Ada kisah yang tak terhitung di balik setiap nama, tapi ada nama yang tertimbun agak dalam sehingga kisahnya tak banyak terdengar oleh masyarakat modern. Salah satu nama tersebut adalah Sutan Sjahrir; perdana menteri pertama Indonesia, ‘senjata rahasia’ di balik dwitunggal Soekarno-Hatta, dan negarawan yang jasa-jasa di balik layarnya tak ternilai harganya.
Buku ini memuat kumpulan tulisan dari para tokoh bersejarah yang pernah mengenal Sjahrir, diurutkan secara semi-kronologis. Para penulis dari berbagai latar belakang budaya, jabatan, dan negara itu saling berbagi kisah tentang Si Bung Kecil, sehingga tercipta gado-gado sudut pandang yang sangat mengundang selera. Gado-gado tersebut tidak selalu sedap disantap; kadang, saya macet membaca di bagian-bagian tertentu. Beberapa penulis lebih pandai bercerita ketimbang yang lainnya, dan ada beberapa tulisan (oleh narasumber luar negeri) yang diterjemahkannya kurang enak atau masih bertebaran salah ketik. Ada juga beberapa tulisan yang menyorot hal yang nyaris sama, sehingga kesannya jadi repetitif.
Namun secara keseluruhan, banyak sekali hal menarik dan berharga dari buku ini. Nuansa utamanya memang sarat kekaguman dan nostalgia, tapi tidak serta-merta bablas menjadi hagiografi yang terlalu mendewakan sosok Bung Sjahrir. Ia dibahas bukan hanya sebagai tokoh politik, melainkan sebagai manusia yang utuh dengan segala kompleksitasnya. Tak hanya pencapaian dan sifat-sifat baiknya yang dibahas, tapi juga titik-titik lemahnya dan akar penyebab mengapa tokoh yang begitu berjasa ini malah menghabiskan sisa-sisa hidupnya sebagai tahanan politik oleh negaranya sendiri.
Menariknya lagi, beberapa penulis juga menggunakan sosok Sjahrir sebagai landasan untuk menuangkan opini maupun menganalisa berbagai tema yang lebih luas; seperti esensi demokrasi yang sejati (oleh Sjarifuddin Prawiranegara), hubungan sastra dengan kemasyarakatan (Mochtar Lubis), analisis archetype tokoh sejarah dan bedanya ‘negarawan’ dengan ‘politikus’ (Y.B. Mangunwijaya), detil-detil perjanjian Linggarjati dari kubu luar negeri (P. Sanders), dan masih banyak lagi.
Pemikiran 'kemerdekaan itu harusnya tak semata euforia kebebasan dari kolonialisme, melainkan kemerdekaan yang dilandasi pendidikan dan kearifan rakyat' menjadi tulang punggung tematis dari sosok Sjahrir maupun buku ini. Sisi gelap revolusi dan kekeruhan percaturan politik dengan tokoh-tokoh yang ideologinya saling berbenturan seakan menandaskan masih betapa labilnya bangsa Indonesia selepas 'momen kemenangan' pada 1945; Sjahrir, sosok yang pragmatis, rasional, dan anti-fasisme seakan menjadi tumbal pada masa-masa pasca-kemerdekaan tersebut.
Patut dibaca bagi siapa pun..... bangsa Indonesia maupun bukan; yang sudah hafal luar kepala riwayat hidup Sutan Sjahrir maupun yang sekedar mengingatnya sebagai salah satu nama yang harus dihafal di buku cetak sekolah; yang sudah makan asam-garam ilmu politik maupun yang ingin belajar lebih banyak.
N.B. Terima kasih banyak untuk fraulein atas buku dengan bon pembelian yang masih nyelip di dalamnya yang sangat membuka ruang pikiran saya ini!