Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dua Saudara

Rate this book
Sejak kecil Subhash selalu berhati-hati. Ibunya tak pernah harus berlari mengejarnya. Dia menjadi sahabat sang ibu, melihatnya memasak atau menjahit.

Berbeda dengan Subhash, Udayan sejak kecil sering menghilang, bahkan di dalam rumah berkamar dua tempat mereka tinggal. Dia bersembunyi di bawah tempat tidur, di belakang pintu, bahkan di dalam peti kayu yang berisi selimut musim dingin. Dia juga menyelinap ke halaman belakang dan memanjat pohon. Ini membuat ibu mereka terpaksa menghentikan apa yang sedang dikerjakannya ketika Udayan tak menyahut saat namanya dipanggil.

Ketika mereka sudah agak besar dan diijinkan bermain jauh dari rumah, keduanya diingatkan untuk selalu bersama-sama. Berdua mereka menjelajahi jalan pedesaan yang berliku-liku, melintasi lembah menuju lapangan bermain, tempat mereka sesekali bertemu dengan anak-anak lainnya. Mereka pergi ke masjid di pojokan, duduk di lantai marmernya yang dingin, mendengar pertandingan sepak bola dari radio orang.

Namun orang-orang sering keliru membedakan keduanya. Karena tubuh mereka hampir mirip hingga bisa memakai baju yang sama. Warna kulit keduanya pun sama, campuran warna tembaga terang turunan dari orang tua mereka. Begitu pula dengan bentuk jari, roman wajah yang tajam, dan rambut keriting berombak.

Namun kelak nasib keduanya ternyata begitu bertolak belakang!

Jhumpa Lahiri adalah seorang penulis cerita pendek terbaik yang pernah saya baca.
- Amy Tan, penulis The Joy Luck Club

Lahiri adalah seorang penulis dengan pandangan yang tajam dan kuat.
- Frederick Busch, penulis Amerika yang dijuluki a Master of the Short Story

68 pages, Paperback

First published June 10, 2010

6 people are currently reading
1607 people want to read

About the author

Jhumpa Lahiri

109 books14.7k followers
Nilanjana Sudeshna "Jhumpa" Lahiri is a British-American author known for her short stories, novels, and essays in English and, more recently, in Italian.

Her debut collection of short-stories, Interpreter of Maladies (1999), won the Pulitzer Prize for Fiction and the PEN/Hemingway Award, and her first novel, The Namesake (2003), was adapted into the popular film of the same name. The Namesake was a New York Times Notable Book, a Los Angeles Times Book Prize finalist and was made into a major motion picture.

Unaccustomed Earth (2008) won the Frank O'Connor International Short Story Award, while her second novel, The Lowland (2013) was a finalist for both the Man Booker Prize and the National Book Award for Fiction.

On January 22, 2015, Lahiri won the US$50,000 DSC Prize for Literature for The Lowland. In these works, Lahiri explored the Indian-immigrant experience in America.

In 2012, Lahiri moved to Rome, Italy and has since then published two books of essays, and began writing in Italian, first with the 2018 novel Dove mi trovo, then with her 2023 collection Roman Stories. She also compiled, edited, and translated the Penguin Book of Italian Short Stories which consists of 40 Italian short stories written by 40 different Italian writers. She has also translated some of her own writings and those of other authors from Italian into English.

In 2014, Lahiri was awarded the National Humanities Medal. She was a professor of creative writing at Princeton University from 2015 to 2022. In 2022, she became the Millicent C. McIntosh Professor of English and Director of Creative Writing at her alma mater, Barnard College of Columbia University.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
52 (31%)
4 stars
69 (42%)
3 stars
36 (22%)
2 stars
4 (2%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 20 of 20 reviews
Profile Image for Richard Tattoni.
18 reviews2 followers
Read
August 29, 2018
The brothers at the golf club takes a horrific turn when they’re caught by the policeman and punished. It’s a story told in third-person narrative and the perspective takes an outside view of society. The brotherly relationship is shown in different ways throughout the story. I found the secondary character of Richard interesting during a time of protest during the Vietnam War. This story is also about a growing movement of terrorism in India. This story is much like the “good” brother and the “bad” brother. It would be very interesting to hear modern transmissions of All India Radio. However, when the terrorist brother is killed, the story takes a dramatic turn. The widow, unborn baby and mysterious killing consume the rest of the story with a sad tone of almost a quality of non-fiction.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Sena.
522 reviews69 followers
February 26, 2019
The dynamic between the two brothers was super interesting!
Profile Image for Nanny SA.
343 reviews41 followers
August 19, 2014
Cerita berkisah tentang kehidupan satu keluarga di Tollygunge , Calcuta India sekitar tahun 1940 an - thn 1960 an. Di era feodal sampai pengaruh komunis menyebar ke India.
Subash dan Udayan adalah kakak beradik yang umurnya tidak berselisih jauh, sejak kecil kemanapun mereka pergi selalu berdua , baik ke sekolah atau pergi bemain, seperti anak kembar mereka tak pernah berpisah. Walaupun selalu bersama meraka mempunyai sifat yang berbeda:
Subash sang kakak seorang yang penurut tehadap orang tua dan sikapnya selalu berhati-hati.
Udayan, berbeda dengan kakaknya dia sering menghilang membuat ibunya kerepotan menacari,dia anak yang pemberani.
Udayan dengan sifat pemberaninya sering menjadi pengambil keputusan apa yang akan mereka lakukan dia jugak kerap membela kakaknya bila terjadi keributan atau ketika dimarahi ayahnya.
Meskipun berbeda sifat mereka mempunyai penampilan yang hampir sama, tubuh yang sama besar, warna kulit pun sama campurab warna tembaga terang turunan dari orang tua mereka, roman wajah yang tajam dan rambut keriting berombak sehingga orang sering tertukar membedakan mereka.
Dalam pendidikan mereka termasuk anak yang pandai dan diterima di dua universitas terbaik di kota. Hal ini sangat membanggakan kedua orang tua mereka yang tidak berpendidikan tinggi.
Karena mereka kuliah di universitas yang berbeda intensitas pertemuan mulai berkurang, masing-masing memiliki teman dan pergaulan yang berbeda.
Thn 1967 paham komunis mulai menyebar di India. Rupanya Udayan tepengaruh dengan paham ini dan mulai menentang ayah serta gurunya.
Udayan mendapatkan pekerjaan sebagai pengajar di sekolah teknik dekat Tollygunge kota asalnya, dia tak tertarik untuk mengembangkan karirnya. Sedangkan Subash memutuskan untuk mengambil program Ph.D.di Amerika. Subash berangkat ke Amerika salah satu alasannya karena desakan Udayan untuk tetap tinggal di India,dan Ubash merasakan ini adalah sebuah perintah seperti biasa dari udayan,dan Subash tidak ingin mengikutinya.
Subash menikmati hidupnya di Amerika, Udayan kerap mengirimi surat dan memberitahu bahwa dia telah menikah tanpa restu orang tua keduabela pihak. dan terakhir ada tilgram untuknya yang memberitahukan bahwa Udayan telah mati terbunuh. Tentu saja Subash harus pulang ke India dan mendapati suasana yang berbeda, Apakah benar dulu Udayan ingin dia tetap tinggal atau itu adalah caranya agar Ubay cepat pergi dan terhindar dari bahaya itulah yang jadi pertanyaan Subash dan bagaimana pula pertemuannya dengan Gauri, istri lamarhum Udayan..Sila membacanya sendiri..

--------------------

Saya sangat menikmati tulisan Jhumpa lahiri, cara menggambarkan tempat dan karakter tokoh membuat kita dapat membayangkan semuanya. Walaupun ceritanya sederhana tapi sangat menarik , sayang bukunya sangat tipis jadi membacanya teras belum terpuaskan.
Tentu saya tidak akan menolak membaca buku Jhumpa Lahiri yang lainnya.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
January 20, 2014
Dua Saudara adalah salah satu cerpen karya Jhumpa Lahiri. Beliau adalah penulis Amerika keturunan India yang pernah mendapatkan penghargaan Pulitzer untuk Fiksi tahun 2000 atas karya debutnya Intrepeter of Maladies. Dalam cerpen ini, dia juga berkisah tentang dua orang bersaudara yang dilahirkan di India, bernama Subhash dan Udayan. Beda usianya hanya 15 bulan, dengan Subhash yang lahir terlebih dahulu. Keduanya sangat mirip sehingga seringkali dikira sebagai anak kembar. Apalagi keduanya bersekolah di tingkat yang sama.

Di masa kecil hingga remaja, terlihat Udayan lebih unggul dibanding kakaknya. Ketika kakaknya meminta hadiah kotak catur, Udayan memilih hadiah sebuah radio. Udayan selanjutnya tertarik dengan elektronika dan kelistrikan. Radio inilah yang kemudian memperkenalkan Udayan kepada dunia politik. Ketika mereka beranjak dewasa dan selesai menamatkan jenjang sarjana, mulai terlihat jalan pilihan mereka yang berbeda. Udayan memilih terjun ke dunia politik, sementara Shabash memilih pergi ke Amerika melanjutkan pendidikannya di bidang Kimia.

Perpisahan mereka sempat membuat keduanya berjauhan, baik dalam arti jarak sebenarnya maupun hubungan mereka. Di Amerika Shabash mendengar bahwa adiknya ikut dalam gerakan anti perang, memimpin massa untuk melakukan demonstrasi. Shabash bukannya tidak memahami, hanya saja dia memilih tidak mengambil pusing. Hingga suatu hari telegram datang mengabarkan kematian adiknya.

Mengambil setting tahun 1970-an, Jhumpa Lahiri mencoba mengangkat tentang pilihan hidup dua bersaudara. Perang revolusi membawa perubahan bagi kedua bersaudara ini. Bukan hanya jalan hidup mereka, tetapi juga cara kedua orang tua mereka menyikapi anak-anaknya. Shubash yang memilih jalan “aman” menjadi kesayangan keluarga, meski berada jauh dari keluarganya. Sementara Udayan yang senantiasa berada di India dianggap melakukan pemberontakan bukan hanya bagi negara, tapi juga bagi adat istiadat. Pasalnya Udayan memilih sendiri istrinya, hal yang tidak lazim dimana istri adalah hadiah orang tua bagi anaknya.

Saya sempat kesulitan membaca cerpen ini dikarenakan tidak ada tanda baca berupa tanda petik yang menandakan kalimat itu berupa percakapan atau bagian dari paragraf biasa. Namun saya senang bisa mengenal karya Jhumpa Lahiri. Meski tipis dan murah (konon harga buku ini hanya Rp. 15,000 dan cuma bisa dibeli secara online), tapi isinya jelas tidak ringan.
Profile Image for Ira Booklover.
691 reviews46 followers
January 17, 2015
Jadi teringat sama kisah The Almond Tree by Michael Cohen Corasanti. Tentang dua saudara yang terlibat konflik di negaranya. Awalnya mereka tidak terpisahkan. Tapi perbedaan pendapat mereka tentang konflik mengakibatkan keduanya berpisah. Meskipun begitu, yang namanya saudara tetap saudara. Mereka tetap saling menyayangi meskipun terdapat perbedaan pemikiran yang begitu besar.

Yah, kira-kira begitulah yang bisa saya tangkap dari cerita ini. Dua bersaudara dari Calcutta, Subhash dan Udayan, selalu bersama sejak kecil, begitu mirip sampai orang sering kali salah mengira. Subhash si kakak yang patuh dan penurut dengan orang tua sehingga terkesan penakut, dan Udayan si adik yang lebih muda 15 bulan yang agak sedikit bandel namun pemberani.

Nah, mereka berdua tidak terpisahkan sampai sebuah konflik di tahun 1970-an yang terjadi di wilayah tempat tinggal mereka. Menurut Udayan, Subhash sama sekali tidak peduli tentang apa yang terjadi di negara mereka. Sedangkan menurut Subhash, kelakuan Udayan yang menentang pemerintah bisa membahayakan keluarga mereka.

Subhash berusaha membujuk Udayan untuk melanjutkan sekolah mereka ke Amerika dan melupakan konflik yang terjadi. Sedangkan Udayan berusaha membujuk Subhash untuk tetap tinggal di India dan berjuang dalam perang. Karena sama-sama ngotot, mereka pun berpisah. Subhash tetap ke Amerika sedangkan Udayan tetap di India.

Meskipun begitu, mereka tetap berkirim surat. Subhash mulai merasa tenang karena surat-surat adiknya tidak lagi menceritakan tentang aktivitasnya di dunia politik. Subhash mulai berpikir untuk tinggal lebih lama di Amerika. Sampai sebuah surat datang, yang isinya memaksa Subhash untuk segera kembali ke India.

Nah, cerita ini lumayan membuat hati saya nge-jleb. Kalau saja bukunya lebih tebal saya pasti bakalan nangis bombay. Untung bukunya tipis dan kata-katanya kurang bisa dicerna oleh otak saya. Saya juga kesulitan memahami kalimat-kalimat terakhir di ending-nya. Meskipun sudah saya baca berulang kali, saya tetap tidak mengerti. Astaga, saya rasa otak saya saat ini sedang bebal-bebalnya.

At last, saya tetap memberikan 3 dari 5 bintang untuk buku ini. Sedikit banyak, saya dapat feel ceritanya, setidaknya tentang dua saudara yang tetap saling menyanyangi meskipun berbeda pemikiran dan terpisah jauh. So, I liked it.
Profile Image for Nana.
405 reviews27 followers
December 25, 2014
Aiiiiihh....
Nyebelin yaaa akhirnya ngambangggg!!!!

Ini semacam pasca G30S PKI di Indonesia kali ya? Di mana banyak orang diciduk dan dihilangkan hanya karena beda cara pandang. Cuma ini di India.
Nggak terlalu familier dengan sejarah India, cuma tahu Mahabharata *dikeplak* *liburan harus banyak browsing soal ini biar bisa bikin review yang ciamik!*

Terjemahannya menurutku kurang mengalir dan banyak kalimat yang aneh, jadi mengurangi penghayatan. Tapi lumayan nangkep rasanya memiliki anggota keluarga yang kita sayang tapi ternyata memiliki cara pandang yang berbeda dengan kita, bahkan cenderung ekstrem. Hmm...
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
March 22, 2014
stlh kmrn 'termehek-mehek' #eh sama novelet demi esme, kali ini baca yg lbh seleraku.

Dua Saudara ini bercerita ttg 2 orang kakak beradik yg saat kecil sangat erat, tp saat dewasa memiliki pandangan hidup dan pandangan politik yg sangat berbeda. dengan setting calcutta saat pergerakan kekuasaan inggris-india-pakistan-bangladesh, pengaruh marxis dari cina, sekaligus menyentil soal tempat perempuan di masyarakat. padat berisi tapi tetap humanis.

jadi berniat bongkar timbunan nyari intepreter of maladies yg sdh tertimbun entah di mana....
Profile Image for Pris.
451 reviews38 followers
January 17, 2015
Buku ini, bersama tiga buku lainnya, dibeli online dari penawaran Paket Buku Sastra Terjemahan dari penerbitnya BukuKatta, empat buku itu totalnya 45 ribu saja (belum ongkir). Ternyata per bukunya halamannya termasuk tipis jadi ya harga semurah itu wajar hehe.

Ceritanya sendiri sebenarnya aku kasih bintang lima. selalu suka sekali sama kisah tenang saudara, keluarga, sama pencarian jati diri macam ini :" cuma ya itu, bintangnya terpaksa dikurangi satu karena bukunya benar-benar tipis, kurang puas masih pingin baca lebih :D
Profile Image for Truly.
2,770 reviews13 followers
January 1, 2014
Subhash
Udayan
Kakak-adik
Tubuh mereka serupa, namun tak sama
Begitu juga dengan perilaku dan nasib

Subhash
Selalu berhati-hati
Sifatnya tenang
Menjadi sahabat sang ibu
Mematuhi orang tua adalah kewajiban baginya
Mendapat hadiah papan catur
Saat diterima kuliah Ilmu Kimia di Jadavpur
Selalu pulang ke rumah lebih dulu
Memutuskan sekolah lebih lanjut di USA



http://trulyrudiono.blogspot.com/2013...
Profile Image for Lila Cyclist.
858 reviews71 followers
December 28, 2014
Buku tentang dua saudara, Subhash dan Udayan. Subhash yg tenang dan tekun, dan Udayan yang berani dan nekad.

Subhash memilih melanjutkan pendidikannya di Amerika ketika politik India bergolak, Udayan memilih terjun menjadi bagian partai yg memuja Mao Tse Tung.

Subhash memilih menunggu orangtuanya memilihkan jodoh untuknya, Udayan memilih jodohnya sendiri tanpa persetujuan orangtuanya sendiri dan orangtua istrinya.
Profile Image for Ria.
113 reviews
Want to read
November 2, 2014
3 bintang aja dulu... soalnya saya kurang puas dengan jumlah cerpen halaman buku ini. kenapa cuma segini ? -____-
Profile Image for Rein .
200 reviews2 followers
June 3, 2014
Great short story, on the site of The New Yorker
Profile Image for Irena.
404 reviews94 followers
August 22, 2015
My first encounter with Lahiri and an amazing one.
Perfect, powerful ending to an amazing novelette.
Displaying 1 - 20 of 20 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.