Antologi Cerpen Pilihan Kompas 2012 tidak lain adalah 'potret' tentang keindonesiaan kita; sebuah Indonesia yang heterogen, unik, sekaligus juga problematik. 'Potret' ini adalah sekrup kecil dari sebuah mesin raksasa bernama Indonesia. Serpihan-serpihan yang tercecer dari problem bangsa ini yang (mungkin) sudah begitu akut, kompleks, dan multidimensional. Sejumlah 20 cerpen dalam antologi ini separuhnya mempertontonkan akar budaya yang diperlakukan secara beragam.
Cerpen yang terpilih sebagai cerpen terbaik, "Laki-laki Pemanggul Goni" (Budi Darma) dikisahkan begitu dingin, tetapi toh kita tetap merasakan hadirnya atmosfer suasana cerita yang menegangkan dengan segala teka-tekinya. Keberhasilan cerpen ini bukan terletak pada kepiawaian pengarang menyembunyikan identitas tokoh-tokohnya. Dalam cerpen ini, diperlihatkan betapa penting semua unsur intrinsik tampil kompak, berjalin berkelindan membangun cerita. Di antara ke-20 cerpen kali ini, "Laki-laki Pemanggul Goni" tampil sebagai cerpen yang kaya tafsir dan kaya makna.
Cerpen Pilihan Kompas pada akhirnya boleh dianggap sebagai juru bicara cerpen Indonesia kontemporer -sekaligus menampilkan dirinya sebagai 'potret' Indonesia.
Budi Darma lahir di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Semasa kecil dan remaja ia berpindah-pindah ke berbagai kota di Jawa, mengikuti ayahnya yang bekerja di jawatan pos. Lulus dari SMA di Semarang pada 1957, ia memasuki Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada.
Lulus dari UGM, ia bekerja sebagai dosen pada Jurusan Bahasa Inggris—kini Universitas Negeri Surabaya—sampai kini. Di universitas ini ia pernah memangku jabatan Ketua Jurusan Inggris, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, dan Rektor. Sekarang ia adalah guru besar dalam sastra Inggris di sana. Ia juga mengajar di sejumlah universitas luar negeri.
Budi Darma mulai dikenal luas di kalangan sastra sejak ia menerbitkan sejumlah cerita pendek absurd di majalah sastra Horison pada 1970-an. Jauh kemudian hari sekian banyak cerita pendek ini terbit sebagai Kritikus Adinan (2002).
Budi Darma memperoleh gelar Master of Arts dari English Department, Indiana University, Amerika Serikat pada 1975. Dari universitas yang sama ia meraih Doctor of Philosophy dengan disertasi berjudul “Character and Moral Judgment in Jane Austen’s Novel” pada 1980. Di kota inilah ia menggarap dan merampungkan delapan cerita pendek dalam Orang-orang Bloomington (terbit 1980) dan novel Olenka (terbit 1983, sebelumnya memenangkan hadiah pertama sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 1980).
Ia juga tampil sebagai pengulas sastra. Kumpulan esainya adalah Solilokui (1983), Sejumlah Esai Sastra (1984), dan Harmonium (1995). Setelah Olenka, ia menerbitkan novel-novel Rafilus (1988) dan Ny. Talis (1996). Belakangan, Budi Darma juga menyiarkan cerita di surat kabar, misalnya Kompas; pada 1999 dan 2001 karyanya menjadi cerita pendek terbaik di harian itu. Cerpennya, "Laki-laki Pemanggul Goni," merupakan cerpen terbaik Kompas 2012.
Dalam sebuah wawancara di jurnal Prosa (2003), lelaki yang selalu tampak santun, rapi, dan lembut-tutur-kata ini sekali lagi mengakui, “...saya menulis tanpa saya rencanakan, dan juga tanpa draft. Andaikata menulis dapat disamakan dengan bertempur, saya hanya mengikuti mood, tanpa menggariskan strategi, tanpa pula merinci taktik. Di belakang mood, sementara itu, ada obsesi.”
Kumpulan cerpen terbaik Kompas yang mungkin dapat menjadi 'wajah' kehidupan sastra sosial dan budaya Indonesia. Perkenalan saya dengan cerpen-cerpen Kompas bukanlah dari koran, maklum saya tidak pernah berlangganan koran, melainkan dari beberapa blog yang cukup rajin untuk meng-kliping karya-karya yang terbit tiap Minggu itu.
Sejak membaca di blog tersebut saya langsung tertarik dengan beberapa karya cerita pendek yang dihasilkan oleh sejumlah penulis kenamaan seperti Seno Gumira Ajidarma, Agus Noor, Budi Darma, Mustofa Bisri, Arswendo Atmowiloto, Triyanto Triwikromo, dan juga sederet karya dari penulis berbakat lainnya di negeri ini.
Tidak lama setelah itu saya kemudian membeli kumpulan cerpen terbaik Kompas tahun 2012. Kendati Kompas telah menerbitkan belasan judul kumpulan cerpen terbaik dalam kurun waktu belasan tahun pula, buku ini adalah kumpulan cerpen terbaik Kompas yang pertama kali saya baca.
Selain cerpen 'Laki-Laki Pemanggul Goni' karya Budi Darma yang juga menjadi yang terbaik di antara cerpen pilihan lainnya hingga menjadi judul utama, banyak lagi karya lain yang secara umum sangat menarik untuk dibaca. Di buku ini saya juga sangat menyukai 'Mayat yang Mengambang di Danau' karangan Seno Gumira Ajidarma, 'Ambe Masih Sakit' karya Emil Amir, 'Nyai Sobir' karangan Mustofa Bisri, dan juga 'Bu Geni di Bulan Desember' gubahan Arswendo Atmowiloto. Seluruh karya itu begitu menunjukkan wajah Indonesia yang sesungguhnya, yang penuh dengan kepercayaan adat istiadat dan juga pengaruh agama pada kehidupan sosial masyarakat. Maka kumpulan cerpen ini memang layak menjadi cerminan dan 'wajah' negeri Nusantara ini.
Di akhir buku, Anda juga akan menemukan ulasan esai epilog dari Maman S Mahayana, seorang kritikus sastra yang juga dosen di FIB UI. Ulasan yang sangat menarik bagi saya, membuat kita kembali berpikir mengenai makna yang terkandung dalam tiap peristiwa juga latar yang tergambar di dalam cerpen-cerpen tersebut. Maman juga mengajak kita untuk menemukan benang merah korelasi antara cerpen tersebut dengan kehidupan nyata.
Well, bisa dibilang ini kumcer terlama yang saya selesaikan. Biasanya kumcer Kompas begini saya selesaikan dalam 3 - 4 hari. Ini kurang lebih 3 minggu. Nggak bukan karena apa-apa. Saya membacanya pelan-pelan memang. Rasanya nggak rela buat selesai cepet-cepet. Dari hasil baca 3 minggu, saya berhasil menyelesaikan 2 sketsa based on cerpen-cerpen yang ada di sini (dan dikomenin oleh masing-masing penulisnya. AAKKK!!!), dan kemungkinan akan tambah 1 sketsa lagi dan juga 1 cerita remake :))) Semoga saya bisa menyelesaikannya.
Sungguh awalnya tidak semua cerpen di dalam antologi cerpen ini bisa gw pahami maknanya karena memang keterbatasan jenis cerpen yang pernah gw baca sebelumnya. Membaca buku ini, ditambah epilog yang ditulis oleh Maman S. Mahayana di bagian akhir buku ini, menambah pengetahuan gw akan cara penulis menuliskan cerpennya. Sebelumnya gw memang lebih sering membaca cerpen-cerpen yang bersinggungan dengan kultur etnik dan problem kemasyarakatan, sehingga cerpen berjudul 'Ambe Masih Sakit' karya Emil Amir, 'Nyai Sobir' karya (K.H.) Ahmad Mustofa Bisri, 'Mayat di Simpang Jalan' karya Komang Adnyana, dan 'Perempuan Balian' karya Sandi Firly relatif mudah gw pahami dibandigkan cerpen-cerpen lainnya. Ulasan berikut akan membahas dua dari empat cerpen tersebut.
'Mayat di Simpang Jalan' yang ditulis oleh Komang Adnyana bercerita tentang jenazah seorang ibu dari pemuda Bali bernama I Gusti Ngurah Sadru yang ditolak warga untuk dikuburkan di kampungnya karena sebelumnya telah diberlakukan hukuman pengucilan tak tertulis bernama kasepekang kepada ia dan keluarganya. Sebabnya, penyematan 'Gusti' di nama anaknya, yang didapat berdasarkan penelusuran silsilah keluarganya, namun masyarakat setempat menudingnya sebagai upaya meninggikan derajat mereka belaka, karena 'Gusti' adalah gelar kebangsawanan bagi para (kasta) ksatria di Bali. Akhirnya pemuda bernama Sadru tersebut memilih membakar jenazah ibunya di krematorium, yang digambarkan penulis sebagai sesuatu yang tidak lazim dilakukan disana.
Pengkhianat? Tak tahu adat? Katakan saja. Memang, membakar jenazah di krematorium tidak lazim disini, bahkan seperti sebuah kegagalan bermasyarakat, tapi Sadru dipaksa tak peduli. Untuk apa memelihara adat, menjaga kebiasaan, ketika manusia justru kehilangan rasa kemanusiannya? Apakah dia akan dikutuk leluhur, dikutuk dewa-dewa hingga roh ibunya tak mendapat tempat di alam sana? Entahlah. Setidaknya leluhur tahu dia dikutuk karena ulah manusia lainnya. - halaman 154
'Nyai Sobir' yang ditulis oleh (K.H.) Ahmad Mustofa Bisri bercerita tentang suara dari pergumulan batin seorang istri yang baru ditinggalkan suaminya yang seorang ulama terpandang untuk selama-lamanya. Betapa ia, yang selama ini selalu berada di sisi sang ulama, berubah menjadi sosok 'tak terlihat' sepeninggal suaminya.
Ribuan bahkan puluhan ribu pelayat dari berbagai kota yang menangis itu, tampaknya tak seorang yang datang berniat menghiburku. Mereka semua melayat diri mereka sendiri. Hanya orangtuaku dan beberapa orang famili yang terus menjagaku agar aku tidak pingsan seperti banyak santri yang sama sekali siap ditinggal almarhum. Almarhum sejak selesai dimandikan dan dikafani, sudah sepenuhnya milik mereka para pelayat diri sendiri itu. - halaman 95
Peringatan 40 hari wafat almarhum abah (begitu aku selalu memanggil beliau), banjir manusia kembali meluapi kawasan pesantren kami. ... . Aku tidak tahu apakah orang-orang mulai mengingatku sebagai Nyai Sobir atau pendamping kiai mereka atau tidak; yang jelas aku sendiri teringat saat nyai sepuh, istri abah yang pertama wafat. - halaman 97
Peringatan 100 hari wafat abah, kemudian 1 tahun, kemudian peringatan haul beliau setiap tahun (sekarang sudah haul ke-7), terus ramai dibanjiri ribuan orang dari berbagai penjuru. Aku terlupakan atau tidak oleh mereka. Tapi aku benar-benar terus merasa sendirian. - halaman 98
Pergumulan batin seorang istri yang baru saja ditinggalkan suaminya yang merupakan ulama terpandang itu tidak berhenti di sana. Sang istri tersebut harus berhadapan juga dengan pandangan masyarakat yang terus menempatkannya sebagai objek, bukan subjek yang perasaannya perlu diperhatikan.
... Beberapa tokoh masyarakat diam-diam membicarakan diriku dan pesantren kita. Mereka iba terhadap nasibku dan sekaligus memprihatinkan pesantren. Mereka sadar bahwa aku masih muda dan di sisi lain, pesantren kita butuh kiai laki-laki seperti umumnya pesantren-pesantren yang lain. Mereka, seperti juga aku, terbentur kepada pertanyaan: siapakah kiai laki-laki itu? Kemudian kudengar mereka menyepakati kriteria dan syarat-syarat siapa yang boleh mengawiniku. Mereka tidak rela kalau aku dipersunting orang 'biasa' yang tidak selevel abah. ... . Masya Allah, abah. Apakah karena menjadi jandanya kiai seperti abah, lalu aku hanya dianggap obyek yang tidak berhak menentukan nasib sendiri? - halaman 99-100
Setiap malam aku menangis, abah. Menangis sebagai Nyai yang mendapat warisan tanggung jawab. Menangis sebagai perempuan dan janda muda yang kehilangan hak. Tapi aku tetap nyaimu, abah; aku tidak akan menyerah. Aku percaya kepadaNya. - halaman 100
Terkadang-untuk tidak menyebut sering-saya membeli koran kompas minggu hanya karena ada cerpennya. Begitulah, saya seperti tidak mau tahu dengan cerpen koran lain, picik sekali ya saya. Perihal cerpen pilihan kompas yang dibukukan setiap tahunnya saya punya beberapa. Di awal saya suka membaca antologi cerpen kompas, saya menemukan sebuah kenyataan betapa sederhana sekali cara saya berfikir, karena banyak dari ceritanya yang saya tak mengerti. Kemudian seiring ulasan demi ulasan yang dipaparkan oleh para ahli, justru cerpen multi tafsir dan cerpen yang mampu membuat kita berfikir kembali sesudah itulah yang disebut cerpen sastra yang sesungguhnya. Syukurlah. Tentu, akan lebih baik saya mengulas 20 cerpen ini sebelum membaca halaman epilog yang super canggih dari Pak Maman S Mahayana. Namun, perlu saya akui satu dua kali tak tahan juga untuk mengintipnya. Kira-kira kapan ya ulasan saya sampai ke taraf tingkat dewa seperti itu. Angin Kita oleh Dewi Utari sedikit absurd. Angin di paragraf awal saya asumsikan sebagai sosok manusia yang bernama Angin. Keliru. Karakter angin yang begitu kuat sangat mempengaruhi dua tokoh manusia dalam cerpen ini, Lian dan Enzo. Mungkin, seperti zaman yang makin aneh ini ketika banyak peristiwa yang menjadikan banyak manusia tidak berbuat layaknya manusia lalu mengaburkan karakter kemanusiaan yang baik, sehingga Dewi Utari memilih karakter-karakter itu kepada angin. Kurma Kiai Karnawi oleh Agus Noor membuat saya berhasil ngakak. Satu-satunya bahkan. Di awal cerita saya berfikir tokoh utama ada pada Kiai Karnawi. Sang Kiai memiliki sebuah obat sakti yang ampuh untuk mengobati segala jenis penyakit, yaitu dengan sebutir kurma. Mulai dari membantu melahirkan calon bayi lebih bulan, menyembuhkan penyakit kiriman, hingga mengamankan amukan massa. Agus Noor lalu memainkan unsur politis populer ke dalam ceritanya. Bos Hanafi suatu hari menyuruh Hanafi untuk meminta Kiai demi menjobloskan dirinya sevbagai walikota. Tak ingin bosnya semakin sibuk dan terlihat semakin buruk sejak masuk dalam dunia politik, Hanafi memutuskan memakan sendiri kurma Kiai dan memberikan bosnya kurma palsu. Namun, bos Hanafi tetap menjadi walikota. Paradigma masyarakat kita yang terbiasa untuk memasukkan unsur magis ke dalam diri tentu banyak sekali kita temukan. Bahkan, cenderung membudaya. Sang Petruk oleh GM Sudarta. Cerita yang dilatari oleh pemberontakan PKI. Adiknya Martini, Martono, terlibat pemberontakan dan dicari pihak berwajib. Martini yang dianggap tahu keberadaan adiknya, ditangkap. Di rumah siksaan itu, Kepala Desa yang turut menangkapnya bernama Toyib, membujuknya agar mau diperistri sebagai syarat pembebasan. Martini akhirnya menurut, menjadi istri kedua. Seperti karma masa lalu itu, kini telunjuk Toyib menderita sakit aneh, suka menunjuk-nunjuk lalu berteriak memanggil istrinya agar dibawakan obat berupa air serai mendidih. Karena suka menunjuk-nunjuk itulah orang-orang memanggilnya Toyib Sang Petruk, tokoh wayang yang suka menunjuk-nunjuk. Begitulah, karma selalu ada. Mayat di Simpang Jalan oleh Komang Adnyana. Kehidupan masyarakat Bali yang kisruh karena tidak terima strata keluarga I Gusti Ngurah Sadru setingkat dari mereka karena silsilah masa lalu yang kembali terkuak. Kecaman dari mereka memuncak ketika ibu sadru meninggal dan tidak boleh dimakamkan di wilayah mereka. Saat kemelut terjadi, mayat ibu yang terombang-ambing di tengah hujan dan hujatan diputuskan dikremasi di pusat kota oleh Sadru. Sepasang Sosok yang Menunggu oleh Norman Erikson Pasaribu. Tentang Jack, Jane, Mary, dan sepasang Barbie. Barbie yang kesepian dan ingin berteman banyak. Semua tokoh seperti berkawan akrab dengan kesedihan dan kesepian. Ada banyak cerpen yang berwarna muram dan sedih, dan juga berkarakter nonmanusia. Dua Wajah Ibu oleh Guntur Alam. Bagaimanapun sosok ibu adalah tak tergantikan dan betapa mereka adalah makhluk yang tidak tega melihat anaknya dalam keadaan sulit. Ibu Jamal setelah mendengar cerita beberapa kerabat akan kota Jakarta seperti terhempas oleh angin badai, bahwa kehidupan di ibukota itu tidak semanis dalam bingkai cerita maupun televisi. Pilu sekali ketika di jam magrib, dimana saat di kampung beliau sudah berwudhu berhendak ke mesjid tapi di Jakarta justru masih mencuci baju anak, menantu, dan cucunya. Perempuan Balian oleh Sundi Firly. Tentang perempuan kurang waras yang mampu mematahkan hegemoni para Balian atau dukun sakti yang selama ini hanya dimiliki oleh kaum laki-laki. Jack dan Bidadari oleh Linda Christanty. Jack berpisah dengan istrinya. Pun begitu pula dengan teman Jack yang berpisah dengan istrinya. Seperti monolog, Jack mengisahkan bidadari cenderung kasar, mengamuk, lalu minggat tapi kemudian kembali lagi. Begitu seterusnya. Bisa jadi, itu hanyalah refleksi dari dalam diri Jack sendiri yang gamang akan kehidupannya sendiri. Bu Geni di Bulan Desember oleh Arswendo Atmowiloto. Ungkapan doi tentang lembaga perkawinan. Kesakralan yang lebih seperti seremonial tanpa substansi. Duh, saya tak pernah kecewa akan kehebatan beliau bercerita. Nyai Sobir oleh A Mustofa Basri. Cerpen yang mengisahkan seseorang yang terkungkung oleh keinginan. Diawali oleh keinginan orang tua yang menyuruhnya menikah dengan Kiai Sobir setelah wafatnya istri pertama Kiai. Setelah Kiai wafat, orang-orang seperti punya keinginan lain yang mesti dia penuhi. Wajah Itu Membayang di Piring Bubur oleh Indra Tranggono. Murwad Si Penyapu Jalan yang jiwanya terombang-ambing antara kematian dan hidup setelah membakar pasar yang banyak disinggahi orang-orang untuk berbuat mesum. Istrinya yakin Murwad masih hidup, istrinya dengan setia menjalani ritual membuat bubur, karena istrinya yakin itu salah satu cara agar suaminya kembali. Penulis menyandingkan cerita dengan kapitalisme, pembangunan plaza. Lengtu Lengmua oleh Triyanto Triwikromo. Celeng Siji Celeng Kabeh. Hanya melihat kesalahan orang dengan mengalasankan haramnya babi. Merasa seolah diri paling baik dan orang lain buruk. Wah, saya merasa dekat sekali dengan cerita itu. Renjana. Kenangan mampu membolakbalik kehidupan. Kenangan bahkan tak pulang setelah tinggal dan dicampakkan. Ambe Masih Sakit oleh Emil Amir. Tana Toraja dengan adat pesta kematian yang hebat itu diramu oleh penulis menjadi sebuah konflik dimana sang anak tidak mampu membiayai pemakaman ayahnya. Ibunya kecewa. Di akhir cerita, si anaklah yang paling kaget melihat kenyataan perselingkuhan ibunya. Pemanggil Bidadari oleh Noviana Kusumawardhani. Bude seperti biasa akrab dengan cerita mistis. Kali ini juga tak luput sama. Batu Asah Dari Benua Australia oleh Martin Aleida. Pulau Buru dan masa lalu di penjara tak membuat si tokoh berkeluh kesah menghadapi kehidupan, walaupun sang istrri juga meninggalkannya setelah menikah lagi dengan laki-laki lain, dengan sebuah iming-iming. Toh, pada akhirnya si tokoh lah yang kemudian mengamini keinginan istrinya itu, berangkat haji. Dan semua itu karena batu asah dari Australia warisan orangtuanya. Requiem Kunang-Kunang oleh Agus Noor. Kunang-kunang kembali menjadi tokoh utama oleh Pangeran Kunang-kunang ini. Mereka lahir dari kematian atau kerusuhan, dari mata-mata yang tercongkel. Pohon hayat oleh Mashdar Zainal. Cerita tentang sebuah pohon yang menganalogikan kehidupan kita dari lahir hingga meninggal. Mayat yang mengambang di Danau oleh Seno Gumira Ajidarma. Ketika agama tidak mampu mewujudkan keinginan anaknya yang bercita-cita menjadi pendeta. Ketika ikan-ikan lebih akrab seperti urat nadi. Dan Barnabas yang kehilangan anaknya. Laki-laki Pemanggul Goni oleh Budi Darma. Cerpen terbaik tahun 2012. Cerpen ini menginagtkan saya akan cerpen SGA yang berjudul Seorang Wanita di Sebuah Loteng. Nabi Khidir tampil dua kali dalam antologi cerpen ini. Di Kurma Kiai Karnawi, Nabi Khidir hadir dalam mimpi Kiai, di cerpen ini Nabi Khidir menjelma laki-laki pemanggul goni. Laki-laki itu hadir di setiap saat Karmain akan menunaikan sholat. Apapun sholatnya. Kapanpun waktunya dia selalu hadir di trotoar lantai bawah apartemen atau di tengah jalan. Mata-matanya menatap dan memaksa Karmain untuk datang. Pesannya sederhana, jangan pernah lupakan orangtua sekalipun mereka telah meinggal. Tetaplah pulang setidaknya untuk menjenguk.
sejujurnya saya tidak begitu menyukai cerpen, karena ceritanya terlalu cepat klimaks dan cepat berakhir. kebanyakan berakhir dengan menggantung dan penuh tanda tanya, kesimpulan masing-masing pembaca bisa berbeda.
buku ini sangat Indonesia. kumpulan cerita pendek yang khas dan dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia.
pada judul lelaki pemanggul goni, mengingatkan kita akan perbuatan dosa dan senantiasa berbuat baik. akhir cerita menimbulkan pertanyaan, siapa yang membuat kebakaran? karmain atau pemanggul goni?
pohon hayat. sama seperti daun yang berguguran dari pohon, manusia pada akhirnya dan saat yang tepat akan pergi meninggalkan bumi.
batu asah dari australia. menyindir dan menyingkap tabir tahanan politik di pulau buru. rezeki tak akan kemana, setelah bertahun2 dalam tahanan, akhirnya bertemu orang yg memberikan pekerjaan serta bisa membahagiakan kembali istrinya.
ambe masih sakit. kematian secara adat toraja. permasalahan hak waris.
renjana. orang yang masih terjebak akan masa lalu dan kenangan.
dari semua cerpen, laki-laki pemanggul goni memang yang punya power dan membekas ingatan.
-Nyai Sobri -Kurma Kiai Karnawi -Dua Wajah Ibu -Jack dan Bidadari -Sepasang Sosok yang Menunggu -Wajah Itu Membayang di Piring Bubur -Perempuan Balian -Ambe Masih Sakit
An Indonesian book; full of short stories by various authors selected by the newspaper company "Kompas". I personally find two of the short stories to be... meaningful
Buku ini baru saya ketahui setelah ada teman yang memposting buku terbaik yang dibaca di tahun 2013. Bukan kebetulan, buku ini masuk dalam salah satu daftar buku terbaik. oleh Mas Puji. Kompas secara rutin mengumpulkan cerpen yang dimuat di Kompas Minggu kemudian dibukukan setelah mendapat saringan ketat. Singkat cerita di tangan pembaca tersaji cerpen pilihan kompas di tahun 2012 yang diberi judul "Laki-laki Pemanggul Goni".
Tanpa bertele-tele dalam review ini, semua cerita pendek yang ada di Kompas tidak hanya memberikan sejumput cerita tentang keindonesiaan. Lebih dari itu inovasi dan nilai-nilai sastra yang sarat dengan akar budaya Indonesia ditulis oleh para cerpenis. Bukan hal mudah untuk menyaring dan membukukan 20 cerpen terbaik selama tahun 2012. Salut untuk Kompas yang memberikan oase segar bagi penikmat sastra Indonesia. Jujur bagi saya yang awam atas sastra, membaca buku ini membuka wawasan tentang kayanya cerita yang dapat diangkat, ditulis. Butuh ide dan kreativitas untuk dapat menerjemahkannya dalam sebuah tulisan pendek sehingga tercipta cerpen utuh.
Jujur semua cerpen di dalam buku ini sangat menarik. Mulai dari cerpen pertama hingga terakhir. salah satu cerpen yang menarik bagi saya adalah Requiem Kunang-kunang oleh Agus Noor. Cerpen ini sangat menyentuh saya. Bukan saja karena permainan kata di dalamnya, namun membaca cerpen ini seperti mengingatkan saya pada masa kerusuhan saat saya masih kecil. Cerpen ini menjadi begitu dekat dengan kehidupan masa kecil saya. Agus Noor menuliskan cerpen RKK di Ambon pada tahun 2011. Semua kisah dalam buku ini punya twist yang unik. Salut untuk Kompas yang memberikan kembali karya terbaik cerpenis Indonesia untuk dibaca masyarakat Indonesia.
Ulasan mendalam pada epilog dari Pak Maman S.Mahayana menjadi penutup pamungkas dari kumpulan cerpen Kompas ini. Sungguh banyak ilmu yang dapat dipahami. Tanpa tedeng aling-aling, Pak Maman memberikan apresiasi dan koreksi atas semua karya yang dimuat. Buku ini layak untuk dibaca bagi pecinta sastra Indonesia, kaum pelajar yang hendak mengenal dunia sastra, hingga kalangan umum yang ingin tahu realita kehidupan masyarakat di Indonesia.
Sangat menarik, menghibur dan banyak yg bisa kita petik dari kumcer pilihan kompas tahun 2012 ini. Bisa dikatakan, hampir semua cerpen dalam antologi ini bagus-bagus. Ya namanya juga antologi cerpen PILIHAN. Tapi saya hanya akan berbicara tentang 4 diantaranya, yg menurut saya adalah yg terbaik. Sekali lagi menurut saya.
Celeng satu celeng semua : Cerpen yg dalam penulisannya menggunakan teknik simbolisasi ini, menggambarkan kondisi masyarakat yg semakin kesini, semakin relevan saja. Suatu bentuk masyarakat yg kehilangan cermin. Masyarakat yg kehilangan akar yg kuat. Mereka para penggiat agama, yg selalu menyuarakan untuk tidak saling membunuh, menjadi orang-orang yg paling harus membunuh. Ahh kita semua memang celeng!
Requim kunang-kunang : Cerpen karya Agus Noor ini memberikan kesan suatu keindahan yg absurd. Suatu kedamaian yg ganjil. Suatu kesunyian yg mengusik. Berbagai perasaan yg tak sanggup dikatakan dengan bahasa yg paling purba sekalipun. Biarlah bahasa abstrak dan imaji yg melukiskannya dalam benak kalian.
Suatu perasan gelisah yg menenangkan ; membuatku ingin muntah, tapi juga ingin makan. Membuatku ingin tidur saja, tapi juga ingin menulis. Membuatku ingin pergi menyendiri di pegunungan, menyeduh kopi panas dan membaca Murakami, tapi disaat yg sama ingin berada ditengah kota, dipusat roda peradaban, berbincang dengan wanita urban yg cantik tentang kopi, filsafat, atau tentang pegunungan dengan orangnya yg gemar menyendiri menyeduh kopi panas dan membaca Murakami.
Selanjutnya, dalam cerpen berjudul Ambe masih sakit dan Mayat disimpang jalan, ada persamaan, keduanya sama-sama menggugat dan mempertanyakan kembali nilai dan hakikat suatu adat. Adat dalam kondisi tertentu memang baik. Adat adalah akar yg menyokong sebuah pohon kebudayaan suatu masyarakat. Tapi jika adat telah kehilangan relevansinya, atau yg lebih buruk lagi jika adat justru mendegradasi nilai-nilai kemanusiaan kepada titik yg paling rendah, untuk apa mempertahankan adat itu ? Seperti hukum, yg memiliki asas "Das recht wird und lebt, mid dem volke", adat (hukum) seharusnya mobile, dinamis dan berkembang untuk kemudian mati bersama masyarakat, bukan sebaliknya.
Banyak kisah menarik yang saya temukan dalam buku ini.
Meski sebelumnya telah membaca sebagian besar cerita pendek dalam buku Laki-Laki Pemanggul Goni: Cerpen Pilihan Kompas 2012 di Kompas Minggu, tetapi saya masih tertarik untuk membaca ulang cerita-cerita yang ada.
“Laki-Laki Pemanggul Goni” karya Budi Darma adalah salah satu cerpen yang memang saya favoritkan. Cerpen tersebut mengisahkan tentang seorang laki-laki bernama Karmain yang selalu mendapati seorang laki-laki pemanggul goni misterius di pinggir jalan saat ia hendak sembahyang. Dalam cerpen ini, saya mendapatkan sebuah kejutan di bagian akhir karena apa yang saya pikirkan tentang laki-laki pemanggul goni tersebut adalah salah; sepanjang cerita, benak saya seperti digiring untuk berpikir bahwa laki-laki pemanggul goni tersebut adalah sosok suci yang diutus dari langit dan bertugas untuk mencabut nyawa. Namun ternyata, seperti yang saya bilang, tebakan saya meleset.
Cerpen lain yang saya suka—bahkan, meski saya sudah membacanya beberapa kali—adalah “Pohon Hayat” karya Mashdar Zainal; yang berbicara tentang siklus kehidupan yang dianalogikan sebagai sebuah pohon. Saya benar-benar larut dalam cerita dan menikmati per kata yang dituturkan. “Ambe Masih Sakit” karya Emil Amir juga salah satu cerpen yang berhasil memikat saya; cerpen tersebut menawarkan kekhasan lokal, tepatnya tentang adat pesta kematian di Tana Toraja.
Selaian itu, ada “Kurma Kiai Karnawi” karya Agus Noor, “Batu Asah dari Benua Australia” karya Martin Aleida, “Pemanggil Bidadari” karya Noviana Kusumawardhani, “Mayat yang Mengambang di Danau” karya Seno Gumira Ajidarma, dan beberapa cerpen lain yang sangat saya suka ketika membacanya di Kompas Minggu, juga masuk dalam buku tersebut.
Banyak hal yang saya pelajari dari cerita-cerita yang ada, dengan harapan dapat menginspirasi saya menjadi pencerita yang mengagumkan, seperti mereka. :)
Sejak tahun 2010 saya mulai mengoleksi Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas. Selain menikmati karya para cerpenis, sekaligus menjadi sarana saya untuk belajar menulis cerpen untuk dikirim ke Kompas. Epilog yang sangat panjang dari Maman S. Mahayana di halaman 185, bisa dipelajari oleh semua cerpenis pemula seperti saya. Bisa menjadi 'Kompas' untuk menulis cerpen yang layak muat di harian ini. Alhamdulillah karya saya pun akhirnya masuk koran Kompas, 29 Juni kemarin. Tidak berani berharap akan masuk buku Cerpen Pilihan Kompas tahun 2014 nanti. Cukup disyukuri dulu, dan kembali belajar lagi. Berkarya lagi.
Buku kumpulan cerpen kompas ini sangat menarik dan menggelitik. Isi dari buku ini mencerminkan kehidupan di sebuah negeri yang bernama Indonesia. Banyak kisah kisah menarik yang coba disampaikan oleh para penulis. Aturan penulisan dari kompas tidak membuat cerita pendek ini serasa kurang, malahan para penulis ternyata memiliki jurus jitu untuk membuat cerita begitu menarik dan unik. 5 bintang untuk buku ini karena saya puas membeli dan membaca serta mengikuti alur cerita yang disajikan para penulis.
Karena merupakan kumpulan cerpen dari beberapa penulis yang memiliki latar belakang berbeda, membaca kumcer ini seperti menyantap caesar salad campur lotek. Kaya dengan berbagai rasa gaya bertutur, pemilihan tema, twist, ending, sampai kedalaman makna. "Perempuan Balian" karya Sandi Firly dan "Ambe Masih Sakit" karya Emil Amir menjadi dua cerpen favorit saya. Tapi dari kesemua isi buku ini, epilog yang ditulis oleh Maman S Mahayanalah yang menurut saya paling mencerahkan.
Paling suka sama cerpen SGA yang Mayat yang Mengambang di Danau dan Ambe masih Sakit-nya Emil Amir.
Ada beberapa cerpen yang yang membuat saya lelah, salah satunya adalah cerpen Triyanto. Apa yah, saya cuma ga mengerti saja buat apa simbol-simbol yang bertaburan itu. Mungkin saya terlalu kecewa mengingat banyak puja-puji untuk penulis ini.
ternganga sampai mangap megap-megap. banyak ilmu kesusastraan yang aku dapat dari buku antologi ini, terutama bagian epilog-- pembahasan menyeluruh dari keduapuluh cerpennya.
Dan untuk cerpen-cerpennya sendiri, aku sampai bingung milih mana yang paling aku suka, semuanya bagus!!! Luar biasa!!
Memang cerpen pilihan Kompas selalu menawan, apalagi kali ini yang paling menarika adalah ulasan panjang Maman S Mahayana. Kita belajar dari ulasan itu.
Kadang kadang suka ga ngerti ama endingnya di beberapa cerpen jadi dibuat bertanya tanya. Apa karna tumben ya baca genre buku gini. Penuturannya khas banget bahasa sastrawan gtu....