Jump to ratings and reviews
Rate this book

Bukavu

Rate this book
Bukavu adalah kumpulan cerita tentang cinta yang tercabik di sana sini karena ulah manusia yang konon tengah melakukan cinta pula. Sebuah karya yang lahir dari kepedulian dan cita, dengan totalitas yang terbangun oleh berbagai unsur intrinsiknya secara terpadu. Helvy menulis berbagai hal yang tak bisa tidak akan terus menetap di hati dan pikiran pembaca, “mengganggu” dan memaksa pembacanya bergerak ke arah niscaya.

Kumpulan cerpen ini memuat 18 karya Helvy Tiana Rosa dalam rentang 1992-2005. Sebuah karya yang tak diragukan lagi dari seorang pengarang sekaligus dosen sastra yang pernah meraih lebih dari 20 penghargaan tingkat nasional di bidang kepenulisan dan pemberdayaan masyarakat.

228 pages, Paperback

First published April 1, 2008

Loading...
Loading...

About the author

Helvy Tiana Rosa

76 books950 followers
Helvy Tiana Rosa is widely recognized for her works in Indonesian literary and for her relentless efforts to encourage people, especially the young, poor and women, to write and publish their own works.

She was born in Medan, 2 April 1970 and had a bachelor and master degree of literature from Letters Faculty of University of Indonesia. She wrote more than 50 books, like Juragan Haji (The Juragan Hajj, 2014), Tanah Perempuan (The Woman’s Land, 2009), Segenggam Gumam (A Graps of Murmur, 2003), Mata Ketiga Cinta (The Third Eyes of Love, 2012) and Ketika Mas Gagah Pergi (When Mas Gagah Leaves, 1997). Some of her works were already translated in English, Japanese, Arabic, Swedish, German, French, and so forth. She was frequently invited to speak and read her works both in Indonesia and abroad, like Malaysia, Brunei, Singapore, Thailand, Hong Kong, Japan, Egypt, Turkey, and USA.

In 1990 she established Teater Bening as a director and script writer for the play performances. She was the former editor and the Chief Editor of Annida Magazine and later she involved intensively to help the emergence of writers from different social backgrounds in many cities in Indonesia and abroad through Forum Lingkar Pena (FLP) which was founded by her in 1997. Koran Tempo named her as Lokomotif Penulis Muda, A Locomotive of Young Writers, and The Straits Times named her as a pioneer for contemporary Indonesia Islamic literature (2003).

Helvy received more than 40 awards of national level in the field of writing and community empowerment, like A Literary Figure from Balai Pustaka and Majalah Sastra Horison (2013), A Figure of Books of IBF Award from IKAPI (2006), A Literary Figure of Nusantara Islamic Literary Festival (2016), A Literary Figure of Eramuslim Award (2006), Ummi Award (2004), Nova Award (2004), Kartini Award as one of The Most Inspiring Women in Indonesia (2009), and SheCAN! Award (2008). Her poem Fisabilillah was The Winner of Iqra Poetry Writing Competition of National Level in 1992, with the juries: HB Jassin, Sutardji Calzoum Bachri and Hamid Jabbar. Her short story Jaring-Jaring Merah was appointed as one of the best short stories of Sastra Horison Magazine in one decade between 1990 and 2000. Bukavu (LPPH 2008) was a nomination of Khatulistiwa Literary Award in 2008 and she became The Most Favourite Poet, and her work Mata Ketiga Cinta was chosen as as The Most Favourite Poetry Book of Indonesian’s Readers from Goodread Indonesia in 2012. She was arwaded an honour of Anugerah Karya Satya Lencana from the President of the Republic of Indonesia (2016).

She became a member of Jakarta Arts Council (2003-2006) and as the Founder and the Advisor of Bengkel Sastra Jakarta and also as a Member of The Southeast Asia Board of Literature (2006-2014). Now, she is a vice chair of Islamic Culture and Art Development Commision, The Council of Islamic Scholars of Indonesia, and a Member Social and Art Commision, The Council of Islamic Women Scholars of Indonesia.

Helvy then was listed in 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia (33 People of The Most Influencial Literary Figures in Indonesia) written by Jamal D. Rahman et al (Gramedia, 2014). For nine years, from 2009 to 2017, She was also chosen out of 20 Indonesian people who were listed in 500 People of The Most Influencial Moslem Figures in the World, as research result conducted by Royal Islamic Strategic Studies Centre, in Jordan with several high rank universities in the world.

Recently, she took charge as a producer for two movies based on her novel 'Ketika Mas Gagah Pergi." The first movie was released in 2016 under the same name. The sequel 'Duka Sedalam Cinta' is planned to be released in 2017.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
116 (43%)
4 stars
73 (27%)
3 stars
57 (21%)
2 stars
17 (6%)
1 star
3 (1%)
Displaying 1 - 30 of 69 reviews
Profile Image for Sastra.
10 reviews
September 22, 2008
Buku yang memuat 18 cerpen Helvy yang berserakan dari tahun 1992-2005. Meski beberapa cerpen sudah pernah saya baca, Bukavu tetap terasa segar dan baru.

Dalam Bukavu, secara keseluruhan terasa bahwa Helvy kerap memilih narasi-narasi yang sangat puitis bagi tiap cerpennya, kecuali cerpen "Titin Gentayangan" yang berlatar budaya Betawi nan kental. Cerpen2 tsb terasa indah walau banyak bicara tentang kekerasan. Helvy pun setia bicara mengenai isu-isu HAM terutama menyangkut peran perempuan. Ia bahkan membuat semacam rekonstruksi sosok perempuan. Permpuan-perempuan dalam BUKAVU menjadi sangat menarik dan menjelma sosok yang sangat mengagumkan---meski tak dibuat sempurna.

Tiap cerpennya mencengangkan, sangat menawan!

Selamat buat Helvy! Bukavu buku yang luar biasa.

PS: Cerpen Cut Vi terasa menggetarkan!
Profile Image for Tisa.
3 reviews
March 25, 2008

Kumpulan cerpen pilihan dari Helvy. Cerita-ceritanya bagus dan tak biasa. Bukavu nama sungai yang pernah dipuja keindahannya oleh Ernest Hemmingway, tapi kemudian jadi kubangan duka. Soal kubangan duka tersebut yang kayaknya secara keseluruhan diangkat Helvy, namun tetap dengan gaya optimisnya. Sangat menarik.
Profile Image for Tomi.
Author 2 books14 followers
April 28, 2008
This the new book from my favorite Indonesian literary author Helvy Tiana Rosa --who fortunately is also my wife ;-)

Comprised of 18 short stories, the book brings us to many places, in different time settings to tell about love, misery, desire of the characters. Helvy shows her skill to play with words and plot, but the best thing is her ability to drive the emotion of the reader, up and down, in almost every paragraph.

Unfortunately, the editor of the book is not as skilled as the author. You can find many typo-errors spread across the pages --some pages are worse than others. Although many pages are error-free, it's still irritating.

As publishing is one of the job where the phrase 'the devil's in details' rules, there is no excuse for these rather-reckless editing work --the publishing house can't escape from the responsibility.

I hope the second edition can be much better and I think an English version should be available for international readers.

Profile Image for Abdurahman.
Author 9 books141 followers
March 25, 2008

Aku senang buku ini. Bagus dong. Kalau buku bunda, udah aku nggak bisa ngomong selain bagus hehehe ;p
Profile Image for I'i.
5 reviews
May 13, 2008
Bukunya rumit tapi indah dan waaaaahhh gimana gitu bacanya!
Terasa banget penulisnya Helvy Tiana Rosa memang cerdas sekali!
Ini karya sastra pengarang perempuan kita yang bikin gue bangga banget!
3 reviews
May 13, 2008
It's amazing. I love all of the stories in this book. Everything is in detail, really beautiful but still makes me shock! Helvy is one of a great Indonesian author!
Profile Image for Rahmadiyanti.
Author 15 books176 followers
November 26, 2008
Pada tahun 1954, Ernest Hemmingway, penulis legendaris AS datang ke kota Costermansville, Zaire. Saat melihat Danau Kivu yang terletak di kota tersebut, penulis The Old Man and the Sea ini begitu terpukau akan keindahan Kivu dan menyebutnya sebagai keindahan yang sama sekali belum pernah ia saksikan sepanjang hidup. Kota Costermansville sendiri telah berganti nama menjadi Bukavu. Empat puluh tahun setelah Hemmingway menapakkan kaki di Bukavu, terjadi peristiwa pembantaian etnis Tutsi oleh suku Hutu. Lebih dari 800.000 nyawa melayang dalam peristiwa tersebut. Ribuan warga Rwanda mengungsi ke perbatasan hingga masuk ke Bukavu, Zaire.

Tragedi Rwanda dan kesan Hemmingway terhadap Danau Kivu disandingkan oleh Helvy Tiana Rosa (HTR) menjadi cerita yang memikat sekaligus menyayat hati. Cerpen “Bukavu” hanya satu dari dari 18 cerpen yang terkumpul dalam buku ini, yang merupakan “perjalanan” HTR dalam dunia sastra dalam rentang 1992-2005. Tentu, tak semua karya HTR selama karier kepenulisannya tercakup dalam buku ini. Tapi 18 cerpen ini, paling tidak, merupakan rekam jejak betapa HTR adalah penulis yang konsisten dengan nilai-nilai perjuangan yang ia anut. Tak cuma “berteriak” terhadap beragam masalah umat, namun HTR membingkai karya-karyanya dengan diksi yang kuat dan indah serta plot yang membuat pembaca tak rela berhenti memamah cerita hingga titik terakhir.

Maka, bacalah Cut Vi, Jaring-jaring Merah, Sebab Aku Cinta Sebab Aku Angin, Ketika Cinta Menemukanmu, Darahitam, Ze Akan Mati Ditembak, Pulang, Idis, dan Lelaki Kabut dan Boneka. Cerpen-cerpen tersebut adalah suara HTR terhadap lara negeri ini. Ada Aceh di sana, juga Ambon, Madura, Timor Timur (sebelum lepas dari Indonesia). Kemudian bacalah Hingga Batu Bicara dan Lorong Kematian. Seperti Bukavu, HTR akan mengajak kita melintas benua, pada lara di Palestina dan Bosnia.

Kemudian dalam "Juragan Haji " dan "Peri Biru", HTR bertutur tentang ironi sosial. Ketika negeri ini makin tak kuasa melepas anak-anaknya agar menjadi “penyumbang devisa” (Peri Biru). Atau, tentang kerinduan seorang nenek terhadap tanah suci, di satu sisi ada banyak orang kaya berkali-kali naik haji, seperti layaknya berlibur ke Bali (Juragan Haji).

"Pertemuan di Taman Hening" adalah tuturan HTR tentang KDRT, yang diolah dengan cantik. Sebagai perempuan, HTR berbicara tentang perempuan dengan alunan yang lembut namun menyentak.

Meski begitu, HTR bukan sosok penulis yang terlalu serius menoreh pena. Dalam "Mencari Senyuman" dan "Titin Gentayangan", ia bertutur dengan satir tentang segala problem negeri ini yang makin berkelindan, juga tentang cinta dan sakit hati seorang gadis yang ingin bunuh diri. Kita akan tergelak—atau minimal tersenyum—menyimak kedua cerpen ini.

Cukup lengkap memang kumpulan cerpen ini, baik dari sisi keragaman tema, maupun teknik pengolahan cerita. Memang, ada banyak cerpen-cerpen HTR lainnya (dari ratusan) yang tak termaktub dalam buku ini—yang secara kualitas tak kalah bagus. Cerpen-cerpen dalam buku ini sebagian juga telah dimuat di buku kumpulan cerpen lain. Tapi buat saya pribadi, cerpen-cerpen HTR selalu asyik untuk dinikmati kembali.

Merged review:

I've read (almost) all the shortstories in this book. But, reading Helvy's work is always give me more experience, even if I've read many times. With these shortstories Helvy will take you to Aceh, Ambon, Timor Leste (formerly Timor Leste), also Palestine, Bosnia, and Zaire.

======

Review lengkapnya :-)

Pada tahun 1954, Ernest Hemmingway, penulis legendaris AS datang ke kota Costermansville, Zaire. Saat melihat Danau Kivu yang terletak di kota tersebut, penulis The Old Man and the Sea ini begitu terpukau akan keindahan Kivu dan menyebutnya sebagai keindahan yang sama sekali belum pernah ia saksikan sepanjang hidup. Kota Costermansville sendiri telah berganti nama menjadi Bukavu. Empat puluh tahun setelah Hemmingway menapakkan kaki di Bukavu, terjadi peristiwa pembantaian etnis Tutsi oleh suku Hutu. Lebih dari 800.000 nyawa melayang dalam peristiwa tersebut. Ribuan warga Rwanda mengungsi ke perbatasan hingga masuk ke Bukavu, Zaire.

Tragedi Rwanda dan kesan Hemmingway terhadap Danau Kivu disandingkan oleh Helvy Tiana Rosa (HTR) menjadi cerita yang memikat sekaligus menyayat hati. Cerpen “Bukavu” hanya satu dari dari 18 cerpen yang terkumpul dalam buku ini, yang merupakan “perjalanan” HTR dalam dunia sastra dalam rentang 1992-2005. Tentu, tak semua karya HTR selama karier kepenulisannya tercakup dalam buku ini. Tapi 18 cerpen ini, paling tidak, merupakan rekam jejak betapa HTR adalah penulis yang konsisten dengan nilai-nilai perjuangan yang ia anut. Tak cuma “berteriak” terhadap beragam masalah umat, namun HTR membingkai karya-karyanya dengan diksi yang kuat dan indah serta plot yang membuat pembaca tak rela berhenti memamah cerita hingga titik terakhir.

Maka, bacalah Cut Vi, Jaring-jaring Merah, Sebab Aku Cinta Sebab Aku Angin, Ketika Cinta Menemukanmu, Darahitam, Ze Akan Mati Ditembak, Pulang, Idis, dan Lelaki Kabut dan Boneka. Cerpen-cerpen tersebut adalah suara HTR terhadap lara negeri ini. Ada Aceh di sana, juga Ambon, Madura, Timor Timur (sebelum lepas dari Indonesia). Kemudian bacalah Hingga Batu Bicara dan Lorong Kematian. Seperti Bukavu, HTR akan mengajak kita melintas benua, pada lara di Palestina dan Bosnia.

Kemudian dalam "Juragan Haji " dan "Peri Biru", HTR bertutur tentang ironi sosial. Ketika negeri ini makin tak kuasa melepas anak-anaknya agar menjadi “penyumbang devisa” (Peri Biru). Atau, tentang kerinduan seorang nenek terhadap tanah suci, di satu sisi ada banyak orang kaya berkali-kali naik haji, seperti layaknya berlibur ke Bali (Juragan Haji).

"Pertemuan di Taman Hening" adalah tuturan HTR tentang KDRT, yang diolah dengan cantik. Sebagai perempuan, HTR berbicara tentang perempuan dengan alunan yang lembut namun menyentak.

Meski begitu, HTR bukan sosok penulis yang terlalu serius menoreh pena. Dalam "Mencari Senyuman" dan "Titin Gentayangan", ia bertutur dengan satir tentang segala problem negeri ini yang makin berkelindan, juga tentang cinta dan sakit hati seorang gadis yang ingin bunuh diri. Kita akan tergelak—atau minimal tersenyum—menyimak kedua cerpen ini.

Cukup lengkap memang kumpulan cerpen ini, baik dari sisi keragaman tema, maupun teknik pengolahan cerita. Memang, ada banyak cerpen-cerpen HTR lainnya (dari ratusan) yang tak termaktub dalam buku ini—yang secara kualitas tak kalah bagus. Cerpen-cerpen dalam buku ini sebagian juga telah dimuat di buku kumpulan cerpen lain. Tapi buat saya pribadi, cerpen-cerpen HTR selalu asyik untuk dinikmati kembali.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 16 books65 followers
March 16, 2024
Baru ngeh kalau Juragan Haji ini versi terbarunya dari kumcer Bukavu. Sekilas saya lihat daftar isinya, hampir persis sama. Jadi, kasarnya nih, baca Juragan Haji ini setara baca 2 kumcer sekaligus hehe. Dan, ironisnya saya punya keduanya dan belum dibaca. Jadi ya, dengan baca Juragan Haji ini rasanya Bukavu nggak perlu dibaca lagi apalagi jika hanya ingin ngecek bedanya di mana.

HTR kebanyakan nulis cerpen ini di penghujung tahun 90-an atau 2000-an awal. Makanya temanya masih lekat dengan beberapa konflik di Indonesia yang relevan dengan tahun-tahun segitu. Kayak GAM di Aceh atau pecahnya Bosnia.

Terus terang, beberapa cerpennya terlalu mendayu-dayu sehingga sulit dimengerti. Saya paling suka 3 cerpen sederhana yakni Titin Gentayangan, Peri Biru dan yang jadi gongnya adalah Juragan Haji yang kemudian dipilih menjadi judul kumcer ini.

Cerpen Juragan Haji ini bagus banget. Mengisahkan tokoh pembantu/ART yang tinggal di rumah majikan yang berkali-kali berhaji. Ironisnya, juragan haji ini berhaji hanya untuk gengsi dan bingung cara menghabiskan uangnya yang berlimpah itu.

Hmm, jadi keinget tulisan "Haji Pengabdi Setan" oleh Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA ya kan. Tulisan yang banyak bikin orang-orang naik pitam padahal apa yang ditulis itu sangat relevan dengan kondisi masyarakat belakangan.

Di kumcer ini, ada satu cerpen yang aku skip karena gak suka dengan formatnya yang ditulis bak sambung menyambung dialog. Jadi, secara keseluruhan sih kumcer ini menarik hanya memang, untuk saya yang lebih suka cerpen-cerpen sederhana, saya merasa kumcer Ketika Mas Gagah Pergi masih jadi masterpiecenya seorang Helvy Tiana Rossa.

Skor 7,5/10
Profile Image for Helvry Sinaga.
103 reviews32 followers
August 7, 2010
Iseng-iseng jalan jalan ke Mall Kalibata, dan menemukan buku ini di toko buku JBC (baru kali ini dengar, sepertinya belum ada cabangnya dimana-mana) CMIIW.

Kumpulan Cerpen ini banyak berlatar belakang konflik. Beberapa peristiwa di tanah air yang turut memberi warna pada cerita pendeknya antara lain konflik di Ambon (1999), GAM di Aceh (1992), Timor-timur (1998), Pembantaian etnis Madura di Kalimantan (1999-2000) Tsunami (2004), dan beberapa peristiwa di luar negeri yang bertema kondisi perang, misalnya perang Serbia, Jalur Gaza.

dan Bukavu sendiri adalah suatu tempat yang sangat dipuji Ernest Hemingway. Bukavu adalah nama kota yang ada di negara Rwanda, Afrika. Di Bukavu ada sebuah danau yang indah, namanya Kivu.

description

Ada cerita menyedihkan dimana terjadi perang suku antara Suku Tutsi dan Suku Hutu. Hal itu menyebabkan terjadinya genoside (pemusnahan etnis secara besar-besaran). Suku yang mayoritas mendiami daerah Rwanda adalah Hutu (berkulit lebih gelap) sedang suku yang minoritas adalah suku Tutsi (berkulit lebih terang).

artikel Wikipedia mengenai genoside ini, dapat dilihat di sini cuplikannya sebagai berikut.

The assassination of Habyarimana in April 1994 was the proximate cause of the mass killings of Tutsis and pro-peace Hutus. The mass killings were carried out primarily by two Hutu militias associated with political parties: the Interahamwe and the Impuzamugambi. The genocide was directed by a Hutu power group known as the Akazu. The mass killing also marked the end of the peace agreement meant to end the war, and the Tutsi RPF restarted their offensive, eventually defeating the army and seizing control of the country.

Helvy mengangkat tema kemanusiaan yang terjadi pada konflik-konflik tersebut agar pembaca dapat merasakan "feel" at that time. Paling tidak, dengan merasakan feelnya, kita bisa memaknai lebih apa itu kemanusiaan.

Namun sayangnya, ataukah terlewat oleh saya, peristiwa Mei 1998 tidak ada disini. Padahal begitu banyaknya cerita yang menyedihkan saat peristiwa ini terjadi. Selain itu, ini hanya pemandangan saya selaku orang awam, kumpulan cerpen kurang plural. Mungkin ketika kita berbicara spiritualitas, cakupannya lebih universal. cerpen ini memperkenalkan. Memperkenalkan Aceh, memperkenalkan Ambon, memperkenalkan Rwanda, dan beberapa kota lain serta kosa kata bahasa setempat. Maklum, selain penulis, beliau adalah seorang dosen, tentu wawasan pengetahuannya lebih luas.

Selain itu, saya masih sulit membaca (menikmati) tulisan sastranya, dan mungkin saja ini membuka saya untuk menjelajah karya-karya beliau yang lain.

Anyway, tiga bintang dari saya.

@hws06082010
1 review
May 13, 2008

Wow!

Saya belum pernah baca karangan sastrawati Indonesia yang begitu powerful seperti ini.......
Profile Image for Riana.
2 reviews
March 26, 2008

Buku-buku Helvy buat saya bagus aja hehe
Profile Image for Tia Pramono.
1 review
May 13, 2008

Keren banget! Beda sama penulis-penulis perempuan lainnya...saya suka cara HTR membuat citra atas perempuan dengan narasi yang puitis.
Profile Image for Za.
3 reviews
June 3, 2008

Buku yang menggetarkan dan menggerakkan.
Beda!
Bagiku, Helvy memang jaminan mutu!
Sedih sekali bila ada bukunya yang belum kubaca....
(Untung saja rasanya tidaaak hehehe)
Profile Image for Ryan.
176 reviews9 followers
May 30, 2008
65% cerpen dalam buku ini sudah pernah saya baca sebelumnya. Kesimpulannya : HTR lebih dari seorang cerpenis! Ia juga seorang penyair. Salah satu yang terbaik yang dimiliki negeri ini.
Profile Image for Ike Lestarina.
10 reviews1 follower
June 12, 2008
Buku ini mengangkat berbagai kisah yang ada di kehidupan nyata...
Plihan kata yang digunakan benar-benar tidak biasa
Kebanyakan kisah-kisahnya mengenai perjuangan seorang wanita
Profile Image for Aisyah.
4 reviews3 followers
May 19, 2008
Biasanya buku mbak Helvy yang selama ini aku baca jaminan mutu :)
Profile Image for Akhi Dirman Al-Amin.
22 reviews6 followers
March 7, 2012
HELVY BICARA CINTA,
PERANG DAN KEMANUSIAAN



Judul Buku : Bukavu
Genre : Kumpulan Cerpen (Literatur & Fiction)
Penulis : Helvy Tiana Rosa
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House (LPPH)


Saya pertama kali ‘menjumpai’ Helvy pada sekitar tahun 1998-1999 di majalah sastra Horison waktu saya SMA. “Jaring-jaring Merah” yang memikat, bercerita tentang tragedi kemanusiaan di Aceh yang ditulis dengan sangat menyentak, telah membekas begitu dalam di memori saya. Saya seolah merasakan benar bagaimana berdarahnya rakyat Aceh (terutama kaum perempuan dan anak-anak yang biasanya menjadi korban paling dominan). Pada akhirnya, “Jaring – jaring Merah” dinobatkan menjadi salah satu di antara cerpen – cerpen terbaik Horison dalam satu dekade (1990-2000).
“Jaring – Jaring Merah” kita temukan juga dalam buku kumpulan cerpen Bukavu ini. Bukavu adalah sebuah potret kecil dari sebuah dunia ‘kecil’ yang berisi tentang cinta yang tercabik di sana sini karena penindasan dan kekerasan yang tak berkesudahan. 18 cerpen dengan berbagai tema dan gaya tutur yang terkumpul dalam buku ini, merupakan rekam jejak ‘perjalanan’ HTR dalam dunia sastra dalam rentang 1992-2005.
Sebagian besar cerpen dalam buku ini berlatar konflik – konflik kemanusiaan yang terjadi di Indonesia ataupun belahan dunia lainnya. Di antaranya adalah “Ze Akan Mati Ditembak” (Timor Timur, Sebelum lepas dari Indonesia), Cut Vi, Jaring-jaring Merah, Ketika Cinta Menemukanmu, Pulang (Aceh), Sebab Aku Cinta Sebab Aku Angin (Ambon), Darahitam (Madura – Dayak), dan Lelaki Kabut dan Boneka (Bom Bali). Sementara konflik luar negeri diwakili oleh Hingga Batu Bicara (Palestina), Lorong Kematian (Bosnia) dan Kivu Bukavu (Tragedi Rwanda).
Yang menarik, cerita – cerita yang ‘berdarah-darah’ ini disampaikan dengan sangat ‘cantik’ dengan gaya penuturan yang memikat dan puitis. Nampaknya ini menjadi kekuatan karya – karya Helvy yang membuat pembacanya enggan untuk tidak membaca sampai akhir keindahan tuturan Helvy yang mirip sebuah puisi, meskipun bukan itu tujuan utama yang ‘dibidik’ oleh Helvy. Helvy berbicara tentang perang, cinta, kemanusiaan, politik akan tetapi disampaikan dengan cara yang indah dan menyentuh dengan bahasa yang begitu bergelora, yang sanggup ‘mencuri’ perhatian pembacanya. Dalam beberapa aspek, saya ‘menemukan’ semangat dan kekuatan seorang penulis Palestina yang juga menulis tentang perang dan politik dalam karya – karyanya; Jihad Rajbi (dalam kumpulan cerpen Li Man Tahtamil Al-Rashashah (Filistin Muslimah, 1993) yang kemudian diterjemahkan HM. Anis Mata dengan judul Peluru Ini Untuk Siapa? (Pustaka Firdaus & Yayasan Sidik, April 2005)). Pilihan Tema dan gaya bahasa Helvy dan Jihad memang nyaris sama. Setiap usai membaca Jihad Rajbi, saya selalu terpaku, menjadi lebih semangat dan termotivasi. Hal yang sama selalu saya rasakan usai membaca “Bukavu” Helvy Tiana Rosa ini.
Maka, bacalah “Ze Akan Mati Ditembak” yang bercerita tentang seorang Ze, pemuda yang begitu mencintai bangsanya yang harus mati dalam dekapan Lorosae yang ia cintai dengan sepenuh hati. Membaca cerpen ini, mengingatkan kembali kita pada ‘luka kita sendiri’, ketika Timor Timur akhirnya memisahkan diri dari Republik Indonesia dan membentuk negaranya sendiri.
Bacalah juga “Cut Vi”, “Jaring-jaring Merah”, “Ketika Cinta Menemukanmu”, “Pulang” yang berlatar Aceh. Helvy berhasil memotret Aceh dengan sangat ‘indah’. Sekalipun cerpen – cerpen ini menceritakan duka rakyat Aceh akibat DOM dan juga Tsunami, namun Helvy ‘membuat’ tokoh – tokohnya terlihat tegar dan kuat. Semangat ini bukan hanya terdapat dalam 4 cerpen berlatar Aceh ini, tapi hampir di semua cerpen – cerpen Helvy. Tokoh – tokoh dengan daya vitalitas dan keinginan bangkit yang luar biasa akan sedikit banyak memotivasi pembacanya untuk ‘berani’ menantang hidup.
Sementara itu, “Lelaki Kabut dan Boneka” (yang juga dimuat di majalah sastra Horison) adalah sebuah cerita yang dibingkai dengan gaya simbolik yang memikat. Cerpen ini mengisahkan tentang pergulatan batin “Lelaki” dengan tokoh “Sunyi” yang sebenarnya adalah suara hatinya sendiri. Cerpen ini menggambarkan secara samar tentang tragedi kemanusiaan di Bali (Bom Bali 2002).
“Hingga batu Bicara” yang berlatar Palestina memberikan banyak informasi penting kepada pembacanya tentang program – program Yahudi juga kebiadaban mereka dalam membantai rakyat palestina. Sebagian besar cerpen – cerpen Helvy dihasilkan melalui penelitian dan juga hasil wawancara dengan ‘korban penindasan’, “Hingga Batu Bicara” ini adalah salah satu contohnya, juga beberapa cerpen yang terdapat dalam buku ini.
Dalam cerpen Bukavu (yang juga menjadi judul buku ini) Helvy mengisahkan nasib tragis minoritas suku Tutsi yang dibantai oleh suku Hutu. Helvy memotret kondisi para pengungsi yang sangat menyedihkan dan tragis di Rwanda.
Apakah Helvy selamanya bicara tentang peperangan dan pembantaian?!
Tema – tema ‘sederhana’ nampaknya juga menarik Helvy untuk menulisnya. Ironi – ironi sosial yang berkembang dalam masyarakat juga dikemas dengan menarik oleh Helvy.
Tengoklah bagaimana kisruhnya hati Sih (tokoh dalam “Pertemuan di Taman Hening”), seorang penulis perempuan yang ‘berdialog’ dengan ‘tokoh-tokoh’ yang diciptakannya sendiri. Ya, sebab hanya ‘di Taman Hening’ ia menemukan ‘janji sang suami’ sebelum menikahinya. Namun di alam nyata, yang ia dapatkan adalah ‘tamparan berkali-kali’ hingga pipinya lebam dan berdarah. Kisah KDRT ini ditulis dengan sangat miris tapi lembut oleh Helvy.
Kemudian dalam “Juragan Haji”, Helvy berbicara tentang perempuan tua yang begitu rindu untuk ke tanah suci, sementara majikan dan putri majikannya (perempuan tua itu seorang khadimat (pembantu) berkali – kali naik haji, meskipun tak jua membekas dalam perilaku mereka. Sedikit nyinyir memang. Tapi membaca cerpen ini membuat kesadaran kita tersentak, bahwa masih banyak orang – orang di sekitar kita yang sebenarnya ‘membutuhkan tangan’ kita.
Selanjutnya ada “Titin Gentayangan” (seorang gadis yang ingin bunuh diri), “Peri Biru” (nasib para TKW) dan “Mencari Senyuman”.
Cerpen terakhir yang saya sebut (“Mencari Senyuman”), sepertinya lebih cocok disebut naskah drama pendek, dibandingkan dengan sebuah cerpen. Karena itu, sedikit ‘aneh’ memasukkan ‘cerpen’ ini dalam kumpulan Bukavu, sekalipun pesan moral yang disampaikan sangat menggelitik.
Pada akhirnya, cerpen – cerpen dalam kumpulan ini bukan hanya menyisakan sebuah ‘renungan kecil’ usai kita membacanya, tapi juga ‘menggerakkan’! Hanya sayangnya, ada banyak kesalahan editing yang cukup mengganggu, misalnya penomoran halaman yang tidak sesuai dengan daftar isi, juga banyak kesalahan ejaan. Kesalahan kecil memang, tapi betapa mengganggunya.
Namun, bagaimanapun, inilah sebuah kumpulan cerpen yang patut untuk diapresiasikan dan tentu saja akan menjadi koleksi menarik bagi para pencinta sastra dan kemanusiaan!
Teruslah menggerakkan dunia, Helvy!!!
Profile Image for Meta Morfillah.
753 reviews26 followers
August 27, 2023
Judul: Bukavu
Penulis: @helvytianarosa
Penerbit: Lingkar Pena
Dimensi: 228 hlm, 20.5 cm, cetakan pertama April 2008
ISBN: 9791367332

Kumpulan #cerpen yang terdiri dari 18 #kisah dengan #konflik dan #penokohan yang kuat. Meski tetap unsur #puitis penulis tetap menonjol dan diksinya mantap. Betul komentar Putu Wijaya bahwa cerpen tak sanggup membatalkan penulis dari seorang penyair. Judul-judulnya saja bersayap, dalam, bermakna.

Meski kisah yang dituliskan sudah lama, seperti tentang GAM, Timor Timur, tsunami Aceh, Madura-Dayak di Sampit, hingga internasional seperti di Serbia dan Bukavu, namun relevansinya masih sama hingga saat ini.

Saya suka sekali cara penulis mendeskripsikan seakan berpuisi namun tidak lebay secara cerpen. Semangat tiap tokohnya terasa hidup. Merinding membayangkan tiap adegan perjuangan yang disajikan. Tidak semua ending cerpennya memiliki twist, ada yang dibiarkan begitu saja untuk bebas diinterpretasikan pembaca, namun tidak menggantung kosong.

Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.

Meta morfillah

#1hari1tulisan #bacabuku #reviewbuku #resensibuku #helvytianarosa
Profile Image for Kang Dani.
4 reviews10 followers
November 23, 2008
Bukavu: Diam Yang Begitu Gerak
~DA~


Banyak tragedi kemanusiaan yang terjadi tanpa dapat terekam dengan baik oleh manusia, yang dapat menuturkannya kembali. Mungkin para saksi sejarah itu tidak lagi hidup ketika kondisi memungkinkan untuk menceritakaknya kembali. Atau, mungkin mereka juga terlalu enggan, membuka kembali album hitam yang telah dikubur dalam-dalam.

Tapi alam tak pernah berdusta, mereka menyimpan seribu peristiwa, merekamnya, lalu menuturkan kembali dalam gejala-gejala kemanusiaan setelahnya. Dalam Kivu Bukavu, Helvy mencoba menggali informasi dari sebuah danau yang menjadi saksi sejarah sebuah peristiwa. Dalam Kivu Buakvu, bahkan Helvy berimprofisasi dengan alam, diajaknya danau bertutur:

Kivu, kau yang terindah
Bisik hemingway.
Aku ingin menangis,
Namun danau tak dapat menangis

Tentu saja bukan karena Helvy kehilangan ide untuk menghidupkan karakter yang lebih realistis dari hanya sebuah danau, tapi itulah keindahan puitik yang terkadang menjadi representasi sebuah peta sejarah. Baris-baris puisi yang terdapat dalam cerpen berjudul Kivu Bukavu, (hal. 193) dikutip pada sampul depan kumpulan cerpen ini.

Cerpen Pertemuan di Taman Hening, membuka sua pembaca dengan Bukavu (Lingkar Pena Publishing House, Depok, 2008) dan Jaring-jaring Merah, cerpen yang sudah pernah dipentaskan dalam bentuk teater, mengakhiri kumpulan cerpen ini. Dalam hampir setiap halaman Bukavu, terjadi pergantian nilai rasa dalam percakapan dari kurang sopan menjadi lebih sopan.

Perbendaharaan kosa kata yang dimiliki oleh Helvy, rupanya tak disia-siakan dalam Bukavu. Banyak sekali gejolak ego dan emosi dituturkan dengan indah dan rupawan. Meskipun Helvy tidak bermaksud menulis puisi dalam Bukavu, tapi citarasa bahasanya sebagai penyair, cukup berpengaruh dalam menuliskan cerpen-cerpennya, sehingga hasilnya adalah narasi-narasi puitis, yang kadang simbolik, konotatif, dan bermajas, layaknya baris-baris puisi.

Tokoh-tokoh unik baik dari karakter maupun identitas tokoh, mulai bermunculan dari cerpen pertama dalam Bukavu. Pertemuan di Taman Hening. Kas & Sih dengan semua masalah hubungan suami istri yang sangat manusiawi. Dua tokoh yang jika namanya disatukan, maka saya yakin akan menyaingi kepopuleran Rome dan Juliet. Hingga Sih, ditakdirkan Helvy Menjadi perempuan yang hanya bisa meratapi nasibnya dengan imaji. Mencari solusi di taman yang bahkan tak pernah ada.

"Sejuta lelaki yang semuanya entah mengapa adalah Kas tapi tak sepenuhnya Kas. Lelaki-lelaki itu mengatakan mencintainya seperti surga. Kas tak pernah berkata seperti itu. Sih ber-istighfar. Perlahan dihapusnya sisa-sisa airmata yang ada. Dengan gemetar jari-jari kurusnya mulai bergerak di atas mesin tik. Kas tak akan pulang lagi malam ini. Dan Sih, akan pergi ke tempat itu lagi. Ke taman hening".

Tanpa bermaksud mengungkit luka lama dalam tragedi bom bali, Lelaki kabut dan Boneka yang mendapat Anugerah Pena (2002) ini bertutur dengan deskripsi yang surealis. Meski begitu, pembaca akan dengan mudah mengetahui latar histori realita yang menjadi sumbu dari cerpen ini. Angkara yang digambarakan lewat tokoh aku, seakan mempu membuat hidung kita mencium bau hangus jelaga, ketika peristiwa pemboman itu terjadi.

Cerpen yang berjudul Idis (hal. 21) akan membawa kita seakan menelusuri kembali legenda kepahlawanan masyarakat Kalimantan selatan. Menelusuri belantara hutannya. Merasakan keberanian Gahara, seorang perempuan muda dengan dendam kepada para penjajah.

Lalu Ze, seorang pemuda di Lorosae yang menjadi menjadi korban pembagian wilayah negara. Ketika keberpihakan tak lagi menjadi berharga

"Apa bedanya aku pro atau tidak pada kelompok-kelompokm itu?" tanya Ze, pelan (hal. 41).>

Sikap lain dari keinginan yang tidak pernah mendapatkan tempat bagi otoritas. Ze tak peduli, merah putihkah, atau bintang terangkah yang berkibar. Ze hanya ingin hidup, dia tak pernah ingin ditembak. Dalam Ze Akan Mati Ditembak (hal. 41)

Membaca Darah Hitam (hal. 69), seperti mendengarkan kembali seorang teman saya yang berasal dari kalimantan dan sebagai seorang anak dari Suku Dayak. Saya mendapatkan visi yang jelas ketika membaca cerpen ini dengan referensi tambahan cerita teman saya tersebut. Deskripsi yang sama, pengalaman yang sama, dalam tragedi yang sama.

Nerang berhasil membuat saya benar-benar merasa muak pada sifat jahat yang bersembunyi dan membela diri dengan alasan mempertahankan tanah leluhur. Karakternya benar-benar mampu memanfaatkan situasi yang buruk demi egonya. Helvy menceritakannya seolah ia adalah perempuan yang bahkan tak mampu mengingat namanya sendiri dalam cerpen tersebut. Sedangkan teman saya menceritakan hal itu dengan sorot matanya yang aneh ketika seorang pedagang sate madura melintas.

Kita akan merasakan puitisasi prosa dalam cerpen-cerpennya yang lain. Ketika Cinta Menemukanmu (hal. 119), Sebab Aku Cinta, Sebab Aku Angin (hal. 129), Lelaki Semesta (hal. 151), Pulang (hal. 183), dan Kivu Bukavu (hal. 193).

Bagi para penikmat karyanya, Helvy cukup familiar menyuguhkan ragam realita dalam setiap cerpen yang ia tulis. Kita seperti menyaksikan sebuah fragmentasi peristiwa dalam visualisasi cerpen-cerpen didalam buku ini. Diam yang begitu gerak. Bahwa kata adalah senjata, difahami betul oleh Helvy. Tak usah heran ketika Anda tengah membaca Bukavu, ada lintasan memori yang menguatkan deskripsinya, mungkin suatu ketika, kita pernah menyaksikan ulasan berita kejadian tersebut di televisi.
Profile Image for Nazmi Yaakub.
Author 11 books285 followers
July 29, 2010
BUKAVU karya Helvy Tiana Rosa menghimpunkan 18 cerpen bernada puitis dengan pelbagai tema di seluruh Indonesia dari Timor Timur hingga ke Aceh dalam menyorot penderitaan dan kekerasan manusia khususnya wanita.

Kumpulan cerpen pengasas Lingkar Pena ini yang mengangkat sastera Islam, turut merentasi sempadan geografi dengan meninjau bumi Palestin sambil menterjemahkan hadis akhir zaman berhubung batu yang berkata-kata menjadi cerpen, Hingga Batu Bicara.

Helvy turut membawa pembaca menelusuri kekejaman dan kejahatan tentera Serbia melalui watak tentera dalam Lorong Kematian, satu cara pengarang ini meluahkan kebenciannya kepada kezaliman musuh Islam.

Lewat cerpen Kivu Bukavu berlatarkan konflik bersenjata di Rwanda, Helvy seolah-olah berbicara dengan karyanya yang mewakili hati nurani tanah air sambil mengangkat potongan sejarah pedih negaranya apabila kemanusiaan bukan saja dipijak-pijak, bahkan disembelih secara literal.

Pendirian idealistik Helvy jelas terasa lewat Ze Akan Mati Ditembak, tetapi diakhiri dengan adegan yang seolah-olah mewakili kekalahan idealisme itu kepada realiti apabila wataknya yang memperjuangkan tolak ansur antara kebebasan total dengan kekuasaan autonomi di Timor Timur menemui kematian.

Cerpen Ketika Cinta Menemukanmu yang mengangkat latar Aceh dan menelusuri tragedi tsunami pula, menyorot gelora emosi watak Cut Nyak Dhien yang kehilangan keluarganya sehingga terpaksa menagih kasih sukarelawan lewat Dr Di serta Cut Isma, tetapi kemudian ditinggalkan.

Gelombang tsunami yang menggoncangkan tanah Aceh itu ternyata membekas dalam naluri kemanusiaan dan kepengarangan Helvy melalui satu lagi cerpennya, Cut Vi yang turut mengangkat konflik di wilayah yang terbakar dengan api permusuhan itu.

Meskipun pengarang tampak terganggu oleh penderitaan dan kekerasan seperti pengeboman Bali lewat Lelaki, Kabut dan Boneka itu, naluri kewanitaannya kadangkala terserlah juga lewat cerpen yang lebih lembut, tetapi tidak kurang konfliknya seperti Pertemuan di Taman Hening.

Dalam cerpen itu, Helvy menyelongkar perasaan isteri yang terpaksa mengunyah penderitaan secara senyap sehingga membina watak lelaki idaman yang tidak mungkin hadir dalam kehidupannya, tetapi pembaca mungkin terkeliru akan kewujudan watak itu ekoran pergelutan emosi.

Pada kesempatan lain pula, cerpen Juragan Haji tampil secara sederhana untuk mengkritik secara halus golongan berada yang berbangga menunaikan haji beberapa kali, tetapi tidak menterjemahkan agama dalam kehidupan mereka atau sekurang-kurangnya menghormati kemanusiaan.

Kekuatan dan ketelitian dalam pemilihan diksi yang puitis serta sarat dengan makna dalam kumpulan cerpen ini tidak dapat diragukan lagi sehingga sasterawan besar Indonesia, Putu Wijaya, menyimpulkan bahawa cerpen tidak mungkin membatalkan Helvy sebagai penyair.

Bagaimanapun, penggunaan dialek tempatan yang disesuaikan dengan latar cerpen agak mengganggu kerana pembaca terpaksa membelek halaman akhir setiap cerpen untuk mengetahui maknanya, sekali gus boleh merencatkan alur pembacaannya.

Secara keseluruhannya, Bukavu seolah-olah percikan sensitiviti yang menjadi badai dalam jiwa kepengarangan dan kemanusiaannya kesan daripada pergolakan yang menggoncangkan tanah airnya, selain khabar derita yang dikirim dari negara umat Islam di dunia.



Tokoh Muslimah sastera Indonesia

HELVY Tiana Rosa, pengarang kelahiran Medan pada 2 April 1970, menjadi tokoh penting dalam sastera Indonesia apabila mengasaskan Forum Lingkar Pena (FLP) pada 1997 yang mewarnai sastera Islam dalam peta kesusasteraan yang bermacam ragam di negara itu.

Helvy mendapat pendidikan sarjana muda di Fakulti Sastera, Universiti Indonesia (UI) dan sarjana di Fakulti Ilmu Budaya di universiti yang sama, sebelum berkhidmat sebagai Pensyarah Bahasa dan Sastera di Fakulti Bahasa dan Seni, Universiti Negeri Jakarta (UNJ).

Beliau menghasilkan lebih 40 buku pelbagai genre sejak 1996 dengan sebahagiannya diterjemah ke bahasa Inggeris, Jepun, Arab, Sweden, Jerman dan Perancis seperti Ketika Mas Gagah Pergi, Sebab Sastra yang Merenggutku dari Pasrah, Hingga Batu Bicara, Nyanyian Perjalanan, Manusia-manusia Langit, Titian Pelangi, Lelaki Kabut dan Boneka, Tanah Perempuan serta Bukan di Negeri Dongeng.

Selain pembabitannya dalam FLP sebagai Ketua Majlis Penulis FLP, Helvy turut aktif dalam kegiatan kesusasteraan seperti Anggota Majlis Sastera Asia Tenggara (Mastera) dan Anggota Dewan Kesenian Jakarta.

Beliau turut membentuk Teater Bening di Fakulti Sastera UI yang dianggotai pelajar wanita menulis dan berpengalaman menulis naskhah drama serta mementaskannya di Gedung Kesenian Jakarta dan Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta.

Puisinya, Fisabillah memenangi Peraduan Cipta Puisi Yayasan Iqra peringkat kebangsaan, manakala cerpennya, Jaring-jaring Merah, memenangi Cerpen Terbaik Majalah Sastra Horison (1990-2000) dan Lelaki Kabut dan Boneka pula meraih Anugerah Pena.

Beliau turut menerima anugerah Tokoh Perbukuan Nasional, Islamic Book Fair Award anjuran Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) dan Anugerah Tokoh Sastera Eramuslim.

Dalam keterampilannya sebagai tokoh Muslimah, beliau diberi penghormatan untuk menerima Anugerah Ummi oleh majalah Ummi; Anugerah Inspirasi Wanita (Tabloid Nova dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan); Anugerah Muslimah Teladan (majalah Alia); Ikon Wanita Indonesia (majalah Gatra).
Profile Image for Ayu Novita.
83 reviews1 follower
September 23, 2018
Membaca Bukavu setelah sepuluh tahun diterbitkan, tetap terasa relevan dengan situasi saat ini. Karena semua tema cerpen yang ditulis Helvy adalah kemanusiaan. Kemanusiaan tidak mengenal sekat geografis. Kemanusiaan tidak terikat waktu. Ia akan selalu ada, selama masih ada pejuang-pejuang pemberani.

Semua itu disajikan dengan apik oleh Helvy dalam kumpulan cerpen ini.
Profile Image for Ananda Sivi.
46 reviews
June 7, 2010
Yaphz, aku baru aja selesai baca kumcernya mbak Helvy Tiana Rosa, Bukavu.
Kesan pertamaku adalah : BAGUS!
Ya, luar biasa nyastra, itu menurut kacamata awamku.
Karena jujur, aku bukan seorang yang ahli untuk nge-review atao nge-resensi karya orang lain.
Aku hanya akan bilang bagus atau jelek. Cukup.
Nah, cerpen-cerpen mbak Helvy itu aku rasa emang agak berat sih beberapa, nggak semua lho.
Berat dalam artian aku nggak bisa langsung paham maknanya. Kayak kalo lagi baca puisi, mikir-mikir dulu. Cuman bedanya yang ini puisi panjang.

Soalnya mungkin karena aku terbiasa baca cerpen yang langsung jelas ceritanya, gamblang gitu lho. Tapi, ada kok cerpen di Bukavu itu yang gamblang ceritanya, endingnya juga bagus, judulnya Titin Gentayangan,
Iya, itu endingnya lucu, kalo boleh dibilang begitu. Sebab nggak disangka-sangka banget bisa berakhir seperti itu.

Selain yang itu, masih ada pula cerpen yang isinya lumayan jelas. Cut Vi yang berlatarkan Aceh juga bagus. Ini cerpen yang lumayan paling aku suka dari ketujuh belas cerpen lainnya.
Karena memang cerpen-cerpen yang berlatarkan Aceh lebih menarik minatku.
Yang paling aku sukai adalah di bagian kutipan surat yang ditulis Cut Vi untuk Agam.

Aku percaya pada apa yang kulakuakn dan tak peduli bila terkesan aku yang melamarmu. Lagi pula apa salahnya meminta pria berbudi menjadi suami? Maka, Agam, sudikah?

Hmm... kata-katanya indah dan menawan.. hehe... ^o^

Dan juga Juragan Haji, bagus banget ceritanya, seorang pembantu rumah tangga yang ingiiin sekali naik haji. sementara majikannya udah berulang kali ke Baitullah. Hm.. kalo kita? Masih ingat nggak ya terakhir kali pengen naik haji kapan? hehe...

Nah, cerpen yang aku masih bingung itu judulnya Pertemuan di Taman Hening, Lelaki Kabut dan Boneka, dan Mencari Senyum. Kayaknya tiga itu deh.
Ya, mungkin karena keterbatasan kemampuanku aja dalam mencerna bahasa-bahasanya yang wuih, sastra bener deh. Tapi, semoga ke depannya aku bisa lebih menangkap maknanya.

Setidaknya setelah membaca Bukavu aku jadi seperti menemukan energi yang luar biasa besar. Apalagi tokoh-tokoh yang diambil mbak Helvy hampir semuanya perempuan. Ini sedikit banyak memberi motivasi pada diriku agar lebih baik lagi.

Apalagi cerpen Peri Biru jelas-jelas menceritakan keinginan tokohnya untuk menjadi seorang penulis seperti Asma Nadia dan Taufiq Ismail, sementara ia berada di lingkungan yang kurang mendukung. Ini sungguh memberiku percikan semangat yang berlebih untuk terus berkarya, semaksimal mungkin. Terserah dimana saja dan kapan saja. Kalau Peri menulis di buku-buku tulis tipis yang dibelinya di warung, aku berusaha menuliskan segalanya di blog ini.
Profile Image for Meliana.
Author 2 books17 followers
December 19, 2008
membaca bukavu adalah seperti diam dalam airmata yang jatuh dan lindap di tanah pertiwi. ada benang merah yang melatari kisah-kisahnya, yaitu tentang perseteruan dan bencana di negeri: konflik GAM di aceh, dayak-madura, timor timur, sampai kepada bencana tsunami di aceh.

ada kepedihan yang dituturkan dengan bahasa yang puitis, kesederhaan dan kepasrahan dalam menerima nasib, sekaligus kekuatan yang teguh. lalu, tentang tokoh-tokohnya yang kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak, karena memang merekalah korban utama dari setiap perang dan bencana yang tercetus. terlalu banyak yang harus dikorbankan dari kobaran ego dan amarah manusia. tidak hanya harta dan nyawa, tetapi juga masa depan, hati dan sepotong nurani.

bukavu, seperti tulisan ibu pertiwi yang meratapi tragedi negeri...

Profile Image for Wibiksana.
12 reviews
November 24, 2014
Sebenarnya saya sih tidak terlalu suka dengan buku seperti ini. Jarang sekali saya membaca buku yang isinya kumpulan cerpen. Buku ini dipinjamkan oleh teman baik saya.

Menurut saya buku ini luar biasa. Buku yang biasa saya anggap 'berat', menghipnotis saya untuk membaca sampai selesai. Walaupun bukan genre kesukaan saya, bagi saya buku ini mempunyai nilai tersendiri. Gaya penulisannya membuat saya ikut terlibat secara perasaan dengan kisah-kisah yang ada di ke-18 tersebut dan kisah favorit saya adalah yang berjudul "Ze Akan Mati Ditembak."
Profile Image for Bunga Mawar.
1,389 reviews45 followers
January 1, 2009
Ini buku pinjeman dari Amang. Baru saya baca loncat-loncat, lalu kehilangan minat karena jadi sadar mengapa saya selama ini sengaja menjauh dari buku2 Mbak Helvy. Jadi buku ini pun loncat2 dulu ke teman2 GR yang ada di sekolah saya, kepada mereka yang memiliki apresiasi lebih baik (kelihatannya) daripada saya.

Buktinya, dua orang sudah menyelesaikannya, sementara saya belum...
Profile Image for Riza.
21 reviews3 followers
November 11, 2008
ketika cinta bukan hanya soal sepasang sejoli... ketika perang dan bencana serta pergolakan sosial bukan hanya dilihat dari sisi senjata, darah, tanah rengkah, dan ketimpangan...
keren... lewat Bukavu, sensitifitas sosial dan ghirah jihad HTR kian terasa. Dan yang lebih asik, rata-rata tokoh adalah perempuan yang berkarakter kuat....
Displaying 1 - 30 of 69 reviews