Jump to ratings and reviews
Rate this book

Saia

Rate this book
Selalu ada yang tak terkisahkan dalam sebuah perjalanan. Bahkan dalam sebuah kisah, selalu ada yang tak terceritakan.

144 pages, Paperback

First published January 1, 2014

20 people are currently reading
317 people want to read

About the author

Djenar Maesa Ayu

30 books302 followers
Djenar Maesa Ayu started her writings on many national newspapers. Her first book "Mereka Bilang Saya Monyet!" has been reprinted more than 8 times and shortlisted on Khatulistiwa Literary Award 2003.

Her short story “Waktu Nayla” awarded the best Short Story by Kompas in 2003, while “Menyusu Ayah” become The Best Short Story by Jurnal Perempuan and translated to English by Richard Oh with title “Suckling Father”.

Her second book "Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)" was launch February 2005 and also received great success. The amazing part is this book reprinted two days after the launching.

Other books by Djenar:
* Nayla
* Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
69 (17%)
4 stars
112 (28%)
3 stars
145 (36%)
2 stars
43 (10%)
1 star
27 (6%)
Displaying 1 - 30 of 54 reviews
Profile Image for Sulin.
333 reviews57 followers
March 22, 2020
Yah, so-so banget. Lumayan buat bridging kalau abis kena book hangover.
Dulu waktu agak kecil aku baca bukunya Djenar berasa woke, pas sekarang kok biasa aja ya. Hambar. Membosankan. Kisahnya seputar seks, KDRT, PSK, dan entah mengapa hobi sekali memberi nama Nayla. Padahal Nayla nama guru BK SMA-ku yang gigi depannya ompong satu. Imajinasiku jadi kurang oke.
Profile Image for Bagus.
12 reviews1 follower
February 11, 2016
Entah buku ini memang tabu atau kita yang malu karena isi dari buku ini bercerita yang sebenarnya terjadi
Profile Image for Autmn Reader.
883 reviews93 followers
dnf
February 17, 2023
Karena bacanya di Book Cafe dulu tuh, baca di mana ya aku lupa namanya, jdi y skrang bkunya enggak ada, dan di GD pun nggak ada ternyta. 😂
Profile Image for Pandji Putranda.
23 reviews
April 12, 2015
Djenar di mata saya identik dengan tiga hal: selangkangan, Nayla, dan rima.

Hampir di setiap cerita, selangkangan muncul sebagai momok, sekaligus motif paling paripurna: kekerasan, fantasi, frustrasi, nafsu, trauma, pelarian, pertemuan, perpisahan, inferioritas, termasuk cinta. Dan hampir semuanya tersalurkan lewat laku sanggama sesosok perempuan bernama Nayla. Kadang Nayla jadi pelacur, kadang jadi ibu rumah tangga, kadang jadi anak durhaka, kadang jadi korban perkosa, sekalipun ada kalanya jadi orang biasa.

Ibarat dalang yang sabar meniti fragmen-fragmen hidup paling dramatis. Djenar merancang nuansa cerita-ceritanya serba gelap, ditambah penggunaan rima yang senantiasa terjaga sampai satu paragraf habis terbaca. Tidak jarang pula ceritanya berakhir tragis dengan sisipan plot twist. Nafasnya hampir selalu sama. "Dunia ini kelam adanya. Omong kosong bila ada orang yang benar-benar tulus merasa bahagia." begitulah kira-kira.

Kumcer SAIA adalah bukti bahwa Djenar belum mampu move on dari zona nyamannya sendiri. Entah, barangkali saya terlalu tinggi berekspektasi. Atau justru kurang masturbasi.
Profile Image for Indraswari.
1 review18 followers
March 31, 2017
Menurut saya perempuan tak harus selalu bicara tentang selangkangan. Yah, akan tetapi budaya Indonesia yang kurang familiar dengan selangkangan membuat perempuan terlihat kurang bebas dan gampang dibodohi. Dalam satu sisi, buku ini memperlihatkan kenyataan bahwa Indonesia kurang terdidik dari segi "selangkangan".

Adapun saya pun sebetulnya kurang menyukai cerita-cerita selangkangan yang dibuat Djenar. Komentar ini subjektif tapi saya memiliki alasan. Hampir seluruh cerpen bertemakan sama sehingga, tentu, buku ini terasa monoton. Akan tetapi mungkin memang hal itu yang diinginkan Djenar, saya hanya kurang setuju. Cara tutur yang agak kasar untuk membicarakan wanita dan kehidupannya menimbulkan kesan feminisme radikal. Namun, kesan tersebut justru terlihat seperti bumerang. Bukan kenyataan yang dapat membuat wanita sadar akan selangkangannya tapi selangkangan itulah yang membuat kenyataan tentang wanita. Seakan selangkangan wanita adalah murah. Buku ini seperti pembodohan untuk wanita.

Saya harap ketika perempuan membaca karya sastra ini, perempuan justru menjadi kritis.
Profile Image for Ryan.
Author 2 books17 followers
April 13, 2014
Agak beda dengan review kebanyakan orang di sini, menurut saya, buku kumcer ini not bad. Memang tema yang disajikan monoton, namun menurut saya tema tersebut (perempuan, kekerasan seksual, dan sebangsanya) memang signature Djenar.
Selayaknya kumcer, ada cerita bagus ada yang kurang bagus. Cerita bagus yang saya suka di buku ini yaitu Nol-Dream land dan Fantasi Dunia. Kedua cerita itu belum pernah ada dalam bayangan saya, sehingga saya suka. Gaya penceritaan yang unik dalam Nol-Dream land juga menambah daya tarik cerita ini.
Tokoh Nayla mendominasi buku ini, seolah Djenar ingin membuat Nayla dengan berbagai kisah kehidupan, namun tidak berhubungan antara satu cerita dengan yang lain.

Overall, buku ini masih oke untuk dibaca kok, meskipun harganya memang overpriced untuk buku setipis ini.
Profile Image for Amal Bastian.
115 reviews4 followers
March 30, 2018
Anda dipastikan masuk ke dalam dunia perempuan yang tampak tegar, kuat, sangar, binal, nakal, namun dengan pesan beringas hingga Anda tak menyangka satu buku telah tuntas. Sentilan-sentilan sosial yang banyak orang menganggapnya tabu diangkat secara lugas, disajikan dengan jelas, diguyur dengan kuah kritis agar pembacanya puas akan kelezatan isinya. Mengajak Anda agar tidak berlagak menjadi Tuhan, karena yang mampu menghakimi itu adalah Dia. Gadis, perempuan, wanita, manula, selalu ada cerita yang tak habis dibalik senyum getir dengan pandangan nanar.
Profile Image for Rari Rahmat.
38 reviews7 followers
March 8, 2021
Buku ke-7 di 2021 - Februari

Yang paling mengganggu aktivitas pembacaanku adalah pengulangan rima akhir yang sama di hampir semua cerita, bahkan dalam satu cerpen, terdapat banyak rima akhir itu di tiap paragraf. Monoton. Dan banyaknya tokoh utama bernama Nayla. Tapi itu tak membuatku berhenti mengagumi tema-tema cerpen Djenar. Beberapa cerpen yang paling kusuka; Fantasi Dunia, Nayla diperkosa oleh ayahnya sendiri. Sebagai korban, malah Nayla yang disalah-salahkan seperti berita-berita kekerasan seksual yang sering kali kita dengar. Cerpen SAIA, anak kecil yang mengalami kekerasan abusif. Ia disiksa oleh orang tuanya. Cerpen ini membuat saya tersulut amarah. Saya lantas teringat berita anak kecil viral di media sosial yang di beberapa bagian tubuhnya biru karena disiksa orang tuanya. Ibu guru sekolahnya yang mendapati luka-luka itu. Dan cerpen favorit yang terakhir; Mata Telanjang. Nay, pekerja seks, suaminya dipenjara karena kasus judi. Ia bekerja untuk membiayai pengobatan anaknya yang mengidap kanker. Ia bertemu orang yang mencintainya di sebuah klub, tapi lelaki itu meminta Nay untuk 'dipakai' oleh koleganya yang mengincar Nay.

"Tak ada yang lebih kejam daripada dendan seorang anak pada orangtuanya. Tapi tak ada yang lebih kejam dari pada dendam seorang anak kepada orangtuanya yang diampiaskan kepada keturunannya." - Dan Lalu

Aku terbiasa menemukan mata yang menatapku penuh berahi. Tak peduli mereka memakai seragam safari, berjas atau berdasi. Mata mereka selalu memandangku sebagai perempuan murahan yang bisa dibeli. Tapi tidak demikian halnya dengan laki-laki itu. Mata yang menatapku dengan lembut dan sayu.
---
Aku tak pernah tahu, betapa hidup bisa berubah hanya karena sepasang mata. - Mata Telanjang
Profile Image for booksventura.
87 reviews4 followers
June 24, 2022
Pernah ga merasa takut baca suatu buku?

Saya seringkali mangkir duluan kalau harus baca bertema seksualitas. Apalagi kalau gender yang jadi korban adalah perempuan. Saya ini perempuan, jadi pasti paham rasanya.
.
Kalau lalu saya baca SAIA karena merasa sudah dewasa. Eh rupanya sama aja! Hati ini tak kuat berujung mood yang berantakan. Yah, Djenar memang jagonya urusan objektivitas perempuan karena hampir seluruhnya berisi kisah kelam dari sisi lain dunia yang seringkali kita lupa.
.
𝘈𝘪𝘳 𝘬𝘦𝘯𝘵𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘣𝘰𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢. 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘪𝘳 𝘥𝘦𝘳𝘢𝘴 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘰𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘷𝘢𝘨𝘪𝘯𝘢 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘴𝘢𝘬 𝘤𝘦𝘭𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢. - hal 1.
.
Tokoh Nay yang ada di tiap bab rasanya punya permasalahan pelik. Meski beberapa kali Djenar menyentil isu politik, isu kampanye berkedok agama hingga politisi, tetap saja saya tak suka. Mungkin itulah yang diharapkan usai membaca buku ini. Rasa mual, sesak, sedih, benci jadi satu berkontribusi menutup mata. Saya tak suka karena tak bisa berbuat apa-apa untuk para tokoh wanita di sana.
.
𝘕𝘢𝘺𝘭𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨𝘵𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶 𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯. 𝘋𝘪𝘶𝘴𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘕𝘢𝘺𝘭𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘮𝘢𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯. - hal 55.
.
Coba hitung berapakah tokoh di cerpen ini yang tak bernasib naas? Hasilnya tak sampai lima jari! Saya salut akan konsistensi Djenar menuliskan setiap tokoh dgn prahara mereka. Namun sedikit lega ketika sampai di bab VIII. Qurban Iklan menyoroti hal lain yang lebih ringan meski perempuannya tetap saja naas.
.
𝘔𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮, 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯. - hal 120.
.
Saya perlu waktu utk bernafas usai rampung di 140 hal. Ini penting! Biar pikiran jernih, biar bisa menilai tanpa menghakimi.
Profile Image for Aldila Sakinah Putri.
83 reviews
February 11, 2022
Malam adalah Dewa. Ia tak kenal usia, tua maupun muda. Ia tak kenal strata, miskin maupun kaya. Ia tak kenal jenis kelamin, perempuan maupun pria. Malam memberi ruang bagi semua. Bagi hati yang merana. Terluka. Ternoda. Teraniaya. Terhina. (Halaman 116)⁣

Merupakan kumpulan cerpen dewasa. Kelima belas cerpennya tidak jauh dari persetubuhan dan kekerasan seksual. Walaupun dianggap tabu, namun cerita-cerita tersebut nyata hampir-pernah terjadi di sekitar kita.⁣

Penulis mengangkat isu-isu perempuan sebagai korban pada perselingkuhan atau perceraian yang mengharuskannya menjadi kupu-kupu malam, bahkan sering kali anak turut serta menjadi korban. Miris.⁣

Penulis memperhatikan rima di setiap akhir kalimat sehingga narasi terbaca sebagai syair puisi dengan penggunaan diksi yang tidak rumit dan sering kali diceritakan dalam dua sudut pandang. Beberapa cerpennya bahkan pernah dimuat dalam surat kabar.⁣

Buku ini merupakan bentuk kejujuran seorang penulis terhadap seksualitas. Secara tidak langsung mengedukasi pembaca tentang pendidikan seks. Bahayanya dunia malam dan seks bebas, risikonya menjadi istri tanpa surat nikah, serta nestapanya menjadi anak-anak korban kekerasan orang tuanya sendiri.⁣

Tapi tak ada hitungan yang benar-benar berlaku bagi sebuah kenangan. Ada yang terasa baru saja terjadi padahal sudah tahunan. Ada yang sebenarnya baru saja terjadi namun terasa lampau karena dengan sengaja ingin dilupakan. (Halaman 50)⁣
Profile Image for Desi Ela.
9 reviews
October 21, 2025
Bukan Djenar namanya kalau tidak membahas perempuan sebagai objek sentral dalam cerita. Seperti pada karya-karyanya yang lain, Djenar dengan epik menceritakan tentang "luka" dan perjuangan identitas dan eksistensi perempuan. Kumpulan cerita dengan 15 judul ini, merangkum kisah sosial perempuan di masyarakat Patriarki. Dari 15 judul cerita ada kisah tentang trauma, luka batin, penderitaan, dan "gelap"nya perempuan yang dibalut pada bayangan diri tersembunyi.

Seperti pada cerpen "Saia" yang bercerita tentang tokoh "Saya" yang memiliki teman imajiner 'Ia". Tokoh tumbuh dalam keluarga yang penuh kekerasan. "Ia menjadi pelarian dari rasa sakit dan ketakutan. Ia sebagai sosok pelindung sekaligus bayangan diri". Saia melambangkan perpecahan batin akibat trauma masa kecil. Saia = "saya" dan "ia" simbol kepribadian ganda yang muncul dari penderitaan batin.

Ada satu judul yang menarik bagi saya juga berjudul "Nol" Dream Land. Tokoh Nay merasakan waktu adalah penjara. Bunyi 'tik tok' di repetisi atau diulang oleh tokoh Nay sebagai simbol masa lalu dan luka batin yang tak kunjung sembuh. cerpen ini juga menggambarkan eksperimen psikologis tentang trauma dan waktu. Simbol "nol" menggambarkan kehampaan dan pengulangan hidup tanpa arah dari sang tokoh.

Masih banyak cerpen dengan sejuta simbolik yang ditulis Djenar. Untuk sebagian orang mungkin ini akan menjadi trigger tersendiri, related dibeberapa kalangan.
Profile Image for Dhea Juhara.
29 reviews3 followers
July 21, 2018
Pertama-tama cuma mau bilang kalo buku ini dari segi cerita memang typical Djenar sekali, jadi yang beli buku ini harusnya memang sudah tahu gaya menulis Djenar seperti apa dan tidak perlu banyak ekspektasi yang lain-lain.

Kalau buat saya, karya-karya Djenar itu seperti guilty pleasure (he he). Walaupun kadang memang terlalu umbar seksualitas, saya melihat karyanya sebagai salah satu interpretasi seseorang terhadap realita yang terjadi di sekitar.

5 dari 15 cerpen di buku ini saya kasih jempol karena suka dengan jalan ceritanya (Anaknya doyan dikasih twist plot). Sedangkan sisanya so-so karena saya merasa kurang ada gregetnya (sotoy banget, maaf).

Jadi, intinya adalah, kalo mau baca harus ngeh dulu ya genrenya Djenar tuh gimana, biar ga kaget dan nyari nyari pesan moral. Well, actually kalo dipikir-pikir ya saya merasa ada kok pesan moralnya, "Banyak-banyak bersyukurlah pabila anda berada di posisi yang berbanding terbalik dengan tokoh-tokoh dalam buku ini."

Sekian.
Profile Image for Fajrina Nadya.
35 reviews
April 10, 2021
Djenar telah membawa gaya cerita yang mungkin hampir seragam, seperti perempuan, nafsu, kebebasan, hingga keluarga. Namun, yang saya rasakan dalam kumpulan cerpennya ini, setiap cerpen memiliki gaya kepenulisan yang berbeda dan ceritanya sangat heterogen. Entah kenapa, yang saya rasakan adalah energi saat Djenar menuliskannya, sampai dan terasa. Begitu sentimen dan sesak, kompleks tetapi dengan porsinya pas. Cerita pendek Djenar tidak pernah terlalu panjang pun terlalu pendek, semuanya pas dengan ending dan klimaks yang tidak dipaksakan. Kehebatan Djenar dalam bukunya kali ini adalah, tidak terlalu banyak hal-hal yang berbau simbolik, tetapi penggarapan karakter setiap cerita sangatlah matang dan kompleks. Bukan hanya sekali lewat dan hilang begitu saja. Saya merasa, Nayla adalah bagian dan kita semua...
Profile Image for Wahyudha.
444 reviews1 follower
September 6, 2023
Beberapa skripsi menjadikan kumcer ini sebagai bahan.Makanya tertarik.

Para tokohnya selalu bertemu dengan hubungan s**. Ada yang terpaksa ada yang jadi korban, ada juga yang ketagihan.Bukan berarti ini cerita tentang adegan-adegan begituan.

Tapi problema kehidupan. Orang-orang yang rata-rata di perkotaan, mencari pelarian. Rasanya problema yang menjadi sebab-musabab kejadian hubungan, ini relevan dan kelihatan. Paling tidak dari pengamatan dan pendengaran saya selaku warga.

Oh iya nama Nayla menjadi pujaan dan madona dalam kumcer ini. Saya sih kasian namanya terhubung pada kelakuan yang negatif.

Eh iya ada satu judul cerpen yang buat apa ada dan saya ga paham itu cerpen berjudul air mata hujan. Hanya 1 lembaran saja. Ah saya bukan sedang mendalami, biarkan saja. Keseluruhan cerita disini oke saja
Profile Image for Chels.
188 reviews3 followers
September 21, 2020
Ini adalah kali pertama saya membaca buku Djenar Maesa Ayu. Pada 56 halaman pertama, saya merasa kagum dengan diksi, rima, dan kisah tersiratnya. Untuk isu, sebenarnya masih agak tabu untuk saya, tetapi saya memaksa untuk membaca hingga tuntas. Menutup halaman terakhir, saya merasa seperti hampa. "Hah? Sudah begini saja?" Lantaran isi dari buku ini tak lebih dari perkara seks, selangkangan, betapa rendahnya wanita, narkoba, dan kekerasan.
Profile Image for Sophia Mega.
Author 4 books136 followers
April 2, 2018
Pembahasan yang satir dan mengungkapkan fakta memang menarik, secara singkat kita bisa tahu apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tapi terlalu hanya mengungkapkan di permukaan membuat lalu bosan dan itu-itu saja. Mungkin ini karakter cerpen, dan mungkin bukan buku ini yang saya cari: hanya menampilkan permukaan, tidak mendalam. Jadi saya kurang suka dengan Saia ini.
16 reviews
April 10, 2020
Dengan gaya bahasanya yang beraliran "Satra Wangi" yang sealiran dengan Ayu Utami, Djenar berhasil menceritakan sisi lain kehidupan dengan perspektif "sex". Sangat tidak direkomendasikan untuk dibaca anak dibawah umur mengingat banyak beberapa hal yang diceritakan masih dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.
Profile Image for Wiwit Astari.
35 reviews1 follower
January 11, 2022
Tulisan khas Djenar Maesa Ayu yang tepat sasaran, agak vulgar juga menggambarkan realita sosial yang terjadi khususnya terhadap perempuan. Pemakaian nama Nayla yang mungkin menggambarkan sosok ini bisa menjadi apa saja dan mewakilkan perempuan. Ceritanya menarik, menampar, juga rasa yang benar-benar tidak ditahan. Semua ceritanya unik dan ada beberapa yang terinspirasi dari lagu.
Profile Image for Afrizal.
5 reviews1 follower
August 23, 2017
Menurut saya cerita dalam buku ini merupakan kritik sosial yang dikemas dalam bentuk satire. Secara tidak langsung pembaca dipaksa untuk membuka mata terhadap bobroknya kehidupan sosial di negeri ini.
Profile Image for Dodi Prananda.
Author 18 books41 followers
January 25, 2018
Buku ini adalah titik terburuk karier kepenulisan Djenar Maesa Ayu. Terihat kelelahan, bahkan upaya menutupi monoton dalam hal tema dan gaya tutur tidak dapat menyelamatkan nasib buku ini. Meski begitu, aku tetap dukung kamu, Mbak Nay.
Profile Image for Firda Mahdanisa.
57 reviews5 followers
August 14, 2021
terlalu relevan dengan dunia yang busuk ini. terlalu real. aku mau menolak kenyataan yg disuguhkan lewat buku, tapi aku sadar ini sangat mungkin terjadi di sudut-sudut Indonesia. rasanya tersirap semua energi kalau udah baca huhu.
Profile Image for Aidi Aik.
48 reviews1 follower
February 28, 2021
Ini pertama kalinya aku membaca buku karya dari Djenar Maesa Ayu. Awalnya aku kaget, bahasanya agak vulgar. Tapi setelah aku baca lebih jauh, cerpen-cerpen ini menarik.
Profile Image for fia.
53 reviews1 follower
August 29, 2023
Not for a faint heart. I like the bluntness of storytelling this was, props.
Profile Image for Megawati Wahyuningsih.
58 reviews
May 23, 2023
This is my first time reading Djenar Maesa Ayu's book. I was excited because a friend of mine ever told me that her writing is good, and I have to try to read it.
I was shocked after reading the first page of the first story in this book, the words she choose were too vulgar. I thought it could turned to be like Eka Kurniawan's writing, a little bit vulgar but has a complex and strong storyline, so I continued my read. When I finished the first story, I realise it was written poetically. Almost all sentences end with the same syllable. Looks like the writer has great vocabulary and great sense of diction. The plot is pretty good and unpredicted with implicit moral values.
But when I continued my read, I disappointed. The whole book is poetically written. It's like The Law of Diminishing Return in economics, it was good at the beginning, but the more poetical writings you read, the less excitement you get. When you hit the highest bar, you started to be bored with this kind of writing. It wasn't special anymore. Things get worse when you realise that almost all of main character of each story is named Nayla. So monotonous!
I appreciate how Djenar escalate women's issues in this book, but I dont like how she execute it. I feel this women lost their power of choice, lost the will to fight for their selves. One of the main character even ended up commited suicide. As a woman, I don't feel empowered by this. It's not the kind of book that I like to placed in my bookshelf, not the kind of book I like to discuss with my children someday, just not my cup of tea.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Je.
35 reviews26 followers
October 4, 2016
Sesungguhnya saya tipe orang yang selalu menyelesaikan buku yang saya sudah saya mulai. Tapi dalam beberapa buku, saya kerap mengkhianati itu. Termasuk pada buku ini.

Percayalah, saya sudah berusaha keras memaksa untuk menyelesaikan buku ini, namun akhirnya saya harus melambaikan tangan juga di sekitar halaman 90an.

Saya tidak keberatan dengan tema yang diangkat yang kebanyakan membicarakan seks bebas, ketidakberdayaan perempuan, dan beberapa tema yang terbilang vulgar.

Yang saya tidak sukai adalah gaya menulisnya! Yang mana Djenar Maesa Ayu hampir di setiap paragrafnya menggunakan kesamaan rima a-a-a-a yang sering malah terlihat memaksa. Menurut saya hal ini malah merusak aliran kalimat dan ide yang disampaikan tidak tepat karena fokus penulis adalah membuat rima.

Mungkin penulis mengira hal itu akan menjadi kalimat yang indah, meski kenyataan berkata sebaliknya. Setidaknya menurut saya.

Untung saja mendapat buku ini dari tumpukan buku diskonan, kalau tidak barangkali saya sudah menyesali membuang-buang uang untuk buku ini.

Yang saya pertanyakan apa ini adalah gaya bahasa Djenar Maesa Ayu di setiap tulisannya? Kalau iya, saya bisa pastikan tidak akan membaca tulisannya lagi sekalipun mendapat di tumpukan buku murah.
Profile Image for Levinia Aldora.
91 reviews3 followers
January 28, 2016
Kumpulan cerpen ini cukup memuaskan sebagai karya Djenar pertama yang saya baca. Emang nggak semuanya saya suka, tapi setiap cerita menurut saya punya warna dan uniknya masing-masing.

Cerita-cerita Djenar itu ternyata emang vulgar dalam level yang cukup tinggi, tapi menurut saya dia berhasil mengemasnya hingga nggak terkesan bitchy kayak beberapa novel vulgar lain yang pernah saya baca, dan malah jadi artistik dan meninggalkan kesan tersendiri saat dibaca. Dan saya suka penggunaan nama 'Nayla' di setiap cerpen di buku ini, dan sepertinya bukan cuma di buku ini saja, yah(?)

Beberapa cerita seperti Mata Telanjang, SAIA, dan Sementara menurut saya bagus banget, tapi cerita-cerita yang lain akhirnya membuat saya memutuskan untuk cuma kasih 3 bintang ke kumcer ini. Tapi overall, kumcer ini nggak membuat saya hilang keinginan untuk baca novel-novel Djenar yang lain.

"Air dapat memelukmu, tapi tak akan membelenggumu. Air dapat pantulkan cahayamu, tapi tak dapat jadikanmu nyata."
Profile Image for upiqkeripiq.
79 reviews4 followers
May 28, 2014
saya kok merasa sebagian cerita agak dipaksakan ya? 
ya semoga perasaan saya salah.

beberapa cerita membuat saya gelisah. terlalu menakutkan untuk meng-iyakan bahwa entah dimana, jauh di sebuah tempat yang tidak kenal atau bahkan di lingkungan sekitar kita, cerita yang sedang saya baca ini adalah sebuah realita. perasaan takut itu bisa digambarkan seperti perasaan enggan untuk tidur karena takut akan bermimpi buruk. akan tetapi pada akhirnya... mau tidak mau, kita pun tertidur...


jadi apa kesimpulannya? kalo mbak Djenar banyak terinspirasi dari lagu-lagu float pada cerita ini. ijinkan saya menyampaikan kesimpulan pendapat pribadi saya setelah selesai membaca buku ini lewat sebuah lagu juga. lagunya berjudul 100% kontrol ciptaan The Brandals (sekarang sudah berganti nama menjadi brndls).


nb: cuplikan puisinya banyu bening bagus :)
Displaying 1 - 30 of 54 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.