Buku karya Takashi Shiraishi ini mengupas kemunculan pergerakan rakyat Indonesia selama awal hingga perempat abad ke-20. Aksi-aksi pergerakan yang terekspresikan melalui penerbitan surat kabar, karya sastra, pembentukan perkumpulan, rapat-rapat umum, dan demonstrasi menandai momen saat orang Indonesia mulai memandang dunia mereka secara baru. Politik Indonesia modern sekaligus cikal bakal nasionalisme Indonesia dapat dirunut ke masa-masa ini.
Lewat penggalian kepustakaan yang luas dan mendalam, Shiraishi mengkaji asal-mula dan evolusi pergerakan. Secara khusus ia menyuguhkan uraian yang memukau tentang pergerakan di wilayah Surakarta dengan menyoroti kemunculan dan kejatuhan sejum- lah perhimpunan politik—termasuk Sarekat Islam, Insulinde, National-Indische Partij, Partai Komunis Indonesia, dan Sarekat Ra’jat—serta pemikiran dan aksi tiga tokoh pergerakan yang amat menggugah: Marco Kartodikromo, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Haji Mohammad Misbach.
“Buku yang memukau […] Shiraishi berhasil menerjemahkan data empiris penting terkait perjuangan emansipasi menjadi drama sejarah. Kemunculan awal kesadaran nasional serta aksi dan protes anti-kolonial dihidupkan melalui sejumlah kisah hidup dan pengalaman beberapa tokoh perintis.” — Fritjof Tichelman
“Buku yang penting, bukan hanya bagi ahli-ahli Asia Tenggara, tetapi juga bagi studi perbandingan tentang perubahan ideologi […] Shiraishi dengan gamblang memper- lihatkan bagaimana ideologi pergerakan kemerdekaan itu lahir dari pengalaman dan pikiran orang biasa.” — Ruth McVey
"“Apa itu pergerakan?” Inilah yang dicoba dijawab oleh Takashi Shiraishi dengan cara yang unik dalam bukunya Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Penulisannya yang khas sebagaimana peneliti-peneliti Jepang menunjukan kedetailan yang luar biasa dan tidak terjebak oleh klasifikasi sosiologis dan ideologis yang dianggapnya “serampangan” dalam kepenulisan sejarah nasional ortodok.
Takashi mengambil fokus penelitian historisnya pada periode pergerakan yang terjadi di Surakarta dan sekitarnya---termasuk Semarang dan Jogjakarta---pada tahun 1912-1926. Periode tersebut dijadikan fokus penelitiannya karena pada masa itulah “embrio” pergerakan yang meningkatkan kesadaran nasional mulai terbangun dalam bentuknya yang lebih modern, yaitu organisasi. Namun demikian, Takashi tidak memfokuskan diri pada “pergerakan organisasi” itu sendiri, tapi lebih menekankan bagaimana seorang individu pelaku pergerakan berpikir, menulis dan berkata serta bertindak sebagai orang pertama. Alhasil dari cara pendekatan seperti itu, Takashi mampu mendeskripsikan makna pergerakan dari sudut pandang individual yang unik. Dimana mereka—sang pelaku sejarah---selalu mencoba mencomot, memungut dan menyusun ulang pemikiran atau ide-ide yang diperoleh dari bermacam gagagasan---Sosialisme Marx dan Islamisme---untuk memaknai tindakan mereka dalam memperjuangkan dunia yang sepenuhnya baru, yaitu Indonesia/Hindia.
Inilah yang menarik. Aktivisme yang demikian menunjukan bahwa pergerakan politik selalu membutuhkan landasan ideologis bagi suatu upaya perjuangan imajinasi tentang sebuah bangsa yang merdeka. Suatu konteks periode yang sangat pas dengan semangat zaman yang muncul dimasa itu. Dimana Sosialisme komunisme berjaya di negeri asalnya Uni Soviet, kemudian di sisi lain, partai liberal Belanda sedang berkuasa dan semangat politik etis pun baru saja dimulai. Alhasil, hal ini memberi semacam pupuk bagi tumbuhnya semangat perjuangan dengan cara modern sehingga mampu menyuguhkan suatu narasi yang dinamis akan makna pergerakan. Hal itu bisa dilihat dimana pers berperan penting sebagai alat propaganda pergerakan. Yang dimulai oleh seorang Tirtoadhisoerjo (1880) yang sejak tahun 1903 menerbitkan Koran sendiri (Medan Prijaji, Potri Hindia dan lainnya), mendirikan Sarekat Prijaji dan Sarikat Dagang Islamijah, serta membuka bisnis hotel dan biro bantuan hukum. Sehingga R.M Tirtoadhisoerjo menjadi semacam archetype bagi pemimpin pergerakan pada masa berikutnya. Kemudian pada bulan Mei tahun 1908 organisasi Boedi Oetomo dibentuk.
Tak lama setelah itu, SI/SDI muncul. Berawal dari organisasi ronda untuk menjaga keamanaan di lingkungan pengusaha batik, SI kemudian menjadi wadah masyarakat Islam Hindia terbesar dengan bermacam individu yang memiliki karakter dan latar belakang masing-masing. Dari bermacam karakter dan latar belakang itulah, kemudian, SI menjadi semacam arena bagi pertarungan gagasan/ide dalam menafsirkan bagaimana seseorang seharusnya berjuang menjadi “satria sejati”.
Yang menarik lagi, bagaimana Takashi membagi plot-plot waktu perjalanan sejarah berdasar analisa situasi politik dan ekonomi. Tentang bagaimana situasi ekonomi yang dipengaruhi siklus bisnis mampu memicu radikalisme yang juga naik turun. Ketika periode inflasi tinggi, protes buruh semakin radikal. Sebaliknya, ketika kebijakan represi dilakukan, kondisi politik semakin ‘tenang’. Jadi, ada semacam ‘kebetulan’ yang kemudian dimanfaatkan oleh agen-agen propaganda pergerakan untuk memaknai situasi tersebut. Tema lain yang barangkali mendominasi narasi buku ini ialah tentang bermacam pertentanngan personal yang dibungkus dengan bahasa yang bersifat ideologis. Walaupun seperti itu, Takashi dengan jeli menganalisis perkataan tertulis dalam arsip-arsip dengan cara yang memikat. Mencoba memaknai dan memahami maksud dari sang aktor secara hati-hati. Semisal pertentangan antara Marco Kartodikromo dengan Tjokroaminoto, Semaoen dengan Soerjopranoto yang dipandang sebagai pertentangan antara kelompok komunis dengan pengurus SI pusat, seorang mubalig radikal beraliran Marxis, Misbach, melawan Syeitan Kapitalisme (yang dimaksud ialah Moehamdyah), antara Tjipto Mangoenkoesoemo dengan kelompok Boedi Oetomo, Kesunanan dan Mangkunegaran.
Walaupun demikian, ada yang terasa kurang dari buku ini. Tiadanya foto-foto dokumentasi sejarah yang tidak dilampirkan membuat sulit pembaca untuk meng-imajinasi-kan sosok yang digambarkan oleh sang penulis
"Misbachlah yang mengingatkan kita akan kesalahan klasifikasi nasionalisme, Islam, dan komunisme itu dan memperingatkan kita akan pandangan nasionalis yang serampangan itu."
Membaca buku ini seperti berdialog dengan orang-orang hebat tempo dulu. Aku jadi bertanya, mungkinkah mengulangi kehebatan orang-orang pemberani tersebut pada jaman ini?
Penjabaran oleh Pak Takashi lumayan eksplisit dibuku ini melihat beberapa tokoh yg di utarakan (tokoh Misbach sangat menarik perhatianku selama membaca buku ini), pergerakan para tokoh2 penting dan juga sisi agraria kala itu. Jadi belajar juga sisi feodalisme nya sosok Tjokroaminoto yg lumayan harum oleh masyarakat non-Jawa. Buku yang padat melihat sisi Surakarta yg menjadi satu-satunya pusat pergerakan di mana semua kekuatan sosial—pangeran dan bangsawan Jawa, pegawai bumiputra, borjuasi bumiputra, intelektual bumiputra berpendidikan Barat, orang2 Islam dg pendidikan pesantreb, tukang, buruh, tani, orang2 Indo, Cina, pegawai administrasi Belanda dan pengelola perkebunan Belanda—bergabung dlm pergerakan atau menjadi musuhnya. 🪔
"Pergerakan merupakan suatu proses 'penerjemahan' dan 'pencomotan' yang kompleks dan dinamis'....Namun demikian , proses dinamis dari upaya penerjemahan ini sebenarnya lebih dari sekedar bangkitnya kaum pribumi, bahkan sesungguhnya merupakan sesuatu yang revolusioner" Hal 470-471 Sungguh buku yang amat mengesankan. Membaca buku ini kita seolah diajak berdialog pada masa ketika 'pergerakan' menjadi sel yang amat aktif dan radikal dalam sejarah perjalanan bangsa Indoensia sebelum Indonesia menemukan jati dirinya sebagai sebuah bangsa. Diawali menjelaskan "arena" yang sedang terjadi ketika Perang Dunia 1 selesai, Revolusi Rusia yang meruntuhkan Tsar, Revolusi Jerman dan Penggantian Gubernur di Hindia. Dikarang sebagai sebuah disertasi di Cornell University saya menemukan dua hal ideologis yang menjadi jiwa pergerakan pada awal abad ke 2, sebelum kita mengenal istilah nation (bangsa) dan kaum nasionalis lahir. 1. Kaum Islamis, kaum islamis sebelum lahirnya pergerakan merupakan kekuatan aktif yang selalu mengemukan kemajuan. Maka dari itu SI muncul sebagai pergerakan utama yang melampuai sekat sekat kedaerahan. Jika BO (Budi Oetomo) muncul dgn Nasionalisme Jawa nya, SI sudah berbicara ttg persaudaran Muslim diseluruh kawasan Hindia yang kini berubah menjadi Indonesia Modern. Dalam masa ini yang dinamakn Takashi sebagai Zaman Bergerak, SI dgn semangat Islamnya berdialok, berdialektika, membangun kekuatan dan pergerakan penentangan terhadap kesewenang-wenangan terhadap pemerintah atau otoritas. SI dgn penafsirannay atas ajaran Islam, melakukan agenda-agenda pergerkannya. Tjokro yang mementingkan diplomasi, dan aktivis aktivis Islam lainnya yang menggerkana serangkaian Aksi Rakyat lainnya. 2. Kaum Komunis, Kaum Komunis pada awal mulanya merupakan satu bagian kaum Islamis didalam SI tapi mengalami perpecahan dengan SI yang cenderung Stagnan dan sangat berorientasi pada Tjokro. Pada awalnya, perpecahan ini bersifat hanya antara CSI (Central SI) dengan SI semarang yang dipimpin oleh Semaun, murid dari Sneevliet. Perpecahan ini tak bisa dihindari sehingga Agus Salim dan Abdul Muis melakukan pendisiplinan partai dengan membekukan SI pimpinan Semaun. Dan Semaun melakukan manuver dengan mendirikn PKI. Satu-satunya partai pertama yang memakai nama Indoensia. SI kemudian terpecah menjadi SI Putih dan SI Merah. Orang-rang seperti Misbah dan kawan kawan revolusioner lainnya yang kecewa dengan langak SI Tjokro atau Tjokro sbg pribadi. PKI sampai kemudian dibinasakan karena pemberoontakan pada 1926-1927 merupakan satu-satunya partai yang paling konsisten dalam memperjuangkan, engoorganisir, dan melakukan aksi masa menentang penindasan oleh Kolonial. Sampai akhirnya atau bahkan sampa kini, dilema Islamisme dan Komunisme tak pernah terselesaikan. Pada akhirnya, membaca buku ini kita menyaksikan perubhana nyata Indonesia dalam pergerakan dan perjuangannya, sehingga kita tahu bagaimana pemimpin pergerakan berpikir, menulis, dan berkata serta bertindak sebagai orang pertama dan kita tahu apa makna dari pergerakan itu sendiri.
saya membaca ini dalam terjemahan yang bagus dari grafiti press [diberi judul "zaman bergerak"]. ini buku penting, berada dalam tradisi cornell, dalam 'membaca' sejarah indonesia/jawa menjelang kemerdekaan. judulnya diambil dari tulisan 'mas marco', seorang tokoh pergerakan yang menginspirasi banyak tokoh lain tapi kemudian dilupakan.
Bukunya bagus membahas tentang zaman pergerakan di Indonesia khususnya daerah yang sangat berpengaruh dan menjadi pusat pergerakan yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Menurut saya cocok untk menjadi salah satu bacaan di waktu luang dan cocok menjadi salah satu buku untuk penelitian sejarah dengan tema pergerakan nasional.
Saya menyempatkan untuk membaca buku ini kembali setelah diterbitkan ulang oleh penerbit Marjin Kiri pada tahun ini. Wacana utama yang ia bawa sepertinya akan tetap relevan. Beberapa waktu sebelumnya, saya sempat menengok buku sejarah keponakan saya. Narasi bahwa pergerakan di Indonesia dimulai dari pembentukan Boedi Oetomo ternyata tetap tertanam dalam buku mata pelajaran sejarah kita. Narasi inilah yang coba dibantah oleh Takashi Shiraishi dalam buku ini.
Alih-alih memandang Boedi Oetomo sebagai sentral utama pergerakan Indonesia pada 1910 hingga 1920-an, Shiraishi mencoba untuk memadang periodisasi sejarah tersebut secara luas sekaligus mendalam. Boedi Oetomo hanya ditempatkan sebagai salah satu unsur pergerakan yang meletakkan dasar-dasar ideologi nasionalisme di Indonesia, yang bersua dan bertumbuk dengan unsur serta ideologi lain. Sentra utama pergerakan pada periodisasi tersebut justru ditempatkan pada sosok Tirtoadhisoerjo yang membentuk surat kabar Medan Prijaji dan mendirikan Sarekat Dagang Islamijah serta organisasi lain. Bagi Shiraishi, sosok pemimpin pergerakan awal di Indonesia justru ada pada tokoh Tirto, yang ironisnya malah nyaris tidak disebut di buku-buku pelajaran sejarah kita.
Kehadiran Tirto kemudian berujung pada pembentukan organisasi pergerakan utama, seperti Sarekat Islam, Insulinde, dan Partai Komunis Indonesia. Organisasi ini menjadi yang utama karena peningkatan jumlah anggota dan pengaruhnya yang terus-menerus mengalami perluasan. Dinamika ketiganya pun tidak terpisah-pisah, tetapi saling berkaitan, baik secara konfliktual maupun kooperatif. Hal inilah yang gagal ditangkap dalam narasi arus utama tentang sejarah pergerakan di Indonesia, yang berujung pada dikotomi kaku antara Nasionalisme, Islamisme, dan Komunisme dengan organisasi-organisasi di belakangnya yang saling terpisah-pisah.
Salah satu intisari utama dalam buku ini adalah fakta bahwa pergerakan merupakan sesuatu yang dinamis. Shiraishi menolak untuk mendefinisikan pergerakan secara reduksionis, seperti mengaitkannya dengan organisasi atau tokoh tertentu semata. Ia mendefinisikan pergerakan sebagai laku "mencomot" dan "menerjemahkan" ide-ide tertentu ke tengah masyarakat melalui pidato, perkumpulan, dan tulisan. Rakyat, yang menjadi sasaran pencomotan dan penerjemahan ide tersebut, lalu mengamati bahwa dunia mereka telah bergerak dan mereka dipaksa untuk mengikutinya. Rakyat yang bergerak pun berubah menjadi elemen radikal yang tak terbendung. Dalam konteks ini, rakyat secara resiprokal memengaruhi para pemimpin pergerakan untuk membentuk mekanisme disiplin yang mampu mengendalikan elemen tak terbendung tersebut.
Kelemahan buku ini barang kali berkaitan dengan pemilihan lokus studinya, yakni Solo di Pulau Jawa, yang kemudian memiliki kecenderungan untuk mereduksi pergerakan menjadi sesuatu yang Jawa-sentris. Padahal, ada upaya untuk mencomot dan menerjemahkan ide oleh orang dari suku dan ras lain yang tak kalah memiliki pengaruh.
Sejarah panjang pergerakan rakyat di jawa. Saya jadi bisa tau ada juga orang yang doyan maki-maki Tjokroaminoto dan feodalismenya. Buku ini seperti covernya, Merah. Tapi ada beberapa yang saya gak setuju, Takashi tidak serta merta menulis gerakan anarkis buruh dari sudut pandang lain. Ia hanya melihat aksi tersebut dari kacamata Misbach dan tokoh Propagandis lainnya. Menarik juga ketika Takashi menuliskan tentang konflik horizontal di kubu islam.
Salah satu buku sejarah terbaik karena dalam buku ini penulis mencoba menggunakan kerangka pendekatan di luar kewajaran, yaitu NaSaKom. Pendekatan yang kerap kali dipakai dalam menggambarkan historiografi Indonesia itu di buku ini secara rapi dibredel oleh Takashi Shiraishi.
Salah satu tokoh yang dicoba diangkat di sini adalah Haji Misbah. Seorang tokoh pergerakan awal abad 20. Seorang muslim yang taat sekaligus seorang komunis tulen. Menariknya, Pak Haji yang satu ini ternyata pernah hendak dicalonkan sebagai anggota dewan di Belanda. Sayangnya, nasib kurang mendukungnya dan beliau meninggal dalam pembuangan pada masa kolonialisme.
Seboeah boekoe toetorijal boeat kaoem 'Nggah-nggih' biar bisa mengoetjap kata ganti orang kedoea toenggal 'Koe!' tanpa merasa moralitas Jawa mereka dipertanjakan setelahnja... Ataoe bisa ngomong jawa ngoko ke siapapoen, bahkan kepada Toehan sekalipoen.
"Apa itu pergerakan?" Sebuah pertanyaan yg terpatri saat kita ingin mengetahui era pergerakan sebelum Indonesia merdeka. Buku ini mengupas kemunculan awal pergerakan, walaupun bukan awal sekali, Takashi Shiraishi dgn disertasinya ini sangat piawai dan tajam memberikan gambaran era 1912-1926. Di mana era tsb seluruh dunia "bergerak". Angin pergerakan itu masuk menghinggapi pemuda2 Hindia utk berbuat dan berpikir.
Dengan disertasi yg dibukukan, buku ini banyak memuat sumber2 pertama klo bukan kedua yg membuat buku ini sangat detail dan rinci. Bahasa yg digunakan Takashi jg ringan walopun aga terganggu dgn kutipan yg menggunakan ejaan lama. Namun memang sengaja dibuat demikian agar keotentikan kutipan tetap terjaga. Dengan membaca buku ini kita mempelajari awal mula suatu gerakan bisa menggebrak pemerintah kolonial. Gebrakan yg walaupun gagal namun sudah membuat jalan bagi generasi baru selanjutnya.
Menurut Takashi Shiraishi, pergerakan adalah suatu proses pencomotan atau penerjemahan yg kompleks dan dinamis. Kita tahu Tiroadhisoerjo seorang tokoh awal pergerakan. Tirto menerbitkan koran sendiri, mendirikan perkumpulan sendiri, serta mendirikan hotal maupun biro hukum yg bagi kebanyakan Bumiputera saat itu, hal tsb msh terasa baru di telinga mereka. Namun yg dilakukan Tirto hanya "pencomotan dan penerjemahan" saja dr ide2 atau gagasan yg sudah ada pd org Indo, Totok maupun Cina.
Demikian pula dengan Douwes Dekker membawa ide rapat2 umum IP (Indische Partij) yg dicomot Tjokroaminoto di Sarekat Islamnya. Semaoen belajar sosialisme dan gerakan buruh dari Henk Sneevliet yg org Indo. Tan Malaka dan Soewardi belajar disiplin partai di Belanda. Ekspresi dan spektrum politik seperti itu yg membuat pergerakan terasa baru bagi kaum Bumiputera.
Walaupun pergerakan berakhir dengan kematian (kegagalan pemberontakan PKI 1926 dan 1927) yg amat tragis di tengah kerja menggalang kekuatan. Namun semua ide dan bentuk2 pergerakan menjadi umum dalam bahasa Indonesia dan pikiran Bumiputera. Kegagalan tersebut memberi tempat kepada generasi baru intelektual utk muncul ke pentas politik. Ada Soekarno dgn "Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme"nya, Hatta, Sjahrir, dan banyak lagi.
Akhirnya tokoh2 pergerakan banyak yg menjadi pahlawan Nasional. Budi Oetomo msh tetap menjadi perkumpulan priyayi Jawa yg Nasionalis hingga hari berdirinya ditetapkan menjadi hari kebangkitan nasional. Sarekat Islam menjadi perkumpulan Islam, sbg nenek moyang partai2 Islam selanjutnya. PKI dan SR menjadi kambing hitam atas kegagalan pemberontakan. Tiroadhisoerjo tetap dilupakan. Tjipto menjadi nasionalis bersama dgn musuhnya, Dr. Radjiman dan RMA Woerjaningrat. Tjokroaminoto dan Soerjaoranoto menjadi teosofis Islam, seIslam H. Agus Salim. Semaoen dan Darsono menjadi komunis yg "menyusup" ke dalam SI. Mas Marco Kartodikromo walaupun hanya 3hn bergabung menjadi komunis, sekomunis Sneevliet, Baars, dan Semaoen.
H. Misbach menjadi anomali diantara semuanya, bagaimana dia menggabungkan Islam dan Komunis ke dalam suatu gerakan yh sejalan. Misbach tetap Islam putihan namun semerah komunis.
Buku karya Takashi Shiraishi ini mengupas kemunculan pergerakan rakyat Indonesia di Jawa periode 1912 - 1926.
Aksi-aksi pergerakan yang dimulai dari munculnya perhimpunan politik, Sarekat Islam, Insulinde, National-Indische Partij, Partai Komunis Indonesia, dan Sarekat Ra'jat, pemikiran-pemikiran dari tiga tokoh pergerakan, Marco Kartodikromo, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Haji Mohammad Misbach, disampaikan dengan detil di buku ini.
Suara-suara yang diekspresikan melalui tulisan-tulisan di surat kabar, karya sastra, pembentukan perkumpulan dan demonstrasi, cikal bakal nasionalisme Indonesia, membuat saya seperti mendapat informasi baru tentang sejarah cikal bakal nasionalisme Indonesia.
PKI yang di tahun 1965 tercoreng namanya, ternyata merupakan partai pertama yang menggunakan nama Indonesia sebagai nama perkumpulannya, sementara perkumpulan lainnya tidak menggunakan nama Indonesia.
Atau tentang bagaimana Sarekat Islam bergandengan tangan dengan PKI dalam memperjuangkan kemerdekaan Hindia. NU dan Muhamadiyah, serta tokoh-tokoh lainnya, yang selama ini nyaris tidak terdengar dalam buku sejarah semasa sekolah, saya temukan dalam buku Zaman Bergerak.
Tidak mengherankan penelitian Takashi bisa sedalam ini, jika melihat nara sumber penulisannya yang sangat banyak. Belum lagi cuplikan tulisan pemikiran para tokoh perkumpulan yang disajikan dalam buku ini.
Satu hal yang layak dicatat adalah terjemahan yang dilakukan Hilmar Farid, membuat 532 halaman ini, membuat saya tidak mengalami kesulitan dalam memahami buku ini.
Buku ini layak untuk dibaca bagi kita semua yang ingin mengetahui sejarah bangsa kita dengan lebih mendalam.
disini jelas terlihat, saat itu, banyaknya organisasi perlawanan thd kolonial, banyaknya ide/gagasan/pemikiran pembebasan, beragamnya ideologi/pandangan perjuangan, sama sekali tidak membuat perbedaan pada cita-cita (yaitu,bangsa yang merdeka), bahkan semuanya sinergis. Beda dengan gerakan sosial sekarang, organisasi banyak, sedikit gagasan, dan cita-cita ga jelas. satu sama lain ga sinergis. dan, ironisnya lagi, krisis eksistensi mendominasi.
diluar itu, dalam buku ini tampak sejarah pergerakan indonesia yang orisinil. kalo kita amati sejarahnya, seharusnya kebangkitan nasional itu bukan pada 20 mei 08 (Boedi Oetomo). namun,gerakan civil disobeying yang dimotori SDI-lah tonggak awal pergerakan rakyat (mengakhiri perlawanan kedaerahan), yang bermetamorfosa menjadi SI (HOS Cokroaminoto). Aksi hebat inilah yang menstimulus gerakan rakyat yang lain dengan latar belakang yang beragam, seperti Boedi Oetomo, ISDV/PKI, IP/PNI, Muhamadyah, dll.
Kalo perlu, HOS Cokroaminoto harus digelari oleh bangsa ini sebagai Bapak Kebangkitan Nasional!
gagal dibeli di pameran kemaren. belagak so pelit. aslinya mah dananya dah keduluan buku lain.
setelah semalam diskimming, saya semakin menyesal tidak membelinya dan baru baca sekarang. Takaishi Siraishi, seorang Jepang, menulis sesuai bayangan saya tentang orang Jepang yang menulis. Penuh fakta dan detil. Awalnya saya menyebut gaya jepang untuk tulisan yang ada di East Asian Strategic Review yang terbit setiap tahun. Jarang menyelipkan interpretasi yang dipaksakan atau jauh dari data. Kedetilan di awal soal perubahan administrasi di peralihan abad 19-20 membuat saya tersadar tentang efek faktor ekonomi dan produksi terhadap stratifikasi sosial di wilayah administrasi kerajaan (istilah Londone lali blas).
Informatif dan sejauh ini saya mendengarkan uraiannya yang detil itu.
Buku yang sangat menarik, karena selain banyak sekali menyajikan fakta-fakta baru yang selama ini merupakan sebuah tera incognita bagi kita, buku ini juga memberikan sebuah gambaran tentang bagaimana kelompok-kelompok ideologi yang banyak memakai pola-pola ideologi modern mulai terberntuk. Selain itu juga disajikan data singkat tentang riwayat tokoh-tokoh yang dianggap penting dan latar belakang kehidupan masyarakat di mana tokoh itu hidup. Ini mempermudah kita untuk memahami bagaimana sebenarnya situasi dan keadaan pergerakan nasional pada khususnya dan kondisi Indonesia di bawah pemerintahan kolonial Hindia Belanda pada awal abad XX.
Edisi Indonesianya berjudul "Zaman Bergerak: Radikalisasi Rakyat di Jawa 1912-1926", diterbitin sama Graffiti Press, terbit sekitar tahun 1996 atau 1997.
Termasuk buku bacaan pertama yang kubeli di awal aktivisme dulu, waktu mau ikut "training jurnalistik" Ganesha alias kurpol di Lembang. Juga buat bahan resensi. Buku yang sangat komprehensif mengungkap kebangkitan kesadaran nasionalisme di Indonesia, dari munculnya organisasi massa modern pertama (Sarekat Islam) hingga radikalisasi rakyat 1926-1927.
Buku yang diangkat dari disertasi penulisnya di Universitas Cornell ini menarik dan penting, karena merupakan bentuk historiografi yang berusaha keluar dari historiografi ortodoks yang dianggap memiliki banyak keterbatasan untuk menjelaskan proses dan munculnya kesadaran berorganisasi dan pergerakan, yang pada titik akhirnya memunculkan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Proses yang justru dialami dan disuarakan oleh rakyat sebagai orang pertama sebelum munculnya partai pada tahun 1920an. Suara yang diwakili melalui kata-kata, tulisan, dan berbagai bentuk tindakan protes para pelakunya.