Aku Tak Marah bercerita tentang dunia yang dekat sekaligus asing bagi pembaca umum Indonesia: kehidupan warga miskin kota besar dan pinggiran kota besar. Ia, dengan bahasa yang terang dan akurat, menyajikan peristiwa-peristiwa yang terjadi setiap hari--namun kerap luput dari pengamatan kita--sebagai karya fiksi yang jenaka dan mudah dipahami. Dan yang terpenting, sebagaimana halnya novel-novel realis yang baik, Aku Tak Marah tidak menggambarkan tokoh-tokohnya secara hitam-putih.
adalah seorang penulis buku Indonesia tahun 70 hingga 80-an. Dia dikenal sebagai penulis buku fiksi-ilmiah seperti seri Penjelajah Antariksa (Bencana di Planet Poa, Sekoci Penyelamat, Kunin Bergolak), Jatuh ke Matahari dan sekuelnya, Bintang Hitam. Selain menulis buku fiksi-ilmiah, Djokolelono juga dikenal sebagai penulis buku anak-anak, seperti seri Astrid, dan beberapa cerita wayang. Djokolelono juga adalah seorang penerjemah. Buku-buku yang ia terjemahkan antara lain Petualangan Tom Sawyer dan karya Mark Twain yang lain, seri Pilih Sendiri Petualanganmu, seri cergam Mimin, seri Mallory Towers dan buku-buku Enid Blyton yang lain, dan seri Rumah Kecil Laura Ingalls Wilder[1]. Karya-karyanya diterbitkan oleh Pustaka Jaya (PT Dunia Pustaka Jaya), Gramedia, dan BPK Gunung Mulia.
ini buku bapak djokolelono pertama yang kubaca. bertahun bergulat mencari buku bencana di planet poa yang tidak kunjung kutemukan jadi waktu lihat buku ini di salah satu bazar buku di jogja kupikir kenapa tidak coba baca dan beli.
waktu baca langsung keinget sama buku buku chicklit dan teenlit yang kubaca waktu smp, pas baca review di goodreads banyak yang bilang: “vibesnya kaya ftv!”
aku setuju sih sama statement itu. overall buku yang cukup menyenangkan untuk dibaca. candra kocak banget!
Bercerita tentang Agit yang diusir dari kos pacarnya, Vici karena ketahuan selingkuh. Jalan tanpa tujuan, Agit sempat bertemu dengan Candra. Candra ini bocah pasar yang supel dan ceria. Saat sedang main gitar karena sedih, Candra memanfaatkan momen itu untuk mengumpulkan uang dari para pendengar di Halte. Karena itu juga dia dikejar oleh bos preman dan melarikan diri ke rumah biyung Candra. Disana, Agit dijebak oleh biyung agar dinikahkan pak RT sebab telah lama menjanda, suaminya lari dengan penari ronggeng cantik dan tidak pernah pulang lagi. Juga berbagai keseruan dari cerita pelarian mereka berdua.
Buku ini definisi dari ringan, menghibur dan menyenangkan. Bisa dihabiskan dalam beberapa jam saja.
Buku ini saya selesaikan cukup kilat, sekitar 1-2 jam saat di kereta menuju Jogja.
Ceritanya sederhana tapi tetap menarik, seperti penjelasan di belakang bukunya, buku ini menarik karena "menampilkan kisah yang dekat sekaligus asing bagi pembaca umum Indonesia : kehidupan miskin kota besar dan pinggiran kota".
Bahasanya ringan. Alurnya juga nggak bikin binggung. Meskipun bukunya tidak terlalu tebal tapi dapat dengan baik menceritakan kisah-kisahnya, berserta konflik dan twist-nya. Entah mengapa, saat membaca buku ini saya membayangkan film ftv. Cocok buat di bikin ftv.
Aku Tak Marah adalah buku Djoko Lelono pertama yang saya baca. Bagusnya, menemukan buku ini dengan harga sangat murah bikin saya ingin membaca. Ekspektasi saya jelas ada pada penulis dan penerbitnya. Meskipun saya belum pernah membaca satupun buku karya Djoko Lelono maupun terbitan Moka Media. Ya, anggap saja saya bagai membeli kucing dalam karung. Sebab, saya mudah tergoda dengan buku murah.
Aku Tak Marah sepertinya buku yang bisa dihabiskan dalam waktu beberapa jam. Selain ceritanya mudah dipahami, buku ini juga punya font yang cukup besar dengan spasi yang tidak membuat mata lelah, ditambah ukuran buku yang kecil. Rasanya 152 halaman tidak berasa apa-apa. Mungkin kalau dibaca sambil ngopi, buku ini akan habis duluan dibanding kopi kita.
Ada yang saya suka dari buku ini. Pertama, nama tokoh utamanya: Agit. Pertama kali membaca namanya saya merasa nama Agit ini unik. Entah di bagian mana. Pokoknya saya suka.
Kedua, alur ceritanya yang ringan bikin saya rileks membacanya. Meskipun di awal buku ini kita sudah disuguhkan konflik tentang Agit yang diusir oleh kekasihnya, Vici. Kemudian ia malah menyanyikan sebuah lagu berjudul "Aku Tak Marah".
Ketiga, novel ini menceritakan tokoh yang berbeda-beda di setiap babnya, tetapi masih saling terkait. Sehingga, setiap membaca bab baru kita akan diperkenalkan tokoh lain yang masih punya hubungan dengan tokoh lainnya.
Buku setipis ini mungkin memang kelihatan sangat ringan untuk dibaca, ditambah cerita didalamnya juga lekat sama kehidupan sehari-hari. Ya, saya nggak bisa komentar banyak sih. Soalnya saya menikmati ketika membaca buku ini. Semacam pelipur lara ketika penat membara.
Bermula dari seorang pria bernama Agit yg diusir oleh pacarnya, kita akan dibawa bertualang menyusuri gang-gang sempit pinggiran Ibukota. Mulai dari pengamen jalanan, penari ronggeng, hingga sekumpulan preman akan hadir mewarnai jejak langkah Agit. Semuanya disajikan dalam gaya komedi yang akan membuatmu tergelak sepanjang membaca kisah ini.
Banyak hal yang bisa direnungkan dari novel ini. Persoalan ekonomi, suku ras, kasta, perselingkuhan, hingga cat calling lalu lalang melengkapi tiap adegan. Ya, penulis memang piawai mengemas dialog lucu berisi sentilan yang kerap terjadi pada masyarakat kelas bawah.
Tengoklah adegan saat Agit ambruk karena sakit dan Candra tak punya uang barang 5000 pun untuk membeli bubur. Atau latihan para penari ronggeng diiringi suitan kaum adam. Kericuhan hidup para tokohnya, bagai hiburan yang tak hanya membuat saya tergelak namun sekaligus sedih. Sedih, rupanya masih banyak orang pinggiran yang setiap harinya harus berjuang demi sesuap nasi.
Ketika orang pinggiran sibuk bertahan hidup, masyarakat kelas atas digambarkan ambisius, saling sikut demi mencapai keinginannya. Kontrasnya pandangan diantara dua dunia inilah yang menarik untuk disimak.
Dilengkapi dengan penggalan lirik lagu gubahan Agit dan ilustrasi sederhana, menjadikan novel ini enak dibaca. Dibagi dalam bab-bab pendek dengan alur yang cepat, memudahkan kita menamatkannya hanya dalam sekali duduk.
Cocok untukmu yang sedang mencari novel romansa tak biasa, berlatar realita kerasnya hidup Ibukota. Cobalah!
Buku ini menggambarkan realitas sosial yang ada di masyarakat kota besar yang keberadaannya hampir tidak terlihat kaarena hidup di gang-gang kecil yang tertutup bayangan gedung megah bertingkat. Tokoh utama dalam cerita ini selalu saja menemui kesialan dan ketidak beruntungan. Akan tetapi, kesabaran selalu hadir dalam dirinya sehingga ia terus menjalani apapun yang terjadi. Cerita dalam buku ini tidak patut jika hanya dibaca secara sekilas karena dengan meresapi setiap masalah dan respon yang dilakukan oleh si tokoh utama, pembaca dapat merefleksikan diri dan belajar dari cara tokoh utama menjalani hidup. Ada beberapa bagian dalam cerita yang sedikit menyoroti hal seksual sehingga agak-agaknya kurang cocok untuk dibaca pembaca berusia di bawah 16 tahun
Banyak sekali tokoh dalam buku ini. Memang akhirnya tiap tokoh berperan pada pembentukan kisah. Dengan mengambil latar belakang dunia periklanan, eyang yg satu ini menawarkan sebuah pilihan bacaan yg berbeda.
Para tokoh dibuat lbh dewasa. Jadi jangan terkejut jk ada urusan ml dlm kisah ini.
Tapi sosok Agit yg sediki2 berdendang kok malah mengingatkan pada penyanyi dangdut yg ITU ya.
Agit diusir dari rumah pacarnya, Vici, setelah ketahuan selingkuh dengan rekan kantor Vici. Karena Agit nggak punya tempat tinggal dan pekerjaan tetap, serta hujan deras, jadilah dia lontang-lantung nggak jelas di halte bus. Apalagi dompet dan rokoknya masih di rumah Vici. Untuk menghibur diri, Agit memetik gitarnya dan menyanyikan lagu yang muncul saja di kepalanya saat itu. Ternyata banyak yang suka. Tapi justru itu yang membuat Agit harus lari ke sana kemari untuk menyelamatkan diri. Bersama si kecil Chandra, Agit menelusuri kawasan pinggiran bekasi, bersinggungan dengan kehidupan penari ronggeng. Sementara di belakangnya, pihak-pihak yang menginginkannya terus mengejar.
******
Saya setuju dengan review pertama oleh Aesna. Kisahnya sangat sederhana. Masalah awalnya sederhana. Nama tokoh dna kehidupannya sederhana. Bahasa yang digunakan juga sederhana. Tapi kesederhanaan yang ini lumayan mengasyikan sih. Apalagi dengan lirik-lirik lagu karya Agit yang bertebaran di sana. Lagu-lagu yang entah kenapa, bikin ingat Iwan Fals. Gaya penulisannya pendek-pendek dan sedikit 'berirama'. Bagus sih. Menyenangkan sekali membaca gaya tulisan seperti ini. Typo memang banyak. Kadang bingung juga ini memang begini atau sedang typo. Tapi di beberapa bab akhir, rasanya kayak nonton film. Hanya dialog yang minim deskripsi lewat narasi. Seperti membaca naskah teater. Ya seperti tadi yang kubilang, seperti nonton film. Kalau film mungkin nggak bingung. Tapi karena ini novel, ya jadinya bingung. Mungkin ini karena bukunya terlalu tipis. Cover dan judulnya keren. Endingnya romantis. Aku suka tokoh Agit, si pria abu-abu, yang melakukan kesalahan besar dan bersedia mengakuinya. Barangkali memang seperti itulah lelaki (mungkin juga perempuan). Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan kan?
Bagaimana ya komentar tentang buku ini, bingung, hehhehe. Ceritanya seru dan filmis banget. Bercerita tentang Agit, seorang pemuda yang pintar main gitar dan bikin syair lagu spontan. Agit ini kemudian masuk ke dalam pusaran aneka pristiwa yang saling bersilangan karena nyanyiannya itu. Dari mulai Chandra, biro iklan, sekelompok preman sampai ibu separuh baya pemimpin sebuah pertunjukan seni tradisional juga sekumpulan linmas di suatu perkampungan nun jauh di pinggir kota.Alur ceritanya secepat kilat. Hanya dengan 148 halaman, kisah bisa bergulir ke mana mana. Tema ceritanya juga unik, tentang kehidupan masyarakat pinggiran, lengkap dengan banyolan banyolan dan kebersahajaannya. Walau jelas novel ini bukan tipe saya banget, tapi paling tidak saya banyak belajar. Tentang dunia iklan, tentang sulitnya hidup, tentang dunia yang tidak hanya berisi senyum lebar dan manisnya hidup....
Saya tidak mau mengomentari tentang typo yang bertebaran (termasuk tanda baca, dan penggunaan huruf kapital). Karena saya yakin banyak orang yang diluar sana yang akan mengomentari hal ini.
"Kadang kesederhanaan bisa menjadi simalakama: cenderung menyenangkan atau membosankan."
Saya tidak pernah (atau tidak yakin pernah membaca) buku sesederhana ini. Demi masa lalu yang selalu tergantung di tepian cakrawala: saya menyukai novel ini. Meski terkesan seperti fragmen-fragmen yang hanya dikumpulkan menjadi satu. Saya menyenangi bahasa dan kalimat yang lugas dan sekali lagi saya katakan; sederhana.
Yang membuat saya membulatkan bintang adalah: nama tokoh terlalu banyak. Pusyaaaanng, pusyaaaannggg. :(
(spoiler allert) :3 . . . . . Kusuka sekali bagian saat Agit diperebutkan oleh demikian banyak orang hahaha apalagi waktu Kemal disasarin sama bang Kribo, ih jahaat ituu wkwk. Bener2 perkampungan yang seru xD Maaf bang Toyib CS kalau aku suudzon dengan kalian, semacam sentilan utk selalu ingat kalau gak semua yang kita lihat/dengar itu sesuai dengan kejadian sebenarnya :'D inget tuhhh Cand!
Kubelum puas sebenarnya di bagian Ratna, Vici baik sekali, dan orang2 di novel ini pun semua demikian.. mungkin jika di dunia nyata mereka berdua sudah dimusuhi habis-habisan ya.. diluar kesederhanaan novel kakek kali ini, yang paling membuatku penasaran adalah bagaimana menyanyikan lirik-lirik lagu nya.. karena kutakbisa membayangkan alunan suara mendendang nya Agit~ xD
Bukunya sederhana banget, baru baca, baru ngikutin alur, eh udah kelar. saya ga merasa dapat klimaksnya. overall, kamu bisa menghilangkan lelah sejenak dengan buku ini :)