Salah satu topik yang dibahas dalam buku ini membuatku berpikir ulang soal diskusi-diskusi (((filosofis))) yang pernah kulalui. Pernah bertanya-tanya nggak, kenapa kalau kita ngomongin filsafat, pasti sebagian besar rujukannya adalah filsuf laki-laki? Pun kalau ada yang perempuan, dia pasti fokusnya ke feminisme, atau ranah filsafat feminis yang nggak semua orang tertarik bahasnya. Nah, untuk menjawab itu, akarnya panjang dan untuk sampai ke ujung akarnya, buku ini bisa memberikan deskripsi yang cukup lengkap.
Metode yang dipakai dalam disertasi ini mengingatkanku pada skripsiku sendiri: bagaimana satu per satu pemikiran berbagai filsuf disampaikan, kemudian didedah apa yang "salah", lalu dipaparkan apa yang harus kita lakukan dengan data serba misoginis ini. Dua bab terakhir adalah bagian terpenting dalam buku ini dan mampu mengafirmasi apa yang selama ini kupikirkan capek-capek sendirian. Transisi untuk mencapai dua bab itu juga sangat halus dan berguna betul.
Kalau aku boleh bandingkan buku hasil disertasi ini dengan punya Mbok Saras Dewi (Ekofenomenologi), aku merasa buku ini lebih runut, lengkap, dan tidak "sia-sia". Pemaparan yang panjang, sekitar 2/3 bagian, tetap bisa disintesiskan dengan lugas di 1/3 sisa buku ini. Walaupun begitu, aku berterima kasih karena buku ini jadi salah satu suntikan semangat buatku pribadi: bahwa ngebahas perempuan, feminisme, dan gender di filsafat itu nggak "kurang filsafat" dari apa yang dibahas para "filsuf" kebanyakan. Soalnya daku sering minder sama temen-temen filsafat dan komunitas epistemik filsafat dunia (ciegitu?) karena ini, hehehe.
Bagaimanapun, pengalaman menjadi perempuan tentu berbeda dengan laki-laki. Ketika pengalaman itu dipinggirkan secara sistematis, kita harusnya paham bahwa filsafat sebagai wahana diskursus (bukan semata untuk mencari kebenaran (lagian apa itu kebenaran? Kebenaran punya siapa?)) mesti melibatkan perspektif perempuan. Dengan begitu, diskursus dan pandangan kita soal realitas akan jadi "seimbang".
Yak. Ngayal babu sayah cukup segitu dulu, ya.
N.B.: perlu diingat bahwa buku ini adalah hasil disertasi Bu Gadis tahun 2002. Kupikir disertasi ini bisa dibilang "mutakhir" di zamannya mengingat saat itu wacana feminisme di akademia Indonesia belum setenar sekarang. Sekarang sih wacananya sudah jauh lebih berkembang lagi. Walaupun begitu, secara umum buku ini masih relevan untuk dibaca sebagai pengantar filsafat feminis, meski tentunya ada beberapa lubang yang masih bisa ditambal.
Renungkanlah... betapa lesunya sokongan akademis terhadap pergerakan aktivis, khususnya dalam hal ini aktivis perempuan. Buku yang membahas feminisme cuma ini.cuma ada satu ini. Hormat kepada bu Gadis Arivia yang menulis buku ini.
Itulah keluhan dosen saya, Rocky Gerung. Banyak sekali pergerakan di Indonesia. Tapi penyokong akademisnya kurang bahkan tidak ada. Kita minim kajian, minim buku, minim wacana ilmiah. Demonstrasi banyak, tapi alasannya lebih ke emosional dan sesaat bukan pertimbangan ilmiah dan akademis.
Buku ini sangat penting untuk dibaca. Kita diajak untuk membedah sifat misoginis yang terkandung dalam filsafat yang selama ini menjadi landasan. Kita juga diajak untuk memahami feminisme dan juga berupaya memahami filsafat yang bersifat feminis.
Tentu buku ini dipenuhi teori. Tetapi, Bu Gadis menuliskannya dengan baik sehingga menjadi mudah untuk dipahami.
Arivia wrote this book as her doctoral dissertation. I found it interesting because she tried to evaluate what is the meaning of Feminist Philosophy. She tracked back from ancient philosophers' thinking until the recent ones. Arivia did a good work, however in some places I found that she chased her dead line to submit it to her professor.
Desertasi Mbak Gadis. Interesting approach untuk mengulas berbagai teori filsafat yang berkembang. Saya hargai keberanian Mbak Gadis untuk ngambil sudut pembahasan dari sisi ini. Berhasil? Well.. most of the time iya, tapi biasalah pembaca awam macam saya ini pasti nemu aja bagian2 yang weak. Maaf :))
Buku ini setidaknya memberikan gambaran bahwa dalam Filsafat suara Perempuan tidak diperhitungkan bahkan justru ada beberapa pernyataan Filsuf yang justru mengandung misoginis dan bias. Disinilah banyak filsuf Perempuan dihadirkan suaranya yang selama ini tidak terdengar. Sekaligus memberikan pemahaman akan gerakan Feminisme sekaligus Pemikiran mereka serta bagaimana mengaplikasikannya.
Saya hadir saat peluncuran bukux. So dpt potongan harga 40 persen. Plus dpt tandatnganx. Sekaligus bs melihat dua anakx yg bule. Well sy sgt mengagumix sejak ia mendirikan jurnal perempuan.