“Seorang gowok terlatih untuk membantu para pemudadalam mempersiapkan diri memasuki dunia pernikahan. Sebelum mereka bersanding dengan istri mereka kelak, para pemuda yang masih hijau itu harus mendapatkan pelatihan dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Pekerjaan kami membantu para cantrik lelaki muda itu dalam tanggung jawab berumah tangga, dari urusan dapur, rumah, sampai ranjang.”
Nyi Sadikem merekam kisah hidup Elizabeth van Kirk, seorang perempuan Indo-Belanda yang lahir dari rahim seorang gundik. Kecantikan dirinya menjadi berkat sekaligus kutukan yang melahirkan banyak tragedi. Ritme hidup yang tak pasti mengempaskannya ke dalam sumur kehidupan yang kelam. Korban kekerasan seksual, yang dengan penuh amarah meredam identitas Belandanya untuk menonjolkan kejawaannya, perempuan yang mempertahankan hidup dan martabatnya dengan menjadi pengajar kedewasaan bagi para perjaka…
Berbicara tentang sosok “Gowok” yg mana selalu dianggap orang2 sbg pekerjaan kotor, “Nyi Sadikem” akan membawa kita menelusuri hidupnya yg penuh dg duka sebagai putri dari seorang gundik lahir sebagi seorang noni berdarah Indo-Belanda hingga menjadi seorang Gowok yang terkemuka pada era tsb. 🕯️
Walaupun novel ini menurutku masih bisa di perpanjang lagi kisah-kisah dari Moerni dan juga beberapa karakter (pribumi maupun Landha), tp penulis cukup menyajikan informasi2 yg cukup terkait dg pekerjaan Gowok yg memanusiakan manusia ketimbang kantor-kantor pamong masyarakat dimana hanya mengganggap uang sbg sebuah bahan untuk bertindak akan sesuatu. 💸
Dan seperti biasa buku ini sangat memperlihatkan dunia dimana jika ada kesalahan atau kehancuran perihal hubungan laki-laki dan perempuan, maka perempuanlah yang bersalah. As always, until now I presumed~🙂
Elizabeth lahir dari seorang gundik. Ayahnya orang Belanda, sehingga Elizabeth adalah seorang perempuan Indo-Belanda. Ketika istri ayahnya datang ke Indonesia, ibu Elizabeth menjadi bulan-bulanan. Hingga akhirnya dia ditemukan tewas tergantung di pohon, dan kemudian Elizabeth dibuang oleh istri ayahnya setelah dipukuli hingga babak belur oleh suruhan istri ayahnya. Ayahnya sendiri tidak mencari Elizabeth, dan sepertinya lepas tangan atas hidup anak perempuannya itu. Seorang lelaki bernama Bondan menemukan Elizabeth dan membawanya ke Mak Miat. Di sana dia diobati hingga sembuh. Mak Miat pun memberikan nama baru kepadanya, Moerni.
Bondan rupanya jatuh hati pada Moerni, namun ditolak oleh Moerni. Akibatnya, Bondan memperkosa Moerni supaya Moerni mau menikah dengannya. Namun setelah kejadian itu, Bondan menghilang. Moerni hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki. Sayangnya umur anaknya tidak panjang. Begitu pun dengan Mak Miat. Sepeninggal Mak Miat, Moerni harus berusaha keras menghidupi dirinya.
Lewat seorang mucikari, Juragan Tomblok, Moerni diperkenalkan dengan seorang pria bernama Martomo. Hidup Moerni mulai berubah sejak perkenalannya dengan Martomo. Martomo mencintainya, dan akhirnya mereka memiliki seorang putri meskipun keduanya tidak menikah. Suatu waktu, datanglah seorang perempuan yang mengaku sebagai istri Martomo. Martomo membenarkan hal itu, lantas pergi meninggalkan Moerni sambil membawa putri mereka.
Singkat cerita, dengan kekecewaan berkali-kali yang dihadapinya, Moerni memantapkan hati dan dirinya menjadi seorang gowok. Tugasnya adalah menjadi guru bagi pemuda yang belum menikah, mempersiapkan pemuda itu untuk menjadi suami dan lelaki sesungguhnya. Beberapa pemuda datang dan pergi, sampai Moerni bertemu dengan seorang Ndara yang menginspirasinya untuk mengubah nama menjadi Nyi Sadikem.
Dikisahkan dengan POV orang pertama, Elizabeth a.k.a Moerni a.k.a Nyi Sadikem memberikan gambaran nasib perempuan yang lahir dari gundik seorang Belanda, yang mengalami kekecewaan berkali-kali atas perlakuan lelaki-lelaki di dalam hidupnya. Di atas kekecewaannya, dia memilih sebuah profesi yang membuatnya bisa "mengatur" laki-laki dan menjadikannya sebagai seorang lelaki yang menghargai wanita. Dia tidak lagi percaya akan cinta, namun dia tahu bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sebuah kisah fiksi historikal yang menarik.
Dari rahim seorang gundik, lahir perempuan yang tumbuh dengan kesialan-kesialan tak terperi. Setelah ibunya, sang gundik, mati bunuh diri (atau digantung istri sah?), ia sendiri dibuang, diperkosa, hamil, anaknya mati, berduka, jatuh cinta, dicampakkan, jadi gowok, kasmaran, hamil, dikhianati, jadi gowok kesohor, mati rasa.
Dengan peristiwa sekompleks dan semelelahkan itu, sayang banget pengembangan karakter tokoh utama masih nggak begitu kuat. Jadi justru agak menyulitkan pembaca buat berempati dengan tokoh utama. Menurutku transformasi dari Eliza, Moerni, hingga ke Nyi Sadikem mestinya bisa digarap lebih mantep lagi.
Dunia gowok yang ditunjukkan terlalu banyak soal urusan ranjang. Kalau ada hal lain, misal soal bagaimana pasangan suami istri mesti saling membantu, cuma ditempelkan gitu aja. Dan, terakhir, meski keseluruhan ceritanya menarik, dialog-dialognya masih kurang luwes.
premis yang sangat menarik ditulis dengan sangat baik. Enak bgt dibaca bisa langsung dibaca seharian.
Sayang glosariumnya diletakan di belakang drpd dijadikan catatan kaki. Ada kata penting yang menjadi inkonsistensi yaitu kata memperkosa di awal2 buku lalu menjadi merudapaksa.
Walaupun sudah ada resensi di belakang buku, buku ini baiknya menyertakaan minimal umur pembaca dan trigger warning
Kesan paling awal membaca novel ini adalah bahwa tokoh utama, Elizabeth van Kirk alias Moerni alias Nyi Sadikem ini tidak ubahnya sosok Nyai Ontosoroh dalam roman Bumi Manusia. Ada beberapa kesamaan biografis (meski ada beberapa detail yang tentu saja berbeda) yang muncul dari kehidupan tokoh utama kita ini. Nyai, salah satu subjek marjinal dalam sejarah kolonial Indonesia, menjadi pencerita utama sekaligus sudut pandang pencerita dalam novel Artie Ahmad ini. Dari seorang yang lahir dari hasil pergundikan, Sadikem kemudian mesti mengalami segala bentuk kepahitan hidup sebagai seorang anak yang lahir dalam pernikahan "tidak sah" antara seorang kulit putih Eropa dengan perempuan bumiputra. Kemuraman nyaris selalu menyertai setiap periode hidupnya, sebelum kemudian ia menemukan jalan utama yang mendominasi sepanjang cerita novel ini: menjadi gowok.
Gowok sendiri keberadaannya nyaris antara ada dan tiada. Ia ada, eksis, namun dalam beberapa hal seperti enggan diakui karena dianggap menabrak norma sosial dan susila ketika itu. Di titik inilah kemudian Sadikem menemukan hidupnya, menguji sejauh mana batas kekuatan dan kesabarannya dalam menghadapi kenyataan-kenyataan pahit dalam hidup, serta akhirnya menjadi seorang perempuan "perkasa" dan dapat menentukan jalan hidupnya sendiri, tidak bergantung pada arahan maupun kekangan laki-laki. Dan persis di titik ini benak saya sulit untuk tidak mengingat kisah Ontosoroh ketika mengikuti kisah dari Sadikem.
Saya kira, sebuah percobaan yang menarik dari Artie Ahmad dalam mengolah novel berbasis sejarah ini. Meski bagi saya sendiri, ada beberapa detail yang rasanya agak mengganjal seperti misal anakronisme dalam ejaan nama maupun beberapa percakapan, alur, maupun kebiasaan dari para tokoh yang nampaknya justru seperti dipas-paskan dengan kondisi relasi sosial dan gender masa kini. Tapi bisa jadi ini bias penilaian dari saya yang memang lebih terbiasa membaca buku-buku sejarah, sehingga sepanjang membaca novel ini pikiran saya tidak bisa lepas untuk selalu membuat komparasi dengan realitas faktual yang dihadirkan dalam buku-buku sejarah. Tapi yang jelas, buku ini menghadirkan sesuatu yang amat menarik bagaimana perempuan ditempatkan dalam sejarah masyarakat Indonesia, terutama Jawa, yang menjadi latar belakang cerita ini. Ada kalanya ia menjadi superior, tapi lebih seringnya perempuan betul-betul hanya menjadi objek bagi laki-laki semata.
Mengandungi spoilers, skip if you want to read this book]
Selepas membaca Lebih Putih Dariku, sosial media aku banyak keluar cadangan buku Nyi Sadikem ini. Katanya Lebih Putih Dariku itu ibunya dan Nyi Sadikem ini cerita anaknya. Iya, secara awalanya mungkin iya. Tetapi selepas separuh dari ceritanya ternyata tidak ada kaitan sama sekali.
Kehidupan Nyi Sadikem yang parah total sejak kecil diusir ayah nya yang Belanda selepas ibunya yang Jawa dan gundik mati membunuh diri. Diselamatkan seorang ibu yang baik kemudiannya dirogol pula sampai hamil. Setelah hamil, anaknya mati. Kemudian jumpa cinta, aku dah rasa tak sedap hati dah malang apa lagi yang akan menimpa beliau. Ternyata sama juga lelaki tak guna dah beristeri dan gunakan Nyi Sadikem untuk dapatkan anak. End up sekali lagi beliau diselamatkan oleh seorang ibu yang baik. Ibu yang akhirnya mendidik beliau menjadi seorang gowok.
Nasib baik haritu aku tonton cerita Gowok di Netflix (sebab ada Reza Rahadian) kalau tak agak confuse juga apa peranan gowok ni. Secara basic nya gowok ni kerjanya melatih lelaki yang dah akil baligh atau yang baru bersunat atau yang mahu menikah untuk belajar cara cara memuaskan isteri dan juga hal hal rumahtangga yang lain. Gelarannya kamasutra jawa. Gitu lah.
Ada benda benda aneh yang contohnya tiba tiba jumpa lelaki tua yang dah impoten sekali berhasrat jadikan dia anak. Idk jalan ceritanya menarik tapi mungkin terlampau laju dan scene nya sikit sikit idk how to explain. Mungkin ending dia, Nyi Sadikem ni menjadi seorang gowok berjaya dan menjadi tempat berteduh perempuan lain buatkan aku rasa endingnya biasa la kot. Kita pulak suka ending sedih parah gitu. Nak perempuan menang, tapi bila dah menang kita nak more. Gitulah.
Lesson learnt nya adalah, jadi lelaki jangan macam gampang. Tak hormat perempuan, buat perempuan macam alat memuaskan nafsu sahaja. Dan, perempuan yang ingin bebas itu mahal harganya. But once kau rasakan nikma kebebasan tu, kau takkan patah balik dah ke kancah mencintai lelaki.
Novel POV orang pertama gini keunggulannya ya di gerundelan dan dialog batin protagonis utamanya, yang dalam "Nyi Sadikem" adalah Elizabeth alias Moerni alias Nyi Sadikem. Tiga nama bukan tempelan, tiga nama itu jadi simbol pergulatan identitas protagonis yang separuh londo separuh jawa peranakan gundik yang tidak diinginkan suaminya.
Secara kebahasaan, naskah ini beres sebagai fiksi sejarah. Nggak banyak kalimat teknis yang terkesan out-of-the-character's-world banget, baik secara lingkup ruang karakter (secara geografis maupun sosiologis) maupun kurun waktunya. Bahkan di beberapa kesempatan, mba Artie pakai kata yang cukup lawas sebagai pengganti uang (lupa saya malah. hh).
Yang bikin rada effort nuntasinnya itu, kalo saya sih, ngerasanya si tokoh Elizabeth atau Moerni atau Nyi Sadikem ini kayak nggak kerasa gitu dinamikanya. Masalahnya, perubahan karakter karena diterpa dan---pada akhirnya---memecahkan masalah, bahwa si tokoh bisa kehilangan segalanya kecuali keyakinannya, itu kurang kentara. Jadi, sepanjang novel, ya nikmatin cara bercerita mba Artie aja yang kerasa lempang dan luwes, tanpa mampu kejahit sama cerita karakternya itu sendiri.
Padahal, menurut saya tuh ada potensi ngembangin en nguatin cerita lewat tokoh-tokoh satelit. Seperti yg udah dilakuin mba Artie lewat tokoh Goenoeng. Sayang, untuk tokoh se-vibrant, se-seger, dan berpeluang ngasih elemen cerita yang gripping ke pembaca, Goenoeng datang terlalu telat.
Isu ras, gender, kelas juga ditunjukkan dengan baik dalam cerita. Baik secara ketepatan analisis, baik pula secara naratif lewat tuturan dan tindak-tanduk protagonis yang sama sekali tidak serba tahu. Begitu manusiawi, begitu apa adanya. Inilah yang bikin "Nyi Sadikem" dan fiksi-fiksi dengan muatan sosiologis/historis lainnya tidak lantas jadi semacam artikel ilmiah di jurnal predator atau prosiding abal-abal---penuh teori ngawur, menyebut titimangsa di sana sini, angka bertebaran, tanpa implikasi serius terhadap isi.
“Nyi Sadikem”, novel yang banyak menyuarakan perempuan pada kehidupan sosial zaman kolonial.
Pembaca bakal mendapati lumrahnya praktik pergundikan yang dilakukan para penjajah. Dalam novel ini, gundik memiliki kehidupan keras: dijual-beli karena kemiskinan, menjadi pemuas nafsu di kamar, menjadi babu di luar ranjang, memiliki ketidakpastian penghidupan, belum tentu kecipratan status sosial.
Isu ketimpangan gender dan kelas sosial tidak hanya berhenti pada gundik semata, melainkan melalui perjalanan seorang peranakan Indo-Belanda dengan segala dera kematian-kehilangan-dan-pengkhianatan dalam hidupnya; perempuan tidak sekadar rentan terhadap penindasan, melainkan mendapat label sebagai sumber kesalahan jika terjadi kehancuran hubungan bersama laki-laki.
Lebih jauh, Artie mengajak pembaca untuk menelusuri bagaimana gowok menjadi profesi mulia karena turut serta membangun wacana berumah tangga bagi laki-laki yang akan menikah sehingga tidak hanya menggairahkan kehidupan seksualitas semata, melainkan juga menyalakan kesalingan dalam rumah tangga. Yang pasti, menjadi gowok pada masa-masa itu jauh dari kata melarat.
Sayangnya, hubungannya dengan sang mama kurang mendalam sehingga alasan menonjolkan kejawaan dan menanggalkan kebelandaan belum terlalu kuat.
Genre historical fiction selalu nampak menarik di mata saya, terutama ketika buku Nyi Sadikem ini mengusung tema budaya Gowok pada masyarakat Jawa di era kolonial Belanda.
Cerita ini menyingkap kisah seorang perempuan bernama Sadikem, tokoh yang lahir dari pergulatan antara cinta, pengkhianatan, dan nasib yang tak sepenuhnya bisa ia kendalikan. Dimana Ayahnya merupakan seorang Londo (Belanda) sedangkan Ibunya merupakan seorang Nyai (Perempuan Jawa yang tak berdaya).
Penulis menuturkan kisahnya dengan bahasa yang liris sekaligus mencekam, seakan membawa pembaca ke suasana pedesaan Jawa yang sarat budaya. Nyi Sadikem bukan sekadar sosok perempuan biasa, ia hadir sebagai figur yang bergulat dengan takdir, menjadi simbol tentang bagaimana perempuan kerap terjerat dalam kuasa laki-laki, tradisi, dan bahkan takdir gaib yang membayanginya.
Buku ini seolah menghadirkan refleksi sosial: tentang posisi perempuan di tengah budaya patriarkis, tentang luka yang diwariskan dari generasi ke generasi. Seakan menghadirkan ketegangan antara realitas dan mitos, antara manusia yang rapuh dan “takdir” yang seakan lebih berkuasa.
Saat membaca buku ini saya seolah masuk ke ruang gelap ingatan kolektif masyarakat Jawa, di mana cinta, dendam, dan kutukan bercampur menjadi satu. Sangat page turner, seru sekali. Rate 4/5
Ternyata novel ini tidak lantas seksual hanya karena membahas pergowokan. Alih-alih berfokus pada narasi seputar persetubuhan, Nyi Sadikem justru lebih mengangkat pesan perihal kemerdekaan perempuan. Derak amben dan peluh keringat di atas ranjang memang ada, tapi bukan itu intinya.
Elizabeth alias Moerni alias Nyi Sadikem, perempuan yang semula tak kuasa untuk mempertahankan pilihannya. Ketika menolak lelaki, dia berakhir dilecehkan. Ketika enggan memiliki anak, dia berakhir bunting. Bahkan ketika hendak mempertahankan anaknya kemudian ... nasib berkata lain.
Kisah dalam novel ini dibuka oleh gambaran keluarga yang terdiri atas Elizabeth, si noni muda; sang mama yang pribumi; dan sang papa yang lhondo. Mama Elizabeth adalah gundik yang merangkap babu sekaligus pemuas nafsu. Elizabeth tumbuh sembari mengamati relasi ganjil antara kedua orang tuanya ini. Sayang, hubungan Elizabeth dan mama-nya tidak terlalu dieksplor. Bukankah itu justru akan jadi fondasi yang kuat untuk sikap Elizabeth selanjutnya, yang mantap mendefinisikan dirinya sebagai Jawa dan bukan lhondo? Padahal menarik kalau diceritakan lebih detail tentang bagaimana rasa simpatinya kepada sang mama mekar; sembari sisi lain, rasa jijik dan marahnya kepada sang papa juga tumbuh. Soalnya, di banyak novel lain dengan latar serupa, makin dewasa, anak Indo justru menjauh dari ibunya yang pribumi dan berusaha mengubur fakta bahwa dirinya bukan Belanda totok. Karena malu.
Lagian, Nyi Sadikem ogah mengaku lhondo karena melihat cara laki-laki Belanda memperlakukan gundiknya, tapi yang bikin rusuh di kehidupannya sendiri justru para lelaki Jawa juga. Tidakkah itu membuatnya sadar bahwa lhondo atau Jawa sama saja? Berengsek ya berengsek.
Meski begitu, salut dengan keteguhannya di akhir yang tidak mau lagi terjerat cinta. Agaknya tidak hanya Nyi Sadikem yang mengajari para lelaki, tapi dia juga belajar dari mereka. Seperti yang dikatakannya, "Laki-laki tak boleh menjajah lagi perasaanku". Meski bermula dari sosok yang tak berdaya dalam memilih, Nyi Sadikem kemudian berkembang jauh ke titik di mana pilihannya tak tergoyahkan oleh apa pun. Bahkan, dia turut menjadi rumah dan perlindungan bagi perempuan-perempuan lain yang tidak beruntung. Saya puas dengan perkembangan karakternya ini.
Sedikit masalah teknis yang membuat saya terganggu adalah penggunaan glosarium di akhir buku, bukannya footnotes. Udah capek-capek menelusuri makna istilah-istilah Jawa dan Belanda di internet, ealah ... ternyata di belakang ada glosariumnya :)
Ini sejujurnya baru kedua kali saya membaca tentang gowok, setelah disinggung sedikit dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Sepertinya juga belum banyak novel Indonesia yang fokus mengangkat profesi ini. Dus, Nyi Sadikem adalah literatur berharga yang patut dicoba.
Nyi Sadikem adalah sebuah cerita representatif dari kehidupan perempuan keturunan Indo-Belanda yang posisinya ambigu—mereka dianggap sebelah mata oleh orang Belanda, tetapi juga ditakuti oleh orang bumiputra.
Novel ini menceritakan tentang Elizabeth van Kirk, seorang perempuan Indo-Belanda, lahir dari ibu seorang gundik yang ia lihat juga tak berbeda jauh dengan budak seks dan seorang ayah Belanda yang merupakan seorang kapten kapal. Hidupnya menjadi berjungkirbalik ketika istri asli dari ayahnya—seorang perempuan Belanda—mendatangi Hindia Belanda, membunuh ibu gundik itu, dan mencoba membunuhnya. Kehidupan Elizabeth tidak pernah mulus. Ia beberapa kali mengalami menderita karena laki-laki. Diperkosa, ditipu, yang akhirnya membuat ia mengambil keputusan besar: yaitu menjadi seorang gowok.
Sejatinya, seorang gowok haruslah seorang Jawa. Namun, Elizabeth yang kemudian mengganti namanya menjadi Moerni, tetap ingin menjadi gowok meskipun berasal dari keturunan campuran. Novel ini mengisahkan perjalanan Moerni atau Elizabeth di tengah kehidupan masyarakat Jawa.
Nyi Sadikem merupakan novel sejarah karya Artie Ahmad yang bercerita tentang lika-liku kehidupan seorang Nyai blasteran yang mendapatkan dukungan dari seorang pribumi yang memiliki pengaruh di daerah dimana ia tinggal, yang kemudian menjadikannya sosok yang nyaris tidak punya kelemahan, sehingga esensi perjuangan seorang perempuan di bawah tekanan kolonialisme jadi kurang terasa urgensinya. Nyi Sadikem terasa lebih menekankan pada kejayaan personal tokoh utamanya dan terasa seperti karakter yang "dijamin menang" oleh penulisnya.
Kekuatan novel ini sebenarnya terletak pada keberanian Artie Ahmad dalam menggambarkan ambisi perempuan secara frontal. Sadikem bukan tipe protagonis yang pasrah; ia cerdas dan pragmatis. Namun, dominasi karakternya yang terlalu kuat membuat dinamika cerita menjadi satu arah. Konflik yang muncul di setiap bab sering kali selesai sebelum sempat memuncak, karena pengaruh Sadikem (dan pelindungnya) terlalu absolut. Hal ini menciptakan jarak emosional bagi saya, sulit untuk merasa khawatir atau bangga pada keberhasilan tokoh yang jalannya selalu dibuat "lempeng" tanpa hambatan berarti.
Secara keseluruhan, novel ini adalah bacaan yang menarik secara visual dan latar sejarah, namun kurang secara kedalaman konflik. Penulis sangat mahir dalam membangun atmosfer mistis dan detail budaya Jawa, tapi sayangnya potensi itu tidak digunakan untuk menguji mentalitas Sadikem dalam situasi yang benar-benar sulit. Pada akhirnya, saya bisa simpulkan bahwa buku ini menceritakan potret seorang perempuan yang perkasa, karena ia seorang blasteran ataupun karena ia mendapatkan dukungan sepenuhnya dari penguasa.
2025 ditutup dengan buku tentang perempuan yang sangat apik!
Nyi Sadikem menceritakan tentang Elizabeth/Moerni/Nyi Sadikem yang merupakan anak seorang Nyai (gundik) dengan orang Belanda. Masa kecilnya kelam karena ibunya bunuh diri akibat tidak diperlakukan dengan baik oleh ayah dan istri sahnya. Lalu dia dibuang secara keji oleh istri sah sang ayah, ditemukan oleh Bondan, lalu dirawat oleh Mak Miat. Namun kemalangan masih saja mengintai Moerni hingga garis nasib membawanya menjadi seorang gowok yang kaya raya dan terhormat dengan nama Nyi Sadikem. Novel ini menyuarakan peran perempuan pada masa kolonial sebagai sosok yang tertindas dan tidak punya banyak pilihan. Namun jujur saya suka dengan sosok Nyi Sadikem ini. Walaupun masa lalunya kelam, ditinggal mati oleh sang ibu, dipisahkan dari ayah kandungnya, diperkosa oleh orang yang menyelamatkannya hingga hamil, kedua anaknya meninggal di usia kecil, ditinggal laki-laki yang dia cintai, namun dia berakhir menjadi wanita yang tangguh dan berpendirian.
Baru banget tamat baca buku yang menjadi salah satu anticipated read aku tahun ini yaitu Nyi Sadikem oleh Artie Ahmad. Salah satu alasannya aku pingin baca buku ini dari premis nya menarik banget dan memang bukunya bagus banget
Bukunya berkisah tentang perjalanan moerni yang bertransformasi menjadi nyi sadikem, tbh pertamanya mikir kaya cerita gowok saja namun banyak banget pembelajaran yang bisa diambil dan memberikan perspektif baru dari sisi perempuan
Quotes fav :
"Ingat dalam hubungan suami istri bukan hanya soal kasur melainkan banyak hal lain
Ya katamu ada tanggung jawab seorang lelaki untuk istrinya. agaknya berat.
Tidak berat karena istrimu akan membantumu
Hidup dalam dunia pernikahan saling mengasuh satu sama lain. Tidak bisa berjalan sendiri - sendiri. Kelak kau akan dibantu istrimu, dan seharusnya juga kau membantu istrimu dalam banyak kesempatan""
Sejujurnya aku mengikuti acara bedah bukunya dulu, baru aku baca. Jadi, sedari awal aku udah tau kalau novel ini tentang gowok dan latarnya ketika masih penjajahan Belanda. Aku sangat menikmati membaca novel ini. Memang gowok masih kurang dibahas di sastra Indonesia, terlebih lagi gowok yang Indo, alias bukan pribumi betulan. Novel ini sangat fokus kepada gowok dan pekerjaan apa saja yang dikerjakan. Sedikit banyak ia juga mengklarifikasi pekerjaan gowok yang mungkin, di mata sebagian orang, masih melulu ngomong soal urusan seks belaka. Mungkin yang aku agak kurang senang, rasanya novel ini terlalu tergesa dalam alurnya. Bagian endingnya juga terasa antiklimaks (well, no offense untuk penulis yang ingin mengakhiri karyanya semau mereka, i’m one of them). Tapi aku sangat menikmati drama dan telenovela bagai series yang mudah sekali diikuti, dengan tata dan gaya bahasa yang mudah dibaca.
"Aku tak menginginkan kaum perempuan selalu mejadi tempat salah. Kaum lelaki jugalah yang harus menanggung segala kerusakan. Mereka tak bisa cuci tangan seolah tak ada dosa yang mereka sebabkan. Kesalahan kedua belah pihak haruslah ditanggung kedua belah pihak, bukan hanya kaum perempuan yang dipersalahkan."
Adalah salah satu kutipan dari Nyi Sadikem yang jadi favorit saya dalam buku ini. Sosok Nyi Sadikem yang tidak gentar menghadapi cobaan dihidupnya, berusaha bangkit dan mengambil pelajaran dari apa yang terjadi membuatnya menjadi sosok yang kuat dan berbeda dari perempuan lainnya di masa tersebut.
betul, buku ini punya kesempatan untuk mengembangkan kisah Moerni dengan segala problem kehidupannya, tapi bagiku aku sangat menikmati dari halaman per halamannya. buku ini mengingatkanku lagi-lagi bahwa perempuan rentan terhadap kekerasan, bahkan oleh orang terdekat yang sudah dipercayainya pun. melihat Moerni yang tegar dan mau selalu bangkit, bahkan Ia menjadi pelindung bagi perempuan-perempuan lain yang hampir bernasib sama seperti dirinya, menunjukkan bahwa Moerni, seorang perempuan, bisa berdaya dan memiliki kuasa. untuk itu, kuberi bintang 5!
Wanita tangguh yang memperjuangkan hak untuk hidup dan harkat martabatnya untuk melawan segala bentuk diskriminasi, satu kata yang terbesit ketika membaca Nyi Sadikem "Berani" dia berani melawan ketidakadilan, ketidakpastian dalam hidupnya, Nyi Sadikem adalah termasuk kategori Ubermensch klo boleh meminjam istilah dari Nietzsche, dia menolak untuk menjadi budak, dia berjuang untuk menjadi tuan atas dirinya sendiri.
3,5/5. Aku merasa buku ini cocok untuk dijadikan sequel buku lebih putih dariku 😂. Aku sangat menikmati bagian awal dari buku ini, tapi semakin ke belakang semakin banyak plot hole dan ending yg terkesan terburu-buru.
Cara bertutur Artie Ahmad sangat mengalir. Awal kisah Nyi Sadikem sungguh emosional. Karakter Nyi Sadikem sangat kuat sebagai perempuam yang tegar dan berani menentukan nasib hidupnya sendiri. Saya suka sekali cara Artie Ahmad bercerita.
Tema yang diangkat sangat menarik, tentang Gowok yang merupakan salah satu profesi yang cukup “diperhitungkan” untuk perempuan di Jawa, pada jaman sebelum kemerdekaan dan beberapa tahun setelahnya.
Namun menurutku penceritaan karakter-karakter di dalam buku ini kurang mendalam, terutama untuk tokoh utamanya, Moerni. Timeline waktunya juga cukup membingungkan untukku.
Bagaikan membaca kisah Entrok, Tutur Dedes, maupun Gadis Kretek. Penulis perempuan yang menulis tentang perempuan kuat dan tahan banting dari berbagai pengalaman pahitnya kehidupan
This entire review has been hidden because of spoilers.
Nyi Sadikem mengingatkan saya akan Nyai Ontosoroh. Novel ini cukup menggugah, bagaimana perempuan mampu berdikari dengan kokohnya, juga begitu tegar dengan segala kesukaran.
Buku ini menceritakan tentang Nyi Sadikem, yang bergelut dengan pasar pernikahan di jaman itu, saat perempuan menjadi sumber kesalahan, ia berusaha menjadi berdaya tanpa perlu diberdaya kan, baginya perempuan sepertinya tidak untuk dimiliki laki-laki manapun, ia miliknya sendiri.