Edwin: belum pernah punya cewek. Rahasia: suka bikin puisi, nulis buku harian, sering nangis pas nonton film drama. Masalah terbesar: naksir Julia, cewek cerdas reporter buletin sekolah. Padahal nggak ada kan cewek yang naksir cowok "lembek" macam dia?
Thomas: jenius, bermoral tinggi, antinyontek. Masalah terbesar: kuper. Keinginan terbesar: jadi cowok "normal" yang suka nyontek, berkelahi, pernah nyium cewek, dan punya banyak teman.
Rifa: si bengal yang pinter masak. Tap apa enaknya pinter masak kalau kamu cowok? Malah malu-maluin aja! Masalah terbesar: orangtuanya bermata sipit dan berkulit kuning, sementara dia bermata besar dan berkulit gelap. Pertanyaan terbesar: apakah keluarganya benar-benar mencintainya?
Dicky: Don Juan paling cakep di sekolah. Nggak ada cewek yang nggak menggelepar bila melihat tatapan mata dan senyuman cool-nya. Masalah terbesar: kenapa Julia yang biasa banget itu nggak naksir dia?
Bisa dibayangkan nggak keempat cowok itu gabung dalam satu geng? Masalahnya jadi runyam banget. Tapi dijamin nggak bakal bikin kening berkerut karena novel ini diramu dengan gaya bahasa yang nge-teen abis! Lucu, heboh sekaligus mengharukan! Mau bukti? Baca aja!
Menceritakan tentang 4 cowok yang berbeda karakter yang bersatu menjadi sebuah gang yaitu Edwin, Thomas, Dicky, dan Rifai. Berawal saat Thomas memberi contekan kepada Dicky yang playboy, padahal Thomas cowok anti contek menyontek. Sejak kejadian itu Thonas sering memberi contekan kepada teman-teman sekelasnya, ini karena dia ingin punya teman tidak hanya Edwin yang lembek, Edwin suka dengan Yulia, tapi Dicky juga suka dengan Yulia dan Dicky ditolak Julia, lalu dia mendekati Sara teman Yulia. 2 minggu lagi SMA mereka akan bertandimg sepakbola melawan SMA Widya musuh bebuyutan mereka. Beberapa hari sebelum pertandingan banyak sekali kejadian diantara mereka, Rifai seorang koki di rumah makan keluarganya, dia anak angkat dari keluarga Tionghoa dan dia beranggapan keluarganya tidak menyayanginya. Rifai ingin memodifikasi motor Tigernya oleh Thomas dan Edwin tngtn bisa naik motor karena tngtn membonceng Julia saat berangkat ke pertandingan. Saat pertandingan sepak bola, nereka kalah dari SMA Widya, dan saat itu juga Sarah nengetahui bahwa Dicky hanya mempermainkannya saja. Sarah berlari dan tidak sengaja menabrak Thomas, sejak saat itu mereka menjadi teman akrab. Beberapa hari setelah pertandingan , Dicky dan kawan-kawan tawuran dengan anak-anak SMA Widya, alasannya cewek-cewek SMA Dicky digoda oleh anak-anak SMA Widya. Saat mereka salong adu jotos, polisi datang. Thomas dibonceng Rifai, mereka melaju dengan motornya. Lalu moter Rifai selip dan merekapun jatuh. Dicky matanya lebam terkena stang motor saat melarikan diri daro polisi, Edwin tidak terkena apapun, Thomas dahinya berdarah sedangkan Rifai opname dangat lama dan Orang tua Rifai sangat sedih. Ketika Rifai sadar dari opname, dia melihat orang tuanya menangts. Rifai akhirnya sadar bahwa keluarganya sangat mencintainya. Dan saat itu teman-temanyapun mengetahui keluarga Rifai. Dan untuk pertama kalinya, teman-temannya datang ke rumahnya dan juga mencicipi masakan Rifai.
Gaya ceritanya bener-bener Ken Terate banget, setelah kemarin habis membaca ‘90 Hari mencari suami’, yang menurutku itu "kurang ken terate", kemudian baca ini dan kembali merasakan ciri khas penulis. kehidupan remaja yang blak2an, sangat relatable, dan penutupnya manis dan ada pesan moralnya
Judul : Join The Gang Penulis : Ken Terate Tahun : Cetakan kedua, Maret 2006 Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Tebal : 216 halaman
Bercerita tentang persahabatan antara Thomas,Edwin,Dicky dan Rifai.Dari novel ini kita bisa mengetahui gimanasih cowok melewati masa-masa SMAnya dengan karakter cowok yang berbeda-beda: Edwin : belum pernah punya cewek. Rahasia : suka buat puisi, nulis buku harian, sering nangis pas nonton film drama. Masalah terbesar : naksir Julia, cewek cerdas reporter bulletin sekolah. Pahal nggak ada kan cewek yang naksir cowok “lembek” macam dia? Thomas : jenius, bermoral tinggi, antinyontek. Masalah terbesar : kuper Keinginan terbesar : jadi cowok “normal” yang suka nyontek, berkelahi, pernah nyium cewek, dan punya banyak cewek. Rifai : si Bengal yang pinter masak. Tapi apa enaknya pinter masak kalau kamu cowok? Malah malu-maluin aja! Masalah terbesar : orangtuanya bermata sipit dan berkulit kuning, sementara dia bermata besar dan berkulit gelap Pertanyaan terbesar : apakah keluarganya benar-benar mencintainya? Dicky : Don Juan paling cakep disekolah. Nggak ada cewek yang nggak menggelepar bila melihat tatapan mata dan senyum cool-nya. Masalah terbesar : kenapa Julia yang biasa banget itu nggak naksir dia? Bisa bayangin nggap keempat cowok itu gabung dalam satu geng? Masalahnya jadi runyam banget. Tapi dijamin nggak bakal bikin kening berkerut karena novel ini diramu dengan gaya bahasa yang nge-teen abis! Lucu, heboh sekaligus mengharukan!
"Ternyata hidup adalah hidup dan pisau tetaplah pisau. Kamu bisa saja berusia tujuh belas, tampan dan pintar, tapi tidak ada gunanya kalau ada pisau yang masuk ke jantungmu."
Okay, dari empat buku Ken Terate yang saya baca : ini adalah favorit saya. Mengapa? karena ada 4 karakter di sini dan penulis berhasil membuat karakter yang khas pada keempat-empatnya. Ada perbedaan font tiap kali berganti bab, namun tanpa font yang berbeda pun saya bisa merasakan siapa yang berbicara dalam bab tersebut. Problema anak remaja yang terasa klise tapi begitulah adanya, berat buat mereka jalani. Poin plus lain adalah : penulis seorang perempuan namun bisa menjiwai diri remaja laki-laki.
Sama seperti buku Ken Terate yang lain, alur cerita maupun gaya bahasa buku ini semuanya sederhana, gak dibuat buat serta selalu membuat aku betah baca dari awal sampai akhir. Padahal dia ambil resiko mati matian kan, bikin cerita dari POV empat orang berbeda, cowok semua lagi! Yaaa, tentu aja ya pikiran cowok cowok itu menurut aku gak akurat banget, tapi ya okelah gak terlalu masalah kekurangan yang itu.
I like the fact that Ken always does her researches before embarking in a writing project. It shows in her writing. Unfortunately, the main protagonists in this book (four, all male) feel like girls trapped in male bodies. It's like, Ken is giving the guys her voice, and it's rather a turn off for me. I like her previous book much better.
Dulu baca buku ini pas masih SMA. Inget banget baca buku ini sambil nunggu waktu les Bahasa Jepang. Ya ampun, sudah sekitar 6 tahun yang lalu =_=
Masih ingat ceritanya, masih lumayan ingat sama karakter-karakternya. Jujur bintang 5 ini lebih karena saya ingat saya suka bukunya pas baca dulu. Kalau baca sekarang, hmm... gak tahu juga sih.
bukunya mbak ken yang pertama aku baca sewaktu masih sma. dan kesan yang tertinggal begitu kuat. aku suka edwin yg lugu, thomas yg pinter tapi juga cupu, dicky yang playboy, rifai yang sangar tp berhati lembut... rasanya seperti membaca teenlit2 luar kayak seri mates, dates... looking for alibrandi... yah, beda sih kan tokoh utamanya cowok. tapi rasa-rasanya serenyah itu :)
Buku saya yang ini hilang di pinjam teman... saya tahu saya ngga nyambung, tapi tetap aja menyesakkan karena akhirnya saya menemukan buku yang cowok banget padahal yang menulis perempuan! Ampun deh! Bahasanya cowok abis, karakternya tergambarkan sempurna tapi ada gary stue di masing masing orang ditambah dengan tema persahabatan,satu kata untuk Ken, keren banget!
Sejauh ini, Join The Gang adalah buku Ken Terate favorit saya. Bahasanye enak diikutin, narasinya mengalir dan menghibur. Pergantian POV-nya juga terasa, gak sekadar dibuat-buat. Bener-bener keren. :)
Ya ampun isi buku ini apa ya? Perasaan pernah baca deh waktu SMA. Dan karena aku jarang-jarang lupa isi buku (kecuali buku Fisika Universitas dan buku pelajaran lainnya), berarti waktu itu aku gak terlalu terkesan
lumayan lah... tp rada gemes soalnya tiap ada yg ngomong selalu dikomentarin panjang lebar. jd bkn nyimak ceritanya malah nyimak komentarnya itu. jd aslinya gw gk masuk ke ceritanya.