Jump to ratings and reviews
Rate this book

Belenggu

Rate this book
"Banyak yang hendak saya nyatakan, apakah yang dapat menghalangi saya, kalau menurut keyakinan saya, saya patut berbicara? Karena cara saya melahirkan keyakinan akan dicela setengah orang?
Karena soal yang saya kemukakan, menurut setengah orang mesti didiamkan?
Karena saya akan dihinakan orang?
Karena saya akan dimaki?
Kalau keyakinan sudah menjadi pohon beringin, robohlah segala pertimbangan lain-lain.
Perahu tumpangan keyakinanku, berlayarlah engkau, jangan enggan menempuh angin ribut, taufan badai, ke tempat pelabuhan yang hendak engkau tuju. Berlayarlah engkau ke dunia baru"


Armijn Pane
Oktober-Desember 1938

159 pages, Paperback

First published January 1, 1940

145 people are currently reading
1444 people want to read

About the author

Armijn Pane

8 books28 followers
Armijn Pane adalah seorang Sastrawan Indonesia. Pada tahun 1933 bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah mendirikan majalah Pujangga Baru yang mampu mengumpulkan penulis-penulis dan pendukung lainnya dari seluruh penjuru Hindia Belanda untuk memulai sebuah pergerakan modernisme sastra. Salah satu karya sastranya yang paling terkenal ialah novel Belenggu.

Tahun 1969 Armijn Pane menerima Anugerah Seni dari pemerintah Republik Indonesia karena karya dan jasanya dalam bidang sastra. Pada bulan Februari 1970, beberapa bulan setelah menerima penghargaan tersebut, ia meninggal.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
224 (24%)
4 stars
273 (29%)
3 stars
334 (35%)
2 stars
68 (7%)
1 star
31 (3%)
Displaying 1 - 30 of 89 reviews
Profile Image for Diana Afifah.
6 reviews33 followers
June 7, 2016
Butuh waktu yang cukup lama bagi saya untuk menyelesaikan roman klasik Indonesia ini. Ditengah terpaan kesibukan yang sangat, akhirnya dalam waktu lebih dari 1 bulan saya menamatkan hingga halaman akhir. Bagi saya sendiri cukup sulit membaca buku ini karena kata-kata nya yang begitu melangit ditambah banyaknya istilah-istilah khas sastra lama.

Disamping keterbatasan-keterbatasan itu, bagi saya tidaklah berlebihan apabila Belenggu karya Armijn Pane ini disematkan sebagai salah satu novel berpengaruh di zamannya. Pasalnya, ide cerita dan penggambaran karakter yang ada sungguh di luar kebiasaan pengarang-pengarang di zamannya. Armijn Pane disini berhasil membuat suatu terobosan dengan mengangkat tema "emansipasi" yang pada saat itu mungkin masih dianggap sebagai suatu hal yang tabu.

Secara umum, Belenggu berkisah tentang kehidupan rumah tangga dokter Sukartono "Tono" dengan istrinya Sumartini "Tini" yang berjalan kurang harmonis karena adanya "angan-angan" atau "cita-cita" yang terbelenggu harapan masing-masing. Di tengah konflik batin antara keduanya, muncul Siti Rohayah "Yah" yang menjadi sandaran sekaligus penenang Tono dalam menghadapi permasalahan-permasalahnnya dengan Tini.

Tini dalam kisah ini digambarkan sebagai seorang perempuan ningrat, pintar, berpegang teguh pada prinsip, dan menghendaki persamaan. Namun di sisi lain, layaknya seorang wanita, Tini juga memiliki sikap rapuh dalam dirinya yang terlihat dari kecemburuannya terhadap Tono. Sikap Tini yang digambarkan sebagai seorang istri yang tidak mau hanya berdiam diri di rumah untuk mengurusi urusan rumah tangga, sementara dirinya mengetahui bahwa potensi yang ada pada dirinya bisa melebihi itu, menurut saya menjadi suatu penggambaran yang nyata atas konflik bagi setiap wanita di Indonesia hari ini, khususnya yang telah mengenyam pendidikan tinggi. Jika dilihat-lihat, gambaran tokoh Tini ini mirip dengan R.A Kartini dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Mungkin penggambaran ini berhasil dengan baik dituliskan oleh Armijn Pane karena beliau adalah salah satu penyunting buku kumpulan surat-surat Kartini tersebut.

Inilah salah satu kalimat yang menurut saya sedikit banyaknya menggambarkan betapa Tini adalah wanita yang berfikir lebih dari zamannya:
"Yu, waktu sekarang dua buah jalan yang dapat ditempuh oleh anak gadis bangsa kita. Dahulu cuma sebuah saja, ialah jalan kawin. Dan barang siapa menyimpang jalan raya itu yang sebenarnya sempit - diejek orang, orang berbisik-bisik kalau dia lalu: "tidak laku". Dan kalau ada juga ada seorang yang berani menyimpang, pergi melalui jalan kedua, memang Yu Ni, sampai sekarang belum ada juga, yu, si berani itu akan selalu didesak-desak, sampai terdesak juga ke jalan raya: dia kawin juga. Tetapi sekarang yu, sudah tiba waktunya. Kalau mesti aku rela binasa" h.70

Tokoh Tono dan Yah dalam novel ini juga tidak kalah menariknya. Tono digambarkan sebagai sosok dokter penolong yang murah hati, sehingga dirinya sering disibukkan dengan rutinitas mengunjungi rumah-rumah pasien. Akan tetapi rasa-rasanya Tono mulai gamang apakah profesi dokter tersebut adalah benar-benar sesuatu yang diinginkannya. Hal ini dirasakannya karena saat masih sekolah, Tono dikatakan kurang cocok menjadi dokter sebab dirinya lebih tertarik pada hal-hal berbau seni. Kemudian ditambah dengan sikap Tini yang acuh tak acuh pada dirinya, sering bepergian seorang diri, akhirnya rasa cinta Tini yang meredup tersebut digantikan oleh sosok Yah yang ternyata menyimpan rasa pada Tono. Tokoh Yah sekalipun tak terhindar dari sosok kontroversional, karena Yah adalah seorang penyanyi keroncong yang digambarkan pernah menjalani hidup yang gelap. Namun, Yah disini dapat mengimbangi intelektualisme dari Tono sebagai seorang dokter, dan menjadi Oase bagi Tono dikala dirinya merasa "Rusuh".

Meskipun pada awalnya saya merasa kesulitan membaca buku ini karena bahasa yang tinggi, namun hasrat saya untuk menyelesaikannya tidak pernah padam. Hal ini karena issue yang disampaikan oleh Armijn Pane dalam buku ini sangat menarik, ditambah dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya sifatnya lebih filosofis. Secara sadar atau tidak sadar, permasalahan yang disajikan oleh tokoh-tokoh dalam cerita ini bagitu relevan dengan keadaan sekarang. karena betul memang "manusia seringkali dibelenggu oleh angan-angan. Masing-masih oleh angan-angannya sendiri. Belenggu itu berangsur-angsur mengikat dan menghimpit semangat, pikiran, dan jiwa..."

Saya tidak menyesal menghabiskan waktu lama membaca buku ini, karena seperti yang dinyatakan dalam halaman belakang buku bahwa "Buku ini tak urung menjadi salah satu roman klasik modern Indonesia yang mesti dibaca segala orang terpelajar Indonesia"
Profile Image for Uma Munandar.
66 reviews5 followers
May 9, 2025
"Apa katanya tadi? Tentang perempuan sekarang? Perempuan sekarang hendak sama haknya dengan kaum laki-laki. Apa yang hendak disamakan. Hak perempuan ialah mengurus anak suaminya, mengurus rumah tangga.”

Kayaknya mulai hari ini harus sering-sering minta rekomendasi buku ke guru bahasa Indonesia ya. Everyone chat up your Bahasa Indonesia high school teachers, karena tanpa Bu Darma, aku nggak mungkin baca buku ini.

Dalam satu-satunya novel yang dikarangnya, Armijn Pane mengenalkan kita kepada Tono, seorang dokter yang baik hati dan cerdas, kerap menolak menerima bayaran dari pasiennya yang miskin dan dia tahu tidak mampu membayar ongkos periksa. Hatinya berkecamuk kesal, karena istrinya, Tini, yang begitu menganut kehidupan modern, begitu berkebalikan dengan norma hidup wanita, tidak bisa membuat rumah yang membahagiakan Tono. Akibatnya, Tono pun jatuh ke lain hati, kepada Yah, salah seorang pasiennya yang juga merupakan teman kecilnya saat sekolah dahulu. Dengan latar tahun Indonesia tahun 1930-1940an, dengan disisipkan lirik-lirik lagu keroncong klasik, kepada siapakah hati Tono akan jatuh?

Pertama-tama, kutipan yang ada di atas, yang digunakan di awal ulasan ini, itu diambil dari halaman 16. Bahkan dari halaman seawal itu saja kita sudah tahu dimana letak hati Tono. "Perempuan hendak sama haknya sengan kaum laki-laki. Apa yang hendak disamakan?”. Sudah hampir satu dekade sejak Belenggu diterbitkan dan entah apakah memang kesetaraan jenis kelamin yang sulit diperjuangkan dimana-mana, atau apakah memang Indonesia negara yang masih kolot saja.

Beberapa pola pikir yang dipegang di zaman itu pun masih bisa ditemukan hari ini, Tono yang menikahi Tini sebagai seorang wanita yang rather free-spirited, di buku ini disebut flirt-type, sehingga dapat menikahi Tini mungkin dianggap sebagai kemampuan “menaklukkan” wanita-wanita sepertinya, hanya untuk mengekangnya dan tidak suka ketika pola pikir “modern”-nya dia bawa ke hubungan dan hidup mereka berdua, lalu jatuh ke lain hati.

Judulnya harusnya bukan Belenggu ya, terlalu bagus, seolah-olah cinta ke wanita lain, the downfall yang dimanifestasikan sendiri oleh Tono ini seolah-olah bukan karena dirinya sendiri.

Menurutku kasus seperti ini lebih bisa dicari resolusinya sekarang, di abad ke-21 dimana pola pikir feminisme sudah lebih dianut dan dipercaya oleh masyarakat, terutama soal curfew untuk seorang istri, stigma yang diberikan kepada seorang penyanyi keroncong, peran seorang istri dalam sebuah rumah tangga. Permasalahan-permasalahan yang muncul dan dianggap begitu besar hingga memberikan akhir yang pahit itu menggamabarkan seolah-olah gaya hidup Tini yang terlalu modern itu sebuah masalah yang sungguh besar, hingga dapat dijadikan justifikasi seorang suami yang berselingkuh.

Buku ini sungguh eye opening bagi aku sendiri khususnya, sesoerang yang percaya tidak hanya pada hak wanita yang perlu disetarakan, tetapi kebebasan wanita yang tidak menikah hingga usia tua tanpa mengundang pandangan-pandangan negatif terhadapnya. Sudah hampir satu dekade sejak buku ini diterbitkan dan salah satu kutipan dari buku ini masih sungguh bermakna, masih sungguh nyata di masyarakat:

“Yu, waktu sekarang dua buah jalan yang dapat ditempuh oleh anak gadis bangsa kita. Dahulu cuma sebuah saja ialah jalan kawin. Dan barang siapa menyimpang jalan raya itu - yang sebenarnya sempit - diejekkan orang, orang berbisik-bisik kalau dia lalu: ‘Tidak laku.’ Dan kalau ada juga seorang yang berani menyimpang, pergi melalui jalan kedua — memang, yu Ni, sampai sekarang belum ada juga —, yu, si berani itu akan selalu didesak-desak sampai terdesak juga ke jalan raya: dia kawin juga.”

Hanya dalam 164 halaman, buku ini bisa sangat membuatku kesal. Apa salah Tini? Apa salah Yah? Dan bahkan hingga akhir bukunya pun keduanya masih menaruh hati pada Tono. Tini terutama begitu civil dalam menangani Yah, karena jika itu aku, minimal sekali Yah akan menerima satu pukulan telak di wajahnya. Apakah Tini mungkin juga mau main fisik? Apakah ia lagi-lagi terhalang pandangan masyarakat terhadap perempuan, yang lemah lembut, yang sopan, dan bisa menangani permasalahan dengan sabar dan santun.

Dan ini sebetulnya lumayan ironis, sih. Laki-laki begitu…sama, tidak berubah dari tahun 1930an hingga 2020an. Sementara perempuan begitu berbeda, main fisik pun tak apa, dan sometimes, encouraged, bahkan.

Dan di tengah ini semua, pembahasan pola pikir, feminisme, wanita, Belenggu sungguh, sungguh romantis.

Adegan favoritku adalah ketka Tini mendatangi rumah Yah, dimana Armijn Pane mendeskripsikan isi kepala kedua wanita tersebut. Yah yang awalnya tidak mengenal siapa Tini dengan mobil dokternya, mobil dokter yang bukan milik Tono. Tini yang tidak mengenal Siti Royahah yang dinggal di rumah yang seharusnya milik seorang penyanyi keroncong itu. Dialog di antara keduanya, hatiku turut hancur untuk Tini, dan kesal juga terhadap Yah.

Dan ada adegan ini, yang so mengingatkanku terhadap that one specific scene in Chainsaw Man karyanya Tatsuki Fujimoto:

Tangannya hendak mengambil tempat sigaretnya, lalu hendak mencocokkan sigaret dalam mulutnya. Ketika hendak mengambil korek api dari sakunya, tangan nyonya Eni sudah didekat mukanya, memegang korek api terbakar. Maka didekatkan mukanya hendak membakar sigaretnya.

Dan tentunya, kata-kata Yah ketika membujuk Tono untuk tidak meninggalkannya:

“Aku cinta padamu, Tono. Mengapalah aku tiada pandai memperlihatkannnya betapa besarnya cintaku…, mengapa manusia belum mendapat alat menduga kebenaran dalam hari sesamanya…”

Kalo kata dosen psikiatriku, orang yang lagi jatuh cinta itu “semi-psikotik”:

“Memang, Tono. Bukan, kalau kita cinta, kekasih kita seolah-olah ada dimana-mana, seolah-olah suranya selalu terdengar dan mukanya selalu tampak. Dia selalu ada, Tono, karena dia tergambar dalam hati.

Di lain itu semua, aku mahasiswa kedokteran. Dan menarik sekali juga membaca dair sudut pandang seorang dokter di tahun 1930an. Penyakit yang nge-tren di Indonesia pun sepertinya tidak berubah, TBC, TBC, dan TBC lagi, sampai Tono diundang ke radio untuk menjelaskan penyakit itu dan bagaimana cara menjaga diri. Pada beberapa pasien pun penyakitnya bisa di kira-kira, seperti Mar, pasien anak Tono yang meninggal dunia dan kematiannya betul-betul mengganggu Tono hongga akhir buku. Munckin kejang, apakah ensefalitis? Atau kejang demam saja? Apakah epilepsi? Apakah sampai status epileptikus?

Beberapa kosakata yang digunakan, terutama yang berhubungan dengan dunia medis, begitu menggelitik, dan aku pun barutahu beberapa di antaranya memiliki akar-akar Belanda. Prognose, diagnose, recept, anamnese yang pada saat itu belum memili ejaan yang sempurna, sehingga ditulis saja dalam bahasa Belanda.

Granted, aku membaca buku bekas dari publikasi ke sekian, dari tahun 1950-an yang diberikan teman dekatku kepadaku setelah dia menemukannya dari pasar loak, jadi KBBI dan PUEBI atau EYD adalah konsep yang asing. Tanda baca digunakan semaunya, ejaan yang aneh pun banyak, termasuk kata-kata dalam bahasa Belanda yang belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia pada saat itu. Dan menarik sih, menemukan bacaan seperti itu di sastra, bukan buku teks pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan.

All in all melalui novelnya, Belenggu, Armijn Pane mengajak kita mendalami feminisme di abad ke-20, dimana pola pikir modern bagi seorang wanita perpelajar dan terhormat pun tidak bisa dijadikan pembenaran seorang suami untuk selingkuh. Pada saat yang bersamaan, gaya kepenulisan Armijn yang begitu romantis, mengajak pembaca ikut jatuh cinta pada latarnya, dan musik keroncong yang begitu dicintai oleh Tono. Novel klasik ini berhak mendapatkan nilai 4.3.

“Memang kamu laki-laki semua manis di mulut lupa di janji. Katanya: ‘tidak mengapa Tini.’ Katanya saja. Sekarang dia pergi ke perempuan lain.”
Profile Image for Jordan Elang.
44 reviews1 follower
May 6, 2019
Buku yang kontroversial pada zamannya, mengangkat tema perselingkuhan dan pemberontakan perempuan sang istri pada dominasi patriarkis. Banyak hal yang bisa dieksplorasi dari karangan Armijn Pane ini, tapi saya akan mulai dari:

Narasi yang diceritakan 'mungkin agak' kurang familier dengan gaya bahasa novel-novel kontemporer, sehingga membutuhkan waktu lebih untuk memahami makna dari maksud penulis. Gaya bahasa 'Pujangga Baru' pada masanya yang mencoba melepaskan diri dari hegemoni bahasa netherland masih terasa agak sulit untuk dicerna, walaupun begitu, ini tidak menjadi isu yang penting.

Tidak adanya pembabakan waktu yang jelas, menuntut kita untuk lebih cermat dalam membaca. Kehadiran tokoh-tokoh baru yang tanpa narasi awal, atau tanpa pendalaman karakter yang jelas, menjadikan satu-satu nya isu di buku ini yang mengganggu.

Tapi hal tersebut dapat di maafkan setidaknya, karena ambisi buku ini kaya akan wacana. Seperti nihilisme, moral values, psikoanalisis hingga post medernism yang bisa dikaji. Yang tentunya melampaui anak zamannya.

Plot dari buku ini mulai klimaks, pada halaman-halaman 130 an keatas, dan dibawakan dengan cerdas melalui berbagai konflik-konflik pada penceritaan sebelumnya, lalu ditutup dengan klimaks tanpa basa-basi walau dengan jeniusnya masih menyimpan pertanyaan tentang pergulatan id, ego dan superego dari trias karakter utama nya; Sukartono, Rohayah/Siti Hayati dan Tini.

Seperti belenggu yang menggempur pembacanya dengan beragam pertanyaan tanpa basa-basi, buku ini bagus untuk dibaca dan tanpa basa-basi!
Profile Image for Ruth.
10 reviews
January 23, 2025
kalo kata Iskandar di film Lewat Djam Malam “angan-angan persetan angan-angan”
Profile Image for Lisa.
3,798 reviews492 followers
December 28, 2018
This book is a bit of a treasure, lent to me by an Indonesian friend, and probably not easy to source from bricks-and-mortar bookshops. Published in the hardback first edition, it was (after a book of poetry) the second title produced by the Lontar Foundation, set up in 1987 with these aims, as expressed on the Title page:
Yayasan Lontar, the Lontar Foundation, is a non profit organisation whose aims are fostering a greater appreciation of Indonesian literature and culture, supporting the work of authors and translators of Indonesian literature, and improving the quality of publication and distribution of Indonesian literary works and translations.

Lontar was founded by the American John McGlynn, along with four Indonesian writers, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Umar Kayam, and Subagio Sastrowardoyo, and it is safe to say that since those early days McGlynn has been a major contributor to Indonesian works available in translation.
Shackles is ostensibly a rather melodramatic love triangle. This is the blurb from the Lontar website:
Shackles is the story of a love triangle. Dr Sukartono and his independent-minded wife, Tini, are facing marital problems when the singer Rohayah enters into the mix. Unlike Tini, Rohayah is ready to provide Sukartono with the devotion he lacks at home. This story illustrates the confusion experienced by many Indonesians of the pre-independence generation as they struggled to overcome problems stemming from their tradition-bound society.

However, (unless you are keen on melodramatic romance) to make satisfying reading out of Shackles, it is essential to contextualise the story. Firstly, it is set in the 1930s (when middle-class educated Indonesians had telephones and cars) but Indonesia was still a Dutch colony, Jakarta was still called Batavia, and the Independence Movement was still being firmly repressed. (Sukarno, who became President of independent Indonesia in 1949 i.e. a decade after this book was written, gets arrested and imprisoned twice during the story). But as you might know from a reading of This Earth of Mankind (The Buru Quartet #1), by Pramoedya Ananta Toer, (translated by Max Lane) activists in the independence movement were frustrated by the ineffectual urban Indonesian elites, and all three of the characters in the love triangle can be seen to be more obsessed with their personal relationships than with casting off the colonial yoke.
Feminists will probably bristle at Dr Tono’s assessment of his wife Tini’s discontent, but read it instead as an allegory of how a Dutch colonist might be puzzled by demands for independence when, from his PoV, there is nothing to complain about because subservience is the natural way of things, just as male dominance is:
What was it she had said before? What was it? Yes, that women today are asking for equal rights with men. But what is it they want to be equal? It is a woman’s right to care for her husband’s children and the house in which they live. Today, however, it seems that the only thing a woman is good for is making demands. Maybe she will meet her husband at the door when he comes from work, but does she ask him to sit down? Does she take off his shoes for him? Women of today don’t seem to know that to kneel before one’s husband, to take his shoes off for him, is a woman’s way of showing her devotion and loyalty. But what do women do now? And what is a woman’s right, if not taking care of the man she loves? (p.2)

But this and other passages dismissive of women are also intended to show the characters’ difficulty in adapting to inevitable change.
To read the rest of my review please visit https://anzlitlovers.com/2018/12/28/s...
25 reviews1 follower
November 6, 2019
Novel ini menceritakan kisah seorang dokter yang bernama Sukartono alias Tono dan istrinya Sumartini alias Tini dan Rohayah seorang janda yang mencintai Tono sejak kecil. Tono adalah seorang dokter yang dihormati oleh orang-orang karena sifatnya yang ramah dan suka menolong pasiennya meskipun pasiennya tak bisa membiayai pengobatannya. Istrinya adalah perempuan berjiwa sosial dan merasa bahwa seorang perempuan juga seperti laki-laki tidak ada bedanya sehingga Tini selalu menentang ketika ada yang bilang bahwa adat perempuan adalah di rumah dan tidak baik keluar sendirian tanpa suaminya. Tini adalah seorang perempuan yang cantik dan pandai sehingga Tono memilihnya menjadi istrinya meskipun keduanya sebenarnya tidak saling mencintai.
Pada awal pernikahannya mereka damai dan tenteram saling bertukar pikiran dan bercengkerama hingga suatu saat hubungan mereka renggang. Tono sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter sehingga Tini menjadi cemburu dan takut bila Tono berselingkuh. Tini memilih menyibukkan diri dengan kegiatan sosial.
`Hari-hari dilalui oleh keduanya dengan perasaan yang semakin hambar seperti bukan kehidupan suami istri. Mereka hidup dalam kesepian dengan jalan sendiri-sendiri dan jarangnya komunikasi di antara mereka berdua. Tini pun mulai muak dengan Tono karena merasa diacuhkan sehingga Tini sering memberontak dan marah kepada Tono. Hal itu membuat Tono tertekan. Tetangganya pun tahu bahwa hubungan mereka berdua tidaklah berjalan dengan baik sehingga kerap kali Tini disindir oleh tetangganya apabila berkumpul.
Sampailah kepada Nyonya Eni, seorang pasien dokter Sukartono yang ditemui oleh Tono di hotel. Nyonya Eni bukanlah pasien yang sebenarnya sakit, ia hanya ingin Tono menjenguknya dan ia ingin Tono menjadi miliknya. Hubungan keduanya semakin dekat ketika Nyonya Eni mengatakan bahwa sebenarnya ia adalah tetangga Tono waktu kecil dan ia sangat menyukai Tono sehingga ia mencarinya. Nyonya Eni yang sebenarnya bernama Rohayah ini mengaku pada Tono bahwa sepeninggal Tono pindah rumah, ia dikawinkan oleh kedua orang tuanya namun ia tidak menyukainya sehingga ia kabur dan menghidupi kehidupannya dengan menjadi perempuan panggilan.
Tono sangat terpikat Pada Rohayah meskipun ia tahu bahwa Rohayah bukanlah orang yang baik. Tono mulai berselingkuh diam-diam dan mulai enggan menanggapi pembicaraan dengan istrinya. Suatu ketika Tini yang juga mempunyai masa lalu dengan Hartono, seorang yang dianggapnya telah mati sehingga ia memutuskan mau menikah dengan Tono, akhirnya bertemu lagi. Ternyata Hartono tidak pernah mati karena Hartono berganti nama dan kehidupannya sengsara. Tini dan Hartono bertemu ketika Hartono di rumah Tini sedang menunggu Tono, seorang kawannya saat di Malang dahulu. Mereka akhirnya menyelesaikan permasalahan yang sudah dahulu dan Tini juga bercerita kepada Hartono bahwa suaminya sedang mempunyai wanita lain.
Di akhir cerita, Sumartini meninggalkan Tono dan ia meminta Rohayah untuk tetap bersama Tono. Rohayah atau Siti Hayati penuh dengan rahasia karena sebenarnya ia juga seorang penyanyi dengan lagu-lagunya yang membuat Tono selalu jatuh cinta meskipun dulu ia tidak tahu bahwa Siti Hayati adalah Rohayah. Rohayah berparas cantik dan seorang perempuan bertubuh molek dan pandai memikat lelaki juga bicaranya yang pandai. Tono kehilangan semuanya ketika ia tahu bahwa Rohayah juga meninggalkannya karena merasa tak pantas jika harus tinggal bersama Tono, seorang dokter yang selalu dicintainya sedangkan Rohayah wanita yang sudah hina.
Armijn Pane lahir di Sumatera Utara pada 18 Agustus 1908 dan meninggal di Jakarta pada 16 Februari 1970 pada usia 61 tahun. Ia adalah seorang pendiri majalah Poejangga Baroe bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah pada tahun 1933. Novel Belenggu, novelnya dengan aliran psikologisme dimana dalam novel ini menekankan pada masalah keadaan, perubahan, dan perkembangan kejiwaan tokoh di dalam kaitannya dengan berbagai peristiwa yang dilalui oleh tokoh dalam novel tersebut. Novel Belenggu ini adalah novel satu-satunya terbitan majalah Poejangga Baroe dan aliran psikologisme pertama di Indonesia.
Novel Belenggu ini sempat ditolak oleh Balai Pustaka karena dianggap tidak layak memenuhi kriteri dan tidak bermoral sehingga diterbitkan di Poejangga Baroe. Armijn Pane dalam menggambarkan konflik dalam novel Belenggu cukup baru dan belum ada sebelumnya. Karena ia mengngkat tentang ketidakharmonisan rumah tangga sekaligus perselingkuhan yang sebelumnya belum pernah digambarkan oleh sastrawan Indonesia. Penggambaran keadaan pada cerita novel ini juga sama seperti keadaan kaum intelektual pada masa itu. Dimana pernikahan hanya agar tidak dianggap tidak laku. Juga keadaan untuk terlihat sempurna di masyarakat dengan pasangan yang sederajat. Namun Amijn Pane juga menggambarkan tentang kaum perempuan pada masa itu yang selalu dianggap rendah oleh masyarakt dan lelaki. Armijn Pane ingin membuka pemikiran masyarakat yang membaca untuk tidak merendahkan kaum perempuan dengan tokoh Tini sebagai perempuan yang selalu tidak peduli kata orang tentang kelakuannya yang dirasa tetangganya sudah bukan bangsanya karena pemikirannya yang modern dan kebarat-baratan.
Novel Belenggu menceritakan tentang kebudayaan barat yang masuk dan digemari oleh orang intelektual. Pengarang ingin menggambarkan pertentangan antara kaum modern dan tradisional dalam hal kebudaayaan dengan adanya kebudayaan Indonesia dan barat yang bersatu. Armijn Pane menekankan bahwa kebudayaan modern dalam kehidupan Tini dan Tono tidak selalu baik. Sebaliknya kehidupan Tradisional yang ada pada Rohayah juga tidak buruk karena itu Armijn Pane menggambarkan tentang perlawanan antara modern dan tradisional dalam kehidupan Tono yang mengakibatkan ketidakjelasan arah hidupnya.
Bahasa dalam novel Belenggu menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari dan berbeda dengan penulis Balai Pustaka yang biasanya terselip bahasa belanda dan peribahasa dalam menuliskan romannya, Armijn Pane lebih menekankan pada penggunaan majas seperti simile dan hiperbola dan bahasa serapan. Peristiwa bersejarah yang melatarbelakangi terjadinya penggunaan bahasa Indonesia karena pada saat itu sudah dilaksanakan kongres pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda dengan bahasa nasionalisme yaitu bahasa Indonesia.
Novel Belenggu juga menjadi novel modern karena pengarangnya membawa kesusteraan baru yang sebelumnya tidak ada di angkatan sebelumnya. Sebelumnya novel digambarkan dengan kisah kawin paksa ataupun masalah adat akan tetapi konflik yang dibahas oleh pengarang yaitu masyarakat modern yang dinamis dengan konflik batin dan perasaan yang dalam. Tema yang diangkat oleh Armijn Pane adalah tema cinta segitiga yaitu antara Tini, Tono dan Rohayah.
Dari novel Belenggu, pembaca bisa memaknai dari novel tersebut untuk diterapkan dalam kehidupan saat ini bahwa dalam pernikahan harus berdasarkan cinta, saling percaya satu sama lain, sabar, saling menghargai perbedaan dan selalu menjaga komunikasi, saling tolong-menolong, jangan gengsi untuk memulai pembicaraan dan harus saling berbagi, mengalah dan memaafkan, sehingga perpecahan keluarga bisa dicegah dan hidup bisa rukun juga tidak akan timbul perselingkuhan.
30 reviews1 follower
November 5, 2019
Pada novel ini diceritakan tentang suami istri yang memiliki rasa belas kasih sayang hanya pada awalnya saja. Tentang pekerjaan dokter pada masa itu yang diidam-idamkan menjadi suami oleh banyak orang. Di novel ini menceritakan tentang seorang dokter yang sudah memiliki istri namun tergoda oleh pasiennya, karena istri dokter tersebut tidak bisa menunjukan rasa cinta terhadap suaminya.
Armijn Pane pandai dalam mengolah kata dan memilih kata. Pembaca sulit mengemukakan maksud dan peristiwa yang akan terjadi selepas peristiwa satu selesai. Armijn Pane pandai dalam mengolah jalannya cerita, beberapa peristiwa yang tidak dibayangkan bisa terjadi begitu saja tanpa bisa diterka-terka. Seperti latar belakang Ny. Eni dan siapa sebenarnya Ny. Eni yang berhasil memikat hati Sukartono.
Novel ini di namai dengan BELENGGU karena tokoh utama pada novel ini, yaiti Tini dan Tono sama-sama memiliki rasa terbelenggu akibat peristiwa masa lalunya. Tini dengan peristiwa masa lalu sehingga membekukan hatinya dan tidak bisa mencintai orang lain lagi. Sedangkan Tono yang merasa terbelenggu dalam perkawinannya dengan Tini. Tini tidak bisa menjadi istri yang diidam-idamkan oleh Tono, walaupun di masing-masing benak mereka saling mencintai satu sama lain. Tini sulit mencintai Tono karena terjebak dengan masa lalunya, dan hatinya terlanjur beku untuk bisa mencintai lagi.
Bahasa yang digunakan pada novel ini masih memiliki unsur melayu. Beberapa kalimat banyak yang memiliki konotasi ganda, manyulitkan pembaca dalam memahami maksud kata secara langsung. Pada akhir cerita novel ini juga tidak rampung selesai, karena notabenya Armijn Pane membiarkan pembacanya menggunakan imajinasi untuk menyelesaikan cerita sesuai keinginan pembaca. Hal itu membuat banyak presepsi di akhir cerita novel ini. Belenggu merupakan satu-satunya karya berupa buku novel dari Armijn Pane, karya dari beliau seringkali berupa puisi dan drama. Karena beliau juga disibukan dalam produksi majalah Pujangga Baru, mengakibatkan beliau kurang memiliki karya yang lebih banyak.
Karya sastra yang satu ini lahir diperiode Pujangga Baru, serta yang menuliskan merupakan seseorang yang aktif menyuarakan suara untuk gerakan pembaruan di tahun 30-an. Bersama kawannya yang bernama Sutan Takdir Alisyahbana dan Amir Hamzah bersama-sama membuat gerakan pembaruan dalam dunia sastra. Agar bisa terlepas dari aturan yang mengekang pada periode seblumnya yaitu periode Balai Pustaka.
Pada periode Balai Pustaka, ada aturan yang bernama nota ringkes yang pada saat itu memang diperuntukkan pada sastrawan yang ingin menerbitkan karya sastra. Jadi nota ringkes adalah yang mengatur segala karya sastra yang akan diterbitkan pada masa itu. Tidak semua karya sastra dengan mudah terbit dan menjadi konsumsi maysrakat pada masa itu. Karya sastra yang mengandung unsur keagamaan dan unsur sara dilarang terbit pada masa itu. Pada masa Balai Pustaka juga masih tergantung pada kepemerintahan Belanda sehingga menjadikan sastrawan yang memiliki karya sulit untuk terbit.
Baru pada akhir tahun 20-an ada peristiwa sumpah pemuda yang menyelamatkan Bahasa Indonesia, salah satu butir sumpah pemuda menyebutkan jika Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan dan bahasa yang digunakan di Indonesia. Dampak yang sangat besar dapat diarasakan masyarakat Indonesia mengetahui hal itu terjadi, dengan begitu Indonesia memiliki bahasa sendiri tanpa perlu menggunakan bahasa dari Belanda lagi.
Adanya peristiwa itu mendorong semangat pujangga baru untuk membuat gerakan sendiri, lalu mereka bertiga membuat gerakan bagi perkembangan sasatra agar sastra Indonesia tidak mati ataupun terikat lagi oleh pihak Belanda. Mereka dengan semangat yang membara membuat gerkan pembaruan-pembaruan dari sasatra yang sebelumnya. Dan juga sempat membuat majalah yang dinamai sama seperti nama periode perkembangan sastra mereka.
Pada novel belenggu sudah memiliki perkembangan daripada periode sebelumnya, pada novel ini sudah keluar dari aturan yang ada pada balai pustaka. Mula dari tema yang diangkat yang sudah keluar dari kebudayaan melayu dengan pemikiran yang kurnag modern. Pada novel ini juga sudah mulai berani menampilkan sedikit unsur yang menyinggung tentang permasalahan rumah tangga, padahal sebelum novel ini terbit tidak ada sama sekali yang berani mengambil resiko dengan mngangkat tema rumah tangga dikarenakan masih dianggap tabu dalam hal pemngembangan untuk karya sastra.
Meskipun pada periode ini sudah ada yang mengakat tema tentang wanita namun yang dimaksud dalam novel belenggu adalah permasalahan yang kompleks antara lelaki dan wanita. Ada salah satu karya dari Sutan Takdir A. yang menampilkan unsur dari masalah wanita yang pada masa itu ingin sekali didengar dan menjadi idola, judul karya tersebut adalah Layar Terkembang.
Armijn pane menerbitkan satu-satunya novel dalam sejarah dirinya menjadi sastrawan, hampir seluruh karyanya berbentuk drama dan juga puisi. Begitupun dengan sastrawan yang lainnya, semuanya hampir menerbitkan drama dan puisi sebagai karya sastra. Jarang sekali untuk sastrawan periode ini untuk menerbitkan karya sastra sebuah roman atau novel bacaan yang panjang.
Kebudayaan yang mereka angkat dalam sebuah karya sastra juga mulai berkurang, mereka lebih berfikir dengan inovasi yang mereka angkat. Karena semangat yang baru dan juga sudah terbebas dari nota ringkes yang dulunya mengatur jalan pikiran sastrawan, akan tetapi masih cenderung banyak sastrawan yang masih terpengaruh dengan angkatan balai pustaka. Memang pada awal adanya sejarah sastra kebanyakan dari sastrawan berasal dari Pulau Sumatera dan mereka memiliki kebudayaan Melayu yang kuat.
Memang pada awal adanya sastra sebagian besar menggunakan ;atar belakang budaya melayu sebagai salah satu inspirasi jalannya cerita. Terkadang beberapa sastrawan yang terdahulu sering menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pokok pembuatan karya sastra.
23 reviews
November 6, 2019
Armijn Pane lahir pada tanggal 18 Agustus 1908 di Muara Sipongi, Sumatera Utara. Armijn adalah seorang sastrawan Indonesia yang cukup terkenal, pada tahun 1933 bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah menjadi pelopor kemudian mendirikan majalah Pujangga Baru yang mampu mengumpulkan penulis-penulis dan pendukung lainnya dari seluruh penjuru Hindia Belanda untuk memulai sebuah pergerakan modernisme sastra. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Belenggu (1940). Novel ini adalah satu-satunya novel yang diterbitkan majalah pujangga baru dengan aliran psikologism. Dalam novel Belenggu banyak mengangkat persoalan kemasyarakatan, mengutamakan konflik psikis tokoh, menunjukkan kalau sifat modern dan tradisional yang berlawanan.

Novel Belenggu diterbitkan oleh majalah sastra pujangga baru, karena pada awalnya ditolak setelah ditawarkan kepada Balai Pustaka, penerbit resmi negara Hindia Belanda, tahun 1938, karena dianggap tidak bermoral atau berlawanan dengan moral umum. Hal ini disebabkan penggambaran perselingkuhan sebagai hal yang umum, menjadi bagian alur. Penerimaan novel Belenggu oleh masyarakat pada mulanya beragam, ada yang mendukungnya dengan beranggapan bahwa novel ini mencerminkan konflik yang dihadapi intektual Indonesia, Armijn Pane ingin menggambarkan pertentangan antara kaum tradisional dan modern, ia menekankan bahwa kebudayaan modern dalam kehidupan rumah tangga Tini dan Tono tidak harmonis, kehidupan Rohayah yang tradisional digambarkan juga tidak buruk sehingga menimbulkan ketidakjelasan dalam arah hidupnya. Sedangkan yang menolak beranggapan bahwa novel ini porno perselingkuhan. Namun tanggapan pada masa sekarang Belenggu dianggap novel Indonesia terbaik sebelum perang kemerdekaan.

Novel ini menjadi novel modern karena Armijn Pane membawa harmoni yang baru dalam sastra yang sebelumnya tidak ada, tema sebelumnya tidak lepas dari kawin paksa atau perihal adat kebiasaan, namun pada masa ini Armijn Pane berani dan berhasil mengarang karya sastra novel dengan tema cinta segitiga atau perselingkuhan di kemas dengan konflik batin yang dalam. Bahasa yang digunakan sudah menggunakan bahasa Indonesia yang berkembang di kalangan masyarakat, tampak pada kosa kata baru atau kata serapan. Berbeda dengan Balai Pustaka yang masih ditemukannya sisipan bahasa Belanda. Armijn Pane juga banyak menggunakan majas hiperbola dan simile, sedangkan kalau Balai Pustaka menggunakan khas keromannya.

Selain itu novel ini menggunakan bahasa yang memperlihatkan isi dan kesatuan karya dari unsur-unsur cerita. Dan penggunaan bahasa yang fungsional dan bahasa kias, menjadikan novel ini sarat akan pesan dan amanat yang tersirat dalam bahasanya. Selain itu terdapat pula pengalaman-pengalaman didalamnya, yang akan memberi dampak bagi kejiwaan seseorang dan dapat sebagai bahan pembelajaran bagi pembaca karya sastra ini, membaca roman Belenggu ini akan melahirkan sebuah opini, bahwa apabila sebuah kehidupan rumah tangga yang lahir dibangun dari tiadanya rasa saling cinta antara suami-istri, maka keluarga tersebut tidak harmonis dan bahkan bisa terjadi perceraian.
Profile Image for Eko Ramadhan.
20 reviews1 follower
November 24, 2019
novel ini menceritakan tentang kehidupan sebuah keluarga yakni Sukartono dan Tini yang menikah dilandasi tidak saling suka. keseharian kehidupan Tono dan Tini pada pada saat setelah menikah yang mementingkan pekejaannya masing-masing, yakni Tono sebagai dokter yang tidak memperhatikan sama sekali keluarga. Namun, pada saat sedang bekerja benar-benar memperhatikan pasiennya. hingga suatu saat datanglah pihak ketiga dalam keluarga tono dan tini, pihak ketiga itu adalah rohayah. Rohayah merupakan teman kecil semasa tono masih sekolah. bukan sekeda sebagai teman kecil saja. namun, rohayah pernah menaruh hati kepada tono dan rohayah nampaknya masih menyukai Tono. bisa dibuktikan dengan pada suatu ketika tono mendatangi sebuah pasien yang berada di sebuah hotel. pada saat tono datang ke hotel tersebut dia merasa terkejut dengan pasien tersebut karena pasien tersebut adalah Rohayah. Pada saat Rohayah diperiksa Tono, rohayah seperti merayu-rayu Tono. dan Tono larut dalam rayuannya tersebut. mereka akhrnyya menjalin sebuah hubungan yang tidak diketahui oleh Tini. Hingga suatu saat Tini merasakan hubungan yang dijalin oleh Tono dan Rohayah. tanpa pikir panjang Tini mendatangi Rohayah dan ingin meminta penjelasannya yang sebenarnya. setelah mendatangi rohayah, Tini merasa bersalah dengan Tono dan memutuskan untuk berpisah dengan Tono. tidak hanya itu Rohayah memilih untuk menjauh dari Tono dengan cara pergi keluar negeri. Pada akhirnya Tono sangat merasa kehilangan sekali.

Jika dihungankan antara judul dengan isi novel adalah novel tersebut menggunakan judul "Belenggu" yang dimana kata "Belenggu" memiliki pengertian yakni mengurung sifat masing-masing tokoh dengan pekerjaannya dan tidak saling mementingkan hubungan yang mereka jalin. hingga disuatu saat datanglah seorang tokoh yang membuat kedua tokoh utama keluar dari zona mereka dan berusaha untuk saling menjalin hubungan kembali. pada saat ingin menjalin hubungan antara tokoh utama. Penyelesaiannya adalah dengan meninggalkan salah satu tokoh sendirian dengan perasaan kehilangan.
.
cerita dalam novel ini dpat dianalisis menggunakan pendekatan sosiopsikologis. dikarenakan penulis ingin menunjukkan kehidupan kaum sosial kaum muda dengan kaum tua, Kehidupan masyarakat yang mewah yang merupakan pengaruh dari kehidupan masyarakat barat. Dokter pada masa itu dapat dikatakan memiliki budi yang lebih luhur daripada dokter pada masa sekarang.
.
cerita novel ini jika dihubungkan dengan tahun sekarang memiliki beberapa kesamaan yakni banyak orang yang telah menikah masih menomer satukan pekerjaannya daripada keluarga. jika sudah begitu maka tidak menutup kemungkinan dan timbul sebuah perpisahan yang aslinya tidak diinginkan oleh kedua pihak. tidak hanya itu, anak dari keluarga tersbut jadi kekurangan rasa kasih sayang antara ayah dan ibu. dan apakah buku ini masih layak dibaca pada tahun saat ini? jawabannya adalah layak layak saja apabila digunakan dalam proses pendidikan. karena daam novel ini banyak sekali mengandung pesan yang ingin disampaikan.
Profile Image for Zacky Putra.
11 reviews
Want to read
December 5, 2019
sinopsis
Dokter Sukartono (Tono) adalah seorang dokter yang baik, bijaksana, dan dermawan. Karena kesibukannya ia hampir tak memiliki waktu untuk istrinya Sumartini. mereka tidak pernah akur. Mereka tidak saling berbicara dan saling bertukar pikiran. Masalah yang mereka hadapi tidak pernah dipecahkan bersama-sama sebagaimana layaknya suami istri. Masing-masing memecahkan masalahnya sendiri-sendiri. Itulah sebabnya keluarga mereka tampak hambar dan tidak harmonis. Mereka sering salah paham dan suka bertengakar.
Masalah utama yang dihadapi suami istri tersbut adalah tidaka adanya rasa saling cinta diantara mereka. Tono memperistri Tini karena kecantikan, kecerdasan, dan keceriaan diantara mereka. Tini bersedia diperistri Tono karena ingin melupakan masa lalunya tang kurang baik.
Kekacauan bertambah dengan hadirnya Rohayah alias Siti Hayati. Ia seorang penyanyi keroncong, yang juga seorang wanita panggilan. Ia mencintai Tono sejak dahulu. Namun ia menjadi korban kawin paksa dan jatuh ke limbah kenistaan.
Lama-kelamaan hubungan Yah dengan Tono diketahui oleh Sumartini. Betapa panas hatinya ketika mengethui hubungan gelap suaminya dengan wanita bernama Yah. Dia ingin melabrak wanita tersebut. Secara diam-diam Sumartini pergi kehotel tempat Yah menginap. Dia berniat hendak memaki Yah sebab telah mengambil dan dan menggangu suaminya. Akan tetapi, setelah bertatap muka dengan Yah, perasaan dendamnya menjadi luluh.
Sepulang dari pertemuan dengan Yah, Tini mulai berintropeksi terhadap dirinya. Dia merasa malu dan bersalah kepada suaminya. Dia merasa dirinya belum pernah memberi kasih sayang yang tulus pada suaminya. Selama ini dia selalu kasar pada suaminya. Dia merasa telah gagal menjadi Istri. Akhirnya, dia mutuskan untuk berpisah dengan Suaminya.
Betapa sedih hati Dokter Sukartono akibat perceraian tersebut. Hatinya bertambah sedih saat Yah juga pergi. Yah hanya meninggalkan sepucuk surat yang mengabarkan jika dia mencintai Dokter Sukartono. Dia akan meninggalkan tanah air selama-lamanya dan pergi ke Calidonia.
Dokter Sukartono merasa sedih dalam kesendiriannya. Sumartini telah pergi ke Surabaya. Dia mengabdi pada sebuah panti asuhan yatim piatu, sedangkan Yah pergi ke negeri Calidonia.

hubungan judul dengan isi novel berkesinambungan. karena pada novel ini menceritakan bahwa istri dari sukartono yang merasa terbelanggu karena tidak ada timbal balik dari sukartono.

novel ini memiliki sindiran yakni Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut. Dalam novel ini banyak tergambar majas sindiran diantaranya: (1) Sekarang banyak yang cemburu melihat prakteknya maju, disegani lagi disukai orang. Kata orang: “Dia tiada mata duitan, kalau dia tahu si sakit kurang sanggup membayar, dia lupa mengirim rekening.”“Tetapi ,” kata seorang lagi, “kalau dia dipanggil tengah malam,suka juga.”. (2) “Ada apa, sebanyak ini tamu kami sekali ini?” “Bukankah biasa menerima tamu banyak-banyak?” kata puteri Aminah berolok-olok.“Bukankah lebih banyak tamu, lebih senang.
Profile Image for Widodo Aji.
21 reviews2 followers
November 7, 2019
Novel “Belenggu” karya Armijn Pane ini merupakan salah satu novel yang sangat kontroversial, yang terbit pada periode angkatan “Pujangga Baru”. Novel “Belenggu” ini mengangkat tema problematika keluarga, yaitu mengenai sebuah perselingkuhan seorang dokter yang begitu terpandang. Dalam novel ini pun memiliki alur cerita yang maju, dimana sang penyair menceritakan isi novel dengan runtut. Juga dalam novel ini, penyair menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu dimana terdapat penggunaan kata –nya dan juga penyebutan nama tokoh, yang seolah-olah pencerita berada di sekitar tokoh-tokoh itu. Kemudian gaya bahasa yang digunakan oleh penyair juga begitu berciri khas, yaitu seperti penggunaan tanda ellipsis atau titik-titik, dan juga pengarang juga selalu membuat sebuah monolog dalam karyanya tersebut guna menunjukkan konflik antar tokoh dan juga konflik antar batin tokoh sendiri.
Dalam novel ini menyampaikan tiga buah nilai pesan akan moral, agama, dan juga sosial. Pertama, pesan akan moral, yaitu seseorang yang telah terikat akan sebuah pernikahan baiknya harus saling menghargai dan menghormati serta saling menjaga perasaan satu sama lain dan janganlah berhianat akan sebuah nilai perkawinan, sebab hal itu akan menciptakan sebuah perpecahan dan perceraian dalam keluarga. Kedua, pesan akan agama, sebagai dua insan yang telah diikat dengan perkawinan harus saling menjaga aib dari diri masing-masing pasangan, sebagai seorang istri harus melayani dan memuaskan hati suaminya dengan baik tanpa rasa gengsi, dan juga sebagai suami harus menjadi imam yang baik, walaupun sibuk bekerja tetapi keluarga tidak boleh ditinggalkan. Terakhir, pesan akan sosial, janganlah menilai seseorang hanya dari kesempurnaan wajah dan segala yang terlihat saja, namun kita harus menilai seseorang berdasarkan hati dan juga mengenai baik buruknya orang itu.
Ciri-ciri novel “Belenggu” dapat dihubungkan dengan karakteristik novel pada periode dan angkatan “Pujangga Baru”. Pertama, karya sastra angkatan “Pujangga Baru” dipengaruhi oleh angkatan ’80 karena dijajah oleh Belanda, hal tersebut dibuktikan dalam novel ini melalui tokoh Tini, dimana ia merupakan seorang wanita modern yang menjunjung individualisme (sama seperti Belanda). Kemudian, bahasa yang digunakan dalam novel “Belenggu” ini sudah menggunakan bahasa Indonesia yang berkembang, tidak seperti karya sastra angkatan “Balai Pustaka” yang menggunakan bahasa melayu. Selanjutnya, tema yang diangkat dalam novel “Belenggu” ini sudah berbeda, yaitu mengangkat mengenai permasalahan rumah tangga, sementara novel-novel angkatan sebelumnya masih terpaku mengenai adat dan kawin paksa. Terakhir, bentuknya juga lebih beragam dan bebas mengungkapkan apa saja, karena telah terbebas dari adanya “nota ringkes” yang membatasi ide-ide dalam karya sastra angkatan “Balai Pustaka”.
Profile Image for Clavis Horti.
125 reviews1 follower
September 3, 2024
Dalam khazanah sastra roman klasik Indonesia, seringkali terhampar kisah-kisah cinta yang sarat dengan onak duri dan halangan, di mana hubungan antara tokoh-tokoh kerap terjegal oleh perbedaan status sosial yang mencolok atau konflik keluarga yang kian meruncing. Kisah-kisah ini tak hanya menyoroti permasalahan cinta, tetapi juga menyelami kehidupan sehari-hari masyarakat, dengan cerminan adat istiadat, kebiasaan, dan norma sosial yang begitu kental dengan suasana zamannya. Karya-karya ini sering pula berfungsi sebagai cermin kritik sosial, mengangkat isu ketidakadilan dan kesenjangan yang menggerogoti tatanan masyarakat, sembari menanamkan nilai-nilai moral dan etika melalui perjalanan karakter-karakter yang penuh warna. Roman klasik juga tak jarang memadukan elemen sejarah dan politik, menyatukan narasi dengan peristiwa-peristiwa penting yang membentuk konteks sejarah.

Dari sinilah rasa ingin tahu saya mulai tumbuh, mendorong keinginan untuk menyelami karya sastra roman klasik Indonesia lebih dalam. Pilihan saya jatuh pada Belenggu, sebuah karya paling tersohor yang ditulis oleh Armijn Pane, terbit pada tahun 1940. Buku ini menawarkan gaya bahasa yang khas dan unik, merefleksikan nuansa sastra pada masa tersebut. Meskipun gaya bahasa tersebut mungkin memerlukan penyesuaian bagi pembaca modern, saya menemukan diri saya segera tenggelam dalam alur cerita tanpa banyak kesulitan.

Belenggu tidak hanya mengikuti jejak roman klasik yang umumnya mengangkat konflik cinta dan status sosial, tetapi ia juga mengusung tema yang lebih berani dan kontroversial. Penulis mengangkat topik dan pemberontakan terhadap patriarki—sebuah isu yang dianggap tabu pada zamannya, dan mungkin juga pada masa kini. Melalui tokoh utamanya, seorang dokter dan istrinya, Armijn Pane menggambarkan ketidakpatuhan terhadap norma-norma patriarki yang mendominasi masyarakat. Istri sang dokter, yang menolak untuk tunduk pada norma-norma patriarki, menghadapi cemoohan dan penilaian sosial yang keras. Karya ini memaparkan dinamika rumah tangga yang kompleks, dengan konflik yang mencuat antara ekspektasi masyarakat dan keinginan pribadi tokoh-tokohnya. Melalui konflik tersebut, penulis tidak hanya menyentuh aspek moral dan sosial, tetapi juga mengundang refleksi mendalam mengenai pandangan agama dan norma-norma yang mengikat masyarakat.

Sebagai pembaca, saya merasa terlibat secara emosional dengan setiap ketegangan dan dinamika yang dihadirkan. Konflik yang digambarkan oleh Armijn Pane memicu ketegangan dan pemikiran yang mendalam, membawa saya pada refleksi pribadi mengenai isu-isu yang masih relevan hingga kini. Meskipun Belenggu karya Armijn Pane telah diterbitkan beberapa dekade lalu, daya tariknya tidak memudar, dan karya ini tetap mampu menyentuh hati dan pikiran pembaca dengan caranya yang khas.
Profile Image for Dian Nur Adha.
9 reviews
November 7, 2019
Terbitnya buku ini dapat kita pandang ialah puncaknya kehidupan dan kegiatan pengarang-pengarang modern itu didalam lapangan sastra. Tetapi sedikit saja orang yang insaf,bahasa sudah berubah,didalam buku ini sudah diwujudkan segala akibat bahasa Melayu melompat kepada bahasa Indonesia, “Belenggu” ialah perlambang pembaharuan bahasa Indonesia”. Satu kemenangan telah tentu. Kesusastraan Indonesia dapat aliran baru,aliran dan cara Armijn. Belenggu memberi arah baru dalam segalanya,baru dalam ceritanya,baru dalam gaya bahasanya,baru dalam cara mengarang bentuknya.
Pengarang memberikan sebuah gambaran kehidupan masyarakat yang mewah dalam novel tersebut. Hal ini tentu dapat menimbulkan kontradiksi mengingat pada masa novel tersebut tercipta Indonesia belum memasuki masa kemerdekaan. Wanita pada masa itu juga telah mempunyai kedudukan di mata masyarakat. Hal tersebut dicerminkan dengan para wanita yang mengengola kagiatan bazar yaitu seperti Rusdio, Sutatmo, Padma, dan Aminah. Kehidupan mereka bisa dibilang kehidupan yang glamour. Tentu saja hal tersebut hanya terdapat pada kalangan wanita yang memiliki pendidikan yang tinggi. Kawin paksa juga menjadi sorotan pengarang dalam novel tersebut. Yah yang notabene berasal dari keluarga tidak mampu dijodohkan dengan seseorang oleh orang tuanya. Kawin paksa dalam kehidupan masyarakat zaman sekarang belum sepenuhnya memudar. Pada masa sekarang ini, kasus-kasus perjodohan masih sering terjadi pula. Sperti yang diungkapkan pada novel Dadaismekarangan Dewi Sartika juga menggambarkan kawin paksa. Novel tresebut diterbitkan pada tahun 2004 dan mengisahkan masa kini bukan masa lalu. Kehidupan tentang kawin paksa dalam masyarakat tidak pernah tidak menarik untuk juga diikutkan dalam jalannya sebuah peristiwa. Belenggu merupakan pikiran pengarang. Keadaan sosial budaya dan keadaan masyarakat merupakan wujud pemikiran pengarang tentang kodisi sosial kemasyarakatan pada masa itu. Pengarang ingin mengungkapkan pikiran, ide, gagasan, maupun pendapatnya terhadap kehidupan lingkungannya melalui nove tersebut.
Profile Image for Yuli Hasmaliah.
71 reviews1 follower
June 19, 2019
Membaca karya Armijn Pane ini melatih saya untuk belajar berbahasa indo melayu –mungkin karena saya sudah lama tidak membaca karya-karya dari penulis semasanya. Belenggu menyajikan cerita yang sugestif; banyak pertanyaan yang timbul dari dalam benak tokoh yang menuntun hingga memaksa pembacaa untuk ikut berfikir hingga mencari tahu jawabannya sendiri. Konflik yang hadir karena ketidakaterbukaan dalam kehidupan rumah tangga merupakan cerminan atas salah satu sifat manusia yang seringkali sok tahu saat menjalani sesuatu. Armijn Pane membawa pembaca dalam permainan perasaannya yang tumpah ruah dalam dialog pun pertanyaan-pertanyaan yang timbul di hati ketiga tokoh utama hingga pendukungnya.

“Yah, manusia itu tak ada yang tiada pernah jatuh. Kalau jatuh hendaklah coba berdiri lagi. Kalau engkau terus terlentang, sesama manusia akan menginjakmu tidak akan ada seseorang juga suka menolongmu. Pandailah membimbing nasibnya sendiri, pandai menegakkan dirimu sendiri.” –hlm. 40

Belenggu yang sejak awal menarik perhatian saya ini karena pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya penasaran, memang sebuah roman yang mengajak saya untuk mengetahui pikiran pun hingga isi hati yang membelenggu tokoh-tokohnya. Amat menyenangkan saat pada akhirnya belenggu-belenggu yang ada pada tiap tokohnya itu bisa perlahan-lahan hilang tak membebani mereka kembali, walau konsekuensi yang ditanggung cukup besar hingga merubah kondisi kehidupan tokohnya.

“Karena perasaan tidak percaya, maka orang suka menyiasat, maka ilmu pengetahuan lahir. Dia pun insaf, sekali-sekali manusia itu akan merasa terbelenggu semangatnya dan pikirannya, tetapi hal itu hanya untuk sementara waktu saja, sebagai tempat perhentian sebelum sampai ke masa yang baru, ketika bennggu zaman dahulu terlepas sama sekali, mata pun dapat memandang dengan leluasa ke zaman yang akan dating.” –hlm. 148
19 reviews1 follower
Read
November 19, 2019
Novel “Belenggu” Karya Armijn Pane merupakan novel angkatan Pujangga Baru yang sangat fenomenal di masanya. Novel ini dianggap fenomenal karena berani mendobrak pembatasan-pembatasan mengenai karya sastra pada kala itu. Banyak pertentangan yang terjadi kala Armijn Pane menuliskan novel ini karena dianggap terlalu vulgar oleh beberapa pihak.
Tentunya, novel “Belenggu” ini juga memiliki karakteristik atau ciri khas tersendiri sesuai dengan angkatannya, yaiitu angkatan Pujangga Baru. Yag pertama adalah tema yang diangkat lebih beragam daripada masa Balai Pustaka. Seperti yang telah diketahui, tema yang diambil pada novel ini adalah tentang pertikaian antara suami istri. Tema seperti ini sudah lebih luas dibandingkan dengan pada masa Balai Pustaka.
Karakteristik yang kedua adalah bentuknya sudah lebih luas karena merasa sudah tidak terikat oleh adaanya nota rinkes, dan pengarang sudah berani untuk mengungkapkan ide atau gagasannya. Hal ini dapat dibuktikan dalam Novel “Belenggu” yaitu sang pengaarang, Armijn Pane sudah berani mengungkapkan ide-idenya, walaupun dianggap terlalu vulgar oleh beberpa pihak.
Ciri khas novel yang selanjutnya adalah bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia yang berkembang di masyarakat. Bahasa yang digunakan dalam novel ini menggunakan Bahasa Indonesia dan bukan Bahasa Melayu seperti dalam novel pada angkatan Balai Pustaka. Namun, disisipi kata-kata dalam bahasa yang berkembang di masyarakata pada masa itu seperti kata “auto” yang berarti “kendaraan”. Yang terakhir adalah karya yang dihasilkan umumnya bersifat romantisme. Hal ini dapat dibuktikan dengan tema yang digunakana dalam novel ini, yaitu tentang suami istri dan perselingkuhan.
Profile Image for Salza Puspitasari.
75 reviews5 followers
July 8, 2016
Impressionis mungkin merupakan kata yang paling tepat untuk menggambarkan karya Armijn Pane ini. Sebagaimana ditulis oleh H.B. Jassin, "Lukisan Armijn Pane tentang masa pancaroba ini tepat, bukan untuk ditiru, melainkan untuk diperlihatkan kepada angkatan yang akan datang, betapa besar kesusahan yang telah diderita oleh nenek moyangnya dalam perjuangannya mencapai kemajuan di zaman ini."

Roman klasik ini berhasil membawa pembacanya ke konflik emosi tiap-tiap karakternya. A must-read bagi yang ingin mempelajari latar perjuangan individu di Indonesia tahun 1930an.

Profile Image for Inggit Merawi.
12 reviews2 followers
October 21, 2025
lagi seneng-senengnya baca indonesian literature. diksinya bagus so i will give it a shot to review this in a poetic style as well.

this one lingers in my head like a low hum. it’s a story about chains—not the obvious metal kind, but the invisible ones we carry inside: regrets, desires, fears, and the choices that keep looping back like echoes. reading it feels like walking through a shadowed alley, where every corner hides a whisper of someone’s struggle, someone’s longing.

the characters are raw and tangled, like wild threads pulled too tight. you feel their weightthe frustration, the hope, the guilt, the little sparks of freedom they chase. they stumble, they falter, they fight, and sometimes you just want to reach into the pages and shake them, but that’s the beauty of it, you understand them, even in their chaos.

armijn’s writing flows almost like a quiet river, gentle on the surface but carrying a current strong enough to pull you under. some lines hit you softly, almost like poetry, others strike with blunt honesty. the whole book feels like a mirror, you see fragments of yourself in the characters’ chains, and maybe, just maybe, you notice the chains you’ve wrapped around your own heart.

by the time i finished, the story didn’t leave me—it stayed, a quiet echo reminding me of how fragile, how tangled, and yet how alive we all are.

xx
20 reviews1 follower
November 11, 2019
Dalam novel Belenggu ini isinya yaitu tentang perselingkuhan. Tokoh Charles dan Tono merupakan sosok dokter yang baik. Dalam hal inilah kesamaan yang merekatkan bahwa ada semacam peminjaman yang dilakukan Armjin Pane. Dalamnya tokoh dokter dalam Belenggu, tentu tak terlepas dari latar belakang Armjin Pane yang sempat mengecap pendidikan kedokteran sebelum akhirnya lebih memilih jalur sastranya. Maka, bisa dikatakan karya Belenggu bukanlah suatu pinjaman dari Madam Bovary, akan tetapi sebetulnya cerminan dari pengarang itu sendiri. Gustave Flaubert pun tak asing dengan dunia kedokteran, karena memang ayahnya adalah seorang dokter dan orang tua ibunya pun dokter pula. Jadi sebetulnya, latar belakang penulislah yang membentuk mengapa kedua penulis ini cenderung memilih tokoh seorang dokter untuk menyampaikan gagasannya. Untuk tokoh-tokoh pendukung, setting dan alur. Penulis masing-masing memiliki gaya sendiri untuk mengungkapkan gagasan dan pemikiran. Sehingga dalam hal ini, nyaris tak ditemukan proses penjiplakan atau lainnya. Misal saja, masalah yang timbul dalam Nyonya Bovary berbeda, yakni terbelit hutang sedang pada Belenggu, hal ini bahkan tak ditemui.
1 review
January 20, 2026
Not everyday is one given the chance to read this treasure physically. Deemed as the first modern literature in Indonesia, it digresses itself from (what I would assume) traditional SEA values of minding your own beeswax. The author plays around with the concept of a love triangle, with all 3 individuals 'shackled' by their own internal problems (Dr Tono, an up-and-coming Doctor who finds difficulty in navigating matters beyond the explanation of Science, and Tini (Dr Tono's wife) struggles in striking a balance between wanting to chart her own path as her own self. The other woman in the picture, Yah (or otherwise known as Siti Hayati/Siti Rohayah), is a complex character who craves for the sense of love, which can only be provided by Tono. The story ends strongly. Ultimately, this is a book which shows potential for the people who look like me (Southeast Asian, and of Malay descent with values imbedded into our culture which might not fit well in the Western world) to express ourselves. "Not in a way that is angry, but a kinder one".
Profile Image for Riska Widia.
18 reviews1 follower
November 8, 2019
Arminj Pane lewat novelnya meceritakan kehidupan rumah tangga seorang dokter bersama istrinya. Sukartono dan Tini sudah bertahun-tahun menjalin rumah tangga. Tini selalu setia mendampingi kesibukan suaminya sebagai dokter yang selalu dibutuhkan masyarakat. Setiap hari ia hanya berdiam diri di rumah dan menjawab telefon dari pasien suaminya. Akhirnya ia merasa kurang perhatian dari suaminya. Ia mencoba merdeka dengan caranya sendiri. Sampai akhirnya belenggu datang di rumah tangga mereka seiring dengan perselingkuhan Tono. Apresiasi saya terhadap novel ini adalah novel ini dapat memberikan pemahaman bahwa banyaknya materi tidak akan menjamin kehidupan rumah tangga akan bahagia, jika dihubungkan dengan keadaan sekarang tema yang terkandung dalam novel ini bersifat universal. Artinya, hal tersebut tidak hanya terjadi pada masa itu, melainkan pada masa sekarang juga banyak sekali hal-hal seperti itu yang terjadi di masyarakat.
35 reviews1 follower
December 4, 2019
Novel ini tentang perselingkuhan. Tokoh Charles dan Tono merupakan sosok dokter yang baik. Dalam hal inilah kesamaan yang merekatkan bahwa ada semacam peminjaman yang dilakukan Armjin Pane. Di dalamnya, tokoh dokter dalam Belenggu, tentu tak terlepas dari latar belakang Armjin Pane yang sempat mengecap pendidikan kedokteran sebelum akhirnya lebih memilih jalur sastranya. Jadi sebetulnya, latar belakang penulislah yang membentuk mengapa penulis ini cenderung memilih tokoh seorang dokter untuk menyampaikan gagasannya. Untuk tokoh-tokoh pendukung, setting dan alur. Penulis memiliki gaya tersendiri untuk mengungkapkan gagasan dan pemikiran. Sehingga bisa dikatan bahwa Armjin Pane memiliki ciri khasnya sendiri dalam membuat karya sastra. Novel ini cocok untuk yang sedang dalam sebuah hubungan atau akan memulai hubungan karena banyak pelajaran yang bisa diambil mengenai bagaimana perilaku yang tepat di dalam sebuah hubungan.
19 reviews1 follower
Read
December 6, 2019
Seorang dokter bernama Sukartono menikah dengan seorang yang cantik dan cerdas bernama Sumartini. Namun, keluarga mereka tidak berjalan harmonis di mana mereka selalu sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Sukartono yang memang diceritakan sebagai dokter yang baik selalu loyal untuk para pasiennya. Sampai suatu hari ia bertemu pasien yang merupakan teman lamanya sendiri, yaitu Rohayah. Rohayah kemudian melancarkan seranganya dengan memberikan rayuan-rayuan dan pujian kepada Sukartono. Sukartono pun lama kelamaan mulai tergoda dan melakukan perselingkuhan.

Sumartini pun mulai mencium perselingkuhan ini dan menemui Rohayah. Sukartono merasa bersalah kepada istrinya dan meninggalkan Rohayah, tetapi Sumartini sudah terlanjur kecewa dan tidak mau kembali pada suaminya. Akhirnya merekapun berpisah.

Sisi menarik pada novel ini adalah mengangkat kisah yang relevan sangat kehidupan nyata. Juga dalam novel
ini terdapat nilai-nillai kehidupan.
4 reviews
August 4, 2021
saya sudah sepantasnya mengucapkan terima kasih kepada Pak Sabar Lumban Tobing, selaku guru Bahasa Indonesia di SMA saya yang memperkenalkan salah satu novel roman klasik Indonesia ini. saya ingat beliau berkata bahwa ini adalah novel kontroversial pada masanya.

awalnya saya dan teman sekelas seakan setuju untuk tak berekspektasi tinggi-tingi. benar, pada awal-awal cerita memang narasi diayun lambat dan ditambah penggambaran tentang hubungan suami istri yang hambar sempat membuat saya bosan. tak menyerah, saya baca lagi karena menurut saya bahasa yang digunakan penulis sebenarnya cukup memikat hati. akhirnya sampai pada konflik cerita dan belenggu-belenggu pun terlihat lah jelas. dari novel ini saya melihat Armin Pajne adalah seorang pemberani.

"Buku ini tak urung menjadi salah satu roman klasik modern Indonesia yang mesti dibaca segala orang terpelajar Indonesia"
Profile Image for Putrianaps.
25 reviews
August 12, 2025
Heran. Buku ini sudah diterbitkan lama sekali, namun rasanya masih saja relate dijaman sekarang.
Mungkin memang apapun jamannya, masalah komunikasi adalah salah satu hal yang paling sering mewarnai kehidupan rumah tangga.

Kalau kata saya, tokoh Tono & Tini adalah karakter manusia "sungguhan" -mudah dijumpai dalam kehidupan nyata. Sosok suami patriarki dan istri feminis -tidak ada masalah dengan itu, hanya mereka sama2 keras kepala dan punya gengsi yang besar. Menutup pintu komunkasi dan ogah untuk saling memahami. Membelenggu perasaannya dengan egonya sendiri.

Sedangkan Yah, si simpanan, karakternya begitu fiktif. Karena tentu saja: Jarang ada orang ketiga yang mencintai dengan tulus, tanpa mengharapkan apapun tp tetap mau jadi madu (beruntung sekali, si Tono).
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for 沈沈.
738 reviews
September 8, 2021
Rroman ringkas sebanyak 150 halaman ini sangat menarik dan bagus untuk dibaca dimana terjadinya mengenang masa lalu di masa kini dan mengabaikan masa kini demi masa lalu, dengan ending yang tidak terduga dan jalan cerita yang menarik. Akan tetapi dalam roman ini kurang diceritakan masa lalu dari semua tokoh sehingga masih ada bagian yang mengganjal saat buku ini selesai dibaca serta bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia klasik yang cukup menyulitkan pembaca. Namun, untuk keseluruhan buku ini memang menarik untuk dibaca, dimana nilai moral yang terkandung adalah bagaimana cara kita menyikapi dan menghadapi masa lalu demi masa depan yang terus diperjuangkan.
Profile Image for Fara.
14 reviews
December 5, 2019
Untuk saat ini orang mungkin menganggap cerita yang dibawakan cukuplah klise. Namun Armijn Pane mampu membawa para pembacanya kepada konflik-konflik yang terjadi terhadap setiap tokohnya. Walaupun bahasa yang digunakan agak sulit dimengerti, namun dapat dipahami sebagai karakteristik bahasa pada angkatan Poedjangga Baroe.Tema yang diangkatnya mengenai perselingkuhan dan kehidupan rumah tangga.Ego terlalu menguasai mereka hingga akhirnya perceraian menjadi keputusan final.Terdapat orang ketiga pula yang memberikan warna pada roman ini.
Profile Image for Alvi Tita Wijaya.
35 reviews
December 3, 2019
Buku ini termasuk buku yang menarik untuk dibaca karena menurut saya buku ini masih dalam fase transisi dari novel lama ke novel modern. Kata-kata yang ada didalam buku ini masih ada yang berupa kata-kata lama namun juga ada kata modern. Alur cerita yang seru membuat saya semangat membaca. Menurut saya novel ini tidak termasuk ke dalam novel yang membosankan. Termasuk novel yang tipis dan asyik untuk menjadi koleksi bacaan
Profile Image for Andria Septy.
249 reviews14 followers
April 13, 2021
kau tahu? Kendati buku ini telah kubaca dua kali aku belum tetapi mengerti apa maksud dan tujuan si karakter dibuat. tiba masanya sebuah diskusi zoom yg menyentil novel ini dan akhirnya aku tersadarkan. maaf atas keterlambatan memahami. maklum saya kan... (ah saya dilarang mengatakan kata yg berunsur 'tapi' atau 'soalnya') kebanyakan alasan semesta tak suka hehehe. baiklah. intinya novel ini berhasil aku lahap dgn habis. begitulah.
Profile Image for nasy maliya.
32 reviews
August 18, 2024
Dari segi penyuntingan kalimatnya jempolan sekali ini,buku sastra yang mudah dimengerti untuk orang seperti saya yang baru terjun ke dalam dunia kesusastraan. Topiknya sering kita jumpai dalam hidup,jadi tak perlu bermain logika dengan jauh. Buku ini saya rekomendasikan bagi sesiapa yang mau memulai membaca buku sastra namun belum cukup paham dengann kalimat sastra.
This book is a must read,and it's also underrated!!
Profile Image for Dyah Ayu P.
25 reviews
November 20, 2019
Kurang sreg aja bacanya karena mengandung konten dewasa, pada masa penerbitannya juga mendapat kontroversi. Di sisi lain bisa saya ambil Nilai-nilai kehidupannya untuk Edukasi dalam menghadapi kehidupan masa depan. Contohnya dalam berrumah tangga dan sebagai pembentuk kepribadian tegas untuk mendongkrak derajat wanita. Hidup wanita!
Displaying 1 - 30 of 89 reviews

Join the discussion

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.