Rumah adalah tempat kita menambatkan rindu.Dengan begitu, rumah pula yang membuat kita bisa bergerak, mengarungi puluhan, ratusan bahkan ribuan kilometer. Namun apa arti rumah di mata pejalan perempuan ini?
Kesembilanbelas perempuan ini berbagi cerita cinta dan rindunya. Mereka telah melanglang buana ke tempat-tempat yang mereka rindui, hanya sekadar untuk menghirup aroma rumah itu. Indonesia adalah negara tercinta, dan si ribuan pulaunya, terhampar "rumah" mereka. Dalam buku ini, Anda bisa melihat interaksi yang mereka alami, yang melibatkan segala emosi.
Silakan masuk semakin dalam, ikut dalam kisah migrasi mereka. Dan mulailah untuk memaknai sendiri benarkah rumah itu hanya satu, atau sebenarnya, rumah ada di mana pun.
Buku ini memiliki masalah serius dengan editing. Pertama adalah masalah font layout. Saya terbiasa membaca buku yang menggunakan justify text alignment (rata kiri kanan), pemenggalan suku kata dan tepi kanan halaman yang meliuk-liuk mengurangi kecepatan membaca, bagi saya ini bikin gak nyaman.
Yang kedua adalah… errr… apa ya istilahnya? Ringkasnya gini, sejauh yang saya tangkap, isi buku ini adalah antologi kisah perjalanan berbagai orang (perempuan), beberapa di antaranya ditulis di blog perjalanan. Yep, ditulis di blog. Blog kan artinya tulisan pribadi dengan citarasa personal, tetapi saat disajikan dalam bentuk buku yang komersial, banyak hal-hal yang sifatnya personal tadi harus diubah bukan untuk menyesuaikan dengan pembaca yang membeli buku tersebut?
Ambil contoh, ada beberapa tulisan yang bunyinya mirip-mirip, ‘…Sehabis makan siang, kita pergi naik ke perahu untuk menyelam…’ (ini hanya contoh saja). Enggak kok Mbak, saya gak ikutan nyelam, lagi ngemil cokelat bengbeng di kereta (info penting dan darurat: saya baca buku ini di KRL). Di blog, penggunaan kata ganti ‘kita’ bisa menimbulkan kesan intim/dekat/pembaca diajak larut bertualang, tapi… Rest in Peace EYD. Setiap materi tulisan bukan lantas otomatis lolos sensor begitu saja, kan? Selain masalah diksi seperti ini, ada beberapa detail lain yang kayaknya, ‘aduh, mending saya baca blognya aja deh daripada baca dalam format buku seperti ini.’
Ketiga, —dan bukan yang terakhir, tetapi kayaknya tiga aja dulu, lagi males nulis soalnya, heuheu—adalah konsep buku yang masih samar. Kumpulan tulisan di buku ini lebih terkesan sebagai ‘Doh, saya mau bikin buku antologi traveler perempuan nih, ayo yang mau tulisannya dimuat, mari kumpulin tulisannya. Nanti pasti terbit kok.’ Akibatnya, selain tema yang amat general tsb, “pesan moral” bukunya jadi menghilang. Halah, pesan moral. Bukan pesan moral sih yang dimaksud, tapi lebih ke arah ‘key statements’ (kebiasaan bikin paper jurnal, heuheu).
Karenanya, kadang kita menemui tema cerita yang galau, lalu romantis, lalu reportase general ala wartawan, kontemplasi, galau, dst. Semuanya campuraduk dan loncat-loncat dari satu bab ke bab lainnya. Alangkah lebih baiknya dibuat gabungan per chapter. Misal, chapter 1 khusus pergalauan, chapter 2 reportase, dst. Soalnya, karena temanya loncat-loncat, kesan yang didapat dr judul sebelumnya, terhapus begitu saja di judul berikutnya. Kesan asal comotnya terasa sekali.
Bayangin aja, abis bab galau-galauan, lanjut ke bab yang ada cekikikannya, lanjut ke galau lagi. Yah, kesan lucu-lucuan cekikikannya ngehapus semua efek romantisme galaunya itu kan? (emang galau romantis? Hehe). Dan terutama, masih banyak gaya cerita yang semestinya bisa dipoles lagi agar lebih enak dibaca, bukan sekedar salin-tempel blog pribadi saja.
Resiko baca buku antologi (apalagi based on personal blog) adalah sulit menyamakan persepsi, gaya tulis, dan tema. Makanya, peran dan fungsi editing sangat diperlukan demi tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sesuai hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan peradilan.
Saya tadinya malah sedikit berharap adanya backpacker2 tangguh cewek atau para pelopor yang ketika memmbacanya menimbulkan dramaturgi yang menggugah. Halah, ngomong apa, hehe.
Gimanapun, saya sangat salut bagi para petualang perempuan ini—tak jarang mereka melakukan solo traveling—yang belum tentu saya sendiri berani melakukannya. Tetap melangkah. Tetap menulis. Dan tetap diedit. #teuteup #kabur sebelum dikeroyok ibu2
Memang betul buku ini punya masalah serius dengan hal ini. Dari sisi penulisan dan penyajian teks, saya mengalami ketidaknyamanan sejak pembacaan halaman pertama. Barangkali, saya sudah terbisaa dengan tulisan teks yang rata kiri-kanan. Saya yakin buku ini telah lulus tahap-tahap editorial. Tidak mungkin buku ini mengcompile sedemikian banyak tulisan lalu diterbitkan ke publik begitu saja. Tetap disayangkan bahwa hal semacam ini masih luput dari perhatian Sang Editor. Justru, saya menaruh apresiasi pada desain tata letak sampul buku.
Sejak buku ini adalah kumpulan tulisan yang didokumentasikan dalam blog pribadi penulisnya maka maklum bila pembacanya menjumpai “selera” penulisan yang berbeda. Ada beberapa hal personal yang harus berhadapan dengan selera komersial. Artinya, ada bagian tulisan yang harus diubah. Itu kata komentator.
Menurut saya, tidak ada yang harus dirubah dari semua tulisan yang dimuat. Karena memang terbit pertama kali di blog penulisnya maka ketika buku ini mengusung tema kolektif semacam ini haruslah ditampilkan sebagaimana tulisan ini terbit pertama kalinya. Otentisitas adalah harga mati untuk sebuah karya yang didokumentasikan secara personal dan kemudian diangkat menjadi sebuah karya kompilasi. Nilai-nilai yang bersifat dan personal itulah yang membuat tulisan ini hidup.
Pembaca boleh saja mempunyai seleranya sendiri, namun pembaca juga haru memahami apa yang jadi bacaannya. Pembaca harus paham latar belakang kontekstual yang melahirkan tulisan memoir perjalanan seperti yang ada dalam buku ini.
Saya tidak harus mengulangi lagi pernyataan saya sebelumnya bahwa semua tulisan dalam buku ini bersifat personal dan individual. Agak mengherankan ketika semua tulisan dalam buku ini harus berhadapan dengan makhluk yang bernama “pesan moral”. Tidak semua tulisan perlu disertai dengan pesan moral. Kecuali dalam beberapa tulisan yang memang mengharuskan isinya memiliki nilai yang bisa jadi pelajaran bagi pembaca.
Saya maklum saja karena mungkin saja komentar semacam ini muncul dari pembaca yang terlalu ‘serius’ dengan working paper atau jurnal. Tulisan mengenai perjalanan (travelogue) tidak hanya bercerita tentang bagaimana si penulis melakukan perjalanan. Pembaca dibebaskan sebebas-bebasnya untuk mengambil sendiri nilai moral dari yang sudah mereka baca. Saya kira ini hanya soal persepsi belaka karena sangat tidak mungkin untuk menyamakan persepsi, gaya tulis, dan tema dengan selera pembaca.
Judul buku ini sendiri sudah cukup menggugah dan membuat penasaran. Kita sudah lebih dari sering mendengar istilah: “Home is where your heart is.” Bagi para pengelana atau backpacker kelas jadi-jadian, hatinya bisa berada dimana saja. Hatinya mengembara sepanjang perjalanan. Hatinya bisa saja tertinggal di tempat tujuannya, tapi itu akan membawanya selalu kembali pada kesejatian cintanya.
Kabar baik dari buku ini adalah kita dihadirkan pengalaman masing-masing penulis dengan ceritanya masing-masing dalam membelah kekayaan dan keindahan bumi pertiwi. Pembaca bisa tahu sekaligus merasakan patah hati di Mandalawangi, Bromo, dan Baluran. Kemudian, menyemai cinta dalam perjalanan menuju Kawah Ijen, Mahameru, dan Bali. Kenangan tentang sosok Ibu akan menyeruak kala perjalanan agak bergeser ke Lombok. Sabang dan Minangkabau menyuguhkan pengalaman pendewasaan diri. Kecintaan pada negeri ini akan semakin menebal kala Tana Toraja, Larantuka, dan Raja Ampat menghadirkan keunikannya.
Ada beberapa tulisan yang jadi favorit saya. Tulisan berjudul “Kabut Cinta Mandalawangi” dari Agita Violy dan “melarung Ingatan Tentangmu di Bromo”. Buku ini justru menjadi semakin unik dengan tema-tema individualnya. Ada cerita soal patah hati, menemukan cinta dalam perjalanan, hingga kenangan tentang Ibu. Maka, alangkah saya bersyukur bahwa Sang Editor tidak menempatkan tema-tema seragam menjadi bab yang sekuensial.
Lihat sampul belakang buku ini, ada nama-nama berikut: Wae Rebo, Bromo, Ijen, Larantuka, Belitung, Baluran.. waaahhh, kayaknya semua itu tempat-tempat eksotik yang belum sempat saya kunjungi, dan belum ada album foto-nya di akun flickr saya! Plus, sebulan sesudah buku ini dibeli saya akan berangkat ke Pantai Ora di Pulau Seram, Ambon - another long-awaited adventure with my travelmate - jadi brasa pas banget momen-nya untuk beli buku seperti ini.
Lalu, lihat sampul depan yang cukup menggoda (sayang tidak dicantumkan nama fotografer atau penyunting sampul, jadi saya tidak tahu apakah ini comotan dari Shutterstock dan sejenisnya atau salah satu obyek wisata yang dibicarakan dalam buku ini..) membuat saya tidak ragu untuk mengeluarkan Rp 59.000,- dari dompet, he3..
Karena ini antologi, jadi bacanya loncat-loncat.. yang paling dulu di-cek adalah perjalanan ke Wae Rebo. Hm, kayaknya badan belum cukup fit untuk mendaki kesana, jadi terus nyari tempat snorkeling yang kira-kira asyik. Ada! Di Derawan (sayangnya sudah pernah, dan kayaknya pengalaman saya lebih seru!) dan Sabang. Yang terakhir ini tempat idaman setelah membeli majalah Get Lost edisi no.2 dan membaca blog milik Marischka Prudence yang tambah bikin ngecess buat angkat koper dan Canon 7D saya..
Singkat kata, blog Marischka lebih enak dibaca (dan foto-fotonya ok2!) daripada membaca buku ini, tapiii... petualangan-petualangan yang dituangkan tidak mengecewakan, cukup untuk memberi informasi lebih personal mengenai tempat-tempat tujuan tersebut. Gaya bahasanya masih acakadut, belum se-canggih buku-bukunya Trinity, dan alur cerita suka bikin frustasi - ini maunya cerita percintaan, pertemanan, informasi jalan-jalan, atau apaaaaaa-an seeehhh??? - tapi semua bisa terlupakan (sejenak!) ketika keindahan Baluran, atau keseruan belajar diving di Gorontalo, atau kesunyian Mandalawangi, menyeruak dan masuk ke dalam imajinasi pembacanya, yaitu saya.. jadi, mungkin saja pembaca lain akan berbeda pendapat. Tapi, secara keseluruhan, buku ini boleh dapat 3*, dan kalau boleh ngasi pendapat, coba bikin cetakan kedua tapi yang sudah di-revisi oleh editor handal (GRI gudangnya!), dan ditambahkan satu-dua foto mendukung yang bisa menarik lebih banyak pembaca.
bener2 ngomporin utk lebih mencintai indonesia..utk menjelajah indonesia ya ruarrr biasa indahnya.. ingin ke tempat2 yg menjanjikan keindahan? tdk melulu di luar negeri kok, di indonesia pun kita bisa mendapatkannya. seperti yg dikisahkan ke-19 pejalan perempuan. dr berbagai kalangan, perbedaan usia, latar belakang pekerjaan. dan mereka bisa, maka akupun berharap suatu saat juga bisa seperti mereka. menjelajah indonesia. kisah yg diberikan berbagai macam, ada patah hatinya, ada jatuh cintanya juga. perjalanan dr ujung barat indonesia (pulau sabang) sampai ujung timur indonesia (raja ampat) biarpun bukan merauke. ada yg ke pantai..ada yg ke gunung..dua tempat yg sangat aku sukai..sehingga sukses membuatku mupeng..
indonesiaaaaa i love u... mencintai indonesia..sebuah kata kerja..sooooo apa yg udah kamu lakuin?? a big question!!
Berbulan-bulan lalu, Lucia Widi duduk di depan saya dengan laptop yang separuh keluar dari tas. “Jadi, Juf mau bikin buku, sama beberapa perempuan lain,” katanya saat itu. Maka mengobrol-lah kami. Ia membagi sedikit gambaran tentang calon bukunya.
Baik, jadi ini buku tentang 19 perjalanan—satu penulis, satu tulisan--ke berbagai daerah Indonesia. Widi begitu bersemangat, kala itu. “Juf mau cerita tentang Jumat Agung di Larantuka.”
Melarung Yesus, demikian ia mengenang Jumat Agung-nya di Larantuka.
Dua pekan lalu, bukan hanya Widi yang duduk di depan saya, melainkan juga buku Rumah Adalah di Mana Pun. Kata-kata yang saya lihat tidak lagi berbaris pada layar komputer. Tulisan Widi kini berpindah ke dalam halaman-halaman buku. Senang sekali.
Lalu saya mulai membaca.
Cerita pertama tentang kebun, dengan jalur menanjak dan batu-batu besar, di gunung. Ada pula kehangatan di Baluran, senyum anak-anak Raja Ampat dan lain-lain. Termasuk melarung Yesus.
Mungkin… Mungkin ya, karena penokohan berubah-ubah antara tulisan—ada yang menggunakan “aku,” “saya, “gue,”—jalur imajinasi saya jadi ikut berbelok. Pola, konsep cerita pada tiap tulisan juga berbeda. Seperti apa ya? Jadi, waktu membaca, rasanya jalur saya terputus. Tidak berkelanjutan. Sebaliknya, saya mesti berbalik, mencari jalur yang lain untuk membaca tulisan selanjutnya.
Lalu tentang penggunaan kata-kata yang tak ajek. Misalnya "enggak," yang kadang-kadang bisa dituliskan "nggak," "engga" atau "ngga."
Bagaimanapun, perasaan saya waktu membaca hanyalah sepotong kecil dari sesuatu yang sangat besar: buku ini menghadirkan kekayaan alam Indonesia; yang patut didoakan, disyukuri, dikasihi.
Dan, ada pesan yang begitu tulus di balik penerbitan, penjualan bukunya.
Selamat ya. Juga terima kasih, untuk ketulusan teman-teman penulis.
Kalau teman kita nulis buku itu harus dibaca dan direview :D Kebetulan teman saya jadi salah satu penulis di buku ini.
Ide awal penulisan buku ini bagus, cerita perjalanan perempuan-perempuan Indonesia yang suka travelling, namun cara penyajiannya memang di beberapa bagian ada yang tidak nyambung. Namanya juga antologi, menyamakan gaya bahasa dan cara penulisan orang itu memang tidak gampang (i heart u para editor). Saat membaca buku ini, setelah terpukau dengan sebuah cerita yang mempunyai gaya penulisan yang cukup enak,"taste" yang sudah dibangun tadi belum tentu dapat kita rasakan kembali saat membaca cerita selanjutnya.
Di sisi lain cerita yang disampaikan oleh ke 19 perempuan pejalan ini cukup informatif, dan menggelitik orang yang membacanya untuk pergi ke tempat-tempat yang sudah dikunjungi oleh penulis-penulis tersebut. Sebagai contoh, sebelum travelling ke Baluran saya membaca cerita dan informasi yang tertuang dalam buku ini.
Harapannya akan semakin banyak orang yang makin mencintai Indonesia, dan seluruh masyarakat sadar akan pentingnya menjaga lingkungan demi kelangsungan sumber daya alam dan pariwisata kita dengan membaca buku ini. be proud of who you are and your country :)
Buku yang memuat sembilan belas cerita dari penulis-penulis yang berbeda, berkaitan dengan pengalaman perjalanan mereka. Izinkan saya kali ini hanya menandai bahwa buku ini telah tuntas saya baca, tetapi tidak memberi bintang. Karena akan terlalu banyak yang ingin saya ungkapkan, tapi toh buku ini telah terbit. :) Pada akhirnya, perjalanan-perjalanan yang dikisahkan orang lain tetap membuat saya sendiri ingin mengalaminya atau sekadar mengenang jika tempat-tempat itu pernah pula saya datangi. :)
Rasanya seperti bertemu teman pejalan yang setipe dengan saya. Karena berjalan itu tiada artinya tanpa membawa serta perasaan yang dalam. Merindu di bawah langit malam, melarung luka di tepi pantai, atau di-php di Bumi Papua? *sebenernya ini curcol*
Karena perjalanan sesungguhnya adalah ke dalam diri masing-masing, cheers to all of these brave traveler girl!
Duhh sekarang jadi frustasi buku ini berhasil membuat saya berencana mendatangi Indonesia bagian timur di tahun 2017! super bikin envy dan ngiler baca perjalanan wanita2 muda traveller disini :'(
Menulis adalah keberanian. Traveling harus dituliskan, harus diarsipkan, supaya kamu bisa mencatat di mana saja kamu menemukan rumah. Saya salah satu yang berani menuliskannya di buku ini.