Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
“Aku berharap musim dingin dapat membekukan rasa sakitku,” ujarku lirih.

“Begitu?” tanya laki-laki itu, asap putih yang hangat keluar dari mulutnya. “Kau pikir, ketika rasa sakit itu membeku, kau tidak akan merasakan sakit lagi?”

“Mungkin begitu.”

“Kurasa kau tidak akan bisa membekukan rasa sakitmu.”

“Kenapa?”

“Karena rasa sakitmu akan mencair ketika musim semi tiba.”


Tiap tahun, Miyazaki Sora selalu menantikan kedatangan musim dingin. Titik-titik putih yang jatuh dari langit berarti tiba waktunya untuk bermain di halaman bersama sang ayah, sementara si ibu akan menyiapkan hidangan lezat di meja makan. Di balik gunungan salju yang menumpuk di halaman, Sora menemukan kehangatan kasih sayang kedua orangtuanya. Namun itu dulu. Sebelum suatu rahasia yang terbongkar di musim dingin tiga tahun lalu merenggut nyawa ibunya. Sebelum judi dan alkohol menjerat perhatian ayahnya. Sebelum Sora memilih melanjutkan hidupnya dengan menapaki jalan yang salah.

298 pages, Paperback

First published February 9, 2015

22 people are currently reading
328 people want to read

About the author

Laili Muttamimah

5 books39 followers
Laili Muttamimah telah menulis lima novel yang diterbitkan di bawan naungan Kelompok Penerbit Kompas Gramedia: Inseparable (2014), Haru no Sora (2015), Mayday, Mayday (2018), Fresh Grad (2021), dan yang terbaru, Viral (2024). Dia jatuh cinta dengan genre realistic fiction, yang turut memengaruhi tu­lisannya-tulisannya, terutama dalam membingkai isu-isu penting kehidupan remaja dan dewasa muda. Silakan sapa Laili di lailimuttamimah.com.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
65 (34%)
4 stars
73 (38%)
3 stars
42 (21%)
2 stars
8 (4%)
1 star
3 (1%)
Displaying 1 - 30 of 63 reviews
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,456 reviews73 followers
November 14, 2016
Sakit. Bacanya bikin cenat-cenut di dada dan kelopak mata. Awalnya kukira ini cerita "sakit banget" dah. Bercerita tentang fenomena enjo kousei (anak-anak sekolah yang bisa diajak kencan) di Jepang. Dan nggak sebatas kencan, tapi juga sampai kamar hotel. Awalnya protagonisnya ini typical cewek-cewek bitchy yang dibenci. Bodoh, nggak niat sekolah, punya sidekick yang sama-sama tukang bully, dan profesinya itu lho. Nggak ada simpatik-simpatiknya.

Tapi perlahan terkuak bahwa alasan ia terjebak dalam dunia prostitusi remaja ternyata karena alasan yang sungguh menyakitkan. Ayahnya jadi sinting dan pemabuk setelah istrinya meninggal. To add the salt to the wound, istrinya itu meninggal karena bunuh diri, dan bunuh dirinya karena tahu suaminya selingkuh. Nah loh. Mirip novel Replay-nya Lia Seplia, ya. Tapi ini terbit lebih dulu daripada Replay. Dan kehidupan Sora jauh dari kehidupan ala putri negeri dongeng seperti di Replay. Intinya dia hancur-sehancurnya. Dengan dimucikari Ken, dia memang dapat banyak uang, tapi uang itu bahkan nggak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan nutrisinya. Itu karena sebagian besar uang yang dia dapatkan digunakan untuk membayar utang-utang ayahnya. Hoalah... Ga nyangka kan kover sepinky ini ternyata berisi cerita yang bikin tokoh utamanya berdarah-darah.

Saat Sora sudah tidak tahan lagi dengan ulah ayahnya, dia menangis di taman dan bertemu dengan seseorang yang mengatakan bahwa musim semi akan mencairkan luka hatinya. Lelaki itu pun memberikan mantelnya pada Sora yang keluar rumah tanpa pakaian hangat. Sejak itu Sora pun jatuh hati dan penasaran dengan lelaki misterius itu.

Ternyata lelaki itu datang sendiri ke kehidupannya, dalam bentuk Yoshida Haru, murid pindahan dari Kamakura. Lah, kukira lelaki yang dimaksud itu lelaki dewasa. Ternyata sama-sama ABG tho? Kenapa nggak pakai istilah pemuda syiiih? Kirain bakal ada cinta yang lebih dewasa di sini. Haha.

Tapi begitu sekelas, image Haru ternyata berbeda jauh dengan bayangan Sora tentang pemuda baik hati yang memberikan mantelnya saat turun salju. Haru bersikap sangat dingin dan hanya dekat dengan Airi, cewek yang jadi korban penindasan Sora dkk. Tapi Sora nindas Airi ternyata lebih karena biar cewek itu kuat dan nggak lemah serta diam saja kalau dibully orang lain. Nah. Twisted, kan. Kedekatan Airi bikin Sora cemburu setengah mati. Apalagi Airi kemudian berubah drastis menjadi cewek kurus yang lebih pemberani serta aktif.

Sora berusaha menarik perhatian Haru dengan mengajaknya kencan. Tapi Haru baru bersedia asal Sora mengalahkannya dalam ulangan kanji. Dan karena yang paling jago kanji di kelas itu Haru, terpaksa Sora menundukkan kepalanya agar pemuda itu mau mengajarinya. Di sini perkembangan cerita jadi sangat menarik. Sora yang aslinya pemalas mati-matian berusaha belajar kanji di bawah pengawasan ketat Haru yang cukup galak dalam mengajar. Namun, usaha kerasnya berbuah manis. Ulangannya mendapat nilai 100, nilai yang sama dengan Haru, dan kencan pun dimulai.

Haru nggak membawa Sora ke acara kencan yang manis dan penuh bunga. Malah ia mengajak gadis itu pergi ke Kamakura dan menjelaskan sejarah kuil-kuil yang ada di sana. Menarik sekali. Cumaaa... sayangnya... seperti tipikal novel-novel berseting luar negeri lainnya yang ditulis orang Indonesia, deskripsi seting ini begitu kagok dan tampak dikopi bulat-bulat atau digabung dari ensiklopedia wisata setempat. Eh. Jadi aku nggak dapat suasananya sama sekali. Udah gitu gaya bahasa yang udah mengalir, menghanyutkan, dan menyesakkan di awal-awal sampai pertengahan tiba-tiba berubah jadi... yah... biasa. Doki-dokinya kurang terasa huhuhu.

Untungnya begitu adegan kencan berakhir dan mereka berdua pulang ke Tokyo, narasinya kembali normal. Oh ya, saat di Kamakura itu Sora baru mengetahui kalau ibu Haru sudah meninggal. Sebaliknya, Haru pun menjadi teman pertama yang mengetahui kalau ibu Sora meninggal karena bunuh diri. Keduanya berbagi luka.

Di Tokyo Sora mulai memikirkan jalan hidup yang sudah dilaluinya selama ini. Akhirnya ia pun bertekad untuk berhenti dari dunia malam. Yang mengherankan (Sekaligus melegakan), Ken bisa menerima dan membebaskan Sora dengan mudah. Aneh ya. Mucikari yang nggak brengsek? Hmm... tapi yah, dari awal memang karakter Ken lebih manusiawi sih. Nggak bajingan pemeras piye gitu. Ken ternyata dulunya anak yatim piatu di panti asuhan. Rasa sakit di masa lalunya itu yang membuatnya sampai menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup.

Namun, cobaan terus menimpa Sora. Baru saja dia pulang, sudah ada kabar dari RS kalau ayahnya sedang masa kritis karena kebanyakan alkohol. Rie dan Sae, sahabat Sora, dan Haru datang ke RS untuk menghibur gadis itu. Saat itu Haru tiba-tiba memeluk Sora dan meminta maaf kepada gadis itu. Tapi untuk alasan apa? Sora terus bertanya-tanya tanpa dapat jawabannya.

Klimaks memuncak rahasia kehidupan ganda Sora terkuak di hadapan teman-temannya. Dunia Sora langsung jungkir balik ketika ia diskors, dan semua temannya jijik serta menjauhinya. Bahkan termasuk Haru, Rie, dan Sae. Dalam keterpurukannya, kini Sora hanya memiliki ayah yang tidak bisa diandalkan. Tertekan oleh keadaan, Sora mengunci pintu kamar mandi sambil menggenggam obat-obatan. Obat yang sama dengan yang telah mengantarkan nyawa ibunya ke akhirat.

Buku yang cukup tebal ini mampu menggambarkan dualitas kepribadian manusia yang unik. Sisi terang dan gelap seringkali beradu hingga yang tersisa hanyalah abu-abu. Bagaimanapun, di mana pun tempatnya, perzinahan hanya akan menghancurkan kehidupan. Tidak hanya bagi pelaku, tapi juga orang-orang di sekeliling mereka. Namun, bagi yang sudah sadar, tak pernah ada kata terlambat untuk kembali. Selama langit biru masih menggantung di atas kepala.
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
August 6, 2015
Dulu, aku selalu menyukai musim dingin. Tetapi sejak kematian ibu, semuanya terasa berbeda. Bagiku musim dingin, sudah tidak sama lagi. Aku ingin sekali musim dingin mampu membekukan hatiku, sehingga aku tidak merasakan rasa sakit lagi.Ternyata....

Namaku Sora, aku hanyalah gadis remaja. Tapi bebanku begitu berat. Sejak kematian ibu, aku harus berusaha lebih keras lagi. Aku yang dulunya bisa menikmati masa remajaku dengan bahagia, sekarang harus menjadi penopang keluarga. Ayahku hanya bisa mabuk-mabukkan dan bermain judi, meninggalkan sejumlah utang yang membuatku harus membayarnya...

Tak ada jalan lain lagi, aku pun memutuskan untuk bekerja. Bukan sembarang pekerjaan. Aku menjadi "wanita malam", hanya itu yang kupikirkan jalan pintasku untuk mencari uang sebanyak mungkin untuk membiayai hidup kami dan utang-utang ayahku.

Hingga aku bertemu dengan Haru. Hidupku tak sama lagi. Haru layaknya musim semi yang membuatku perlahan-lahan jatuh cinta. Tetapi anehnya sikapnya begitu berbeda terhadapku, layaknya orang asing. Haru menjadi pribadi yang begitu dingin terhadapku, berbeda dengan wanita lain, apalagi terhadap Ai, gadis yang selalu kuganggu. Tidak, aku tidak membenci Ai, aku hanya membenci kehidupannya yang begitu sempurna...

Aku suka gaya bercerita Laili, lincah dan mengalir lancar. Twist yang hadir walau sejak awal sudah kutebak, tetapi tetap saja membuatku terus larut dengan ceritanya. Haru dan Sora, dua orang yang sama-sama punya rahasia, hadir untuk menyembuhkan satu sama lain...

Chemistry antar tokoh juga begitu terasa, tidak ada satupun tokoh yang sia-sia dalam novel ini, saling mendukung dan berkaitan membuat kisah ini menjadi sesuatu yang jauh lebih berwarna.

Tidak hanya menyoroti kehidupan Sora saja, tetapi sekelumit kisah persahabatan dan kasus pembullyan di sekolah yang memang sudah biasa terjadi.

Secara keseluruhan, aku sangat menikmati dan menyukai kisah Haru No Sora ini.^^
Profile Image for Jenny Faurine.
Author 18 books181 followers
July 3, 2015
Menguras emosi banget. Dibawa naik terus turun, terus naik lagi.
Begitu aja terus, sampe ladang gandum berubah jadi koko crunch. #heh
Dan sialnya, ini kenapa juga sih hubungan bapak-anak perempuannya kental banget? Kenapaaa? Benci bacanya, bikin baper. *jedotin kepala ke tembok*
Profile Image for Dini Novita  Sari.
Author 2 books37 followers
July 25, 2015
baguuus!
saya suka ide ceritanya, alurnya yg rapi dan pas--tidak buru2 pun tidak bertele2, juga konfliknya yg berat tp disampaikan dengan mudah dicerna sesuai segmen YA yg disasar. novel lokal dengan setting Jepang, yg disampaikan dg baik. latar Jepang-nya dideskripsikan dg apik, tidak terasa tempelan, pun hal2 lain mengenai budaya Jepang. penuturannya juga enak, tidak terasa kaku seperti terjemahan, tapi juga tidak terlalu Indonesia.
sebenarnya novel ini layak mendapatkan 4 bintang karena dari segi cerita saya sangat menyukainya. tapi, ada dua hal yg bikin saya menghilangkan satu bintang:
1. masih ada kesalahan penulisan dari segi ejaan tidak sesuai kbbi, eyd, juga typo yang meski tidak parah, tapi cukup terselip di sana-sini--lumayan banyak.
2. penulis selalu mencantumkan kutipan dari Haruki Murakami di tiap perpindahan bab. seharusnya tidak salah mencantumkan kutipan penulis lain selama nama penulisnya disebut. tapi bagi saya pribadi--belum dapat acuan jelas tg aturan ini--kurang etis karena kutipan yg diambil konsisten dari 1 penulis itu saja. jadinya kan banyak juga proporsi Haruki Murakami di sini, meski satu kalimat tapi kalau dikalikan 17 bab ya lumayan juga. saya sampai cek di ucapan terima kasih, penulis tidak repot2 berterima kasih pada Haruki Murakami yg kutipan2nya bertebaran di novelnya. andai kutipan yg diambil dari banyak penulis, buat saya nggak masalah.

nah jika di lain kesempatan saya bisa baca karya Laili Muttamimah lagi, saya tentu bersedia! :)
Profile Image for Yasmin Hadi.
31 reviews2 followers
April 3, 2017
I absolutely liked it! I read this book in one seating, simply because the story was compelling and I can't put it down!
Gue jarang sekali baca novel young-adult Indonesia (sekalinya cuma Ika Natassa atau Dee) tapi entah kenapa cerita yang sederhana tapi emosional ini bisa banget bikin gue suka. It's such a clean writing. Beberapa review bilang kalau penulisannya amat baik dan gue sangat mengakui itu. Pemaparan yang nggak buru-buru, emosi yang dibangun dengan apik, dan yang paling penting bahasa yang digunakan Laili adalah bahasa sederhana yang nggak ngalor-ngidul. Mungkin yang menurut gue kurang adalah elemen humor yang bikin cerita ini terlalu serius dan agak "gelap". Tapi tetap nggak mengurangi kekaguman gue terhadap presentasi cerita yang dihadirkan. I personally liked the way Laili captured and narrated a life of Sora; her character as a person, her family (I did clench my fist during her cold-war with her dad), her school, her friends, and her boy-crush. And of course I liked Haru; a mysterious dark-eyed boy with messy hair and a bookworm? I can't say not to that!
Good luck untuk buku ketiganya, Laili!
Profile Image for Ainay.
418 reviews77 followers
April 10, 2020
Tipikal tokoh yang paling kubenci dalam novel adalah tipe-tipe Sora begini. Selalu merasa paling menderita sedunia, sok savage, selalu playing victim. Ya ampun, setiap tokoh pun mengalami masa lalu dan dan kesedihan sendiri, tapi ya gausah terus mengecilkan kesedihan mereka dan merasa cuma kamu yang paling sedih dan menderita.

_"Kau selalu begitu, mengatakan bahwa dirimu depresi tanpa menyadari bahwa aku jauh lebih depresi daripada kau! Aku sudah depresi bahkan sebelum kau datang di hidupku, dan kini, aku merasakan depresi untuk kedua kalinya karenamu!" --Sora, hal 270_

Tuh salah satu contohnya betapa minta ditempelengnya si Sora. Sudah tak bisa bedakan depresi dan duka, eh ditambah mau menang terus dalam perlombaan siapa-yang-paling-teraniaya.

Parahnya lagi, Sora ini tukang bully. Lah di endingnya kok dia malah dijadikan hero untuk korban bully-nya. Mau bikin kesan Sora ini cewek keren, pemberani, motivator gawl, tapi jatohnya malah hmmm ...

Oh, btw aq kurang nyaman dengan gaya bahasanya. Terasa kaku. Tapi aku cukup senang karena alurnya bagus dan nggak buru-buru.
Profile Image for Pattrycia.
351 reviews
June 24, 2015
Wow. Kisah hidup Sora benar2 suram & tragis. Luckily everything ended well for her.
Profile Image for Vere Nadya.
3 reviews
February 11, 2015
Haru no Sora adalah novel kedua Laili yang saya baca setelah Inseparable. Menurut saya, keduanya memiliki elemen berbeda yang memang tidak bisa dibandingkan. Inseparable adalah novel bertema remaja dan jelas saja menggunakan bahasa lebih ringan khas teenlit, sedangkan Haru no Sora adalah novel bertema YA yang menggunakan bahasa lebih baku. Menurut saya, tidak ada perbedaan yang mencolok dari kedua novel itu, saya sama-sama menyukainya. Saya menyukai gaya penulisan Laili yang mengalir membuat saya tidak sadar bahwa saya sampai di halaman terakhir.

Haru no Sora tidak cuma bisa dilihat dari sekadar twist atau semacamnya, karena kalau dipahami lebih detail, banyak sekali nilai moral dalam novel ini. Seperti kisah Sora yang rela melakukan pekerjaan "itu" demi ayahnya dan dalam kehidupan nyata, hal itu memang banyak terjadi. Juga tentang konflik Sora dengan orang-orang di sekitarnya yang saya rasa "membumi". Karena YARN mengusung tema realistis, bagi saya, novel ini sudah menyajikan konflik yang nyata. Beberapa adegan dalam novel ini berhasil menggetarkan hati saya, membayangkan betapa Sora rela berkorban demikian besarnya untuk sang ayah.

Untuk chemistry antara Sora dan Haru, saya rasa sudah terjalin dengan baik. Saya suka adegan mereka di Kamakura, meski perjalanan mereka terasa sebentar.

Dan satu lagi hal yang patut diacungi jempol (yang mungkin tidak disadari banyak pembaca) adalah novel ini BEBAS TYPO. Saya belum baca dua seri YARN yang lain, tapi saya rasa penulisan kali ini lebih rapi. Saya benar-benar salut dengan kerjasama antara editor dan penulisnya.

Jadi, saya tidak ingin membohongi diri sendiri, bahwa saya sangat menyukai novel ini. Ditunggu karya selanjutnya, Laili! :)

"Kalau kau sedang gundah, angkatlah kepalamu dan pandanglah langit di atasmu. Di sana kau akan menemukan ketenangan yang kau cari." - Yoshida Haru.
Profile Image for Abdul Azis.
127 reviews13 followers
February 7, 2015
3,5 bintang buat buku kedua de Laili *berasa tua* yang gue baca. but wait....

ada yang udah baca novel pertamanya yang judulnya 'Inseparable'?, kali boleh membandingkan gue lebih suka dengan novel ini dari pada yang pertama. perbedaan yang paling mencolok adalah dari teknik/gaya tulisan. kalo lo baca inseparable trus kesel sendiri lo berarti sama kaya gue, cerita yang standard dengan alur yang biasa aja dan cara bercerita yang sangat pemula.

kembali ke Haru No Sora, novel dengan settingan jepang ini bisa jadi semacam perbaikan dari penulis, yang gue gak begitu suka sama novel ini adalah

1. Cover yang bikin gue mikir 'mending lo cari ilustator cover yang bagusan dikit deh', soalnya covernya gak menarik, cuman satu warna dengan gambar yang 'apaan si nich?' padahal dari cerita udah bagus.

2. Settingan Asia semacam Jepang dan Korea yang udah banyak banget ditoko buku ampe gue mau muntah ngeliatnya, bahkan diawal baca gue ragu soalnya yaitu tadi gak ada hal yang baru, untung aja ditunjang sama cerita.

3. Entah mengapa karakter Sora buat gue kurang nampol atau gereget, apa karena disatu saat dia bisa jadi baik, bitchy, atau jahat secara bersamaan. malah gue lebih suka sama karakter Airi. yang lainnya cukup.

yang gue suka dari novel ini selain gaya menulisnya, gue sedikit suka sama twistnya ya walaupun masih predictable tapi lumayanlah. persahabatan antara Sora, Risa dan Sae bisa jadi bikin sirik karena kekompakannya. pengorbanan sora buat sang Ayah merupakan bagian yang bisa bikin lo berdecit dalam hati ' karena mencintai itu tidak harus bahagia' *ngelantur*. dari segi alur diending sebenernya berasa dicepetin. ok gue mulai stuck buat nulis review, haha...

Keep Writing Laili :)
Profile Image for Indri Octa Safitry.
Author 1 book18 followers
October 22, 2019
"Bunga sakura selalu mekar dan jatuh bersamaan. Ia tidak pernah membenci angin yang membawanya jatuh, juga musim panas yang membuatnya berubah warna. Ia akan tetap memancarkan keindahannya, membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa bahagia." (hal. 158)

Novel ini menceritakan seorang gadis remaja yang masih duduk di bangku SMA sedang berjuang untuk hidupnya. Miyazaki Sora. Dia berjuang sendirian untuk membayar hutang Ayahnya dengan bekerja sebagai pelayan laki-laki. Menyedihkan memang. Ditambah, masa lalu yang selalu menghantuinya membuat dia semakin terpuruk bahkan merasa iri terhadap teman-temannya

Sampai, datang Yoshida Haru sebagai murid baru yang ternyata sudah bertemu dengan Sora karena tidak sengaja. Semacam moment awwkard gituh

Sayangnya ternyata Sora dan Haru memiliki masa lalu yang berkaitan dengan musim dingin. Musim dimana membuat kehidupan keduanya berubah drastis. Bahkan membuat trauma. Apa mereka justru bisa saling menyembuhkan masa lalu? Atau justru semakin membenci musim dingin?

Baca ini tuh menyesakkan. Walau diawal agak kurang sreg dengan pekerjaan Sora. Tapi, ternyata ada sebab dan akibatnya.

Alurnya maju sedikit mundur dengan penjelasan yang menjawab semua pertanyaan kisah masing-masing. Juga mendetail

Latar tempat jepang yang cukup detail dan jelas. Juga bahasa-bahasa yang di jelaskan di foot note bikin aku paham

Judul yang ternyata memiliki makna dibalik cerita ini. Banyak hikmah juga yang bisa diambil dari cerita ini

Overall, cukup bagus buku ini
Author 4 books21 followers
December 13, 2015
3,5 stars...

"Rasa benci tidak akan menyembuhkan rasa sakit, juga tidak akan membawa kebahagiaan kembali."

Ini karya kedua dari Laili yang aku baca dan Laili sukses membuat air mataku menetes walau nggak sebanyak di Inseparable. Beda dengan di Inseparable, di sini sang tokoh utama harus menjalani hidup yang berat. Aku bersimpati dengan kerasnya hidup yang Sora rasakan dan bagaimana semua beban hidup itu mengubah karakternya.

Yang aku suka dari cerita Haru no Sora ini adalah chemistry antara Sora dengan Haru, dengan ayahnya di bagian akhir, juga dengan Airi, sosok yang sering dia tindas. Aku suka dengan karakter Sora yang nggak umum di cerita remaja. Aku juga suka dengan naik turunnya emosi di sepanjang buku ini.

Yang aku kurang suka: covernya kurang menarik walau warnanya bagus. Aku juga kurang suka dengan rahasia yang diungkap karena mudah ditebak. Dan sebenarnya pas ada tes kesehatan itu aku berharap cerita ini akan berjalan seperti dorama God, Give Me More Time. Hehe...

Terlepas dari segala kekurangan dan kelebihan, aku menikmati Haru no Sora ini. Aku kagum dengan Laili yang berani mengangkat tema tentang pekerja seksual. Di luar sana memang banyak remaja yang menjalani hidup seperti Sora dan itu bikin patah hati.

Good job buat Laili. Ditunggu karya berikutnya ya :D
Profile Image for D. Wijaya.
Author 2 books35 followers
October 5, 2015
Haru no Sora ini merupakan buku kedua dari seri YARN, bercerita tentang Sora yang terpaksa menjadi gadis malam demi bertahan hidup dan Haru yang kemudian mengubah Sora dan dunianya.

Aku menutup buku ini dengan rasa puas. Ada banyak poin plus yang bisa aku berikan untuk Haru no Sora.

1. Idenya menarik dan ditulis dengan baik.
2. Tempo ceritanya terbilang lambat, tapi tidak membuatku mengerang kebosanan.
3. Chemistry antara Sora dan Haru terasa. Paling suka saat Haru mengajari Sora pelajaran Kanji.
4. Latar Jepangnya dipakai dengan baik.
5. Subplot tentang Airi itu menarik.
6. Banyak kutipan yang bagus, ih.

Akan tetapi, seperti uang logam yang punya dua sisi, aku juga mencatat poin minus untuk Haru no Sora. Cuma satu sih, yaitu aku kurang sreg dengan fakta bahwa Ken tiba-tiba aja udah bertobat. Menurutku itu terlalu cepat dan mudah.

Sebenarnya, 4,5 bintang. Tapi, rasanya tidak apa-apa kalau aku menggenapkannya menjadi 5 bintang. Like it, like it! :)
Profile Image for Fakhrisina Amalia.
Author 14 books201 followers
August 29, 2015
Pertama, aku mau bilang aku sukaaaa sekali sama warna cover-nya. Mungkin memang--seperti yang orang lain bilang--terlalu pucat kayak Hiki sampai gambarnya agak tenggelam, tapi, hei, bagiku warna pink-nya cantik sekali!

Haru no Sora, mengisahkan seorang gadis bernama Sora yang bekerja menjadi wanita malam karena harus menutupi utang2 ayahnya yang jadi pemabuk dan penjudi setelah ibunya meninggal. Sora bertemu Haru, yang ternyata adalah murid baru di sekolah, cowok datar bertatapan dingin yang kebetulan ada di taman saat Sora pergi dari rumah setelah bertengkar dengan ayahnya.

Laili merangkai cerita ini dengan rapi. Masa lalu yang akhirnya terkuak di akhir nggak bikin awal cerita jadi membingungkan. Meski, yah, di beberapa bagian ada yang udah berhasil tertebak, sih. Hehehe

Sejauh yang aku ketahui (yang mana juga nggak terlalu jauh karena berbagai keterbatasan), belum banyak penulis lokal yang mengangkat tema ABG jadi perempuan malam, dan Laili berhasil mengangkatnya dalam cerita ini dengan baik. Selamat, Lails!

A good book. I like it.
Profile Image for Rei Pusvita.
78 reviews7 followers
December 23, 2015
Tentang cewek Jepang bernama Sora yang kisahnya tragis banget. Dia terpaksa melacur! Agak berat emang temanya, apalagi buat bacaan remaja. Tapi gue bacanya ga pusing kok. Pelan tapi pasti. Baca ini kayak naek roller coaster. Naik turun gitu deh aduk-aduk emosi.

Suka banget ceritanya. Salut buat Kak Laili.

PS: Yang ganggu cuma quote! Sumpah itu ga penting. Ngapa bertebaran banget si...! Hiiih!
3 reviews
February 14, 2015
Good setting, great depth of character, interesting ideas, and real conflict resolution. Good job!
Profile Image for Wardah.
954 reviews172 followers
November 1, 2020
Skor final 3.5 bintang tapi digenapin untuk kovernya yang cantik.

Begitu membaca blurb Haru no Sora, aku udah tahu bahwa latar karakter Sora ini kelam. Buku ini juga dibuka dengan hal kelam tersebut. Padahal kovernya super imut gini.

Dan meski buku ini masuk dalam serial YARN IceCube, pas baca aku merasakan unsur seri Blue Stroberi di sini. Latar kisah Sora jelas bukan sekadar mengangkat hal realistis, tapi juga sisi gelap kehidupan remaja di Jepang.

Sora ini mengingatkanku pada karakter di komik Gals yang dulu aku baca. Aku lupa namanya, tapi ada satu gadis yang kayak Sora ini. Bedanya, Sora butuh uang sedang karakter di komik Gals itu melakukannya karena butuh perhatian (seingatku). Tapi hal ini bikin aku berpikir dan menemukan fakta bahwa children prostitute itu cukup umum di Jepang 😭 Coba cari enjo koushi dan fakta itu akan terbuka lebar. :"(

Karakter Sora sendiri nggak bikin simpati. Tipe cewek bitchy yang suka bully karena dia ga suka lihat orang lain bahagia.

"Carilah kebahagiaanmu sendiri, Miyazaki. Jangan renggut kebahagiaan orang lain hanya karena kebahagiaannya terlihat salah di matamu." (h. 100)


Meski demikian, seiring jalan karakter Sora berkembang. Kemunculan Haru membuat perubahan dalam hidup Sora. Kedekatan mereka dibangun dengan baik dan perlahan jadi chemistry-nya bagus. Twist soal Haru cukup bisa ditebak, tapi ini juga menambah unsur gelap novel ini.

Sayangnya, penyelesaian masalahnya terasa datar? Aku tahu sih Laili berusaha membangun emosi pembaca. Aku merasakannya. Tapi semua konflik dalam hidup Sora berakhir terlalu... smooth gitu. Jadi kurang believable. Padahal latarnya terbangun dengan baik dan gaya menulisnya juga asyik.

Tapi secara keseluruhan buku ini bagus. Aku suka perkembangan karakter Sora. Dan aku suka latar Jepang yang hidup dalam tulisan Laili. 🥰
Profile Image for Siska.
92 reviews
March 7, 2019
Ok, diawali dari blurb masih sedikit meraba-raba kisahnya akan seperti apa. Tapi begitu sudah mulai baca, ok mulai paham. Ekspektasinya akan dark sekali kisah Sora ini.

Sora, gadis yang duduk di bangku SMA bekerja sebagai "perempuan malam" selama beberapa tahun. Semuanya bermula karena sang ibu yang bunuh diri karena mengetahui ayahnya berselingkuh. Setelah ibunya meninggal, sang ayah malah sibuk mabuk, berjudi dan menghabiskan harta yang mereka miliki. Membuat utang menumpuk dan Sora yang mengangsur untuk membayarnya. Sora juga harus membiayai kehidupan mereka sehari-hari. Sampai suatu haru ia bertemu Haru-pria yang terlihat dingin, saat ia sedang kecewa kembali dengan sang ayah. Tak disangka, Haru ternyata adalah murid baru di sekolahnya. Sora menaruh hati pada Haru semenjak pertemuan pertama. Tapi Haru sepertinya sangat dingin sekali, berbanding terbalik dengan sikap Haru pada Ai - gadis yang dulu sering dibully oleh Sora, sangat hangat. Seiring waktu, Sora berhasil lebih dekat dengan Haru. Kedekatan yang membawanya membuka luka lamanya kembali.

Awalnya aku mengira, kehidupan pekerjaan Sora akan dibahas lebih dalam, lebih kejam. Tapi tidak. Hanya sekilas saja. Mungkin pengaruh karakter Sora yang buruk dalam hal pekerjaan, membully tapi masih terkesan baik. Jadi kurang greget gitu.
Alur bergerak maju, hanya saja menurutku jalan cerita terasa lambat dan sedikit membosankan. Mendekati bagian akhir baru terasa seru saat membacanya.
Setting tempat dijabarkan dengan baik. Mengambil setting di Jepang.
Ide cerita dan konflik terasa fresh, seiring membaca bisa sedikit terprediksi jalan ceritanya, tapi secara keseluruhan lumayan untuk dinikmati.
Profile Image for Bila.
315 reviews21 followers
March 25, 2024
Rate sesungguhnya: 3.5 yang dibulatkan ke atas

Sebetulnya dibilang sebagai buku YA yang realistis rasanya ada secuil bagian yang kurang realistis (bagaimana bapaknya Sora bisa terlihat "insyaf" (walau ga sepenuhnya) sebelum dia ke RS? Kenapa Airi bisa memaafkan Sora dengan alasan itu?), tapi untuk aspek lainnya oke. Bagaimana pergolakan batin Sora, pengembangan karakternya dari yang terlihat nakal jadi lebih baik, itu yang membuat buku ini terbebas dari penilaian "meh" dariku. Not bad, not bad.
36 reviews
January 27, 2021
Cerita dalam buku ini tidak secerah covernya. Sungguh. Awal cerita yang mengejutkan bagiku. Kemudian menjadi lebih santai, tapi akan memuncak dan berakhir dengan baik. Penulis menuturkan kisah Sora dan orang di sekitarnya dengan cukup apik, aku suka perkembangan setiap karakternya. Pembaca diajak untuk menelusuri alasan perubahan setiap tokoh. Akiyama Airi salah satu favoritku, perkembangan karakternya baik, dia juga berpendirian kuat dan memberi pengaruh cukup besar bagi tokoh lainnya. Hanya saja aku kurang nyaman dengan pengulangan kata yang sama dalam satu paragraf. Dan menurutku ada beberapa hal yang sedikit terlalu cepat & terkesan dipaksakan. Seperti perubahan ayah Sora & kedekatan Haru dengan Sora. Selebihnya aku menikmati ceritanya dan banyak belajar tentang budaya Jepang. Aku harap aku bisa memiliki teman perjalanan seperti Haru.

Terima kasih telah menerbitkan buku ini. Semoga buku ini dapat dibaca lebih banyak orang & membuka pikiran mereka sebagaimana yang kurasakan.
4🌟 #yarnseries #novelharunosora

www.instagram.com/reviewbytsuki
Profile Image for Kamal.
22 reviews1 follower
May 29, 2015
Judul: Haru No Sora
Penulis: Laili Muttamimah
Penerbit: Ice Cube
Tahun Terbit: 2015
Harga: Rp. 48.000,-
SINOPSIS:
Kehidupan Sora sangat bahagia. Ia punya Ayah yang hangat dan Ibu yang menyayanginya. Tapi itu dulu, sebelum tragedi 3 tahun lalu yang merengut nyawa ibunya.
Sejak kematian ibunya, ayahnya jadi pejudi dan pemabuk. Ia tak pernah memerhatikan Sora lagi. Satu-satunya interaksi antara mereka hanya ketika Ayah meminta duit dan makan. Karena kaadaan makin buruk itulah Sora bekerja. Belum lagi hutang ayahnya yang luar biasa banyaknya. Untuk mendapatkan uang banyak, setiap malam Sora bekerja sebagai wanita panggilan.
Namun siang hari, Sora berusaha menjalani hidupnya dengan normal. Pergi ke sekolah, berinteraksi dengan dua sahabatnya–Risa dan Sae–dan membully Akiyama, cewek gendut yang menurut Sora terlalu lemah. Tidak ada yang menyangka bahwa Sora yang cantik adalah seorang wanita panggilan.
Suatu malam Sora berkelahi dengan Ayah karena Ayah membawa wanita lain ke rumah. Sora kabur dari rumah. Di malam itu ia bertemu dengan anak laki-laki yang memberikannya mantel karena ia lupa bawa mantel dan saat itu salju sedang turun.
Sora tidak sempat berkenalan. Tapi siapa sangka ia bertemu lagi. Anak laki-laki itu murid baru di kelasnya. Bernama Haru. Sora yang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama, gembira. Namun, Haru sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda bahwa mereka pernah bertemu. Haru malah dekat dengan Akiyama yang kini sudah jadi gadis cantik dan langsing.
Namun, makin lama Sora bisa dekat dengan Haru. Sora berhasil mengajak Haru kencan lewat sebuah taruhan yang dimenangkannya. Haru mengajak Sora menemui kakek dan neneknya. Sejak hari itu perasaan Sora semakin besar terhadap Haru.
Namun kebahagiaan Sora tak bertahan lama. Statusnya sebagai gadis panggilan terbongkar. Sahabat-sahabatnya meninggalkannya. Haru mengabaikannya. Dan ia terancam dikeluarkan.
Bagaimana kehidupan Sora selanjutnya? Dapatkan ia mengembalikan sosok Ayahnya yang dulu? Bisakah Sora melunasi hutang ayahnya yang batas waktunya semakin dekat? Lalu bagaimana perasaab Sora terhadap Haru saat tahu kalau anak laki-laki itu adalah bagian dari penyebab kejadian tragis 3 tahun lalu?
REVIEW:
Haru No Sora adalah novel pemenang kedua dari lomba YARN yang ditaja penerbit ICE CUBE. Menurut saya novel ini memang pantas untuk mendapatkan posisi tersebut.
Dari segi konflik, novel ini lumayan berat bagi remaja. Namun menarik da dikemas dengan baik. Untuk menyeimbangi konflik yang lumayan berat, penulis memasukkan unsur-unsur khas novel remaja: persahabatan, jatuh cinta, bersaing. Dan saya menikmati setiap kisahnya dari lembar ke lembar.
Dari segi setting, penulis berhasil menghadirkan suasana musim salju dan musim gugur di benak saya. saya bisa merasakan bagaimana bekunya musim dingin. Dan bagaimana indahnya saat kelopak-kelopak sakura berjatuhan di atas kepala.
Selain itu penulis berhasil membangun plotingnya dengan rapi. Pembaca terus diajak dengan ritme yang pas untuk mengetahui tragedi apa yang menghancurkan hidup Sora. Lalu apa hubungan antara Sora dan Haru. Penulis pandai mempertahankan rasa penasaran pembaca.
Untuk karakternya, jangan diragukan lagi. Dua karakter utama di novel ini, Sora dan Haru, begitu kuat. Karakter Akiyama juga menarik. Dan Haru adalah tokoh favorit saya.
Baiklah, saya rasa 4,5 dari 5 bintang pantas saya berikan untuk HARU NO SORA. Karena kali ini, Laili menulis sangat matang daripada karya sebelumnya.
Terakhir, saya akan selalu menunggu novel Laili selanjutnya. ^^
Profile Image for Dedul Faithful.
Author 7 books23 followers
July 24, 2015
Judul: Haru no Sora
Pengarang: Laili Muttamimah
Penerbit: Ice Cube
Terbit: Cetakan 1, Februari 2015
Penyunting: @asamsianida
Sampul: Deborah A. M.
Layouter: Teguh T. E.
Tebal: vii+298

Sinopsis
Kisah remaja yang berlatar tempat di Jepang ini berfokus ke karakternya bernama Miyazaki Sora. Cerita ini mengangkat realita kehidupan yang sebenarnya 'ada' di sekeliling kita. Sora bekerja paruh waktu sebagai 'perempuan malam', gadis itu tahu bahwa pekerjaan tersebut berisiko dan taruhannya adalah hal yang bukan main-main. Sora terpaksa melakukan itu semua demi melunasi utang-utang ayahnya yang kini sering mabuk-mabukan semenjak istrinya (ibu Sora) bunuh diri tiga tahun lalu. Sampai kapan Sora akan menghabiskan masa remajanya untuk melakukan pekerjaan yang jelas-jelas melanggar norma? Bagaimana kehidupan Sora ketika sosok Haru sengaja hadir untuk menemaninya melewati masa-masa sulit?


Review
Novel remaja biasanya mengangkat hal-hal ringan, tetapi Haru no Sora berusaha menyampaikan problematika kompleks seorang remaja dari sisi berbeda. Karakter Sora sangat digali di novel ini, karena tentu saja sudut pandang orang pertamalah yang dipakai di novel ini. Jalan ceritanya pun sangat berliku, lebih menitik beratkan kepada usaha-usaha Sora yang sebenarnya ingin melepaskan diri dari jurang kelam hidupnya. Rasa persahabatan, keluarga, bahkan percintaan terasa lengkap di buku ini, penyebabnya adalah pengarang buku ini menampilkan sisi hidup Sora yang umum pula, saat gadis itu menjadi murid biasa dan menjalin pertemanan dengan Fujiwara Risa dan Tachibana Sae. Juga saat Sora berinteraksi dengan ayahnya di rumah dalam atmosfir yang saling mencurigai dan memilukan, dan Sora yang menjalin hubungan tanpa status dengan Haru. Buku ini memang mengangkat kehidupan sebagaimana adanya.

Tak lupa, karena novel ini ber-setting di Tokyo dan sekitarnya, budaya Jepang pun otomatis dipaparkan penulis. Dari yang hitam sampai yang putih. Fenomena bullying yang khas dan eksis di negeri Sakura disampaikan lewat subplot geng Sora yang menindas Akiyama Airi. Sedangkan budaya lokalitas Jepang dituturkan dengan subplot Sora dan Haru yang mengunjungi Kamakura, daerah di Jepang yang terkenal karena kuil-kuil legendarisnya bertengger di sana.

Membaca novel ini akan menyadarkan kita bahwa betapa penting menjaga hubungan baik di antara keluarga kita, juga mengenai pencarian jati diri yang seharusnya tak boleh melewati batas-batas tertentu. Yang paling digarisbawahi adalah mengenai amanat saat menghadapi masalah, kita seharusnya berusaha untuk mencari jalan keluar terbaik, bukan solusi instan, karena setiap keputusan mengandung konsekuensi baik positif maupun negatif. Haru no Sora sekali lagi menjadi terobosan literatur remaja yang mencoba mengajak secara implisit untuk berani berkorban demi kebahagian orang lain, karena setiap individu yang bijak pasti lebih mendahulukan hati yang bukan miliknya untuk merasa terbebas dari segala belenggu hidup. Akhir kata, saya rekomendasikan Haru no Sora bagi mereka yang merasa hidup ini masih belum begitu adil. Sebab, terlalu banyak kemewahan dalam hidup sehingga kita lupa cara bersyukur yang sederhana.

Quote favorit saya di Haru no Sora:

"Rasa kecewa akan menguatkanmu. Jadi, kau tidak perlu takut dikecewakan, karena itu akan membuatmu menjadi semakin kuat dan semakin kuat." Ken pada Miyazaki Sora di halaman 258.
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
February 21, 2015
Judul: Haru no Sora
Penulis: Laili Muttamimah
Penerbit: Ice Cube Publisher
Halaman: 298 halaman
Terbitan: 9 Februari 2015

Tiap tahun, Miyazaki Sora selalu menantikan kedatangan musim dingin. Titik-titik putih yang jatuh dari langit berarti tiba waktunya untuk bermain di halaman bersama sang ayah, sementara si ibu akan menyiapkan hidangan lezat di meja makan. Di balik gunungan salju yang menumpuk di halaman, Sora menemukan kehangatan kasih sayang kedua orangtuanya. Namun itu dulu. Sebelum suatu rahasia yang terbongkar di musim dingin tiga tahun lalu merenggut nyawa ibunya. Sebelum judi dan alkohol menjerat perhatian ayahnya. Sebelum Sora memilih melanjutkan hidupnya dengan menapaki jalan yang salah.

Review

Ini kedua kalinya saya baca novel dari Laili. Sebelumnya sudah baca Inseparable (review di sini) dan sejauh ini, saya suka dengan kedua novelnya.

"Haru no Sora" bercerita tentang Sora, seorang gadis SMA yang berjuang untuk melanjutkan hidup setelah kematian ibunya. Ayahnya menanggapi kepergian ibunya dengan menjadi seorang pemabuk dan penjudi dengan utang besar, sehingga Sora-lah yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Sayangnya dia mengambil jalan sebagai seorang wanita malam (alias jualan tubuh) untuk memperoleh uang (dan ini bukan spoiler karena langsung diberitahukan di awal cerita).

Ada banyak elemen dalam ceritanya yang saya suka. Mulai dari soal keluarga, persahabatan, masalah bullying, hingga cinta. Deskripsi latar juga menjadi salah satu bagian yang saya suka dari novel ini. Di sini juga pembaca akan diajak ke Kamakura, tempat yang terkenal dengan kuil-kuilnya.

Chemistry antara Sora dan Haru, tokoh utama pria di novel ini, juga terasa pas. Hubungannya mereka terasa manis gitulah. Laili juga mampu membuat pertemuan mereka yang terasa "ajaib" menjadi masuk akal.

Cuma dari segi nama, kenapa diambil Yoshida Haru, ya? Langsung jadi ingat sama tokoh ini:




Yoshida Haru dari My Little Monster (Tonari no Kaibutsu-kun).

Btw, lanjutan terjemahannya mana, nih? Masa berhenti di nomor 8? ._.

Secara keseluruhan, saya suka dengan ceritanya. Pacing-nya juga enak. Saya juga suka dengan resolusi tiap-tiap masalah yang ada. Paling tentang Ken aja kali yah yang terkesan ujug-ujug gitu. Empat bintang untuk Sora dan langit musim seminya.

Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 Young Adult Reading Challenge
- 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
Profile Image for MAILA.
481 reviews120 followers
February 8, 2017
kurang suka sama buku ini. penilaian pertama saya waktu liat buku ini sama kayak pas liat remedy.

pertama kali liat buku ini di toko dulu sempat naksir sih. naksir judulnya, Haru no Sora. Kebetulan dulu pernah punya projek dan saya beri nama Hana to Sora. sedikit mirip lah.

tapi dulu juga pernah punya penilaian ''apaan sih ni novel sok japan lofers bat'' dan gak berminat untuk membeli. eh tapi malah dibeli wq

***

penulisnya ini fans berat haruki murakami ya? hh
sebagai orang yang belum membaca karya beliau yg dalam bentuk novel (dan belum berminat juga), apalagi ditambah semacam rasa risih karena semua teman2 saya yang gak suka baca buku tapi sok ngefans sama beliau, saya jadi merasa agak gimana gitu sama mbak Laili.

mencantumkan kutipan dari orang terkenal di buku memang gak masalah sih. karya2nya mbak Windhy dan mas Christian simamora sering gitu juga kok. cuma mereka mencantumkan dari banyak tokoh yang berbeda. nah ini dari haruki murakami semua rasanya gatau kenapa saya jadi agak ''paan sih'' banget xD.

bagus2 sih kutipannya.
cuma ya, ilfeel aja wq

trus nama tokohnya.

SORA MIYAZAKI
ARAGAKI YUURI


WHY
WHYYYY

dari sekian banyak nama jepang tapi kenapa harus rip-off mirip nama artis jepang sih hhh. kenapa juga pakai nama mbak aoi miyazaki myluf hhh
gatau kenapa pas baca buku ini jadi inget film koizora yg main harumi miura sama aragaki yui itu.

kenapa gak pakai nama-nama lain aja sih ilfeel hhh

trus referensi band-nya juga. ya saya tau sih l'arc en ciel terkenal. tapi saya pernah punya teman asli jepang dan mereka bilang justru kurang suka. kiblat musik beberapa orang jepang sekarang ada yg mulai beralih ke grup2 indie. perasaan semua buku yang ada unsur jejepangan yg saya baca pasti ngefansnya sama mereka mlulu. kayak nggak ada yang lain aja gitu hh maaf bukannya haters tapi gimana ya :'(

untuk ceritanya sendiri bagus sih. unsur dan gaya jejepangannya kerasa banget dari percakapan antar tokoh, kebiasaan sehari-hari dan juga deskripsi yang ditulis mbak Laili. saya suka kalau mbak Laili sedang mendeskripsikan latar tempat. terasa begitu nyata dan seolah saya bisa berada disana.

cuma ya itu. karena nama tokohnya itu saya jadi ilfeel wq.

menurut saya, sebuah cerita/buku bisa dikatakan bagus kalau nama tokohnya juga cocok dengan ceritanya.

beberapa kutipan kesukaan

''hanya karena kau tengah merasa mengalami kesulitan, kau merasa hidupmu tidak beruntung?''

''carilah kebahagiaanmu sendiri, miyazaki. jangan renggut kebahagiaan orang lain hanya karena kebahagiannya terlihat salah di matamu''

''kalau kau sedang gundah, angkatlah kepalamu dan pandanglah langit di atasmu. di sana kau akan menemukan ketengan yang kau cari''
Profile Image for Kia 'Zakiyah' Izaki.
2 reviews
April 25, 2015
Haloooo Laili-chan ~ ^_^/
pertama saya mau applause dulu buat karyamu ini yaaa *prokprokprok* ^^

Okay, mulai dari cover dulu ya. Emh, bukan gak bagus sih, tapi kupikir covernya bakal *harusnya* bisa lebih bagus dari ini :) walaupun aku suka warna pinknya dan pohon sakuranya, tapi yaa... pokoknya harusnya pinknya jangan kayak 'tumpah'gitu. *tapi kayaknya ini jadi tema buat cover YARN ya? secara kayak gitu semua covernya*

Next, BAB pertamanya nendang banget! aku SUKA!
Deskripsi ajib, dialog dan adegannya oke. aku bacanya kayak nonton dorama :3
konflik yang diangkat cukup 'berani' maksudnya, yaa, tentang keberanian Laili memutuskan untuk membuat tokohnya jadi 'gadis nakal'. Aku belum berani nulis soal gadis malam soalna XD tapi well, walaupun menceritakan tentang gadis malam dan dunia gemerlap, novel ini sama sekali gak porno. namanya juga segmen young adult ya :D


diksi yang digunakan Lails enak, ngalir, gak monoton, beragam. setiap dialog dan narasinya gak 'sia-sia', tapi emang ditulis karena perlu ditulis. *apa ini maksudnya, ^^a

apa lagi ya... oia, aku suka tokoh Ken yang begajulan tapi bijak XD wkwk
Haru, emh,,, sebenarnya dia agak nanggung. mau dibikin dingin, tapi gak dingin... jadi .. hehe gitu deh.. kayak mau jutek sama Sora, tapi pas diajak belajar mau. pas diajak kencan juga mau *,*
tapi di akhir emang diceritakan sih, sifat Haru yang sebenarnya hehe

Sora-nya, tipe cewe yang... complicated banget. Tapi dia beruntung punya temen-temen yang peduli sama dia.
melalui perbuatan Sora ke Airi juga saya semakin yakin kalau 'hater' itu memang 'fans' yang tertunda >_<

Oiya, aku mau tau kenapa Lails pake nama-nama yang udah ada di Anime? kan ntar jatohnya jadi fanfiction u,u
Menmanya itu looohhh... aku jadi bayangin si kawaii berambut putih panjang pacarnya Jintan XD

konflik masa lalu antara Sora dan Haru juga dibahas dan diungkap pelan-pelan, jadi bikin penasaran, walaupun agak ketebak sedikit di tengah-tengah. masalah antara Sora dan papanya juga diselesaikan dengan manis. tapi endingnya bikin lega ^^

apalagi ya ampun... saya lupa mau nulis apa, padahal pas lagi baca banyak banget yang mau saya komen...

Maafkan review yang gak kayak review ini, *menclok2 alur reviewnya* saya cuma komen buku ini aja :D
Yang jelas, buku ini bagus, saya sampe rekomendasiin buku ini ke temen2 saya yang juga suka Jepang.

4 bintang, karena masih ada typo-nya u,u

Overall... thumbs up for Lailssss ^^ salut sama kamu Dek.... :* semoga aku cepet nyusul debut :D

Jya, Sakura deshita ~ ^^
Profile Image for Ulyafts.
2 reviews1 follower
July 17, 2015
Haru no Sora adalah novel YARN pertama yang saya baca. Sekaligus karya Laili Muttamimah yang pertama saya baca. Saya tertarik membeli novel ini karena rating-nya di goodreads yang lebih tinggi dari juara pertama YARN, Hikkikomori-chan karya Ghyna Amanda Putri.

Ceritanya asyik dan menarik pembaca untuk membaca kelanjutannya. Alurnya mengalir dan tidak membosankan juga mengaduk-aduk emosi pembaca. Dan banyak kata-kata mutiara di dalam novel ini. Di setiap awal bab, ada kata mutiara dari Haruki Murakami. Lalu, untuk latar cerita yang mengambil latar Jepang. Saya suka dengan cara penulis menggambarkan Jepang sebagai latar. Biasanya beberapa penulis lokal mengalami kesulitan untuk menggambarkan latar luar negeri dalam cerita, sehingga terkesan memaksakan. Tapi, Haru no Sora terasa Jepang-nya.

Karakter cerita kuat tapi tetap tidak mengalahkan tokoh utama. Saya suka dengan semua karakternya, termasuk Miyazaki Sora. Tokoh-tokohnya punya kepribadian yang membuat cerita berjalan dengan baik. Dan mata saya juga belum menemukan typo di novel ini. Tapi saya kurang suka dengan covernya yang kurang menarik. Karena menurut saya, walau orang bilang "Lihat buku jangan dari sampul atau sinopsisnya" tapi sebenarnya, orang tetap ada yang menilai buku dari sampulnya.

Ada beberapa hal yang mengganggu di novel ini. Sebenarnya detail kecil, tapi bagi saya [agak] mengganggu. Pertama, nama tokoh Yoshida Haru sama dengan nama salah satu tokoh di salah satu anime Jepang, Tonari no Kaibutsu-kun, walau wataknya beda. Ada satu ciri fisik yang sama antara Yoshida Haru di novel Haru no Sora dan Yoshida Haru di anime Tonari no Kaibutsu-kun yaitu sama-sama berambut hitam.

Kedua, nama sekolahnya, Hyouka Gakuen. Hyouka juga nama salah satu anime, namun saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Hanya terdengar aneh jika namanya Hyouka, karena arti Hyouka adalah es krim. Sekolah es krim?

Ketiga, ada bagian saat Haru mengajarkan Kanji pada Sora di kedai Monja. Di anime Tonari no Kaibutsu-kun juga ada bagian ke kedai Monja. Ada keempat, kelima, dan ke-lainnya yang sedikit mengganggu tapi saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Mungkin harus diberi kata-kata "Mohon maaf jika ada kesamaan nama orang, tempat, atau lainnya." Seperti yang biasa ada di awal sinetron-sinetron televisi.

Tapi secara keseluruhan, saya suka kok dengan cerita ini. 3,5 bintang.
Profile Image for Adzka.
20 reviews1 follower
November 7, 2021
Setelah membaca buku ini, mindset saya tentang kehidupan di Jepang sangat berubah. Saya pikir, anak-anak Jepang, khususnya yang remaja hidup dengan baik. Tidak ada drama yang menjurus pada perdagangan manusia untuk dijadikan "Teman Kencan" (kalian pasti tahu yang saya maksud) karena keterbatasan ekonomi. Pada umumnya saya temukan bahwa remaja di Jepang bekerja di tempat-tempat mainstream seperti toko atau restoran.

Dan tokoh Sora menyadarkan saya dari mindset tersebut. Ia gadis yang bisa dibilang feminim juga tidak, tapi tomboy juga tidak terlalu kentara. Sempat takut (atau benci?) dengan tokoh Sora karena dia seorang pembully. Meskipun saya juga tau, Sora tidak benar-benar ingin membully. Bekerja paruh waktu sebagai wanita penghibur demi menghidupi diri dan ayahnya yang 'hancur'.

Ada salah satu plot twist dalam novel ini yang membuat hati saya agak rapuh waktu itu. Ternyata orang yang selama ini dicintai Sora adalah orang yang paling terluka karenanya (lebih tepatnya karena ayah Sora). Ia adalah Haru.

Di akhir, mereka mencoba untuk saling memaafkan dan memulai semuanya dari awal. Sungguh akhir yang menguras air mata kala itu. Apalagi isu rumah tangga dan kemiskinan saat itu sangat saya rasakan karena banyak kawan-kawan mengalami hal hampir serupa dengan Sora.

Karya Laili Muttamimah ini saya beri rating 4 karena perasaan personal pada karakter Sora. Saya cukup kecewa karena dia bekerja sebagai penghibur. Yah saya juga tidak bisa menghakimi, karena alasannya bekerja juga karena ayahnya sangat tidak berguna. Saya juga benci ayahnya, sangat. Bagi saya, ayah yang baik adalah ia yang bisa menahan keinginan pribadinya (dalam hal ini menyangkut soal pasangan) dan lebih fokus dalam bekerja serta mengurus keluarga. Karena hilangnya sosok ayah dalam diri anak, terutama karena masalah love's affair sangat mengguncang.

Selain itu, alur ceritanya berjalan cukup lambat dan agak bertele-tele. Agak bosan di awal hingga pertengahan cerita. Tetapi, endingnya tidak boleh dianggap biasa. Benar-benar se-'bawang' itu, sih. Ini novel drama-romantis lokal paling underrated yang pernah saya baca sejauh ini.

Saya sangat menyarankan untuk membaca buku ini sebelum benar-benar langka dan tidak lagi beredar di toko buku.

Selamat membaca!
Profile Image for ima.
102 reviews3 followers
September 5, 2015
Review :
Kini musim dingin berubah menjadi satu masa dengan udara yang amat menggigit, seolah mampu membekukan rasa sakit yang terbenam dalam dadaku. (hal. 3)

Gadis itu, Miyazaki Sora, menempuh cara yang salah untuk menghidupi dirinya dan ayahnya. Ibunya telah meninggal tiga tahun silam. Di musim dingin. Dan semenjak itu ia membenci musim dingin.

Haru, datang ke kota demi mencari seseorang. Seseorang yang telah membuat ia kehilangan ibunya. Dan di kota, ia malah bertemu dengan Sora.

Keduanya telah ditakdirkan untuk bertemu. Keduanya telah jatuh cinta. Tapi pada akhirnya, semua misteri yang terjadi terkuak dengan tiba-tiba. Haru dan Sora, yang baru saja menyicipi kebahagiaan, haruskah kembali menderita?
... saat orang yang kau sayang adalah orang yang membuatmu sakit paling dalam, kau tetap tidak bisa memungkiri kalau kau tidak akan pernah bisa membencinya - apalagi melupakannya. (hal. 282)


^*^*^*^*^*^*^*^*^*^

Enggak heran, ini menjadi tiga besar dari kontes yang diadakan Ice Cube. Cerita yang sederhana dengan konflik yang 'sejujurnya' sederhana, tapi bisa membuatku bergitu terhanyut dengan chemistry para tokohnya. Terlebih gaya penulisan Mba Laili, yang enak sekali untuk dibaca.

Aku paham dengan perasaan masing-masing tokohnya. Bagaimana perasaan marahnya Sora dengan ayahnya. Bagaimana frustasinya sang Ayah hingga mencari pelarian ke sesuatu yang sia-sia. Dan bagaimana hancurnya hati Haru saat tahu siapa dalang dibalik kematian ibunya.
Kehilangan memang selalu membuat hidup seseorang berubah sedikit demi sedikit. (hal. 197)

Dan, aku suka sekali momen Haru dan Sora saat jalan-jalan di desanya Haru. Itu manis. Deskripsi tempatnya, festivalnya, suasananya bikin aku pengin ke sanaaa. Suka banget itu.

Novel ini pada awalnya mungkin terkesan suram, tapi banyak juga kok adegan yang manis-manisnya, hehe.

Masih ada beberapa typo yang aku lihat, seperti pada halaman 50, 182, dan 185. Semoga di terbitan berikutnya bisa diperbaiki.

Jadi, yang mau bacaan ringan yang cukup menguras emosi bisa coba baca Haru no Sora ini.
3 reviews3 followers
June 2, 2015
Review abal-abal dari seseorang yang abal-abal :P
Ok, point (yang sebenarnya gak terlalu penting) pertama,tanpa sebab yang jelas, aku agak terganggu dengan kata "Mochiron" yang sering diulang-ulang. Di halaman-halaman awal, aku menemukan 3 buah "mochiron". Kupikir, setelah itu gak mungkinlah bakal nambah lagi. eh, ternyata muncul lagi. Dan total kata "mochiron" yang aku kumpulkan ada lima. Sugoi deshou?? Tanpa sadar (dan sangat kurang kerjaan) aku menghitung kata "mochiron" ini. Sungguh betapa gak pentingnya aku... hahaha

Point (yang sebenernya gak penting) kedua, kata-kata Haru yang ini >> "Kau tahu kenapa aku suka memandangi langit di saat gundah? Karena dengan begitu, aku teringat denganmu. Hanya dengan membayangkan wajahmu, aku akan mendapatkan ketenangan tersendiri. Sora itu berarti langit. Haru no sora, langit musim semi". Nah, di kalimat itu kenapa Haru jadi terdengar gombal sekaliii??? CMIIW, kalau gak salah, Haru sudah suka memandang langit bahkan sebelum kenal Sora, kan? Padahal, saat itu dia sedang serius. Tapi kesan yang kutangkap justru gombal #krik #maafkanlah

Aku menamatkan membaca Haru no Sora dalam waktu yang cukup singkat. Ceritanya sih bisa ditebak sejak awal (aku tahu siapa itu Haru semenjak Ogawa menyinggung-nyinggung selingkuhan ayah Sora). Tapi aku salut dengan keberanian penulis untuk menjadikan seorang perempuan malam berusia remaja sebagai tokoh utama di dalam novel yang target pembacanya adalah remaja. Itu bernyali, menurutku. Ditambah lagi, gaya nuis yang mengalir dan enak banget. Aku gak salah menjadikan Haru no Sora seri YARN-ku yang pertama. Keep going, Laili-san!
Profile Image for Adhinda Puteri.
69 reviews27 followers
April 28, 2017
"Tapi, kenyataannya kita tidak bisa menahan rasa benci pada sesuatu yang telah menjatuhkan kita." adalah salah satu quote favorit saya dalam buku ini karena pas dibaca rasanya menohok ulu hati banget, hehe.
Setiap datang ke gramed yang saya cari duluan pasti buku-buku terbitan ice cube, karena jujur aja dua novel pilihan saya isinya selalu bermutu. Jadi dua hari yang lalu pun saya berkunjung ke gramed dengan harapan besar akan menemukan novel yang nantinya bakalan sukses membuat air mata saya merembes. Dan Taa-daa, saya ketemu novel bercover pink dengan gambar pohon sakura dan judul jepangnya. Haru No Sora. Hmm, oke saya coba baca sinopsisnya dan seketika feelnya dapet. Saya ngerasa klop dengan buku ini dan punya feeling bagus tentang isinya. Alasan kedua saya menjatuhkan pilihan dengan buku ini karena saat membelinya, saya juga sedang memakai baju warna pink, hehe!

Dan ternyata feeling saya tentang novel ini bener, isinya bagus banget meski awalnya sempat kaget pas tahu pekerjaan karakter utamanya. Bahasa yang dipakai juga bahasa baku, dan saya suka novel yang ditulis dengan bahasa baku. Quote-nya banyak dan keren-keren! Imajinasi saya juga ikut main pas ngebaca-nya jadi berasa seperti saya yang jadi tokoh utamanya. Angkat topi deh buat penulisnya. Pokoknya, gak nyesel beli buku terbitan ice cube :D
Profile Image for Raka Fajar.
2 reviews
March 15, 2015
4 STARS FOR THIS BOOK!

Menurutku buku ini bagus, dengan alur yang menarik dan juga permasalahan yang real banget. Ini semua terjadi padaSalah satu sepupu gw, Ia menjalani kehidupan yang sama seperti Sora. Seorang wanita yang melakukan pekerjan "itu" demi membayar hutang-hutang Ayahnya. Ayahnya dulu ada seorang yang sukses, namun itu semua berubah ketika ayahnya menjadi Gay, dan ibunya pun mati bunuh diri dengan gantung diri. Sekarang ayahnya malah memanjakan pasangan Gay-nya dengan melakukan banyak hutang di bank. *lah kok jadi cerita*.

Btw, ini buku emang bagus banget, banyak quotation yang aku suka. Settingannya juga bagus, bagaimana sang penulis menggabarkan situasinya juga bagus. Aku bisa mem-visualisikannya dengan baik.

Kenapa saya memberikan hanya 4 bintang, karena menurutku relationship Haru dan Sora bisa lebih dikembangkan. Lalu ada beberapa plot-hole yang menurutku "agak" mengganggu.

Semoga aja sih penulis akan terus menulis buku, soalnya aku sangat suka 2 buku yang telah diterbitan. Inseparable dan Haru no Sora.

*Review ini ditulis karena kemauan saya sendiri, tidak karena ada paksaan atau lain sebagainya. Saya bertanggung jawab penuh atas apa yang saya tulis.

Twitter : @pxisu990
Displaying 1 - 30 of 63 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.