Ucu Agustin, satu dari sedikit perempuan cerpenis kita yang cukup produktif kembali menerbitkan buku kumpulan cerpennya dengan judul Dunia di Kepala Alice. Sebelumnya, Kanakar (juga kumpulan cerpen) telah terbit Mei tahun lalu.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, novel perdananya - Being Ing - diluncurkan pula. Novel yang mengusung tema kehidupan kaum homoseks ini berhasil memenangi kategori Juara Berbakat dalam sayembara penulisan novel metropop (istilah lain untuk chicklit) yang diselenggarakan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. Hal ini setidaknya membuktikan, bahwa sepak terjang Ucu Agustin dalam dunia penulisan fiksi tak perlu diragukan lagi.
Gadis Sunda kelahiran Sukabumi, 19 Agustus 1976 ini beberapa waktu berselang juga terlibat secara aktif dalam penerbitan buku kumpulan cerpen Rahasia Bulan. Yakni antologi cerpen bertemakan lesbian dan homoseksual. Di buku ini Ucu menyertakan pula salah satu karyanya.
Sementara itu, cerpen-cerpen yang terkumpul dalam Dunia di Kepala Alice ini - seluruhnya ada sebelas - merupakan cerpen yang pernah terbit di media cetak dalam rentang waktu 2005-2006.
Dari kesebelas cerpennya ini, tema yang banyak muncul adalah tema psikologis (kejiwaan). Disampaikan melalui teknik mendongeng; mengawinkan unsur-unsur realis dengan dunia surealis. Hasilnya tak jarang menjelma sebuah kisah absurd atau malah terkesan kekanak-kanakan. Ya, dalam banyak cerpennya di buku ini, Ucu menggunakan tokoh kanak-kanak (Dunia di Kepala Alice, Indigo, Vacuum Cleaner, Lelaki yang Menetas di Tubuhku).
Beberapa yang lain lagi bahkan benar-benar bagai dongeng karena terinspirasi oleh kisah-kisah mitos (Penelan Cahaya) dan cerita rakyat (Giring Angin dan Ismael Penjahit Hati). Sebenarnya tak akan terlalu mengherankan jika kita tahu, bahwa Ucu adalah seorang penggemar dongeng dan kisah-kisah kartun fantasi seperti Doraemon dan H.C.Andersen. Salah satu buku favoritnya adalah Le Petit Prince (Pangeran Kecil) karya Antoine de Saint-Exupery.
Sebagai generasi muda kota besar, tentulah Ucu demikian akrab dengan persoalan-persoalan manusia perkotaan. Fenomena cinta sejenis, pergaulan di ruang-ruang maya internet, rumah tangga broken home, anak-anak dengan kecenderungan kejiwaan yang menyimpang, atau anak-anak korban kekerasan seksual, tampaknya telah mengusik perhatian Ucu yang lalu ia tuangkan ke dalam cerpen-cerpennya.
Selain itu, Ucu juga kelihatan tertarik pada astronomi dan kehidupan luar angkasa. Ini tampak jelas sekali pada cerpen Origins. Ia begitu terpesona oleh keberadaan benda-benda langit sehingga melambungkan imajinasinya tentang makhluk-makhluk luar angkasa yang datang berkunjung dan bercinta dengan penghuni bumi.
Tokoh-tokoh Ucu bukanlah para pemenang. Mereka lebih banyak merupakan orang-orang "kalah" yang kerap harus bernasib tragis di akhir cerita. Mereka adalah karakter-karakter "ganjil" , tidak normal, menyimpang menurut ukuran umum : homoseks, penderita skizofrenia, penyandang indigo, lesbian.
Membaca Dunia di Kepala Alice, serasa dicemplungkan ke dalam kubangan fantasi tempat dunia riil berbaur menyatu bersama alam khayali; dongeng berpadu dengan dunia nyata; semi surealis. Ucu sering membuat kita merasa 'terjebak' ke dalam dua dunia itu. Acap kali secara tiba-tiba ia mendaratkan kita di negeri dongeng padahal sebelumnya kita tengah asyik berada di dunia nyata. Atau sebaliknya. Teknik seperti ini memungkinkan Ucu untuk dengan amat leluasa mengembangkan plot dan tokoh-tokoh ceritanya.
Umpamanya saja dalam Vacuum Cleaner. Dengan enaknya, Ucu menciptakan tokohnya seorang bocah, Wellin namanya, yang menyedot kedua orang tuanya ke dalam sebuah alat penghisap debu (vacuum cleaner). Pasalnya, Wellin sudah kelewat jengkel oleh keributan yang ditimbulkan pertengkaran kedua orang tuanya itu. Maka lalu, dengan sangat imajinatif, Ucu membuat adegan surealis itu.
Atau pada Giring Angin. Dengan eksotik Ucu menyampaikan cerita tentang seorang lelaki perantau yang mengadu nasib ke kota dalam nuansa cerita rakyat berlatar sebuah dusun bernama Oi Seda di tepi Sungai Ma Ese (ah..di manakah letaknya dusun itu?). Setiap lelaki di dusun tersebut percaya, bahwa di kota besar di seberang pulau mereka, tumbuh pohon-pohon berdaun uang. Ke sanalah Giring Angin mengadu nasib, mengikuti tradisi dan jejak yang ditinggalkan setiap lelaki di desanya.
Giring Angin adalah putra angin. Ayahnya adalah semilir angin yang berahi melihat seorang perempuan muda memakai kain tipis mandi di Sungai Ma Ese. Berahi membengkakkan kemaluan angin dan membuatnya mengamuk, menerbangkan kain tipis milik perempuan muda, menelanjanginya. Saat itulah angin memasukinya dalam keadaan sangat terangsang (hlm.33)
Bukankah kejadian sebagaimana dipaparkan di atas hanya mungkin terjadi dalam negeri dongeng? Dan Ucu telah dengan cerdik memanfaatkannya untuk mempercantik cerpen-cerpennya.
Endah Sulwesi 15/10