Najwa, 27 tahun, baru saja kehilangan ibundanya yang meninggal karena kanker. Setelah ibunya meninggal dunia, Najwa tinggal berdua dengan nenek. Neneknya menegaskan Najwa untuk mencari ayahnya. Di mata masyarakat tidak adanya laki-laki di rumah sama dengan tidak mempunyai pelindung dan penjaga kehormatan. Keluarga tersebut tidak mempunyai status. Keluarga mereka tertutup dengan lingkungan sekitar. Najwa sudah terbiasa tanpa ayah tetapi nenek bersikeras menyuruhnya mencari sang ayah. Wanita yang hidup sendiri tidak dipandang baik.
Ayah Najwa, Omar Rahman, meninggalkan rumah ketika Najwa berusia tiga tahun. Selain tidak ada laki-laki di atas rumah, keluarga mereka dicap sekuler di tengah-tengah lingkungan yang religious. Omar meninggalkan keluarga kecilnya tanpa pesan, pamit, dan pelukan perpisahan. Ibunya menanggalkan jilbab, memotong rambut dan memisahkan barang-barang peninggalan ayahnya berupa pakaian, sajadah dan buku-buku agama. Ia marah dan sakit hari karena agama penyebab suaminya pergi. Najwa dibesarkan tanpa ayah dan tanpa ajaran agama. Tidak ada simbol agama dan ibadah di dalam rumah. Neneknya yang berasal dari Palestina masih beribadah secara diam-diam.
Ketika Najwa lahir, orang tuanya masih sama-sama menyelesaikan pendidikan. Omar Rahman mempelajari ilmu keperawatan sementara Raneen, ibu Najwa, sedang menyelesaikan pendidikan keguruan. Kesibukan pendidikan masing-masing ditambah kehadiran seorang anak seringkali menimbulkan ketegangan dalam rumah tangga mereka. Omar tidak betah menghadapi istrinya yang dianggap terlalu dominan di rumah. Omar memiliki seorang sahabat bernama Hani. Keterlibatan Omar dengan kelompok jihad berawal dari Hani. Omar sendiri tidak terlalu agamis. Keduanya bergabung dengan pasukan jihad saat Rusia menginvasi Afghanistan pada 1979. Omar menjadi tenaga medis dari sisi mujahidin sementara Hani bertempur di garis depan.
Sosok Ayah sudah mengabur di ingatan Najwa. Najwa mengumpulkan informasi dari imam mesjid setempat, catatan harian dan surat-surat ayahnya. Najwa juga bertemu dengan keluarga Hani yang menjadi martir di Afghanistan. Najwa memasuki Afghanistan melalui Peshawar, Pakistan. Sepotong demi sepotong petunjuk ia telusuri hingga mempertemukannya dengan istri kedua ayahnya yaitu perempuan Afghanistan bernama Gulnar. Kisah heroik ayahnya menjadi tenaga medis dari pihak mujahidin banyak didengar oleh Najwa dari orang-orang yang ditemuinya. Omar Rahman telah menyelamatkan banyak nyawa dengan peralatan dan obat-obatan medis seadanya. Najwa mendapati Omar Rahman sudah bergabung dengan kelompok jihad global di Inggris. Apa yang terjadi dengan ayahnya ? Berhasilkah Najwa menemukan ayahnya ?
Ceritanya cukup menarik minat dengan setting konflik negara timur tengah. Ada benturan nilai-nilai budaya dan agama yang dianut masyarakat dengan keluarga Najwa sendiri. Namun ada beberapa hal yang mengecewakan ekspektasi membaca saya. Najwa sendiri melakukan perjalanan pencarian ayah bukan dari hati sendiri, lebih karena menjalankan perintah neneknya. Karakter Najwa pun tidak terlalu terlihat dalam cerita ini lebih menonjolkan ibu yang sakit hati dan neneknya yang selalu menasehatinya. Kisah pencarian ayah yang menghilang selama 24 tahun seharusnya menjadi perjalanan mengharukan tetapi hal tersebut tidak terjadi. Kondisi Afghanistan hanya digambarkan sekilas pandang. Padahal menurut saya bisa dieksplorasi lebih dalam dari sisi kemanusiaan.