Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu

Rate this book
Karya ini bukan sekedar kisah seorang bibliofili seperti Philobiblon karya Richard de Bury, uskup Durban, yang terbit pada 1473, tetapi terlebih merupakan lantunan kegirangan bekerja, semangat, dan gairah hidup sang pencerita berkat pesona buku. Memang, bukan tanpa alasan kalau karya ini diberi judul Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu. Bukan lagi buku per buku yang penting, melainkan perasaan, kesadaran, dan pengertian baru yang lebih kuat tentang kehidupan, yang disumbangkan oleh seluruh buku.

Tidak kurang daripada 200 buku diceritakan di sini dengan cara yang demikian rupa sehingga tampil seolah-olah pribadi yang hidup: bagaimana buku lahir, berkembang, bergerak dan menggerakkan sang pencerita dalam kegiatannya sehari-hari. Di latar-belakang masih tersembunyi sekitar tiga-ribuan buku lain milik pribadi sang pencerita yang memancarkan pengaruhnya, kendati tidak bisa dapat tempat lagi untuk diceritakan. Sang pencerita hendak memindahkan sebagian buku itu ke museum khusus di daerah tempat lahirnya, Yogyakarta, dan sebagian lagi di rumahnya, dengan harapan akan dimanfaatkan oleh umum. Lewat karyanya ini ia terlebih dulu ingin bercerita kepada cucu-cucunya, dan dengan itu kepada generasi mereka.

462 pages, Paperback

First published January 1, 2002

25 people are currently reading
229 people want to read

About the author

P. Swantoro

9 books4 followers
Pollycarpus Swantoro adalah seorang sejarawan sekaligus pendiri Kompas Gramedia

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
37 (27%)
4 stars
51 (38%)
3 stars
34 (25%)
2 stars
8 (5%)
1 star
4 (2%)
Displaying 1 - 29 of 29 reviews
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
August 1, 2016
Jika ada sebuah buku yang serupa harta karun bagi para pecinta buku, maka itu adalah buku tentang buku. Penyusun buku ini, P. Siswantoro, benar-benar menunjukkan kepada pembaca bentuk sejati dari seorang bibliophile alias kolektor dan pecinta buku. Lewat Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu, beliau mengejawantahkan kecintaannya kepada buku dalam bentuk kumpulan ulasan buku miliknya dalam buku tebal ini. Lebih istimewanya lagi, koleksi buku dan bacaannya pun tidak main-main, lebih dari 200 buku yang terbit mulai dari abad ke-17 hingga awal tahun 2000-an.

Selalu istimewa membaca buku yang berkisah tentang buku, banyak buku. Hampir lima bintang untuk buku ini andai saja rasa buku sejarah ala ala zaman sekolah tidak muncul terlalu kental di 30 halaman terakhir buku ini. Ulasan lengkap di Baca Biar Beken

#BukuRekomendasi
#Bibliophile
#BookaboutBooks
8 reviews
October 4, 2007
waduh... jadi inget. aku mendapatkan buku ini langsung dari beliau bapak Swantoro karena ikut ngerjain proyek pembangunan rumah budaya Tembi ( pasca Gempa ) dan resort Kampung Tembi.

beliaunya sering mengundang diskusi. ngobrol dari ba'da Isya sampai menjelang subuh. hebat, stamina dan pengetahuannya luar biasa. jadi inget waktu beliau nanya " u anak musa suka baca buku apa?" ketika jawaban ku karl mark, marxisme, filosofi dan buku-buku agama beliaunya ketawa. terus beliau buku memberi buku ini "Dari buku ke buku, sambung menyambung menjadi satu" dan berpesan "u baca n klo ketemu i u ceritain tanggapan u tentang buku ini"

hmmm...
buku ini keren, klo boleh dibilang cukup baca satu buku ini seolah-olah kita menjalani perjalanan sejarah tanah jawa.
keren. ceritanya diawali dari meletusnya gunung merapi pada abad 17-18 bagaimana kondisi tanah jawa saat itu. pemerinatahn raja-raja jawa Abad 19 perang jawa dibawah komando perang diponegoro, ditemnukannya borobudur dengan patung buda cacat makna nya adalah tidak ada manusia yang sempurna. trus ditemukan pula keris jalak budho yaitu dapur keris kuno ( bentuk keris pertama kali ditemukan sekitar abad ke 8-9 klo ga salah, aku lupa heee.... )pokoknya manrik deh bukunya
aku dah alam bacanya.
aku paling tertarik dengan cerita tentang "perang jawa" yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Inti cerita dari buku Javanese Oorloge ( klo ga salah judulnya itu la wong aku aja pinjem, gratisan lagi heheheheh... )12 jilid pake basa belanda bikin rambut rontok plus kriting.


ga nyesel deh baca buku ini. so bacalah untuk menambah wawasan mu...

sejarah akan selalu terulang, masalahnya adalah bagaimana kita bisa mengambil hikmah dari sejarah itu.
Profile Image for ukuklele.
463 reviews20 followers
April 23, 2025
Dikira buku ini bakal semacam Bukuku Kakiku , yang menceritakan pengalaman pribadi sebagai pembaca, hanya saja ditulis oleh satu orang dan uraiannya sampai jadi satu buku sendiri. Terlebih di sampul belakang, ada alasannya buku ini dijuduli Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu: "Bukan lagi buku per buku yang penting, melainkan perasaan, kesadaran, dan pengertian baru yang lebih kuat tentang kehidupan, yang disumbangkan oleh seluruh buku."

Ternyata, buku ini lebih merupakan buku sejarah. Penulisnya pernah menempuh pendidikan di jurusan Sejarah IKIP Sanata Dharma (1955-59) lalu meneruskan ke jurusan yang sama di Fakultas Sastra UGM (1960-64), serta mengajar Sejarah di SMA Stella Duce dan kedua almamaternya tersebut, sebelum lebih banyak berkiprah di dunia kewartawanan. Beliau pernah membantu redaksi majalah Basis, Praba, Rohani, dan Intisari, kemudian menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas (1966-89), serta memegang jabatan-jabatan penting di lingkungan perusahaan Kelompok Kompas-Gramedia.

Dalam "Pengantar", oleh Jakob Oetama dijelaskan bahwa ada titik temu antara sejarawan dan wartawan. Keduanya sama-sama berkutat dengan peristiwa dan karena itu juga dengan sumber, waktu, tempat, lingkungan dan keadaan, serta efek dan interpretasi. Sejarawan berurusan dengan masa lalu, tetapi relevansi masa lalu itu ditarik pula untuk masa kini dan masa depan. Wartawan lebih meliput masa sekarang, yang aktual, tetapi juga yang relevan. Meskipun berlainan kadarnya, akurasi juga dituntut oleh profesi wartawan.

Di samping bekerja, penulis mengoleksi sampai tiga ribuan buku. Berkeputusan untuk pensiun pada 26 Januari 2002, pada 2000 beliau dibebaskan dari tugas-tugasnya di Kompas-Gramedia. Tahun-tahun terakhir itu digunakannya untuk mewujudkan impian menulis buku tentang perkelanaannya di dunia buku-buku yang dimilikinya, sebelum buku-buku itu sebagian dipindahkan ke museum khusus di daerah tempat lahirnya, Yogyakarta, dan sebagian lagi di rumahnya, dengan harapan akan dimanfaatkan oleh umum.

Impian tersebut timbul setelah berhasil mendapatkan sebuah buku yang tidak jarang muncul dalam ingatannya. Buku itu kepunyaan bapaknya, dan baik buku itu maupun bapaknya sudah lama tiada. Buku itu berbahasa Belanda, banyak gambarnya, dan hanya satu dari gambar-gambar itu yang berwarna. Gambar berwarna itu adalah gambar lambang kotapraja-kotapraja di zaman Hindia Belanda yang terdiri dari dua halaman dibikin jadi satu lembaran. Dari buku itu, dimulailah perkelanaan beliau ke buku-buku lain yang bersambungan. Tapi, ruang lingkup bukunya dibatasi hanya pada peristiwa-peristiwa di dalam negeri Indonesia. Perkelanaan itu pun ditentukan oleh alur memorinya mengenai peristiwa-peristiwa maupun tokoh-tokohnya itu. Alur memori ini mesti dikendalikan agar pencarian pustaka pendukungnya tidak sampai melewati batas wilayah yang sudah ditetapkan oleh penulis sendiri, yaitu ruang kerjanya di kantor dan di rumahnya. Hanya sesekali penulis boleh meminta bantuan pihak-pihak luar untuk mencarikan pustaka yang belum dimilikinya.

Dalam "Prakata", penulis menyatakan disclaimer bahwa beliau bukanlah seorang peneliti ataupun ilmuwan yang berusaha menelaah tuntas materi yang ditekuninya, bukan pula pemikir original. Urusan metodologi tidak dihiraukannya, karena memang tidak dipahaminya. Penulis mengibaratkan dirinya seorang kakek yang mengajak cucunya berjalan-jalan santai di sebuah taman bunga, dan menjelaskan sekemampuannya kepada si cucu berbagai macam bunga di taman itu satu demi satu.

Memang kesan awal membaca buku ini adalah random dan mengalir. Satu bab tidak mesti terasa tuntas atau membulat, tetapi malah memunculkan topik-topik baru yang dilanjutkan ke bab berikutnya. Terus terang saya kesulitan menyarikan inti setiap bab, jadi hanya mencatat poin yang teringat atau mengena.

Alih-alih merasa ringan dan santai, saya yang belum banyak membaca buku sejarah ini sempat merasa buku ini berat dan levelnya ketinggian buat saya T_T Maklum sih, sedari awal sudah diberikan gambaran, beliau/penulis adalah "kakek", sementara saya/pembaca adalah "cucu", dan buku ini adalah "taman bunga" yang tersusun dari beratus ragam "bunga". Kendala saya dalam membaca teks tentang sejarah adalah berjejalannya informasi–nama, tahun, tempat, peristiwa, dst–sehingga merasa kepusingan apakah ini-itu harus diingat, yang pastinya tak akan teringat, kecuali secuplik di sana-sini apabila menimbulkan kesan atau mengandung kaitan tertentu.

Maka judul Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu adakalanya terasa tepat, sempat juga mengecoh sebagaimana blurb di sampul belakang masih samar-samar mengenai isi buku ini. Setepatnya inti yang saya dapatkan tentang buku ini adalah "meninjau sejarah Indonesia melalui buku-buku tua", tapi tentu saja itu tidak se-catchy judul yang dipilih wkwk.

Jadi ada 32 judul tulisan yang mengisi buku ini. Dari banyaknya topik yang diangkat, ada sedikitnya tiga topik besar yang saya tangkap. Menurut alur kemunculannya, secara kasar saya kelompokkan jadi: tentang tokoh tokoh yang berperan dalam studi keindonesiaan, terutama pada 1850-1950; kemudian tentang perlawanan rakyat terhadap Belanda di Jawa, Aceh, Bali, dan Sumatra Barat; dan di belakang tentang tokoh-tokoh yang berperan dalam pergerakan nasional dan kemerdekaan. Jadi, walaupun berkesan rada-rada random, sebetulnya ada alur yang kronologis juga.

dari Poerwadarminta ke Poerbatjaraka, dari letusan Gunung Merapi ke pemugaran Candi Borobudur, dari Babad Dipanegara ke Tambo Minangkabau ....

Ada beberapa hal yang kena dari buku ini.

Pandangan terhadap suatu bangsa

Beberapa kali ada kutipan yang me-roasting orang Jawa, dan penulis sendiri orang Jawa. Sebagai keturunan orang Jawa, saya merasa kena. Terlintas, oh, jadi sifat-sifatku ini memang sudah turun-temurun DNA orang Jawa pada umumnya, it's helpless. Bukan cuma oleh orang Belanda zaman dahulu, sampai sekarang pun masih bermunculan sentimen-sentimen terhadap orang Jawa di internet. Bagaimanapun juga, sepertinya tiap bangsa punya stereotipenya masing-masing. Bukan cuma orang Jawa yang kerap jadi sasaran, melainkan juga orang Cina, orang Yahudi, orang Arab, dan sebagainya.

Terbentuk pula pandangan saya tentang orang Belanda berdasarkan pada yang diceritakan dalam buku ini. Di satu sisi, orang Belanda berjasa dalam mencerdaskan bangsa Indonesia, di sisi lain, ada juga yang kejam, licik, kemaruk, tidak tahu diri, mencemooh pribumi sembari memeras keuntungan besar daripadanya. Hinaan terhadap bangsa sendiri yang kerap muncul di komentar-komentar internet itu barangkali tanpa disadari sekadar meniru mental imperialis, menjadi sebentuk self-hatred yang justru kontraproduktif.

Suatu mental imperialis lainnya masih dihidupkan sampai sekarang, diwariskan oleh Snouck Hurgronje. Tipnya untuk masalah Islam Indonesia (halaman 173-174): 1) Tidak menolerir aktivitas politik keagamaan, 2) asosiasi kaum elite pribumi pada budaya Belanda lewat pendidikan ala Barat. Saya kira ini juga yang membentuk mentalitas saya (dan sepertinya banyak orang lainnya): apolitis, lebih condong pada media Barat. Prinsipnya dalam menghadapi Islam: "Kuasai sepenuhnya semua sumber tertulisnya, disertai pengetahuan yang lengkap mengenai realitas yang hidup," yang kalau boleh saya pahami jadi: "Baca sebanyak-banyaknya materi keislaman sembari mengamati realita". Entahkah seseorang itu orientalis atau muslim biasa, prinsip yang terakhir itu perlu terus dijalankan; yang membedakan adalah niatnya.

Penguasaan bahasa-bahasa

Satu perpanjangan dari kegiatan membaca buku adalah mempelajari bahasa-bahasa lain, agar dapat membaca buku dalam lebih banyak bahasa. Penulis sendiri mempelajari lagi bahasa Belanda, sebab pengetahuan bahasa tersebut yang diperolehnya semasa kecil (beliau lahir 1932) kemudian memudar. Buku-buku yang jadi acuan penulisan buku ini pun berkisar pada beberapa bahasa: Indonesia, Inggris, Jawa, Belanda.

Barangkali menguasai banyak bahasa pada zaman dahulu lebih penting daripada zaman sekarang, karena pada zaman dahulu, buku yang diproduksi dalam bahasa sendiri belum sebanyak zaman sekarang. Pada zaman sekarang, selain bahasa sendiri, maksudnya bahasa nasional, cukup menguasai paling-paling satu bahasa lagi yang luas dipakai secara internasional, yaitu bahasa Inggris. Toh ada sangat banyak juga terjemahan bahasa Inggris dari karya-karya berbagai bahasa. Dalam usia yang terbatas, tidak akan sempat membacai semua buku dalam kedua bahasa itu saja yang sudah tersedia sampai sekarang ini.

Barangkali pada zaman dahulu bisa membaca teks saja sudah kemampuan yang sangat berharga, memungkinkan untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik. Sekarang, ketika orang pada umumnya sudah dapat membaca, dan materi bacaan pun melimpah ruah, yang lebih diperlukan adalah kemampuan untuk bersikap kritis, dapat memilih isu yang benar-benar penting untuk diperhatikan serta mengenali informasi yang bisa dipercaya.

Sedikit curhat, sampai sekarang saya masih kesulitan untuk dapat membaca dalam bahasa lain, karena lebih berhasrat menggunakan waktu yang terbatas untuk membaca lebih banyak buku berbahasa Indonesia dan Inggris ^_^;

Pembacaan masa lalu

Buku ini memperkenalkan satu adagium: Historia docet yang artinya "Sejarah itu mengajar". Tapi manusia tampaknya susah belajar. Memang belum banyak buku sejarah yang saya baca, tapi dalam pembacaan random selama ini, pastilah ada berita-berita tentang masa lalu yang saya dapatkan dan tarik kaitannya dengan fenomena yang saya temukan pada zaman sekarang. Satu contohnya dari buku ini, halaman 81, "Sebelum Perang Jawa pecah, keadaan sosial-ekonomi rakyat memang sudah menyedihkan. Demikian pula penyalahgunaan kekuasaan sudah tidak mengenal batas. Beban pajak yang menghimpit kehidupan rakyat berbagai macam jenisnya ...." Barangkali sudah sunatullah bahwa kehidupan akan senantiasa demikian, berulang-ulang, dari kaum ke kaum, sepanjang zaman. Sejarah jadi sekadar pengetahuan umum yang tidak mesti dapat berguna mengubah garis takdir manusia yang sejatinya berputar-putar siklik, bagaikan sejenis permainan saja bagi orang-orang yang gemar mengumpulkan informasi dan menganalisisnya. CMIIW, what do I know.

Di bab terakhir, penulis menyatakan harapan agar penyelenggara negara belajar dari para yogi/pujangga/ilmuwan/sejarawan, seperti beberapa yang telah diangkat dalam tulisan-tulisan di buku ini, yang menjadikan pekerjaannya sebagai suatu "spiritual act"--sarana untuk mencapai Yang Maha Sumber Segala–dan menjalankan asketisme. Kalau boleh saya terjemahkan ke dalam sudut pandang muslim: seandainya para penyelenggara negara sungguh-sungguh meyakini adanya akhirat dan segala perbuatannya akan dipertanggungjawabkan kelak, itu berarti, mereka tidak akan sewenang-wenang dengan jabatannya, tetapi mengedepankan kemaslahatan segenap alam. Sayang, kata "seandainya" tidak terdapat dalam kamus sejarah mana pun dan sejarah kehidupan siapa pun--demikian penulis mengakhiri buku ini.
Profile Image for Vecco Saputro.
12 reviews4 followers
April 27, 2018
Saya selalu mengira-ngira bagaimana P. Swantoro membaca setiap buku miliknya. Apa dia menulis ulang hal-hal penting di buku catatannya saat membaca. Apa dia menandai halaman yang menurutnya penting. Atau dia memaknai setiap halaman yang ia baca.

Saya mengira-ngira proses tersebut lantaran P. Swantoro dapat mengutip ulang isi buku beserta halaman buku yang ia kutip saat menulis buku karyanya yang berjudul Dari Buku ke Buku. Selain itu, dia bisa menyambungkan setiap buku yang ia baca menjadi satu topik. Misalnya, dia menggunakan buku Sukarno: An Autobiography karya Cindy Adams, buku kenangan Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat berjudul Herinneringen, dan buku Takashi Shiraishi berjudul The Age in Motion untuk menjelaskan posisi dan penampilan Tjokroaminoto dalam rapat-rapat umum.

Selain kehebatan dalam menyambung buku-buku, ada satu kehebatan lain yang saya rasakan saat membaca buku ini yakni gaya story-telling yang dipilih P. Swantoro dalam menulis buku ini. Akibatnya, membaca buku ini sungguh asyik karena mengalir dan lancar. Saya merasakan seperti didongengin oleh penulis saat membaca buku ini.

Walau demikian, ada catatan yang perlu saya beritahu kepada calon pembaca buku ini yakni alur penulisan dan pembahasan. Tidak jarang penulis membahas beragam topik dalam satu bab. Penulis pun sudah ngawanti-wanti bahwa perkelanaan pustakanya akan mengikuti perkelanaan memorinya yang loncat-loncat. Sebagai contoh, dia membahas penampilan Tjokroaminoto dalam rapat, sekilas masa kecil Sukarno, dan perjuangan hidup Hatta dalam bab yang membahas hubungan Sukarno-Hatta.

Namun, saya tetap suka buku ini. Bukan karena langkanya buku ini, banyaknya buku yang dimiliki P. Swantoro dalam menulis buku ini, atau hal lainnya. Saya suka buku ini karena merasa diingatkan bahwa memiliki dan membaca buku saja tidak cukup. Perlu memaknai apa yang dibaca dan menuliskan hal tersebut menjadi apa saja.
Profile Image for mahatmanto.
545 reviews38 followers
July 27, 2007
okelah,
ini kumpulan artikel tentang buku-buku yang berguna untuk menerangi masa lalu jawa. umumnya sekitar akhir penjajahan belanda. masa ketika industri percetakan sedang bergeliat dan banyak kalangan elit pribumi maupun keturunan belanda pada menulis di beberapa berkala dan buku.
buku-buku yang diulas oleh buku ini beberapa masih bisa saya jumpai di perpustakaan/museum di yogyakarta, surakarta, jakarta. termasuk di perpustakaan erasmus huis, jakarta.
Profile Image for Nanto.
702 reviews102 followers
June 27, 2008
Dengan memasukan buku ini ke rak saya seharusnya saya telah menambah jumlah judul saya menjadi 200 buku. Buku ini sendiri berkisah tentang buku yang telah dibaca oleh penulisnya. Dituliskan dalam sebuah buku agar menjadi dongeng bagi cucunya.

Ide menarik, apalagi banyak juga buku antik yang diceritakan di sini.
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
June 23, 2009
Sudah lama buku ini menghuni rak buku di rumah saya.
Ini buku favoritku sepanjang masa..makanya kuberi bintang lima!!!

Gaya bertutur pak Swantoro memang asik, kita seperti didongengi tentang koleksi buku-buku antiknya. Buat kolektor buku2 sejarah dan antik rasanya buku ini bisa jadi buku wajib.

Sampai sekarang saya masih suka buka2 buku ini.
Profile Image for lala.
19 reviews7 followers
November 14, 2010
menyenangkan.. :)

Rasanya seperti berjalan-jalan bersama kakek di taman, lalu sang kakek menjelaskan satu per satu tentang bunga-bunga itu kepada cucunya.
Begitulah P.Swantoro menjelaskan buku-bukunya kepada pembaca, satu-satu dia jabarkan.. Ada banyak buku disini, namun semuanya seakan tersambung begitu saja, sangat menyenangkan..

*berharap ada yang beliin buku ini :(*
Profile Image for Fandy Hutari.
Author 15 books13 followers
Read
October 10, 2012
Mungkin kalau Pak P. Swantoro mengenal Goodreads, beliau banyak me-review buku di sini.
Profile Image for Rheza Ardi.
32 reviews1 follower
November 24, 2020
Mata pelajaran sejarah katanya mau dijadikan mata pelajaran pilihan. Ternyata, mendikbud klarifikasi bahwa itu sumbernya dokumen internal yang isinya “permutasi”—demikian Pak Nadiem menyebut istilah untuk (kurang lebih) “berbagai kemungkinan” penyusunan mata pelajaran. Pada akhirnya, Menteri Nadiem bilang mata pelajaran sejarah bakal tetap ada.

Di satu sisi, polemik ini menunjukkan bahwa ada masalah komunikasi di Kementerian Pendidikan. Di sisi lain, publik jadi punya perspektif baru soal mata pelajaran sejarah. Tulisan di Tirto ini ditulis seorang mantan guru sejarah SMA Petrik Matanasi. Dia bilang, harusnya mata pelajaran sejarah diajarkan dengan menerapkan tingkat perkembangan siswa.

Seharusnya di SMA dan SMK pelajaran Sejarah lebih menekankan tentang perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, serta ekonomi di dalam dan luar negeri. Semestinya siswa SMA jurusan IPS dan SMK rumpun ekonomi belajar tentang sejarah perekonomian Indonesia dengan, misalnya, menampilkan Hatta sebagai ekonom atau paling tidak menyinggung sejarah kewirausahaan di Indonesia.
Kasus ditutup. Sekarang, saya mau cerita tentang buku sejarah yang baru tamat saya baca. Bulan Agustus lalu, saya pernah ulas singkat sih buku yang judulnya “dari Buku ke Buku” ini. Kali ini, perspektif ulasan saya akan lebih banyak bahas tentang “pentingnya sejarah”.

Polycarpus Swantoro, penulis buku ini, menempuh pendidikan formal bidang sejarah di IKIP Sanatha Dharma Yogyakarta—selain dikenal juga sebagai salah satu dedengkot Kompas Gramedia. Meski buku ini bahas buku-buku bersejarah tentang Nusantara, kisahnya dibungkus dalam judul-judul tematik.

Pak Swantoro membuka dengan judul Bermula dari Gambar Berwarna. Swantoro kecil terkenang dengan gambar lambang kotapraja Hindia-Belanda tahun 1930-an. Dari sanalah minat studi sejarahnya bermula.

“’Historia docet’, kata sebuah adagium, ‘sejarah itu mengajar’. Masih ada sebuah adagium lagi yang erat kaitannya dengan sejarah... ‘di masa kini terletak masa lalu, di masa sekarang terkandung masa depan’.” (Hal. 6)
Bahasan soal sejarah di buku “dari Buku ke Buku” ternyata ada juga yang terkait dengan tulisan di Tirto yang saya kutip di atas. Pak Swantoro mengutip pendapat Denys Lombard, penulis buku Nusa Jawa. Katanya, “ia tidak mengajarkan sejarah sebagai rentetan peristiwa, tetapi sebagai metode.” Dalam tulisan Tirto tadi, Petrik menulis bahwa justru mata pelajaran sejarah sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari saat ini.

Bagi saya, pelajaran Sejarah seharusnya melatih mereka menggali dan mengklarifikasi informasi. Pelajaran Sejarah sebenarnya bisa dimanfaatkan pemerintah untuk melawan hoaks dan disinformasi, karena dalam pembelajaran sejarah sifat kritis seseorang adalah wajib dan sejarawan mesti melakukan kritik sumber ketika meriset dan menulis.
Artikel yang diterbitkan Tirto juga mengkritisi bahwa sejarah yang disajikan di sekolah, terlalu dominan bermuatan politik. Seandainya begitu, mungkin sejarah bakal jadi pelajaran favorit. Setidaknya bagi saya. Sayangnya, kata Pak Swantoro menutup buku yang saya bahas ini: “kata ‘seandainya’ tidak terdapat dalam kamus sejarah kehidupan siapa pun”. []
Profile Image for Nisrina Amalin.
2 reviews7 followers
September 11, 2019
Membaca buku ini seolah mendengarkan seorang kakek, mantan wartawan suratkabar ternama yang bercerita tentang potongan-potongan sejarah Indonesia kepada cucunya. Banyak hal yang diceritakan, mulai dari sejarah lambang kotapraja di Hindia Belanda (ini yang paling menarik menurut saya!), kisah dibalik penangkapan Pangeran Diponegoro, penggambaran Indonesia pada era Malaise pada tahun 1930 dan kaitannya dengan letusan Gunung Merapi, asal muasal Babad Tanah Djawi, dan masih banyak lagi. Memang tidak saling berkaitan, maka itu buku ini diberi judul; Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu.

Si Kakek menulis buku ini tidak serta merta berasal dari ingatannya sendiri mengenai sebuah alur sejarah, tetapi ia merakit satu persatu dari banyak sekali referensi buku & arsip, yang mungkin orang awam seperti saya tidak akan mampu menemukannya apalagi membacanya! Hahaha. Diantaranya adalah buku De Java Oorlog, The Suma Oriental of Tome Pires, The Atjehers-nya Snouck Hurgronje, majalah-majalah tua BKI (Bijdragen Tot De Taal, Land en Volkenkunde) dan masih banyak lagi.


Untuk yang menyukai sejarah, saya sangat merekomendasikan buku ini. Untuk yang belum pernah baca buku sejarah, sebenarnya buku ini juga pas untuk jadi percobaan pertama. Mengutip tulisan Jakob Oetama dalam pengantarnya "Sejarah, kata buku ini, mengajar. Historia docet. Kita belajar dari sejarah. Ya kita, generasi sekarang ini!".
Profile Image for Arman Dhani.
49 reviews18 followers
October 12, 2020
Polycarpus Swantoro adalah sedikit dari wartawan Indonesia yang biara soal sejarah dengan nada yang tidak membosankan. Seperti juga Ong Hok Ham dan Rosihan Anwar, policarpus membuat sejarah menjadi sebuah tema populer yang tak harus ditakuti dengan kening berkerut. Bukunya Masa Lalu Selalu Aktual merupakan fragmen-fragmen kecil tentang sejarah yang ditulis dengan riang, meski beberapa isinya tidak seriang cara bertutur P Swantoro.

Buku ini ditulis berdasarkan ingatan. Konon, seperti juga mendiang Gus Dur, P Swantoro, memiliki ingatan fotografik yang mampu memberinya gambaran jelas juga detil tentang isi suatu bacaan. Baik judul, halaman dan konten dari buku tersebut. Sebagai produk pendidikan masa kolonial. P Swantoro tentu saja menguasai bahasa Belanda sehingga beberapa buku yang dibahas dalam buku ini merupakan buku bahasa asal negeri itu. Tentu dengan pembacaan personal dan tafsirnya secara pribadi.

Ada sekitar 200 buku yang dibahas oleh beliau. Ia berkisah seolah-olah masing-masing buku berkaitan satu dengan yang lain dan bicara dengan bahasa lugas juga mudah dimengeri. P Swantoro juga bercerita tentang bagaimana ia berinteraksi dengan buku dan bagaimana 3.000 buku koleksi pribadi bisa membentuk ia seperti hari ini. Akhirnya si penulis hanya ingin berbagi, bahwa, salah satu cara untuk bisa hidup dengan baik adalah dengan menyerap pengetahuan sebanyak-banyaknya dan mengamalkannya sebaik baiknya.
Profile Image for Rezky Ichwan.
4 reviews1 follower
January 8, 2022
Buku yang sangat menarik tentang sejarah Indonesia. Buku ini berisi intisari dari buku-buku bersejarah di hindia-belanda / Indonesia. Selain menceritakan kembali isi-isi buku tersebut, P. Swantoro juga menceritakan para penulis buku tersebut. Mengingatkan kita dibalik suatu karya berbentuk buku, ada penulis yang memiliki kehidupan yang tak kalah menarik.

Dengan membaca buku ini seolah-olah kita sudah membaca puluhan buku yang dibahas dalam buku ini. Dari mulai karya kuno di nusantara seperti kitab pararaton, karya orang-orang asing seperti History of Java-nya Daendels, serta tulisan-tulisan dan buku hasil karya tokoh-tokoh bangsa seperti Tan Malaka, Bung Karno, Hatta, Sutan Syahrir, dll. Buku-buku dan tulisan yang dalam keterbatasan kita sebagai generasi muda mungkin tidak akan pernah kita baca.
Profile Image for novi a. puspita.
150 reviews15 followers
October 3, 2024
Semengalir itu baca buku ini. Seakan sedang mendengar mbah uyut kita bercerita tentang kejadian masa lampau yg sambung menyambung. Sejak dari Indonesia masih jadi jajahan Belanda, kemelutnya, sampai dengan masa-masa perjuangan Indonesia merdeka. Kadang juga ada sedikit melantur atau sedikit bereblok dari cerita pokoknya. Hehehe tapi tetap seru. Beberapa cerita cepat bikin ngantuk karena njelimet. Cerita lainnya asyik banget untuk disimak. Kerennya lagi, sumber ceritanya disebutkan dengan cukup jelas. Hebat.
"Di masa kini terletak masa lalu, di masa sekarang terkandung masa depan."
Profile Image for nawir nawir.
58 reviews55 followers
August 15, 2020
Buat saya yang selalu penasaran akan ide keindonesiaan, buku ini benar-benar membuat masygul. Begitu banyak buku yang terjalin di dalam buku ini menceritakan apa itu Indonesia, dilihat dari kacamata sejarah. Dan saya jadi tahu kemana arah pencarian saya berikutnya, berbekal daftar pustaka buku ini tentu saja.
Profile Image for Keumala Dewi.
18 reviews10 followers
February 7, 2020
Buku yang begitu mengasyikkan untuk dibaca. Dari awal saja saya sudah keasyikan. Coba cek layar ereader, syukuurlah ternyata masih ada 400 halaman lebih. Bakal jadi salah satu buku yang harus saya beli versi cetaknya meskipun sudah beli versi ebooknya.
Profile Image for Dedy Ahmad Hermansyah.
42 reviews3 followers
December 8, 2019
saya termasuk terlambat membaca tulisan-tulisan Swantoro. “Dari Buku ke Buku…” saja baru saya baca pada tahun 2018 (diterbitkan untuk kesekian kali), padahal ini pertama terbit tahun 2002. Namun, entah kenapa, pesonanya tidak juga luntur. Apa yang membuat buku tersebut begitu sering dibaca dan sebab itu sering sekali dicetak ulang?

Bagi saya pribadi, yang menarik pertama-tama adalah narasi yang dipilih Swantoro yakni model story telling membuat buku ini bisa diterima banyak kalangan. Sehingga, 200an buku antik (mulai dari babad, dokumen penting masa colonial, hingga buku yang ditulis para founding fathers Indonesia) yang pernah terbit dalam sejarah nusantara hingga Indonesia modern mampu dia rangkai dan rangkum menjadi fragmen-fragmen kisah unik dan menarik, jauh dari membosankan.

Swantoro selalu mampu mencari benang merah antara satu buku dengan buku lainnya—sebab itulah sangat tepat saat diberi sub judul ‘Sambung Menyambung Menjadi Satu’. Karena selalu ada satu ikatan yang membuhul satu buku dengan buku lainnya, satu kisah dengan kisah lainnya, satu ide dengan ide lainnya. Dan saat dia hamparkan narasi untuk menjelaskan hubungan-hubungan tersebut, kita seperti anak kecil yang duduk manis di lantai mendengarkan dongeng dari nenek atau kakek kita.

Saya selalu yakin di balik buku yang bagus ada ketekunan yang tak kenal ampun penulisnya terhadap subjek yang dia tulis. Dan saya rasa begitupun dengan Swantoro saat menulis buku ini. 200an buku yang dia rajut menjadi potongan-potongan kisah historis adalah koleksinya pribadi—dan konon katanya itu hanya sedikit dari koleksi dari ribuan buku yang dia punya. Sebagai pecinta buku dan dikenal sebagai ensiklopedi berjalan—seperti telah disebutkan—tentu dengan sepenuh hati dan perasaan dia menulis “Dari Buku ke Buku” tersebut. Saya merasakan betapa semua buku yang dia kisahkan terasa punya jiwa layaknya makhluk hidup yang memiliki masa lalu, riwayat hidup, kelebihan dan kekurangan, dan sebagainya.

“Dari Buku ke Buku”, bagi saya, adalah sebuah buku yang tak akan pernah bosan jika dibaca ulang. Bukan hanya karena alasan yang telah saya katakan—menarik secara narasi karena menggunakan metode story telling—namun juga karena informasi (detail, renik, biasa, hingga sejarah ‘besar’) yang sangat kaya, sehingga, setidaknya buat saya pribadi, seperti mendengarkan penjelasan karya ilmiah sejarah yang disederhanakan namun tetap dapat ditangkap poin pentingnya.
Profile Image for Rizki Widya Nur.
53 reviews1 follower
Currently reading
February 18, 2017
"historia docet"
"sejarah itu mengajar"
.
.
.
"in het heden ligt het verleden, in het nu wat komen zal"
"di masa kini terletak masa lalu, di msa sekarang terkandung masa depan"
Profile Image for Kimi.
405 reviews30 followers
February 2, 2017
Mari kita jalan-jalan ke masa lampau, tepatnya saat Nusantara belum menjadi Indonesia. Pada abad XIX kerajaan-kerajaan masih berdiri dan mulai memasuki kehancurannya. Saat itu banyak pemberontakan ditambah VOC semakin pintar mengadu domba. Klop lah sudah.

Kemudian pendahulu kita mulai menyadari pentingnya bangsa untuk bersatu. Persatuan ini diperlukan untuk mengusir Belanda dari negara kita. Mulailah berbagai macam pergerakan untuk menyatukan rakyat. Perlawanan dilakukan dengan cara diplomasi dan militer. Partai-partai dibentuk, rakyat bergerilya. Akhirnya, Indonesia merdeka.


Resensi lengkap silakan mampir ke sini.
Profile Image for Famega Putri.
Author 1 book12 followers
August 30, 2012
Buku tentang buku, kurang geek apa coba? Seru membacanya, petualangan menelusuri sejarah Indonesia dari sudut pandang buku-buku usang. Tapi justru dari buku-buku itu banyak cerita yang belum pernah saya tahu. Misalnya, ada cerita dari prajurit Belanda yang menemani Diponegoro dalam perjalanan menuju pengasingan. Kata prajurit itu, Diponegoro sakit dan minta wine. (Buku ini dikasih Adit utk hadiah ulangtahunku, thanks adit!)
Profile Image for Muhammad Ridha Ar-Rasyid.
95 reviews12 followers
June 12, 2016
Direkomendasikan bertahun-tahun lalu oleh dosen saya, buku ini baru saya dapatkan sekitar 2 bulan lalu, dan saya baca sebulan kemudian.

Buku ini menuturkan "sisi lain Indonesia" melalui khazanah literasi yang kaya, yang dibungkus melalui tulisan bercorak story telling yang lugas, mengalir, dan naratif.

Salah satu bacaan yang semestinya tidak dilewatkan oleh penggiat literasi [bukan sekedar kolektor buku].
Profile Image for Abdika.
11 reviews
October 12, 2016
Saya setuju dengan pak gatot utama dalam Review beliau terhadap buku ini yaitu ketika membaca buku ini kita asyik diajak oleh pak swantoro ke dunianya yang berisi buku buku langka yang pernah ia baca. Saya cukup amaze dengan pengetahuan2 baru yang saya dapat di buku ini seperti lambang lambang kota jajaran India Belanda, sejarah balai pustaka, tan malaka, hubungan dwitunggal hatta dan sukarno dll.
Profile Image for Nana.
8 reviews
July 31, 2015
Begitu banyak peristiwa masa lampau yang sengaja tidak dipublikasikan, terutama dalam buku pelajaran sejarah. Apa yang kita ketahui sebagai sebuah peristiwa yang buruk justru adalah sebaliknya. Ada orang yang merasa punya kuasa untuk menyembunyikan sejarah rupanya. Ah, paradoks.
Profile Image for Hanny.
6 reviews
January 23, 2018
Buku yang mencerahkan, informatif, dan mudah dicerna.
Profile Image for Irwan Munawar.
57 reviews1 follower
December 7, 2012
"Buku si Kakek yang membawa kita menjelajah dunia masa silam yang selalu mengagumkan!"
Displaying 1 - 29 of 29 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.