Ini adalah novel lanjutan dari serial Kenangan milik Nh Dini. Setelah masa kecil Nh Dini ditulis di tiga bagian sebelumnya. yaitu: Sebuah Lorong di Kotaku, Padang Ilalang di Belakang Rumah, dan LAngit dan Bumi Sahabat Kami, yang selain berkisah tentang kondisi masa kecil Nh Dini (keluarga, sekolah, dan rumah Nh Dini) juga dikisahkan bagaimana kondisi perang masa itu. Sekarang Nh Dini akan berkisah tentang kenangannya akan masa SD kelas 6 hingga masuk SMP.
Nh Dini memulai dengan menguraikan bagaimana sekeluarga sedang piknik ke pasar malam atau dhugder di alun-alun. Menyaksikan penjual obat, druimolone atau bianglala, atraksi sulap, aneka penjual makanan tradisional. Ternyata ini adalah kepergian bersama ayah yang terakhir, karena setelah itu ayah Nh Dini meninggal.
Nh Dini yang menjadi anak yatim secara tidak langsung berlatih menjadi semakin tangguh dan mengerti tanggung jawab. Sebagai metafora kecil adalah bagaimana Ibunya mengajarkan Nh Dini untuk naik sepeda ayahnya. Sepeda lelaki pada masa itu memiliki palangan besi di tengah. Sehingga akan sedikit susah bagi anak kecil, terlebih perempuan. Dengan demikian Nh Dini juga secara tidak langsung diharuskan memakai celana ketika naik sepeda. Ketegaran semacam inilah yang membentuk pribadi Nh Dini menjadi kuat.
Kisah cinta Nh Dini juga menjadi seru untuk dinikmati. Ketika kelas 6, seorang siswa lelaki keturunan arab menunjukkan ketertarikan pada Nh Dini. Sering menanyakan kepada kawan-kawan Nh Dini, juga beberapa kali mengirim surat dan foto kepada Nh Dini. Tetapi Nh Dini dingin, karena kawan sd-nya itu tidak berani memulai pembicaraan setiap mereka berkesempatan bersama. Lalu ada Mas Yanto, yang menjadi relawan pemberantasan buta huruf di kampungnya. Tetapi Mas Yanto terang-terangan berusaha mengatur apa yang disukai Nh Dini kecil. Dilarang memakai celana panjang, memendekkan rambut dll. Sedari kecil aku memiliki perasaan yang tidak dapat diperintah atau dipaksa. Aku senang kepada seseorang atau tidak senang. Hanya itu. (hal.86)
Dalam dunia kepenulisan Nh Dini menemukan bakatnya dan menunjukkan perkembangan. Dia mulai mengirimkan cerita radio, memenangkan kompetisi menulis cerita di PMI, dan bahagia dengan pemasukan uang saku. Nh Dini meyakini, seperti apa yang diajarkan ibunya adalah menulis dengan kemantapan hati. Kalau hatinya belum senang tulisan itu tidak akan Nh Dini apa-apakan, apalagi dikirim. Setelah hatinya merasa puas, mantap dan emosional barulah dikirimkan. Masa itu tujuan utama Nh Dini menulis adalah menambah tambahan 15 rupiah dari upah menulis cerita radio.
Jika di kemudian hari, lama sesudah itu, ada orang yang berkata bahwa aku menulis tidak untuk uang, itu sama sekali tidak benar. AKu selalu mengarang dengan maksud untuk bisa menarik keuntungan. Selain keuntungan kebendaan, kuinginkan supaya orang, dalam beberapa hal kaum lelaki, mengenal dan mencoba mengerti pendapat dan pikiranku sebagai wakil wanita pada umumnya. (hal.76)
Selain itu, Nh Dini juga mendapatkan nama Dini dari guru smp-nya.
Novel kenangan yang manis.