Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ballada Orang-Orang Tercinta

Rate this book
Berisi 19 puisi dan merupakan buku kumpulan sajaknya yang pertama.

48 pages, Paperback

First published January 1, 1957

18 people are currently reading
546 people want to read

About the author

W.S. Rendra

46 books174 followers
Willibrordus Surendra Broto Rendra (b. November 7 1935) is a famous Indonesian poet who often called by his friends and fans as "The Peacock".

He established the Teater Workshop in Yogyakarta during 1967 but also the Teater Rendra Workshop in Depok.

His photo here shown Rendra in his room at 1969.


Theatres:
* Orang-orang di Tikungan Jalan (1954)
* SEKDA (1977)
* Mastodon dan Burung Kondor (1972)
* Hamlet (Translated from Hamlet by William Shakespeare)
* Macbeth (Translated from Macbeth from William Shakespeare)
* Oedipus Sang Raja (Translated from Oedipus Rex by Sophokles)
* Kasidah Barzanji
* Perang Troya Tidak Akan Meletus (Translated from La Guerre de Troie n'aura pas lieu by Jean Giraudoux)

Poems:
* Jangan Takut Ibu
* Balada Orang-Orang Tercinta
* Empat Kumpulan Sajak
* Rick dari Corona
* Potret Pembangunan Dalam Puisi
* Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta!
* Nyanyian Angsa
* Pesan Pencopet kepada Pacarnya
* Rendra: Ballads and Blues Poem
* Perjuangan Suku Naga
* Blues untuk Bonnie
* Pamphleten van een Dichter
* State of Emergency
* Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
* Mencari Bapak
* Rumpun Alang-alang
* Surat Cinta
* Sajak Rajawali
* Sajak Seonggok Jagung

Short Stories:
* Pacar Seorang Seniman

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
93 (36%)
4 stars
89 (34%)
3 stars
58 (22%)
2 stars
14 (5%)
1 star
3 (1%)
Displaying 1 - 27 of 27 reviews
Profile Image for Roos.
391 reviews
Read
June 6, 2008
Baca buku ini setengah jam sebelum buka puasa dan langsung tamat....
Baru kenalan ma Rendra....lumayan berat juga yah. Buku Ballada Orang-orang tercinta ini nuansanya kelam, banyak kesedihan, penderitaan dan kematian....gelap.

Contoh yah:
Balada Ibu yang Dibunuh

Ibu musang dilindung pohon tua meliang
bayinya dua ditinggal mati lakinya.

Bulan sabit terkait malam memberita datangnya
waktu makan bayi-bayinya mungil sayang.

Matanya berkata pamitan, bertolaklah ia
dirasukinya dusun-dusun, semak-semak, taruhan
harian atas nyawa.

Burung kolik menyanyikan berita panas dendam warga desa
menggetari ujung bulu-bulunya tapi dikibaskannya juga.

Membubung juga nyanyi kolik sampai mati tiba-tiba
oleh lengkin pekik yang lebih menggigilkan
pucuk-pucuk daun
tertangkap musang betina dibunuh esok harinya.

Tiada pulang ia yang meski rampas rejeki hariannya
ibu yang baik, matinya baik, pada bangkainya gugur
pula dedaun tua.

Tiada tahu akan merataplah kolik meratap juga
dan bayi-bayinya bertanya akan bunda pada angin
Tenggara.

Lalu satu ketika di pohon tua meliang
matilah anak-anak musang, mati dua-duanya.

Dan jalannya semua peristiwa
tanpa dukungan satu dosa. Tanpa.



Gelap khan...tapi gak bikin sedih kok...

Profile Image for Boyke Rahardian.
347 reviews22 followers
December 31, 2014
Termasuk di dalam buku kumpulan puisi ini adalah 2 puisi favorit. Narasinya gamblang, heroik tapi sekaligus tragis: "Ballada Laki-Laki Tanah Kapur" dan "Ballada Terbunuhnya Atmo Karpo."

Lurah Kudo Seto
bagai trembesi bergetah
dengan tenang menapak
seluruh tubuhnya merah.

Sampai di teratak
istri rebah bergantung pada kaki
dan pada anak lelakinya ia berkata:
- Anak lanang yang tunggal!
kubawakan belati kepala penyamun bagimu
ini, tersimpan di daging dada kanan.


(Ballada Laki-Laki Tanah Kapur)
Profile Image for Ammar.
40 reviews5 followers
September 3, 2023
Perkenalan yang pilu dan pahit dengan Rendra di Patjarmerah. Diceritakannya hilang, dinyanyikannya amarah, diteriakannya hampa, cerita orang-orang tercinta.
Profile Image for Bimana Novantara.
279 reviews28 followers
April 5, 2025
Puisi-puisi dalam kumpulan ini banyak berbicara tentang cinta yang kandas dan kematian. Secara keseluruhan sajak-sajaknya berbicara tentang tragedi-tragedi yang terjadi pada orang-orang dekat yang kita cintai. Paling suka dengan yang berjudul "Di Meja Makan", terutama petikan bagian ini:

Ia makan nasi dan isi hati
pada mulut terkunyah duka
tatapan matanya pada lain sisi meja
lelaki muda yang dirasa
tidak lagi dimilikinya.


Dipeluknya duka erat-erat
dikurung pada bisu mulut
dan mata pijar warna kesumba.


Ia makan nasi dan isi hati
pada mulut terkunyah duka
memisah sudah sebagian nyawanya
di hati ia duduk atas keranda.
Profile Image for Andria Septy.
249 reviews14 followers
December 27, 2018
buku ini adalah buku kumpulan sajak WS Rendra yang pertama. sejak membaca buku puisi-puisi cinta-nya, saya jadi pengen membaca karya beliau yang lain. Buku tipis berhalaman 48 terbitan pustaka jaya sangat tidak mudah untuk 'ditaklukkan' syarat makna dan ini sejatinya buku kumcer kedua terumit yang pernah kubaca. Rumit tapi bikin penasaran itulah yang kurasakan ketika membaca puisi ini. Saya mestinya membaca dua atau tiga kali untuk paham apa yang ingin dikatakan oleh penyair ini. Puisi berjudul 'Di Meja Makan' adalah yang terfavorit dari buku kumcer ini. Demikian.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,356 reviews43 followers
July 27, 2019
Nggak, saya nggak akan bilang buku ini "suram".

Begitu banyak darah, hampir di tiap judul dari kumpulan 19 puisi ini. Namun kesan yang saya tangkap bukan amarah, bukan ketakutan.

Entah ya, mungkin Eyang Rendra saat masih belia menulis puisi-puisi ini (buku ini kumpulan puisi pertamanya yang diterbitkan) sedang canggung pada masyarakat di sekitarnya. Efek rasa benci itu pada saya adalah teror. Buku setebal 58 halaman ini perlu berhari-hari untuk saya selesaikan.
Profile Image for Nike Andaru.
1,643 reviews111 followers
March 25, 2019
73 - 2019

Ini bukan buku puisi yang pertama Rendra yang saya baca tapi buku ini merupakan buku kumpulan sajak rendra yang pertama yang terbit tahun 1957 dan sudah diterbitkan hingga berbelas cetakan.

Membaca kumpulan sajak yang ini rasanya sesak, penuh duka, amarah, kesedihan tentang orang-orang tercinta. terasa sekali dalam sajak-sajak Rendra ini. Favorit saya berjudul Tangis.
Profile Image for Jihan Suweleh.
37 reviews
October 21, 2020
"Ia makan nasi dan isi hati
pada mulut terkunyah duka."

Aku paling suka sajak Di Meja Makan dan sangat terngiang-ngiang dengan dua baris sajak yang kutulis ini.

Buku yang bagus tetapi banyak yang agak sulit kumengerti, beda ketika aku membaca karya W.S. Rendra pada Blues untuk Bonnie, yang ini seperti ragu-ragu diterima kepalaku, meski ujungnya ya tetap suka dan terasa.
Profile Image for Siraa.
259 reviews3 followers
July 12, 2021
Balada Rendra memuat banyak hal dari kesedihan dan duka sampai balada yang pedih dan sesak. Pada balada yang sedih, tulisannya bahkan lebih terasa seperti tangisan daripada puisi. Buku ini mengambil esensi kehilangan lewat magis kata-kata yang unik dan tajam. Beberapa bahkan tidak pernah saya dengar sebelumnya.
Profile Image for Andita.
308 reviews4 followers
July 20, 2022
sedih, sesak, rumit.
di dalamnya lebih dari tulisan biasa, terasa emosional.
paling suka: Anak yang Angkuh, Ballada Anita, dab Ballada Sumilah

Dipeluknya duka erat-erat
dikurung pada bisu mulut
dan mata pijar warna kesumba

- Di Meja Makan
72 reviews1 follower
May 29, 2024
Buku karangan W.S. Rendra memang sudah melegendaa.. dan ini adalah perkenalan pertamaku membaca langsung karyanya. Dan pembaca sendiri amatlah awam untuk bahan bacaan seperti ini.. jd saya sebagai pembaca awam tdk terlalu mengerti tapi bs merasakan kepiluan yang ada di tulisan2nya.
Profile Image for Lidia.
91 reviews
June 23, 2021
Puisi-puisi ini luar biasa, dan rekomended. Penulis pemula harus banyak belajar menulis model begini, bahas tentang sosial.
Profile Image for ola.
56 reviews
July 10, 2023
sebelumnya cuma baca Rendra versi jatuh cinta, baca ini jadi deg-degan ngilu...
Profile Image for Moch Ansori.
100 reviews
April 10, 2024
Saya selalu suk puisi-puisi lama, daripada modern. Begitu bagus pemilihan kata dan ceritanya, dibandingkan puisi modern yang absurd dan terlalu bebas makna.
Profile Image for place hllcutes.
42 reviews
May 12, 2023
kirain bakal sajak-sajak yang banyak sisi romantisme yang bakal mungkin bakal bikin bored atau mungkin cringe di awal/akhir ternyata berbalik sekali lebih dari pergolakan-pergolakan, kesedihan yang seperti di suarakan dalam wadah balada-balada/mereka yang ditulis.
Profile Image for Archmur.
15 reviews3 followers
December 18, 2024
Ballada Orang-orang Tercinta jadi buku pertama yang mempertemukan saya dengan W. S. Rendra. Rumit dan menarik, mungkin itulah dua kata yang merangkum kesan saya terhadap buku ini. Jujur saya harus bolak-balik membaca beberapa puisi untuk bisa menangkap apa maksud sebenarnya. Sajak-sajak dalam buku ini cukup gamblang dan menggambarkan kesedihan, kehilangan serta amarah. Diksi yang dipakaipun juga unik dan menambah suasana magis puisi-puisinya. Sehingga menjadikan buku setebal 52 halaman ini cukup sulit ditaklukkan.
Profile Image for Ryan.
176 reviews10 followers
April 2, 2008
40 buah roman puisi Si "Burung Merak" Rendra, ditulis periode 1950 s.d. 1960an. Hampir semuanya bersubstansi kepiluan dan berujung pada kematian tokoh-tokoh utamanya. Sekali lagi, tema kematian memang selalu menggugah sisi emosional manusia manapun yang kelak pasti akan merasakannya : mati.
Profile Image for Mochammad Taufik.
60 reviews2 followers
January 5, 2016
Di buku ini kita bisa menemukan seorang Sastrawan besar memulai karirnya. Puisinya masih mencoba menemukan bentuknya. Rendra tak segan-segan memvulgarkan bahasanya. Sehingga puisinya terkesan "telanjang."
Displaying 1 - 27 of 27 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.