Jump to ratings and reviews
Rate this book

40 Days in Europe: Kisah Kelompok Musik Indonesia Menaklukkan Daratan Eropa

Rate this book
Buku ini berkisah tentang sekelompok anak muda yang berjuang mengenalkan budaya Indonesia melalui musik angklung. Siapa sangka, angklung yang terlihat sederhana dan bersahaja dapat tampil menggetarkan setiap panggung di negara-negara Eropa. Inilah kisah 35 musisi asal Indonesia yang tak pernah menyerah meski awalnya terancam batal berangkat ke Eropa.

Namun, berbekal keberanian, kerja keras dan cerdas serta mimpi untuk membuat tim ini sejajar dengan musisi internasional lainnya, tak ada rintangan yang tak dapat dilalui. Meski tertatih, kelompok musisi yang membawa misi Expand the Sound of Angklung ini terus menebar pesona di seantero Eropa. Berbagai kota mereka taklukkan dengan keindahan alat musik tradisional asli indonesia. Semua terkesan. Semua takjub dengan keajaiban yang bisa didatangkan sebuah instrumen musik. Pada akhirnya, misi budaya ini menegaskan identitas bangsa yang bisa berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lainnya.

547 pages, Paperback

First published September 1, 2007

17 people are currently reading
340 people want to read

About the author

M. Syuhada

2 books6 followers
Maulana M. Syuhada adalah pecinta seni yang punya hobi sekolah. Setelah lulus dari Teknik Industri ITB tahun 2001, ia pergi ke Jerman untuk melanjutkan pendidikan master di bidang Manajemen Produksi di Technische Universitaet Hamburg-Harburg. Selama tinggal di Jerman ia aktif terlibat di berbagai kegiatan seni dan budaya. Tahun 2002 ia mendirikan " Angklung-Orchester Hamburg", sebuah grup angklung kampus, dan berhasil menjaring mahasiswa asing yang berasal dari sepuluh negara berbeda. Setahun kemudian bersama tiga rekan mahasiswa lainnya, ia membentuk grup Sabilulungan, sebuah grup kesenian Sunda amatir yang menspesialisasikan dirinya pada kacapi-suling dan rampak kendang. Maulana juga merupakan personil grup gamelan Margi Budoyo Hamburg dimana ia melakukan pentas bersama grup secara reguler. Ia merupakan salah satu konseptor “Wayang Kontemporer” yang dipentaskan untuk pertama kalinya di Eropa pada November 2003 pada Festival Gamelan di Berlin. Pengalaman terbesarnya di bidang seni dan budaya adalah ketika memimpin Keluarga Paduan Angklung SMAN 3 Bandung (KPA 3) melakukan muhibah budaya ke enam negara Eropa selama 40 hari pada musim panas 2004, yang dikisahkannya dalam buku “40 Days in Europe” ini. Sejak tahun 2005 ia tinggal di Inggris untuk melanjutkan pendidikan doktor di bidang Management Science di Lancaster University Management School.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
115 (28%)
4 stars
119 (29%)
3 stars
114 (28%)
2 stars
38 (9%)
1 star
19 (4%)
Displaying 1 - 30 of 59 reviews
4 reviews1 follower
July 21, 2008
CATATAN SEBUAH PERJALANAN

Kesan pertama saya setelah membaca buku itu, wow!!! Two Thumbs Up!!! Not for the writer, bur for those who joined into that amazing adventures.

40 days in Europe, sebenarnya sudah sejak lama saya lihat buku ini nangkring di raknya Gramedia. Saya sering bolak-balik numpang baca di Gramedia, hanya beberapa halaman awal tapi pada akhirnya tidak jadi membeli, karena saya pikir nanti toh penerbitnya pasti akan mengirimkan sample buku itu. Feeling saya mengatakan kalau itu buku bagus dan layak dibaca. Memang pekerjaan saya yang banyak berhubungan dengan buku membuat saya banyak menerima kiriman buku dari para penerbit. Sampai suatu hari seorang teman yang juga bekerja di penerbit buku tersebut benar-benar mengirimkan saya buku 40Days in Europe. Dan saya masih juga belum membacanya. Sampai saat libur Idul Fitri, saya punya cukup waktu luang untuk menuntaskan membacanya.

Kenapa judul buku ini terkesan kebarat-baratan? Tidak nasionalis kah? Menurut saya alasannya hanya komersialitas semata. Penerbit butuh judul yang cukup provokatif, tanpa kehilangan benang merah dengan isinya. Pernahkah anda membaca buku Summer in Seoul (Ilana Tan), Travelers Tale (Aditya Mulya, dll), Ms. B (Vira Basuki), atau The Naked Traveler (Trinity), kemudian mempertanyakan judulnya? Atau pernahkah anda bertanya kenapa kumpulan tulisannya Akmal NAsery BAsral diberi judul “Ada Seseorang di Kepalaku”, atau kenapa Pramoedya Ananta Toer memberi judul Bumi Manusia? Sebuah judul yang cukup ganjil menurut saya. Atau kenapa Remy Silado memberi judul “Kerudung Merah Kirmizi”, atau “Parijs Van Jaza” untuk novelnya? Silakan direnungkan, tapi jawabannya kembali pada alasan tadi yaitu komersialitas dan kesesuaian isi.

Bagaimana dengan endorsement-nya? Endorsement adalah sebuah opini subjektif dari mereka, para pembaca awal yang memang sengaja diminta sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Endorsemen dimaksudkan untuk memberikan gambaran pada calon pembaca tentang nilai sebuah buku. Tapi sekali lagi, saat anda akan membeli buku, cobalah untuk tidak hanya terpaku pada endorsement saja, tapi coba buka-buka dan intip sejenak halaman demi halaman. Buku yang bagus menurut saya, bisa menarik anda bahkan dari halaman pertama yang anda baca. Dan itulah yang terjadi pada saya saat membuka buku 40 days in Europe, meskipun saya akhirnya menahan diri untuk tidak membeli karena saya tahu pasti kalau saya akan mendapatkannya dengan gratis, langsung dari penerbitnya.

Buku ini bercerita tentang segerombolan anak muda yang nekad untuk tetap berangkat ke Eropa, untuk sebuah misi kebudayaan meskipun kondisi keuangan mereka defisit. Apakah mereka gila? Jawabannya sangat mungkin ya, tapi menurut saya alasan dibalik semua kegilaan itu adalah tanggung jawab atas sebuah komitmen yang telah mereka buat. Hanya keyakinan dan keteguhan niat yang mereka punya saat berangkat. Entah apa yang akan terjadi, maka terjadilah, kun fayakun!!!

Saat berangkat, mereka harus direpotkan dengan masalah finansial. Sponsor yang tiba-tiba menarik diri sehingga kondisi keuangan semakin mengkhawatirkan. Belum lagi konflik internal diantara tim. Ketua rombongan yang seharusnya berangkat pun pada akhirnya tidak jadi berangkat, entah dengan alasan apa. Sampai di Eropa pun mereka masih terus dililit masalah, meskipun jadwal perjalanan sudah dibuat sedetail mungkin dan sehemat mungkin. Tagihan demi tagihan terus berdatangan.

Tapi Tuhan Maha Adil, Tuhan terlalu baik untuk terus-terusan membiarkan umatNya dalam kesulitan. Saya selalu percaya pada sebuah quotation indah yang saya temukan dalam salah satu buku Paulo Coelho, When God closes a door, He opens a window, dan itulah yang terjadi pada mereka. Dalam setiap penampilannya mereka selalu mendapatkan sambutan hangat, bahkan tidak jarang standing applause. Sejumlah penghargaan juga berhasil diraih. Bukan itu saja, menilik dari prestasi dan penampilan mereka, bahkan panitia festival bersedia memberikan keringanan biaya yang bisa mereka lunasi setibanya kembali di Indonesia. Yang terpenting adalah mereka punya cukup biaya untuk pulang. Peran KBRI juga tidak bisa diabaikan. Mereka hadir dengan uluran tangannya, berusaha membantu semampu yang mereka bisa. Mulai dari tumpangan tidur, makan, sampai bantuan dana ala kadarnya.

Kalau kemudian, mereka seperti diselamatkan tsunami hingga semua hutang bisa lunas, itulah yang namanya nasib. Sekali lagi, Tuhan terlalu baik untuk membiatkan hambaNya dalam kesusahan, dan selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian. Tsunami bisa jadi meluluhlantakkan bumi serambi mekah, tapi tsunami juga yang kemudian menyelamatkan mereka dari lilitan hutang.

Bagaimana dengan peran Maulana sebagai penulis? Yup, perannya cukup besar. Dialah contact person untuk semua panitia kompetisi dan festival. Dia juga contact person untuk sejumlah KBRI. Karena ia kebetulan tinggal di Jerman, dia aktif dalam kegiatan kesenian dengan mahasiswa Indonesia, dan dia juga aktif dalam perkumpulan mahasiswa Indonesia Jerman. Sehingga menempatkan Maulana sebagai contact person sangat menguntungkan. Mengingat aktivitasnya selama di Jerman, menyebabkan ia banyak berhubungan dengan pihak KBRI dan ia juga lebih mengenal medan, lebih mengenal budaya masyarakat Eropa. Terlepas dari apakah Maulana dulu (sewaktu SMA) adalah anggota KPA (kelompok Angklung di SMA 3) atau bukan, itu tidak lagi penting menurut saya.

Untuk masalah lobi, di awal Maulana memang memegang peranan penting. Tapi sekali lagi, ini adalah kerja tim. Saat di Jakarta, dalam tim ada orang-orang hebat yang mampu melobi untuk masalah sponsorship, ataupun sekedar pengurusan visa dan paspor. Saat di Eropa, kenyataannya bukan hanya Maulana yang melobi. Toh, kenyataannya ada orang-orang dalam tim yang juga berperan dalam melobi KBRI ataupun panitia festival. Kerja tim yang luar biasa menurut saya.

Selesai membaca buku itu, saya langsung menghubungi Maulana, penulisnya, melalui imel yang tertera di buku. Kami kemudian berteman dan berkomunikasi hanya melalui imel. Melalui Maulana, saya kemudian berkenalan dengan beberapa orang personil yang ikut berangkat ke Eropa. Kali ini saya berkomunikasi secara langsung, dengan telepon. Melalui mereka, saya tahu banyak detail cerita yang tidak diceritakan di buku, termasuk konflik internalnya. Menurut saya, adalah sebuah keputusan yang bijak untuk tidak menampilkan seluruh konflik internal dalam cerita buku itu. Bukan bermaksud untuk mengurangi cerita, tetapi lebih pada apakah layak atau apakah etis mengemukakan konflik internal tersebut? Membuka aib seseorang? Itu bukanlah sesuatu yang penting untuk diceritakan. Toh pembaca sudah menangkap pesan dari tulisan itu. Semangat anak-anak itu untuk tetap berangkat, membawa nama Indonesia, keyakinan untuk sebuah tujuan. Mereka pulang bukan hanya membawa penghargaan, tapi saya yakin kalau mereka belajar banyak tentang kehidupan. Bahkan saya yang membacanya, dan hanya melihatnya dari luar, melalui sebuah buku juga belajar tentang arti persahabatan, semangat dan kerja keras, serta bagaimana sebuah keyakinan akan berbuah indah saat dijalani dengan sungguh-sungguh.

Lalu apakah 40days termasuk buku yang sangat tebal untuk jenisnya? Menurut saya, ketebalan sebuah buku adalah relative. Cara penulisnya menceritakannya sangat menarik, karena dituliskan dengan sangat biasa. Dilengkapi dengan begitu banyak catatan dari percakapan melalui chating, imel ataupun sms. Menurut sebagian orang, catatan chating, imel ataupun sms itu tidak penting. Tapi menurut saya, catatan-catatan chating, imel ataupun sms itu justru berbicara lebih banyak dibandingkan rangkaian kata yang disusun penulisnya. Catatan itu adalah saksi perjalanan mereka.

Kemudian, apakah Maulana menjadi pahlawan dalam perjalanan itu? Padahal dulu dia bukan siapa-siapa. Mungkin sebelumnya dia hanya ketua OSIS dijamannya yang bahkan tidak terlibat aktif dalam kegiatan KPA3, yang notabene adalah kelompok angklung yang super terkenal itu. Lalu kemudian kenapa sekarang ia yang menjadi pahlawan dalam perjalan itu? Kenyataannya memang seperti itu, suka atau tidak suka. Menganggapnya sebagai pahlawan mungkin menjadi sedikit hiperbol, karena ini adalah kerja tim, Tapi peran Maulana juga tidak bisa diabaikan, he’s doing something for that journey.

Maulana sendiri memiliki kelompok angklung bersama teman-temannya di Eropa. Mereka sesekali manggung, bukan hanya untuk pentas angklung tapi juga untuk rampak kendang, wayang kontemporer, dan banyak lagi. Sederet kegiatan kesenian yang menurut saya juga patut mendapat acungan jempol.

Saat mengangkat cerita perjalanan 40 days in Europe dalam talkshow Kick Andy, sejumlah konflik internal yang pernah ada kembali mencuat. Sesuatu yang menurut saya tidak perlu ada. Bagaimanapun juga, semua kembali pada manusianya.

Meskipun demikian 40 days in Europe, menurut saya hadir semata bukan untuk popularitas penulisnya. Tapi lebih pada menghadirkan kembali semangat mereka, yang pernah dengan kegilaannya nekad berangkat ke Eropa, melakukan sebuah mission impossible. Cerita mereka terlalu sayang untuk tidak dibagikan kepada banyak orang. Agar mereka yang membacanya bisa kembali bercermin, apa yang sudah saya lakukan untuk negeri ini?

Mereka yang berangkat adalah orang gila. Tapi mereka tidak akan pernah tahu bahwa mereka bisa kalau mereka tidak pernah mencobanya. Hidup adalah pilihan, dan mereka memilih untuk maju, mencoba sesuatu yang sejak awal terlihat mustahil. Sebuah buku yang sangat inspiratif menurut saya. Buku itu juga hadir untuk mengingatkan kepada kita, agar apa yang mereka alami tidak lagi berulang. Agar perjuangan anak-anak muda lainnya untuk angklung, untuk Indonesia, tidak lagi menemui jalan buntu.

Enthusiasm is the force that leads us to the final victory (Paulo Coelho). Percayalah, dalam 40 days in Europe, anda akan benar-benar menemukan implementasi dari quotation Paulo Coelho tersebut.



Profile Image for Nenangs.
498 reviews
January 21, 2013
4.5*
Amazing!

Setelah sepuluh hari baca setengah bagian awal yg berisi kisah kesibukan dan perjuangan penulis sebagai mahasiswa "elit" (=ekonomi sulit) berbudaya di Jerman, perencanaan & persiapan grup (termasuk perburuan kompetisi, festival, dan tempat2 konser, juga pencarian dana yang bikin pusing kepala), setengah bagian akhir yang berisi kisah perjalanan dan suka duka selama 40 hari di eropa bisa selesaikan dalam waktu sekitar 2.5 jam, jam setengah 3 sampai jam 5, pagi tadi.

kisah di buku ini terasa begitu "nyambung" dengan saya dalam beberapa level:
1. saya mantan anggota KPA 3 awal '90-an (masuk kelas 2). Jaman saya masih jadi anggota aktif KPA 3, bukannya sombong, jadi juara kompetisi angklung tingkat nasional sudah menjadi "budaya". Itu saja sudah bangga rasanya. Bisa dibayangkan, juara kompetisi musik campuran tingkat dunia tentulah sangat membanggakan.

2. sejak SMA & terutama saat kuliah, saya terlibat dalam kepanitiaaan beberapa event yang cukup besar. Perencanaan program, budgeting, dan pencarian dana yang sulit cukup familiar dalam ingatan saya. Bolak-balik bandung-jakarta untuk mengurus perijinan, presentasi & menemui para calon sponsor, "mengemis" sumbangan pada para alumni, berkonser untuk menggalang dana, adalah sebagian kegiatan "rutin". mangkir kuliah bukan hal baru. ditolak bahkan "diceramahi" dan dilecehkan secara intelektual oleh para calon sponsor, donatur dan alumni adalah hal yg biasa pada masa-masa itu.

makdarit, saya sangat bisa merasakan kepanikan dan kegalauan yang dialami oleh anak2 ESA 2004 ketika PT.M yg sebelumnya menjanjikan sponsorship kembali mengingkari janjinya, menarik diri dari sponsorship dengan alasan "dananya dialokasikan untuk pos lain", hanya 2 minggu sebelum tanggal keberangkatan. "Kembali", karena sebelumnya PT.M sudah pernah mbalelo dari kesepakatan, yaitu saat KPA 3 diundang PT.M untuk menyelenggarakan konser di jakarta, yg semula diperuntukan sebagai KONSER PENGGALANGAN DANA ESA 2004 (dengan persetujuan lisan pak Presdir), dimana PT.M mengundang kolega2 bisnisnya sebagai calon sponsor dan donatur potensial, diubah secara sepihak oleh PT.M menjadi konser biasa untuk MENJAMU kolega PT.M semata, hanya 5 hari sebelum konser dilaksanakan.

Wot tje puk.
Fukyu PT. M.
Fukyu presdir PT.M.

Akhirnya, setelah berulang kali "mengemis" untuk bertemu dan berbicara langsung dengan pak presdir (saat2 menagih janji, biasanya memang orang2 "penting" itu susah sekali ditemui:p), akhirnya PT.M bersedia mengucurkan dana, yang meskipun jumlahnya jauh dari yang dijanjikan semula, tapi tetap wajib disyukuri.

Lesson learnt: segala perjanjian yang berkaitan dengan uang, apalagi dalam jumlah besar, WAJIB segera dituangkan secara tertulis dan ditandatangani semua pihak terkait dalam waktu sesingkat-singkatnya. "Gentlemen agreement" hanya mengilat secara moral untuk dipenuhi, yang tentunya dengan mudah diabaikan oleh pihak2 yg kurang/tidak bermoral. :p



3. beberapa lagu yang disebut-sebut dibawakan dalam perjalanan ini sepertinya pernah saya mainkan. KPA3 angkatan 90-an dst semestinya pernah mempelajari Santorini aransemen kang Budi. New York-New York pun termasuk lagu "wajib" yang cukup sering dibawakan. Yah...nostalgiaaaa...

4. Pada tahun 2006 saya berkesempatan merasakan menjadi "duta budaya" sebagai anggota team ITB Choir ke the 4th World Choir Games (sebelumnya bernama Choir Olympic) yang diselenggarakan di Xiamen, China, meskipun saat itu saya sudah bekerja dan tidak terlibat langsung dalam kepanitiaan inti selain berlatih dan bantu-bantu sedikit2 disana-sini. Pada saat itu saya merasakan secara langsung suasana ketika akan tampil diatas pentas, baik itu konser persahabatan maupun saat kompetisi. Lega dan bahagianya ketika sambutan penonton sangat apresiatif terhadap apa yang kita tampilkan, dan rasa bangga dan haru yang menyeruak ketika mengetahui kelompok kita berhasil memenangi medali emas dan perak dari kompetisi yang kita ikuti. Semua itu, terutama apresisi penonton, adalah bayaran yang sangat memuaskan atas kerja keras latihan yg terkadang sangat menuntut. Saya bisa bayangkan perasaan anak2 KPA3 ketika apresiasi dari penonton di berbagai daerah, terutama saat tampil di aberdeen, praha, zakopane dan muenchen, yang begitu antusias hingga meminta encore berkali-kali. Perasaan yang sangat luar biasa. Ditambah eratnya persaudaraan yang timbul saat "senasib sepenanggungan" sebagai kelompok yang yg mewakili indonesia di ajang kompetisi di negeri orang, pengalaman seperti ini tentunya tidak terlupakan.

Vivat KPA 3!
Profile Image for an.
764 reviews22 followers
April 26, 2010
ngakak, haru, sendu, bangga, salut dan perasaan-perasaan lain serupa adalah emosi yang muncul ketika membaca kisah ini. perjalanan yang dimulai dengan persiapan yang dilakukan antar negara, antar benua bahkan. dengan kebulatan tekad... rintangan seperti apapun dapat dilalui demi terwujud na mimpi-mimpi itu. karena memang bukan pukulan ke-100 yang membuat batu hancur tapi 99 pukulan sebelum na.

setelah mengatasi kendala perijinan, salah paham dengan pihak penyelenggara festival, bahkan sampai pada ketiadaan dana di saat-saat akhir perjalanan ini hendak dilaksanakan, namun... dengan kekuatan semangat dan tekad... maka, kendala apapun dapat diatasi sampai akhir na dapat berangkat ke eropa. walaupun pada akhir na... dalam melaksanakan perjalanan di eropa mereka masih terlilit hutang yang masih harus dibayar dengan segala upaya untuk mendapatkan dana. bukan hanya berkosentrasi pada penampilan yang harus prima dan maksimal, mereka juga perlu berkosentrasi pada pencarian dana untuk membayar hutang-hutang biaya perjalanan mereka. sungguh... orang-orang hebat. mereka mampu mewujudkan sesuatu yang mungkin menurut orang lain adalah sesuatu hal mustahil.

teringat perkataan seorang teman: jangan mulai dari langkah ke nol, mulailah dari langkah pertama maka akan mudah untuk melakukan langkah-langkah selanjut na. mungkin mereka juga menganut prinsip ini, maul terutama. masalah apapun yang ada, yang penting menginjakan kaki ke eropa terlebih dahulu. seperti apa masalah yang akan dihadapi nanti na... pecahkan masalah yang ada sambil berjalan. karena seperti kata maul dalam buku ini:
perjalanan-perjalanan besar selalu menemui ujian dan kendala. dan kendala-kendala itu tidak pernah terlintas dalam pikiran kita semua sebelumnya. dia datang begitu saja tanpa kompromi... karenanya mulai sekarang kita harus sudah membiasakan diri dengan masalah.

kekuatan tekat. itulah yang membuat semua na mungkin ketika sesuatu sudah dianggap mustahil. anak-anak inilah, yang mampu mewujudkan na. membawa nama baik bangsa, dan menanamkan sikap nasionalisme. tanah halaman memang lebih dirindukan ketika kita berada di negeri orang. selamat KPA 3. rhe turut bangga atas keberhasilan kalian. tidak mengikuti kompetisi tapi dianugrahi sebagai penampil terbaik. apalagi yang ikut kompetisi, pastilah menerima penghargaan juga. sungguh-sungguh perjalanan yang memberikan banyak pelajaran, bahwa kita mampu menaklukan dunia. dalam arti yang sebenar na...



kalau kita mau tentu na.
Profile Image for Ditta.
63 reviews35 followers
August 28, 2008
Bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpi2 itu (Arai:Sang Pemimpi)
Mungkin itu salah satu prinsip yang dipegang sama kelompok musik dari KPA 3 ini (keluarga paduan Angklung) SMA 3 Bandung. Bukannya apa2, berangkat dari mimpi2 tersebut, mereka bisa go Internasional ke beberapa negara Eropa dalam rangka misi kebudayaan yang ingin ditularkan ke luar negeri.

Dalam Expand the sound of Angklung, ke-35 anggota KPA 3 berhasil membawa nama Indonesia di mata dunia yang walaupun pada awalnya sempat kelimpungan mencari dana kesana kemari toh kerja keras mereka membuahkan hasil. Konser2 yang digelar berhasil menarik perhatian masyarakat dunia dan akhirnya lagu Indonesia Raya dikumandangkan di se-antero Eropa...penuturan yang sederhana membuat kita enak dalam membaca buku ini karena diceritakan dengan gaya buku harian...pokoknya two thumbs (kalo perlu 4 deh) up buat mereka...satu lagi, buku ini bikin kita tambah cinta sama negara kita Indonesia ini.
Profile Image for Miunmiunan.
14 reviews5 followers
November 7, 2007
Pertama baca sinopsis nya aja di toko buku udah bikin merinding sendiri.... dan ternyata anak anak (tetangga) sma3!
keren pisan lah..... budaya kita nggak pernah kalah dari orang lain juga....!
Profile Image for Dewi Masna.
13 reviews
May 18, 2015
Buku yang sangat bagus dan inspiratif. Menceritakan perjuangan para putra putri bangsa mengenalkan budaya I donesia kepada masyarakat Eropa melalui musik angklung. Ketika membaca buku ini rasa penasaran saya tidak bisa berhenti. Selesai membaca satu bab, malah semakin bertanya-tanya lagi bagaimana kelanjutan kisahnya di bab selanjutnya. Cerita berawal dari keinginan Keluarga Paduan Angklung SMA 3 Bandung (KPA 3) yang akan mengadakan muhibah budaya, Expand the Sound of Angklung (ESA) ke Eropa. KPA 3 ini diketuai oleh Rey, dan untuk melancarkan urusan di Eropa merek berkoordinasi dan meminta bantuan kepada Maulana M. Syuhada, yang selanjutnya akrab disapa sebagai Kang Maul. Maul sse diri adalah alumni SMA 3 Bandung yang juga merupakan anggota ESA yang sudah pernah mengadakan tour ke Eropa, dan kebetulan sekarang sedang menyelesaikan studi masternya di Hamburg, Jerman. Maul adalah seorang yang sangat aktif dalam berbagai kegiatan, baik itu kegiatan organisasi di kampus ataupun berbagai legiatan di luar kampus. Dia adalah seorang pecinta musik yang mempunyai hobi sekolah. Jadi selama menggeluti bidang masternya di Jerman, dia juga mendirikan klub angklung di universitasnya dan mempunyai anhgota yang berasal dari 10 negara berbeda. Selain itu, dia juga menjadi anggota tetap dari grup budaya Margi Waluyo, dengan spesialisasi rampak kendang, khas Sunda. Selain kuliah dan bermain musik, Maul juga mempunyaiekerjaan sampingan untuk membiayai hidupnya di Jerman. Dalam hidupnya dia menerapkan prinsip hemat hut und billig.

Melihat keaktifannya di berbagai kegiatan kesenian Indonesia, tidak heran kalau Maul kenal banyak duta besar Indonesia yang di Jerman. KBRI sudah menjadi tempat yang rutin ia kunjungi. Oleh karwn itulah Rey, ketua KPA 3, meminta bantuan kepada Maul untuk menanyakan kepada kedutaan -kedutaan besar I donesia yang ada di Eropa, apakah mereka bisa memfasilitasi KPA 3 untuk mengikuti festival dan mengadakan konser di Eropa. Sementara itu, anggota KPA 3 di Bandung juga aktif mencari info fesfival di Eropa yang waktu kegiatannya antara bulan Juli dan Agustus, karena perjalanan mereka ke Eropa hanya bisa dilakukan pada musim libur sekolah. Tujuan awal adalah festival di Agrigento. Tapi ternyata waktu pelaksanaan festival sangat jauh berbeda dengan libur sekolah. Jadilah festival di Aberdeen menjadi tujuan utama grup, selain itu, mereka akan menjadi special guest di festival zakopane. Namun dua festival tersebut dilaksanakan pada rentang waktu yang berbeda. Untuk mengisi kekosongan waktu di situ, grup memutuskan akan mengadakan konser. Jadi Kang Maul mulai bergerilya mencari tempat penginapan di setiap kota yang akan disinggahi dan menjadi tujuan konser grup.

Anggota grup yang di Bandung juga sedang gencar-gencarnya mencari sponsor untuk perjalanan mereka ke Eropa. Awalnya PT M menyetujui untuk menjadi sponsor utama grup, dan akan memberikan dana sebesar 300 juta. Namun 1minggu sebelum keberangkatan, PT M membatalkan secara sepihak perjanjian tersebut, dan grup hanya mendapatkan dana 50 juta dari PT M. Itupun setelah melalui perbincangan yang sangat alot dengan presdir PT M. Defisit yang dialami grup sangat besar dan sepertinya perjalanan ke Eropa itu tidak akan pernah terjadi. Tapi Kang Maul terus memberikan semangat ke grup dan memastikan bahwa semua kota yang dihubungi sudah mengconfirm penampilan mereka, jadi tidak bisa dibatalkan. Akhirnya mereka meminjam ke pihak sekolah sebesar 8000 euro, dan sisa kekurangan dana itu akan mereka tutup dengan berjualan CD dan cinderamata yang mereka bawa dari Bandung.

Dari sinilah perjuangan dimulai, setelah diguncang masalah dana, dan melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan, sampailah mereka di bandara Frankfurt. Tapi kotak peralatan yang berisi angklung dan berbagai peralatan musik lainnya masih tertinggal di Bahrain karen pesawat penuh dan tidak bisa memuatnya. Sedangkan besok mereka harus mengadakan konser perdana di Bremen. Jadilah mereka konser dengan angklung pinjamann dari KBRI. Kemudian mereka melanjutkan konser di Berlin. Cobaan datang lagi, ditengah perjalanan merek terjebak macet karena liburan musim panas. Jadi ketika sampai di Berlin, mereka Lngsung menuju panggung dan tampil dengan menahan lapar. Tapi setelah tampil, jatah konsumsi untuk mereka ternyata banyak yang hilang, jadi mereka makan sekotak berdua. Perjalanan dilanjutkan di Brussel, di sana mereka dihadapkan lagi pada situasi sulit, ternyata grup harus tampil di panggung terbuka, sehingga suara angklung tidak jelas terdengar karena terbawa angin. Jadi penampilan pertama kurang memuaskan, tapi kekurangan itu sudah terbayarkan dengan konser kedua dan ketiga mereka di Brussel yang sangat sukses. penonton sangat terpukau dengan penampilan mereka.Perjalanan dilanjutkan ke Paris, Aberdeen, Praha, Cerveny Kostelec, Zakopane, dan Muenchen. Setiap kota yang mereka singgahi, mereka mendapatkan sambutan yang luar biasa dari para penonton. Konser yang diadakan berjalan sangat sukses, bahkan terjalin persahanatan baru dengan para tuan rumah konser mereka.

Biaya mengikuti festival di Aberdeen akhirnya bisa dibayarkan sebagian, dan sisanya dibayarkan setelah perjalanan grup selesai. Karena kebaikan hati panitia festival ini, mereka bisa melanjutkan tur sampai akhir. Kekurangan dana yang awalnya sangat besar bisa sedikit terkurangi dengan upaya mereka meminta bantuan dana kepada pihak KBRI di setiap kota yang mereka singgahi dan hasil menjual angklung dan cinderamata. Di setiap kota yang disinggahi sambutan sangat luar boasa mereka terim? Di festival Zakopane dan Cerveny Kostelec, mereka bahkan mendapat penghargaan sebagai grup dengan antusiasme penonton terbaik. Perjalanan yang sangat luar biasa dan tak terlupakan. Ketika mereka kembali ke Indonesia, hutang yang di aberdeen tidak bisa terbayarkan karena mereka tidak mendapatkan sponsor. Bencana tsunami yang mengguncang Indoesia menyebabkan grup kesulitan mencari sponsor, karena dana perusahaan banuak yang dialihkan untuk membantu korban tsunami, akhirnya pihak Arbedeen memutuskan membebaskan grup dari hutang yang ada.
Profile Image for Pro  .
113 reviews41 followers
January 29, 2009
Penerbit : Bentang
Cetakan pertama : September 2007
Jumlah halaman : 530 halaman

Saya hanya membutuhkan waktu 1 malam saja (plus tidak tidur pastinya) untuk menghabiskan buku 40 Days in Europe nya Maul. Kenapa? Apakah bukunya sangat bagus sehingga saya tidak mau berhenti membacanya? Mungkin ya, mungkin tidak…


Pengalaman seperti yang dialami Maul dan 35 temannya dalam ‘mencari jalan’ untuk bisa ‘menaklukkan daratan Eropa dengan musik asli Indonesia’, saya yakin banyak dialami oleh banyak teman yang lain. Tetapi, bedanya adalah, mereka hanya menyimpan cerita itu untuk mereka sendiri sedangkan kang Maul dengan sangat menyenangkan, mau berbagi pengalamannya untuk pembacanya.


Resensi detail tentang buku ini, silakan baca di blog lain saja ya, karena saya tidak punya kepandaian me-review buku dengan bahasa yang indah. Saya hanya ingin komentar:


Saya suka semangatnya kang Maul dan teman-temannya (terutama tim inti) yang berjuang demikian kerasnya untuk bisa mewujudkan mimpi.


membaca buku ini membuat saya sedikit banyak tahu kalau kang Maul punya tingkat kematangan emosional yang sangat sangat tinggi. Jadi bisa belajar banyak dari dia bagaimana mengelola emosi.


Membaca buku ini jadi membuat saya jadi ingat buku MesTaKung nya Johannes Surya, yang membahas tentang : kalau kita berusaha dan berada dalam satu kondisi sangat terjepit, pasti ada saja jalan keluarnya karena Semesta Mendukung. Di buku ini, segala keajaiban penyelesaian permasalahan, kebetulan-kebetulan yang menyenangkan dan akhirnya melegakan, membuktikan MesTaKung.


Karena pernah berada pada kondisi seperti yang kang Maul ceritakan (walaupun sangat jauh dari kehebohan yang kang Maul ceritakan) tapi sedikit banyak saya bisa membayangkan bagaimana repotnya, bagaimana deg-deg an nya saat tinggal menghitung hari, semua belum ‘clear’. Untuk event yang kecil yang nggak keliling dari satu Negara ke Negara lain, yang nggak harus berhubungan dengan banyak lembaga saja sudah repot… apalagi seperti yang dialami oleh kang Maul dan teman-temannya itu…. Wah… pastilah kenyang dan puas dengan masalah.


Buku ini ‘highly recommended’ untuk orang yang sedang melakukan usaha tertentu dan ternyata menghadapi ‘tembok’ atau mendapatkan banyak halangan.


Membaca buku ini, memberikan banyak semangat untuk tidak mudah putus asa.


Buku yang sangat INSPIRASIONAL!! Senang menemukan buku ini dan bisa membacanya…
Profile Image for Adiwena.
1 review2 followers
August 2, 2008
Sebelum mbaca review ini ada satu hal yang wajib diketahui: buku ini saya dapat dari pacar yang ikut nimbrung pergi 40 hari ke Eropa (sebagai pemain angklung tentunya, bukan sebagai angklung... jangan marah ya)

Kalau harus ngasih komentar singkat, paling-paling komentar saya bakal berbungyi, "bosen-bosen menarik"

"Bosen", karena gaya menulis Maulana cukup mengganggu. Pertama kali saya liat buku ini, saya pikir ini bakal jadi kisah tentang perjalanan kelompok musik Indonesia menaklukkan daratan Eropa. Tapi kok... awal-awal malah banyak kang Maul ya? Mungkin maksudnya untuk memberi pengantar; makanan pembuka biar semangat membacanya. Tapi karena saya udah terlanjur niat baca soal angklung... jadi agak2 kecewa. (Lain soal kalau saya ingin mbaca soal kehidupan mahasiswa di Jerman.

Terus, bagian surel-surel di dalam buku. Awalnya sih asik, tapi setelah kebanyakan... jadi melelahkan. Tampaknya buku ini masih bisa disempurnakan dengan tugas editing tangan dingin.

Kalau ini buku fiksi... bisa jadi saya tidak akan pernah menyelesaikan membacanya. Untungnya ini buku (semi?) non-fiksi. Bagi saya, sebuah sastra selain harus dinilai dari penyampaiannya, juga harus diperhatikan ceritanya... Nah, ini yang mbuat buku ini "menarik".

Berasal dari SMU yang lebih terkenal sebagai tempat asal gang-gang bermotor, saya jadi ingin mbikin klub angklung di sekolah saya. Mungkin, pikir saya, beberapa teman saya tidak akan masuk penjara kalau ikut klub angklung.

Cerita perjuangan KPA 3 punya potensi menginsprasi siswa-siswi SMu untuk melakukan sesuatu yang positif, produktif, dan kegiatan -if -if yang baik lainnya.

Sayangnya untuk mendapatkan cerita itu, saya harus mbaca dulu buku yang melelahkan ini...

Rincian penilaian saya:
**: perjuangan anak2 KPA 3
* : perjuangan membukukan cerita mereka dengan niat baik
* : karena pacar saya ikut (dan mungkin akan marah kalau saya tida memberi minimal empat bintang :p )
Profile Image for Ime'... Imelda.
96 reviews15 followers
March 19, 2008
Buku ini cerita tentang suka duka salah seorang personel sebuah grup angklung dalam mempersiapkan tour mereka di Eropa. Cerita yang ada di buku ini, mulai dari awal pengaturan jadwal, perburuan festival dan kompetisi, hingga pencarian transportasi, dana plus negosiasi dengan kedutaan-kedutaan RI di negara-negara yang akan dikunjungi.

Berbeda dengan terbitan Bentang lainnya (Laskar Pelangi), 40 Days in Europe bahasanya sangat sederhana, nilai tambah tersendiri; tapi sayang, menurut gue, isinya kurang menggigit. Mungkin karena di dalamnya terlalu banyak cuplikan e-mail dan pembicaraan lewat messenger di awal, yang ngebuat gue rada males ngebacanya. Terus terang, gue merasa bosen ngebaca setengah buku ini, yang awalnya menjabarkan korespondensi via e-mail.

Masuk ke petualangan mereka 40 hari di Eropa, cukup membuat gue penasaran hingga gue menghabiskan bacaan gue sangat cepat. Menurut gue, bagian terbaik dari buku ini emang di 40 hari-nya itu.

Menurut gue, gaya si penulis dalam mendeskripsikan sesuatu agak aneh (atau mungkin itu gayanya?), kurang konsisten menurut gue. Di satu scene kadang-kadang sangat puitis, di scene lain, sangat praktis. Kebanyakan cara penjabarannya sih sangat praktis, ngebuat gue merasa aneh ngebaca tulisannya saat dia mulai dengan gaya puitisnya. Disini letak ketidakkonsistenannya; 40 days in Europe lebih seperti diary (daily written, with daily mood) ketimbang sebuah novel.

Kalo’ dari isi ceritanya sih, terus terang, gue selalu suka sama cerita-cerita yang mengisahkan tentang diri si penulis. Cuman, entah kenapa, kok gue kurang dapet feeling-nya di sini. Biasa aja di gue, datar.

Overall, menurut gue buku ini ya kurang konsisten penulisannya, lebih mirip diary (daily written, daily mood) ketimbang novel; kurang nge-flow dan datar. Bagi gue, buku ini biasa aja.

Dua bintang aja dari gue.

Ime’...
Profile Image for Pras.
36 reviews76 followers
October 8, 2007
Sewaktu melihat iklan buku ini di toko buku, yang di pikiran saya adalah "another backpacker or traveller story", dan membuat saya ga ragu lagi mencari buku ini.
Bab-bab awal saya tidak terlalu peduli akan kemana kang Maulana membawa cerita, karena saya tertarik pada pengalaman beliau bersekolah di Jerman berikut detil2 kehidupan anak kos di negeri orang. Beranjak ke bab2 berikutnya, energi membaca saya tidak mampu lagi menampung banyak detil kehidupan sehari-hari Kang Maulana. Saya mulai berpikir, kapan ia akan menceritakan topik utama buku ini yaitu perjalanan 3o an orang Kelompok KSA dalam memperkenalkan Angklung di eropa. Baru setelah hampir setengah buku, cerita intinya saya dapatkan.
Gaya bercerita yang seperti buku harian ini menarik diikuti. Mulai dari pendapat Kang Maulana tentang kultur Jerman yang biasa mandi bersama (sesama jenis loh.., but still..)sampe patungan membeli kebab supaya mendapat bonus satu kebab -prinsip beli 5 dapat 1-. Tapi terlalu banyak detil juga membuat saya lelah mengikuti nya, contohnya ada pada traffic percakapan via imel dan sms yang sangat intens di buku ini serta penyebutan sejumlah besar nama. Mungkin penulis ingin bercerita sedetil mungkin supaya pembaca dapat membayangkan situasi yang ia alami.
Dari pembacaan buku ini, saya mendapat pengalaman dan ide-ide baru. Bahwa Bangsa ini belum habis, masih ada individu2 seperti Kang Maulana yang bisa membawa nama bangsa ini harum.

nb: saya dengar angklung hendak dipatenkan oleh Malaysia sebagai folk musik mereka? kalau benar begitu beritanya ..
ayo lawan mereka..(nada heroik)
Profile Image for Shinta geulizz.
14 reviews2 followers
January 14, 2008
Nice Book...
Dari awal baca udah bikin sy penasaran banget, gmn akhirnya Kang Maul bisa berhasil/ga ngadain konser ini, gmn akhirnya KPA 3 ini bisa survive ke semua KOTA di Eropa sana.

Tapi sih kalo boleh jujur, sy malah lebih tertarik sama cerita mengenai pengalaman dia kuliah Di Jerman-nya (makanannya, transportasinya, cara dia bertahan hidup di sana, tempat tinggalnya, pokoknya kehidupan dia deh, itu bisa nambah2 referensi orang2 Indo yang mau coba kuliah diluar dengan duit yang lumayan Pas-Pas'an..

Malah pas diakhir cerita, sy jadi sedih n penasaran, wah Kang Maul sekarang udah s3 di Inggris, cerita2 apalagi yah yang dialamin disana... heheheh

Jadi kalo boleh usul, Kang Maul bikin aja cerita mengenai menjalani masa2 kuliah disana... s2 atau s3.

heheheh
Karena sy bukan tmasuk orang yang sering membaca buku, hanya beberapa aja buku2 yang udah sy baca. 40 Days in Euroope ini jadi Record tercepat Saya dalam membaca buku!!!! cuma 2hari! ngalahin ayat2 Cinta yang hampir 5 hari sy baca itu..
That Proved kalo "gw tuh penasaran banget sama semua isi cerita di dalam buku ini"

Alrite
^_^
ditunggu yah, buku2 Kang Maul lainnya..
1 review
May 12, 2008
Agak membingungkan memang mengkategorikan buku ini. Ceritanya menurut gw agak membosankan di awalnya, sebab, banyak email2 dan chetingan yang kurang begitu pas juga kalo ditampiplkan disitu. Apalagi, di bagian2 awalnya, email tersebut di-translate oleh Kang Maul (walaupun pada akhirnya benar2 murni bahasa Inggris -- mungkin Kang Maul kecapean kali yah translatenya).

Menurut gw, buku ini baru mengena mulai pada saat keberangkatan tim KPA3 itu sendiri hingga mereka kembali pulang ke tanah air setelah melewati berbagai konser yang menurut gw pasti dahsyat banget.... (jadi pengen lihat, ada yang punya rekamannya gak yah..?)

Overall, dibalik semua kekurangan yang gw rasakan dari buku ini. Tetap saja ada banyak kelebihan yang bisa dilihat dan banyak pelajaran yang bisa diambil sebagai bahan renungan...


Profile Image for Yunita1987.
257 reviews5 followers
February 21, 2011
Buku ini menceritakan pengalaman kelompok pemusik angklung yang akhirnya bisa sukses berkeliling benua Eropa untuk menampilkan kepada dunia bahwa musik tradisional indonesia menjadi suatu pertunjukan yang menarik disana.

Mungkin dari buku ini, kita bisa belajar ya, sebagai warga negara indonesia untuk mulai menyukai pertunjukan dari negeri sendiri, tetapi kisahnya bukan hanya mengenai pertunjukan saja, banyak sekali masalah yang mereka hadapi sehingga menjadi sebuah cerita yang cukup menarik untuk terus kita baca.
Bagaimana cara mereka untuk terus berjuang disaat mengadapi banyak masalah dan tantangan.

Selain itu, diakhir halaman buku ini, ada beberapa gambar yang menarik untuk dilihat.
Profile Image for Roos.
391 reviews
March 11, 2008
Pengalaman yang seru dengan Angklung berkeliling Eropa. Jadi bangga sebagai orang Indonesia. Karena bukan novel atau any other fiction, jadi agak lama dan sedikit membosankan memang, tapi seru juga baca buku ini lho.
Apalagi saat terjebak macet dijalan, dan harus ganti baju di bis yang secara baju tradional semua.

Yang lebih mengagumkan lagi, ternyata mereka kesulitan financial tapi masih semangat tampil demi angklung dan negara, kerennya lagi ada awards yang dimenangkan. Wah..wah...*geleng-geleng kepala* Hebat euy! Ehmmm...jadi penasaran saat KPA3 lagi ENCORE...kayak apa yak? Pasti keren.
Profile Image for Dhini.
96 reviews15 followers
May 18, 2009
wah.. kisah dalam buku ini sangat menarik...

bener2 terbayang perjuangan untuk melewati hari2 dalam mengikuti festival & konser2 di berbagai kota di Eropa, tanpa dana yang cukup..!!!

dan membaca kisah mereka, membuat saya ga berhenti memuji KE-MAHA-AN SANG KHALIK Penguasa Setiap Peristiwa... di saat yang sulit & udah kepepet ada saja jalan yang membuat tim KPA itu dapat bernapas lega... Adu..h Maha Suci Allah...

penghargaan & standing applause yang mereka dapatkan adalah salah satu bukti dari Ke-Maha-an itu... dan tiba dengan selamat sampai di Bandung,tanpa harus berenang menyeberangi selat Inggris... adalah bukti Ke-Maha-anNYA yang lain...

Subhanallah..Allahuakbar
Author 1 book2 followers
April 29, 2015
Buku ini sudah lama saya baca tapi baru sempat menuliskan sedikit komentar.

Totally, saat selesai membaca buku ini memang saya merenung. Seperti mendapatkan suntikan semangat untuk mewujudkan cita - cita. Apa yang sudah diyakini bisa, pasti kaan terbuka lebar jalan menuju impian itu.

Seperti halnya Penulis menggoreskan tulisan - tulisan yang mampu membuat pembaca larut dalam kisah mereka yang mengharu biru. Modal kenekatan dan ternyata ada jalan dalam setiap kesempitan. Ternyata jalannya seperti itu. Tak perlu mencari karena jalan itu pasti akan datang sendiri.

Profile Image for Anggraeni Purfita Sari.
84 reviews9 followers
June 26, 2012
Jujur, saya bosen baca buku ini. Sebenernya sih menarik, tapi model penceritaannya yang kayak buku harian gini malah jadi membosankan buat saya pribadi. Apalagi nggak semua yang ditulis disini nyambung sama judul bukunya, kayak terlalu kemana-mana gitu. Jadilah saya nggak selesai baca buku ini, cuma sampai tengah-tengah terus nyerah.

Saya tadinya mengharapkan buku tebal ini akan menarik dan lucu kayak umumnya buku tentang travelling. Pas baca review di Goodreads sih pada bilangnya buku ini menarik dari tengah ke belakang tapi saya udah terlanjur males nerusin, hehe.
Profile Image for Sam.
184 reviews17 followers
July 1, 2010
it's simply an amazing book, about a great adventure, and unforgetable moments...

hebat buat kang maul & kawan-kawan ESA yg sudah berbagi pengalaman mereka 'mejajah' daratan eropa dan bersedia ng-orsu, hihi.. believe the unbelievable then you'd see wat God's capable of ;)

membaca buku ini memompa terus jiwa nasionalisme, keinginan tuk menapaki jalan-jalan kebebasan, melihat keindahan dan menujukkan keberanian bangsa Indonesia.. ayooo kapan kita ngeropah neee!!!
Profile Image for Raiya.
30 reviews4 followers
December 11, 2010
Kang Maul mungkin bukanlah seorang penulis kenamaan. Tapi pengalaman hidup luar biasa yang dituturkannya dalam buku ini membuat buku ini menjadi istimewa. Salut untuk kegigihan Kang Maul dan teman-teman dalam memperjuangkan cita-cita konser keliling Eropa dan selamat atas keberhasilan KPA3 yang telah meraih beberapa penghargaan internasional disertai pengibaran bendera Merah Putih dan berkumandangnya lagu Indonesia Raya di daratan Eropa.
Profile Image for Tezar Yulianto.
391 reviews38 followers
March 1, 2016
Buku ini mengisahkan bagaimana 'sesuatu yang mustahil' pasti bisa dilakukan, apabila kita melangkah satu demi satu langkah. Sayang, meski kisahnya sangat luar biasa, saya tidak menangkap kesan itu dari tulisan Maulana. Teerlalu datar, bahkan. Sampai di momen dramatis, di pentupan konser terakhir KPA3, saya tidak merasakan euforianya. Tapi membaca buku ini, meyakinkan saya, bangsa Indonesia, salah satunya ditunjukkan oleh KPA3 ini, bisa sejajar dengan bangsa lain. Bravo KPA3.
12 reviews
June 29, 2013
Suka banget sama buku ini. Sebenernya bacanya udah lama banget ya, sekitar 4 tahun lalu. Bagusnya sih buku ini tentang perjuangan kita gitu. Nggak boleh pantang menyerah walaupun ada banyak masalah.
Yang gue inget itu pas mereka kekurangan banyak dana waktu di Inggris kalo ga salah. Sampe akhirnya mereka minta diikhlasin aja karena gak bisa nyari sponsor karena ada tsunami ya waktu itu.

Terus yang bikin asik juga itu ya pengalaman-pengalaman mereka waktu di Eropa. Buku ini asik banget dibaca
Profile Image for Wittiyaa.
77 reviews4 followers
November 7, 2007
amazing!
perjuangan anak2 sma3 menjelajah eropa, mengemban misi mengharumkan nama tanah air dalam konser angklung. Perjalanan yg lebih mirip spt mission impossible krn mereka nekat pergi tanpa biaya. Kisah sedih dan sukses mereka bikin nangis, terlebih salah satu personel mereka adalah 'his younger brother', he2.. Baca aja. Sukses buat Cqo n KPA 3!
Profile Image for Arifin Wibowo.
2 reviews
October 9, 2008
Buku ini bercerita sekumpulan pemusik angklung yang berusaha mengikuti festival di eropa. Apa yg Gw dapat dr buku ini :
- Tetap berusaha,
- Kalau Usaha diikuti dengan niat yang baik, pasti tuhan kasih
jalan yang terbaik,
- Manusia hanya bisa pada suatu titik yang disaat itu mengucap hanya tuhanlah yang tau keadaan bsk gmn.....
Profile Image for Alex Junianto.
7 reviews2 followers
October 14, 2008
buku yang lumayan inspiratif, banyak hal dapat diambil ilmunya. semangat anak-anak muda yang ga mengenal lelah untuk mengenalkan budaya angklung keluar negeri. tp yang jelas mereka memberikan inspirasi untuk selalu berani mengambil resiko. dalam keadaan yang sesulit apapun ketika kita mau berusaha maka akan diberikan jalan dari Yang Kuasa.
Profile Image for Hanaitsi.
73 reviews3 followers
November 21, 2008
kisah nyata perjalanan kelompok musik angklung dari bandung di daratan eropa selama 40 hari, sangat menarik, banyak cerita seru dan mengharukan, bisa merasakan rindu pada indomie ketika berada di luar negeri :), mungkin setengah awal buku agak membosankan tapi setengah sisanya..... sangat menarik untuk dibaca
Profile Image for Wielda S. Nova.
22 reviews3 followers
January 18, 2010
Bangga euy baca ni buku... anak2 Indonesia mah gak kalah keren bertanding dengan orang2 barat sono... dibawain apik pisan ama kang Maul, yang juga menjadi leader di kelompok ini. Dahsyat perjuangan ni kelompok untuk bisa menembus Eropa, berdarah-darah dah... Salut.
Oya, ni kelompok pernah diundang juga di acara Kick Andy.
Profile Image for Ani Septiani.
4 reviews1 follower
January 25, 2011
Hm...perjuangan memperkenalkan budaya indonesia ke dunia luas, saya suka terharu ajah, gak tauk kenapa suka nangis pas melihat mereka pentas ( liatnya di TV ).

Nah di buku ini, saya bisa ngebayangin perjuangan mereka, dari ngurusin visa sampe tetek bengeknya...kan anggota mereka bejibun oy. Huff...malah suka ikut capek, kerenlah.
Profile Image for Bunga Mawar.
1,356 reviews43 followers
February 15, 2009
Entah siapa yang ngomong, saya lupa, katanya "Buku2 akan mencari jalannya sendiri mencapaimu".

Maka saya tidak heran kalau buku ini sudah mendapat jalannya sebagai buku mengenai perjalanan ketiga yang sampai untuk saya baca bulan ini.

*review nyusul, entah kapan*
Profile Image for Hary Johari.
2 reviews3 followers
February 27, 2010
This book not only memorize the journey, but more. It's about how young Indonesian believe that nothing impossible if we have good mission and work hard.
This book also prove that Indonesian youth people can do the best effort for their country..

Profile Image for tia.
59 reviews4 followers
October 9, 2007
kadang bosan juga baca salinan e-mail yang ditampilin oleh maul di buku ini. yang pasti buku ini ngingetin aku sama masa-masa di MB. unforgettable moment.
Displaying 1 - 30 of 59 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.