah hari-hari pertama sekolah di kelas nol dan pengungsiannya saat hari-hari pertama Jepang menduduki Indonesia.
Kunjungan keluarga Dini ke rumah kakek-neneknya memberi petunjuk tentang latar belakang sikap orang tuanya terhadap Dini dan kakak-kakaknya. Ibu Dini berasal dari keluarga menak yang formal. Rumah Pak Gede dan Bu Gede –sebutan yang dipilih kakek-nenek Dini dari pihak ibu— dipenuhi tata krama yang mengikat. Misalnya, saat datang Dini sekeluarga mesti mencium kaki Pak Gede dan Bu Gede, anak-anak hanya boleh memakan makanan sisa orang tua, selama di sana bapak dan ibu Dini banyak memperingatkan anak-anaknya tentang sikap mereka, dst.. Maka, wajarlah ibu Dini mendidik anak-anaknya dengan sikap yang tegas dan eksplisit. Misalnya, anak-anak tidak boleh bicara kalau makan, hanya boleh membeli barang-barang oleh-oleh sementara makanan harus menyiapkan sendiri saat bepergian, ibunya memarahi anak-anak saat mereka pulang terlalu sore dari bermain, ibunya melarang anak-anak untuk pergi ke Gedung Harmoni untuk mengambil barang-barang yang tersisa di sana setelah penyerangan Jepang, dst.. Sebaliknya, bapak Dini justru orangnya lebih santai. Dia bermain-main kotor-kotoran dengan anak-anak di tengah perjalanan sampai-sampai ditegur istrinya. Dia diam-diam bersama Dini dan kakaknya, Maryam, memelihara burung, binatang peliharaan yang sebenarnya tidak disukai istrinya. Dia pun memperbolehkan anaknya untuk ikut bersamanya ke Gedung Harmoni. Bapak Dini berasal dari keluarga ahli spiritual yang sikapnya lebih terbuka. Kyai Wiryabesari, kakek Dini itu, memperbolehkan anak-anak untuk bicara di tengah-tengah makan dan memperbolehkan anak-anak untuk memakan makanannya sendiri, memperbolehkan anak-anak untuk mengambil buah-buahan yang ada di kebun, dst.. Keterbukaan sikap ini wajar apalagi kalau mengingat bahwa Kyai Wiryabesari memiliki banyak murid spiritual.
Dalam peristiwa-peristiwa itu pun tampak kecenderungan Dini pada nilai-nilai tertentu atau pada orang-orang tertentu. Dalam kaitan dengan kakek-neneknya, Dini lebih sepakat dengan etika di rumah Kyai Wiryabesari. Lebih lanjut, kecenderungan ini tampak pada kerelaan Dini untuk mengikuti ajaran-ajaran kakeknya, seperti berpuasa bukan demi agama atau pahala, melainkan demi mengendalikan diri dan mengenal diri sendiri. Dini tidak suka ‘dianak-kecil-anak-kecilkan’. Makanya, dia kurang bisa akrab dengan salah satu kakaknya, Nugroho, yang suka memperlakukannya demikian. Lebih dari itu, Dini tidak suka dengan sikap kakaknya yang gampang saja main fisik. Dia suka pada orang-orang yang punya kehalusan hati. Dini lebih suka pada orang-orang yang bisa bersikap sejajar dengan dirinya. Makanya, dia lebih suka pada keluarga Kyai Wiryabesari daripada keluarga Pak Gede. Makanya juga, dia lebih suka pada Maryam daripada kakak-kakaknya yang lain. Nugroho dan Teguh suka menganak-kecilkannya, sementara Heratih, kakaknya sulung, lebih bersikap sebagai pamong daripada kawan. Daripada dengan kakaknya lelaki, Dini lebih menunjukkan keakraban dengan pamannya yang umurnya tidak jauh lebih tua dari Heratih, Paman Sarosa.
Di antara peristiwa-peristiwa itu terselip petunjuk tentang keberpihakan bapak Dini dalam urusan politik. Bapak Dini mendenda anak-anaknya yang berbahasa Belanda di rumah. Dia mewajibkan anak-anaknya berbahasa Jawa di rumah. Dalam kedudukannya sebagai pegawai jawatan kereta api, dia merasa diperlakukan tidak adil oleh atasannya dalam hal honor. Saat mengetahui alat-alat musik yang diajarkan di sekolah Dini (terompet, harmonika, dan gitar –alat-alat musik Eropa), bapak Dini mencemooh kebijakan pendidikan budaya di sekolah anaknya itu. Oya, bapak Dini adalah orang Taman Siswa. Bapak Dini bukan orang yang pro-Belanda.
Sebuah Lorong Di Kotaku adalah upaya seorang anak untuk melacak asal-usul nilai-nilai yang ada di lingkungannya dan memilah-milih mana yang disepakatinya atau tidak disepakatinya dengan disertai alasan-alasannya.
this is actually the second NH dini book I’ve read, after Pada Sebuah Kapal, and i can definitely see her style evolving. she’s still super reflective and intimate in her writing, but this one focuses more on city. the story takes you through life in a quiet lane in the city, showing small moments, everyday people, and interactions that often go unnoticed. NH dini has this amazing way of making ordinary things feel meaningful. gak tau kenapa. you get pulled into the rhythm of the lane, the tiny dramas, the small joys, and even the mundane frustrations—it’s subtle, but it sticks with you.
the characters di buku ini feel real and relatable. ya orang biasa aja, but NH dini has this way of making you see their inner thoughts, little worries, small joys, and tiny triumphs. you get the sense that these aren’t “perfect” characters, they’re flawed, sometimes awkward, sometimes a little lost, but that’s exactly what makes them feel human. you follow them as they move through the city lane, dealing with everyday life, small dramas, and interactions that might seem minor but actually reveal a lot about who they are. you feel their loneliness, their curiosity, their small bursts of happiness, and even their frustrations.
if you loved Pada Sebuah Kapal, you’ll probably enjoy this one too. it’s quieter, more introspective, and still poetic, but in a way that makes you feel like you’re wandering alongside the characters rather than just watching. NH dini’s writing pulls you in without forcing you—it’s gentle, thoughtful, and strangely immersive.
Lorong waktu masa kecil yang indah (namun juga menyimpan rasa ngeri karena berhimpitan dengan masa-masa pecahnya perang di mana Jepang membawa ketakutan ke seluruh negeri) Ini mungkin adalah jenis buku yang menjemukkan, apalagi kalau pembaca terbiasa dengan cara bertutur penulis yang berbeda. Tapi meski begitu, buku ini tetap menarik untuk diikuti meski hanya sebagai pengisi waktu luang (bacaan ringan). Dan saya baru tahu kalau dulu sudah ada sistem kereta yang transit, berpindah jurusan dari stasiun lain seperti krl saat ini. Detail alam adalah yang paling dominan di sini, ya, saya bisa membayangkannya. Ada banyak hal yang bisa jadi pesan yg disampaikan pada generasi saat ini, terutama mengenai bersahaja dalam berpakaian ke sekolah. Dan saya suka kutipan berikut ini:
"Kau tidak kelihatan seperti akan ke pesta. Kau nampak betul-betul seperti akan bersekolah," katanya, lalu menambahkan, "lebih baik berpakaian dan berdandan sesederhana mungkin buat bersekolah. Tidak ada gunanya memakai yang bagus-bagus, apalagi jika ternyata kurang maju belajar lalu mendapat angka-angka buruk. Hal yang penting adalah kebersihan badan dan apa yang kaupakai."
Buku kecil ini merupakan kenangan masa kecil salah satu penulis wanita yang paling terkenal dan disayangi di Indonesia. Ibuku besar dengan membaca Nh Dini, dan ketika aku cukup umur, aku juga mengambil edisi buku milik Ibuku yang sudah tua, coklat dan berbau buku lama, dan menikmati masa kecil Dini yang begitu menarik.
Ketika membaca ulang buku ini pada umur yang lebih dewasa, aku masih bisa mengakui keindahan tulisan Nh. Dini yang indah dan menarik perhatian. Kehidupannya sangatlah jauh dari masa modern sekarang yang penuh dengan alat digital, transportasi yang lebih modern, dan alam dan situasi politik yang berbeda dari masa kecil yang ada di buku ini. Namun kita masih bisa menikmati cerita Dini, hidupnya yang sederhana di rumahnya bersama keluarganya yang besar dan saling menyayangi. A really nice trip down memory lane.
Ceritanya simpel dan sangat sederhana. Mungkin juga bagi sebagian besar pembaca, tak ada yang istimewa dari buku setipis ini.
Tapi aku cukup menyukai bagaimana Nh. Dini menuliskan kesehariannya dari pandangan seorang gadis kecil. Suasana perjalanan menuju rumah kakek nenek di desa, bermain di kebun atau saat membuat bendungan sederhana di rumah mereka. Rasanya seperti membaca diari nenek 🥰 melihat bagaimana anak kecil pada masa itu menghabiskan waktunya meski tanpa gawai. Rasanya segar dan menenangkan. Dan banyak juga pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini.
Kisah ini ditulis dengan sangat jujur, sederhana, namun tetap runut. Mulai dari zaman penjajahan Belanda hingga masuknya Jepang lewat Tuban. Tipis dan bisa dibaca dalam sekali duduk.
Suka banget dengan karya Ibu Dini yang seri Kenangan, kisahnya menyentuh hati banget. Dalam buku ini bisa kurasakan besarnya cinta dan kekaguman seorang Dini pada orang tua, paman dan kakek neneknya dari pihak ayah. Masa kecil yang sangat indah dan meninggalkan kesan mendalam, mungkin itu sebabnya beliau bisa sedemikian gamblang menceritakan kembali.
Buku NH Dini yang paling saya suka. Saya membaca saat masih duduk di SMP. Hampir 20 tahun yang lalu. Saking sukanya pinjam berkali-kalo dari perpustakaan.
Sebuah novel menyentuh tentang kekeluargaan di daerah di Indonesia.
Serial kenangan NH.Dhini, salah satunya Lorong Di Kotaku, pertama kubaca saat aku masih sekolah dibangku SMP. Cerita runtun, bahasanya sederhana, membacanya seolah olah aku berada disisi Dini kecil saat itu. Masa kecil Dini di kota semarang,, adeeem rasanya
Udah baca ini tapi kok belum ditambah sampai sekarang ya? Yang kuingat soal pergi jalan-jalan naik kereta api rame-rame. Baiklah, kapan-kapan bongkar gudang dan baca ulang... (kalau ingat).
"Orang mengatakan mau ini dan itu. Tetapi kebanyakan dari mereka, yang sesungguhnya, hanya meniru orang-orang lain." Kata bijak dari Nh. Dini yang mampu mengubah pandangan hidup.
buku pertama triloginya nh dini. menceritakan tentang pengalaman masa kecilnya dia sama keluarganya ketika masa penjajahan belanda hingga kependudukan jepang
Sabar dan lapangkanlah dadamu. Jangan selalu mau cepat marah. Ambillah bumi ini sebagai contoh. Dia kita injak, kita ludahi, kita belah, kita tusuk dan kita lukai dengan berbagai alat. Tetapi dia selalu sabar dan diam, selalu memberi kita makanan lezat dan berguna. (hal.76)
Sebagai pembuka Serial Kenangan, Sebuah Lorong di Kotaku menceritakan masa-masa awal kehidupan seorang Nh. Dini yang terekam kuat dalam memorinya. Dini bercerita dengan gaya bertutur yang jujur. Membuka semua tabir yang menyelimuti dirinya. Segala kenangan masa kecil yang terekam masih jelas dalam benaknya. Kelak, semua cerita yang disajikan dalam buku beliau lainnya, akan menemukan benang merah historis dengan memoar dari serial kenangan ini.
Cerita dimulai sejak Dini menempati rumah yang dipilih ibunya di Semarang. Rumah yang menyimpan banyak cerita itu meninggalkan kenangan yang mengakar kuat pada Dini. Dini kecil tumbuh sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Dini besar di lingkungan keluarga besar yang memegang teguh adat istiadat tradisi Jawa halus. Mungkin itu sebabnya, ada pengaruh dari hal itu pada gaya menulis yang serba teratur.
Permasalahan utama dalam diri Dini mencuat menjelang pertengahan buku ini. Ketika itu, Dini sekeluarga pergi berlibur ke rumah Kakeknya di desa Tegalrejo. Semua kejadian yang berlangsung sejak keberangkatan seluruh anggota keluarga hingga selesainya liburan itu sangat membekas dalam diri Dini. Betapa Kakeknya ternyata menaruh perhatian terhadapnya. Tidak seperti yang Dini bayangkan sebelumnya.
Kehidupan alam pedesaan di desa Tegalrejo menarik perhatian Dini. Barangkali pula itu sebabnya, Nh. Dini menulis serial berikutnya yang berjudul “Langit dan Bumi Sahabat Kami”. Kemudian, Dini mulai masuk sekolah. Bekal pendidikan yang dienyamnya di rumah dari sang Ibu turut dibawanya serta ke sekolah sehingga tak pelak Dini menjelma menjadi anak yang penurut, penuh dengan tata krama.
Kekuatan ingatan Dini teruji ketika melukiskan kembali suasana perang. Pada saat itu, Jepang mencanangkan Perang Pasifik dengan pengeboman ke Pearl Harbour. Jepang berusaha menaklukkan sebanyak mungkin kekuatan Sekutu yang bercokol di Asia Tenggara. Belanda berusaha sekuat mungkin untuk menahan gempuran Jepang. Namun, pada akhirnya Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati.
Menjelang datangnya serangan yang sudah ramai diramalkan akan terjadi, Dini sekeluarga mengungsi ke kampung sebelah. Sementara, sang Ayah tinggal di rumah mereka guna memastikan keamanan disana. Perang secara besar-besaran tidak (atau belum) terjadi di Semarang. Semua kejadian dimana Dini mendengar desing-desing bom yang jatuh dari pesawat pembom, kemudian dentuman dari tangsi-tangsi polisi Belanda yang dibom Jepang, terekam dalam memori Dini. Hal ini sangat penting untuk mencoba menggali kembali sudut pandang sejarah dari seorang penutur yang mengalami masa perang tersebut.
Catatan Seorang Kolumnis Dadakan
Sebuah Lorong di Kotaku membuka daftar bacaan saya pada tahun 2013 ini. Agaknya, pengalaman dengan karya Nh. Dini sebelumnya membuat saya terangsang untuk kembali menikmatik karya berikutnya. Saya sengaja memilih buku pembuka Serial Kenangan ini untuk mendapatkan imaji tentang sosok Nh. Dini, tentang hal-hal apa saja yang berkecamuk dalam pikirannya sejak awal. Bisa dikatakan, saya sedang mencari bentuk prototipe pertama karya seorang Nh. Dini. Hal ini saya anggap perlu untuk kemudian bisa melanjutkan pembacaan atas karya Nh. Dini lainnya.
Sebuah Lorong di Kotaku adalah buku ketiga dari Nh. Dini yang saya baca setelah "Argenteuil" dan "Namaku Hiroko". Yang paling berkesan sepanjang pengalaman membaca buku ini adalah (lagi-lagi) gaya penulisan Nh. Dini yang mengalir. Segala latar dan kejadian diceritakan dengan detail yang mengagumkan. Tentu, ini merupakan kekuatan tersendiri bagi seorang Nh. Dini. Pengalaman serupa memang masih saya rasakan. Pengalaman tersebut selalu membuat rasa penasaran itu muncul lagi.
Saya ingin menemukan interkoneksi dari buku-buku Nh. Dini. Baik dari Seri Kenangan maupun seri Novelet. Saya yakin ada hubungan antara keduanya. Bila boleh membuat hipotesis sementara, Seri Kenangan sebagai memoar perjalanan kehidupan Nh. Dini memuat kisah sepanjang episode kehidupan merupakan suatu landasan/kerangka bagi Seri Novelet. Fragmen-fragmen dari Seri Kenangan dimunculkan kembali secara detil melalui Seri Novelet. Jadi, keduanya tampil sebagai suatu esensi yang terpisah tetapi sesungguhnya merupakan satu bagian entitas yang tak terpisahkan.
Buku ini, dibilang novel juga sepertinya tidak memenuhi kaedah novel yang katanya minimal jumlah halamannya 200 halaman. Karena jumlah halamannya hanya 105 halaman, yang tidak jauh berbeda dengan jumlah halaman novel Sebelas Patriot. Buku ini merupakan catata harian dari penulis terkenal, Nh. Dini di masa-masa ketika usianya masih sangat kecil. Menceritakan tentang kehidupan keluarga kecilnya yang terdiri dari seorang ayah, ibu, 2 orang kakak perempuan bernama Haryati dan Maryam, 2 orang kakak laki-laki bernama Teguh dan Nugroho, serta dirinya sendiri selaku anak Bungsu. Sungguh merupakan jumlah anggota keluarga kecil yang cukup banyak menurutku, jika dibandingkan dengan jumlah keluarga kami yang hanya terdiri dari bapak, ibu, aku dan seorang kakak perempuan. Dini memulai ceritanya dengan mendeskripsikan latar rumahnya yang memiliki halaman pekarangan --dikatakan kebun-- yang cukup luas di belakang rumahnya. Menjelaskan mengenai kesehariannya selama sebelum masuk ke dunia sekolah. Dia juga bercerita mengenai keseruannya melihat ayahnya membuat bendungan dan menangkap ikan saat banjir di kebun belakang rumah. Seru sekali rasanya bisa bermain bersama ayah dan kakak-kakak, dipenuhi dengan keramaian dan keceriaan, membuatku merindukan masa-masa menjadi kanank-kanak. Dini juga menceritakan kemeriahan liburannya ke rumah kakeknya di desa. Di dalam cerita ini aku membayangkan betapa cukup repotnya jika akan pulang kampung di masa-masa itu. Harus menaiki banyak kendaraan umum, sambung-menyambung dari satu kendaraan ke kendaraan yang lain hingga akhirnya bisa sampai ke desa tujuan. Namun, yang namanya pulang kampung memang selalu menggembirakan apalagi ke desa yang asri dan disertai dengan kehidupan pedesaan yang masih begitu lekat kekeluargaan sesama penduduknya. Begitupun Dini yang merasakan kegembiraan tersebut. Bermain di sawah, kebun, bercengkrama dengan kakek dan nenek yang dicintai dan mencintainya, tentu sangat menyenangkan. Dini juga menceritakan tentang sifat-sifat tokoh dalam cerita ini. Menceritakan ayahnya yang bijaksana, ibunya yang lembut tapi tegas, kakak-kakak perempuannya yang menyenangkan, dan kakak-kakak laki-lakinya yang terkadang menyebalkan, pamannya yang baik, serta menceritakan watak kakek dan neneknya yang menyayanginya. Bagian cerita di masa-masa awal Dini masuk sekolah, aku juga seperti merasakan terulangnya memori saat-saat pertama masuk sekolah TK. Namun cerita ini begitu berbeda latarnya, karena perbedaan waktu yang sangat jauh. Dini lahir di masa sebelum kemerdekaan Indonesia, sehingga tergambar betul di benakku akan perbedaan keadaan di masa itu dan masa sekarang. Bahkan, Dini juga sempat merasakan saat-saat masa perang. Bagaimana keluarga mereka dan seluruh masyarakat lain di masa itu bersiap-siaga akan datangnya perang, mengungsi, menyiapkan barang-barang, berlindung, dan lainnya. Bahkan dia juga menceritakan masa dimana desa di sebelah desa tempatnya tinggal dijatuhkan bom oleh Jepang yang akan mengambil alih dari tangan pemerintahan Belanda. Aku suka dengan cerita di buku ini. Karena menurutku, membaca sesuatu yang berasal dari catatan harian yang benar-benar terjadi itu merupakan suatu hal yang menyenangkan. Terlebih jika cerita tersebut mengisahkan mengenai kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lampau yang tidak pernah aku rasakan di masa sekarang. Sehingga, dengan membacanya aku dapat ikut merasakan bagaimana kehidupan di masa lalu dan mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa tersebut. Beberapa kalimat yang aku suka dari buku ini, berikut kutipannya: Sabar dan lapangkanlah dadamu. Jangan selalu mau cepat marah. Ambillah bumi ini sebagai contoh. Dia kita injak, kita ludahi, kita belah, kita tusuk dan kita lukai dengan berbagai alat. Tetapi dia selalu sabar dan diam, selalu memberi kita makanan lezat dan berguna. (Kata Ibu kepada anaknya: hal.76) Oya, cerita tentang kecintaan ibu dan keluarganya Dini terhadap kucing juga membuatku teringat akan Yoga, kucing kami di rumah. Kata ibu, kucing di rumah sudah bertambah 1 lagi. Nama kucing yang baru adalah Macan, karena kata ibu kucing yang baru ini lebih garang daripada Yoga. Ah, jadi rindu rumah kan..
Satu kata setelah membaca buku ini, ‘detil’. Aku belum pernah membaca buku yang ditulis oleh NH. Dini. Awal mulanya aku mencari buku yang ditulis beliau berjudul ‘Pada Sebuah Kapal’ rujukan dari teman menulis duetku. Rupanya buku itu sudah sulit sekali ku cari di toko buku. Akhirnya demi mendapatkan referensi menulis, aku beli buku ini.
Timbul rasa kagum setelah membaca tulisan beliau. Begitu runut, latar belakang cerita jelas dan yang terpenting adalah detil.
Sebuah Lorong Di Kotaku ini adalah kisah nyata kehidupan masa kecil beliau. Buku 105 halaman ini bercerita dengan rinci masa kecil NH.Dini. Begitu detil beliau melukiskan sosok ibu dan ayahnya. Kisah perjalanan liburan keluarga dari Semarang ke Tegalrejo, ke rumah kakeknya. Bagaimana obrolan beliau dengan kakeknya.
Masa kecilnya begitu jelas sekali terpatri di ingatan beliau. Padahal waktu itu umur beliau masih belia, baru mau masuk sekolah taman kanak-kanak.
Sungguh takjub aku dibuatnya. Kisah masa kanaknya ditulis dengan begitu detil, rinci tanpa perlu menjadi beratus-ratus halaman. Kisah sederhana yang apik sekali.
Mungkin komentarku terkesan berlebihan, karena aku belum terbiasa menulis cerita dengan gaya detil maka membaca tulisan beliau ini membuatku takjub.
Ini baru satu karya beliau yang aku baca. Jadi ingin membaca karya lain beliau. Setiap gerak, setiap tempat, kejadian diceritakan lengkap. Sebagai pembaca aku jadi bisa memvisualkannya jelas. Sosok ayah, ibunya, kakak-kakaknya. Keadaan rumah beliau di Semarang. Tempat tinggal kakeknya di Tegalrejo.
Karena seting cerita jaman pergantian penjajahan Belanda ke penjajahan Jepang, NH.Dini juga menceritakan sedikit saat perang terjadi di daerah dekat rumahnya dan perjalanan mereka mengungsi. Bahkan beliau juga menceritakan mimpinya di kala itu.
Aku perlu lebih banyak membaca tulisan-tulisan beliau sebagai referensi menulis dengan detil.
Sekarang aku sudah ada gambaran lagi tentang model cerita yang dimaksud teman nulisku itu.
Semoga saja di bagianku berikutnya ceritanya bisa lebih detil lagi ya mas, hasil belajar dari NH. Dini :)
Awalnya saya membeli buku ini ketika saya duduk di bangku kelas 1 SMP/kelas 7. Saat itu, atas perintah guru Bahasa Indonesia saya, buku ini menjadi salah satu buku wajib baca saya pada masa itu. Sayangnya, saya tidak berhasil menyelesaikan buku itu waktu itu. Pada masa itu, saya lebih menggemari komik dan novel Bhs. Inggris. Tapi setelah 11 tahun, akhirnya saya memutuskan membaca buku ini juga. Seperti yang sudah dituturkan sebelumnya dalam review lain, buku ini memiliki sedikit sekali halaman - tidak sampai 200 - sehinnga tidak bisa disebut novel juga. Namun, tentu saja sebagai cerita pendek terlalu panjang. Kisahnya sederhana tentang pengalaman Sang Penulis sendiri ketika ia berumur sekitar 5-6 tahun, masa-masa sebelum dan ketika Jepang tiba di tanah air. Termasuk cerita yang tidak terlalu beritik berat pada hikmahnya, karena hingga akhir penulisannya seperti cerpen yang tidak jelas mulainya dan akhirnya, tanpa klimaks atau pun plot yang jelas. Bukan termasuk buku yang saya sukai, jujur saja. Namun sedikitnya buku ini mengajarkan tata krama orang zaman dahulu dengan zaman sekarang yang sama sekali berbeda. Buku ini juga memberikan gambaran kehidupan di zaman perang dan zaman penjajahan yang nyata, karena dialami sendiri oleh Bu Nh. Dini. Yang saya sayangkan hanya saja, buku ini bisa menjadi lebih tebal dan menarik jika saja Bu Dini memutuskan untuk menulis kelanjutannya, setelah tentara Jepang berhasil menduduki Indonesia dan mengusir orang Belanda.
Sudah lama pingin membaca buku ini, dan akhirnya kesampaian atas kado ulang tahun dari kawan. Buku yang saya baca ini cetakan ketiga terbit Mei 1990, 2 bulan sebelum aku lahir.
Buku ini adalah seri pertama dari Serial Kenangan NH Dini. Karya yang sangat halus. Andai semua bisa diceritakan sedemikian detail dan bahagia...
Buku ini bercerita tentang Dini kecil, memiliki rumah di Semarang. Dengan keempat saudaranya (Heriatih, Nugroho, Maryam, dan Teguh) menghabiskan hari-hari di rumah yang diceritakan sangat asri. Kejadian-kejadian yang menjadi kenangan Dini kecil diceritakan dengan snagat detail. Mulai kejadian menjaring ikan di kebun belakang rumah saat banjir, berkunjung ke rumah kakek dari ayah di Tegalrejo, Madiun, lalu hari pertama sekolah, dan perang Jepang yang mengusir Belanda di Semarang. Semua detal!!!
aku suka. Buku ini mengingatkan kegiatan-kegiatanku masa kecil, aku sangat suka romantisme keluarga yang digambarkan apik di buku ini. Aku tidak ragu dengan lima bintang pada buku ini.
"Menurut cerita yang di kemudian hari kudengar, ibuku tidak pernah dapat menerangkan mengapa dia begitu tertarik kepada rumah itu. Banyak sebabnya, tetapi sekaligus tak ada sesuatu yang pasti. Seperti halnya jika seseorang jatuh cinta, seringkali tanpa bisa menerangkan dasar-dasar perasaannya."
Eyang Dini selalu dapat merangkaikan kumpulan kata-kata jadi sebuah hal yang menghangatkan hati ketika dibaca. Ketika aaya membaca deskripsi Eyang Dini mengenai rumah yang dipilih Ibu beliau di awal pernikahannya, seketika saya langsung membayangkan sebuah rumah sederhana yang teduh, menyenangkan, dan terletak di sebuah gang yang tidak terlalu jauh dari jalan yang sekarang bernama Jalan Pemuda. Deskripsi yang pas. Apik. Indah. Hangat.Nggak tau harus bilang apa lagi. Pokoknya Eyang Dini FTW.
Ahh! Akhirnya saya selesai membaca buku pertama seri cerita kenangan yang ditulis oleh Nh. Dini. Konon katanya buku ini adalah cerita dikala ibu Dini masih kecil dan bertempat tinggal di rumah Ungaran, Semarang. Sekali lagi saya terpukau dengan pendeskripsian detail mengenai latar belakang, suasana saat itu dimana tentara Belanda terdesak oleh kedatangan tentara jepang, suasana kekeluargaan yang sangat kental sekali dalam keluarga Ibu Dini..
Membaca buku ini mengingatkan saya pada buku Keluarga cemara.. sederhana, keluarga, cinta kasih yang banyak didapat didalam isi buku ini.. buku ini patut saya berikan 3,8 dari 5 bintang! *___*
Masih terpesona dengan kalimat, "Kakakku Maryam menyiapkan buku tulis untuk mencatat semua kota dan desa penting yang kami lalui, hasil bumi terpenting dari sana dan sebagainya." Betapa semangatnya mereka untuk belajar dengan berbagai cara.
Juga dengan kalimat, "Barangkali melihat-lihat seluruh isi stasiun, membuka-buka setiap buku dan setiap majalah di kios buku tanpa membeli satu pun, atau mengunjungi deretan kamar-kamar kecil, mencobanya satu-satu." Sungguh gambaran penyuka buku.
Setelah bertahun-tahun akhirnya buku ini bisa kujumpai lagi dan kembali kubaca.Sadarlah aku mengapa cerita kenangan Nh. Dini sangat berkesan dihati karena kedekatannya dengan masa kecilku sendiri atau lebih tepatnya membangkitkan ingatan manis akan masa kecil. Bagaimana posisinya dalam keluarga, hubungannya dengan saudara-saudaranya. Nh. Dini bisa mengungkapkan dengan jelas bagaimana ia disaat kanak-kanaknya, apa yang dipikirkannya, apa yang dirasakannya, dari sudut pandangnya sebagai anak kecil.
Saya pernah tinggal di bedagan, kampung seberang sekayu... membaca buku ini bagaikan memutar kembali waktu dan membuka kenangan2 masa lalu... indah, puitis, sekaligus magis... entah kenapa nikmat sungguh rasanya menyelami imajinasi yang tercitrakan di alam pikiran ketika membaca buku ini... hiperbolis..?? mungkin, karena ada romansa tersendiri bagi saya ketika NH. Dini menceritakan kenangan2nya didalam buku ini...