Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65 - Esai-esai Sejarah Lisan

Rate this book
Banyak buku mengenai peristiwa '65 telah terbit dengan menyajikan berbagai macam sudut pandang. Buku ini menawarkan suatu metode penelitian sejarah yang disebut sebagai 'sejarah lisan'. Sejarah lisan bukanlah istilah yang akrab di telinga banyak orang Indonesia. Mungkin istilah itu malah dianggap aneh karena pemahaman umum mengenai sejarah adalah studi tentang masa lalu berdasarkan dokumen tertulis. Ketika mendengar bahwa penelitian dalam buku ini dilakukan dengan cara wawancara lisan, banyak orang ragu, apakah tidak mungkin narasumber yang diwaawancarai berkata benar?
Pertanyaan ini mencerminkan persepsiyg terdistorsi mengenai penelitian dan penulisan sejarah. Jika dikatakan bahwa suatu penelitian sejarah dilakukan dengan meneliti arsip, maka tidak akan muncul pertanyaan serupa yang meragukan kebenaran arsip yang bersangkutan.
Metode penelitian yang dipakai dalam penyusunan esai-esai dalam buku ini mencoba untuk mengajukan ingatan sosial yang dimiliki oleh korban peristiwa '65. Yaitu ingatan sosial yang berbeda dengan ingatan sosial yang dibentuk oleh pemerintahan Soeharto selama ini. Buku ini menjadi semacam dokumentasi ingatan sosial korban yang selama ini tercerai di dalam kegelapan kebohongan. Kebanyakan korban ingin menentang ingatan sosial yang menganggap mereka sebagai setan dan pengkhianat. Mereka ingin mengungkapkan cerita bahwa mereka adalah orang baik, bermartabat, patriotik yang kemudian dikorbankan. Buku ini tidak lantas ingin menampilkan mereka sebagai malaikat, karena merekapun tidak ingin terlihat seperti itu. Mereka ditampilkan sebagai manusia, yang tidak lebih baik atau lebih buruk daripada manusia yang lain, yang tidak pantas diperlakukan seperti apa yang mereka alami. Prinsip para penyusun dan penulis buku ini sederhana saja: tak seorangpun, terlepas dari latar belaakng dan masa lalunya, boleh diculik, disiksa, diperkosa, dipaksa bekerja tanpa upah, ditembak mati, dan dikubur dalam kuburan massal atau ditahan tanpa pengadilan atas alasan apapun.

253 pages, Paperback

First published January 1, 2004

12 people are currently reading
90 people want to read

About the author

John Roosa

7 books6 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
18 (47%)
4 stars
13 (34%)
3 stars
7 (18%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for  Δx Δp ≥ ½ ħ .
389 reviews159 followers
September 26, 2017
Di desa tempat ibu saya dibesarkan, ada seorang nenek yang rumahnya berada di pinggir tepi desa. Meski bisa dikatakan tidak dikucilkan oleh penduduk sekitar, tetapi termasuk berada paling pinggir di desa.

Sebagaimana anak-anak SD lainnya, saya sering bermain petak umpat dan bersembunyi di pekarangan rumah orang supaya tidak mudah dikenali. Suatu hari saya memilih rumah si nenek itu. Saya menunggu hampir sejam lebih sampai mulai bosan, tak ada teman-teman saya yang mencari saya ke sana. Mungkin mereka memang tak merindukan saya atau malah tak ada yang merasa kehilangan saya, haha, tapi tentu saja di masa-masa itu, pikiran saya belum sampai ke sana.

Selama bersembunyi di pekarangan si nenek, saya diajak mengobrol olehnya, bahkan diberi uang jajan dan ubi rebus sehingga saya tak merasa terlalu kebosanan. Saya baru izin pamit karena sudah hampir sore, karena akan menonton serial TV favorit saya, Kesatria Baja Hitam.

Ketika berkumpul kembali dengan teman-teman saya, mereka mengumpati saya karena dituduh curang saat main petak umpat. Saya dituduh bersembunyi telalu jauh. Tentu saja saya membela diri dan mengatakan bahwa saya hanya bersembunyi di pekarangan si nenek yang sebenarnya tak terlalu jauh dari lokasi tiang tempat Si Kucing menutup mata. Reaksi teman-teman saya membuat saya heran dan terkejut. Paras mereka mendadak pucat, menatap saya ngeri tak percaya seolah saya berubah menjadi monster di serial KBH. Ada keheningan beberapa jeda, yang lalu diikuti ledakan ejekan tak berkesudahan setelahnya. Dengan bersemangat, dikatakan bahwa saya akan mendapatkan kesialan karena telah mendatangi rumah seorang nenek dukun ilmu hitam yang kejam. Keluarga saya memang baru berpindah belum lama ke sana sehingga saya belum mendapatkan gosip banyak. Saya yang terpengaruh oleh perkataan teman-teman, seketika merasa lemas takut jika kutukan akan datang. Saking stressnya, saya menonton acara serial TV KBH dengan perasaan gundah dan tak menikmati acaranya sama sekali, padahal masa itu adalah masa dimana serial KBH merupakan serial TV terkeren di dunia dan amat sangat dinanti tiap harinya.

Malamnya, saya menceritakan semua ketakutan dan kekhawatiran saya pada ayah saya, dan bertanya siapa sosok nenek dukun ilmu hitam tersebut. Ayah saya malah tertawa. Dengan singkat beliau mengatakan bahwa nenek tersebut bukan dukun aliran ilmu hitam yang kejam sebagaimana yang disebutkan oleh teman-teman saya, dia hanya seorang yang diduga mantan anggota PKI. Meski niat ayah saya ingin menenangkan saya yang mengadu dengan gemetar, jawaban tersebut justru membuat saya lebih ketakutan lagi daripada sebelumnya. Ayah memang tidak memberikan penjelasan lebih lanjut, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat saya tak tidur tenang malamnya. Uang jajan pemberian si nenek, segera saya kubur di belakang rumah dengan rapalan doa banyak-banyak agar kesialan tak menghampiri saya.

Ya, zaman itu, kata PKI–terlebih di mata anak-anak seperti saya yang hanya mendapatkan keterangan dari buku pelajaran sekolah dan film G30S/PKI — sudah cukup untuk membuat saya ketakutan dan berpikiran buruk macam-macam kepada orang yang dicap “PKI”. Saya tak pernah mampir ke rumah si nenek lagi meski dia suka memanggil dan mengundang datang ke rumahnya saat saya sendirian lewat depan rumahnya. Satu-satunya saat masuk ke rumah dia adalah bersama ayah dan itupun saya merepet sembunyi terus di belakang punggung ayah dan menjawab gugup singkat jika ditanya. Kalau sedang sendirian, saya suka berjalan lebih cepat jika lewat rumah tersebut.

Setelah referensi bacaan bertambah, usia saya juga semakin dewasa dengan kabar tentang si nenek semakin terang didapatkan, tahulah saya bahwa si nenek adalah seorang janda. Suaminya dituduh simpatisan PKI dan tak pernah pulang kembali ke rumah ketika anggota TNI menjemputnya suatu malam. Si nenek yang sebetulnya hanya guru SD biasa, sejak saat itu semakin disisihkan dari pergaulan masyarakat dan timbullah berbagai mitos menakutkan tentangnya, agar kami anak-anak tidak ‘terpengaruh’ oleh pikiran hitam PKI-nya.

Dan tentu saja kita semua tahu, mitos tsb salah, si nenek tak punya salah (setidaknya salah dan dosa secara langsung kepada masyarakat). Dulu saya tak habis pikir mengapa ayah malah dekat dengan si nenek padahal si nenek itu ‘jahat’–kata-kata ‘komunis’ dan ‘jahat’ kadang menjadi sinonim dan saling menggantikan. Pikiran naif saya tak bisa menalar mengapa ayah saya atau beberapa orang lainnya yang jumlahnya tak banyak, bisa bicara akrab dengan si nenek.

Sayangnya kesadaran itu muncul terlambat. Si nenek keburu meninggal sebelum saya sadar bahwa sesungguhnya dia adalah korban, dan saya sebagai anak-anak malah menjadi pelaku, dengan ikut berburuk sangka kepada si nenek. Si nenek meninggal ketika saya belum sadar tentang makna dosa, penghakiman, kesadaran, dan syak wasangka serta efek buruknya yang membakar. Membakar nurani kami untuk bersimpati, dan membakar logika kami untuk bertoleransi. Padahal dia meninggal sesudah era reformasi, tetapi tak ada reformasi yang sampai ke desa kami yang mereformasi cara berpikir kami kepada si nenek. Beliau meninggal dalam kesendirian dan kesepian, bahkan orang-orang sedesa terlalu takut untuk menguburkannya dan mendoakannya. Hanya ayah dan pemuka agama desa saja yang berani mengurus jenazahnya. Saya masih belum lulus SD saat itu.

Ketika akhirnya saya menyadari kondisi sesungguhnya, semuanya terasa sangat terlambat. Saya selalu diliputi perasaan bersalah pada si nenek. Saya ingin meminta maaf pada si nenek, atas dosa-dosa saya yang telah menuduh dan menghakiminya, atas dosa kami sebagai masyarakat yang telah berburuk sangka padanya. Dosa atas ketidaktahuan saya. Dosa atas ketidakmauan saya dalam mencari tahu kebenaran sesungguhnya. Saya tak sempat meminta maaf padanya, malah ikut berprasangka bahkan pada hari kematiannya.

Membaca buku Tahun yang Tak Pernah Berakhir, tetiba membangkitkan kenangan dan penyesalan saya pada si nenek. Dan secara menyakitkan, juga menyadarkan saya bahwa belasan tahun setelah kematian si nenek, tak banyak hal berubah di negara ini. Dosa dan prasangka kita masih tetap bercokol dan yang lebih buruk lagi malah semakin berkembang karena sikap keras kepala dan sikap bebal sebagian masyarakatnya.
Profile Image for Ms.TDA.
235 reviews3 followers
February 11, 2025
Sebelumnya, aku mendapatkan informasi ttg buku ini dari salah satu teman diskusi online. Waktu itu kita sedang membahas sejarah 98, dan ketika aku bercerita ada bbrp buku yg sangkut pautnya dg alinea tsb masukklah ke era 65, and here we go.

“Dibawah rezim soeharto, byk sekali suara korban yg bungkam hingga hilang nyawanya bagai tidak ada harganya dan sesepele itu. Dan masalah paling sulit dalam sejarah bukanlah bagaimana menetapkan fakta-fakta - prosedur untuk melakukan hal ini sudah cukup jelas - tapi fakta mana yang harus kita bahas mengingat jumlahnya yang tak terhitung.” 🙃📜

Ketika selesai membaca ini, cukup tercengang dengan segala informasi yang disampaikan dan memang pilu ketika mendalami apa yg dirasakan oleh masyarakat2 pada zaman tersebut.😞

Literally daging semua dan banyak hela nafas dari awal sampai akhir😮‍💨 4,7/5🌟
Profile Image for Galen Hosea.
18 reviews2 followers
November 4, 2025
Buku yang penting untuk dibahas sekaligus dibaca dalam memahami bagaimana buruknya kondisi sosial-politik Pasca G30/S. Seperti yang disebut Vincent Bevins dalam Metode Jakarta

bahwa penangkapan berdasarkan guilty by association memang benar-benar terjadi.

Misal, sebuah cerita korban dalam buku ini, namanya Partono, rumahnya kerap kali dijadikan sebagai pusat kegiatan belajar kesenian dan perekonomian desanya, tanpa ada hubungan dengan peristiwa 30 September, Partono tetap ditangkap.

Meskipun penulisan buku ini berdasarkan sejarah lisan dan ingatan sosial, tentu secara alamiah dapat dipahami sebagai hal yang wajar. Pasca peristiwa penahanan dan segala hal buruk yang pernah terjadi pada korban, ada trauma mendalam, juga kolektif yang merubah bagaimana budaya dan keseharian korban.

Layak dibaca.

Profile Image for Ilham Rusdiana.
157 reviews1 follower
May 23, 2017
Buku ini menyuarakan jeritan hati sebagian kecil korban dan keluarga korban tragedi 65. Pengumpulan data dalam buku ini keseluruhan dilakukan dengan wawancara lisan. Pembantaian oleh rezim Orde Baru tidak hanya dilakukan terhadap anggota PKI saja, tetapi orang-orang yang tidak tahu apa-apa pun ikut dibunuh. Yang beruntung, hidup di penjara sampai belasan tahun. Itu pun tidak lepas dari siksaan di tempat penahanan. Penelitian ini menguak betapa masifnya propaganda rezim Soeharto dan beratnya penderitaan yang dirasakan oleh jutaan orang di masa itu.
Profile Image for Bayu Agumsah.
2 reviews
November 2, 2018
Membaca berita dalam cerita dari kesaksian para eks tapol membuat hati terenyuh, sedih, miris, kasian, begitu kejamnya orde baru memperlakukan rakyatnya. Buku yang wajib masuk pelajaran sejarah disekolah SMP, SMA.
Profile Image for Wulan.
61 reviews37 followers
March 24, 2017
buku yang sangat penting untuk di baca orang indonesia yang tahunya bahwa PKI itu setan, tidak bertuhan dan harus dimusnahkan di Indonesia. Banyak sekali korban yang tidak berdosa, tidak tahu apa-apa, dibunuh atau dijadikan tahanan politik yang selama puluhan tahun lamanya bekerja paksa di bawah tentara dan mereka tidak mendapatkan kompensasi apa-apa dari negeri ini.

buku ini penting bagi kalian yang anti sekali dengan PKI tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya pada waktu itu dan hanya tahu dari buku sejarah yang dibuat oleh pemerintah orde baru yang begitu banyak hoaxnya, jika saya harus meminjam istilah yang trendi saat ini.

buku ini penting untuk mengetahui sejarah kita yang sesungguhnya.
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.