Kisah tentang Dessy anaknya Kapten Kosasih yang melihat kemungkinan pelaku pembunuhan di lokasi wisata kakek bodo, kemudian berkembang menjadi cerita penyelidikan sampai tertangkap pelaku yang sebenarnya. Dari sisi alur kisah sebenarnya bagus, cuma ada beberapa hal yang terlalu disebut kebetulan, untung-untungan, dan berbeda dari realita.
Pertama ketika Gozali menyamar duduk di warung kopi untuk membantu menjaga Rumah Kosasih dari jauh. Tiba-tiba Dessy mendatanginya dan mengajak pulang hanya karena takut Gozali kedinginan diluar. Aneh, seharusnya sebagai korban yang nyawanya sedang diancam pembunuh dan sebagai anak polisi, Dessy yang sudah dewasa bisa berfikir bahwa Gozali jelas sedang menyamar untuk menjaga dirinya. Masalah kedinginan kurang masuk akal karena diwarung itu banyak orang-orang khususnya tukang becak yang begadang semalam suntuk atau tidur di becaknya.
Kedua, Peter bule yang tiba-tiba 'ditangkap' di bandara hanya karena kartu namanya ada di kopor korban. Ini juga aneh dan irasional. Sebagai pengusaha, di kopor saya saja ada ratusan kartu nama yang saya letakkan di card holder. Hal itu biasa, bahkan banyak yang disimpan di dompet. Kartu nama tidak bisa dijadikan indikasi penyelidikan kecuali ada bukti kuat bahwa saksi bertemu dengan korban atau tersangka sebelum peristiwa pembunuhan. Bahkan sampai Peter dibawa ke Kamar Mayat segala hanya untuk menyaksikan apakah dia kenal dengan korban. Dalam realita, saksi tidak perlu sampai ke kamar mayat, cukup ditunjukkan foto korban saja. Peterpun seharusnya bisa menolak saat ditangkap karena tidak ada surat perintah penangkapan atau surat panggilan penyidikan.
Ketiga, si Dessy ini super bego atau gimana, mau aja ikut teman yang tiba-tiba ada acara dadakan mengunjungi dosen yang sakitdi RS. Hanya dijemput satu orang teman yang amat sangat memaksa kok mau ikut? Bahkan tidak meninggalkan pesan apapun ke saudara dan tetangga, ikut seperti kebo dicocok hidungnya. Padahal saat itu nyawanya terancam oleh pembunuh. Umumnya untuk mengunjungi orang sakit itu direncanakan dulu dan bersama-sama teman-teman yang lain, apalagi si dessy ini perawan. Atau mungkin kena gendam.
Keempat, saat melacak penculik Dessy, Gozali mencoba mendatangi lokasi perusahaan yang ada di jadwal Peter. Apa hubungannya antara lokasi perusahaan client Peter dengan kemungkinan lokasi penyekapan Dessy? Tidak ada alasan pasti mengapa hal itu berhubungan, jadi macam tebak-tebakan saja yang kemungkinannya sangat kecil dan tidak masuk akal.
Kelima, pengungkapan pelaku pembunuhan ternyata hanya dari keterangan kaki tangannya yang menculik Dessy, bukan penyidikan total yang menarget tersangka. Dari yang tadinya tidak pernah diselidiki tiba-tiba langsung terbukti pelakunya karena kesaksian orang suruhan. Tidak ada pengumpulan barang bukti, keterangan saksi-saksi, penyidikan motif dan alibi, pengawasan terduga pelaku-pelakunya seperti layaknya penyidikan Kepolisian. Jika saja tangan kanan ini tidak dikenal oleh Dessy, maka novel ini tidak akan bisa tamat.
Terlepas dari beberapa kekurangan diatas, saya menilai novel ini layak baca, khususnya untuk pembaca yang suka cerita yang ringan-ringan saja. Untuk pembaca yang lebih serius, jangan berharap terlalu banyak, nanti komplainnya lebih banyak dari 5 poin yang saya tulis diatas. Dinikmati saja dan kisah novel-novel S Mara Gd masih lebih baik daripada penulis-penulis lain dijamannya.