Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seri Ilmu Hidup #3

Kagum Kepada Orang Indonesia

Rate this book
Para pakar dunia di bidang ilmu sosial, ilmu ekonomi, politik dan kebudayaan, sudah terbukti :terjebak" dalam memperspsikan apa yang sesungguhnya terjadi pada bangsa kita. Penduduk seluruh dunia membayangkan Indonesia adalah kampung-kampung setengah hutan yang kumuh, banyak orang terduduk di tepi jalan karena busung lapar, mayat-mayat bergeletakan, perampok di sana sini, orang berbunuhan karena berbagai macam sebab. Negeri yang penuh duka dan kegelapan.

Padahal di muka bumi tak ada orang bersukaria melebihi orang Indonesia. Tak ada orang berjoget-joget gembira siang malam melebihi orang Indonesia. Tak ada masyarakat berpesta, tertawa-tawa, ngeses baass buuss bass buuss, jagokan, kenduri, serta segala macam bentuk kehangatan hidup melebihi kebiasaan masyarakat kita dan yang budaya semacam itu sungguh memang hanya terdapat di kepulauan Nusantara, Tak ada anggaran biaya pakaian dinas pejabat melebihi yang ada di Indonesia. Tak ada hamparan mobil-mobil mewah melebihi yang terdapat di Indonesia. Import sepeda motor apa saja dijamin laku, berapa juta pun yang kau datangkan ke negeri ini.

75 pages, Paperback

First published January 1, 2008

9 people are currently reading
212 people want to read

About the author

Emha Ainun Nadjib

93 books485 followers
Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik KiaiKanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.

Bersama Grup Musik KiaiKanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” katanya.

Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik KiaiKanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. “Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal,” ujarnya.

Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. “Ada apa dengan pluralisme?” katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme. “Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur budayawan intelektual itu.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
37 (23%)
4 stars
65 (41%)
3 stars
48 (30%)
2 stars
4 (2%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 56 reviews
Profile Image for fayza R.
227 reviews56 followers
March 9, 2019
HAHAHAHAHAHA ngakak bgttt
Ini buku ditulia thn 2008 tapi masih relevan banget sama keadaan skr, sarkasnya dewaaa


***

Kita bangsa yang kaya raya sejak dari sono-nya sehingga cukup mengisi kehidupan dengan joget dan tidur saja, tidak perlu repot-repot seperti bangsa-bangsa lain. Sedemikian adil makmur aman sejahteranya negara kita sehingga kita tidak membutuhkan pemerintah yang baik.

Untuk menjadi besar, bangsa Indonesia tidak memerlukan kepandaian. Bodoh pun kita tetap besar. Dengan bekal mental kerdil pun kita tetap besar. Dengan modal moralitas yang rendah dan hina pun bangsa kita tetap bangsa yang besar. Oleh karena itu, kita tidak memerlukan kebesaran karena memang sudah besar.

Profile Image for Nina Majasari.
136 reviews1 follower
September 4, 2023
Buku ini saya tuntaskan dengan cepat. Cuma 78 halaman sih. Isinya lucu. Sepanjang baca buku ini saya nyengir, sesekali ketawa ngikik. Tulisannya satir dan yaa, lumayan menghibur saya sebagai orang Indonesia.

Nemu buku ini di Google Play Book, 20 rb aja. Namun karena yang nulis Cak Nun, tentu isinya tidak receh.

Ada 9 esai di buku ini. Beberapa esainya ada yang udah ketinggalan jaman, maklum saat buku ini ditulis masih jaman Megawati jadi presiden.

Bisa dibilang Cak Nun pengamat orang Indonesia. Ya persoalannya, dinamikanya, kecenderungan budayanya.

Menurut Cak Nun, orang Indonesia punya banyak potensi yang bikin kagum. Namun dalam tulisannya ada juga kagum dalam tanda petik yang berlawanan dengan potensi positif, dan pastinya bikin ngakak.

Seperti pada halaman 58,

Utusan masyarakat Mesir mengantarkan dana untuk Indonesia yang krisis, begitu masuk Jakarta dia batalkan niat itu karena bengong,"Lho mana krisisnya?"

Jutaan orang lalu-lalang belanja barang mewah di sana-sini, makan sedap di setiap tempat, dibanding Kelapa Gading saja Kairo kalah putaran uangnya dan fasilitas kemewahannya.


Bintang 3 untuk buku ini. Serasa baca materi stand up comedy. Sungguh menghibur.
Profile Image for mfi_littleworld.
158 reviews
October 10, 2024
Pertama kalinya bawa karya Emha Ainun Nadjib, dan....
Silahkan baca sendiri.
Apalagi kalau yang suka sarkas dalam bentuk pujian.
Profile Image for Steven S.
705 reviews66 followers
December 22, 2015
Baca versi terbitan Bentang.

Tidak terlalu berkesan, membaca buku ini serasa tulisan Mojok. Tapi at least buku ini bolehlah untuk dinikmati.
Profile Image for Aqyas Dini.
27 reviews
November 30, 2017
Buku ini ku "temukan" di sebuah pameran buku yang diadakan di salah satu pusat perbelanjaan ternama di kotaku. Harus kuakui bahwa tidak ada niatan khusus saat membeli buku ini kecuali fakta bahwa aku membelinya karena harganya yang relatif murah dibandingkan buku-buku lainnya yang dipamerkan saat itu.

Membaca buku ini membuatku agak bingung, sejujurnya. Bingung antara harus tertawa atau menangis karena merasa tersindir. Bingung antara harus bersyukur atau tersungkur karena setiap tulisan membuka pandanganku terhadap potensi sekaligus ancaman yang berada di tiap-tiap jengkal tanah Indonesia.

Layaknya dua sisi dalam satu koin, setiap hal baik sebenarnya memiliki hal buruk yang menyertainya. Pun berlaku terhadap hal buruk; ada hal baik yang menyertainya. Ambil contoh, masyarakat Indonesia yang katanya tetap bisa tersenyum meskipun dilanda musibah atau bencana. Contoh lain, potensi sumberdaya alam yang melimpah tak terkira yang mengundang "penjajah-penjajah" berwajah investor kelas dunia.

Membaca buku bernada sarkas ini cukup bikin geregetan juga, sih. Pemilihan kata dan penyampaian idenya mampu menggugah tanya demi tanya tentang kondisi Indonesia yang sebenarnya. Bagi yang nggak kuat untuk mengungkap makna yang tersirat, nggak usah baca ini deh.
Profile Image for Amel.
208 reviews4 followers
May 29, 2025
☆ 3/5

Baca ini rasanya kayak disanjung-sanjung di sepanjang judul (awal-tengah), yang disanjungnya lebih ke "dibombong", kalau kata orang Jawa. Setiap lembarnya perasaan kita dibikin membuncah oleh sanjungan yang ekstrrrraa. Memang benar, kalau ada yang memuji, kita seharusnya curiga, apakah pujian itu tulus atau cuma sindiran semata.
Aduhhhh, kasian sekali yang baca buku ini tapi dia malah tersipu bahagia.

Tapi dari tengah-belakang, rasanya kayak baca buku yang berbeda. Tiba-tiba intensitas sanjungannya menurun. idk.
Profile Image for Ahmad Rofai.
62 reviews5 followers
October 5, 2018
Cak nun lagi-lagi berhasil memberikan pandangan anti-mainstreamnya tentang orang-orang indonesia.

banyak banget satu dan lain hal yang diutarakan Cak Nun.
kalau dalam bukunya 'mati ketawa ala refotnasi' kemarin lebih banyak menggambarkan kegelisahan yang perlu dipikirkan tentang 'kepemimpinan' indonesia.

nah, buku ini lebih banyak memberikan pandangan Cak Nun tentang kebanggaan-kebangganya pada orang indonesia.
Profile Image for Maria.
223 reviews1 follower
February 14, 2021
Pertama kali membaca buku ini, saya seharusnya tidak melewatkan bagian pendahuluan yang menjelaskan bahwa buku ini berisi satire atau kekaguman yang berlawanan dari hal positif.

Kedua kalinya membaca, mungkin saya lebih mengerti dan tidak terheran-heran lagi. Tentang maksud mengkritik tapi berbalut dengan pujian.

Buku lama ini masih terasa seperti membicarakan masalah negara di masa sekarang. Entah mungkin Indonesia belum berubah atau belum belajar dari kesalahannya...
1 review
December 4, 2023
buku ini berisi deskripsi tentang watak dan perilaku orang-orang indonesia yang dikemas dengan bahasa satir ala emha ainun najib. sebagai orang jawa, tidak mengherankan bahwa pengemasan kritik melalui pujian adalah hal yang lumrah. meskipun begitu, ada banyak hal yang bisa kita tangkap dari penyampaian cak nun tentang watak orang indonesia dan bagaimana posisi bangsa kita dibanding dengan negara lain, dalam sudut pandang budaya.
Profile Image for Ana Fitriyani.
20 reviews1 follower
May 15, 2018
Sarkastik. Ketika membaca terkadang saya bingung, ini pujian atau sindiran. Entah harus tertawa, senyum, atau sedih karena merasa miris. Tetapi buat saya Cak Nun jujur beropini mengenai Indonesia. Negaranya, juga tabiat orang-orangnya. Semoga kata-kata "sindiran manis" dalam buku ini menjadi doa positif untuk negeri kita.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,358 reviews43 followers
September 25, 2017
Bukunya tipis, nyindir abis.

Memang ya, orang Indonesia musti disindir. Walau kadang nggak juga kena sasaran, minimal dibacalah. Kalau langsung galak mah gak bakal laku, kecuali oleh pengikut fanatik, hehee
9 reviews
April 10, 2018
Tata bahasa dan gaya bahasa konsisten seorang Cak Nun. Awalnya agak2 menduga2 ternyata isinya benar satire. Bikin senyum2 dan ngikik terutama sindiran dan ironi yang mengena dgn diri kita dan org2 di sekitar kita.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews361 followers
February 1, 2019
** Books 10 - 2019 **

3,2 dari 5 bintang!

Padahal tahu Cak Nun menulis buku ini kurang lebih 11 tahun lalu dan entah kenapa satirenya ini masih tetap relevan di tahun 2019..

Ahh ya.. Bangsaku emang tidak belum berubah nyatanya..

Thankyou Bookmate!
Profile Image for Geral.
67 reviews1 follower
October 9, 2025
Awalnya saya kira buku ini anti-tesis dari "Manusia Indonesia"-nya Mochtar Lubis. Ternyata isinya pun sama dengan apa yang disampaikan Mochtar Lubis tentang 'orang Indonesia'. Perbedaannya Cak Nun sedikit-banyaknya memuji orang Indonesia—di saat yang bersamaan menimbulkan ironi dan jadi humor😂.
Profile Image for Nanaku.
155 reviews9 followers
August 9, 2017
Terkadang sinis dan optimis bisa berjarak begitu tipis.
Profile Image for Rizka Irawan.
2 reviews
February 28, 2019
Buku ini terbit waktu saya masih SD tapi tetep nyambung sama keadaan sekarang. Sarkas tapi gak lupa si penulis juga menorehkan pesan-pesan tersendiri.
Profile Image for Andika Lesmana.
467 reviews
October 3, 2020
Kekaguman satiris pada bakat-bakat orang Indonesia. Dan harapan pada kemajuan bangsa.
Profile Image for Elyza.
25 reviews
December 15, 2021
Baca ini untuk hiburan karna mumet banget kepala apalagi dalam kondisi Indonesia yang lagi dagelan semua gini. Kocak banget, cekikikan mulu baca ini, satirnya ngena Hahahaha
Profile Image for Mr. Mahardika.
38 reviews
February 23, 2023
Bahasa satire yang menghibur. Menginjak menjatuhkan untuk membenarkan kejadian yang sebetulnya dapat diperbaiki Kedepannya. Sebuah cermin kenegasian akan Indonesia di masa akan datang.
Profile Image for Mardyana Ulva.
75 reviews3 followers
May 15, 2024
Menikmati betul bacaan menghibur yang satu ini. Satir banget. Banyak benernya pula 🙃🙃
Profile Image for Silvia Okta.
97 reviews
August 22, 2020
Baca buku ini karena direkomendasiin sama ibuku buat ngisi waktu luang ketika masa pandemi yang mengharuskan #dirumahaja. Kata beliau buku karya Cak Nun bagus - bagus. Akhirnya baca, dan ga kecewa dengan rekomendasi beliau. Entahlah buku ini kenapa masih relate aja ya sama kondisi Indonesia saat ini, heran dan miris disaat bersamaan. Banyak yang bilang sih isi bukunya satir abis, dan akupun setuju. Sindiran lewat pujian tipis - tipis tapi ngena abis. Keren sih.
Setelah baca buku ini, menyadari banyak hal diantaranya Indonesia tuh sebenarnya punya banyak potensi untuk maju mulai dari SDA nya, pariwisatanya, budayanya, hingga SDM nya. Tapi semakin sadar lagi kita tidak bisa memanfaatkannya dengan baik. Entahlah
Displaying 1 - 30 of 56 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.