Dengan sejarah yang mencakup kurun waktu selama 4 abad, dinasti Han adalah dinasti yang abadi. Dinasti ini begitu dihormati oleh orang China, sampai-sampai namanya masih dipakai untuk menyebut nama mereka sendiri: suku Han.
Dinasti ini begitu dihormati juga oleh orang-orang Asia Timur, sehingga semua hal yang berkaitan dengan China disebut juga dengan nama dinasti ini: Hanzi (Huruf Kanji), Hanyi (Kedokteran China), ataupun Hanfu (pakaian China).
Setiap kali membaca buku author, saya pasti terbawa suasana Tiongkok masa lampau. Walau buku ini nonfiksi, author selalu membuat saya sbg pembaca bisa memahami situasi kondisi pada masanya.
Yg menarik dari buku ini tentu saja perseteruan musuh bebuyutan antara Liu Bang dan Xiang Yu. Semenjak kejatuhan Dinasti Qin, Liu Bang dan Xiang Yu berperang utk memperebutkan hegemoni sbg penguasa tunggal Tiongkok kuno ini. Saya gak perlu menceritakan sejarah asal muasal permusuhan mrk, lebih asik membahas karakter kedua orang ini yg unik pd masanya.
Di atas kertas, Liu Bang tidak mungkin bakal menang atas Xiang Yu yg lebih hebat dlm perang, lebih berani, lebih heroik, lebih bangsawan dan lebih ditakuti musuh-musuhnya. Liu Bang ini hanya petani yg sifat dasarnya pemalas, pembual nomor wahid dan mencari selamat dirinya sendiri. Tapi anehnya, dgn kriteria spt itu pun Liu Bang bisa mendapat loyalitas luar biasa dari kerabat dan keluarganya. Tampaknya Liu Bang punya pesona kharisma yg melimpah sehingga dia mampu memikat orang, dan dia gak pelit dlm memberikan harta. Singkatnya Liu Bang ini gak picik spt Xiang Yu yg menaruh curiga pd orang-orang terdekatnya. Liu Bang boleh dikata nyaris selalu kalah oleh Xiang Yu walau dia yg memenangkan pertaruhan yg masuk duluan ke daerah Guanzhong (daerah inti negeri Qin). Dan yg paling penting, Liu Bang mampu mengkoordinasi dan mendengar nasehat-nasehat yg efektif dari para anak buahnya. Dan kunci utamanya lagi, Liu Bang bisa mengabaikan permusuhan/kebenciannya demi tujuan kesuksesan yg jauh lebih penting. Inilah hal-hal yg gak bisa dilakukan oleh Xiang Yu kepada para bawahannya.
Sebaliknya dlm hal wanita, Xiang Yu ini sungguh unik di zamannya krn hanya memiliki satu wanita, yaitu Yuji. Antitesis dgn Xiang Yu, Liu Bang gemar sekali main wanita. Tapi sblm menyalahkan sifat Liu Bang yg ini, pd masa itu nyawa sptnya murah sekali dan setiap hari setiap waktu terancam kematian, mungkin itu membuat Liu Bang punya prinsip "You Only Live Once" alias menikmati hidup semaksimal mungkin. Liu Bang lebih bisa menerima kegagalan/nasib apesnya dan selalu bisa bangkit lagi. Tapi tidak demikian dgn Xiang Yu yg awalnya tak terkalahkan yg membuatnya terlena dan sombong oleh kemenangan berturut-turut, sekalinya kalah, Xiang Yu "down" dan sulit utk bangkit kembali. Saya agak kurang paham dgn sifat Yuji ini yg lebih memilih bunuh diri pd saat tahu kekasihnya ini sudah dlm keadaan terjepit. Liu Bang dan Lu Zi, istrinya, walau punya sifat saling bertentangan, paling tidak mereka bersinergi dlm membasmi musuh bersama mereka.
Ada yg jadi pertanyaan saya, kenapa orangtua Liu Bang tinggal bersamanya pdhl kemungkinan besar Liu Bang adalah anak bontot? Apakah aturan ortu tinggal di anak sulung lelaki blm diterapkan pd masa itu?
Pertanyaan berikutnya, terlepas kekejaman Lu Zi utk efektif saat memutus tali yg dipegang ibu mertuanya (saya jadi membayangkan Lu Zi dan ibu mertua ini berantem saling berebut otoritas di rumah kampung halamannya), Lu Zi dibela oleh bapak mertuanya. Dan kemungkinan besar Lu Zi dan bapak mertua ini kompak apalagi mereka juga disandera bersama oleh Xiang Yu. Mungkinkah ayah Liu Bang ini jauh lebih bijak drpd yg dikisahkan di buku-buku?
Buku ini bagus tapi masih banyak kesalahan editing dan penempatan footnote yg salah. Selain itu saya rasa saya puas dgn buku ini krn saya jadi lebih memahami sejarah berdirinya Dinasti Han ini.
Penyajian kisah yang runut, tertata dan cukup mendetail membuat pembaca mengerti setiap tahapan napak tilas sejarah secara kronologis. Penyajian sejarah yang disertai dengan kutipan manuskrip atau buku sejarawan meningkatkan kredibilitas konten sejarah.
Sejarah Tiongkok sejak ribuan tahun yang lalu sudah diwarnai banyak sekali pertumpahan darah. Sering sekali terjadi peperangan besar di rakyat tiongkok sehingga rakyat menjadi tidak tenang. Jika ada kekuatan yang menjadikan rakyat bersatu dan damai dalam satu kepemimpinan, maka salah satunya adalah Kekaisaran Han yang didirikan oleh Liu Bang. Berawal dari percikan pemberontakan seorang petani, Cheng Shen dan Wu Guang, rakyat mulai memberontak ke kaisar Qin'ershi atau Qin II. Mulai dari sana banyak lahir tokoh-tokoh pemberontakan. Salah satunya adalah Liu Bang dan Xiang Yu. Mereka membantu kaisar Huai membangun kekaisaran, namun hanya dalam waktu sekejap, kekaisaran itu hilang akibat keserakahan Xiang Yu yang dengan kejam membunuh Kaisar Huai. Pertempuran demi pertempuran dilalui oleh Liu Bang. Lelaki yang diisyaratkan sebagai Anak Kaisar Merah oleh seorang nenek tua ini mendaki jalannya menuju tampuk kekuasaan tertinggi di Tiongkok semenjak ditunjuk sebagai Tuan Pei atau Bupati Pei. Masa mudanya ia habiskan dengan minum-minum, main perempuan, dan bermain tak karuan. Namun setelah gelombang revolusi Cheng Shen menjalar, ia mulai menunjukkan permainannya di medan laga.
Buku ini menceritakan kisah berdirinya Dinasti Han yang bertahan selama kurang lebih 400 tahun. Buku ini merujuk pada Kitab Sejarah yang ditulis oleh Sima Qian. Namun sebagai mana sejarah ditulis oleh pemenang, Sima Qian juga sedikit diragukan dalam menyampaikan kisahnya di Kitabnya. Namun kitab ini adalah satu-satunya kitab yang bisa dijadikan rujukan dalam membahas Tiongkok pada masa keruntuhan Kekaisaran Qin dan kebangkitan Kekaisaran Han.