Sukses bikin ketawa dan terharu pagi-pagi! Ini jenis cerita yang akhirnya bisa saya promosikan ke murid-murid di kelas. Interaksi di dalamnya juga mengingatkan saya sama percakapan mereka. Hanya sedikit 'keliru' di label saja ya, lebih tepat dimasukkan ke kategori middle grade atau istilahnya 'buku KKPK'.
Latar waktunya sudah menarik hati saya, yaitu tahun 1980an. Di Palembang pula, tempat salah seorang teman baik saya tinggal. Tokoh-tokohnya khas anak-anak, dijamin lovable dan langsung relatable dengan anak-anak di sekolah. Itut layaknya jagoan di komik, yang pemberani, jail, cerdas-tapi-dianggap-bodoh, dan suka dengan banyak cewek--eh, cowok. Hehe. Meimei begitu bijaksana karena pengetahuannya yang luas, dan Manna sang Cinderella dari Kampung Bala yang akhirnya menemukan kebahagiaan. Bodor membaca isi kepalanya juga celotehan asalnya, hayang neke urang mah pokoknya. Bandel tapi ya, namanya juga anak-anak.
Sukaaaa sekali dengan kavernya. Ilustrasinya keren!
Anehnya, meskipun jalannya tergolong cepat, saya bisa masuk ke dalam ceritanya tanpa ada emotion lag. Misalnya saja setelah Itut asyik mengobrol dan bercanda dengan temannya, lalu masuk adegan ia kangen bapaknya, lalu menulis puisi, dan akhirnya sebuah berita duka datang. Saya bisa merasakan keduanya dengan seimbang. Ketawa iya, terharu juga iya. Meskipun dialognya identik dengan KKPK atau cerpen Bobo, tapi sepertinya memang begitulah anak-anak kalau mengobrol. Tak sungkan berkata mereka bersahabat dan akan terus menjaga sampai tua nanti (dulu saya gitu nggak, ya?).
Karena latarnya yang jadul, saya ikut memperhatikan kegiatan sekolah di masa itu. Dulu, guru enak sekali melempari murid dan menghukum berdiri karena telat. Sekarang... alih-alih hukuman, kini disebutnya 'konsekuensi'. Yang tidak menaati aturan akan membantu piket membersihkan kelas, salat Dhuha di waktu istirahat, ikut belajar di kelas yang lebih bawah, atau minta tanda tangan guru di surat perjanjian. Saya suka gaya pak guru agama yang meskipun Manna telat karena mengaji tetap memberi Manna konsekuensi. Pak Jainal juga baik. Semoga guru seperti Bu Lastri sudah tidak ada lagi.
Saya mungkin sedang jenuh dengan cerita kelewat realistis, jadi ingin sesuatu yang lucu dan menghibur. Ah, puas sekali membaca ini di pagi-pagi sambil sarapan roti keju. Coba ada Fanta merah juga, lengkaplah sudah!