Terdiri atas 52 puisi, buku yang dianggap sebagai sejarah liris ini mewartakan suara lain Kartosoewirjo
Apakah aku samudra dan Kau hanyalah sungai kecil apakah aku tak terhingga dan Kau hanyalah ketiadaan apakah aku hukum dan Kau hanya hakim di luar peradilan apakah aku jawaban dan Kau hanya pertanyaan sepele sebelum ujian apakah aku cahaya dan Kau hanya gelap setelah hujan? ("Gusti, Apakah Kau Juga Kesepian")
Aku akan menghitung bulu-bulu burung gelatik di pepohonan. Aku akan menghitung rambutku menjelang mereka menembakku. ("Kenangan")
Jari telunjukku, jari yang kian menyusut dan rapuh itu, tak pernah benar-benar tepat menunjuk arah kiblat, tetapi selalu saja merasa telah sampai pada makrifat. ("Ayat Batu")
Apakah pelayat perlu baju baru untuk bergegas ke makam? Apakah kau perlu baju baru untuk menjemput kematianmu? ("Ganti Baju")
Triyanto Triwikromo (lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 15 September 1964; umur 50 tahun) adalah sastrawan Indonesia. Redaktur sastra Harian Umum Suara Merdeka dan dosen Penulisan Kreatif Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang, ini kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra, antara lain menjadi pembicara dalam Pertemuan Teater-teater Indonesia di Yogyakarta (1988) dan Kongres Cerpen Indonesia di Lampung (2003). Ia juga mengikuti Pertemuan Sastrawan Indonesia di Padang (1997), Festival Sastra Internasional di Solo, Pesta Prosa Mutakhir di Jakarta (2003), dan Wordstorm 2005: Nothern Territory Festival di Darwin, Australia.
Cerpennya Anak-anak Mengasah Pisau direspon pelukis Yuswantoro Adi menjadi lukisan, AS Kurnia menjadi karya trimatra, pemusik Seno menjadi lagu, Sosiawan Leak menjadi pertujukan teater, dan sutradara Dedi Setiadi menjadi sinetron (skenario ditulis Triyanto sendiri). Penyair terbaik Indonesia versi Majalah Gadis (1989) ini juga menerbitkan puisi dan cerpennya di beberapa buku antologi bersama.
“Bangunlah dari tidur-tidur yang tak perlu. Bunuh seluruh iblis dan segera dirikan negara dari laut yang keruh dari pulau penuh desau.”—sajak Interogasi, 2015
BUKU kumpulan 52 puisi Triyanto Tiwikromo dimulai dengan ketukan di pintu kemerdekaan republik. Ketukan resah yang tak meminta jawaban apa pun siapa pun di balik pintu, tetapi bagaimanapun telah menimbulkan bunyi, sampai hari ini. Triyanto Triwikromo membayangkan sang pengetuk tahu betul ketukan terakhirnya tak perlu berisik. Cukup sekedar mengusik. Saya kutip:
Tak ada yang indah pada hidupku. Mereka berhak membunuhku.
Tetapi apakah menurutmu negeri ini menjadi lebih lembut dan agung ketika kelak para serdadu menembakku?
Tak perlu kau jawab pertanyaanku.
Buku puisi Kematian Kecil Kartosoewirjo yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama menampilkan lakon seorang “lelaki kerempeng cerewet yang suka becermin” yang dihukum mati di sebuah “pantai tanpa karang tanpa ikan-ikan bersisik biru”. Tentu saja bukan karena secara fisik lelaki itu menakutkan maka ia pantas dihukum mati. Kartosoewirjo, seperti dalam foto-foto milik Fadli Zon dalam Hari Terakhir Kartosoewirjo, hanyalah seorang lelaki kerempeng. Apa yang ada di dalam kepalanya jauh lebih penting untuk dibasmi: mimpi-mimpi yang merepotkan negara republik sekian lama. Triyanto Triwikromo menempatkan mimpi-mimpi sebagai tujuan utama para penangkap ketimbang melenyapkan jasad: “Kami hanya ingin memenjarakan mimpi-mimpimu”.
Dalam beberapa baris puisi Penangkapan di awal esai ini Triyanto mempuisikan penyerahan diri Kartosoewirjo setelah tak lagi melawan seperti yang telah dilakukannya selama 13 tahun sebagai kepala pemberontak. Ia pemberontak, seperti yang disebutkan dalam buku-buku sejarah anak sekolah, sebab pada 7 Agustus 1949 (atau tertulis 12 Syawal 1368 dalam teks proklamasi) Kartosoewirjo memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia.
Jika kita perhatikan daftar isi buku kumpulan puisi Kematian Kecil Kartosoewirjo ini, Triyanto Triwikromo berusaha menguasai ruang dengan membaginya dalam tiga bagian: bagian awal berisi hanya satu sajak yang berisi mengenai penangkapan Kartosoewirjo; bagian akhir berisi hanya satu sajak mengenai kesaksian beberapa saksi setelah eksekusi mati; dan di antara dua bagian itu berisi 50 puisi yang menggambarkan pergolakan, dialog imajiner, juga semacam lintas balik jalan hidup, menjelang peristiwa eksekusi hukuman mati. Penempatan puisi dalam tiga bagian tersebut bisa dikatakan penempatan yang sengaja runtut. Setelah sajak Penangkapan di bagian awal, kita akan menemukan sajak Raut Maut, Hidangan di Meja Serdadu, atau Secangkir Kopi dalam Senyap yang memuat apa yang mungkin Kartosoewirjo pikirkan atau lakukan sebelum dihukum mati, yang diakhiri dengan kesan dan gumaman para saksi pasca-eksekusi dalam sajak Kesaksian.
Dengan latar belakang perjuangan Kartosoewirjo yang ingin mendirikan negara yang berdasarkan syariat Islam, Triyanto berusaha menyertakan hal-hal yang dekat dengan Islam, seperti sejarah para Nabi, malaikat, juga perlawanan terhadap iblis. Nabi yang familiar di masyarakat dan kerap muncul adalah Musa (dalam Neraka Tak Bernama, Hikayat Oditur, dan Belum Ada Hujan di Beranda), Adam (Hidangan di Meja Serdadu, Tak Perlu Kaudengarkan, Kapal Hantu), Nuh (Nakhoda, Ke Pulau Terpencil), Muhammad (Hijrah dan Panglima Buta, Hikayat Oditur, Aku Tak Mendengar Letusan Itu), dan ayah-beranak Ibrahim-Ismail (Menonton Pembunuhan dan Tukang Tenung). Sementara itu, untuk melengkapi kesan Islam, beberapa simbol Islam yang muncul dalam sajak adalah kata “sirah Nabi”, “azan”, “alif ba ta”, “syuhada”, “jembatan Siratal Mustaqim”, “Perang Badar”, “Bacalah!”, dan “ayat-ayat pertempuran”.
Kesan yang ditimbulkan dari situ adalah bahwa ajaran Islam dan sabda Nabi selalu memenuhi benak Kartosoewirjo. Dalam puisi Aku Tak Mendengar Letusan Itu Kartosoewirjo beriman pada hadits Nabi yang mengatakan bahwa pertemuan dengan Tuhan lebih baik daripada terus hidup di dunia, dan memilih mati adalah jalan para Nabi. Juga setelah kematian nanti ia akan bertemu dengan Nabi Muhammad di surga—karena ia telah memiliki “kunci surga”. Tapi dalam Kematian Lembut ia juga manusia bimbang: meski telah berhenti menembak, menghancurkan desa-desa, mengutuk para kafir, dan membakar lumbung-lumbung padi musuh, apakah semua itu akan membuat Tuhan tidak meninggalkannya?
Ia memang bukan Nabi sehingga tak yakin apakah Tuhan tidak akan meninggalkannya. Ia adalah manusia biasa: yang merokok santai, makan rendang, dan suka arloji Rolex. Ia bukan manusia tanpa cela yang selalu menyingkirkan kenikmatan dunia.
Adalah menarik bagi saya, bahwa Triyanto Triwikromo menampilkan kerangka besar pergulatan ide Kartosoewirjo mengenai negara dengan mempertentangkannya dengan ide Sukarno. Dalam puisi Perihal Kobaran Api Triyanto Triwikromo menunjukkan dua rel mimpi yang berbeda antara kedua tokoh pergerakan kemerdekaan ini: Kartosoewirjo memimpikan “panglima perang di gurun-gurun penuh cahaya zikir” untuk mendirikan negara Islam, sementara Sukarno memimpikan “Majapahit yang getir” untuk mendirikan negara republik.
Kontradiksi gagasan negara itu melahirkan perilaku yang saling bertabrakan dan saling menundukkan. Triyanto menyamakan situasi itu seperti situasi Arjuna melawan Bambang Ekalaya. Keduanya adalah murid Durna, dan cerita itu tidak terlalu jauh dari kenyataan sejarah bahwa Kartosoewirjo dan Sukarno memiliki guru yang sama dalam diri Tjokroaminoto ketika mereka sama-sama tinggal di Bandung. Saya kutip sebagian sajak Di Mobil Tahanan:
“Tapi pada akhirnya kau takluk, bukan?”
Ragaku yang takluk. Jiwaku tetap merdeka. Aku tak terpisah dari Kakbah. Aku tak terpisah dari Madinah. Aku tak terpisah dari Allah.
“Sekarang aku ingin bertanya kepadamu: mengapa kau ingin membunuh Sukarno?”
Aku tak pernah ingin membunuh Sang Arjuna, kawan lamaku. Aku hanya ingin menyatakan padanya tanpa Islam negeri ini akan lemah.
“Saat Sukarno menandatangani hukuman mati untukmu, apakah kau menganggap dia telah membunuhmu?”
Kalau aku jadi Arjuna, akan kubunuh Bambang Ekalaya.
Pembacaan sang penyair atas sejarah pada puisi di atas menempatkan Kartosoewirjo pada perlawanan dan kebencian terhadap Sukarno (yang berulang dalam sajak Secangkir Kopi dalam Senyap dan Bukan Pesan Nabi), sampai ia dituduh terlibat dalam percobaan pembunuhan (misalnya peristiwa di Cikini, yang muncul dalam Pertanyaan Besar Imam Tentara). Sajak Mereka Tak Akan Menembakku menegaskan pertentangan dua tokoh itu, ketika seorang tentara memberi nasehat pada Kartosoewirjo: “Mintalah ampun pada Sukarno”.
Kartosoewirjo tak mau minta ampun, juga tak memberi ampun, karena ia tak punya kepastian siapa yang salah dan siapa yang kelak berhak menghuni neraka: “Tidak untuk Sukarno. Tidak untukku” (Perihal Kobaran Api). Alasan kekalahannya yang berujung eksekusi hanya karena ia adalah Sang Bambang Ekalaya yang tangguh, yang dengan ketangguhannya mengancam keelokan Sang Arjuna dalam diri Sukarno. Bagaimanapun tak boleh ada matahari kembar: “matahari dari Cepu” tak boleh lagi menyinari dunia dengan apa yang dimilikinya.
Agaknya pada puisi-puisi yang semacam itu sang penyair ingin menentukan maksud tafsirannya, dan dalam waktu yang bersamaan tidak mendikte pembaca untuk menerima saja maksud tafsiran tersebut. Dengan kata lain, Triyanto Triwikromo tidak memberikan kedaulatan penuh pada pembaca untuk melakukan interpretasi, dengan cara menawarkan tafsiran kepada kita bahwa Kartosoewirjo berada di antara peran sejarah yang tidak tunggal. Selain dihadapi sebagai kepala pemberontak yang dibentuk negara, Kartosoewirjo bisa dihadapi sebagai satu dari sekian “orang-orang suci”. Sebab, seperti bisa diikuti dalam kumpulan ini, Kartosoewirjo pergi kepada kematian, rasa-rasanya, untuk lebih bahagia. Kematian yang maknanya hampir sama dengan kepulangan:
“Pulanglah ke rumah asal, Kartosoewirjo, pulanglah lorong mimpi penghabisan. Pulanglah ke tepi sunyi yang meneduhkan.”—sajak Tidur.
satu lagi karya luar biasa dari penulis kesukaanku, Pak Triyanto Triwikromo, setelah tahun lalu aku jatuh cinta pada buku ceritanya 'Surga Sungsang'.
membaca puisi-puisi Pak Triyanto seperti membaca narasi yang memuisikan kisahnya, atau puisi yang menarasikan kisahnya. setiap kali membaca puisi yang beliau tulis ada perasaan bahagia dan nikmat seperti minum teh hangat tak terlalu manis sambil menikmati cahaya baskara di petang hari.
kata-kata secara langsung dituang dalam bait-bait padat makna. rasa gurih dan lezat dari pilihan diksinya selalu membuatku kenyang. kelak aku tersenyum senang dari telinga kanan ke telinga kiri tatkala menutup buku puisi ini.
Astaga, menyedihkan. Dan aku benar-benar penasaran apa yang dipikirkan Soekarno ketika menandatangani perintah hukuman mati untuk mantan teman sekosannya sendiri. Sebab beberapa baris pernyataan di halaman awal tidak menjawab apa-apa.
Saya bersyukur karena akhirnya saya mampu merampungkan buku puisi mahadahsyat ini setelah berkali-kali menunda untuk lanjut membuka halamannya.
Berisi 52 puisi yang “menarasikan” kisah hidup seorang Kartosoewirjo menjelang ajal. Ada penglihatan, pendengaran, pengecapan, perabaan, dan perasaan di dalamnya. Lengkap. Membacanya, seperti turut melangkahkan kaki pada mulut maut yang terbuka lebar. Rasanya seperti bertubuh kaku dan hampir kehabisan napas. Ditambah lagi dengan beban di punggung yang harus terus ditopang. Mual dan mulas.
Ada kehampaan yang menjalar menyelimuti perasaan saya saat membaca. Namun, kehampaan itu berdiri pada sebuah ideologi yang begitu kokoh menopangnya. Dia tidak goyang. Sama sekali tidak menampakkan pergerakan walau dihadapkan dengan dua belas pistol yang ditodongkan regu tembak.
Triyanto Triwikromo memiliki gaya yang cukup unik dalam penulisannya. Beliau mampu menghidupkan yang mati dengan kata-kata. Teknik repetisi yang banyak digunakannya pun sama sekali tidak terasa membosankan. Malah, seperti menambah efek hentakan keras yang langsung menghunjam dada hingga sesak.
Masih dalam rangka mengumpulkan literatur untuk skripsi, aku memutuskan untuk membaca buku ini, tepat setelah aku menyelesaikan Kartosoewirjo: Mimpi Negara Islam. Aku sendiri bersyukur karena membacanya sebelum membaca kumpulan puisi ini, karena buku terbitan TEMPO tersebut menjadi "bekal" untuk dapat memahami 52 puisi yang berkisah tentang Kartosuwiryo.
Berbeda dengan pembacaan biografi sebelumnya, membaca buku ini menghadirkan sensasi baru mengenai kisah hidup seorang Kartosuwiryo hingga kematiannya. Setiap sajak yang ditulis berisikan semacam "suara hati" dari Kartosuwiryo kepada segala sesuatu yang ia jumpai; penangkapan di Gunung Geber, detik-detik menuju eksekusi mati, wasiat, bahkan dialog dengan Tuhan. Menurutku, untuk dapat memahami sajak-sajak ini, pembaca harus sudah memahami terlebih dahulu mengenai kehidupan Kartosuwiryo. Tentu akan lebih menyenangkan apabila pemahaman yang sudah ada, dikombinasikan lagi dengan beragam sajak yang diolah secara apik oleh penulis.
Dari 52 sajak yang termuat dalam buku ini, favoritku adalah sajak-sajak yang berisi suara hati Kartosuwiryo sendiri. Rasanya begitu hidup dan realistis. Nampak bahwa penulis telah melakukan berbagai riset mengenai kehidupan Kartosuwiryo, sehingga dapat mengubahnya dalam bait-baik sajak yang hidup. Suara hati Kartosuwiryo, gejolak batinnya terhadap Sukarno, wasiatnya pada penerus perjuangan, maupun monolognya pada Tuhan benar-benar disajikan dengan apik tanpa metafora yang berlebihan. Pemilihan judul yang tidak bertele-tele, namun lugas dan menyentuh juga menjadi poin penting yang dapat menarik pembaca. Hal ini membuatku terkesan dan merasa lebih memahami Kartosuwiryo selain melalui biografi yang telah kubaca sebelumnya. Sedikit banyak, aku yakin bahwa sajak-sajak ini dibangun berdasarkan fakta yang ada, bukan hanya bumbu-bumbu fiksi belaka (kecuali untuk beberapa sajak yang jelas fiksi).
"Aku tak pernah mengajarimu bunuh diri sebelum kaukenakan peci, sepatu, dan sabukku, sebelum aku mati." (dalam "Aku Tak Mengajarimu Bunuh Diri, hal.23)
Akhir kata, kurasa buku ini pantas mendapat 5 dari 5 bintang karena sajak-sajak yang 'hidup' dan bukan berdasarkan fiksi belaka. Cocok dibaca bagi siapapun yang ingin mengenal satu tokoh sejarah melalui media sastra.
Saya baru lunas membacanya semalam setelah menundanya beberapa hari begitu sadar jika buku ini merekam kisah hidup seseorang. Ini buku sejarah! Karena itulah saya memutuskan untuk menunda bacaan lebih dahulu sebelum saya memperdalam Kartosoewirjo.
Saya membeli buku seri mini Tempo tentang Kartosowirjo. Juga mencari tahu koleksi 81 foto hari terakhirnya. Barulah saya mulai membaca sehimpun puisi yang dianggit Pak Tri ini.
Buku ini luar biasa. Puisi-puisinya sangat liat. Bagi orang awam yang mungkin tahu sedikit jika puisi haruslah punya bait dan rima, puisi di buku ini akan sedikit berbeda karena berbentuk narasi. Pak Tri cukup berhasil menggambarkan saat-saat terakhir Kartosoewirjo sebelum dibedil. Tentang pertemuan terakhir dengan keluarga, juga serdadu dan oditur yang bertugas menjagal beliau. Singkatnya Pak Tri berhasil membuka sisi lain Kartosoewirjo sebagai pemberontak.
Saya sangat senang dengan puisinya yang satu ini,
Aku tahu pada akhirnya Sukarno jadi Putra Sang Fajar. Tapi kau juga tahu akulah yang sesungguhnya jadi Fadjar Asia. Mengerjakan koran ini aku selalu berteriak, “Kau boleh terus menjadi hujan di sepetak sawah, tetapi aku akan menjadi kemarau sepanjang waktu disehampar pulau.”
Matahari tidak mungkin punya kembaran, karena itulah Kartosoewirjo mengalah atas Soekarno. Ciamik!
Kartosoewirjo dioperasi oleh kekuasaan masa itu, oleh kawan indekosnya, Soekarno, di tempat yang jauh dan rahasia. Ketika sejarah melihatnya sebagai orang ketiga, buku ini tiba dengan sudut pandang orang pertama. Puisi menjadikan Kartosoewirjo bicara dengan sendirinya. Puisi menjadikan sejarah menjadi agak berbeda.
Di tengah-tengah proses mengimla, saya terkenang dengan Eichmann. Penjagal umat Yahudi itu merasa dirinya bermoral, karena patuh pada sang Fuhrer, tapi ia tetap diadili oleh sejarah. Kartosoewirjo juga, memiliki kompas moral yang berbeda dari yang diyakini oleh negara yang lagi kasmaran sama nasionalisme saat itu, ia diadili pula oleh para regu tembak dan oditur yang dalam salah satu judul di buku puisi ini berkata “LAKSANAKAN SEKARANG”.
Penulis mengadvokasi Kartosoewirjo yang tak sempat membela diri, dengan berpuisi.
Dibandingkan sehimpun puisi, saya pikir "Kematian Kecil Kartosoewirjo" lebih tepat disebut sebagai sebuah fiksi mini. . Didalamnya terdapat dongeng, cerita, legenda, narasi, diksi yang subtil, kalimat yang menunjukkan sebab-akibat, sampai unsur surealis, realis magis maupun non magis. . Ia menceritakan Yatsrib (yang sekarang dikenal sebagai Madinah), tentang Mekkah, tentang hamba-hamba dan Tuhan, tentang ular yang melilit Hawa dan pohon Hayat, tentang Sukarno sang arjuna, Tjokroaminoto yang terbuang, Kartosoewirjo, tentang perang abad 6, perang Badar, sampai sesuatu yang liyan.
GILA, GILA INI PUISINYA KEREN-KEREN BANGETTTT!!!😭😭😭💙
Dalem. Sakit. Menyayat.
Tiap baca-baca puisi ini rasanya kayak dibisikin sama orang meninggal :') apalagi di puisi pembuka. Saya. Suka. Banget.
Sebuah representasi puisi yang ditulis melalui sudut pandang seorang Kartosoewirjo. Selama ini kita hanya disuguhkan dari berbagai sudut pandang Ir Soekarno atau Tjokroaminoto, tapi kali ini kita disuguhi dari pemikiran Sang Pemberontak. Yang ternyata mampu membuat saya terpesona.
Riset. Riset. Riset. Pusinya juga ada sentuhan epos ramayana & mahabbaratha. Setuju sekali dengan testimoni Pak Sapardi Djoko Damono di belakang buku ini. Mantap! Benar-benar bisa berempati dengan Alm. Kartosoewirjo yang kontroversial.
"Kematian Kecil Kartosoewirjo" adalah sehimpun puisi Triyanto Triwikromo. Saat membaca lembar demi lembar, aku merasa membaca sebuah tafsir. Tidak arogan, tetapi cukup menantang pembaca.
Yang menarik dari membaca satu buku puisi adalah menemukan hal baru. Bisa berupa diksi, struktur, dan variasi bentuk yang tidak baku lainnya. Buku puisi ini akan mempertemukan pembaca dengan hal itu.
Saya hanya tau nama Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo sekilas di buku-buku teks pelajaran sejarah. Nama beliau begitu asing, mengingat saya juga tak terlalu ‘ngeh’ dengan pelajaran sejarah kala itu. Seingat saya, nama beliau tercatat sebagai pemimpin pemberontakan DI-TII, dan dijatuhi hukuman mati. Saya juga ingat sebuah postingan tentang menangisnya sang proklamator, Ir. Soekarno, yang salah satunya saat menyetujui eksekusi mati Kartosoewirdjo, yang ternyata sahabat kentalnya itu.
Buku ini terdiri dari 52 puisi karya Triyanto Triwikromo, seorang penulis produktif. Puisi-puisi indah ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu Awal (51 puisi), dan akhir (1 puisi). Sebagian besar puisi-puisi ini bersudut pandang Aku (Kartosoewirdjo), menceritakan bagaimana dirinya diasingkan ke salah satu pulau di Kepulauan Seribu hingga eksekusi matinya.
Buku ini melewati riset yang mendalam, terlihat dari 'catatan’ buku yang mencantumkan tentang Kartosoewirdjo dari sudut pandang keluarga dan khalayak. Juga begitu banyaknya buku rujukan sang penulis yang membicarakan Kartosoewirdjo dan diskusi panjangnya dengan teman-teman karibnya.
Puisi-puisi yang dihadirkan seakan memiliki daya tarik magis. Bahwa bayonet, senapan yang dikokang, langkah serdadu, hutan dan pepohon tempatnya menghabiskan waktu-waktu terakhir, membuat kita melihat sudut lain Kartosoewirdjo. Menyesakkan, namun dibalut kata-kata yang menawan. Pada akhirnya yang muncul setelah semua perjuangannya adalah kepasrahan kepada Tuhannya. Ia lelah. Ia pasrah.
Selesai saya membaca buku ini, saya penasaran dengan apa yang ditulis sejarah terhadap sosok Kartosoewirdjo. Antologi puisi ini mungkin tak kan sanggup mengubah predikat Kartosoewirdjo sebagai 'pemberontak’ yang dihukum mati. Namun puisi-puisi indah yang membuat saya berulang kali berkaca-kaca ini terlalu sayang untuk tak diendapkan ke dalam sukma.
Membaca buku puisi ini seperti tidak sedang membaca puisi, melainkan sebuah narasi akhir dari kehidupan Kartosoewirjo. Bagaimana dia ditangkap, dibawa dalam mobil tahanan, kemudian masa akhir di penjara dengan tentara, imam tentara, regu tembak, dan pikiran terakhir. Kartosoewirjo dikatakan sebagai matahari kembar dari Soekarno, dengan cita-cita mendirikan negara Islam yang tentu berbeda dengan cita-cita Soekarno yang nasionalis. Bahkan dalam puisi Di Mobil Tahanan disampaikan bahwa Kartosoewirjo tidak sekadar Putra Fajar (tentu tahu yang menjadi putra fajar adalah Soekarno), bahkan sudah menjadi Fadjar Asia (koran yang dipimpin oleh Kartosoewirjo)
Aku tahu pada akhirnya Sukarno jadi Putra Fajar. Tapi kau juga tahu Akulah yang sesungguhnya jadi Fadjar Asia (hal.34)
Mungkin hanya dalam buku ini, ada sekumpulan puisi yang hanya membicarakan satu tokoh. Karena beberapa buku puisi yang saya baca memiliki keberagaman subjek cerita, meskipun tema keseluruhan adalah sama. Selain itu keunikan lain adalah bagaimana Pak Triyanto menggabungkan klenik Mahabharata dengan kisah hidup Kartosoewirjo. Dalam judul puisi Di Mobil Tahanan pula dikisahkan bahwa Tjokroaminoto adalah Durna, sedangkan Sukarno adalah Arjuna, dan Kartosoewirjo adalah Bambang Ekalaya. Dan semua orang yang pernah membaca mahabharata, tentu akan tahu bagaimana perilaku pilih kasih Durna kepada Arjuna yang dianggap sebagai murid emas.
Baiklah kupertegas ceritaku: bagiku Tjokroaminoto terus saja menjadi Durna. Bagai Bambang Ekalaya, aku belajar padanya apa pun tanpa dia tahu telah mengeruk seluruh ilmunya.
Dan Sukarno? Sukarno tetap saja menjadi Arjuna. Tjokroaminoto begitu cinta padanya, sehingga banyak pengetahuan rahasia yang dia susupkan kepada murid yang dianggap tiada cela (hal.33)
Dan menarik lagi adalah diakhiri dengan pengakuan orang-orang yang melakukan perawatan jenazah Kartosoewirjo dalam puisi KESAKSIAN, mulai dari komandan regu tembak, pemeriksa jenazah, pengubur, pemandi jenazah, imam tentara, pengusung jenazah, pendoa, oditur.... Sehingga kematian Kartosoewirjo di tangan regu tembak adalah sebentuk kematian kecil (sesuai judul) karena ada hadiah besar menantinya di kehidupan selanjutnya.
Jadi, selain menikmati puisi juga sedang membaca kisah Kartosoewirjo.
Seperti membaca kisah sejarah di balik layar dengan bahasa yang begitu indah. Tak terkesan berat sama sekali, walaupun banyak tank, senapan, peluru, juga tiang gantung yang diusung dalam tulisannya, alihalih ngeri saya justru dapat merasakan keindahannya.
Ada keindahan yang dapat kita rasa walau tak memahami maknanya... bahahaha something like that lah. Referensi sejarah saya memang sangat minim. Saya tidak kenal siapa itu Kartosuwirjo, apa perannya dalam masa kemerdekaan, dan seperti apa hubungannya dengan Bapak Sukarno. Saya tidak ingin terlalu cepat mengambil kesimpulan dari apa yang saya baca, kecuali menyatakan bahwa tulisan ini indah. :D
Powerful writing. Using poetry to capture someone's life (well, someone's death to be exact in this case) is such a unique idea. I don't usually understand poetry, but reading history in beautiful meaningful words, I can definitely do that.
"Tetapi tak mereka biarkan aku menjadi rusa hijau. Mereka paksa aku menjadi anjing merah."
Buku puisi ini berkisahkan tentang kehidupan Kartosoewirjo pada masanya yang menentang pemerintahan indonesia pada zaman Soekarno. ditulis dengan bahasa yang menarik oleh Pak Triyanto..